Dear Viona

By Siska Dwyta - 03:16



Dear Viona,

"SAHABAT untuk selamanya", kalimat itu, apa kau masih mengingatnya Vi? Kalimat yang pernah dengan bangga kita dengungkan di tengah terik yang membakar, di tengah hujan yang mengguyur, di tengah malam yang memekat.

Kau dan Aku. kita adalah Sahabat. Sahabat bukan hanya di hari kemarin. Sekarang, esok dan sampai kapan pun, kita akan tetap menjadi sahabat. Sahabat untuk selamanya

Hari ini, ketika tanganku menggeliat disesaki rindu yang menghujam, rindu pada masa-masa dimana tangan kita saling menggamit erat, langkah kita saling bersisian, kala KITA ada tanpa jarak, aku tergelitik mempertanyakan kalimat itu. Kalimat kebanggan kita.

Apakah benar demikian, Vi? Benarkah persahabatan kita tak pernah luntur barang sedetik pun. Akankah ia abadi? Tidak peduli dengan waktu yang terus menguras jatah hidup, pun dengan jarak yang kian mengikis kedekatan? Apakah selamanya aku sahabatmu? Apakah kau akan selalu menjadi sahabatku?

Semoga kau pun tergelitik mempertanyakan hubungan yang pernah (ingin) kita abadikan itu, masihkah ia bernama SAHABAT? Masih pantaskah kita menjunjung kata Persahabatan? Masihkah kita bersahabat, Vi?

Katamu, persahabatan kita tak mengenal waktu. Kataku persahabatan kita tak mengenal jarak. Biar waktu berlari, biar jarak memisahkan tidak akan ada yang berubah. Sahabat tetap sahabat, selamanya akan seperti itu. Tapi, kau lihat Vi? Kenyataan terburuk apa yang sedang kita saksikan saat ini?

Kita telah lama kalah. Waktu dan jarak telah merampas hubungan yang pernah terikrar sembilan tahun silam, kecuali satu. KENANGAN. Kenangan bersamamu yang masih setia kudekap dalam ingatan hingga detik ini. Bagaimana lah mungkin aku bisa melupakanmu, Vi, sedang kau adalah perempuan pertama yang membersamaiku sepanjang putih-biru dongker. Tiada hari-hariku di sekolah yang tidak diwarnai olehmu. Kau dan aku sudah serupa kumbang dan madu, atau gula dan semut atau surat dan amplop. Kita pernah melengket, kita pernah menyatu bahkan sudah seperti anak kembar. Tak bisa dipisahkan. Dimana ada kamu pasti ada aku. Satu sekolahan tahu, seberapa dekat hubungan kita.

Selama empat tahun. Kita berada di kelas yang sama, sebangku dan seperjalanan pulang. Coba kau hitung, berapa lama waktu yang telah kita habiskan di sekolah, di kelas, di jalan, di rumah, di mana saja tempat yang pernah kita jejaki dulu. Ada ribuan hari, Vi, kenanganku tercipta bersamamu.

Kala itu, kau adalah satu-satunya sahabat (perempuan)ku. Kau tahu kan, Vi, aku bukan tipe orang yang gampang bergaul. Aku tak bisa menerima sebarang orang masuk dalam hidupku. Jika sebatas teman, semua orang dalam kelas kita juga di kelas lain kuanggap teman. Tapi untuk dekat atau didekati mereka lebih dari sekedar teman, sungguh aku tak tahu bagaimana caranya?

Aku pun tak ingat jelas, kapan pertama kali aku menjadi sedekat itu denganmu? Mulanya sebab kita ditakdirkan duduk di kelas yang sama dan bukan suatu kebetulan rumah kita searah. Sejak itu kita pun selalu memutuskan untuk pulang bersama. Melangkah bersama. Dan selalu sama-sama hingga tiga tahun kedepan. Hingga kau dan aku sama-sama mengenakan seragam putih abu-abu.

Kebersamaan yang telah menumbuhkan ikatan hati. Ikatan itu pastilah tersimpul kuat. Tidak ada seorangpun mampu melepasnya. Kukira demikian. Atau jika ia Ibarat sebuah bangunan, empat tahun lamanya, kupikir pondasi kita sudah cukup kokoh, Vi. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Selamanya, kita adalah sahabat.

Tapi lihat, Vi. Apa yang terjadi saat untuk pertama kali (sejak empat tahun terakhir kita selalu bersama) Tuhan akhirnya memisahkanku denganmu? Padahal dua tahun kita masih berada di sekolah yang sama, hanya kelas kita yang berbeda, lantas mengapa seketika itu pula seolah terbentang ribuan kilometer jarak di antara kau dan aku?

