Sepenggal Kisah di Ramadhan Kali ini

By Siska Dwyta - 10:20

Puasa aku baru sepekan saat menulis catatan ini, ketinggalan banget yah padahal yang lain puasanya udah dua pekan. Kalau dari hari pertama ramadhan aku berpuasa, pastinya juga puasaku udah 15 dong. Tapi beginilah nasib sebagai seorang perempuan yang tiap bulan rajin disamperin sang tamu istimewa. Ketika tamu tersebut datang 'haram' hukumnya bagiku berpuasa. Dan sayang beribu sayang, bulan juli ini tamunya datang tepat di awal memasuki ramadhan. Senang sih senang, asyik gak bangun sahur, gak puasa, gak tarwih, gak tadarrus, gak ngabuburit. Namun senang yang kurasakan itu sungguh tiada sebanding dengan kepedihan dan kesedihan yang tak terbendungkan lagi. Ngenes banget deh. Yang lain pada bahagia menyambut datangnya bulan ramadhan, sedang aku terpuruk sedih seorang diri dalam kamar kos, yang lain udah pada pergi tarwih aku malah asyik ber-line- ria, yang lain pada bangun sahur aku masih 'iler' di tempat tidur hingga matahari sudah tinggi, dan ini yang paling tragis yang lain pada nahan lapar dan haus cuma sampai maghrib dengan niat berpuasa, aku yang gak berpuasa, udah gak makan sahur, siangnya juga gak makan bahkan sampai malam, yang lain udah pada berbuka, lalu aku? biar setetes air pun belum membasahi kerongkongan. Sungguh terlalu.

Yup,  selama belum diperbolehkan berpuasa di ramadhan kali ini, aku benar-benar udah mendzalimi diri sendiri, orang yang berpuasa aja sehari bisa makan tiga kali, lha aku dalam sehari cuman makan sepiring doang. Gak tahu kenapa, sejak kehadiran 'tamu istimewaku' di bulan juli yang datang bertepatan dengan awal ramadhan, aku malas makan lebih tepatnya malas masak, siangnya mau keluar cari makanan eh warung-warung semua pada tutup. Selain berdalih dengan alasan tersebut, alasan sebenarnya sih karena aku sendiri yang gak terlalu bernafsu makan. Gimana mau bernafsu, kalau makan sepiring sendiri, tanpa ada yang menemani. Ngenes banget kan. Teman-teman sekelasku udah pada pulang ke kampung masing-masing, ramadhan pertama mereka lalui bersama keluarga tercinta, sementara aku yang melewati ramadhan tanpa keluarga berhasil membuat perutku keroncongan lebih parah daripada orang-orang yang berpuasa. Kalau kayak gitu, mending aku puasa, biar lapar dan haus yang sengaja kutahan-tahan berberkah, setidaknya orang berpuasa dapet pahala, daripada dapat bonus dari Allah diliburkan puasa, malah milih gak makan sehari-semalam, jadi boro-boro mau dapat pahala. Itu namanya nyiksa diri sendiri.

