Ketika Jilbab Syar'i Menjadi Tren Muslimah Kekinian

By Siska Dwyta - 22:46

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Hallo haa, di postingan kali ini saya pengen share opini saya tentang jilbab syar'i. Tahu kan yang namanya jilbab syar'i? Itu lho yang pakaiannya longgar menutupi seluruh tubuh, biasa dipadupadankan oleh pemakainya dengan gamis yang ciamik dan kerudung panjang (khimar) berwarna senada.

Well, sebelum lanjut, kita simak dulu yuk perbedaan hijab, jilbab dan kerudung biar nggak bingung, soalnya istilah ketiganya sering dianggap sama padahal maknanya berbeda. Saya juga kadang masih bingung membedakannya. Hehe.



Hijab berasal dari kata hajaban yang artinya menutupi, dengan kata lain al-Hijab adalah benda yang menutupi sesuatu. Sedangkan Hijab menurut Al Quran artinya penutup secara umum, bisa berupa tirai pembatas, kelambu, papan pembatas dan pembatas atau lainnya. . (Dalilnya ada di QS Al-Ahzab : 53)

Jilbab ialah pakaian yang longgar dan dijulurkan ke seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan, tidak transparan dan tidak membentuk lekuk tubuh. (Dalilnya ada di QS Al-Ahzab : 59)

Khimar adalah kerudung panjang yang terulur menutupi kepala hingga ke dada. Khimar maknanya hampir sama dengan kerudung karena sama-sama menutupi kepala namun bedanya kerudung hanya sebagai penutup kepala saja atau biasa dililit sampai di leher sementara khimar menutupi kepala hingga ke dada. (Dalilnya ada di QS An-Nur : 31)

Nah, dari pengertian hijab, jilbab dan khimar di atas yang saya kutip dari web Dunia Islam jelas ya perbedaannya. Tadinya sih yang saya ketahui, jilbab itu sejenis pakaian seperti gamis tapi ternyata yang dimaksud jilbab bukan hanya gamis, pakaian apa pun yang menutupi seluruh tubuh asal tidak transparan, tidak ketat dan tidak menyerupai pakaian lawan jenis, termasuk blus atau kemeja wanita yang dipasangkan dengan rok bahkan khimar dan kaos kaki pun merupakan bagian dari jilbab. Artinya, pakaian yang menjulur ke seluruh tubuh kita mulai dari kepala hingga kaki itulah yang dinamakan jilbab. Sementara hijab maknanya lebih kompleks lagi, sebab tidak semua jilbab tergolong hijab namun yang namanya hijab sudah pasti jilbab.

Maksudnya?

Bingung ya? Eh saya juga bingung. Ups. Tapi gini lho, menurut saya makna hijab lebih kepada fungsinya. Sama halnya seperti tirai yang sering kita dapati di dalam masjid. Well, tirai tersebut kita kenal sebagai hijab karena fungsinya untuk menutupi, menghalangi dan menjadi pembatas antara tempat shalat laki-laki dan perempuan. Demikan halnya dengan jilbab yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya wajib dikenakan oleh setiap muslimah yang telah baligh. Fungsinya untuk menutup aurat, melindungi, menjadi pembatas atau pembeda antara wanita muslimah dan wanita non.

Nah, jilbab yang sesuai dengan fungsinya itulah yang disebut hijab. Tapi kalau kita sudah menggunakan jilbab sementara jilbab yang kita gunakan sekadar membungkus tubuh bukan menutupi, tidak juga berfungsi selayaknya pelindung dan pembeda antara kita dengan wanita non berarti jilbab yang kita kenakan bukan termasuk hijab dong?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita kembali dulu ke opini saya yang pengen bahas tentang hijab syar'i. Seingat saya sih dulu nggak ada yang namanya hijab syar'i, yang lebih familiar di telinga saya cuma istilah jilbab dan kerudung tanpa embel-embel syar'inya. Waktu itu saya masih menyamakan makna jilbab dan kerudung yang menurut saya lafalnya saja yang berbeda, maknanya tidak berubah. Istilahnya sinonim, seperti kata ibu atau mama, ayah atau bapak, paman atau om, bibi atau tante, dll. Begitu pun dengan jilbab atau kerudung, sama-sama digunakan untuk menutupi kepala. Sehingga tidak jarang saya keliru menggunakan istilah keduanya.

