Menuju Halal; Ikhtiar Menjemput Jodoh

By Siska Dwyta - 20:09

Bismillaahirrahmaanirrahiim

In sya Allah di postingan kali ini dan beberapa postingan berikutnya saya bakal share kisah perjalanan saya menuju halal. Sekadar berbagi pengalaman saja sih, barangkali ada yang terinspirasi pengen ngikutin jejak saya dalam menjemput jodoh, hehe.

I know, setiap orang punya cerita sendiri-sendiri dalam menjemput jodohnya masing-masing. Ada yang harus menyeberang lautan luas baru ketemu jodohnya, ada yang cuma nyeberang jalan depan rumah langsung bertamu di rumah jodoh. Ada yang rela menunggu berbilang tahun lamanya sampai melewatkan banyak 'bakal jodoh' yang sempat bertandang ke rumah demi seseorang yang ternyata bukan jodohnya, ada pula yang sebatas kenal lewat selembaran biodata, ketemu cuma sekali eh langsung berjodoh. Macam-macamlah kisah yang menghiasi perjalanan seseorang dalam menjemput jodoh, mulai dari kisah paling klasik sampai kisah yang luar biasa menakjubkan.

Satu hal yang pasti. Jodoh itu rahasia. Penuh misteri. Gak bisa ditebak siapa yang bakal jadi jodoh kita. Boleh jadi dia yang kelak menjadi jodoh kita adalah teman sepermainan waktu kecil atau tetangga sebelah rumah atau teman kelas semasa SMA atau teman seangkatan saat kuliah atau justru dia adalah seseorang yang tidak pernah ada dalam daftar teman kita mulai dari TK sampai Kuliah.

Selain tidak bisa ditebak, jodoh juga nggak bisa dipaksa. Iya, kita tidak bisa paksa seseorang yang kita suka bakal jadi jodoh atau memaksa diri berjodoh dengan seseorang yang menjalin kasih tak halal sekian tahun lamanya dengan kita. Jodoh itu mutlak ketetapan Allah, bukan ketetapan manusia. So, nggak usah heran bila mendapati dua orang yang konon saling mencintai bertahun-tahun lamanya tapi di pelaminan bersandingnya malah dengan orang lain. Lebih-lebih pada dua orang yang konon tak saling mencintai, menjalin hubungan kasih pun tak pernah, anehnya kok bisa sama-sama melangkah menuju pelaminan bersama tanpa paksaan atau dorongan siapapun. Eh, ada kok yang kayak gitu. Segelintir. Mereka adalah orang-orang yang paham bahwa sebenarnya urusan jodoh ini sederhana sekali. Yang berjodoh akan bersatu. Yang tak berjodoh akan berpisah. Begitu aturannya.

"Kalau begitu, nggak usah rempong cari-cari jodoh dong. Kan jodoh sudah diatur. Biar nggak dicari juga pasti ketemu"

Yup. Jodoh memang nggak perlu dicari. Ngapain dicari, toh jodoh kita sudah ada. Ada di tangan Tuhan. Untuk bertemu, kita yang harus datang menjemputnya. Datang ke Allah. Minta dengan permohonan terbaik. Allah kan perkenankan.

Mengutip kata Mario Teguh; “Jodoh itu di tangan Tuhan. Benar. Tapi jika Anda tidak meminta dan mengambil dari-Nya, selamanya dia akan tetap di tangan Tuhan.”

Of course, jodoh bukan dicari tapi dijemput. Kalau bukan kita sendiri yang menjemput mustahil ketemu. Sama kayak rejeki. Kalau kita malas-malasan tinggal di rumah, nggak usaha cari kerja, mana mungkin bisa dapat uang buat makan. Begitu pula dengan jodoh. Agar segera ketemu dengan calon pasangan hidup, kita yang wajib menjemput. Namanya menjemput ya harus bergerak, nggak bisa cuma diam di tempat, kudu ada usaha atau bahasa kerennya ikhtiar semaksimal mungkin yang harus kita lakukan.

Oh ya, menjemput jodoh adalah tugas kedua belah pihak. Bukan cuma laki-laki saja yang wajib menjemput, perempuan pun harus datang menjemput jodohnya sendiri, tidak boleh diwakilkan oleh siapa-siapa. Beneran deh.

Saya sempat keliru bertahun-tahun perihal ini. Menganggap tugas perempuan hanyalah menunggu, lelaki-lah yang bertugas menjemput. Padahal rumusnya tidak demikian. Ingat janji Allah. Lelaki baik untuk perempuan baik sebaliknya lelaki buruk untuk perempuan buruk pula. Artinya, lelaki yang serius dengan perempuan yang serius, lelaki main-main dengan perempuan main-main, begitupula lelaki yang berikhtiar pastilah dengan perempuan yang sama-sama berikhtiar, nggak mungkin ketemunya dengan perempuan yang kerjaannya just galau menunggu ketidakpastian. Padahal kepastian itu musti diikhtiarkan bukan sebatas didiamkan.

Alhasil, dengan pemikiran yang keliru itu saya kebanyakan bapernya; dapet udangan teman nikah, baper, datang ke kondangan sendirian, baper, menulis yang ujung-ujungnya menyerempet ke jodoh, baper lagi, ditimpuk pertanyaan kapan nikah, makin baper, ditanya udah punya calon, bapernya makin gak ketulungan belum lagi dengan meme-meme yang tiap hari memenuhi time line akun media sosial saya yang kebanyakan nyinyirin yang masih betah menyendiri.

Duh, yang mau lama-lama betah melajang siapa juga. Apalah daya saya ini, cuma seorang perempuan baperan yang sering dilanda galau menanti sang jodoh yang tak kunjung datang. Saat itu yang bisa saya lakukan sepanjang waktu hanya menunggu sembari memantaskan diri dan memintal harap dengan kesabaran meluas pada-Nya. Semoga suatu hari nanti, jodoh saya segera turun dari langit *mimpi kali yee.

