Awal Aku Berkerudung

By Siska Dwyta - 11:03

2004

Aku baru selesai mengikuti ujian Sekolah Dasar. Belum juga dengar kelulusan, mama sudah menghadiahkan seragam putih-biru dongker panjang untuk anak keduanya. Aku ngambek.

“Plisss dong ma, aku gak mau pake kerudung, aku gaaaaak mau”

Mama tetep ngotot.  Sebagai anak mau gak mau, sekeras apapun tekadku tetap aja gak mampu melunturkan pendirian mama.

“Sekali A tetep A gak akan jadi B atau C. Titik”

Aku terkapar, mama kegirangan. Huaaaaaa pengen teriak kenceng-kenceng, ngenes banget. Mama menang sedang aku kalah telak tanpa perlawanan.

''Ma, yang mau sekolah kan aku yang mau pake seragam kan aku,kok mama yang sewot sich'' protesku sambil bergayut manja di lengan kanan mama

“Ika kan udah baligh, jadi wajib pake kerudung” respon mama  semanis mungkin, wajahku seketika cemberut

Coba  aku punya uang banyak, tanpa disuruh pasti aku akan ke tukang jahit dan pesan seragam SMP berlengan pendek,  rok selutut, lalu dengan hati riang mengembalikan hadiah dari mama tercinta terus teriak-teriak nyaring deh yesss.. aku menang.. aku menang.

Tapi mau dapet uang dari mana, uang jajan pun masih minta sama mama dan papa. Ahaaa, atau gimana kalau seragam yang mama pesan tanpa minta persetujuanku, digunting aja. Ide bagus bukan? Iya, sangat bagus memang bagi anak pemberontak, keras kepala, dan pemberani. Sayangnya aku terlanjur tumbuh sebagai anak penurut dan gak berani menentang apa yang menjadi keputusan sepihak mama, sekalipun aku merasa dirugikan, merasa ini sangat tidak adil. Kenapa aku harus mengekang keinginanku demi memenuhi obsesi mama yang ingin melihat anaknya  berkerudung. 

*** 

Tahun 2004 adalah tahun yang memberatkan buatku. Bukan hanya karena inginku bertentangan dengan keinginan mama lebih karena tahun itu mama memutuskan untuk cuti dan berlibur  ke kampung halaman beliau tanpa mengajakku. Beliau hanya mengajak anak bungsunya, adikku Aya.

“Mam, aku masih sakit” jeritku dalam hati

Seumur  hidup mama adalah satu-satunya wanita yang tak pernah beranjak  dariku. Beliau selalu ada di dekatku. Selalu ada saat kakiku mulai menggigil dan keringat mulai bercucuran didahiku. Aku tak pernah terpisah jauh dari mama. Kalau beliau pergi akan bagaimana jadinya diriku? Siapa yang akan menjagaku? Siapa yang akan memelukku erat, menenangkan jiwaku saat perasaan paling tidak enak kembali datang menghantuiku sewaktu-waktu? Kalau bukan mama yang berada disisiku, aku tidak akan merasakan yang namanya kenyamanan. Tidak akan.

 “Ika gak boleh ikut sayang, sebentar lagi kan mau masuk SMP, banyak nanti yang mau diurus’”

“Pokoknya aku mau ikut”

“Emang mau nganggur dulu setahun temannya udah pada sekolah, trus  nggak sekolah, gitu?”

“Biarin, biar aku nggak sekolah gak papa, asalkan aku bisa ikut sama mama”

“Dengar yah sayang, mama gak suka kalau anak mama ninggalin sekolahnya, lagian mama juga nanti akan kembali, perginya cuma dua bulan saja kok”

“Kenapa Aya dibolehin ikut, kenapa aku gak? Kenapa Ma?” bulir-bulir air berjatuhan. Aku menangis.

“Kan masih ada papa, dan kak Vhie yang nemanin, anak mama jangan cengeng gitu dong,  kan udah gede udah mau masuk SMP lagi” seloroh mama sambil mendekapku dan membelai lembut rambutku. Aku terisak pedih.

