Ini Tentang Jingga dan Senja

By Siska Dwyta - 04:12

            Kisah sebelumnya Senja Berlalu
Namaku Dinda Kirana. Aku seorang gadis pecinta jingga dan senja. Perpaduan antara jingga dengan senja yang bersanding sempurna, itulah yang kusebut sunset. Ya, aku sering menanti sunset. Bagiku sunset adalah tentang penantian akan keindahan yang abadi.

Papa adalah lelaki pertama yang mengenalkan aku pada anggunnya senja dan kemilaunya jingga. Hampir setiap sore beliau memboncengku dengan sepeda ontelnya menempuh jarak sejauh 500 meter dari rumah kami menuju Pantai harapan kemudian kami menanti senja bersama. Di sana lah untuk pertama kalinya ku saksikan senja dengan jingga bersanding sempurna.

Mata berbinar-binar, mulut sedikit menganga dan wajah merona, begitulah ekspresiku setiap kali menatap sunset. Selalu sama. Dari dulu hingga detik itu. Terpana dan terpesona.

Bila memandang sunset, bagaimana pun sedih merajai, aku akan tersenyum. Sungguh, pantang terlukis raut sedih apalagi tangis jika mataku memeluk senja bersama jingga-nya. Bahkan aku memilih tersenyum di saat papa menghembuskan nafas terakhir. Serangan jantung telah merenggut nyawa beliau pada sunset di bulan November, 10 tahun silam. Senja yang dengan elok memamerkan jingga-nya padaku dari balik gorden yang tersingkap di jendela rumah sakit seolah memiliki magnet yang mampu menarik hati. Aku terhipnotis.

Sementara mama tersedu-sedu di samping mayat papa, bak senja turun memanggil-manggil nama Dinda. Maka perlahan sekali aku berjalan mendekati jendela dengan ekspresi yang sudah kubilang selalu sama. Sembari menatap takjub sunset, kubiarkan telapak tangan kananku menempel lemas di kaca jendela. Aku melihat wajah papa tersenyum lebar di sana, di batas cakrawala jingga lalu raib bersama matahari yang beranjak pulang ke peraduan. Detik itu tak ada bening air mata namun mama melihatnya, melihat garis tujuh senti melengkung manis di bibir putri semata wayangnya.

Dan rupanya mama salah menafsirkan arti senyumku. Sepulang pemakaman papa, beliau begitu geram dengan emosi meluap. Di ambilnya sapu ijuk kemudian beliau hentakkan agak keras di bagian tangan, paha dan betisku. Aku mengaduh, merintih kesakitan namun mama makin gencar memukuli. Beliau memukulku dengan mata penuh linangan air. Mama bilang aku senang papa meninggal. Ah, mama kenapa beliau harus salah paham dan berpikir dangkal, mana mungkin seorang anak bahagia melihat papanya meninggal, menatap tubuh papa yang terbungkus kain kafan dan terbujur kaku saja rasa-rasanya mendatangkan sembilu teramat pedih. Pilu dan menyakitkan.

"Pukul Dinda terus ma.. Pukul saja sampai Dinda mati. Dinda gak papa kok, biar Dinda bisa nyusul papa ke surga" teriakku histeris tumpah bersama air mata. Mama seketika tergugu, sapu ijuk dalam genggamannya jatuh ke lantai lantas dengan sigap ia meraih bahuku, lalu aku terbenam dalam pelukan kasih dan kami menangis sejadi-jadinya,  demi mengais rindu pada lelaki yang telah meninggalkan kedua perempuannya.

Waktu itu aku mengerti mengapa mama marah dan mengapa beliau memukul putrinya sendiri sampai meninggalkan lebam membiru di tubuhku. Lelaki setia yang telah mendampingi mama lima belas tahun lamanya telah tiada. Dan kenyataan itu ikut menohok tajam. Mama kehilangan suami dan aku kehilangan papa jadi aku mengira rasanya mungkin sama, karena kami sama-sama kehilangan sosok lelaki tercinta dalam hidup kami.

Padahal aku masih berusia tigabelas tahun kala itu, dan aku sudah dipaksa menjadi putri yatim yang harus tegar setegar batu karang walau sebenarnya teramat rapuh. Hanya papa yang tahu mengapa aku memilih tersenyum ketika beliau melepaskan nafas terakhirnya, sebab beliau lah yang telah mengajariku agar setia menyambut senja dan jingga dengan senyum merekah.

