Kutipan Menulis

By Siska Dwyta - 21:09

click here

"Perbedaan antara penulis dengan calon penulis
adalah bahwa penulis itu MENULIS, sementara calon
penulis terus-terusan BERMIMPI MENULIS"
 

Begitu status dari bang Izarate Moya yang muncul di beranda saya beberapa waktu lalu. Sebuah kutipan yang memberi tamparan keras saat pertama saya membacanya. Saya seolah disindir sinis dan memang saya merasakannya. Merasa bahwa selama ini saya hanyalah seorang pemimpi yang keseringan berkhayal untuk menjadi seorang penulis buku best seller tapi untuk mengawali dengan satu titik saja jari saya enggan bergerak. Payah, kan.

Lho kalau itu mimpi kenapa mimpi saya malah menjelma jadi khayalan? Bukankah MIMPI berbeda dengan KHAYAL?


Menurut saya, khayalan adalah angan-angan kosong. Berangan terbang ke langit, bisa menari di atas awan dan menyentuh rembulan namun ketika sadar tak memiliki sayap, diri akan terhempas jatuh ke bumi. Yup, dalam kacamata saya, khayalan tak kan bisa mengubah segala sesuatu menjadi nyata karena membayangkan saja tidak cukup kecuali kalau ada keajaiban. Sedangkan mimpi yang saya pahami bukan sekedar bunga tidur. Makanya, sekian banyak motivator atau trainer ketika membawakan seminar, begitupun dengan buku-buku motivasi yang bertebaran di perpustakaan maupun toko buku atau gramedia tidak pernah alpa merayu kita untuk selalu bermimpi, menyarankan kita agar membuat list mimpi untuk satu tahun kedepan, 5 tahun kedepan, atau 10 tahun kedepan. Kata mereka mimpi itu gratis jadi bermimpi besarlah sesukamu, bentangkan ia  hingga menjulang tinggi ke angkasa, biar Tuhan yang merengkuh mimpi-mimpimu. Sebab dalam mimpi, terpatri niat, terhujam tekad, terlantun doa serta kekuatan ikhtiar yang mampu mengubah mimpi menjadi nyata. I BELIEVE IT.

Seperti ungkapan lirik pertama lagu Laskar Pelangi, mimpi adalah kunci untuk kita menakhlukkan dunia berlarilah tanpa lelah sampai engkau meraihnya. SAMPAI ENGKAU MERAIHNYA. Jadi bagaima mungkin saya bisa meraihnya kalau saya sendiri belum berlari mengejar mimpi-mimpi saya. Kalau seperti itu kan sama saja saya dengan seorang pengkhayal.

So, koreksi saya sih, seharusnya bukan BERMIMPI yang disematkan sebelum MENULIS pada kutipan di atas tapi BERKHAYAL. Dan kalau saya salin ulang kutipannya adalah 


 "Perbedaan antara penulis dengan calon penulis
adalah bahwa penulis itu MENULIS,
sementara calon
penulis terus-terusan BERKHAYAL MENULIS."


Back to the topic, di catatan saya kali ini saya tidak bermaksud mengurai tentang mimpi yang saya pahami, melainkan tentang kutipan menulis yang pernah saya cerna maknanya.


"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah
bekerja untuk keabadian" 

Demikian ungkapan dari seorang novelis Indonesia Pramoedya Ananta Toer. Yup, Menulis adalah pekerjaan keabadian. Kutipan kedua ini, pertama kali saya dengar dari penyampaian salah satu pemateri tentang kepenulisan ketika saya mengikuti TRAINING OF WRTING FORUM LINGKAR PENA (TOWR FLP) Ranting UIN ALAUDDIN MAKASSAR. Kutipan yang menyadarkan saya akan satu hal, jika saya ingin kisah saya abadi, jika saya ingin meninggalkan jejak-jejak kenangan saya, jika saya ingin mengukir sejarah hidup saya maka saya harus tetap menulis hingga detik dimana tangan saya membiru dan waktu saya habis.

Gajah mati meninggalkan belang, manusia wafat meninggalkan nama namun akan lekas tersapu oleh masa dan jika saya tiada saya tidak mau hanya meninggalkan nama, saya tidak ingin anak atau cucu saya nantinya (Insya Allah jika Tuhan menghendaki) dan orang-orang mengenang saya hanya dengan nama atau foto, saya ingin tulisan saya ikut menjadi kenangan yang melekat di hati mereka bahwa saya pernah ada di dunia.