Alih-alih disesaki dengan kegalauan all about jodoh saya mulai menyibukkan diri dengan melakukan banyak aktivitas, membaca lebih banyak, belajar lebih banyak, berinteraksi dengan lebih banyak orang hingga sekonyong-konyong ide menjemput jodoh itu nyangkut sendiri di otak. Well, saya gak bisa selamanya menunggu seperti ini, teman-teman di sekeliling udah pada melangkah ke pelaminan sementara saya masih gini-gini saja, masih stagnan, berdiri di tempat yang sama dengan status yang belum juga berubah.

Saya harus mengambil langkah pertama dan ta ra ra inilah ikhtiar saya dalam menjemput jodoh;

#Niat

Barangkali sama dengan orang yang berniat lanjut ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, selepas menyelesaikan kuliah strata satu, bakal mencari info-info terkait beasiswa S2 atau segera mendaftarkan diri di kampus pascasarjana. Begitupula dengan mereka yang berkeinginan kerja setelah sarjana, pasti bakal sibuk cari info lowongan kerja (loker) atau langsung mengajukan lamaran pekerjaan ke loker yang terbuka. Pun dengan saya yang setelah wisuda gak ada niat sama sekali pengen cari kerja apalagi lanjut kuliah. Niatan yang terlintas di hati saya setelah mengenakan toga pengennya langsung mengenakan gaun pengantin. Haha. Seriously, niat saya setelah sarjana memang menikah Tapi bukannya sibuk mencari-cari jodoh saya malah memutuskan pulang ke kampung kelahiran.

Jangan disangka saya sengaja pulang karena pengen dapet jodohnya di tanah Papua. Tssst, diam-diam keinginan saya justru sebaliknya, hehe. Pengennya dapet jodoh di tanah Daeng. Karena itu saya harus pulang. Balik Papua. Minta restu orang tua meski belum punya calon, hehe. Baru modal niat.

Yup, pulang ke rumah orang tua adalah salah satu ikhtiar saya dalam menjemput jodoh. Pulang dengan membawa sepenuh niat. Berbakti sama orang tua. Entah kenapa, saya merasa cepat atau lambat jodoh saya akan segera datang menjemput lalu membawa saya tinggal jauh dari kedua orang tua. Jadi, satu-satunya hal yang terbersit di benak saya setelah hadirnya kembali niatan tersebut adalah saya harus menghabiskan lebih banyak waktu membersamai mereka. Bukan malah pergi melanglang buana semakin jauh dari keduanya demi menemukan sang jodoh.
Waktu itu, meski niatan ingin segera menikah telah muncul (lagi) di hati, selintas pun saya gak kepikiran mau cari jodoh, apalagi pulang dengan maksud minta orang tua yang mencarikan jodoh. Nggak ada mah pikiran-pikiran macam gitu yang nyangkut di otak saya. Yang ada, semakin tumbuh niatan ingin menikah semakin besar pula tekad saya untuk kian dekat dengan orang tua. You know, why? I think, kedekatan dengan orang tua yang akan mendekatkan saya dengan sang jodoh. Saya sangat yakin, alurnya bakal demikian. Dan memang benar, terbukti! Hihi.

Berawal dari niat semata. Niatan yang mulanya masih bengkok. Keliru. Belum lurus. Dulu ketika niat itu pertama kali mencuat saya ingin menikah sebatas ingin menikah saja. Menikah biar saya bisa lekas menanggalkan status single. Sebab yang tergambar dalam benak saya, kehidupan pernikahan itu indah jadi saya ngebet pengen nikah segera. Nggak pake lama. Kan enak kalau udah punya pasangan. Kemana-mana ada gandengan, nggak sendiri lagi, gak baperan lagi. Menikah karena lama-lama saya sumpek sering ditodong pertanyaan 'kapan' sama orang-orang yang begitu peduli dengan kesendirian saya. Iri juga lihat teman-teman di sekeliling udah pada punya suami, udah gendong anak sementara saya belum.

Namun, saya menyadari kesalahan yang besar dengan menumbuhkan semua niatan tersebut. Saya baru benar paham ketika mulai tertarik membaca buku-buku, artikel-artikel serta mendengar wejangan-wejangan terkait pernikahan yang berulang-ulang menekankan persoalan niat. "Innamal a'malu binniyah wa innama likullim riin maa na waa" Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya dan seseorang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkan.

Menikah itu perkara ibadah. Sama kayak shalat. Wajib hukumnya diawali dengan niat yang ikhlas. Lillaahi ta'ala. Tidak boleh dicampuri dengan niat-niat lain. Terlebih bila niat menikah hanya karena cinta, ikut-ikutan atau alasan duniawi lainnya. Mau dapat apa dari niatan kerdil semacam itu. Menikahlah karena Allah. Menikahlah karena kita mendambakan ridho-Nya. Menikahlah karena sami'na wa atho'na dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. Serupa dengan nasihat ust. Khalid Bassalamah yang saya ambil dari cuplikan ceramah beliau di youtobe.

"Menikah itu jangan karena disuruh orang tua. Jangan menikah karena terdesak. Jangan menikah hanya karena SUKA. Jangan menikah karena semua teman-teman sudah menikah, tinggal kita sendiri. Saya menikah karena perintah Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana saya shalat karena perintah Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana saya puasa karena perintah Allah dan Rasul-Nya"

So, bagi kalian yang saat ini telah terbesit niatan ingin segera menikah, yuk senantiasa perbaharui dan luruskan niat-niat kita. Jangan cuma sekadar menghadirkan niat yang asal-asalan tapi sungguh-sungguhlah dalam berniat. Ikhlas lillaahi ta'ala. Niat itu adanya dalam hati dan Allah Maha melihat hati-hati kita.

Fyi, kita nggak perlu punya calon dulu baru berniat, tapi berniatlah yang ikhlas dan benar, tepat di saat niat tersebut hadir, saat itu pula Allah kan menyiapkan jodoh terbaik untuk kita. Jodoh yang telah lama ada di tangan-Nya bahkan jauh sebelum kita dilahirkan ke dunia. Hanya persoalan waktu saja, jodoh di tangan-Nya akan segera diulurkan ke kita.

