Bikin Blog itu Mudah, Konsisten Ngeblog yang Susah

By Siska Dwyta - 22:07

Bismillaahirrahmaanirrahiim

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allaah” kemudian mereka istiqomah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allaah kepadamu”.(QS. Fushilat: 30)

cr

Hijrah itu mudah. Istiqomah yang susah. Plak! Saya berasa tertampar keras ketika pertama kali membaca kalimat ini. Asli! Ngena banget. Kebayang, waktu pertama kali hijrah dari seorang blogger yang dulunya cuma doyan mendadani tampilan blog secantik dan semanis mungkin. Tiap kali ngeblog, hobinya cuma gonta-ganti template baru, widget baru, header baru plus asyik berkutat dengan kode-kode xml dan semacamnya.

Sampai di suatu waktu, setelah sekian lama terlena menjadi desainer blog abal-abalan barulah saya sadar dan teringat kembali niatan awal bikin blog. Saat itu, niatan saya cuma satu. Menulis. Hanya karena saya mencintai menulis sehingga saya merasa perlu memiliki akun blog yang dapat menampung semua tulisan-tulisan random saya yang kadang-kadang masih gaje. Niat awalnya sih memang seperti itu.

Namun, mana saya sangka setelah dua tahun punya akun di media sosial khusus berbagi tulisan, postingan blog saya yang baru hitungan satu-dua nyaris tidak pernah bertambah, malah sayanya makin kecanduan mendesain blog. Padahal fungsi utama blog bukan sebatas terletak pada penampilan saja melainkan isinya. Percuma juga kan punya blog cantik, manis, anggun, menawan but isinya nyaris kosong. Minim tulisan. Nggak ada pengunjung, apalagi followers. Sepi bak kuburan.

Sama kan seperti manusia. Meski berparas memukau, penampilan aduhai tapi kalau hati tak terawat, akhlak buruk, percuma! Apalah arti penampilan luar bila tidak mencerminkan kepribadian yang baik.

Mungkin kurang lebih seperti yang diibaratkan Al-Khawarizmi tentang wanita. Wanita itu jika berakhlak baik dan berpikir positif maka dia adalah angka 1. Kalau dia juga cantik bisa ditambahkan angka 0. Kalau dia memiliki harta banyak, tambahkan lagi 0. Kalau dia cerdas, tambahkan lagi 0. Jadi 1000. Jika wanita memiliki semuanya namun tak memiliki yang pertama, maka ia hanya 000. Tak bernilai sama sekali.

Maksud saya, blog ini sungguh tidak bernilai bila tidak memiliki postingan-postingan yang maksimalnya bisa menginspirasi dan menebar manfaat (kebaikan) meski tampilannya begitu memikat.

Beda halnya, bila tampilannya kurang menarik tapi postingannya banyak. Tulisannya lumayanlah, sedikit menginpirasi. Setidaknya dengan begitu blog ini masih memiliki nilai, walau cuma 1 atau 10. Ketimbang 0 sama sekali.

Selain pengibaratan itu, saya juga sering mendengar pepatah don't judge a book by cover. Jangan menilai sebuah buku dari sampulnya. Artinya, bagus tidaknya sampul sebuah buku tidak menjamin isinya pun bagus. Tidak jarang lho, ada buku yang sampulnya keren banget tapi setelah dibaca bukunya membosankan. Sebaliknya ada buku yang sampulnya biasa-biasa saja, kurang menarik namun lembaran-lembarannya luar bisa menyentuh.

Dalam menilai sesuatu atau seseorang pun seharusnya seperti itu. Jangan hanya berdasar apa yang tampak semata. Sebab penampilan luar kadang menipu. Lagipula, tidak selamanya yang tampak indah benar-benar indah juga tidak selamanya yang terlihat buruk benar-benar buruk.

Tapi bagaimana blog ini benar-benar bernilai (baca; dinilai orang lain) bila selama dua tahun belakangan itu saya hanya sibuk berkutat merawat tampilan luarnya saja tanpa memerhatikan esensi dari sebuah blog.

Pada akhirnya, saya memantapkan niat dan memutuskan berhijrah dari seorang blogger kerjaannya hanya asyik mendandani blog menjadi blogger personal yang tiap bulannya aktif dan rajin menulis postingan sendiri (no jiplak, no copy paste) di blog.

Dan ternyata benar, hijrah memang mudah. Siapa bilang berat? Siapa bilang susah? Siapa bilang rumit?