Batinku memberontak, aku marah, aku jengkel, aku kesel namun untuk kali kedua aku terpaksa mengalah. Apalah yang bisa dilakukan seorang anak baru berusia duabelas tahun saat itu, kecuali diam dengan perasaan kesel, sebel, marah, dan sedih bercampur-aduk.

Akhirnya hari perpisahan tiba, di atas kapal kulepaskan  kepergian mama dengan jiwa berkecamuk , tangisku tumpah ruah. Air mata berderai sepanjang jalan menyusuri lorong-lorong kabin kapal ketika hendak turun. Tak peduli  dengan orang-orang yang berlalu lalang, dengan tatapan-tatapan yang menjurus padaku, aku hanya peduli dengan perasaanku. Perasaan sedih yang kucurahkan lewat air mata. Biar semua orang tahu aku sangat, sangat mencintai wanita yang telah melahirkanku kedunia.

***

Untuk menghibur diri yang masih dirundung sedih, kak Vhie membujukku ikut kegiatan organisasinya
.
“Mumpung masih libur, ayoo, dek ikut aja pengkaderan”
Pengkaderan? Mmm kegiatan apa itu? mungkin seperti pesantren kilat, entahlah aku tak tahu. Ah, daripada terus menerus larut dalam kesedihan mengenang mama yang  sudah berada di pulau seberang , lebih baik aku ikut aja. Mungkin dengan begitu aku bisa sedikit menepis kerinduanku dan tidak selalu menangis diam-diam setiap malam menjelang tidur  semenjak kepergian mama tanpa sepengetahuan kak Vhie dan papa.
***

Juni, 2004

'TRAINING CENTRE (TC) TARUNA MELATI  (TM) I ANGKATAN IV IKATAN REMAJA MUHAMMADIYAH (IRM) '. Wuihh nama kegiatannya keren.  Aku langsung terpesona dengan namanya. Apalagi selama proses di dalamnya berhasil mengalihkan perhatianku. Gak ada lagi acara nangis-nangis sebelum tidur, gak ada lagi raut sedih kala mengingat mama. Yang ada wajah kantuk, perut melas, lusuh, tegang, cemas, takut, ngeri.  Widihh emang kegiatannya seseram itu yah? Yup gimana nggak serem kalau lokasinya depan kuburan, samping kuburan. Anehnya, aku justru gak merasa takut sekalipun tahu jarak tidurku dengan jarak mereka yang tidur dibawah tanah hanya beberapa langkah.

Gleg, Ketakutanku justru jatuh pada wajah nan sangar plus garang dari para instruktur yang setiap kali masuk forum menatap kami dengan tatapan tajam seolah ingin menerkam. Malam-malamku selama mengikuti pengkaderan bukan lagi diderai air mata namun ketegangan yang semakin memuncak, dan ketakutan yang berlipat-lipat. Aku bahkan tak sempat membayangkan sosok mama.

Selama hampir seminggu aku berjuang bersama teman-teman dari berbagai sekolah  yang di awal taruna kami  baru saling mengenal namun di penghujung melati  serasa kami telah lama mengenal. Ada ukhuwah terikat, yang sulit kuterjemahkan dengan bahasaku sendiri.

Dari dulu aku memang selalu tertarik dengan kegiatan berbau islami, sering ikut pesantren kilat namun baru saat itu, untuk pertama kalinya aku mengikuti kegiatan ‘islami’ yang benar-benar menguak sedikit pemikiranku tentang Islam. Meski ku akui umurku masih terlalu dini tapi setidaknya banyak hal yang kupelajari di sana. Salah satunya tentang kewajibanku sebagai gadis yang sudah baligh.

