P A L I N G

By Siska Dwyta - 15:56

Bismillahirrahmaanirrahiim

Kalau kita adalah aktivis dakwah yang gigih berjuang di jalan Allah; bukan berarti kita adalah orang yang paling paham agama.

Kalau kita laki-laki yang berjenggot, dahi mencuat hitam, celana jingkrang atau perempuan berjilbab yang kerudungnya menjuntai sampai ke lutut atau bahkan bercadar; bukan berarti kita adalah orang yang paling alim.

Kalau kita adalah orang yang sering menunduk, tak mau menatap pun bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahram; bukan berarti kita adalah orang yang paling suci.

Kalau kita adalah orang yang sering berceramah, sering menasihati, sering mengeluarkan dalil-dalil Al-Qur'an dan hadis lewat lisan maupun tulisan dan menguasai kaidah-kaidah fiqh; bukan berarti kita adalah orang yang paling benar.

Kalau kita adalah orang yang tiap hari berkawan dengan Al-Qur'an, tidak sekadar membaca namun juga mentadabburi, menghafal, mengajarkan dan mengamalkannya; bukan berarti kita adalah orang yang paling ahli Al-Qur'an.

Kalau kita adalah orang yang suka berbagi, rajin bersedekah, rutin berinfak; bukan berarti kita adalah orang yang paling dermawan.

Kalau kita adalah orang yang giat menuntut ilmu di majelis-majelis, di masjid-masjid di mana saja di bumi Allah; bukan berarti kita adalah orang yang paling berilmu.

Kalau kita adalah orang yang shalat wajibnya selalu tepat waktu dan berjamaah di masjid (bagi laki-laki) juga tidak pernah meninggalkan shalat malam, dhuha dan puasa senin kamis, bahkan puasa daud; bukan berarti kita adalah orang yang paling ahli dalam beribadah.

Kalau kita tidak pernah mengeluh, selalu menerima dengan rela dan lapang dada segala ujian yang Allah berikan, baik ditinggalkan orang tercinta atau ditimpa musibah sebesar dan sebanyak apapun itu, bukan berarti kita adalah orang yang paling sabar.

Kalau kita senantiasa bersikap qana'ah, tidak pernah alpa mengucapkan kalimat hamdallah dan selalu bersujud ketika mendapat rezeki dari Allah walau sekecil apapun itu, bukan berarti kita adalah orang yang paling bersyukur.

Kalau kita adalah orang yang pernah naik haji dan umrah berkali-kali bukan berarti kita adalah orang yang paling mabrur.

Kalau kita adalah seorang pemimpin baik memimpin diri sendiri, keluarga, lembaga/organisasi atau negara sekalipun, bukan berarti kita adalah orang yang paling hebat.

Kalau kita adalah orang yang istiqomah dalam mengerjakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya bukan berarti kita adalah orang yang paling bertakwa.

Kalau kita adalah orang yang suka menolong orang lain yang kesusahan, membantu orang lain yang ditimpa musibah dan ramah pada semua orang, bukan berarti kita adalah orang yang paling baik.

Apapun dan bagaimanapun pandangan orang tentang kita, entah itu dicerca atau dipuji; janganlah sampai membuat diri lengah. Tetaplah merendahkan hati. Tetaplah tawadhu'. Belajarlah dari tanaman padi; semakin berisi semakin merunduklah ia.

Merasa "PALING" hanya akan membuat KITA lupa diri. Lupa, kalau bukan karena petunjuk Allah mana mungkin kita bisa melangkah di jalan yang diridhoi-Nya. Kalau bukan karena nikmat Allah mana mungkin kita bisa meneguk manisnya iman. Kalau bukan karena rahmat-Nya mana mungkin kita bisa menjadi hamba yang taat.

Merasa "PALING" hanya akan meninggikan hati lalu orang lain pun menjadi rendah dalam pandangan kita. Padahal mereka yang saat ini belum paham agama boleh jadi adalah orang yang amalnya lebih banyak daripada kita yang paham tapi dipenuhi rasa ujub. Mereka yang saat ini belum menutup aurat boleh jadi adalah wanita yang ketika mendapat hidayah akhlaknya jauh lebih karimah daripada kita yang meski sudah lama menutup aurat namun masih kerap memandang sebelah mata. Mereka yang saat ini terjerat dalam kubang kemaksiatan boleh jadi adalah orang yang akan meninggal dalam keadaan khusunul khatimah karena selalu terngiang dosa-dosanya sehingga ia senantiasa memohon ampun pada Allah dengan penuh pengharapan dan rasa takut daripada kita yang walau rajin beramal namun tidak sadar hati telah disesaki riya, sum'ah dan sejenisnya.

Awal memang penting, namun akhirlah yang menentukan. Kita tidak pernah tahu akhir hidup seseorang akan seperti apa, jadi jangan pernah menjugdge, merendahkan atau meremehkan orang lain.

Kalau kata Almarhum Olga Syaputra; jangan pernah merendahkan orang lain karena kita tidak pernah tahu kapan seseorang itu diangkat derajatnya oleh Allah.

Jangan sampai nasib kita naas seperti iblis yang konon telah menyembah Allah beribu-ribu tahun namun akhirnya dikutuk dan terusir dari surga karena merendahkan manusia (Nabi Adam as) yang terbuat dari tanah liat kering hitam lagi berlumpur sedang ia tercipta dari api yang sangat panas.

Jangan sampai kita pun tergelincir dengan tipu daya dan bujuk rayu syaitan yang selama masa penangguhannya akan selalu berusaha menjerumuskan anak cucu adam ke jalan yang sesat.

