Ketika Skripsweet Ditolak Dosbing

By Siska Dwyta - 05:22

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Udah lama gak ikutan Best Article (BA) of Blogger Energy (BE), jadi berasa gyerz murtad nih. Padahal dulu komitnya, tiap bulan gak boleh melewatkan ajang BABE, pokoknya harus selalu ikut, titik gak pake koma. Trus faktanya apa coba? Komit saya itu kini layaknya tinggal butiran-butiran debu yang tidak bisa dipertahankan. Angin waktu selalu datang menerbangkannya, hingga yang tersisa hanyalah ribuan alasan (ngeles).


Ke(sok)sibukan sebagai mahasiswa tingkat akhir inilah alasan terbesar saya. Iya, iya saya ngeles, saya gak punya alasan lain selain mengkambinghitamkan status kemahasiswaan saya yang udah berada di ujung tanduk. Gegara status ini juga, saya sering dibuat galau, antara mau nulis blog atau nulis skripsweet. Kalau disuruh pilih, tentu dong saya lebih doyan nulis blog, nulis skripsweet itu sama sekali gak ada enak-enaknya. Suer. Tapi, karena skripsweet adalah tuntutan wajib bagi mahasiswa tingkat akhir, pikiran saya pun akhirnya terpecah belah, sering gak fokus. Bayangkan aja, setiap kali mau nulis blog, skripsweet pun seolah ikut membayang-bayangi. Lalu terbesitlah pikiran ngacau kayak gini...

"Ih.. lho kebangetan yah Cha, skripsweet lho aja belum kelar, dan lho udah mau bermesraan dengan blog, tega banget"

Duh, ujung-ujungnya malah saya yang didera rasa bersalah. Merasa telah "mendzalimi" my skripsweet. Selama ini kan kalau saya nulis blog selalu dengan senyuman, dengan hati riang, dan wajah ceria, sebaliknya kalau nulis skrispsweet wajah saya kadang tertekuk, manyun dan dengan mood yang dipaksa-paksakan. I'm so sorry my skripsweet i don't like you like as i like my blog.

Oh ya, kalau ngebahas skripsweet, jadi terngiang dengan kisah paling ngenes di Ramadhan kali ini yang saya alami beberapa hari lalu.Tepatnya pas hari selasa kemarin (15/07/14). Jadi, ceritanya saya baru mulai bimbingan skripsi pas awal ramadhan atau tepatnya di jumat terakhir di bulan Juni saya baru memasukkan berkas skripsweet ke ruangan dosbing pertama yang bukan kebetulan juga merupakan ketua jurusan saya di pendidikan matematika UINAM.

Fyi, bimbingan di dosbing pertama saya itu sebenarnya simple bingit. Tidak perlu bimbingan tatap muka, cukup kertas yang berbicara. Yup, nanti skripsweet saya bakal dicoret-coret oleh si bapak yang mungkin tipenya lebih suka bicara sama kertas ketimbang mahasiswanya. Selesai diperiksa, berkasnya akan diletakkan di meja luar tepat di depan ruangan ketjur (baca : ketua jurusan). Mahasiswanya nanti yang tinggal ambil, revisi kembali, masukkan lagi. Gitu doang. Simple, kan.

Waktu itu saya masukkin berkas skripsweet ke ruangan bapak barengan dengan skripsweetnya Winda, teman kelas saya yang namanya kalau didaftar hadir tertera sebelum nama saya. Saat itu saya optimis skripsweet kami bakal di-ACC barengan. Dan ternyata benar sekali , dugaan saya meleset.

Setelah skripsweet kami diperiksa, saya gak tahu kenapa berkas punya Winda diletakkkan di meja luar sementara berkas saya masih di dalam padahal dari kaca ruangan bapak yang bening itu jelas-jelas saya intipin punya saya juga udah dibubuhi tanggal dan paraf beliau.

Nah, pas saya hendak mengambil skripsweet yang tergeletak manis di meja bapak eh saya malah disuruh duduk dan diceramahi panjang lebar. Katanya skripsi saya mirip dengan skripsi yang dil uar (skripsweet punya Winda maksudnya). Si bapak malah mengira kalau skripsi kami itu cuma dikerjakan oleh satu orang.