Emang umur 12 tahun aku udah baligh? Kata mama baligh itu sinonim dengan dewasa. Artinya di umur 12 tahun aku memang udah dewasa secara biologis. Tapi bukan dewasa secara pemikiran. Sebelum ujian sekolah aku kedatangan tamu special  yang buat aku panik, menangis dan mengurung diri  seharian dalam kamar saking malunya. Lalu mama dengan suaranya yang lembut mencoba menjelaskan perlahan-lahan agar aku mengerti bahwa kedatangan tamu special itu adalah pertanda aku menginjak baligh.

Adinda sekalian Menutup aurat itu adalah suatu kewajiban, seperti halnya shalat 5 waktu. Yang namanya wajib jika dikerjakan yakin dan percaya Allah pasti akan membalasnya dengan hadiah berupa pahala, namun jika ditinggalkan yakin dan percaya dosa yang akan kalian dapatkan dan bahwa  Allah pun akan membalasnya dengan siksaan. Allah yang memerintahkan kewajiban shalat bagi umat yang tuduk dan pasrah padaNya, Allah jua yang mewajibkan kewajiban menutup aurat  bagi setiap muslimah yang sudah baligh....”

Renungan malam kala akhir taruna melati, mungkin aku belum terlalu paham, kurang ngerti, namun mengikuti TC TM 1 IRM menyadarkanku akan satu hal, keinginan mama yang ingin aku berkerudung bukanlah sekedar keinginan semata. Itulah bentuk ketulusan seorang perempuan yang tak ingin anaknya berdosa. Meski keluargaku terbilang awam mengenal agama, begitupun dengan mama yang belum lama berkerudung dengan pemahamannya yang masih dangkal namun tetap menularkan apa yang ia pahami padaku.

Tapi aku tak mau mengerti, aku tak mau tahu. Kalaupun akhirnya aku pasrah bukan karena aku menyetujui permintaan beliau melainkan karena kata terpaksa. Aku yang sempat menolak, aku yang sempat membantah, mengatai mama tak adil, menganggap mama egois, mau menang sendiri, membuat keputusan sepihak dan bla..blaa..  Mengenang semua itu mengalirkan kembali air di pelupuk mata. Aku menangis sejadi-jadinya. Yah, aku tahu maksud mama baik, ia ingin agar aku melindungi diriku dengan menutup aurat, ia ingin dengan berkerudung Allah akan menjagaku, ia ingin agar aku tak tersentuh, tapi apa yang telah aku perbuat.

“Mama, aku rindu.. aku sangat rindu.. maafkan anakmu yang tak mengerti maumu, tak paham akan inginmu, maafkan aku ma...”
***

Sepulang pengkaderan aku mulai menata diri. Kesan yang aku dapatkan di sana begitu mendalam. Kebersamaan, ukhuwah, jalinan. Ah, bagaimana aku dapat melupakannya.  Sehingga hari-hari yang aku jalani setelah kembali ke rumah terasa begitu hampa. Syukur alhamdulillah aku bisa mengendalikan kerinduanku pada sosok mama, meski aku sangat rindu aku tak ingin lagi mengucurkan air mata.

Aku dan mama terbentang jarak tapi demi mengais kasih kupatrikan nama mama di hatiku agar ketika rindu melanda biar kutengok kedalaman hati yang tak bisa kujangkau, cukup hanya dengan merasakannya, aku tahu mama selalu ada di hatiku.

Selang beberapa hari kemudian so *supprise* pengumuman kelulusan. Alhamdulillah aku lulus dengan nilai cukup memuaskan. Masuk tiga besar. Senangnya bukan main. Gak nyangka banget, siswi kuper yang otaknya pas-pasan kayak aku bisa meraih juara . Sayangnya aku cuma didampingi papa, kebahagiaanku tak lengkap tanpa kehadiran mama. Walau demikian aku tetap menyungging senyum. Seperti papa, mama juga pasti bangga walau prestasi yang kupersembahkan tak ada artinya dibanding kasih mereka.
***

 Juli 2004
Akhirnya aku diterima di SMP favorit di kotaku tercinta setelah melalui proses yang cukup panjang. Mulai dari mengurus berkas-berkas, memenuhi persyaratan-persayaratan masuk hingga menjalani Masa Orientasi Siswa. Semua itu aku lakukan sendiri tanpa ditemanai papa yang sibuk dengan kerjaannya di kantor. Kak Vhie sekolah pagi jadi tidak bisa membantu banyak. Tak masalah, yang penting aku berhasil melalu tahap demi tahap.

