IMM

Tentang Cintaku Padamu :)

By Siska Dwyta - 09:38

Akhir-akhir ini saya merasakan cinta yang semakin dalam. Cinta yang menggebu-gebu. Cinta yang meluap, menggelora di hati. Lewat catatan ini akan saya tuangkan rasa cintaku itu, biar dunia tahu betapa saya sangat mencintai kalian. IMMawan IMMawati, saudara/i-ku seperjuangan dalam Ikatan.

Catatan ini mungkin terlalu sederhana menggambarkan rasa cintaku yang terlalu membahana. Andai saja bisa, saya ingin sekali mengabadikan perasaanku tentang kalian dengan tinta emas.
Entah sejak kapan perasaan ini tumbuh, seingatku dulu saya hanya setengah hati ketika memutuskan bergabung dalam ikatan ini. Hanya karena saya pernah dikader dalam Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), maka dari awal sejak memesiunkan seragam putih abu-abu saya sudah bertekad akan meneruskan perjuangan dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).

Dulu, sebelum saya akhirnya jatuh hati dengan IMM, saya sangat mencintai IPM. Saya punya berjuta-juta kenangan dengan IPM. Hati saya melekat di sana. Bahkan, saya sempat mengurai tangis di hadapan IPMawan IPmawati ketika hendak melepaskan ikatan yang padanya hatiku telah terpaut demi melanjutkan study ke tingkat yang lebih tinggi.

IMM adalah kakaknya IPM, dan perjuangan mereka adalah sama. Begitu sepengetahuan saya. Awalnya saya pikir ketika berada di IMM, saya pun akan memiliki perasaan yang sama. Ah, nyatanya mereka berada dalam ranah yang berbeda. Jika IPM terkenal dengan jas kuningnya maka IMM berjaya dengan jas merahnya. Jika IPM bersemangat dengan nun-walqolaminya maka IMM bergairah dengan fastabiqul khairatnya. Mereka sama-sama anaknya Ayahanda Muhammadiyah dan Ibunda Aisyiah, namun meski bersaudara ternyata mereka memiliki pandangan yang jelas tak sama.

Mungkin, karena saya mendapati mereka berbeda maka perasaan dan perlakuan saya sejak berkenalan dan bertemu dengan IMM ikut berbeda. Saat itu saya tak mencintai IMM seperti saya mencintai IPM. Entah kenapa pula, sejak pertama duduk di bangku kuliah, semangat organisasi saya mengendur dan jiwa aktivis yang saya bawa dari kampung kelahiran, Serui, seolah redup bahkan nyaris raib. Kalau saja kak Marni (Senior saya di IPM) tidak mendesakku untuk ikut DAD, kalau saja dia tidak sering-sering mengajakku ikut kajian dan menjadi panitia pasca bergabungnya saya di IMM, mungkin saya tidak pernah berada di sini dan merasakan ukhuwah yang terlampau indah.

Jika mau menengok kembali masa lalu saya sejak bermukim di Kota Daeng, keseharian saya dulu tak seperti ini. Saya lebih suka kopdar sambil kongkow-kongkow tak jelas dengan komunitas chatting yang pernah saya geluti. Saya lebih suka ngumpul bareng dengan mereka berjam-jam lamanya hanya untuk ngebahas hal-hal yang sama sekali tidak penting daripada ikut kajian/pengajian. Saya lebih larut tenggelam dalam dunia maya (chatting) ketimbang berinteraksi dengan orang-orang yang mau berbagi ilmu dengan saya.

Masa laluku yang kelam. Mengingatnya begitu memilukan hati. Kenapa baru detik ini, menjelang masaku yang (mungkin) tinggal menghitung bulan di kota Daeng, saya baru menyibukkan diri terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang mampu mendatangkan milyaran kenangan kebaikan, merasakan cinta yang sebenar-benarnya cinta. Kenapa tidak dari dulu saja saya berada di jalan yang indah ini. Kenapa musti ada masa jahiliyah dalam perjalanan hidupku yang hanya sesaat?

Namun, yang namanya masa lalu akan tetap menjadi masa lalu. Saya masih bernafas hari ini, dan insya Allah saya masih punya masa depan. Seburuk apapun masa lalu yang pernah saya cicipi, toh ia telah pergi sangat jauh dan mustahil akan kembali. Waktu akan terus berpacu, matahari akan selalu terbit terbenam, siang dan malam silih berganti, hari-hari datang dengan cerita yang baru begitu pun dengan hidupku yang masih berlanjut.