By the way, tadi aku sempet singgung kalau umat islam di Indonesia ada yang puasanya sudah masuk dua pekan, ada juga yang puasanya udah mau lewat angka 15. Lho kok bisa? Padahal sama-sama islam, kok puasanya gak barengan? Mengenai hal tersebut, jangan ditanya lagi. Hampir tiap tahun di negeri kita tercinta, puasanya sering gak bersamaan. Kayak terpecah gitu, padahal kita sama-sama islam. Lantas kenapa puasanya gak barengan aja sih, kenapa ada pihak-pihak tertentu yang bertolak belakang dengan keputusan pemerintah yang telah menetapkan awal ramadhan jatuh tanggal sekian. Menanggapi hal tersebut, banyak persepsi diluaran sana yang mungkin berpandangan negatif terhadap "pihak-pihak" yang membuat keputusan sendiri. Sebut saja Muhammadiyah, sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, penentuan awal Ramadhan atau Syawal yang ditetapkan oleh Muhammadiyah sering bertentangan dengan pemerintah. Sekalipun bertentangan dengan pemerintah bukan berarti bertentangan dengan ajaran Islam. Pemerintah punya dalil, Muhamadiyah pun punya dalil. Setahuku dalil yang digunakan baik Pemerintah maupun Muhammadiyah dalam menetapkan awal bulan bersumber dari Al-Qur'an dan Hadis, maka tidak patut deh untuk kita saling menyalahkan satu sama lain. Masalahnya cuma terletak pada perbedaan mereka, para pemuka agama dalam menafsirkan ayat-ayat dan hadis-hadis yang berkenaan dengan masuknya bulan puasa serta lebaran. Para ulama dulu pun tak jarang berbeda pandangan, apalagi  dengan ulama-ulama sekarang. Aku pikir perbedaan merupakan hal yang wajar, gak ada yang salah kok. Mau ikut Muhammadiyah atau pemerintah, itu hak kita tapi kalau boleh jangan cuma selamanya memilih menjadi masyarakat awam yang pinternya cuman berkoar-koar memihak yang satu dan menyudutkan yang lain padahal aslinya gak tahu apa-apa, jangan cuma ikut-ikutan doang, setidaknya tahulah dalilnya dan alasan kalau kita memilih ikut muhammadiyah, mengapa muhammadiyah dalam menetapkan masuknya bulan menggunakan hisab atau jika ikut pemerintah musti tahu dalil serta alasan kenapa pemerintah menetapkan jatuhnya bulan ramadhan maupun syawal dengan melihat hilal. Setidaknya ketika ditanya kenapa ikut pemerintah, kenapa ikut muhammadiyah; kita punya jawaban tersendiri berdasarkan dalil yang kita yakini, bukan sekadar asal ngikut. Mana yang benar? wallahua'lam deh, bukan urusan kita mengklaim mana yang benar, mana yang salah karena kebenaran itu datangnya dari Allah azza wa jalla, only Allah who knows. 

Sekian prolognya, sengaja aku singgung masalah yang kayaknya udah "basi" dibahas, apalagi ini udah masuk pertengahan ramadhan, padahal bukan itu inti topik dari catatanku kali ini. Kenapa aku menyisipkannya? jawabannya sih karena ini postingan kali pertama aku di bulan ramadhan 1434 H ini. Jadi kalau para blogger yang lain udah sering-sering memposting catatan bertemakan ramadhan, aku baru sempat nih nulisnya, maklum bulan ini aku lagi sok sibuk gitu ngurus judul skripsi aku yang alhamdulillah udah di acc plus SK pembimbingku juga udah keluar *sekedar info*. Sebelumnya emang udah ada niat kalau mau nulis catatan pertama bertemakan ramadhan bakalan nyinggung hal di atas tanpa bermaksud mengulasnya. Cuma menyinggung lho.

Nah, inti catatan ini sengaja aku tulis special untuk diikutkan dalam best article of Blogger Energy, mengenai kisah cinta di bulan ramadhan. Dari sekian banyak kisah ramadhan yang telah kulewati tiap tahun, selalu terselip kesan-kesan indah yang rasanya sulit kuterjemahkan dengan kata-kata. Pokoknya bagiku ramadhan adalah bulan yang paling indah. Tiada bulan lain yang mampu menandingi keindahan bulan ramadhan. Apalagi kata Allah, Ramadhan dijadikan sebagai bulan special bagi orang-orang beriman, dimana hanya di bulan ramadhan Allah menganugerahkan satu malam yang kemuliaannya lebih baik dari 1000 bulan, tentunya yang bisa merasakan kemuliaan malam yang dinamai lailatul-qadr adalah hamba-hamba-Nya yang benar-bener taat. Pengen juga merasakannya, tapi baru belajar taat nih. Tidak hanya itu semua amal ibadah kita bulan ini dilipatgandakan lho makanya ramadhan seharusnya menjadi momen yang tepat buat kita terkhusus diri pribadi agar mengumpulkan pundi-pundi amal baik sebanyak-banyaknya. Selain sebagai momen yang tepat untuk beramal banyak, ramadhan juga semestinya menjadi momen yang paling tepat untuk berkumpul dengan keluarga. Kesannya itu lho, berasa banget. Buka puasa bareng, sahur bareng, tarwih bareng, mana bisa aku melupakan momen-momen ramadhan yang tak pernah tak meninggalkan kesan berarti dalam hidupku. Tiap tahun aku ramadhannya selalu bersama keluarga, sama mama, papa dan saudara-saudaraku. Kalaupun ada tahun dimana aku gak bisa puasa bareng mereka, itupun karena aku harus merantau ke pulau seberang dan terpaksa tinggal berjauhan dari orang tua, mereka di pulau Papua, aku nya di Pulau Sulawesi.

