[Review Novel] Remember When

By Siska Dwyta - 21:17



Judul: Remember When
Penulis: Winna Efendi
Penerbit: Gagasmedia
Tanggal Terbit: 2011

Sinopsis

Apa pun yang kau katakan, bagaimanapun kau
menolaknya, cinta akan tetap berada di sana,
menunggumu mengakui keberadaannya.

Bagi kita, senja selalu sempurna; bukankah sia-sia jika menggenapkan warnanya? Seperti kisahmu, kau dan dia, juga kisahku, aku dan lelakiku. Tak ada bagian yang perlu kita ubah. Tak ada sela yang harus kita isi. Bukankah takdir kita sudah jelas? Lalu, saat kau berkata,

"Aku mencintaimu", aku merasa senja tak lagi membawa cerita bahagia. Mungkinkah kata-katamu itu ambigu? Atau, aku saja yang menganggapnya terlalu saru?

"Aku mencintaimu," katamu. Mengertikah kau apa
artinya? Mengertikah kau kalau kita tak pernah bisa berada dalam cerita yang sama, dengan senja yang sewarna?

Takdir kita sudah jelas. Kau, aku, tahu itu.


-----------------------------------------
----------------------


Remember When, adalah novel pertama karya Winna Efendy yang pertama kali saya membacanya via play books. Saat itu bacaan saya sempat tergantung karena yang ditampilkan hanya contoh dari novel ini yang dijual secara online di playstore. Bukan kebetulan saja pas lagi cari-cari e-book gratis eh saya malah ketemu lagi dengan Remember When tapi dalam bentuk pdf full. Akhirnya bisa deh lanjutin bacaan saya yang sempat tergantung itu dengan menamatkan novel ini hanya dalam semalam. Hmmm, saya jadi mikir kalau gak ketemu novelnya yang gratisan dalam bentuk pdf full mungkin saya gak juga gak bakalan tahu ending novel ini bakal seperti apa, hihihi.



Remember When berkisah tentang kisah cinta dan persahabatan empat siswa SMA. Freya, Moses, Adrian dan Gia. Adrian bersahabat dengan Moses sedangkan Freya bersahabat dengan Gia. Kisah cinta mereka bermula ketika Moses si ketua osis yang cerdas menyukai Freya si cewek introvert yang selau berprestasi sementara Adrian si bintang sekolah dan jago basket menyukai Gia, si sekertaris Osis yang pandai melukis dan punya banyak fans. Adrian kemudian membuat kesepakatan dengan Moses bahwa mereka harus menembak cewek yang mereka sukai di hari yang sama. Ternyata cinta mereka bertepuk empat tangan. Adrian dan Gia, sedangkan Moses dan Freya.

Jalinan cinta mereka berjalan manis dan adem ayem hingga dua tahun berlalu, barulah konflik sedikit demi sedikit bermunculan. Berawal ketika Adrian terpaksa menjemput Freya ke cafe langganan mereka berempat karena Moses saat itu masih bimbel sedangkan Gia masih di sanggar lukis. Adrian tidak menyangka bahwa Freya yang selama ini dikenalnya pendiam dan jarang berinteraksi dengan orang lain ternyata asyik dan nyambung diajak ngobrol. Adrian memang tidak dekat dengan Freya, dia hanya sebatas mengenal Freya karena cewek itu adalah pacar sahabatnya sekaligus merupakan sahabat dari pacarnya. Adrian malah sempat mengira ia akan menghabiskan waktu dengan diam-diaman bersama Freya sembari menunggu kedatangan Gia dan Moses. Perkiraannya ternyata salah. Justru selama menunggu itu mereka bicara banyak hal dan menemukan banyak kesamaan.

Di sisi lain sikap Moses yang dingin, kaku, tidak romantis, dan terlalu sibuk sebagai ketua osis membuat Freya mulai merasa jenuh dengan hubungan mereka. Freya malah mengibaratkan pacaran dengan Moses itu kayak pacaran dengan ketua kelas yang lebih sibuk mengurus kelasnya sampai-sampai sebagai pacarnya dia jarang diperhatikan, bahkan seakan tidak terlihat oleh Moses. Hubungan mereka tetap berada di bawah radar, pacaran dengan kadar yang wajar, seperti dua orang teman yang sudah lama mengenal.