Walau sudah "ngeh" dengan perbedaan tersebut ya saya masih saja tergelitik dengan penggunaan kata syar'i yang sengaja disematkan setelah kata hijab, jilbab mau pun khimar. Sering kan kita mendengar istilah jilbab syar'i, khimar syar'i dan hijab syar'i, Entah siapa yang pertama kali memboomingkan kata syar'i tersebut dan melekatkannya di belakang nama busana muslimah. Bahkan sekarang ini banyak pula istilah-istilah lain yang ikut-ikutan membawa nama syar'i+ah di belakangnya. Etapi kita fokus saja ke topik jilbab syar'i.

Eniwei, menurut kalian perlu nggak sih penggunaan kata jilbab syar'i?.

Kalau menurut saya sih nggak perlu, karena sudah dari sononya wanita muslimah diperintahkan menutup aurat dengan jilbab sebagai HIJAB yang fungsinya untuk menutupi, melindungi, membedakan, membatasi bukan untuk mempercantik diri, menarik perhatian, mengundang setiap mata lelaki memandangnya, dsb. Sehingga tanpa kata syar'i pun jilbab tetap akan demikian adanya. Dari dulu perintahnya tidak pernah berubah. Tertuang dalam ayat suci. Tertera dalam sunnah Rasul.

Lantas kenapa belakangan ini muncul istilah syar'i?

Kalau kita menengok ke belasan tahun silam, pemandangaan wanita-wanita muslimah yang mengenakan jilbab masih sangat langka. Saking langkanya sosok muslimah berjilbab jaman past tampak seperti makhluk asing yang kesasar di planet Bumi. Oke, pengibaratan saya mungkin agak lebay tapi setidaknya itulah yang saya rasakan di awal memutuskan menutup aurat ketika jilbab belum se-fenomenal dan semarak jaman now.


Kalau sekarang mah jangan ditanya. Pemandangan wanita-wanita muslimah yang mengenakan jilbab bukan lagi langka, tapi telah menyatu dan menjelma lifestyle. Dalam kurun waktu satu dekade, tren jilbab stylish di Indonesia memang berkembang begitu pesat. So emejing banget. Bayangkan dulu saya pake kerudung cuma yang model itu-itu saja, monoton dan terkesan norak karena nggak banyak model kerudung yang di jual di pasaran. Perlahan saya mengganti kerudung dengan khimar (masih ingat kan perbedaannya), tapi modelnya juga masih monoton, nggak ada perkembangan. Lebih-lebih khimar yang panjangnya melewati dada, alamaak modelnya kuno kebangetan. Saya jadi sering nggak pede keluar rumah dengan khimar panjang. Niat saya menutup aurat masih keliru nih di sini. Apalagi yang namanya gamis. Duh, dulu tuh saya benci dengan jenis pakaian lurus memanjang ke bawah dan nggak ada potongannya itu.

Alhamdulillaah, dengan perkembangan tren jilbab stylish yang mulai pesat, bermunculanlah berbagai macam model jilbab yang ditawarkan di pasaran yang nggak lagi monoton, kuno dan terkesan norak, malah trandy, fashionable dan yang pasti modis. Jilbab tidak lagi dianggap sebagai pakaian emak-emak atau wanita-wanita yang katanya sok alim sebaliknya telah menyentuh lapisan seluruh wanita muslimah mulai dari kalangan bawah hingga atas. Ibuk-ibuk pedagang asongan, emak-emak rumah tangga, siswi-siswi sekolahan, mahasiswi-mahasiswi kuliahan, karyawati-karyawati di perusahaan, ibuk-ibuk kantoran hingga ibuk-ibuk pejabat, sebagian besar sudah pada berjilbab.