Kalau ada yang beranggapan demikian, berarti memang dianya saja yang nggak mau hijrah. Sebab sepemahaman saya dan setelah apa yang saya lewati ; hijrah itu hanya bisa dijalani oleh orang-orang yang mau dan bersedia saja. Modal awalnya simple. Yang penting ada niat, ada tekad. Banyak-banyakin berdoa. Jangan lupa usaha. In syaa Allah. Allah pasti mudahkan.

Buktinya. Saya sudah merasakan. Dan rasa berhijrah itu nikmat. Nggak ada duanya deh dibanding tetap ngotot bertahan pada keadaan yang dulu. Meski keadaan itu adalah candu, namun hijrah adalah pilihan terbaik bagi setiap orang yang mengharap kebaikan minimal kebaikan untuk dirinya sendiri.

Dulu, waktu awal-awal hijrah sebagai blogger personal, jangan ditanya betapa bergairah dan berenerginya saya menekuni dunia blog. Hampir tiada hari yang tidak saya lewati tanpa aktivitas ngeblog; seperti rajin update postingan baru, doyan ikut ajang giveaway, suka blogwalking dari satu blog ke blog lain sampai masuk dan bergabung di banyak komunitas blogger.

Saat itu, ngeblog menjadi aktivitas dunia maya paling menyenangkan dibanding facebookan, twitteran, chattingan, instragaman dan semacamnya. Bahkan, setelah mengenal blog semenyenangkan itu, tidak terlintas secuil pun saya bakal hiatus dan meninggalkan dunia yang telah mendekatkan saya pada mimpi yang selama bertahun-tahun lamanya saya khayalkan.


Betapa saya ingin menjadi seorang penulis. Betapa banyak pikiran yang bertumpuk-tumpuk dan perasaan yang bersesak-sesak selalu ingin saya tuangkan lewat jemari. Betapa saya hanya ingin menulis, menulis dan menulis.

Lalu, betapa gembiranya saya ketika berhasil melewati sepanjang tahun dengan menulis ratusan postingan padahal di tahun-tahun sebelumnya tidak pernah saya lakukan. Betapa senangnya saya ketika apa-apa yang selama ini tidak sanggup saya suarakan dengan lisan mampu saya suarakan lewat berbaris huruf dan sungguh betapa bahagianya saya ketika tahu tulisan-tulisan saya mulai menemui pembaca-pembacanya.

Hobi saya sedari kecil adalah menulis, salah satu khayalan yang saya harap menjelma nyata sedari dulu adalah saya ingin menjadi penulis, namun saya tidak benar-benar fokus menulis atau menjadikan penulis sebagai mimpi, kecuali saat setelah saya berhijrah menjadi bloger personal.

Baru, di masa-masa itu saya mulai menulis, dan menikmatinya sebagai candu. Saya mengira, setelah menikmati candu itu, saya tidak akan beralih lagi mencari candu yang lain. Saya menyangka keadaan dimana saya sangat bersemangat sebagai penulis blog akan berlangsung seterusnya. Saya berpikir, menulis adalah dunia yang tidak mungkin saya abaikan. Saya telah menemukan dunia yang sangat saya inginkan, lantas ketika telah mendekapnya kenapa harus kembali saya lepaskan?

Kenyataanya, setelah hijrah saya hanya mampu bertahan selama kurang lebih dua tahun. Hanya selama itu. Dan kemudian saya menjadi blogger yang boleh yang nyaris melupakan rumahnya sendiri. Lihat saja, postingan saya di dua tahun belakangan ini. Mengalami penyusutan drastis. Setahun kemarin lebih parah lagi.

Di tahun 2016, minimal atau setidaknya saya bisa menulis dua belas postingan untuk satu postingan tiap bulannya, tapi yang terjadi, sepanjang tahun itu malah saya lewati begitu saja tanpa menulis satu postingan pun di blog ini.
Blog yang dulu saya anggap sebagai kamar keabadian ini seolah telah ditinggal pergi pemiliknya. Tak lagi terurus dan terawat. Teracuhkan.

Ah, maafkan saya. Maaf karena saya gagal menjadi pemilik blog yang baik. Maaf karena sudah terlalu lama pergi. Membiarkan kamar ini sendiri tak berpenghuni.

Tadinya, saya menduga jalan selepas hijrah adalah jalan yang mulus. Tidak mendaki, berliku apalagi terjal. Ternyata, saya keliru. Perkiraan saya meleset jauh. Hal-hal di luar sangkaan saya itulah yang berlaku.

Manusia memang perencana yang ulung. Pandai sekali mengatur harap-harapannya serapi mungkin, akan tetapi masa depan yang merahasia itu, siapa yang bisa menebaknya? Siapa yang kuasa menjamin diri mampu bertahan hingga akhir? Siapa yang berani memastikan diri mampu sampai di tujuannya dengan selamat?
Not yet. Tidak ada!