Adapun hubungan Adrian dan Gia sebelumnya berjalan mulus bak di jalan tol, kalaupun sempat kesandung atau putus mereka pasti bakal nyambung lagi. Gia sangat mencintai Adrian begitupun sebaliknya. Namun setelah dua tahun menjalin kasih entah kenapa Adrian mulai sering membohongi Gia dengan kebohongan-kebohongan kecil. Semua masih berjalan baik-baik saja sampai ketika ibu Adrian meninggal, Adrian merasa sangat terpukul. Ketika itu Gia yang sedang mengikuti kegiatan OSIS bersama Moses di luar kota meminta Freya untuk lebih dahulu menemani Adrian sementara dia dan Moses akan menyusul. Jadilah Freya orang pertama yang datang menghibur dan menenangkan Adrian di malam kematian ibu dari pacar sahabatnya itu.

Kepergian ibunya tercinta telah membuat Adrian berubah. Setidaknya itulah yang dirasakan Gia. Sebagai pacar Gia telah berusaha memberi perhatian ekstra agar Adrian tidak larut dalam kesedihannya. Gia tidak tahu bahwa ternyata caranya memberi perhatian pada Adrian justru membuat cowok itu semakin mengingat mendiang ibunya. Adrian beranggapan bahwa perhatian Gia tersebut bukan karena kekasihnya itu mengerti akan perasaannya, Gia sama saja dengan yang lain, memandangnya dengan rasa iba. Menurut Adrian satu-satunya orang yang paling mengerti dia saat itu adalah Freya.

Selanjutnya bisa ditebak kemungkinan besar Adrian akan beralih ke Freya. Tapi tentu tidak akan semudah itu? Bagaimana dengan Moses, bagaimana dengan Gia? Duh, ceritanya makin rumit makanya malam itu saya baca tanpa jeda sampai akhir. Sebenarnya alur dari novel ini begitu sederhana, sudah sering pula diangkat jadi tema novel atau cerpen remaja. Sederhana namun menarik demikian Wina mampu mengemas Remember When menjadi kisah cinta dan persahabatan yang unik.

Unik, karena ini adalah kali pertama saya membaca sebuah novel yang menggunakan sudut pandang pertama untuk keempat tokoh, lima dengan Erik, sahabat terdekat Freya. Wina benar-benar lihai memposisikan dirinya yang kadang jadi Moses yang kaku, kemudian berubah ke Adrian yang cool lalu Freya yang pendiam atau Gia yang supel, dan Erik yang pandai sekali mengamati. Lalu kembali lagi ke Gia, Adrian, Freya, Moses begitu seterusnya. Dan meski POVnya berganti-ganti sebagai pembaca saya sama sekali tidak dibuat bingung malah ikut menyelami peran setiap tokoh.

Selain itu keunikan dari novel ini tidak hanya terletak pada sudut pandang yang dipake Wina. Kalau biasanya kita sering menemukan kisah cinta terjalin dari tokoh yang biasa-biasa saja dengan yang luar biasa, semisal si miskin dan si kaya nah di novel ini yang ada adalah dua pasangan paling ideal, paling serasi, bahkan boleh dibilang masing-masing adalah pasangan sempurna di sekolah mereka. Si Moses dan Freya itu sama-sama pintar, sama-sama berprestasi sedangkan Adrian dan Gia juga sama-sama paling populer dan banyak fans. Pokoknya satu sama lain itu itu sudah cocok banget. Jadi kalau endingnya Adrian justru jadian sama Freya mungkin akan banyak pembaca yang ikut arus dan merasa kecewa. Dan begitulah cara Wina memainkan konflik hingga membuat pembaca larut pun sesekali terbawa emosi.

Novel ini "SMA" banget dan sebenarnya saya sudah lama tidak tertarik membaca novel-novel yang berbau sekolah atau remaja. Saya tahu bahwa selera membaca saya berubah-ubah. Waktu SD saya paling suka baca majalah bobo, cerita fabel dan lain sebagainya tapi setelah SMP saya justru paling tidak suka dengan bacaan anak-anak. Begitupun ketika masih SMP dan SMA saya paling hobi baca novel teenlit tapi setelah kuliah saya tidak pernah lagi menyentuh novel-novel remaja. Dan kalau saya kembali menyentuh novel remaja itu karena ketika membaca Remember When saya seperti sedang nonton film romance di Bioskop bukan sinetron-sinetron remaja (FTV) yang alur ceritanya membosankan dan mudah banget ditebak. Wina punya gaya cerita yang khas, tidak membuat pembaca bosan, konfliknya mengalir, penggunaan bahasanya ringan so sangat disayangkan kalau saya melewatkan "belajar" meramu sebuah kisah menjadi novel dari seorang Wina.

