Sebersit Rasa Kecewa

By Siska Dwyta - 09:50

Mengecewakan. Ini kali pertama saya berurusan dengan yang namanya jasa pengiriman (tak perlulah sebut merk). Padahal sebelum-sebelumnya saya tidak pernah berhadapan dengan masalah seperti ini. Biasanya, semenjak ketagihan ikutan giveaway (GA), saya mulai langganan kedatangan paket dari pak pos/kurir. Jika beruntung (menang GA), hanya dengan mengirimkan alamat lengkap beserta nomor hape ke si penyelenggara GA maka sepekan atau paling lambat dua pekan "paketan" saya sudah mendarat dengan selamat di tempat terindahku.

Ini kali pertama juga saya merasa resah. Seharusnya ada tiga paket yang saya terima kemarin-kemarin atau dalam waktu dekat ini. Dua paket diantaranya adalah paket hasil menang GA yang entah sudah dikirim atau belum, yang jelas saya sudah ngasih alamat lengkap. Satunya adalah paket belanja online.


Yup, akhir-akhir ini saya mulai tertarik berbelanja dengan melakukan transaksi jarak jauh atau istilah kerennya belanja online. Ah, padahal kalau dipikir, saya sebenarnya tipikal orang yang tidak gampang percaya dengan sesuatu (barang) yang tidak saya lihat dengan kasat mata atau sentuh dengan tangan sendiri. Apatahlagi sempat beredar rumor di luaran sana yang menyatakan bahwa ada modus penipuan di balik proses jual-beli online atau bisa saja barang yang dibeli ternyata tidak sesuai dengan gambar yang ditampilkan di toko online.

Memang, modus penipuan dan kasus ketidakpuasan adalah dua hal yang rentan terjadi di dunia maya. Akan tetapi, tentu tidak semua toko online seperti itu, di sini tugas konsumen lah yang harus pintar-pintar berbelanja dengan tidak asal-asalan belanja. Setidaknya lihat harga dan kualitas produk plus kepoin toko online-nya dulu biar bisa diperkirakan toko-nya terpercaya atau gak? Atau kalau sampai terbesit ragu saat hendak membeli, mending gak usah sekaligus. Aman kan, hehehe.

Insya Allah, karena produk yang saya beli lewat jalur online ini halalan tayyiban, di tempat yang memang syar'i dan mengumatamakan muamalah yang baik, maka sedikitpun saya tidak ragu. Apalagi ini adalah kali kedua saya membeli produk online dengan jenis yang sama walau berbeda seller. Alhamdulillah sudah ada sedikit pengalaman.

Sejumlah uang (harga produk + ongkos kirim) sudah saya transfer sejak tanggal 14 mei kemarin. Perkiraan saya paketannya akan tiba dua atau tiga hari atau paling lambat lima hari. Karena sebelumnya saya pernah membeli produk yang sama dengan jenis pengiriman yang sama maka tentulah paketnya akan tiba di selang waktu yang sama.

Ternyata perkiraan saya jauh meleset, sudah tanggal 21 mei sementara paket yang saya nanti-nantikan tak kunjung datang. Awalnya saya diam saja, sok cuek tapi karena keresahan yang mendadak muncul, segera saya melayangkan BM ke kontak si mbak seller, sekedar bertanya.

"Bismillah, afwan mbak paket yang saya pesan kemarin berapa lama ya? Yang ke Makassar?

"Belum sampai ukh? sudah dikirim dari tanggal 14 mei no. Resi 248cxxx statusnya on process.. alamat tidak jelas"

Gubrag. Seketika saya melongo sambil menatap layar smartphone dengan tatapan sendu. Kok bisa alamatnya tidak jelas. Perasaan saya ngasihnya alamat lengkap kok. Parahnya karena riwayat obrolan saya dengan si mbak seller pada saat proses pemesanan terhapus jadi saya gak punya bukti.

Masa' iya saya ngasih alamat gak jelas. Padahal saya sudah berulang-ulang ngasih alamat yang selalu sama ke orang-orang yang berbaik hati mau ngirimin saya paket, dan alhamdulillah sejauh ini paketnya gak pernah nyasar.