 ***

Gilang Ramadhan, dia adalah lelaki kedua yang paling aku cintai setelah papa. Kehangatan yang dulu pernah kuhirup setiap menanti senja di tepi pantai Harapan bersama papa kutemui pada sosok Gilang. Lelaki itu selalu membuatku nyaman berada di dekatnya dan mampu membuatku jatuh cinta everytime serupa aku yang selalu terpesona pada sunset.

Kata Dea -teman akrabku di SMA- aku termasuk gadis beruntung yang bisa menarik hati lelaki seperti Gilang. Gilang yang dingin, pendiam, jutek, sering acuh tak acuh tiba-tiba menjelma menjadi Gilang yang periang, ramah, murah senyum, juga cerewet. Dan semua karena siapa?

Dea bilang karena aku. Iya, aku. Hanya karena Gilang tahu aku mencintai senja dan karena dia hobi memotret senja jadi di suatu hari dengan gagap dan gugup di bawah semburat jingga, Gilang mengungkapkan rasa bahwa dia ingin mencintai aku seperti aku yang selalu mencintai senja. Ungkapan tersebut ajaib merubah rona wajahku seketika. Aku tertunduk malu-malu. Baru kali itu ada lelaki yang berani mengungkapkan perasaannya padaku secara lisan, di moment yang romantis pula. Duh, hatiku jadi kedap-kedip karenanya.

Bukan hanya Gilang yang mencinta, diam-diam pun aku sudah menyimpan rasa sejak aku yang tengah menikmati sunset di pantai Harapan terusik dengan semilir angir yang berbisik lembut lalu meniup halus rambutku yang tergerai panjang, sontak aku menoleh dan tak sengaja menangkap kilatan kamera.

Seorang lelaki tinggi berbadan tegap dengan tali kamera melingkar di lehernya tiba-tiba menghampiriku, berulang kali ia meminta maaf karena telah mengambil gambarku tanpa ijin, aku yang dasarnya suka jail berlagak jutek dan mengumpat-umpat tak jelas. Bahkan sampai tega aku membiarkan lelaki itu menceburkan diri ke laut sebagai syarat permintaannya diterima dan dengan lugunya tanpa protes tanpa berdebat ia langsung mengiyakan. Selanjutnya kami menjadi akrab dan muncullah benih-benih yang tak kuasa kulukis dengan huruf.

Maka hari ketika akhirnya Gilang berani menyatakan rasa padaku di bibir pantai Harapan adalah hari terindah yang segera kusambut dengan anggukan malu. Senja lah yang menjadi saksi tautan hati kami yang di pertemukan oleh sebab Cinta pada hari itu.

Dan selama lima tahun menjalin kasih, kami telah terbiasa menanti senja bersama di pinggir pantai Harapan bertemankan riak ombak dan deru angin. Aku selalu merekam kuat moment-moment dimana Gilang setia menemaniku menanti sunset dan aku setia menemaninya memotret senja .

Gilang bilang kalau aku adalah modelnya maka dia adalah fotograferku. jingga dan senja sebagai latar kami. Dia menyebut dirinya senja sedangkan akulah jingganya.

 ***


Bukankah sudah ku katakan bingkai sunset adalah ketika senja bersanding sempurna dengan jingga. Meski orang bilang tak selamanya jingga menyertai senja Karena langit tak selalu cerah. Senja selalu ada, tidak demikian dengan jingga. Tapi bukankah jingga pada senja pasti ada bila matahari mengantar mereka pulang bersama? Tanpa senja dan jingga mungkinkah sunset terpotret. Aku tak bisa menyaksikan pesona sunset bila jingga dan senja tak bersanding sempurna. Sehingga menurutku jingga is nothing without senja.

 ***


"Putus? Bosan? Hah alasan macam apa itu?" teriakku kencang pada senja yang telah redup bersama perginya Gilang.

Matahari sudah cukup lama terbenam namun aku masih betah menangis seorang diri di pinggir Pantai harapan. Pikiranku terngiang dengan janji-janji Gilang.

Lima tahun kami pacaran dan semudah itukah melepaskan? Bodoh, apa dia sengaja lupa dengan janji yang telah kami ikrarkan di hati masing-masing, di hadapan senja, Gilang berjanji bahwa dia tak kan pernah memutuskan aku, di hadapan senja aku pun melafalkan janji serupa. Bahkan Gilang sudah berjanji akan melamarku akhir tahun ini. Bulshieet. Janji tinggallah janji busuk. Aku benci. Aku benci. Persetan dengan senja dan jingga. Gilang telah meninggalkan aku jadi untuk apa lagi aku mencintai senja sedang ia telah merenggut dua lelaki yang kucinta.