#Target

Kalau ditanya kapan nikah, jelaslah saya yang ketika itu masih 'alone' nggak bisa memberi jawaban pasti. Wong jawabannya cuma Allah yang tahu. Sama bila saya memberi pertanyaan balik dengan mengganti kata setelah kapan menjadi mati. Otomatis nggak bisa jawab kan? Iya, sebab menikah itu satu paket dengan kematian. Hakikatnya sama. Mutlak Rahasia Allah. Telah ditetapkan waktunya. Rahasia itu baru akan tersibak ketika masanya telah tiba. Ya, bisa jadi ajal atau jodoh duluan yang menghampiri kita kelak. Wallaahu a'lam

Semestinya yang menjadi ketetapan Allah nggak perlu ditanya-tanya. Toh, setiap orang telah ditentukan jatah jodoh masing-masing. Soal kapan biarlah menjadi urusan Yang Maha Kuasa. Lagian nggak adil juga, selama ini kita cuma berani basa-basi mengajukan pertanyaan kapan nikah ke teman-teman yang masih happy dengan status singlenya tapi tidak pernah berani bertanya ke mereka atau minimal ke diri sendiri, kamu kapan matinya?

But, whateverlah, keep positif thingking, walaupun saya sendiri kadang suka sebel bin kesel dengan orang-orang di sekitar yang doyan mengajukan pertanyaan basi macam gitu macam nggak ada pertanyaan lain saja. Coba konteks pertanyaannya diganti kayak gini.

"Ukh udah niat menikah belum?"
Eh, kalau niat ada sih tapi belum ada calonnya, hehe
"Kalau ada yang mau ajak antii ta'aruf, mau gak?"
Hmm diam sejenak pura-pura mikir. Iya. Boleh juga.

Nah, itu tuh bentuk pertanyaan yang tepat, kalau memang kita benar-benar peduli sama teman, saudara atau sahabat yang masih single. Pertanyaan yang kita ajukan mustinya bisa jadi solusi bukan pertanyaan yang bikin mereka tambah galau berlipat-lipat. Misalkan, sewaktu-waktu dapat todongan pertanyaan retoris yang mengandung tawaran baik kayak gitu, kita juga gak usah sok-sok-an jaim. Bilang saja iya. Bilang saja mau. Kalau memang berminat, apa salahnya? Hehe.

Jodoh itu bisa dijemput dari arah mana saja, guys. Mau lewat orangtua, teman, tetangga, kerabat, guru, orang yang baru kenal di perjalanan udara pun jadi atau dari mana-mana saja. Kuncinya, jangan sempitkan pikiran dan buka akses jalan menuju ke sananya lebar-lebar. Urusan hasil belakangan, yang penting ikhtiar dulu. Logikanya, gimana kita mau segera ketemu jodoh, bila setiap ada yang datang langsung ditolak. Pendek, ditolak. Tinggi, ditolak. Kurus, ditolak. Gemuk juga ditolak. Miskin, ditolak. Kaya pun ditolak. Maunya apa coba. (jawaban ust. Khalid nih bila ditanya soal jodoh)

Bukan berarti pula kita boleh asal menerima sesiapapun yang datang, tapi sebelum menolak, please, pertimbangkan baik-baik apa yang wajib dipertimbangkan. Oke, masalah pertimbangan itu kita skip dulu, kembali ke soal pertanyaan. Kalau pertanyaan kapan nikah diselipi kata ingin di tengahnya atau diganti dengan pertanyaan, target nikahnya kapan, baru deh saya bisa kasih bocoran jawabannya.

In syaa Allah di umur duapuluhtiga. Itu target nikah saya selanjutnya ketika target awal saya pupus di tengah jalan. Jadi gini, sebelumnya saya pernah pasang target; pengen menikah dini tepatnya di umur duapuluh. Ups! Keinginan tersebut bahkan pertama kali muncul saat saya masih mengenakan seragam putih abu-abu. Semasa SMA memang udah terbesit niatan saya ingin menikah muda, hihi, tapi niatan tersebut terpaksa harus saya singkirkan jauh-jauh demi memenuhi harapan orang tua terutama mama yang menginginkan putrinya meraih gelar sarjana lebih dulu sebelum menyabet gelar istri. Lagipula ketika memasuki umur duapuluh, saya baru duduk di bangku semester lima, masih asyik berkutat dengan tumpukan tugas dari dosen yang seperti gak ada ujungnya belum ditambah dengan seabreg kegiatan kemahasiswaan yang saya geluti, mana sempat mikir nikah muda. Lagian juga tidak ada tanda-tanda jodoh saya bakal datang di umur duapuluh. Yowes, saya beralih, bikin target baru. Menikah lepas kuliah.

Well, karena saya lebih dulu kejar target wisuda di umur duapuluhdua jadi saya sengaja bikin target menikah di umur duapulutiga. Ceritanya biar bisa lebih fokus mempersiapkan diri gitu. Alhamdulillaah, target wisuda saya tercapai tepat waktu sementara target menikah saya, eng ing eng! Bukannya tidak tepat waktu, hanya saja ketika saya datang menjemput jodoh di umur segitu, Allah belum kasih. Namanya manusia cuma bisa berencana, Allah yang menentukan. Saya merencanakan menikah di umur duapuluhtiga namun Allah punya kehendak lain, yoweslah, kan saya masih bisa bikin target baru.

Intinya sih, jangan pernah putus asa. Target pertama gagal, bikin target kedua, target kedua juga gagal masih ada target-target selanjutnya yang bisa kita susun sewaktu-waktu selagi niatan masih menetap di hati. Ibaratnya, niat tanpa target adalah sebatas angan sedang niat yang disertai target adalah mimpi yang berpijar. Setidaknya dengan menetapkan target, kita punya tujuan yang jelas. Menjadikan mimpi bukan sebatas bunga tidur.

Seperti halnya dengan niat, target yang saya tetapkan juga tidak asal-asalan. Bila di dua target sebelumnya saya sekadar mencantumkan umur, maka target selanjutnya saya bikin lebih spesifik. Tidak tanggung-tanggung; hari, tanggal, bulan dan tahun pun saya cantumkan jelas-jelas. Selain menuliskan target tersebut di buku catatan yang kerap saya bawa kemana-mana, diam-diam hati saya juga sering berbisik lirih tentang niatan tersebut.

