Senja Menghilang

By Siska Dwyta - 04:07

                                            Baca kisah sebelumnya Senja Berlalu dan Ini Tentang Jingga dan Senja

"Apa kau percaya perjalanan waktu mampu mengubah segalanya. Segalanya"
.
Aku pernah lebih memilih menatap sunset ketimbang menangisi kepergian papa. Namun hari ketika Gilang beranjak pergi, untuk pertama kalinya sunset kuabaikan. Keindahan surgawi yang ditawarkan oleh senja dan jingga yang bersanding sempurna tak mampu lagi menggodaku tuk sekedar tersenyum tipis. Aku memilih menatap raga Gilang dengan penuh linangan air mata hingga sosoknya lenyap dari bola mataku. Pun kini hilang dari kehidupan seorang gadis yang pernah teramat mencintai senja. Dan sejak saat itu aku, Dinda Kirana bukan lagi gadis pecinta senja. Aku ingin membeci jingga. Senja dan jingga sama saja, telah merenggut dua lelaki di hatiku. Setidaknya aku akan berpaling dari sunset sampai detik dimana Gilang berhenti menjauh dariku.

Apa itu pertanda aku lebih mencintai lelaki keduaku daripada lelaki pertamaku? sedang bukan mau lelaki pertamaku meninggalkanku, lelaki keduaku, ia yang terlalu lancang pergi tanpa kejelasan lantas membuatku tetap bertahan di sini juga tanpa kepastian.


"Mau sampai kapan Din, loe mau sembunyi terus dari senja" ujar Dea yang ikut masuk ke dalam ruangan kecil yang sengaja di tutup rapat tanpa celah sedikit pun.

"Sampai senjaku kembali" ucapku acuh

"Hahaha.. Dinda.. Dinda.. Hari gini loe masih ngarepin cowok yang udah setahun ninggalin loe, plisss deh Din, lupakan Gilang. Dia gak bakalan kembali. Gak akan Din" ketus Dea membuat wajahku seketika merah padam.

Aku tak habis pikir mengapa teman akrabku dari SMA, yang sudah aku anggap layaknya saudara sendiri, yang paling tahu tentang hubunganku dengan Gilang selalu memancing agar aku melupakan lelaki yang lima tahun telah menjalin kasih bersamaku. Bukannya mendukung, Dea malah begitu yakin kalau Gilang pergi dan tak kan kembali padaku.

Menanggapi ucapan Dea itu, aku diam berusaha meredam emosi negatifku yang spontan meluap. Aku tak suka bila Dea berusaha melenyapkan Gilang dari otak dan hatiku, sekalipun Gilang sendiri telah lenyap bagai di telan bumi. Tak ada satu pun orang terdekatnya, bahkan keluarga Gilang yang tahu keberadaan lelaki keduaku.

"Kalau saja Gilang pergi dengan alasan jelas, berpaling karena dia tidak mencintaiku lagi, atau karena ada gadis lain di luar sana yang ia cintai, aku gak bakal bertahan selama ini Dea. Hanya karena aku yakin Gilang punya alasan kuat, sampai ia tega ninggalin aku kayak gini. Hanya karena aku yakin di hatinya masih tertera namaku. Dan karena aku yakin Gilang pasti akan kembali. Pasti. Kayak Senja yang tak pernah pergi selamanya" Gumamku dalam hati dibarengi bulir-bulir air mata yang mulai berjatuhan.

Dea yang menangkap air di mataku, terpaku sejenak. Ini bukan pertama kalinya gadis manis itu melihatku menangis karena Gilang, maka detik berikutnya aku tahu apa yang hendak ia lakukan. Meminjamkan bahu dan mendekapku erat.

"Maaf Din, lagi-lagi gue selalu buat loe sedih, maaf bukan maksud gue nyuruh loe lupain Gilang, gue gak mau aja loe terus-terusan terpuruk, menanti sesuatu yang tidak pasti. Plisss Din, pikirkan diri loe. Loe masih punya masa depan walau tanpa Gilang" hibur Dea yang tangannya kini menepuk-nepuk pelan pundakku.

"Penantianku pasti, Dea. Aku yakin banget Gilang akan kembali. Sampai saat itu tiba, aku akan sabar menantinya" ucapku sesenggukan.

Dan karena alasan itu, aku selalu lari dan bersembunyi setiap menjelang senja. Setahun berlalu, aku memutuskan enggan menyapa senja dan jingga yang bersanding sempurna bila tanpa Gilang di sisiku. Dan di sini aku masih menanti Gilang agar nanti dapat kucintai senja seperti sedia kala.

***

Kata Gilang, aku adalah jingga-nya, tapi apalah artinya Jingga jika senja tak lagi bersamanya.

"Gilang kamu sebenarnya dimana? Aku merindukanmu. Sangat merindukan 


Jingga berteman sepi,
Kisah ini belum berakhir...


121213
writing with smile
posted from Bloggeroid

  • Share:

You Might Also Like

10 comments

  1. benar-benar kisah penantian yang sejati...nice story,
    salam dari Kalimantan Selatan

    ReplyDelete
  2. senja dan jingga memang selalu hadir bersama dalam siklusnya....gilang...cepatlah kembaliiiiiiiiiiii..... ada yang menunggumu ;-)

    ReplyDelete
  3. keren nih bahasanya. Kayanya mbak zhie ini senenng banget nulis fiksi ginian yah ??

    ReplyDelete
  4. CKCKCK... SI ZHIE KAYAKNYA BENER-BENER TEROBSESI SAMA SENJA.. SALUT DAH...

    BAHASANYA JUGA BAGUS. DI TUNGU KELANJUTANYA

    eh capslock gue

    ReplyDelete
  5. hehe senja bgt ya Zhie ini. duh kalo baca yg kayak gini ga pernah bosen Zhie, tulisan kamu memang selalu keren. aku nge fans,!!!

    ReplyDelete
  6. kurang panjangggg, panjangin lagi atuhhhh, biar galaunya lamaa

    ReplyDelete
  7. nice post, kurang banyaaak nih 1 partnya, part selanjutnya panjangin yaa ;")

    ReplyDelete
  8. si kirana layak dijadiin istri :D ...





    kata-katamu menghipnotisku untuk mencintai senja zhie :D

    ReplyDelete
  9. aduh zhie sering bikin yang galau2 gini ya... --"
    emang kalo udah ada keyakinan "suatu hari dia akan kembali" itu berasa susah banget move-on-nya ya... *pengalaman
    mengerikann...

    ReplyDelete
  10. Buset panjang jg ya. Aku udah baca dari awal. Dan baterai hp ku yg tadinya 60% sekarang jadi 29%.. entah ceritanya emang panjang apa bateraiku aja yg boros. Keren sih ceritanya, tapi aku ga terlalu suka sama yg galau-galau, soalnya dulu pernah galau bgt buwhehehe...

    Terus di atas ada yg salah dikit kak nulisnya: 'di tawarkan' harusnya ditulis tanpa spasi :p udab gitu aja

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa menginspirasi.