One day, aku kenakan seragam puth-biru dongker  yang telah mama sediakan sebulan lalu sebelum keberangkatan beliau, lengkap dengan kerudung putih.  

'’Mam, aku sudah tidak marah, tidak sebel, sekarang aku rela,bener-bener rela tanpa paksaan  memakai kerudung'’ gumamku mantap pada kembaranku di cermin

Setelah pengkaderan aku memang memantapkan hati untuk  menutup aurat, bukan lagi karena memenuhi perintah mama, yang aku tahu aku harus memenuhi perintah Allah.
'Tuhan, ini hari pertama aku memakai kerudung, Bismillah, semoga Engkau ridho” batinku memintal doa. Hari pertama aku berkerudung adalah hari dimana  aku resmi dinyatakan sebagai siswi SMP.

Ternyata hari pertama mengenakan baju lengan panjang rok panjang tidak semudah yang aku kira, kirain asal pake doang namun  fakta berkata lain. Aku terkena sindrome canggung plus grogi alias nerveous. Ya ampuunn Ika yang aslinya cupu makin tambah cupu aja nih dengan penampilan baru yang rada-rada terlihat alim gitu.

Banyak temen SD ku yang melanjutkan sekolah di SMP yang sama denganku. Apa kata mereka nantinya?

"Masa’ Ika yang rok SDnya di atas lutut, baju kesempitan, rambut sering digerai  sekarang berkerudung lho?"

Awas saja kalau ada yang berani ngomongin yang nggak-nggak dan mandangin sinis, aku bakal pasang muka tembok, pura-pura nggak denger, pura-pura nggak lihat. Eh tapi masalahnya bukan di situ justru ada pada diriku. Seorang Ika yang terkenal tomboy, sering manjat tembok, manjat pohon gersen, suka lari kesana-kemari telah bermetamorfosis dari seekor kepompong menjadi kupu-kupu cantik nan indah (uhhuukk).

Bukan pertama kali memang aku pake rok panjang, sebab selama di pengkaderan hari-hariku bertemankan rok panjang. Namun berhubung ini adalah kali pertama aku pake rok kelebihan bahan yang bentuknya lurus kebawah, sedikit  merasa agak ganjil sih. Buktinya cara jalanku terlihat aneh,  aku mengalami kesulitan bergerak. Parahnya hal yang paling memalukan ketika aku berlari dan terjatuh di tengah lapangan gara-gara akunya lupa rok yang aku pakai sekarang gak sama dengan rok yang aku pakai di SD. Gak kebayang kalau wajahku white pasti udah kayak udang rebus, apalagi melirik banyak siswa yang terkekeh kecil, menertawaiku. Uhft, biarin aja. Mungkin ini ujian kecil dari Tuhan. Cuma ujian kecil. Memang ujian kecil kok toh aku gak luka, kakiku gak lecet, cuma malunya itu lhoo. Perlahan aku bangkit sendiri karena gak ada yang nolongin, tak masalah aku berlalu dengan wajah cuek, biarin mereka menertawaiku sepuasnya, biarin mereka mencemoohku dengan kerudung yang aku kenakan.

Peduli amat, si Amat aja gak peduli. Jujur di awal berkerudung kegerahan plus kepanasan juga aku alami, sampai-sampai di dalam kelas keringatku tak henti-hentinya bercucuran, maklum kan baru pertama dan belum terbiasa sehingga wajar-wajar ajalah. Kuakui aku memang butuh penyesuaian.