Okelah, bila yang lalu-lalu saya sempat menorehkan cerita tentang beberapa orang yang sengaja saya jadikan inspirasi dalam tulisan saya, hanya karena mereka pernah membuat hati saya bahagia dan menangis tersedu-sedu. Saya sengaja meluapkan curahan hati saya lewat tulisan dan berkisah tentang mereka. Tidak peduli mereka membacanya atau tidak. Mungkin saking berartinya, saya masih hoby mengenang kisah pahit-manis bersama mereka yang sengaja saya abadikan dalam potret tulisan. Akan tetapi sekarang, hasrat menulis saya bukan lagi tentang kenangan pun kisah di masa silam, lebih dari itu saya ingin mengabadikan isi hati saya, pikiran saya, kisah pernikahan saya nantinya, saya ingin menulis tentang suami saya, tentang buah hati saya, keluarga kecil yang saya damba-dambakan kelak. (Insya Allah, jika Tuhan berkenan) dan tentang bahagia itu sendiri seperti apa?

Kutipan kedua itu juga membuat saya paham bahwa betapa berartinya sebuah tulisan, kita bisa mengenal kisah perjuangan pahlawan yang memperjuangkan Indonesia tercinta karena sejarah, dan sejarah itu sendiri tercipta karena ada tulisan. Tulisan sendiri pun adalah peninggalan jejak-jejak yang merekam sejarah. Dan tentang soempah pemoeda, dapatkah kita mengetahui ikrar pemuda-pemudi kala itu yang dengan lantang menyuarakan sumpahnya demi kecintaan akan tanah air, demi persatuan dan menggenggam erat semboyan bhineka tunggal ika jika tak tertuliskan. Sumpah pemuda adalah sumpah abadi bagi seluruh pemuda-pemudi negeri ini. Tidak hanya di jamannya bung Boedi Oetomo, detik ini, serta masa depan. Sumpah pemuda di negeri ini akan tetap abadi sebab ia telah terukir dalam aksara yang menembus ruang dan waktu. Sumpah yang menepis segala perbedaan diantara kita, tidak pandang kita berbeda suku, berbeda daerah, berbeda bahasa, berbeda jaman, yang terpenting KITA TETAP SATU. Menyatu dalam naungan NKRI. (intermezo hari sumpah pemuda)

Selanjutnya, saya terngiang kembali dengan ucapan si pemateri TOWR FLP tersebut, yang mengatakan bahwa setiap orang bisa menjadi penulis, saya garis bawahi hanya bagi yang mau saja karena penulis adalah PILIHAN. Iya, kita memang memiliki peluang yang sama dengan mereka yang berhasil menerbitkan tulisannya dan sukses memiliki nama pena yang terkenal di luaran sana berkat karya-karyanya, namun boleh jadi kita tidak memiliki pilihan yang sama. J.K Rowling, Agatha Christie, Habiburrahman El Zhirasy, Helvy Tiana Rosa de el el, mereka adalah orang-orang yang saya yakin menjatuhkan pilihannya untuk menjadi seorang penulis, kalau tidak mana mungkin muncul Rowling dengan HARRY POTTER-nya, sebuah novel fenomenal mendunia, kisah-kisah kriminal yang begitu dahsyat dari imaginasi seorang Agatha, Ayat-Ayat Cinta Habiburrahman yang pernah membumi di bumi pertiwi, dan sebuah kumcer "Ketika Mas Gagah Pergi" dari bunda HTV dengan diksi yang sederhana namun sangat menyentuh hati-hati pembacanya.

Siapa bilang saya ataupun kamu, anda, kalian tidak bisa menjadi penulis. Menulis bukan persoalan bakat tapi keterampilan dan kebiasaan yang saya singkat dengan kata 'kerja keras', senada dengan ucapan sahabat seperjuangan saya di Papua yang sekarang sedang melanjutkan studynya di Pulau Jawa. Sahabat saya itu sering menyemangati saya untuk menulis katanya, Jadi penulis itu 1% bakat, 99% kerja keras.  

Saya jadi teringat dengan artikel salah satu penulis muda Indonesia yang baru-baru ini saya follow twitternya dan baru juga menerbitkan novel barunya berjudul CINTA. ( baca cinta dengan titik). Siapa yang sudah baca novel tersebut pinjamin dong pasti tahu penulis yang saya maksud. 