Yaa Allah, saya ingin menikah. Maksimal di umur duapuluhlima, tapi kalau boleh sebelum umur saya menyentuh angka seperempat abad. Jika boleh ya Allah. Mohon perkenankan.

Waktu itu, tersisa enam bulan sebelum umur saya memeluk angka duapuluh lima. Saya telah berada persis di titik pasrah, jodoh yang tadinya saya sangka dekat terasa kian jauh tak terjangkau sementara target yang saya tentukan tinggal hitungan bulan. Jadi, apa yang bisa saya lakukan selain memasrahkan semua yang terbaik pada ketetapan-Nya.

Enam bulan yang kemudian menjelma tiga bulan tersisa dan saya masih belum punya jawaban iya bila ditimpuk pertanyaan udah punya calon belum. Bila diingat, rasanya mustahil saya bisa memenuhi target nikah dalam jangka waktu sesingkat itu. Belum prosesnya. Belum musyawarah antar keluarga. Belum masalah uang panai'. Belum khitbahnya. Belum penetapan tanggal nikah. Belum persiapan walimah. Waduh, baru sekadar memikirkan saja saya udah kewalahan duluan. Tapi, apa sih yang mustahil bagi Allah. Kun Fa ya Kun.

15 April 2017. Di dua bulan kurang tiga hari menjelang seperempat abad, alhamdulillaah, target menikah yang sempat saya anggap mustahil beneran terwujud.

So, tunggu apa lagi. Bagi kalian yang telah berniat menyempurnakan separuh dien, Allah dengar kok segala isi hati kita. Ayo, segera bikin target; kapan ingin nikah?


#Aksi

Oke, sekarang waktunya beraksi. Haha saya bukan ngajakin ikut aksi demo ya, melainkan aksi jemput jodoh. Ikhtiar sebatas niat dan target saja belum cukup. Perlu tindakan nyata yang saya sebut sebagai aksi.

Sepengamatan saya, aksi menjemput jodoh ini juga banyak macamnya. Ada yang beraksi menjemput jodohnya lewat perjodohan, ada yang lewat kontak jodoh ada yang lewat dunia maya, ada yang lewat jalinan kasih sebelum SAH, ada yang lewat jalinan hati tanpa kepastian, ada pula yang cuma lewat perantara teman, guru, saudara, kerabat atau kenalan.

Kira-kira bila ditawarkan memilih, kalian pilih aksi jemput jodoh yang mana? Kalau saya milihnya, aksi yang Allah ridhoi, Orang tua ridho, saya pun ridho. Jika lewat perjodohan, orang tua ridho otomatis Allah juga ridho, tapi belum tentu sayanya ridho. Syukurnya, orang tua saya bukan tipikal orang tua yang suka memaksakan keinginan mereka ke anaknya. Apalagi terkait urusan yang si anak sendiri bakal ngejalani. Lagipula dalam Islam nggak ada tuh konsep perjodohan macam zaman Siti Nurbaya. Sebaliknya, wanita diberi kebebasan memilih jodoh sesuai dengan keinginannya sendiri.

Seperti yang disabdakan Rasul. “Dari Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu , bahwa seorang wanita datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam , lalu ia memberitahukan bahwa ayahnya telah menikahkannya padahal ia tidak suka , lalu Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam memberikan hak kepadanya untuk memilih” (HR Abu Daud)

Beraksi lewat kontak jodoh macam yang di tipi-tipi juga bukan saya banget, selain caranya yang nyeleneh, saya nggak minat sama sekali, lebih-lebih lewat dunia maya yang dominan fatamorgana. Di akun medosnya saja tampak perfect, aslinya i don't know. Sekarang kan jamannya serba pencitraan. Orang-orang gampang memosting gambar-gambar dirinya yang telah diedit sedemikian rupa dihiasi pula dengan caption yang sok bijak, sok melankolis, sok agamis, sok motivator, namun di dunia nyata wajah dan sikapnya ternyata berbanding seratus delapan puluh derajat. Astaghfirullaah, bukannya bermaksud su'udzhon, tanpa disadari saya pun mungkin pernah melakukan khilaf yang sama, cuma mengingatkan saja. Hati-hati, jangan terlalu larut dengan dunia maya. Cukuplah menjadikan dunia maya sebagai media komunikasi dengan batasan-batasan tertentu bukan sebagai tempat kita beraksi menjemput jodoh dengan mengobral janji-janji palsu. *eaaa

Menjemput jodoh dengan jalinan kasih sebelum SAH juga bukan satu-satunya pilihan terbaik. Meski mungkin masih banyak di luar sana yang berpikir satu-satunya cara terbaik menjemput jodoh adalah dengan menjalin hubungan lebih dulu. Logikanya, gimana mau segera dapat jodoh, bila kekasih (baca; calon) saja belum punya, bergaulnya sesama perempuan, jarang pula keluar, mana ada lelaki yang melirik perempuan single yang sebegitu tertutupnya.

Eits, jangan salah! Hanya karena berkomitmen jadi pejuang jofisha (jomblo fisabilillaah, red) or singlelillaah bukan berarti saya gak bisa segera dapat jodoh. Justru itulah salah satu ikhtiar saya dalam menjemput jodoh. No relationship before marriage.

Kadang-kadang jodoh memang gak butuh logika kok. Kurang lebih sama-lah dengan rejeki. Sering datang dari arah yang tak disangka-sangka. Kayak yang udah saya alami. Ih, kok bisa. Gimana ceritanya. Teman kampus, bukan. Teman organisasi, bukan. Teman di medsos, iya, but pajangan doang sih. Nyaris gak pernah saling sapa di dunia maya. Ketemunya cuma sekali, kenalan singkat juga cuma sekali via BBM doang. Udah gitu aja. Nothing special. Dia di Makassar. Saya balik Papua. Kurang lebih dua tahun pasca pertemuan dan perkenalan yang hanya sekali, kami sama sekali gak ada komunikasi apa-apa. Lalu, belum genap tiga tahun berjalan, rasanya semua seperti mimpi. Saya ketemu dia lagi. Bersama orang tua. Di ruang tamu rumah saya. Di Papua. Besoknya. kami ketemu lagi. Di kamar pengantin. Pasca ijab kabul. Uhuk.