Ada apa? Apa yang terjadi sebenarnya? Apakah persahabatan yang kita rajut selama empat tahun, selemah itu? Tidak adakah yang bersisa? Mengapa tetiba KITA menjadi asing? Berpapasan tak lagi bertegur sapa, bahkan terkesan cuek. Seperti saja tak pernah ada apa-apa di antara kita. Bukankah dulu, kita selalu bergandengan tangan kemana-mana, bukankah dulu kita selalu berboncengan kemana-mana, bukankah dulu, kita selalu kemana-mana bersama.

Vi, tanganku sampai gemetaran menulis catatan ini. Segala tentangmu terngiang kembali. Meletup-letupkan perasaan rindu yang bergejolak tak karuan. Aku merindukanmu, Vi. Sangat merindukanmu. Aku rindu menggandeng tanganmu, dan membiarkan kepalaku bersandar di bahumu (dulu kita adalah sahabat yang paling mesra kan, Vi?). Aku rindu melangkah pulang di bawah terik matahari yang begitu menyengat dan membiarkan kau terus berceloteh sampai telingaku memanas, kau baru akan menutup mulutmu bila telah sampai di depan rumahku. Pada setiap setengah jam perjalanan dari sekolah - rumah, aku ingin menikmatinya lagi denganmu, Vi. Aku juga merindui perpustakaan daerah dimana kau setia menemaniku berteduh dan tenggelam dengan buku-buku berjam-jam lamanya di sana. Aku rindu kau memboncengku dengan motor vario merahmu. Aku rindu dengan keisengen kita. Apa kau masih ingat, Vi. Kita juga hobi menunggu kakak-kakak berseragam putih-abu melintas yang sekolahannya tetanggaan dengan sekolah kita. Upst.

Aku pun rindu dengan suara merdumu, kau yang pintar menyanyi sedang aku sebaliknya. Karena itu, aku selalu membujukmu untuk ikut audisi nyanyi meski awalnya kau bilang tak pede. Padahal suaramu tak beda jauh dengan Audy :-D Kau tahu, betapa bangganya aku sebagai sahabat, melihat kau tampil di panggung, dengan suara yang meliuk-liuk indah. Aku selalu suka mendengarmu menyanyi.

Vi, kau masih ingat waktu kita di Jayapura. Tepatnya waktu kita berhasil meraih juara III MTQ Cabang Fahmil Qur'an tingkat Provinsi. Setelahnya kita memborong pakaian kembar beda warna. Aku yang ngakunya suka warna biru muda malah memborong pakaian serba pink kau sebaliknya, suka pink tapi belanjaanmu full biru muda. Hahaha.

Pas hendak pulang ke kota ACIS, supprise. Kau berniat menutup aurat. Tentu saja, sebagai sahabat yang telah mengenakan kerudung sejak pertama kali sekelas denganmu, aku mendukung sepenuh jiwa dan raga. Senang dong, sahabatku akhirnya berkerudung. Alhamdulillah. Kau makin cantik dengan kerudungmu Vionaku sayang.

Oh ya, surat-surat darimu, Vi. Aku masih mengoleksi semuanya. Kau yang tak pernah alpa mengirimiku surat di tiap hari jadiku, pas valentine juga, yah.. meskipun aku udah jelasin, dien kita gak kenal yang namanya valentine, tapi kau tetap ngotot, menuliskan surat valentine untukku. Katamu, surat itu sekedar menunjukkan bahwa aku adalah salah satu orang yang kau sayang. Tak lupa kau juga memberiku coklat. Huaaa so sweet banget. Iya, aku tahu, Vi. Tanpa surat dan coklat itu, aku sudah tahu kalau kau sayang dengan sahabatmu ini. Me too. Sampai detik ini, aku tetap menyayangimu Vi.

Kadang bila aku ngambek, kau juga selalu membujukku dengan surat permintaan maaf. Yayaya, hubungan kita memang tidak selalu harmonis. Kita pernah marahan, kita pernah diam-diaman, kita pernah tak saling sapa. Hanya karena masalah-masalah sepele. Dan ternyata aku yang paling suka ngambek duluan, hihihi.

Aku rindu menerima surat darimu. Termasuk suratmu di hari specialku. Enam hari lagi, Vi. Aku akan segera menyusulmu, memeluk angka 22. Bila hari itu tiba, aku tak berharap banyak. Cukup kau ingat aku saja di sana. Meski telah lama kita kehilangan jejak, aku selalu ingat dengan hari specialmu kok. Maaf, tiga maret kemarin, karena tidak tahu harus menghubungimu di mana, sengaja ucapan dan doa kutitipkan saja pada Allah. Pasti kau sudah menerimanya. Semoga kau tetap merasakan, bahwa aku tak pernah berniat melupakanmu. Kita kan SAHABAT.