Yip, benar banget salah dibenarkan @benzbara_ alias Bernard Batubara, itu lho penulis yang.. hmm apa ya? oke-oke karena saya baru kenal nama doi, dan belum pernah baca novelnya tapi langsung ketagihan stalking di blog penulis yang berlink bisikanbusuk.com, gegara baca cerpen doi berjudul  Senja di Jembrana, dan cerpen-cerpen yang lain sempat ia publikasikan di blognya dan apa lagi ya? Duuuh, intinya nih gak terlalu tahu banyak tentang Benz, jadi yang mau kenalan dengan doi silahkan kepo-in sendiri.

Nah, sekarang catet baik-baik yah bagi yang berminat jadi penulis saya recomended kalian membaca artikel Benz yang satu ini Bagaimana Caranya Menjadi Penulis. Di artikel tersebut Benz katakan dengan tegas bahwa tak ada cara lain untuk jadi penulis selain menulis. Tuh, benar banget yang di bilang Benz, bagaimana mau jadi penulis kalau gak menulis. Gimana mau jadi penulis kalau malas menulis. Namanya juga penulis yah kerjanya menulis dong. Tapi kok rasanya susah yah jadi penulis? Masih seperti yang di ungkapkan Benz dalam artikel tersebut, doi bilang seorang penulis harus menggenggam 2K, yakni Komitmen dan Konsisten. Menurut Benz menulis adalah keterampilan dan seperti keterampilan lain, kita hanya akan terampil jika rajin berlatih.

"saya mau menulis tapi gak punya ide"

Masa' sih musti mengkambinghitamkan ide sebagai alasan malas menulis, padahal lagi-lagi kata penulis cowok kelahiran 89 itu, ide selalu bertebaran di sekeliling kita. Toh gak ada ide yang orisinil kan. Saya sendiri cenderung lebih sepakat dengan orang yang mogok nulis di blognya karena alasan mod, bukan karena gak punya ide atau sibuk. Masalah sibuk, jangan ditanya. Setiap orang juga pasti punya kesibukan masing-masing, coba lihat mbak OSD, beliau itu kalau dalam pandangan saya adalah wanita sukses Indonesia yang bisa dibilang paling sibuk meski saya gak tahu pasti apa kesibukannya sehari-hari, yang saya tahu beliau adalah seorang aktris/bintang film, penyanyi lagu religi, mahasiswi kuliah pascasarjana di 2 Universitas Negeri di Jakarta (wooww),  sering diundang keluar kota untuk mengisi acara-acara seminar, namun maa syaa Allah banget beliau juga seorang penulis yang di tengah kesibukannya masih meluangkan waktu buat nulis. Hasilnya, beliau berhasil menulis 4 buah buku dan semuanya best seller. Hayyooo, kurang sibuk apa coba mbak Oki.  Kalau kayak saya ini, bisa dibilang cuma mahasiswi yang sok sibuk kuliah-sekolah-kos, itu-itu doang. Duh, kok jadi berasa hambar banget yah hidup saya ini. Makanya saya mau warnai hari-hari saya dengan menulis  biar gak hambar lagi.

Trus kalau ditanya kenapa saya lebih sepakat dengan alasan mod, maka jawaban saya simple aja, mod tidak sama dengan rasa malas. Mod adalah suasana hati, sedangkan malas adalah sifat gak baik yang sengaja di pelihara. kalau bad mod kita lagi datang, bayangin deh, mau ngerjain apa-apa juga kalau emang suasana hati gak baik, biar dipaksa sekalipun terasa enggan. 

Eniwei, dari uraian saya  di atas yang terlanjur mengalikan panjang dan lebar menghasilkan luas, saya berkesimpulan bahwa SAYA ADALAH SEORANG PENULIS. Yang keberatan silahkan angkat kaki. Saya sekarang mengesampingkan anggapan penulis adalah seseorang yang namanya terukir di beberapa buku dan buku tersebut ada di antara sekian banyaknya buku-buku yang terpampang di gramedia dan di baca oleh banyak orang. Saya pikir yang namanya penulis itu tidak musti menerbitkan buku terlebih dahulu baru dikatakan sebagai penulis. Bukankah yang dikatakan penulis adalah seorang yang menulis. Seperti yang di ungkapkan seorang penyair Indonesia, Kuntowijoyo


Syarat menjadi penulis ADA TIGA, YAITU 
MENULIS... MENULIS... DAN MENULIS.
 