"Pasti ada yang salah nih"

Syukur, karena si mbak seller punya catatan pembelian, beliau mengirimkan kembali alamat yang saya kasih sebelumnya. Tuh kan, benar saja. Alamatnya gak lengkap. Alamaaaakkk, di situ cuma tertera nama pondok plus kota, tanpa nama jalan. Ckckckc. Pantas saja, paketnya gak nyampe-nyampe, mungkin pengirimnya juga kebingungan mencari alamat yang tidak jelas kayak gitu, hahaha.

Detik itu juga, pikiran saya berseliweran, memikirkan bagaimana cara agar paketan tersebut ada di tangan saya dan bukan jatuh ke tangan orang tak bertanggung jawab #eh. Saran si mbak sih, saya segera menghubungi nomor kantor jasa pengiriman Makassar, beliau kemudian memberikan nomor yang bukan nomor hape. Tadinya, saya berniat hendak menghubungi nomor tersebut, tapi setelah di pikir-pikir berkali-kali, kalau dihubungi pulsa saya yang tidak seberapa dengan cepat dan dalam waktu singkat pasti musnah begitu saja sebelum maksud saya tersampaikan. Akhirnya, saya pun berinisiatif harus menjemput paket sendiri.

Saya masih ingat, jumat lalu, tepatnya tanggal 23 mei di suatu sore yang mendung, di bawah langit yang tersedu menurunkan rinai, di temani kak Hani (tetangga kos saya ) kami menyusuri jalan yang macetnya minta ampun, udah gitu becek pula menuju salah satu agen jasa pengirim dimana paketan saya (mungkin) bisa dijumpai. Setelah menempuh kemacetan yang bikin kepala saya seketika memanas, saya sampai di agen tersebut dengan wajah yang lesuh, kusam, berjerawat dan kuyu, plus perut keroncongan dengan harapan menemukan titik terang. Berharap pelayannya di sana bisa mempertemukan saya dengan paket yang sudah sekian hari saya nanti-nantikan.

Ketika memasuki ruang agen tersebut dan menyampaikan maksud saya malah menerima jawaban seperti ini.

"Maaf mbak, ambil paketnya bukan di sini".

"Kalau bukan di sini, dimana dong?" Tanyaku lemas.

Bukannya hubungi petugas/kurirnya biar barangnya bisa diantarin langsung ke pondokan saya, kan saya niatnya sekedar mau melengkapi alamat yang tadinya tidak lengkap, mbaknya malah nyuruh saya ambil langsung ke gudang barang.

Sampai di situ, saya masih nahan napas kuat-kuat lalu pasang senyum kecil di tengah kekusaman yang menghiasi wajah saya. Saya belum nyerah, semangat untuk bertemu dengan paketan hari itu juga masih membara meskipun perut sudah meronta (belum diisi dari pagi -_-)

Di luar masih basah, macetnya juga makin parah. Uhft. Salah satu hal yang paling saya tidak suka. Terjebak dalam kemacetan panjang dalam keadaan lemas, letih, lesuh, loyo dan lunglai. Kenapa coba, hujan selalu berteman dengan becek dan macet? Bukankah ketika hujan turun seharusnya banyak pengendara motor yang lebih memilih mendekam di ruang tertutup ketimbang berbasah-basahan? Karena merasa tak sanggup menghadapi kemacetan yang menyebabkan lelah saya makin tertatih-tatih, kak Hani kemudian menawarkan untuk membonceng, yah syukurlah karena kali itu yang saya bonceng juga jago bawa motor.

Setelah berhasil menerobos macet yang makan waktu hampir setengah jam, baru setengah jalan giliran motorku bermasalah. Ban depannya kempes, lebih tepatnya bocor. Terpaksa kami harus singgah lagi di bengkel. Saat diperiksa, katanya ban dalamnya robeknya besar, gak bisa ditambal. Harus diganti. Uhft. Itu hal kedua yang paling saya gak saya suka, berurusan dengan motor di bengkel.

Belum juga saya mengiyakan, eh si bapak tua yang umurnya saya taksir sekitar separuh abad, pemilik bengkel tersebut masuk ke bengkelnya dan keluar membawa ban dalam baru. Padahal saat itu, uang di dompet saya tidak mencukupi harga ban dalamnya yang mahalnya kebangetan, sama dengan harga ban dalam motor di Serui. Biasanya juga ban dalam di kota Daeng cuma berkisar antara 30an.