Saya percaya, perjalanan hidupku adalah bagian dari takdir. Tidaklah mungkin, sekarang saya berada di IMM jikalau bukan Allah yang kembali menarikku, merengkuhku, dan menyadarkanku akan jalan yang seharusnya saya tapaki. IMM adalah salah satu jalan kebenaran, jalan yang insya Allah akan membawaku menuju rumah terindah-Nya. (Aaamiin)

Maaf, dalam catatan ini saya tidak bermaksud menyatakan kefanatikan saya terhadap ikatan ini. Sama sekali tidak. Setiap orang tentu memiliki pilihan hidup masing-masing. Sementara hidup itu sendiri adalah perjuangan. Dimanapun kita berjuang, asalkan demi menegakkan agama Allah maka insya Allah kita pun akan sampai pada tujuan yang sama (sebagaimana tujuan diciptakannya manusia). Dan saya telah memilih IMM sebagai wadah untuk berjuang.

Meskipun saat ini, perjuangan saya belum seberapa, masih secuil atau bahkan belum berarti apa-apa. Saya sepertinya belum pernah memberikan gagasan atau ide cemerlang untuk membesarkan IMM di kampus peradaban, saya pun tak tahu bagaimana caranya agar jas merah bisa merekah di sana. Selama ini saya hanya setia memasang kuping dan hadir di setiap pertemuan-pertemuan (kita) tanpa banyak bicara, hanya lebih sering menyimak dan selalu pulang dengan rasa yang tak menentu. Pun hanya menaruh harapan besar semoga masa kejayaan IMM di UIN Alauddin Makassar akan terulang kembali.

Ah... kalau bukan kita siapa lagi. Kalau bukan dari sekarang kapan lagi? Kuantitas kita memang masih sedikit, tapi saya optimis jika hari ini kita menumbuhkan rasa yang sama, ghirah yang sama, mimpi yang sama, harapan yang sama, tujuan yang sama, demi melihat sang Surya kembali bersinar di kampus peradaban, insya Allah itu semua bukan sesuatu yang mustahil.

Apatahlagi bila niat dan tekad kita sama, semata-mata mengharapkan keridhoan Allah. Susah letihnya kita, capek-capeknya kita, sampai membuang banyak tenaga, menguras banyak keringat dan menghabiskan banyak waktu semua demi IMM, demi memperjuangkan agama Allah, pasti akan terbalaskan.

Maaf bila saya (mungkin) lebih pandai berkoar-koar mengungkapkan pikiran dan perasaan saya di sini. Saya hanya merasa lebih leluasa mengungkapkan apa yang ingin saya ungkapkan lewat tulisan ketimbang dengan lisan. Termasuk dengan sedikit curcol.

Hari ini kecintaan saya bertambah lagi. Saya kemudian teringat dengan sabda Rasul yang berbunyi seperti ini.

"Tidaklah beriman seseorang sampai ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri"

Sungguh, saya (merasa) telah mencintai kalian seperti saya mencintai diri saya sendiri. Ikatan ini telah menumbuhkan cinta yang murni. Ikatan ini telah mengenalkan saya tentang betapa indahnya ukhuwah itu. Kita yang awalnya tak pernah saling mengenal, saling berjauhan telah dipertemukan dalam ikatan ini. Ikatan yang menjadikan kita saling bersaudara. Boleh saya katakan, keberadaan saya dalam ikatan ini dan pertemuan saya dengan kalian adalah takdir. Takdir yang menurut saya begitu sempurna.

Kini, di hati saya selalu ada IMM. Itu jawaban dari hati saya ketika saya bertanya padanya. Ketika saya tidak sekedar memfokuskan aktivitas saya dalam ikatan ini, ketika saya mulai mencoba bergelut dalam organisasi/komunitas/lembaga yang lain bersama wajah-wajah lain, ketika saya ingin menyamakan perasaan yang sama seperti perasaan saya terhadap ikatan ini. Ketika saya ingin berbagi hati. Dan ternyata, perasaan paling tidak bisa dibohongi, terlebih dipaksakan. Untuk saat ini saya tidak bisa mencintai yang lain seperti saya mencintai IMM. Sekali lagi, bukan karena saya terlalu fanatik. Hanya saja hati saya terlanjur terpaut di sini, dalam ikatan ini.

Aihh... dulu saya memilih jomblo pun karena IMM *hahaha (not justkidding)

Sekian dulu yah, sebenarnya masih banyak yang ingin saya goreskan tentang ikatan ini, termasuk tentang kalian (Keluarga Besar IMM Cabang Gowa), namun karena waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 dan mata saya sudah meronta, minta jatahnya pengen terpejam maka catatan sederhana yang saya tuliskan dengan hati dan senyum serta dengan penuh cinta ini saya cukupkan sampai di sini.

Billahi fissabil Haq Fastabiqul Khairat :)

Kota Daeng, 190514

  • Share:

You Might Also Like

2 comments

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa menginspirasi.