Dan seorang penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Well, saat ini mungkin saya belum bisa meraih mimpi saya, tapi yang bisa saya lakukan untuk mewujudkan mimpi tersebut menjadi nyata adalah dengan terus merangkai huruf demi huruf, kata demi kata, kalimat demi kalimat, dan paragraf demi  paragraf. Setidaknya saya punya blog dimana blog adalah rumah tulis saya di maya, yang fungsinya menampung semua tulisan acak-acakan saya, mau jelek, mau baik, mau berserakan yang penting saya tetap nulis dan memposting tulisan saya di sana. Setidaknya ada penulis lain yang bersedia membaca tulisan sederhana saya bahkan ikut mengomentari tulisan saya. Dan setidaknya, untuk saat ini saya cukup bangga menjadi seorang penulis blog tanpa melunturkan impian utama saya be a writter of best seller books. AAMIIN:-)

***

Kawan, waktu mungkin bisa menggilas segalanya tapi waktu tak kan pernah menggilas apa yang pernah tergores di ujung pena. Mungkin, memang benar yang pernah terdengung di telinga saya bawa tanpa tulisan tak kan ada peradaban.


click here

So tunggu apa lagi? MARI MENULIS. MARI MEMILIH MENJADI PENULIS. MARI SAMA-SAMA BEKERJA UNTUK KEABADIAN. DAN MARI CIPTAKAN PERADABAN YANG LEBIH BAIK UNTUK NEGERI INI DENGAN TULISAN KITA.

Terakhir, saya sematkan kutipan yang paling saya suka, dari seorang penulis terfavorit saya bunda HELVY TIANA ROSA yang berawal dari tulisan beliau lah saya tergerak dan termotivasi untuk tetap MENULIS dan bertekad menjadi PENULIS.


"MENULISLAH DAN BERCAHAYALAH"

di batas senja yang meremang
DEMI PENA DAN APA YANG DI TULISKAN
catatan motivasi  ini tertuang.


  • Share:

You Might Also Like

23 comments

  1. menulis,,,menulis....menulis...kita akan diajarkan oleh Allah dari sisi yang tak terduga sebab enulis dan membagi ilmu...insyaallah
    bismillah

    ReplyDelete
    Replies
    1. yup... salah satunya menulis sekaligus membagi ilmu,, alhamdulillah yah^^

      Delete
  2. haha ada nama ku nih jadi merasa terharu :v , aku juga masih mencoba meniti langkah dengan menulis sebuah buku meski tertatih yang penting jangan pernah kehilangan harapan :) oh ya tulisanmu yang ini bagus banget lho zhie perlu dijadikan renungan bagi semua orang yang berkeinginan untuk terus menulis , semangat yosh !

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya nih sorry yang bang sudah nyulik namanya tanpa ijin.. saya suka tuhh,, yang penting jangan kehilangan harapan,, ya ampuun pujiannya buat saya jadi tersandung,,, iya,, semangat,,, semangat semoga catatan saya ini bisa memotivasi pembaca terlebih buat diri pribadi,, aamiin,, semangat menulis^^

      Delete
  3. Saya suka sama tulisan-nya, kak. Bener-bener inspiratif banget! Iya, ini sebuah tamparan yang keras dan mungkin bisa bikin berdarah buat orang yang selalu berkhayal, tapi ga pernah melakukan apa-apa. Mereka yang seperti itu? kemungkinan besar ga akan bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan. Udah gitu aja. Hehe. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih Rahmat sudah menyukai tulisan saya haha,, iya,, makanya jangan ngayalnya terlalu tinggi *nyindi diri sendiri,,, ya udahh saya gitu aja deh :D

      Delete
  4. iya Zhie, tulisan2 kamu bagus beneran deh! kalo saja kamu luangkan waktu sejam saja setiap hari untuk menyusun novel impianmu, itu jauuuuuh lebih baik daripada hanya berkhayal tanpa ada kepastian. :-D

    ReplyDelete
    Replies
    1. aaahhh kak El pujiannya kelewatan dehh,,, tulisan kak el juga bagus2 kok,, sueerrr haha,,, masih belajar nulis ni lagian imaginasi sy belum terlalu liar ,, insya Allah ditargetkan