Jangan mengira dengan menjadi orang shalih/shalihah kita telah terbebas dari gangguan syaitan. Justru di saat keimanan seorang hamba semakin kuat semakin kencang pula syaitan menggoda. Entah itu dengan memengaruhi hati agar condong melakukan amalan karena makhluk atau membisik-bisikkan sesuatu yang membuat diri merasa takjub dengan ibadahnya, dengan penampilann syar'inya, dengan hapalan Al-Qur'annya, dengan shalat malamnya, dengan puasa senin-kamisnya dan lain sebagainya.

Jangan sangka dengan banyaknya ibadah yang dilakukan kita pun merasa telah terbebas dari jilatan api neraka, bahkan merasa telah menggenggam surga.

Jangan sampai kita pun menganggap kuantitas ibadahlah yang akan memasukkan kita ke dalam surga, seperti sabda Rasulullah yang dikisahkan oleh malaikat jibril tentang si ahli ibadah yang telah beribadah selama 500 tahun. Ketika meninggal si ahli ibadah itu dihadapkan kepada Allah. Allah hendak memasukkannya ke dalam surga karena rahmat-Nya tetapi ia ngotot ingin masuk surga karena amal ibadahnya. Kemudian ditimbanglah antara amalan ibadahnya dan satu nikmat yang Allah berikan yaitu nikmat penglihatan. Sungguhn satu nikmat Allah itu jauh lebih berat daripada timbangan amalan ibadahnya selama lima ratus tahun. Allah pun memerintahkan malaikat agar menyeret si ahli ibadah itu masuk ke dalam neraka. Jika bukan karena pada akhirnya ia mengakui rahmat Allah-lah yang memasukkannya ke surga maka tentu akan sia-sia semua amal ibadahnya selama lima ratus tahun. Malah tiada artinya sama sekali bila dibandingkan dengan satu saja nikmat dari Allah.

Lalu bagaimana dengan kita? Berapa lama kita akan hidup? Sudah berapa banyak ibadah yang kita kerjakan? Jika seseorang yang menghabiskan masa hidupnya selama lima ratus hanya untuk beribadah kepada Allah azza wa jalla saja hampir di masukkan ke dalam neraka bahkan banyaknya amal ibadah yang ia lakukan selama itu tiada sebanding dengan satu nikmat Allah maka masih pantaskah kita memamer-mamer, memuji-muji, berbangga-bangga dan merasa ter-Paling.

Jangan sampai selama ini tubuh kita saja yang sibuk beramal lalu sedikit sekali kita menghadirkan hati dalam beribadah. Malah hati kita menyimpang sehingga yang timbul adalah perasaan semacam ujub, riya dan sombong. Ketahuilah, ketiga penyakit tersebut bukan menjangkiti pelaku maksiat, justru ketiganya menyerang orang-orang shalih/shalihah, para aktivis dakwah dsb. Bahayanya jauh lebih besar dari orang yang bermaksiat. Para pelaku maksiat mengetahui yang mereka lakukan adalah dosa dan ia mudah memohon ampun sementara orang-orang yang dijangkit rasa ujub, riya dan sombong tidak sadar dan mengira amalannya telah diterima oleh Allah Azza Wa jalla.

Jangan sampai karena anggapan merasa diri PALING, paling paham, paling alim, paling suci, paling ahli, paling baik, paling benar, paling dermawan, paling hebat, paling sabar, paling syukur, dan paling-paling yang lain membuat Allah pun ikut berPALING dari kita. Naudzubillahi min dzalik.

Tersebab demikian, maka sangat penting bagi kita untuk selalu berikhtiar menjaga hati dengan sebaik-baiknya dan menghalau kuat segala bisikan-bisikan syaitan. Beramallah dengan merunduk dan beribadahlah dengan tawadhu'. Sungguh, Allah menyukai mereka yang menghadap-Nya dengan penuh kerendahan hati, rasa takut dan harap. Bukan mereka yang meninggi hatinya, congkak lagi mengharap pujian dari manusia. Jika memang mau amal ibadah ibadah kita diterima maka lakukanlah segalanya dengan IKHLAS tanpa rasa ujub maupun merendahkan orang lain.

Dalam sebuah hadis Qudsi, Rasulullah bersabda, Allah berfirman; "Aku adalah sekutu yang Maha Kaya dari persekutuan. Siapa yang mengerjakan suatu pekerjaan, dia menyekutukan Aku dengan selain-Ku padanya, Aku membiarkannya dengan sekutunya itu. Apabila hari kiamat tiba dihadirkan lembaran-lembaran yang telah distempel, ditegakkan dihadapan Allah lalu Allah berfirman kepada para malaikat-Nya. "Terimalah yang ini (masuk syurga) dan lemparkanlah yang ini (masuk neraka)." Para malaikat berkata "Demi keagungan-Mu, kami selalu melihat kebaikan padanya". Allah berfirman, "Ya, benar, tetapi itu selain Aku, dan pada hari ini, Aku hanya menerima orang yang hanya mengharap ridha dan pahala-Ku semata (ikhlas)"" (HR Muslim)

Rasulullah juga bersabda; "Tiga perkara yang membinasakan, rasa pelit yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti dan UJUBnya seorang hamba terhadap dirinya sendiri" (HR at-Thobroni)

Sekian, segala kebenaran datangnya dari Allah Azza wa jalla dan segala luput khilaf datangnya dari diri pribadi.

Wallahua'lam bisshawab

Serui, 19 April 2015

#noteofmyself #selfreminder #justoshare

posted from Bloggeroid

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa menginspirasi.