Perut saya kian meronta, kepala ikutan pening dengan suasana hati yang sepertinya lagi tak bersahabat, persis dengan cuaca sore itu, muka saya asli menekuk tak jelas. Setelah motor saya kembali normal dengan ban dalam baru, saya terpaksa meninggalkan kak Hani sementara di bengkel, menuju ATM yang jaraknya sekitar 150 meter.

Setiba di sana, untung tidak antri. Saya hanya butuh waktu semenit untuk mengambil uang kemudian keluar dan ditagih biaya parkir motor yang biasanya cuma seribu, saya ngasih uang dua ribu gak ada kembali.

"Lho mbak, saya kira parkirnya cuma seribu" ujarku dengan wajah kesal

"Dua ribu dek" ucap si mbak penjaga parkir dengan senyum mengembang yang anehnya bikin saya makin illfeel.

Saya buru-buru melaju dengan perasaan dongkol. Ah, mungkin kalau suasana hati saya lagi membaik, saya akan ikhlasin yang seribunya. Tapi saat itu, saya benar-benar gak terima. Biar lagi cuma seribu. Astaghfirullah. Saya jadi berpikiran kalau tukang parkir aja gak jujur apalagi yang di atas-atasnya.

Urusan di bengkel kelar, saya dan kak Hani melanjutkan perjalanan di waktu yang telah lebih dulu mengundang senja. Kami sampai di gudang jasa pengiriman yang dimaksud saat jam menunjukkan hampir pukul enam. Wajah saya seketika sumringah ketika mendapati tempat dimana paketan saya berada. Tapi apa yang saya terima? Sambutan petugasnya yang bersiap-siap pulang dengan sikap cuek, jutek dan acuh.

Semenit kemudian saya terpaku lama ketika menatap tulisan lumayan besar yang tertera di pintu gudang.

"BUKA DARI PUKUL 09.00-17.00"

"Sudahlah dek, sudah waktunya tutup memang. Besok saja baru kembali" ajak kak Hani menyadarkanku akan rasa yang baru saja hinggap.

Kebayang gak gimana perasaan saya saat itu?
Kecewa. Saya tidak tahu harus melampiaskan rasa kecewa itu pada siapa. Seharusnya saya tidak berurusan dengan hal-hal demikian jika saja saya tidak melupakan nama jalan saat memberi alamat ke mbak seller. Iya, salah saya mungkin. Saya yang ceroboh, saya yang kurang teliti. Tapi, di paket tersebut juga disertakan nomor hape bukan alamat doang. Setidaknya kalau alamatnya gak lengkap bisa dihubungi dong nomornya. Untuk apa juga saya ngasih nomor hape kalau cuma jadi pajangan diatas selembaran kertas yang membaluti isi paket.

Ah... mungkin kalau kondisi dan perasaan saya lagi "normal", mungkin saya gak pulang dengan membawa sebersit rasa kecewa. Seharusnya paket tersebut diantarin bukan saya yang menjemput. Seharusnya.

Besoknya (sabtu, 24 Mei 2014) saya terpaksa kembali ke sana. Sebab jika tidak demikian saya mungkin tidak akan berjumpa dengan paket yang untuk mendapatkannya saya rela mengeluarkan separuh uang bulanan yang efeknya saya terserang kanker di akhir bulan.

Sampai di sana, saya mendapati banyak orang berjejer. Mereka ada puluhan bahkan ratusan. Ya Allah ternyata bukan saya saja yang mengalami hal serupa. Mereka yang senasib dengan saya ikut mengantri demi paket yang seharusnya diantarkan bukan dijemput.

Terakhir, ini sekedar curahan rasa kecewa saya tanpa bermaksud menyudutkan atau menyalahkan pihak tertentu. Sekali lagi, kesalahan itu (mungkin) datangnya dari diri saya pribadi. Ambil hikmahnya saja. Lain kali jangan ceroboh lagi yah, Zhie :)

Makassar, 290514 22:16

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa menginspirasi.