      Delete
  5. menulis ya ??terus kapan minumnya, terus kapan makannya, terus emang gak tidur ??terus aktifitas yang lain mau di apain ?? hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. minum kalau haus, makan kalau lapar, tdur kalau ngantuk, aktivitas lain tak masalah ,, simple saja kan,,, menulis bukan penghalang kok kenapa di bikin ribeett

      Delete
  6. Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah
    bekerja untuk keabadian demikian ucapan yang keluar dari mulut seorang novelis Indonesia Pramoedya Ananta Toer

    iya ini kek apa yang aku bilang di soundcloud kemarin Zhie, orang boleh mati tapi tulisannya tetaaaap abadi...jadi, mari menulisss...yeayyyyy!!! :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. sayang banget kak ,, saya belum dengar scnya padahal penasaran banget nihh,, jaringannya mumet di sini jadi scnya kak mey gak mw terputar

      Delete
    2. ah, i seee...semoga ntar pas jaringannya jaya bisa didengerin yah Zhie :)

      Delete
  7. Menulis menulis dan menulis.
    Jadi teringat sebuah kutipan, "ikatlah ilmu dengan tulisan" /saya lupa dari siapa/
    pokoknya saya setuju banget bahwa menulis itu mampu mengikat ilmu, kenangan, cerita, bahwa mungkin mimpi! Ya, dengan menuliskan mimpi saja kita bisa mengikat mimpi tersebut untk menjadikannya sebagai motivasi. Pokoknya menulis itu banyak banget manfaatnya!
    semangat yaa kakzhie. Semoga impianmu terwujud utk menjadi penulis hebat. Aamiin :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. "ikatlah ilmu dengan tulisan" kutipan dari Ali bin Abi Thalib itu dek, kemarin sempat saya tuliskan tapi sudah saya hapus barusan waktu edit ulang catatan ini..

      waaahh terima kasih yah doanya dek Aul.. semoga sama-sama kita bisa jadi penulis dengan trus menebarkan kebaikan dalam tulisan kita^^

      Delete
  8. GLEK! ngena banget tuh! aku banget tuh kyaknya yang terus2an mimpi jadi penulis.. tapi nulisnya jarang2...

    sekarang keinginan menulis lagi nurun drastis, tapi abis baca post ini jadi ada sedikit cambukan! ayoooooooooooooo semangat nulis. makasih zhie :)

    ReplyDelete
  9. Hahaha...
    Tulisan ini keren Zhie!!! Asli!!!
    Beberapa poin yang mau gue tulis di blog BE ada disini... Mantap!

    Satu hal selain wajib menulis tentu saja wajib membaca, penulis tanpa membaca buku sama saja dengan penulis minim kosa kata.

    Dan terakhir, nilai plus dari tulisanmu itu kerapian Zhie. Jarang banget ada typo-nya. Ini yang bikin betah buat dibaca.

    ReplyDelete
  10. WIH, KEREN!
    bukannya nggak semua calon penulis itu menulis ya :p
    oia, syarat jadi penulis di tambahin 1 lagi dong.. membaca. :D

    ReplyDelete
  11. <<< calon penulis. haha
    tapi gak gerak2 dari dulu -_-" hadeh

    ReplyDelete
  12. Semangat Zhie!!!! Aku selalu dukung kamu sebagai adikku!

    ReplyDelete
  13. ayo kak zhie! semangat! aku suka postingan yang ini, bukan cuma memotivasi penulisnya doang, tapi juga pembacanya '-' hehe

    ReplyDelete
  14. Semoga menjadi penulis bermanfaat ya, bukan sekedar penulis sukses. Terima kasih berbagi ilmunya dan tetap perhatikan kaidah menulis artikel yang baik dan benar. :)

    ReplyDelete
  15. "Perbedaan antara penulis dengan calon penulis adalah bahwa penulis itu MENULIS, sementara calon penulis terus-terusan BERMIMPI MENULIS" << kata kata ini tamparan banget bagi aku kak zhie :(. Memotivasi bgt nih kak postingannya , jd semangt lg nulisnya! Iya betul syarat menjdi penulis yaitu menulis menulis dan menulis, satu lagi pastinya membaca :D

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa menginspirasi.