"Whaatt??? Halloowww.. pak!!! Demi mengerjakan skripsweet itu saya berhari-hari terkurung dalam kamar, pagi-siang-malam sampai lupa makan lupa tidur trus saya dikatain menjiplak, gitu. Ya emang sih, bapak gak bilang saya jiplak tapi komentar bapak itu lho sama saja menyudutkan saya dan sama sekali tidak menghargai karya tulis MURNI hasil usaha saya pribadi. Lagian saya ini blogger personal lho, pak. Bapak tahu apa itu blogger personal? Oke, kalau gak tahu biar saya kasih tahu. Blogger peronal itu penulis blog yang semua karya tulisnya adalah hasil buah pikirnya. Blogger yang tidak kenal mengenal kata copas, yang tidak sembarang main asal comot karya tanpa sumber yang jelas dan yang paling penting gak ada blogger personal yang suka menjiplak karya orang lain, jadi, kalau bapak berpikiran saya liat skripsweet teman saya. Maaf, bapak salah besar" omelku berkicau tanpa suara. Hahaha, mana berani saya membalas ocehan bapak.

Saya cuma bisa gigit bibir, pasang telinga dan mangut-mangut mendengarkan ceramah bapak yang ujung-ujungnya ternyata menyuruh agar saya mengganti uji hipotesis t dengan rumus perbandingan variansi untuk mengetahui efektivitas dari hasil penelitian saya. Entahlah, rumus semacam apa itu. Katanya rumus tersebut pernah ditulis di buku catatan beliau semasa kuliah, tapi sekarang keberadaan buku tersebut pun gak jelas. Katanya lagi dipinjam orang tapi udah lama tidak kembali-kembali.

Nah, masalahnya beliau juga gak tahu literatur apa yang bisa dijadikan referensi untuk menemukan rumus yang beliau maksud, jadi saya disuruh cari aja di internet. Parahnya, saya langsung mengiyakan kemudian angkat kaki dari ruangan beliau. Saya kira bakalan gampang nyarinya. Kan ada eyang google. Saya percaya eyang google mampu menjawab semua pertanyaan yang saya ajukan nanti.

Lagi-lagi saya keliru. Jawaban eyang gak ada satupun memuaskan. Ratusan link sudah saya jelajahi puluhan file pdf tentang "penelitian" saya donwload hasilnya nihil. Gawat. Rumusnya gak ketemu-ketemu. Ottoke, saya mulai kebakaran jenggot, eh mulai panik maksudnya. Padahal malam itu, beberapa lembaran skripsweet yang dicoret-coret bapak selesai saya revisi, tinggal uji hipotesisnya doang. Keeseokkan harinya, karena rumus yang dicari belum didapet akhirnya saya nekat ketemu bapak buat bimbingan lagi.

Biasanya sih, kalau mahasiswa yang bimbingan di bapak tinggal meletakkan berkasnya di ruangan lalu membiarkan beliau memeriksanya. Tapi gak tahu deh giliran saya mau bimbingan, selalu ditahan:(

#Hari kedua menghadap

"Permisi pak, ini saya mau bimbingan skripsi"

"Tinggal apanya?"

"Anu... penulisannya udah saya perbaiki. Tinggal uji hipotesisnya pak"

"Sudah ketemu?"

"Belum, pak. Saya udah cari tapi gak ada"

"Masa' tidak ada. Kamu cari dulu"

#Hari ketiga menghadap

"Pak, saya udah berusaha cari rumus yang bapak maksud tapi gak ketemu-ketemu. Jadi bagaimana pak?" Tanyaku dengan tampang memelas

"Pokoknya kamu cari dulu baru kembali kesini"

#Hari keempat menghadap

"Pak ada teori ekonomi yang saya dapat tentang efektivitas tapi teori itu gak digunakan untuk uji hipotesis"

"Memang, tidak perlu. Kan hanya mau mengetahui apakah hasil penelitian kamu itu efektif atau tidak dan untuk menjawab pertanyaan tersebut, ada kriteria keefektifan yang harus kamu lihat yaitu jika hasil perbandingan variansinya lebih besar dari satu"

"Jadi pak?"

"Kembali kalau sudah dapat rumusnya"

Gleg. Tiga kali menghadap dan tiga kali pula skripsi ditolak itu rasanya... arghhhh.... pengen nangis di bawah kolong jembatan. Nasib saya kok ngenes bingit gak kayak Winda yang alhamdulillah bimbingannya berjalan mulus tanpa perlu berhadapan dengan bapak. Lha saya? Duh... kalau my skripsweet ditolak trus kapan ACC-nya? Huaaa.. pikiran saya mulai ngacau dan asli saya akhirnya menggalau karena skripsweet :'(

Untuk menepis kegalauan yang semakin parah, hari itu saya melarikan diri masuk ke dalam perpus jurusan. Sesampai di dalam tangan saya refleks mencomot sebuah skripsi bersampul hijau dari rak, perlahan membuka lembar demi lembarnya sampai di lembaran akhir pada bab metodologi penelitian saya tertegun, mata saya melotot, menangkap rumus yang persis seperti yang digambarkan bapak.