"Ika, kamu kenapa mandi keringat gitu"? tanya salah seorang teman SD yang sekelas denganku

"Aku gak kenapa-kenapa kok" jawabku sambil mengipas-ngipas tubuh dengan sebuah buku tulis

"Haha, ngaku aja kamu pasti kegerahan, ia kan" todongnya

"Yee nggak kok, siapa yang kegerahan?"

"Itu buktinya keringat kamu ngalir trus, pasti gara-gara kamu pakai kerudung"

"biarin" ucapku acuh tak acuh

"Kenapa sih kamu mau pakai kerudung, seragam panjang kayak gitu? Nyiksa diri sendiri aja tau'"

 "Aku gak merasa tersiksa kok, karena Allah yang nyuruh dan itu adalah pilihanku" sahutku dengan sesungging senyum lebar.

***
19 Juli 2004

Dear mama,
hari ini hari pertama aku masuk sekolah di SMP. Senang banget deh ma akhirnya aku bukan anak SD lagi, seragam putih merah udah aku singkirkan, dengan hati riang aku kenakan hadiah pemberian mama. Tadinya aku bener-bener deg-degan dengan seragam serba tertutup dan kerudung yang menutupi rambutku, kelihatannya aneh deh ma. Aku juga sempat gak pede ke sekolah dengan penampilan baruku ini, mama tahu pikiranku sering ngacau, masa' sampai terlintas teman-teman sekolahan mungkin bakal menganggap aku sebagai makhluk asing dari planet antah berantah. 

Coba aja hari ini mama ada di sini, aku pasti akan lebih PeDe karena mama akan selalu mendukungku. Tapi karena mama gak ada, pagi ini aku ngomong sendiri dengan kembaranku di cermin, berusaha untuk mengumpulkan kepedean biar aku gak grogi dan canggung di tengah teman-temanku. Berusaha meyakinkan diri, semua akan baik-baik saja. Pasti akan baik-baik saja. Ia kan, Ma?

Tapi Ma, tadi aku terjatuh di tengah lapangan sekolah, gara-gara aku terlalu bersemangat lari menuju kelas baru dan  lupa lagi pakai rok panjang. Teman-teman menertawaiku, aku maluuu banget ma pengen nangis sih tapi aku keinget mama aku inget Allah akhirnya aku bisa bangkit sendiri dan tersenyum. Oh ya, ma seragam yang mama berikan juga sempat buat aku kegerahan, dan  kepanasan, keringat aku sampai bercucuran trus lho, ternyata gak mudah yah ma pakai kerudung, saking gerahnya aku pengen buka aja nih kerudung, tapi aku kembali ingat Allah, aku ingat mama, gak jadi deh buka kerudungnya.

Ngelihat aku yang berkeringatan temen aku nanya, kenapa aku mau makai pakaian serba tertutup, nyiksa diri aja kata dia. Emang kerudung itu menyiksa yah ma? Bukankah kerudung yang akan melindungiku nanti di akhirat kelak. Begitu ceramah ustad waktu aku ikut pengkaderan. Walaupun sebenarnya aku belum paham dengan makna menutup aurat, sekedar tahu doang, seperti kata mama kerudung itu wajib bagiku karena aku udah baligh, ustad di pengkaderan juga bilangnya gitu dengan penjelasan yang buat aku ngangguk-ngangguk mengiyakan.

Mama mau tahu apa jawabanku, kenapa aku mau berkerudung seperti keinginan mama? Mungkin sebelum aku ikut taruna melati  pasti aku akan jawab karena mama yang nyuruh makanya aku terpaksa ikut demi memenuhi keinginan mama, tapi alhamdulillah setelah mengikuti taruna melati aku dapat sedikit pencerahan di sana. Aku tahu mengetahui bahwa menutup aurat itu adalah perintah Allah. Kata ustad yang namanya perintah Allah apalagi hukumnya wajib harus dilaksanakan kalau nggak nanti berdosa trus hukumannya nanti masuk neraka jahannam.  Ma, aku gak tahu seberapa buruknya tempat yang bernama neraka itu, denger-denger sih ada lautan api disana, kalau kita membangkang perintah Allah nanti akan diceburin. Ihhh.. aku takut ma. Masa' Allah sekejam itu? 

