Kado Terindah Untukmu :)

By Siska Dwyta - 03:13

"Kau baik-baik saja?" Tanya itu menyembul ketika embun di mataku sudah tumpah. Seorang pria jangkung di hadapanku menatap lekat dengan mata sayu dan garis-garis di keningnya yang mencuat jelas. Dia tampak begitu cemas, tapi aku sama sekali tak peduli. Kubiarkan kakiku perlahan melangkah diiringi embun-embun yang saling berkejaran, jatuh membentuk anak sungai.

"Amel" panggilnya mensejajari langkahku.

"Aku tak papa" kulemparkan sebuah senyum kecil sambil menyeka mataku yang kini digenangir air.

"Bagaimana bisa aku meninggalkanmu, dik?" Lirihnya mencegat dengan berdiri satu langkah di depanku.

Aku tahu, seandainya bisa ia akan segera menarik tanganku, membiarkan kepalaku terbenam di dadanya dan menangis sepuasnya di sana. Seandainya boleh, dia pasti sudah mengelus lembut kepalaku yang tertutupi kerudung pink. Tapi...

"Aku pengen sendiri. Kumohon mengertilah, kak." gumamku lalu beranjak meninggalkan Pria jangkung yang mungkin sedang terpaku memandang kepergianku tanpa bisa berbuat apa-apa.

***

Terik yang mulai memudar, bias jingga yang merona dan warna langit yang kemerah-merahan adalah tiga hal yang selalu suka kunikmati sambil menanti sunset di tepi pantai.

Dan sore ini, setelah melewatkan ratusan senja di tanah perantauan akhirnya aku berdiri kembali di sini, di Pantai Kenangan (begitu aku sengaja menamainya). Pantai yang menyimpan banyak kisah tentangku, pada setiap butir pasir putihnya, pada setiap buih air lautnya, pada daun-daun kelapa yang menari bersama angin, pada debur ombak yang menerjang karang dan pada matahari yang tetap merekah ketika cahayanya mendekati hitam.

"Sudah lama sekali" gumamku dengan senyum mengembang. Segera kupejamkan mata, kubentangkan tangan, kutarik napas kuat kemudian kuhembus perlahan dan mencoba meresapi semua yang pernah tercipta di pantai ini.

Suara dua anak kecil yang berkejaran, riak tawa, tangisan manja, dan teriakan mesra dari masa lalu seolah terputar kembali. Aku bisa mendengarnya dengan sangat jelas. Tiba-tiba muncul seorang gadis kecil menarik-narik bajuku. Rambutnya panjang, kulitnya putih bersih, dan bibirnya mungil berwarna merah bak buah delima. Baru kali itu aku melihat seorang gadis kecil yang sangat cantik.

"Kak" aku memandang heran gadis kecil nan cantik yang tingginya tak sampai pundakku nyaris menangis. Matanya sudah berkaca-kaca.

"Kamu kenapa dek?" Tanyaku kebingungan sambil celingak-celinguk ke sana kemari. Matahari akan segera tenggelam, suasana pun sudah sepi. Memang, tak banyak orang yang suka menikmati sunset di Pantai ini, kebanyakan hanya suka bermain dengan air lautnya sebelum matahari tenggelam.

Mendengar pertanyaanku, gadis kecil itu malah menangis kencang dan menghamburkan badannya dalam pelukanku.

"Aku takut kak, aku takut sekali, aku mau pulang"

"Pulang? Pulang kemana? Rumah kamu dimana? Kok bisa sampai di sini?"

"Ihiks.. aku gak ingat kak, aku baru pindah minggu lalu. Tadi teman-teman baruku ngajak rekreasi ke sini, aku ikut aja, gak sempat minta ijin sama mama. Eh, mereka malah ninggalin aku sendiri" jelas gadis itu di sela-sela isaknya.

"Dek, tenang yah... jangan takut, ada kakak. nanti kakak antarin pulang"

Gadis kecil itu melepaskan pelukannya. Dia mengangguk manis kemudian buru-buru menghapus air mata, dan meraih tanganku.

"Ayo kak, pulang"

Aku balas meraih dan menggenggam tangannya kuat. Perlahan langkah kami meninggalkan tepi pantai juga sunset yang belum terbentang, padahal aku sudah menunggunya dari jam lima.