"Astaga.. rumus ini yang saya cari" lonjakku kegirangan, tanpa dikomando lembaran tersebut segera saya rekam dalam bidikan kamera si Ace White.

O'on banget sih, kenapa gak kemarin-kemarin coba saya kepikiran buat cari rumusnya di skrispi senior. Kalau dari awal udah dapat kayak gini kan skripsweet saya gak perlu mengalami penolakan sampai tiga kali berturut-turut. Uhft.

Selanjutnya, saya jadi gak sabaran pengen segera bimbingan lagi sama bapak lalu dengan bangga menunjukkan rumus yang berhasil saya dapatkan atas petunjuk Tuhan. Berhubung karena esoknya adalah hari sabtu dan minggu aktivitas kampus libur, maka dengan sangat terpaksa saya musti bersabar hingga hari senin. Beidewei, selama masa penantian itu tidur saya ikut tak tenang, sampai kebawa mimpi lho gegara memikirkan skripsweet yang masih digantung dosbing dan bikin perasaan saya kayak orang yang abis digantung nikah sama kekasihnya. Ckckck. #Nyesekabis

Pas hari senin, saya masih belum ditakdirkan ketemu bapak. Saya telat datang ke kampus sementara beliau pulang cepat hari itu. Ugh, terpaksa menunggu lagi sehari -_-

Hari selasa itulah puncak kengenesan menimpa diri ini. Pagi-pagi sekali saya bersemangat ke kampus (biar gak telat kayak kemarin), padahal biasanya saya baru berangkat ke kampus ba'da dhuhur. Demi bertemu si dosbing dengan harapan besar bahwa kali ini skripsi saya bakal diterima, tidak hanya diterima untuk diperiksa tapi langsung di ACC. Iya, saya yakin. Semoga.

Namun, hari itu... giliran saya yang datang pagi-pagi sekali malah si bapak yang datangnya kesiangan. Kabar dari mahasiswa lain yang juga sedang menunggu bapak, katanya jam 3 sore beliau baru datang. Baiklah, kesabaran saya hari itu masih diuji. Saya nunggu bapak dari pagi sampai sore. Tak mengapa, sejak jadi mahasiswa saya emang udah terbiasa dilatih menunggu dosen.

Kurang lebih jam 15.00 wita bapak datang, langsung diserbu oleh beberapa mahasiswa termasuk saya. Yang lain minta tanda tangan dan cuma saya saya yang mau bimbingan atau lebih tepatnya memperlihatkan rumus yang berhasil saya dapatkan.

"Pak ini rumus yang bapak suruh cari, saya sudah dapat"

"Dapat dimana?"

"Di bukunya Iqbal Hasan, tapi F nya itu lebih besar dari 0 pak"

"Bukan lebih besar dari 0. Cari ulang. Harus lebih besar dari 1. Kenapa barusan saya ketemu mahasiswa yang malas kayak kamu?"

Gleg. Saya tersentak dengan perkataan bapak yang terakhir itu. Ada yang menohok. Perih.

"Tapi pak, ini rumusnya. Cocok mi pak?"

Tak ada jawaban. Bapak bahkan sama sekali tidak melirik rumus yang saya tunjukkan. Padahal berulang kali saya menanyakan hal yang sama. Saya sekedar ingin memastikan. Itu saja. Eh saya malah kena semprot abis itu dicuekin.

Tetiba saya merasa ada cairan yang mendesak ingin keluar. Saya merasa keadaan mendadak hening, lalu seolah terperosok sendiri. Lantas, karena pertanyaan saya gak ditanggapin, maka perlahan saya angkat kaki dari ruangan bapak, lalu melangkah gontai dengan mata nyaris berkaca-kaca. Sungguh, saya sedih sekali. Barusan saya diperlakukan seperti itu sama seorang dosen.

Untuk keempat kalinya skripsi saya ditolak, itu bikin saya benar-benar gak kuat lagi nahan sesak yang mendesak di dada. Rasanya detik itu juga saya pengen lari ke toilet dan menangis sepuasnya di sana. Sayang sekali, toilet terdekat dari jurusan pintunya terkunci. Saya pun memutuskan lari ke parkiran motor, memakai helm dan sengaja menutupi wajah dengan kacanya. Detik berikutnya keluarlah rembesan air diikuti isakan pedih. Saya kemudian melaju bersama si blue beep dengan air mata yang semakin deras dan isakan yang semakin kencang.