Well, sampai detik ini pun bila mengingat kronologis perjalanan saya menjemput dia dan dia menjemput saya, rasanya masih kayak mimpi. Sulit percaya. Logikanya dimana coba, kami hanya butuh dua kali pertemuan untuk jadi jodoh, di luar sana malah ada yang langsung berjodoh di pertemuan pertama. Etapi saya tak menyarankan kalian beraksi mengambil tindakan nekat dengan menjemput jodoh bak membeli kucing dalam karung yaa. Kecuali benar-benar yakin.

For me, jodoh yang tak butuh logika. Bukan cinta. Sebab cinta sewajarnya butuh logika. Jika cinta tanpa logika endingnya bakal crazy or dead. Tuh, baca saja kisah cinta tak berlogikanya Majnun terhadap Layla atau Romeo terhadap Juliet yang rela menjadi gila dan mati oleh sebab cinta. Keduanya bukan kisah cinta heroik yang patut diteladani. Kisah cinta yang heroik itu yang serupa kisah cinta Sang Rasul terhadap kekasih pertamanya Khadijah yang mengajarkan kepada kita tentang kesetiaan. Betapa sabda Rasul ketika mengenang kesetiaan menduang istrinya. "Khadijah beriman kepadaku ketika orang-orang mengingkari. Dia membenarkan aku ketika orang-orang mendustakan. Dan dia memberikan hartanya kepadaku ketika orang-orang tak memberiku apa-apa. Allah mengaruniakan aku anakn darinya dan mengharamkanmu anak dari selain dia" [HR Imam Ahmad]. Aih, tiap baca hadis ini hati saya selalu tersentuh. Adakah saya bisa meneladani betapa mulianya khadijah sebagai seorang istri.

Atau pernah nggak baca kisah cintanya seorang Salman Al Farisi, sahabat nabi dari Persia yang konon diam-diam menaruh perasaan cinta pada seorang wanita muslimah Madinah nan shalihah. Berniatlah ia hendak melamar wanita tersebut. Namun, sebagai penduduk baru di Madinah Salman tidak mengetahui persis bagaimana tradisi mengkhitbah wanita di daerah tersebut sehingga datanglah ia kepada sahabatnya Abu Darda untuk dimintai bantuan melamar wanita idamannya. Sebagai saudara seiman, tentulah Abu Darda merasa berkewajiban membantu. Maka berangkatlah keduanya menuju rumah wanita yang dimaksud. Sesampai di sana, Abu Darda memperkenalkan Salman Al Farisi kepada orang tua wanita yang hendak dilamar sahabatnya itu kemudian menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan mereka. Orang tua si wanita menyambut baik kedatangan mereka dan menyerahkan sepenuh keputusan kepada putrinya. Berdebar hati Salman saat menanti keputusan wanita yang ingin dinikahinya. Namun siapa sangka, jawaban wanita tersebut seharusnya menghancurkan hati Salman berkeping-keping.

"Putriku akan mengatakan iya jika Abu Darda memiliki keinginan yang sama seperti keinginan Salman Al Farisi"

Jawaban yang sangat mengejutkan disampaikan oleh ayah sang wanita. Putrinya justru memilih lelaki yang niatnya datang hanya ingin membantu pinangan sahabatnya. Kemudian dengan legowonya seorang Salman Al Farisi bisa menerima keputusan itu. Mengikhlaskan sahabatnya menikah dengan wanita yang hendak ia lamar namun tak memilihnya. Tidak sebatas mengikhlaskan, semua harta benda yang ia siapkan termasuk mahar untuk si wanita itu ia berikan pula kepada Abu Darda. Maa syaa Allah.

Kalau kita yang ngalami kayak Salman gimana rasanya ya? Maksud hati melamar pujaan hati pake bantuan mak comblang eh yang mau dilamar malah pengennya sama mak comblang. Duh, pasti nyesek. Perih. Sakit pake banget. Misalkan dalam kondisi demikian, sanggupkah kita bersikap kstaria dan heroik layaknya sikap Salman Al Farisi.

Pasti sanggup. Bila merasai cinta pake logika. Kalau gak pake logika, itu mah yang susah. Hidup kemudian dibutakan oleh cinta. Depresi berlarut-larut. Stress berkepanjangan. Puncaknya, bunuh diri hanya karena cinta. Naudzubillaahi min dzalik.

So, please, urusan cinta pake logika yaak. Kalau urusan jodoh gak papa deh gak pake logika, pasalnya jodoh memang hadirnya kadang-kadang memang gak bisa dicerna dengan logika. Menjalin kasihnya dengan siapa, mengikrar janji setianya sama siapa, yang ditunggu siapa, yang datang siapa, yang diharapkan siapa, yang diperkenankan siapa.

Namanya jodoh. Berlogika, wajar, tak berlogika, ajaib. Iya, karena urusan jodoh Allah yang turun tangan langsung, mau diulurkan dengan cara apa dan bagaimana terserah Allah, tapi tergantung juga sih gimana cara kita menjemput dan memintanya. Kalau jemputnya keluar rel, mintanya dengan paksa pula, gimana Allah mau kasih jodoh dengan cara yang baik. Kalau urusan cinta, yaa kita sendiri yang mengelola. Kan Allah udah titipi kita hati, udah bekali juga dengan potensi rasa. Mau cinta sama siapa, nau benci sama siapa, whoever. Allah yang menggerakkan hati-hati kita dan Dia juga yang memberikan skill agar kita mampu mengelola hati sendiri.

Simply, cinta jangan dijadikan alasan menikah. Sebab ada atau tidaknya cinta, sama saja. Bila Allah telah tetapkan yang berjodoh pasti berjodoh. Yang ngotot pengen berjodoh dengan dalih cinta mati pun jika Allah takdirkan tak bersama tidak akan bersama. Maka benarlah kata bijak ini, cinta tak harus saling memiliki tapi siapapun yang anda miliki harus anda cintai.