Ma, aku sempet protes, aku sempat menolak tapi akhirnya ketika aku memutuskan untuk menutup aurat hari ini tanpa paksaan, bukan lagi karena hanya ingin mengikuti kemauan mama, tapi lebih karena  berkerudung adalah pilihanku. Karena ALLAH. Aku berharap sama ALLAH dengan mengikuti perintah-Nya aku akan tetap bersama mama di dunia ini maupun di dunia lain.

Mama cepat pulang yah. Aku sangat rindu.

Sun sayang, 
anakmu, Ika.

***

  • Share:

You Might Also Like

24 comments

  1. walah..luar biasa...butuh perjuangan juga ternyata berkerudung ya..ehehehehe

    ReplyDelete
  2. hahahah kereeennn.. suka sama postingan ini.. ternyata asal mulanya dari situ too :p baru tauuu maceee

    ReplyDelete
    Replies
    1. tq tq tq iyooo pace... begitulahhh hahaha

      Delete
  3. Alhamdulillah. Selalu ada jalan ketika kita ingin berjalan di jalan yang diridhai-Nya. Tetap istiqomah ya. Smoga Allah bersama kita selalu/ Thanks share ilmu dan pengalamannya:))

    ReplyDelete
  4. Wah, semoga tetap istiqomah mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ia dek^^ mohon doanya aja hehehe :)

      Delete
  5. jadi berawal dari paksaan hingga tersadarkan yah ?
    semoga kita samasama tetap istiqomah yah ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. ia awalnya terpaksa tapi gak jadi terpaksa hehehe
      amiiinn^^

      Delete
  6. ukhti semangat berhijab yaa..ternyata kamu lebih senior daripadaku. pertama kali aku berjilbab itu 2010, masih junior sekaliii...semoga semakin hari kita bisa semakin baik dan benar ya berjilbabnya..:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. waduhh mbak senior atau juniornya gak menentukan siapa yang lebih dulu paham dan gak pahamnya tentang berhijab,, mungkin saja aku yang lebih dulu berhijab namun justru mbak ternyata yg lebih dulu paham tentang makna hijab sebenarnya. Ia kan:)

      aku suka doanya mbak semoga semakin hari kita bisa semakin baik dan benar ya berjilbabnya..:) amin.. amiin amiin:)

      Delete
  7. wih, panjang juga ya ceritanya. keren keren. di pertahanin ya hijabnya :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. waduuhhhh kukuh gak usah disinggung lagi yah masalah panjangnya tulisanku ini, hahaha masalahnya aku selalu kesulitan nulis catatan pendek jadi yahhh begtulah hehehe^^

      Delete
  8. Kok jadi merinding gini ya bacanya ? Jadi kangen mama-ku juga nih :(

    Pengen peluk mama :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. waduhh kok bisa tulisan aku buat mr fadly merinding hehehe

      ayooo dipeluk aja mamanya:)

      Delete
  9. waaah aku gak nyangka looh kalo awalnya kak zhie itu dipaksa sama orang tua.. tapi Alhamdulillah akhirnya sadar juga kalo berjilbab itu merupakan kewajiban :))
    keep istiqomah yaa ;))

    ReplyDelete
  10. Gue jd inget pas pertama kali pake hijab...eh. HAHaha

    Ngeliat perjalanan yang panjang gitu, jadi jangan sampe lepas ya tuh jilbab... Muslimah is a the best women in the world..Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha sejak kapan lu pake hijab wkwkwk
      setuju Muslimah is a the best women in the world..Hehe

      Delete
  11. Awalnya dipaksa, kemudian merasa terpaksa sehingga menjadi kebiasaan, akhirnya menjadi kebutuha,
    kisah yg menarik

    ReplyDelete
    Replies
    1. dipaksa, terpaksa, kebiasaan, kebutuhan yup^^

      Delete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa menginspirasi.