Yah ,namanya juga demi menuntut ilmu. Teman-teman sekelasku sih enak, kampung mereka dekat dengan kota Daeng, tempat kami menuntut ilmu. Setidaknya mereka gak sampai naik kapal selama 5 hari 5 malam, cuma naik mobil dengan perjalanan gak sampai seharian, paling-paling sekitar 5-6 jam doang. Beginilah konsekuensinya, aku yang milih melanjutkan study jauh dari kampung kelahiran, jadi kalau saat ini aku gak bisa melewati ramadhan bersama keluargaku, mau gak mau aku harus terima dengan lapang dada. Kalau jauh kan bisa lewat udara, paling cuma makan waktu sejam atau dua jam perjalanan naik pesawat? Iya sih, maunya juga gitu, tapi sayang aja uangnya mending dipakai buat pembayaran kuliahku yang sisa dua semester, lagian juga aku tinggal setahun doang di Kota daeng. Insya Allah tahun depan udah mengenakan toga dan kembali ke kota Serui tercinta.

Eniwei, Ramadhan tanpa keluarga memang menyisakan kehampaan, rasanya ada yang kurang, namun tanpa kehadiran mereka tidak mesti aku jadikan ramadhan ini berwarna kelabu. Seperti sudah kukatakan, bagiku ramadhan adalah bulan yang paling indah. Tidak bisa melewati ramadhan bersama keluarga, alhamdulillah Allah masih meninggalkan orang-orang yang bernasib sama denganku. Meskipun tidak semua dari mereka adalah teman kelasku, tapi karena kami sejurusan dan sama-sama bergabung di Matrix SC, salah satu kelompok belajar matematika, kami jadi saling mengenal kemudian akrab sehingga di kota perantauan ini, aku sudah menganggap mereka sebagai keluarga sendiri, selain teman-teman kelasku tentunya. Dan dari sekian ratus warga Matrix SC di ramadhan kali ini hanya ada beberapa kepala yang masih betah dan bertahan di kota Daeng yang lainnya sudah pada pulang kampung. Jadilah kami yang tersisa bersepakat untuk mengadakan acara BUBAR MATRIX SC di hari ketiga ramadhan versi pemerintah. Yup, acara buka puasa bareng MATRIX SC termasuk hal berkesan bagiku di ramadhan kali ini, sehingga kisah ini yang hendak aku tuturkan, mumpung kisahnya masih hangat walau agak telat postingnya. Berhubung cuap-cuapku sudah kebangetan, khawatirnya akan semakin panjang kali lebar sehingga meluas dan berefek samping membuat para membaca mulutnya berbusa maka kisah di bawah ini akan aku suguhkan dengan menayangkan beberepa kenangan yang sudah kuabadikan via jepretan dengan sedikit pendeskripsian.
 ***