Sepanjang perjalanan membawa gadis itu pulang, (entah kemana). Aku masih sulit percaya, barusan mengenal seorang gadis kecil yang umurnya kira-kira terpaut empat tahun denganku dan kami langsung akrab dalam sekejap.

"Oh ya, nama adik siapa?"

"Amel kak, Amelia Kirana" ucapnya sambil memamerkan sederetan gigi putihnya"

***

"Kak Rian" jerit sebuah suara yang seketika memecahkan lamunan panjangku.

Pelan kubuka mata dan mendapati seorang gadis cantik dalam balutan jilbab pinknya berlari kecil ke arahku. Seketika pula ada gemuruh yang membuncah di dada, jantungku ikut berirama tak normal.

"Kak Rian kapan pulang?" Tanya gadis itu sumringah ketika berada di dekatku

"Baru saja" jawabku singkat

"Kok gak bilang sih, untung saja tadi pagi aku berpapasan dengan pembantu kakak yang paling gokil. Bi' Inem bilang hari ini tuan mudanya yang paling cakep dan paling keren sedunia akan pulang dan seperti dugaanku, tararara... kakak pasti akan menikmati senja di sini" Celoteh gadis itu begitu bersemangat, masih sama seperti yang dulu. Tidak banyak yang berubah dari gadis kecilku yang kini telah tumbuh menjadi gadis dewasa dengan paras begitu memukau. Kecuali dengan penampilannya yang sekarang lebih tertutup, membuatku segan untuk menyentuhnya. Padahal dulu rambutnya sering kuacak-acaki setiap kali ia berceloteh seperti ini, sering pula aku merangkulnya ketika sedang berdua menikmati senja. Tapi, sudah dua tahun terakhir, sejak ia akhirnya memutuskan berjilbab setelah sering aku kompor-kompori lewat udara agar ia segera menutup aurat, aku perlahan mengubah kebiasaanku memanjakannya, perlahan pula gadis kecilku itu mulai terbiasa dengan pertemuan-pertemuan kami yang semakin ke sini semakin terkesan menjaga jarak.

"Ini hadiah untuk adikku yang paling cantik, Amel Kirana. Selamat ya atas kelulusannya" aku menyerahkan sebuah kado mungil yang sedari tadi tersembunyi di balik jaket tebalku. Sengaja memang, sudah kupersiapkan.

Mendadak ada haru yang meluap. Mata gadis kecilku berkaca-kaca membuatku mengerutkan kening menatapnya.

"Cieee... yang udah gak jadi anak sekolahan, kok masih cengeng sih" selorohku disambut dengan isak tangisnya yang mampu memecahkan keheningan senja ini.

"Kak aku mau pulang" sahut Amel dengan air mata masih berderai tanpa mengambil kado mungil yang masih tergantung di tanganku

"Kau baik-baik saja?"

***

Kak, bagaimana bisa aku baik-baik saja. Saat diam-diam aku tahu kepulanganmu kali ini bukan lagi untukku.

"Kak Ryan pulang dalam rangka apa nih bi, biasanya kalau kak Ryan pulang pasti aku dikasih tahu, kok ini gak?" Pertanyaanku tadi pagi menari-nari kembali seiring langkahku yang menjauh dari sosok yang selama ini kupuja diam-diam dalam hatiku

"Lho, non Amel gak tahu ya, tuan Rian akan segera menikah?"

"Apa? Menikah? Dengan siapa?" Hatiku tetiba terasa ngilu. Ada ribuan paku yang seolah menusuknya

"Waah.. kalau itu kurang tahu juga, non. Masih dirahasiain sama nyonya besar. Tapi yang bi' dengar-dengar sih, Tuan Rian dijodohin"

"Dijodohin dan kak Ryannya mau gitu aja" simpulku dengan suara melemah.

Langkahku kian melemah. Aku pulang dengan perasaan tak menentu.

***

Gadis kecilku. Kenapa kau menangis, harusnya kau bahagia karena kepulanganku kali ini, hanya untukmu.

Aku menatap kado mungil yang hendak kuberikan tadi. Ah... seharusnya kau menerimanya. Aku ingin melamarmu lebih dulu dihadapan senja, sebelum bertemu dengan orang tuamu malam ini.

###

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa menginspirasi.