Tetiba Rindu, Mbakku Edelweis

By Siska Dwyta - 05:33



Rinduku menguap, menjelajari tubuh. Seperti darah yang mengalir. Alirannya mengental dalam sukma. Merah merekah. Rindu ini masih basah.

Ini sudah tahun ke tujuh. Sudah lama sekali. Kepakkan waktu membawa terbang jauh kenangan kita. Ribuan hari jarak membentang. Ketika ketukan takdir membawamu melangkah demi sebuah impian indah yang menggantung di angkasa. Kau pergi, menitipkan rasa yang sulit tereja. Ada yang menyusup, mataku berkabut.

"Ukhuwah yang mbak tawarkan terlalu indah. Bagaimana bisa aku melupakannya, sekalipun kelak ingatanku melemah, tidak dengan perasaanku"

Mbak, masih kah sekali-kali kau tengok, suatu masa, kala detik-detik memintal kedekatan kita. Kita yang dulu tak saling kenal, tak saling menyapa, tak juga bertukar kabar. Lalu entah, dengan cara seperti apa, Tuhan melengketkan KITA. Masa itu, masihkah terngiang di benakmu mbak? Barang sesekali saja.

Setidaknya kau ingat dengan Ikatan yang pernah menyatukan hati-hati kita. Ikatan yang di dalamnya bersemi ukhuwah paling indah. Serupa ukhuwah yang kau tawarkan. Bukankah kita pernah menjadi sangat dekat, karena Allah mempertemukan kita di sana?

Sayang, ikatan itu kini mati (suri) di tanah kita. Begitu kabar yang ku dengar. Tidak ada yang menghidupkannya. Setelah kau beranjak lebih dulu. Dan tiga tahun kemudian aku menyusul. Pergi dari tanah kita, demi ikut menggapai impian yang tergantung di angkasa.

Tapi mbak, aku tak menghendaki ukhuwah kita ikut mati. Walau jarak lama terpaut, dan waktu menumbuhkan pucuk kenangan yang baru bersama orang-orang baru, ukhuwah kita seharusnya abadi, menembus ruang dan waktu. Sebab ia lahir dari hati.

"Kenangan itu tetap melekat mbak..."

Kala itu aku masih seorang gadis belia yang baru duduk di bangku kelas 1X SMP dengan pemikiran yang agak "kekanak-kanakkan" sedang mbak yang terpaut lebih tua tiga tahun dariku sudah menginjak bangku kelas XII SMA dengan pemikiran yang cukup dewasa. Lalu mengapa aku bisa sedemikian akrab dengan mbak?

Ah.. ya, ukhuwah itu tidak memandang umur bukan? Aku bersyukur, pernah sangat akrab dengan mbak. Saking akrabnya, hampir tiap hari aku berkunjung ke rumah mbak (sebelum mbak pindah rumah hingga ke rumah baru) pun setia jadi "ojek" yang menemani mbak, kemanapun mbak ingin pergi. :-D.

Apa mbak tahu, bagaimana perasaanku setiap kali berada di dekat mbak? Meneduhkan. Aku selalu merasa betah berlama-lama tinggal dengan mbak. Kedekatan kita bahkan bukan lagi sebatas kakak dan adik. Lebih dari itu. Mbak juga menganggapku sebagai sahabat. Sahabat yang selalu antusias memasang telinga dan bersedia menjadi pendengar setia curahan hati mbak. Suka dukanya mbak. Sedih-sedihnya mbak. Galau-galaunya mbak. Semua mbak ceritakan. Dan, aku cukup merasa bahagia, pernah menjadi seseorang yang mbak percayai.

Untuk sepenggal waktu bersamamu, singkat namun mendalam. Rentang keakraban kita memang tak sampai setahun. Selepas memesiunkan seragam putih abu-abu, kau memilih jalanmu sendiri. Meninggalkan orang tuamu, tanah kita, sebuah kenangan yang memedihkan, juga aku. Jogjakarta menjadi tempat pelarianmu. Meretas diri. Menguburkan angan-angan kosong, demi hidup yang lebih bercahaya.