Hebatnya lagi, dalam kehidupan ini; awal memang penting namun akhirlah yang menentukan. Tidak peduli, seberapa baik dan unggulnya seseorang di awal, akhirlah yang menjadi penentuan sebenarnya.

Toh, tidak sedikit orang yang di awal kehidupannya tumbuh menjadi sosok yang baik, paham akan agamanya serta tunduk dan patuh pada Titah Tuhan-Nya namun di akhir hidupnya tergelincir dalam kemudharatan.

Dulunya berhijab tapi sekarang hijabnya terbang entah ke mana. Dulunya rajin ke masjid tapi sekarang doyannya ke diskotik. Dulunya ustad tapi sekarang preman. Dulunya aktivis dakwah kok sekarang aktivis maksiat. Dulunya blogger eksis tapi sekarang kok jadi blogger murtad.
Astaghfirullaah. Yang terakhir, itu sekadar permisalan saja. Mana sudi saya murtad (keluar) dari menjadi seorang blogger. Pernah pergi bukan berarti tidak kembali. Selagi masih bernafas, saya tidak akan melupakan satu-satunya kamar berharga; tempat saya menyimpan kenangan.

Iya. Saya menulis karena hendak mengenang banyak hal. Karena itu pula, blog ini sengaja saya sebut sebagai "Kamar Kenangan". Namun, jujur saja selama setahun tidak menulis postingan di blog ini, saya banyak mikirnya. Salah satu yang paling mengusik pikiran saya adalah niatan dan tujuan saya ngeblog. Apa iya, selama ini saya ngeblog sebatas memenuhi hasrat menulis, hanya karena ingin mengabadikan kenangan hidup. Apa iya, niat dan tujuan saya semata-mata cuma itu? Sedangkal itu kah?

Pertanyaan-pertanyaan yang menelisik pikiran saya itu tentu tidak akan saya jawab di postingan yang mungkin membingungkan ini. Bingung bagi yang tidak fokus. Kalau yang fokus mah, in syaa Allaah paham ya dengan maksud saya. Terlebih, bagi yang sedang dan pernah mengalami sendiri.

Hijrah itu mudah. Istiqomah yang sulit. Pernyataan itu benar sekali. Ketika sudah memutuskan berhijrah, di depan sana akan bermunculan banyak godaan. Hati yang dengan mudah Allaah bolak-balikkan. Mood yang pasang surut. Keadaan yang tidak mendukung. Lingkungan yang tidak berpihak. Emosi yang tak terkendali. Iman yang kerap goyah, naik turun. Ghirah dan futur yang kadang memuncak kadang membelok. Dan, tentu masih banyak rintangan-rintangan lainnya yang membuat diri sulit ber-istiqomah.

Butuh perjuangan yang berat memang. Istiqomah sulit namun bukan berarti tidak bisa sama sekali. Bahkan yang sebenarnya bila diri memaknai istiqomah dengan benar, kesulitan itu sesungguhnya telah diringankan Allaah.

Sabda Rasul, "amalan-amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan-amalan yang dilakukan secara istiqomah meskipun sedikit".

Tuh, kan meski cuma lima menit dalam satu waktu, artinya hanya dua puluh lima menit saja dalam shalat lima waktu yang dibutuhkan dari duapuluh empat jam tiap harinya, meski satu hari satu ayat saja baca Al-Qur'annya. Meski cuma dua rakaat saja dhuha dan Qiyamul lailnya. Meski cuma seribu saja sedekahnya tiap pekannya. Meski cuma senin saja puasa sunnahnya. Meski cuma selembar saja baca bukunya tiap hari. Meski cuma pagi atau petang saja dzikir al-ma'tsuratnya. Dan meski cuma satu postingan saja tiap bulan menulisnya. Namun jika semua itu dilakukan terus menerus, secara kontiniu, In syaa Allaah. Allaah sungguh cinta dengan amalan - amalan yang sedikit itu. Ini Rasul yang bilang lho.

Bahkan, bila amalan-amalan yang sedikit itu masih terasa berat dilaksanakan, Rasul sudah lebih dahulu mewanti-wanti dengan memberi tips doa terbaik agar hati senantiasa dimudahkan untuk istiqomah.

Wahai Sang Pembolak-balik Hati. Tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu"

Duhai Rabb, siapa yang bisa menjamin hati-hati kami ini tak berpaling dari-Mu selamanya?
Manusia tak ada yang bisa menjamin keselamatan dirinya sendiri, karena itu, menjaga istiqomah itu sangat-sangat penting.

Yuk. Sama-sama belajar Istiqomah.

#ODOPOKT7


  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa menginspirasi.