Jumat, 12 Juli 2013
Di suatu sore nan mendung, beberapa anak manusia berkumpul di Sekret Matrix SC yang letaknya tepat berhadapan dengan kampus UIN ALAUDDIN Samata. Hujan sedari pagi tidak menyurutkan langkah anak-anak tersebut untuk menghadiri acara buka puasa bersama. Bersyukur, sebelum ke sekret, seharian aku nongrong di kampus, dan bukan suatu kebetulan aku singgah di Perpustakaan dan berpapasan dengan Dhy, teman akrab aku di Matrix. Langsung aja aku ajak tuh anak ikut acara berbuka di sekret meskipun dia bilang lagi gak puasa. Sama dong, aku juga belum puasa, but no problem, yang penting datang ikut meramaikan, lumayan kan bisa makan gratis, hehe. Oh yah, Dhy bilang seharian itu dia belum makan, waah perutkuku juga sebenarnya sudah mengamuk sejak pagi tapi di kampus semua kantin gak ada yang buka. Ternyata benar kan, nasib orang tidak berpuasa lebih parah dibandingkan orang yang berpuasa. Acara buka bareng kami ini, sejujurnya tidak ada persiapan sama sekali. Aku yang di bidang humas cuma kebagian job menyebarkan informasi, selebihnya mengenai urusan konsumsi i don't know. Terbukti, sesampai di sekret penghuninya pada santai, gak ada yang sibuk di dapur, terlebih tak ada tanda-tanda mau buat acara berbuka. Ternyata menu berbuka puasa kami hari itu telah disponsori oleh senior kami yang dengan ringan tangan menyerahkan dua lembar uang berwarna merah yang segera kami sulap dengan membeli beberapa menu berbuka ala kadarnya. Alhamdulillah yah:)


ini dia menu berbuka kami, serba instan
ceweknya sibuk ngatur-ngatur, cowoknya malah asyik ngeliatin
si ketua kami lagi narsis dengan es buah-nya
sambil menyiapkan berbuka tak lupa berpose haha
Iya,  ceweknya cuman aku dan Dhy. Makanya setelah beberapa cowok yang ditugaskan berburu makanan berbuka pulang membawa berbagai jenis kue yang semuanya serba jadi alias dibeli, gilirin aku dan Dhy yang sibuk ngatur-ngatur makanannya. Berikut ini cuplikan saat-saat kami menanti berbuka puasa.


tarara, makanannya udah siap
udah pada ambil tempat masing-masing nih
pak ketua kami yang akan memimpin acara BUBAR haha
peace kanda
duuuh, kapan bukanya sih, gak nahan lagi nih >,<

ayo berpose, senyumnya Dhy manis yah :-P
daripada ngeliatin makanannya mending sini liat kamera haha
tssstt, cowoknya pada serius nyimak makanan masing-masing

kuenya untuk sepiring berdua, asyiiikkk
Alhamdulillah setelah sekian menit menunggu, di radio menggema doa berbuka puasa, tanpa ba bi bu si ketua segera memimpin dan  tanpa perlu dikomando tangan-tangan itu sigap meraih kue yang cukup lama menganga dihadapan mereka. Aku dan Dhy yang gak berpuasa juga gak mau ketinggalan dong.


wuidih dalam sekejap kuenya hampir ludes



piringnya ikutan ludes yah ckckck
Menu berbuka puasa kami ala kadarnya, tapi siapa sangka tidak sampai 10 menit piringnya bersih euyy, es buahnya juga laris manis. Selanjutnya karena perut sudah terisi giliran ruh yang mau dikasih makan, Jangan sampai berbuka menghalangi shalat maghrib:)