Dan lihatlah dirimu hari ini. Mbak, kau tampak begitu bercahaya. Aku iri. Allah memang selalu punya rencana yang jauh.. jauh.. jauh lebih indah dari yang kita bayangkan. Rasa sakit hati, perih yang menohok, dan luka yang menganga terbayar sudah. Kesedihanmu di hari itu, air matamu di hari itu, dan tangismu di hari itu, tiada lagi bermakna sebab Allah sang Maha Baik telah menggantinya dengan nikmat yang tak berkesudahan. Perlahan kau mulai berproses, tekadmu bersinar, pada akhirnya kau melepas semua rasa cinta duniawi dengan memilih hijrah di jalan-Nya. Kau gapai hidayah Allah sebelum meninggalkan tanah kita. Alhamdulillah. Mbakku, kau makin cantik dengan jilbab yang semakin terulur ke bawah.

Lalu bagaimana denganku setelah kau pergi? Kehilangan. Itu rasa yang kusesapi. Aku melepasmu bersama kabut yang sengaja kusembunyikan. Baru kali itu, hatiku menangisi seorang perempuan yang tak memiliki hubungan darah denganku. Selanjutnya, hari-hariku semakin buram. Ternyata aku tak setegar, sekuat dan setabah dirimu mbak. Kehidupanku semakin pelik, aku yang terseok-seok melangkah seorang diri butuh seseorang sepertimu. Tapi tak kujumpai sesiapapun, yang bersedia membuka hati dan menggandeng tanganku.

Duh, jalanku mungkin tak semulus jalanmu, mbak. Allah pernah mengujimu dan kau mampu lewati itu. Di kemudian hari Allah juga mengujiku dengan cara yang tak kusangka-sangka. Tapi aku gagal berkali-kali. Sudah kubilang, aku tak sekuat dirimu dan itu membuatku cemburu.

"Bagaimana caranya. Ajari aku tuk menjadi kuat sepertimu, mbak. Hidup ini terlalu kejam, sementara aku terlalu lancang dan berani. Padahal sebenarnya aku takut. Amat takut. Takut kalau-kalau Allah nanti murka padaku"

Setelah takdir memisahkan kita. Awal-awalnya saja, kau masih berkirim kabar lewat maya. Oh ya, foto yang mbak kirim lewat email itu masih aku simpan baik-baik lho... juga dengan rok payung coklat muda yang mbak kirimkan.

Hanya saja saat menuliskan ini, aku terngiang dengan buku "Cewek Harus Tahu" yang pernah mbak titipkan padaku. Buku yang kata mbak, "nanti jika saya pulang, saya akan mengambilnya kembali". Aku tak mengerti mengapa mbak sengaja menitipkan buku itu padaku?

Tapi waktu itu, ketika mbak pulang berlibur setelah setahun lebih di tanah Jawa. Mbak, sama sekali tidak menanyakan tentang buku itu? Apa mbak lupa? Maaf, aku juga lupa mengingatkan. Mungkin karena aku begitu bahagia.

Saat itu aku bahagia bisa bertemu mbak lagi, bahagia bisa melihat dua lesung pipit mbak lagi, bahagia bisa berada dekat mbak lagi walau semuanya telah berubah. Mbak pulang dengan membawa rona berbeda. Terkesan ada jarak. Aku merasakannya. Merasakan, bahwa aku bukan lagi orang terdekat mbak. Dan buku itu...

Barusan aku mencarinya di rak buku, tapi bukunya... :'( Raib entah kemana? Seharusnya ada, sebab aku membawanya ikut rantau ke tanah Daeng. Mungkin ada yang meminjamnya. Semoga saja tak hilang. Duuhh... maaf mbak, maafkan aku yang belum pandai menjaga amanah:( (i'll get the book again)

Eniwei, semoga Allah senantiasa melindungimu dan mencurahkan kasih-Nya pada mbak di sana. Di sini pun alhamdulillah wa syukurillah, Allah masih sangat sayang padaku. Masih selalu merengkuhku, mendekapku, menggamitku. Dulu, ketika aku sempat terperosok, inginku ada kau di sisiku. Dan sekarang, aku merasa kesendirian ini tak berarti apa-apa lagi. Sebab sejatinya aku tak pernah sendiri. Akan selalu ada Allah bila aku pun selalu menghadirkanNya di hatiku. I Need Allah. Maka Cukuplah bagiku Allah, bukan begitu mbak?