Overall, novel ini bagus, banyak yang mengakuinya termasuk saya. Tapi saya hanya mengakui kebagusan Remember When ini dari cara Wina menyajikannya menjadi novel yang sama sekali tidak menjenuhkan untuk dibaca, termasuk bagi yang gak suka baca mungkin juga bakal larut dalam drama percintaan dan persahabatan yang dikemas apik di novel ini.

Selebihnya saya hampir tidak menemukan pelajaran yang bisa saya petik sebagai pembaca di novel ini. Of course, karena saya kan penganut paham JOMBLO YES PACARAN NO, hehehe. Sekalipun dari novel ini tersirat pesan bahwa yang namanya cinta gak bisa dipaksakan, terkadang ada hal yang harus dilepaskan oleh orang-orang terdekat, ada yang harus mengalah demi persahabatan dan ada yang harus terluka karena cinta. Wina mengakhiri cerita ini dengan membiarkan cinta menemui cintanya sendiri. Kesannya sih "happy ending" tapi saya gak merasakan hal yang sama.

Oh ya, ini beberapa cuplikan about Remember When versi saya ;

Pertama, Freya digambarkan sebagai sosok introvert, jarang bergaul, kesannya emang gak gaul, penampilan sederhana dan gak ikut trend sebaliknya Gia adalah cewek modis, gaul dan suka clubbing. Anehnya, malah Gia yang gak suka lihat pacarnya merokok, sementara Friya fine-fine saja saat Adrian merokok di hadapannya bahkan saat ditawarkan rokok waktu mereka menunggu di kafe, Friya yang saya anggap "kuper" itu dengan ringannya menerima dan ikut menghisap rokok :O

Kedua, Adrian mengaku pada pada Moses yang saat itu masih berstatus sebagai pacarnya Freya bahwa dia mencintai Freya (dengan penjelasan tersirat Adrian jatuh cinta karena dia menganggap Freya adalah cewek yang selama ini dia cari, yang bisa mengerti akan dirinya terutama setelah kematian ibunya) tapi di sisi lain Adrian merasa berat bila memutuskan Gia karena didera rasa bersalah sebab dia telah meniduri Gia, kekasihnya yang telah dipacarinya selama dua tahun itu. Gia pun telah membuat pengakuan pada Freya, dia sangat mencintai Adrian saking cintanya pada cowok itu Gia bahkan rela menyerahkan semuanya pada Adrian.

Ketiga, Freya tahu Gia sangat mencintai Adrian, bahkan tahu kalau Adrian pernah tidur sama Gia, sempat mengelak kalau dia dan Adrian gak mungkin bersatu meski Freya sendiri gak bisa pungkiri perasaannya begitu kuat pada Adrian ketimbang sama Moses. Freya justru meragukan cinta pertamanya pada Moses, cowok yang dua tahun telah menjadi kekasihnya itu(dengan penjelasan tersirat yang serupa; mereka mengalami luka yang sama, pernah merasakan kehilangan orang terdekat, ditambah Adrian tidak sekaku dan tidak se-membosankan Moses).

Keempat, Moses memang kaku, membosan tapi setidaknya Moses jauh lebih menghargai dan tahu cara memperlakukan Freya dengan baik. Selama dua tahun pacaran dia bahkan tidak pernah memberi sentuhan (semisal: ciuman pertama, pelukan atau making love seperti yang telah dilakukan Adrian pada Gia) ke Freya.

Kelima, Adegan paling favorit saya, waktu Freya datang ke pesta dengan gaya rambut baru yang berwarna serta gaun terbuka. Moses yang melihatnya dengan tampilan seperti itu mendadak marah lalu seketika menarik Freya pulang. Ia tidak suka melihat Freya merubah warna rambutnya, ia tidak suka dengan potongan rambut Freya. Ia tidak suka orang-orang melihat kekasihnya itu dengan gaun terbuka. Moses ingin Freya tampil apa adanya, sederhana, menjadi dirinya sendiri. Menjadi seperti Freya yang ia kenal selama ini. Tidak perlu ada yang berubah karena dia pun mencintai Freya seperti itu adanya.

Keenam, Freya tidak pernah tahu, Moses terlihat sangat sibuk, selain sibuk mengurus Osis dan ikut bimbel, Moses ternyata kerja partime hanya karena ia ingin menabung untuk membelikan sebuah hadiah yang disukai Freya dan akan memberikan hadiah itu tepat di ulang tahun kekasihnya. Sayang, Freya tidak pernah tahu, sampai mereka putus, sampai mereka tamat sekolah dan kuliah di jurusan yang sama. (Wina tidak lagi menyoroti rencana Moses itu setelah konflik persahabatan dan cinta keempat remaja itu semakin runyam).