si ketua yang jadi imam
kalau ada yang liat ke kamera aku pasti ngakak, syukurnya semua tampak khusyuk
***
Hari itu memang bukan kali pertama aku ikut acara buka puasa, namun selama tiga tahun tinggal di Kota Daeng baru kali itu aku ikut acara buka puasa bersama orang-orang yang tak pernah kukenal di kehidupanku sebelumnya. Entah kapan momen serupa akan terulang, mungkin tahun depan, dua tahun kedepan atau bahkan tidak akan pernah lagi? Bisa berbuka puasa dan melewati awal ramadhan dengan mereka yang berasal dari berbagai penjuru daerah. sempat membayangkan pun tidak. Allah yang mempertemukan kami dalam suatu wadah, tempat kami menampung inspirasi, aspirasi dan gagasan-gagasan kami. Wadah dimana kami saling berbagi satu sama lain. Bukan hanya tentang matematika, juga tentang arti kebersamaan. Pokoknya hari itu aku senang banget, meskipun kebanyakan yang hadir cowok namun kehadiran mereka sedikit mengobati kerinduanku pada orang tua serta saudari-saudariku kala menyadari bahwa aku tidak sedang melewati ramadhanku sendiri di sini. Dengan makanan ala kadarnya pun mengingatkan aku akan nasehat mama pada anak-anaknya, "puasa itu sayang, bukan melatih kita untuk balas dendam karena seharian tidak makan dan minum, puasa melatih kita agar dapat merasakan penderitaan yang dialami saudara-saudara kita di luar sana yang sehari, dua hari jarang menyentuh nasi, bersyukurlah nak". Jika ditanya mengapa kisah hari itu termasuk kisah berkesan bagiku di ramadhan kali ini, maka aku akan menjawab, sungguh kebersamaan itu akan selalu terasa indah, sekalipun hangatnya tak sehangat saat ramadhan bersama keluarga namun setidaknya aku masih bisa merasakan sepercik kehangatan.

Sekian kisah ini tertoreh
Makassar, 14 Ramadhan 1434 H


  • Share:

You Might Also Like

13 comments

  1. itu kanda yang pis tjakep ya kak zhie wkwk..
    seru bgt bareng-bareng gitu kak

    ReplyDelete
  2. wah, berarti Lebaran kali ini nggak pulang ke Serui dong?? cc aku jadi pingin bisa ke tempatmu juga cc...hehehe, kayakny seru gituuu...dan aku juga belum pernah puasa sendirian di perantauan, jadi aku pikir kamu hebat! dan aku doakan tahun depan bisa pake toga pulang ke kampung halamannya yaaa....

    kalau boleh saran, font tulisanmu agak kekecilan dan rengket rengket gitu, bisa di agak besarin terus dikasih variasi gitu cc biar nggak monoton :)

    ReplyDelete
  3. woi, orang solat jgn di fotoin...gue jd ngakak kalo ngebayangin pas lg moto gitu ada yg liat kamara...hahahaha

    ReplyDelete
  4. aku baru tahu kalo cewek lagi libur enggak puasa gitu sedih perasaanya, kirain malah seneng soalnya enggak puasa
    .........................

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya enggak lah kak,- di mana juga mah sedih pastinya. kan bulan ramadhan mah bulan pennnnnnuuh pahala, berlimpah. kalau karna halangan kan kita jadi terbatas mau apa-apa :/
      yagak kak zhie?

      Delete
    2. sono bang lu nyobain jadi cewe, kali ajah lu mah girang haha

      tapi menurut gue sih nggak puasa itu kaya kurang afdol, apalagi di bulan ramadahan yg penuh barokah ini.. ceilehhh

      Delete
  5. asek asek yang buka bersama,,, pasti seru banget pas nyiapin bukaan nya, ada yang diem, bengong, smsan, pasti lebih banyak dari yang kerja nyiapin nya.. pasti

    ReplyDelete
  6. seruu yaa bukbernya, sampe solat berjamaah gitu, gue biasa bukber di kafe2 gitu, jadi kalo solat maghribnya jamaahan di mesjid trdekat hehe

    ReplyDelete
  7. wah, serunya.. aku juga suka buka bareng gitu kok..

    ReplyDelete
  8. Bubeerr... Zhie paling narsis. Wakakakak

    ReplyDelete
  9. wah ini postingan smpet kepotong dan dibuat ulang? :')
    thanks ya hehe
    prolognya curhatan anak wanita rantauan dibulan ramadhan banget :))
    sempet tuh dibahas diwhatsapp BE masalah tanggal penentuan puasa hahaa ya beginilah
    alangkah lucunya negri ini ,toh kita sama2 berpedoman 1 Al-Qur'an kan hmmm
    asik buka bareng gitu :D rameeekk

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa menginspirasi.