Maka di sini, aku masih menanti, bukan lagi tentang jingga dan senja

Serpihan kisah ini tetap berlanjut...


051113
Writing with smile
posted from Bloggeroid

  • Share:

You Might Also Like

15 comments

  1. Yang sabar ya, semoga amal kebaikannya terus mengalir walau beliau telah tiada. Dan hanya kamulah satu-satunya harapan untuk masa depan ibumu. Kau manusia yang tegar, memberikan harapan bagi mereka. Teruslah torehkan apa yang kamu bisa.

    Untuk lelaki kedua, wah itu luar biasa. Sosok gilang memang cocok untukmu. Bagaimana pun, keutamaan waktu menjadi lebih penting. Sepenting kapan waktu tiba.

    ReplyDelete
  2. Sosok lelaki keduanya luar biasa, padahal waktu di awal benci banget sama sosok Gilang..
    Ahh kk, kamu berhasil membolak-balikkan penilaianku pada sosok Gilang ^^

    ReplyDelete
  3. @Agha : si aku pada cerita tsb bukan aku yg sebenarnya kok... itu cuma cerita fiksi... yah smga ada amanah yg bs di petik dr kisah di atas

    @Wiwi beneran wi' haha... endingnya mungkin boleh jadi lebih mengejutkan.. menurut wiwi endingnya bahagia atau gak? hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh begitu toh!!
      Kirain ini kamu, sumpah aku nggak nyangka bila itu benar-benar kamu. Aku merasa prihatin melihat sosok manusia tanpa bapak, bagaimana kah perjuangan mereka??

      Delete
  4. meski ini cerita fiksi zhi. tapi gue nanya apakah semua cewek ketika mencintai cowok untuk menjadi pacarnya selalu disangkutpautkan dengan orang terdekatnya. contoh gue suka pacar, karena dia mirip bokap sifatnya, perhatiannya. apa itu bener?

    ReplyDelete
  5. itu fiksi??? kok ya keren banget ya kayaknya penulisnya mendalami perasaan tokoh yang di tulis. si gilang emang brengsek tuh! masak udah 5 tahun pacaran putus gitu aja..

    faktor lain mamanya mukilin si dinda, karna terllau stres kali ya...

    ReplyDelete
  6. udah pernah buat cerpen atau novel kayaknya ya? :)

    ReplyDelete
  7. cerita fiksi yang keren, terutama cerita tentang dinda, gua tersentuh ngebacanya. dimana seorang anak yg berumur 13 tahun dan mama nya telah kehilangan sosok lelaki yang mereka cintai.
    keren ceritanya mbak :)

    ReplyDelete
  8. zie kata 'mayatnya' kenapa nggak diganti sama kata 'jasad' biar alusana dikit, kalo mayat kan kaya abis dibunuh gitu, menurut gue aja sih hehe

    fiksi? kaya nyata sih. enak banget di baca, mudah dipahami. :D

    ReplyDelete
  9. Ceritanya bagus Zhie, mungkin kalo ditambah lagi percakapannya bisa lebih menarik. hehehe.. keep writing! ditunggu lanjutannya!

    ReplyDelete
  10. fiksi ya? baguss ceritanya. tp menurut gue sih lebih di kasih permainan kata-kata dikit lagi aja, hehe. kata-kata yang abstrak, tapi indah untuk dibaca. gitu, hehe.

    ReplyDelete
  11. Tidak bisa deh aku gmbrkan dgn kata2 bgaimana bagusnya alurnya ini :) Astaga gilang keterlaluan bgt :(

    ReplyDelete
  12. ohh ini ini lanjutan yg kamren kan ? ngahaha tulis lagi ka penasaran lanjutanya ni seru :)

    ReplyDelete
  13. aduh, 5 tahun?? putus karena bosan?? kayak baca diary sendiri nih Zhie,,,,tapi emang gitu...well, love is like that..errr..cerpennya bagus, ditunggu sambungannya ya, nanti mereka ketemu lagi waktu udah dewasa nggak?? ngarep

    ReplyDelete
  14. Aku udah voting...
    Voting back ya...

    Www.makruf.com
    Soal terakhir Aku jawab nanti

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa menginspirasi.