Urusan jodoh pun sesederhana itu. Saya kutip lagi ya kata Mario Teguh. “Jodoh itu di tangan Tuhan. Benar. Tapi jika Anda tidak meminta dan mengambil dari-Nya, selamanya dia akan tetap di tangan Tuhan.”. Well, saya gak bermaksud mengulang pernyataan karena jodoh di tangan Tuhan berarti kita yang harus jemput, kita yang harus datang pada-Nya, kita yang harus minta dengan permohonan terbaik. Mudah-mudahan segera Allah berikan. Tidak sama sekali.

Sebenarnya dari awal saya udah greget pengen mengulas soal ini namun sengaja saya skip dulu biar lebih fokus membahas ikhtiar dalam menjemput jodoh. Rencana malah saya pengen bikin ulasan tersendiri di postingan baru namun keburu waktu. Postingan ini saja belum jadi-jadi, belum postingan Menuju halal part dua, part tiga dan seterusnya. Ya udah, sekaligus saya bahas di sini saja.

Barangkali saya salah satu dari sekian banyak orang yang menikah tanpa diawali dengan dasar cinta. Iya sih, dulu cinta segala-galanya bagi saya. Siapa sih yang gak mau menikah dengan orang yang mencintainya pun dicintainya. Saya sampai membahas kegelisahan saya tentang pilihan menikah dan cinta di sini, sini, sini dan sini berdasarkan apa yang pernah saya alami dan rasakan. Sampai akhirnya saya menemukan jawaban dari alasan kenapa saya ingin menikah. Kembali ke niat lantas cinta di mata saya bukan lagi menjadi alasan pertama, kedua dan seterusnya. Jika cinta harus menjadi alasan, saya dengan yakinnya meletakkan cinta di pilihan terakhir.

All right, sungguh beruntung orang yang bertemu jodohnya karena didasari rasa cinta. Mungkin layaknya kisah cinta Hamis dan Raisa yang disebut-sebut sebagai #haripatahhati se-Indonesia, saking bapernya orang-orang yang menyaksikan kemesraan dan luapan cinta yang terpancar di mata dua sejoli yang baru melangsungkan pernikahan awal September kemarin. Atau layaknya kisah pernikahan spektakuler Rafi dan Nagita yang disiarkan secara life dan eksklusif tiga tahun silam bahkan kehidupan setelah pernikahan mereka mulai dari berbulan madu hingga hadirnya Rafatar diangkat sebagi reality show oleh salah satu stasiun TV swasta Nasional. I's true, pernikahan impian semua orang tentunya. Mengawali pernikahan dengan cinta.

Kalau nggak cinta, ngapain nikah. Iya nggak? Iya sih iya, tapi kenapa kok banyak artis yang nikahnya karena cinta eh gak sampai beberapa tahun kemudian, ada yang cuma hitungan bulan malah, udah memutuskan berpisah dengan alasan tidak ada lagi kehormanisan dalam rumah tangga mereka. Entah kemana perginya cinta yang disanjung-sanjung dulul. Nah lho?

Tidak bisa dipungkiri, setiap orang mungkin pernah menyimpan satu nama dalam hatinya yang dia dambakan menjadi pasangan hidup dan imam dalam rumah tangganya kelak. I also, sebelum paham hakikat cinta yang sebenarnya, saya merawat perasaan itu dengan bumbu keyakinan you are my destiny. Sebegitu yakinnya saya. Sebegitu berharapnya saya.

Iya, saya pernah memilih beraksi menjemput jodoh dengan menjalin hati tanpa kepastian. Sebatas mengungkapkan kemudian didiamkan. Menautkan janji. Mengejar mimpi yang lain. Kemudian menunggu. Ketika mimpi yang dikejar telah digenggam, janji itu belum juga terpenuhi. Menunggu menjelma abu-abu. Dipertanyakan salah. Didesak salah. Didiamkan juga salah.

Lalu, saya merasa serba salah. Kesalahan fatal yang tidak seharusnya saya lalukan; menunggu seseorang yang bukan jodoh. Entah, harus sampai kapan saya menunggu dengan macam-macam prasangka yang kerap meresahkan hati. Oke, saya akui saya bukan hanya salah tapi juga kalah. Saya cukup lelah menunggu dan jujur saja, saya bukan perempuan kuat yang sanggup menunggu selamanya apalagi menunggu tanpa kepastian. You know that feel kan?

Life is must go on. This is my life. Saya telah sampai pada pemahaman itu, jodoh tidak dicari, tidak pula ditunggu, harus dijemput maka inilah salah satu ikhtiar saya dalam menjemput jodoh. Melepaskan apa-apa yang hati saya tidak lagi sanggup memikulnya. Jalinan hati meski tanpa status macam pacaran, TTM, kakak-adek, HTS atau apalah namanya ternyata sama saja. Nyatanya memang tidak ada satu pun jalinan yang diridhoi Allah bagi dua orang yang saling mencintai selain jalinan pernikahan. Termasuk jalinan hati. Ah, saya salah. Saya sangka tidak ada salahnya bila diam-diam kita menaruh perasaan pada seseorang. Diam-diam yang dengan sengaja disuarakan lalu didiamkan lagi. Diam-diam pula hati saya ikut merekah lalu sekonyong-konyong hadirlah jalinan hati itu yang mari kita sebut saja sebagai harap, mengharap, berharap, diharapkan. Harapan yang tidak seharusnya tumbuh.

Saya telah tiba pada titik itu ketika harapan yang dulunya menjulang pada manusia saya alihkan dan langitkan pada-Nya. Kini, kepada Allah jua-lah saya julangkan segala harap.

I believe, jika saya melepaskan satu cinta karena-Nya, kelak Allah pasti menggantinya dengan cinta yang lain, cinta yang lebih baik, cinta yang terbaik. In syaa Allah.