Luar biasa dampak yang dibawa oleh tren jilbab stylish, sehingga banyak yang akhirnya berminat dan tertarik menutup aurat dengan niatan masing-masing yang entahlah. Apa pun niatnya saya sangat mengapresiasi mereka yang akhirnya memutuskan menutup aurat ketimbang tidak sama sekali. Kalau masalah niat kan bisa diluruskan seiring bertambahnya pemahaman tentang kewajiban menutup aurat.

Walau pada kenyataannya, jenis jilbab yang seharusnya seragam karena berdasar pada dua sumber (Al-Qur'an dan Hadis) akhirnya terkotak-kotakkan. Ada yang suka jenis jilbabnya kayak gini, ada yang suka jenis jilbabnya kayak gitu dan macam-macamlah. Nah, barangkali karena saking banyaknya jenis jilbab di permukaan hingga muncul pula jenis jilbab syar'i yang seolah-olah menunjukkan ini lho jenis jilbab yang sesuai syariat. Berarti jenis jilbab lainnya nggak sesuai syariat dong?

Well, terlepas dari syar'i atau tidaknya jilbab yang kita kenakan, barangkali yang perlu menjadi pertanyaan di hati kita masing-masing (khususnya bagi diri saya pribadi) sudahkah jilbab yang kita kenakan berfungsi sebagaimana mestinya sebagai HIJAB?

Kalau yes, baiklah in syaa Allah bakal saya lanjutkan dengan postingan berikutnya "Ada Apa dengan Hijab Syar'i? Yang pengen meninggalkan jejak di kamar kenangan ini, silakan komen di kolom komentar :)

#ODOPOKT10

Tulisan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post Blogger Muslimah Indonesia

  • Share:

You Might Also Like

3 comments

  1. Setuju, nda perlu menambahkan kata syari di kata khimar, jilbab dan hijab. Kalau pakaian disandingkan dengan kata syari baru cocok, jadinya 'pakaian syari'. hhee

    Jadi pakaian syari itu hijab; hijab itu ketika kita menggunakan khimar dan jilbab. iya kan mbk? trus kalau kita melihat arti surah An-nur ayat 31 dan Al-ahzab ayat 59, jilbab itu adalah pakaian yang menjulur dari atas ke bawah atau yang biasa kita sebut dengan gamis, kan? Pertanyaannya, bagaimana dengan wanita yang memakai rok mbak? pakaian saya kan belum sampai di gamis-gamisan. Menurutku selama jilbabnya menutupi dada, baju dan roknya gak ketat ya tidak masalah. Tapi kata temanku yang jilbab besar gak boleh. Pusing pala barbie. Saya juga maunya pakai gamis terus tapi yah mau bagaimana lagi, gamis itu kan mahal mbk jadi koleksi gamisku masih sedikit. *lha malah curhat*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Anna. Terima kasih pertanyaannya, saya juga baru belajar berhijab dengan baik nih, hehe ia khimar dan jilbab sudah pasti bagian dari hijab tp sy memandang makna hijab lebih ke fungsinya, sebagai pelindung atau penutup dll

      Terkait pertanyaannya, sdh saya jawab di postingan

      "Tadinya sih yang saya ketahui, jilbab itu sejenis pakaian seperti gamis tapi ternyata yang dimaksud jilbab bukan hanya gamis, pakaian apa pun yang menutupi seluruh tubuh asal tidak transparan, tidak ketat dan tidak menyerupai pakaian lawan jenis, termasuk blus atau kemeja wanita yang dipasangkan dengan rok bahkan khimar dan kaos kaki pun merupakan bagian dari jilbab"

      So nggak mesti gamis kok, rok dengan atasan yang tdk transparan, tdk ketat, tdk menyerupai laki2 dll plus kerudung yang menutupi dada n jangan lupa kaoskaki , itu sudah dikatakan sebagai jilbab :)

      Klu masih kurang puas dengan jawaban sy bs bertanya ke ustadzahnya atau ke kenalan Anna yg ilmunya lebih mumpuni ya :)

      Delete
    2. Iyaya~ kurang fokus kemaren bacanya mbk, hheee makasih mbk atas jawabannya :)

      Delete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa menginspirasi.