Ketujuh, Lulus SMA, Moses putus sama Freya tapi mereka tetap baikan malah menjadi teman, lanjut pendidikan di tempat yang sama, Fakultas kedokteran UI. Adrian tetap bertahan bersama Gia dengan ikut menyusul Gia yang melanjutkan studynya di luar negeri (lupa negara apa -_-) meski bukan atas dasar cinta.

Kedelapan, Adrian tidak bahagia dengan Gia. Tampaknya malah menderita karena dia tidak bisa mencintai Gia seperti saat pertama mereka pacaran. Gia akhirnya melepaskan Adrian, menyuruh cowok itu balik dan kembali pada Freya di Indonesia.

Kesembilan, Seharusnya Freya balikan sama Moses, mereka kan udah kuliah di tempat yang sama, pulang pergi kuliah juga selalu barengan, Moses setia antar-jemput Freya (emang semudah itu ya pacar jadi teman?), tapi pas dengar kabar Adrian bakal balik demi mengejar cintanya pada Freya, malah Moses yang ikutan mengatur siasat bersama Erik, menjemput Freya di rumahnya dengan maksud hendak ke kampus, tapi tujuan sebenarnya justru mengantar mantan kekasihnya itu ke bandara, untuk bertemu dengan Adrian :'(

Kesepuluh, Freya sama Adrian, endingnya bahagia tapi kok nyesekin ya:( Memikirkan perasaan Moses ataupun Gia, dua orang yang (sempat) terluka tapi akhirnya mengalah demi orang yang pernah mereka cintai itu bahagia bersama cintanya.

Awalnya saya pikir tokoh (ter) utama dari novel ini adalah Freya dan Moses, Adrian dan Gia cuma pemeran sampingan, di pertengahan saya tersentak karena setiap tokoh punya POV sendiri sehingga sepertinya tidak ada yang dominan. Mendekati akhir baru bisa saya tebak tokoh utama yang paling disoroti adalah Adrian dan Freya. Well, Wina berhasil membalikkan persepsi saya sebagai pembaca. Di novel ini saya jadi ngefavoritin Moses (padahal di awal saya gak suka lebih suka Adrian) dan menyukai Gia (padahal di awal lebih suka Freya). Endingnya bikin saya berada pada pihak Moses dan Gia, dua orang yang tersisihkan karena cinta diantara Andrian dan Freya. Moses yang telah lebih dahulu merelakan pun dengan Gia yang akhirnya ikut melepaskan. Ah, seharusnya Freya sama Moses saja dan biarkan Adrian tetap sama Gia :'( #Seharusnya...

Pada akhirnya sahabat harus mengerti bahwa cinta tidak bisa dipaksakan

Sekian,
@SDW

  • Share:

You Might Also Like

9 comments

  1. aku udh pernah baca novel ini, eh sekrang nemu reviewnya lagi. emang keren kak cara kak wina menuliskanny. nggk gampanh ditebak dan smua tokoh pnya peran masing-masing. cra menyajikanny beda dgn penulis-penulis biasany dan it bkin karya-karya kk wina pnya nilai plus.
    untuk gaya penulisan kita mmang harus blajar banyak dr kk wina nih. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ia.... sudut pandangnya untuk setiap tokoh .. jd unik deh... ini baru pertama saya baca novelnya .. gaya bahasanya enak mknya mw bljr dgn baca novel2nya :-D

      Delete
  2. jadi penasaran sama novelnya kak Wina; remember when :D
    makasih reviewnya :)
    keep writing! ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ia... hehe sy kira cuma sy yg baru baca... cb dibaca gih... seru ceritanya

      Delete
  3. ahh jadi pengen beli, penasaran sama tokoh Moses dan Gia...:(
    btw makasih reviewnya kak:D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ia... sama-sama... akan lebih seru klu dibaca sndiri novelnya^^

      Delete
  4. review itu kadang harus bisa menyampaikan dari penglihatan sudut pandang yang kita pahami, menurut gue lo keren, karna lo udah bisa ngereview novel yang ngebuat pembaca penasaran sama hal yang ada dalam novel ini, nice lah :D lanjutkan

    ReplyDelete
  5. Entah kenapa gue jadi ikutan penasaran sama novel ini, ya?? Kayaknya koleksi novel komedi gue bakal punya temen novel romance lagi, nih. Hahahha. Namun gue kok bingung ya, sama review di atas? Atau gue aja yang nggak konesen bacanya. Hahahaha, entahlah.

    ReplyDelete
  6. Review-nya bisa dibilang cukup lengkap. :)
    Kayaknya bagus nih novelnya. Jadi pengin baca. :)

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa menginspirasi.