Kini, aku hanya merapal doa dalam-dalam. Semoga kelak, Allah berkenan mempertemukan kita kembali. Kalaulah bukan di tanah kita, di tanahmu (tanah Jawa) atau tanahku (tanah Daeng). Di mana saja, di bumi Allah.. semoga kesempatan itu masih ada.

"Hei, mbak aku masih ingin menikmati deru ombak dan tiupan angin sembari menatap matahari tenggelam bersamamu? Kapan lagi? Biar Allah saja yang menjawabnya"

Rindu ini masih basah.
Karena itu aku berusaha merangkai kata dan mengoreng-ngorek ingatanku, tentangmu. Sekedar melepas rindu dengan mengenangmu.

Catatan ini special kupersembahkan,
Untuk Mbakku, Mbak Edelweis. (Ngarep, suatu saat mbak tersesat di sini :D)

Serupa namamu, kau abadi di hatiku^_^

Tergores, 07/06/14
Salam, adikmu yang merindu

Sumber Gambar : Click Here


posted from Bloggeroid

  • Share:

You Might Also Like

8 comments

  1. keren kak postingannya :)

    aku lupa eh, mungkin ini bw pertamaku.
    salam kenal ya

    ReplyDelete
  2. bagusss tulisannya, menyimpan banyak sekali kerindua yang di simpan ya untuk mbak di tanah jawaa. Semoga suatu hari nanti, kk bisa menikmati deburan ombak dan angin saat matahari tenggelam bersama mbak yang di tanah jawa ya. Dan semoga jika di pertemukan lagi, gak ada kecanggungan dan jarak seperti sebelumnya :)

    ReplyDelete
  3. akh puitis banget, keren sumpah!
    merinding aku bacanya, embak edelwis

    entah ini kebetulan atau apa. kebanyakan cerita galau rindu
    dsb yang aku baca
    itu berhubugan dengan jogja dan tanah jawa.
    ah entahlah,

    ReplyDelete
  4. namanya Edelwis??

    Aku suka tulisannya, mbak.. bikin terharu.. semoga suatu saat mbak Edelwis tersesat di blog ini//

    ReplyDelete
  5. Aduuuh jd buku yg dipibjamkan ke km ilang Zhie? Aduuuh gawat hehee
    Mg cpt ktmu yaa n mg mb Edel membaca postinganmu ini amin
    Penasaran sama mbak2 yg meneduhkan hati km Zhie. Penasaran sama lesung pipitnya jg heee

    ReplyDelete
  6. nyesss banget tulisannya. itu pasti merasakan rindu yang amat dalam yaa sama Mbak kamu. memang kalau kita mempunyai seseorang yang dekat dengan kita itu sulit banget untuk berpisah, bahkan kalau sudah berpisah pun kita juga bakalan kangen sama dia. apalagi kalau orang tersebut lebih tua dari kita, pasti bisa menjadi pundak yang nyaman tuh ketika kamu bersedih.

    yaa, semoga saja suatu hari nanti kalian dapat bertemu lagi yaa dan bisa menatap matahari tenggelam bersama-sama lagi.

    ReplyDelete
  7. fuuuuh panjang sekali yaaa :D
    semoga rindu pada mbak edelweis terbalas ya ;)) dan smg jarak yang tercipta tidak menjadi alasan ukhuwah menjadi terputus ;)
    tulisannya keren, diksinya keren :'))

    ReplyDelete
  8. kayanya bener - bener kangen ya sama mbaknya :D
    eh, di tulisannya ada kata lebih dari adek kakak ya? itu apa dong? kalo cowo cewekan pacaran kalo cewe cewe apa dong? hehehe

    keren tulisannya zhie, semoga cepet ketemu mbaknya :)

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa menginspirasi.