Dasar cengeng! Akhirnya, seorang Cha menangis karena yang namanya skripsi (hahaha, keren yak). Aih, malu-maluin banget, syukur gak ada satu pun manusia yang lihat kecengengan saya kala itu. Semisal ada yang lihat saya juga pasti gak peduli. Hati saya terlanjur perih, dan kalau udah kayak gitu satu-satunya cara paling ampuh mengobatinya yaitu dengan menumpahkan air mata.

Untunglah menangis tidak membatalkan puasa, tapi katanya makruh lho. Mau bagaimana lagi? sesak kalau ditahan semakin sesak, air mata pun kalau ditahan bisa jadi penyakit mata (kata saya), kalau emang lagi bersedih apa salahnya menangis. Toh, kegunaan air mata kan emang sebagai luapan perasaan (sedih) seseorang.

Eniwei, ternyata kengenesan saya hari itu tidak berakhir pada masalah skripsweet doang. Sesampai di kos, saya udah gak bergairah melakukan apa-apa atau istilah kerennya down. Hanya terbaring lemas dengan mata sembab. Dan gegara kondisi perasaan yang lagi buruk, saya sampai lupa beli makanan berbuka (takjil), mana di kos gak ada makanan sedikitpun. Padahal senja di luar sana telah menyapa, tinggal beberapa menit lagi waktu berbuka tiba.

Sementara teman-teman BBM saya pada rame pasang DP takjil atau pasang status ceria tentang ngabuburit mereka, di saat yang sama saya malah mengurung diri dalam kos dengan kerundungan hati yang belum jua hilang dan tanpa menu berbuka sama sekali kecuali hanya ada segalon air putih yang tersisa di kos. Dalam kondisi yang lagi gak baik kayak gitu, mau keluar beli makanan aja rasanya berat. Kaki saya enggan melangkah. Ya udah, saya pasrah deh.

Akhirnya waktu berbuka pun tiba. Dan inilah berbuka paling mengenaskan yang saya alami selama ramadhan tahun ini. Kalau orang lain pada buka dengan manis-manis, es buah, pisang ijo, es teler de el el, saya berbuka hanya dengan seteguk air putih, juga dengan air mata yang perlahan mulai membasahi pipi.

Ah, tepatnya saya merasa ngenes bukan karena berbuka hanya dengan segelas air putih. Tidak. Segelas air putih yang masuk ke kerongkongan alhamdulillah cukup melepaskan dahaga. Saya justru merasa ngenes, karena waktu berbuka yang seharusnya saya sambut dengan bahagia, malah saya hampiri dengan penuh linangan air mata. Padahal saya udah terbiasa buka sendiri, namun kerana kondisi hati mendukung, saya tetiba ingat rumah, ingat mama, ingat papa, ingat saudari-saudari saya, ingat semua kenangan indah selama ramadhan yang lalu-lalu di Serui, dan gegara ingatan tersebut kembali memenuhi batok kepala, kesedihan saya makin menjadi-jadi:'(

Kondisi seperti itu bikin saya kasihan sama diri sendiri, begitulah mungkin nasib mahasiswa tingkat akhir yang jauh dari ortu. Udah ramadhannya gak pulkam, buka sendiri, sahur sendiri. Orang lain udah pada liburan saya masih berjuang dengan skripsweett dan #ahsudahlah kalau dilanjutin saya merasa semakin mengkufuri nikmat Allah dengan menganggap diri saya saat itu adalah orang yang mengalami waktu berbuka paling mengenaskan.

Kenapa?

Karena di saat yang sama, saya tahu bukan hanya saya seorang yang pernah atau sedang mengalami saat-saat berbuka paling mengenaskan. Saya pun harus ingat, masih ada saudara-saudara saya di Gaza yang menjalani ramadhan kali ini bukan lagi dengan linangan air mata tapi linangan darah. Saya yang tidak seharusnya mengeluh, sebab perjuangan saya di sini tidak seberapa, empat kali ditolak skripsi sama dosbing udah cengeng, coba lihat jundi-jundi kecil di Palestina yang setiap hari berjuang bertahan hidup, setiap detik harus siap menyaksikan keluarga, saudara, kerabat mereka kehilangan nyawa, atau bahkan diri mereka yang tak bersalah itu yang menjadi korban kebengisan Israel. Saya yang seharusnya bersyukur masih bisa berbuka dengan tenang walau hanya dengan seteguk air putih, sedang mereka yang di Palestina setiap saat harus waspada menghadapi serangan tentara zionis israel biadab yang bisa datang sewaktu-waktu.

"MAKA NIKMAT YANG MANA LAGI KAH YANG KAU DUSTAKAN?"