Kalau versi ust. Salim A Fillah sih "Cinta tak pernah meminta atau menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian atau pengorbanan"

Finally, beraksi lewat perantara menjadi satu-satunya pilihan tersisa yang saya pilih. Menjemput jodoh lewat perantara yang diawali dengan menukar selembaran biodata atau istilah kekiniannya ta'aruf. Pasti udah pada tahu kan istilah tersebut. Kenapa ta'aruf, bagaimana konsepnya, seperti apa alurnya, seberapa lama prosesnya, gimana ngejalaninya. Jawabannya; so simple. Sungguh, gak menguras otak, tenaga, waktu, lebih-lebih air mata. In syaa Allah bakal saya bahas khusus di postingan berikutnya.

Back to the topic, selain tiga poin utama (niat, target, aksi) actually masih banyak poin yang belum sempat saya jelaskan panjang lebar satu per satu mengingat catatan ini keburu terlanjur melebar kemana-mana. Saya sebut poin-poinnya saja ya mengenai ikhtiar yang saya lakukan namun gak sempat saya jabarkan di postingan ini.

Tidak letih berdoa, banyak-banyak istighfar, mendekat pada Allah, sering curhat galau-galau dan baper-bapernya sama Dia, keep positif thingking juga sama Dia, dekat sama teman-teman yang udah pada nikah. Sering ngumpul sama ibu-ibu majelis ta'lim. Suka datang ke kondangan. Minta didoakan sama teman yang dapet giliran jadi pengantin, koleksi buku-buku pernikahan, bacanya sekali-sekali. Sering bikin caption di IG tentang jodoh. Doyan share artikel-artikel rumah tangga di FB dan yang tak kalah pentingnya. Nuntut ilmu nikah. Yip, nikah juga butuh ilmu, sis, bro, makanya saya demem banget ngejar ilmu yang berkenaan dengan pernikahan dan rumah tangga, misal rajin ikut kajian bareng ibu-ibu, Incar seminar pra nikah or family talkshow (kalau ada), seminar parenting juga sukaaa. Kira-kita begitulah ikhitiar yang kerap saya lakukan di luar tiga poin utama.

Ada pun beberapa hal lainnya sempat saya singgung di sepanjang menguraikan tiga poin utama, semisal saya yang memilih menjemput jodoh dengan pulang ke rumah orang tua, berbakti pada mereka (meski sampai detik ini atau sampai kapan pun bakti saya ke mereka gak pernah cukup) atau saya yang berusaha open minded memutuskan untuk tidak lagi menunggu siapa-siapa, menjemput jodoh saya sendiri dengan menerima tawaran ta'aruf seseorang yang meski, gak begitu kenal perangainya, gak begitu tahu persis parasnya, jangankan ngomong masalah perasaan, akrab saja tidak. Tapi saya mau, saya ingin, saya bersedia berproses dengan lelaki asing itu.

Kenapa?

Kembali ke Niat. Kembali ke Target. Kembali ke Aksi. Kembali ke masalah jodoh itu di tangan Tuhan. Kalau bukan kita sendiri yang datang menjemput dan meminta, selamanya jodoh akan tetap di tangan Tuhan.

Niat udah, target udah, aksi udah. Poin-poin lainnya juga udah saya sebutin. Selanjutnya apalagi?

Sabar, TawakaL, Syukur

Of course, setelah segenap ikhtiar dilakukan, silakan perbanyak stok SABAR kemudian jangan lupa pasrahkan semua hasilnya pada Ilahi. Tugas kita kan cuma berikhtiar menjemput dan meminta jodoh yang masih ada di tangan Tuhan.

Persoalan Allah kasih jodoh kita segera atau tidak, sesuai dengan harapan kita atau bukan itu sepenuhnya hak Allah. Jadi, bila Allah tak kunjung mengulurkan jodoh atau mengulurkan namun tak sesuai dengan jodoh yang kita impikan, what do you do?

Tetap bersyukur. Bila Allah belum kasih sampai saat ini it means, waktunya yang belum tepat dan bila Allah mengulur jodoh namun jauh dari yang didambakan it means dialah orang yang tepat, dialah jawaban terindah dari ikhtiar panjangmu, dialah jodoh terbaik yang dipilihkan Allah untukmu.

Take picture via instagram
Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan, wahai diri

Barangkali saya tidak termasuk orang beruntung yang menikah dengan lelaki pilihan hatinya namun boleh saya katakan dengan lantang, saya-lah orang yang sangat bersyukur menikah dengan lelaki pilihan Allah yang juga memilihku karena Allah dan saya pun memilihnya karena karena Allah.

Baca juga Menikah Karena Allah

IG ; @mediareminder
Sekian, ikhtiar menjemput jodoh versi saya. Mudah-mudahan bisa menginspirasi khususnya bagi kalian yang masih lajang dan udah punya niat menikah. Yuk, tetap semangat berikhtiar jemput jodoh masing-masing.

Baca kisah Menuju Halal selanjutnya Kriteria Jodoh Impian


  • Share:

You Might Also Like

13 comments

  1. Wah inspiring sekali mbk.hhee
    Untuk sekarang saya nda bisa menentukan target menikah karena belum ada sama sekali niat untuk menikah. Hmmm

    Bdw mbk orang Makassar yah? pakai kata 'uang panai' tadi. wkwkwk salam kenal yah mbk, follback blog boleh? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai. Anna, salam kenal kembali. Alhamdulillaah kalau tulisan sy bs menginpirasi. Yup, target di atas khusus bagi yang udah punya niat nikah kalau belum fokus aja sama mimpi yang mau diraih lebih dulu.

      Ia. Orang makassar, emang ya makassar terkenal dengan panai'nya hehe.

      Boleh banget. Udah sy folbeck kok :)

      Delete
  2. Seperti komentar di atas, aku juga salut sama kamu. Soalnya akupun belum ada niatan menikah.

    Memang tulisan ini cocoknya untuk wanita yang memang ingin segera menikah. Tapi aku pribadi mengambil pelajaran baru. Nyatanya usaha wanita dalam menjemput jodoh bukanlah dengan hal-hal seperti menjadi wanita genit, tebar pesona dan sebagainya. Tetap dengan cara, berdoa serta berusaha (dlm kajian yg tentu saja dianjurkan agama).