Tapi, apalah arti sahabat, bila kita tak lagi sedekat dulu, bila kita telah jauh, bila kita tak bisa saling berbagi cerita suka dan duka (sekedar berkirim kabar pun tidak). Sekarang kita punya hidup masing-masing. Kau dan hidupmu. Aku dan hidupku.

Vi, aku menjauh. Kau ikut menjauh. Kita telah dikalahkan oleh waktu dan jarak. Kini tak ada lagi yang tersisa kecuali KENANGAN, bahwa aku (pernah) punya sahabat sepertimu. Tapi maukah kau kuberitahukan satu hal, sesuatu yang membuat waktu dan jarak nanti tak kan lagi mengalahkan kita, hanya jika kau mampu menjaganya.

Sahabat untuk Selamanya. Jaga kalimat kebanggaan kita, Vi. Biarkan ia tetap hidup, sekalipun bertolak belakang dengan kenyataan. Setidaknya, bila detik ini kita tak bersama, jangan pernah lupakan aku, anggap aku tetap menjadi sahabatmu. Sahabat(hati)mu. Sebab, di sini pun aku masih menganggapmu sebagai sahabat. Sahabat(hati)ku.

Kau masih sahabatku, Viona ;*

Semoga kelak, Tuhan sudi mempertemukan kita kembali. Kelak, bila hari itu tiba, mari kita kembali menjadi sahabat yang sebenarnya. Kembali mencipta kenangan yang lebih banyak;)

Makassar, 12 Juni 2014

Sahabatmu,
Sheila

posted from Bloggeroid

  • Share:

You Might Also Like

9 comments

  1. Semakin lama kita hidup, maka semakin banyak yang datang dan pergi. Sama kek gue, sejak tamat SMA. Ngerasa ada beberapa bagian dari hidup gue hilang gitu aja. Iya, temen di mana kita seharian ketawa di kelas. Teman di mana kita seharian ngerjakan tugas bareng, teman di mana kita seharian menjawab soal-soal. Semua menjadi kerinduan banget.

    ReplyDelete
  2. Bener tuh, yakin gak kalau nyebut seseorang sebagai sahabat kita? Kadang seiring berjalannya waktu, kita malah melupakannya, apalagi kalau dapet temen baru. Musuh yang paling berbahaya itu adalah sahabat, jadi semakin akrab, kalau di kecewain maka sakit hati semakin gede hhe

    ReplyDelete
  3. saabat, entahlah kayak asing gitu ditelingaku. aku (mungkin) gak pernah menganggap orang sahabat. Temenan ya temenan seru seruan udah. kalo susah, ya kadang mereka ada sih. tapi akulebih suk memamerkan kesusahan pada orang tua sendiri,kakak sendiri. karena itu yang sangat memungkinkan membantu memberi solusi. Jadi sahabtku ya ayah ibuku. ggitu mungkin ya.

    ReplyDelete
  4. Selalu ada jeda dalam hubungan persahabatan. Maka kita hanya bisa berbaik sangka dan mendoakan sahabat kita meski jarak dan waktu memisahkan. Yakin ia ada untuk kita:)

    ReplyDelete
  5. Persahabatan yg menginspirasi. Kalo aku sih susah ngebedain mana sahabat, mana teman. Terkadang orang-orang yang sudah kuta anggap sahabat malah bersikap aeperti teman pada umumny. Tapi biarlah, toh mereka akan selalu jadi orang terdekat kita. :)

    Hai shela.. :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sheila kaker... S H E I L A bukan shela hehehe kurang i di huruf ke empat, hehehe

      Delete
  6. duuhh kok jadi terharu gini bacanya, semoga viona bisa baca catatan yang ada di sini dan menghapuskan jarak yg telah tercipta diantara kalian, amiiinn begitulah pertemuan selalu ada perpisahan, tapi tak tertutup kemungkinan untuk kembali bersama.

    ReplyDelete
  7. Tiba2 inget sm temen-temen di seberang samudra sana..
    Terharu baca surat ini..

    ReplyDelete
  8. "Semoga kau pun tergelitik mempertanyakan hubungan yang pernah (ingin) kita abadikan itu, masihkah ia bernama SAHABAT? Masih pantaskah kita menjunjung kata Persahabatan? Masihkah kita bersahabat, Vi?"

    Aku merinding di bagian itu. Sahabat itu paling susah dicari, kak. Aku juga ngalamin sendiri gimana, Zaky (kak Zhie mungkin masih ingat) harus pindah ke Makassar mengikuti keluarga. Awal kepindahannya itu gak mudah, ketemu akhir tahun kemarin itu asli sangat membahagiakan. Sudah seharusnya persahabatan itu dijaga dan memang tak mati hanya karena soal jarak.

    Semoga cepat dapat kabar dari Viona. Facebook, cari orang yang lama udah berpisah bisa di Facebook, siapa tau di sana bisa ketemu. Semoga bersua kembali dengan Viona.

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa menginspirasi.