Demikian catatan ini saya torehkan.
Sebagai bahan instropeksi diri sekaligus mengingatkan kala diri merasa jadi orang paling ngenes, saya harus sadar bahwa di luar sana masih banyak orang yang jauh... jauh... jauh lebih ngenes hidupnya daripada saya.

Intinya, keep to give thanks to Allah, keep to say Alhamdulillah, and Keep Husnudzon (Positif Thinking). Apapun yang terjadi, insya Allah pasti ada hikmahnya. Sila petik apa yang bisa dipetik.

Sekian, saya JOMBLO dan saya tidak NGENES.

"Tulisan ini diikutsertakan dalam Best Article Blogger Energy"



posted from Bloggeroid

  • Share:

You Might Also Like

10 comments

  1. Wah, menghadapi skripsweet itu ternyata butuh kesabaran tingkat dewa ya..

    ReplyDelete
  2. Semoga aku gak nemu dosen kayak gitu, aku rapuh kakak. Semangat untuk sripsweetnya :D
    semoga dibalik perjuangan ini ada akhir yang indah, dapet nilai A misalnya, amin
    jangan lupa makan-makannya kalau udah wisuda *modus*

    ReplyDelete
  3. Wahahaha.. (Eh kalo ketawa jahat banget ya. Duh maaf zhie). :')

    Pengen ikutan nulis ttg tema ini juga tapi gak sempet, ceritanya mirip2lah berhubungan sama kampus. Bedanya zhie skripsinya yg ditolak, aku Wisudanya yg ditolak. Hahahaha :))
    Ditolak wisuda gara2 persoalan administrasi sih, padahal udah mau daftar wisuda, eh malah ditolak trus jangan wisuda dulu dan diusulkan wisuda tahun depannya. Sakitnya tuh disini.... *nunjuk hati* Gara2 itu sempet down juga, Karena itu berarti ditinggalin teman2 seangkatan. Tapi yasudahlah... Semuanya udah ada yg ngatur. Wisudanya baru bisa tahun ini deh. Haha.. Selalu ada hikmah dibalik semua kejadian, jadi ambil aja hikmahnya zhie :')

    ReplyDelete
  4. subhanallah, ceritanya bikin hati ini sedikit teriris, campur sebel, campur - campur deh kak.
    sebegitukah perjuangan demi skripsweet? semangat terus ya kak skripsinya ^^9

    ReplyDelete
  5. njirrr, ngakak ngeliat lu mbak. Yang sabar yah. haha
    Makannya lain kali kalo mau bimbinngan, bawa nasi rendang mbak, biar dosbingnya jinak. :v

    Yaudahlah mbak semngat aja terus, yakin aja, pasti dosbing luluh sendiri hatinya :')

    ReplyDelete
  6. halooo~
    first bw at your blog sis

    hehehe, mungkin setelah keluar keringat darah baru kelar skripsinya

    ReplyDelete
  7. dosbing nya bikin gemeshh:') yang sabar ya mba, semangat teruss :)

    ReplyDelete
  8. paragraf2 terakhirnya bikin syahduuu, nikmat mana lagi yg sudah kita dustakan, sedangkan apa yg diberikan dg kita tak sebanding dengan penderitaan saudara2 di Gaza.

    bicara soal skripsi, baru tahu ternyata Zhie bisa nangis gara2 skripsi hahaha
    tapi emang bener sih nyebelin tiga x menghadap eh ditolak, setelah dapat rumus malah ga ada jawaban hahaa
    sabar ya Zhie... kalau ga gitu ga bisa nulis blog kan km?
    jadi memori pahit yg bisa diingat trs hahahhaa
    sukses Zhie buat skripsinya n syukurilah walo hny berbuka dg air putih

    ReplyDelete
  9. Yah, skripsi memang menguras tenaga, pikiran, waktu, doku, duh duh,
    Tp biasanya itu dari penguji, lah iki dosbing. . . Sing sabar nduk^^
    Padahal ada isu anak SMA harus bikin skripsi, alamat populasi ababil menanjak tajam xixi

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah, ada sinyal yang singgah. Trafik modem harus di atas 100kb. dari kemarin mentok di bawahnya mulu.
    Yang sabar, Zhie, ramadhan bulannya ujian. Semoga setelah itu Allah memberi kemudahan. ada hikmah di balik peristiwa itu. Bisa belajar sesuatu ayng tidak instan. Dan menghadapi prasangka justru mengingatkan kita agar tak berprasangka buruk pula. Semoga dosbing baca tulisanmu.
    Mohon maaf lahir batin juga, Zhie. semoga saat ini baik-baik saja. Semoga aplikasi ilmu kian bertambah. Dan tabah!

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa menginspirasi.