    Soalnya aku kadang ragu, istilahnya orang jaman sekarang selalu bilang, ya PDKT lah. Buatku kata PDKT itu lebih seperti aku harus jadi cewek genit nan manja sama cowok yang ingin aku jadikan calon. Dan jujur aja aku g setuju sama opini sebagian besar masyarakat kita ini.

    Semoga tulisan ini menginspirasi tidak hanya aku, tapi wanita2 yang lainnya

    ReplyDelete
  3. Wih menginspirasi sekali mbak siska. Bener banget apa kata sampeyan. Aku suka rada nganu juga sih kalo ikutan ndampingi kawan menikah. Tapi lepas itu ya udah. Belum merasa pengen menikah yang bener2 pengen.
    Masih suka haahahihi kelayaban sama temen. Malahan belum kebayang sama skali mau nikah sama sapa atau bagaimana hidupku kelak setelah menikah.
    Kalo di tanya kapan nikah, biasaanya malah aku becandain itu orang yang nanya sampe kesel dan nyesel haha

    Anyway mbak aku mau kasih saran boleh ya, tulisan mbak agak kepanjangan setiap paragrafnya, terus ilustrasinya kurang, jadi dibacanya terlalu monoton. Padahal isinya bagus dan rapi lho.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepertinya tulisan ini untuk dibukukan.
      Jadi wajar kalau panjang.
      eh iya ga sih ?

      Delete
  4. Tulisannya panjang ya hehe, tapi bagus kok, jodoh memang di tangan tuhan,semuanya sudah ditetapkan, yang kita perlu lakuin adalah memantaskan diri,kalau kita sudah baik kan nanti dapet yang baik juga.. Amiiin nah untuk aku ini aku merasa belum pantas, lah kuliah aja belum lulus, belum punya penghasilan lagi, mau ngasih makan apa buat istri nanti hehe, oh iya dan selago memantaskan diri, jangan malah icip-icip, bahasanya (pacaran) karena nanti malah rugi, banyak ruginya di pihak perempuan memang, ya karena.. Ah sudah itu saja, minta doanya ya mba, supaya aku bisa istiqamah hehe

    ReplyDelete
  5. wah lulus kuliah langsung ngebet nikah, padahal belum 'ada' jodohnya saat itu. Tapi emang si kebanyakan cewek, abis lulus kuliah kebanyaka langsung nikah, karena 'ngejar' di umur juga. Jodoh emang gak bisa ditebak ya darimana datangnya. kayak banyak meme yang beredar gitu, pacaran bertahun2 eh pas nikah malah bukan sama dia. beneran jagain jodoh orang. :'))

    kalo gue sebagai lelaki mungkin gue harus cari kerja dulu, memperbaiki akhlak, pokoknya memantaskan diri dulu untuk cewek idaman gue, karena kalo gue gak memantaskan diri untuk cewek yang gue inginkan, gimana Allah mau ngasih itu ke gue.

    ReplyDelete
  6. Artikel ini kayanya lebih khusus ke perempuan ya, soal nikah muda di umur 20tahun waduh, saya aja blum kepikiran sampai ke situ, seperti komen di atas, sebagai laki-laki kayanya saya harus cari kerja dulu, ngebangun karir serta portofolio saya sendiri supaya nantinya anak dan istri bisa bahagia dan gk terlalu terbebani serta gk ngerasain susahnya perjuangan saya waktu itu

    ReplyDelete
  7. Tulisan ini panjang sekali tetapi saya menikmatinya...
    Saya setuju mengenai niat menikah, toh saya juga dulu niat menikah karena ingin ada teman berbagi, supaya enggak kesepian. Tetapi belakangan saya merasa kalau niat saya dari awal sudah salah, mungkin itu yang jadi penyebab Allah tahan dulu jodohnya. hehehe...

    Alhamdulillah ya doanya terkabul, target pertama gagal buat target kedua, gagal lagi? bikin target ketiga. Saya suka banget sama cara kk berpikir, jadi nggak tenggelam di masalah yang sama... hehehe...

    ReplyDelete
  8. membaca segala hal tentang hodoh selalu membuat hatiku terenyuh.
    Aku paling senang mendengar perjuangan tiap orang dalam menjemput jodohnya.
    Memang tidak mudah tapi juga juga tidak susah.
    Takdir Allah memang mengejutkan tapi semuanya menyeangkan.

    Untuk saat ini aku juga belum berjodoh,
    padahal 80% dari teman2ku di kelas semua sudah melepas masa lajangnya.
    dan aku sudah berumur 24.
    ku rasa, sudah saatnya ku menjemput jodohku.
    walau ga tau dengan siapa.

    sekarang aku cuma bisa memantaskan diri saja :)

    ReplyDelete
  9. Waduh ngomongin jodoh nih. Kalau bagiku sendiri ya jodoh pasti bakal datang nantinya. Untuk sekarang, bagi Mahasiswa semester 3 yang masih perlu perjalanan panjang untuk lulus lalu kerja, apalagi aku lelaki, kalau soal jodoh bagiku sekarang yang terpenting menyiapkan mental dan jiwa raga agar nantinya ketika saatnya mendapatkan jodoh bakal bisa menjadi suami yang baik :)

    ReplyDelete
  10. Kalo mau nikah itu harus ada niat, tentukan target, terakhir tinggal aksi. Udah dicatet dalam kepala. Banyak yang aku gak ngerti, tapi kayaknya aku dapet beberapa poin pentingnya.

    Munculin niat buat nikah, gak boleh cuma gara-gara pengen cepet-cepet enggak single lagi. Tentukan target itu gak boleh sembarangan, gak boleh terlalu milih-milih juga. Entar malah gak dapet-dapet. Terakhir, aksi. Aku gak gitu paham, sih. Entar aja deh pahamnya :v

    ReplyDelete
  11. Sebagai pelajar, pembahasannya berat sekali. Perjalanan masih panjang, tapi tulisannya menarik, jadi tambah wawasan.

    Selain niat, usaha, dan aksi, yang paling penting emang doa sih. Tapi harus usaha juga~

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa menginspirasi.