Ketika Jilbab Tak Ada Bedanya dengan Pakaian Seksi

By Siska Dwyta - 21:38

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Beberapa waktu lalu saat asyik berselancar di beranda facebook, muncul artikel hipwee yang judulnya begitu menarik perhatian. Bikin saya greget pengen share artikel tersebut sekaligus berkomentar panjang lebar. Nyaris saja jempol saya meng-klik tombol bagikan, tinggal sepersekiandetik namun keburu ditahan oleh hati saya yang otomatis bilang nggak boleh. Otak saya ikut bicara. Protes. Kenapa nggak boleh. Apa salahnya, cuma share doang kok?

Ya, salah dong itu kan bukan akun facebook milik kamu.

Oh iya, lupa ding, hihi. Rupanya saya sementara main facebook via operamini. Akun facebook suami saya khususkan di applikasi tersebut. Jarang buka sih. Kadang-kadang saja. Kalau lagi mau, kalau nggak ya nggak. Suami juga bukan tipe maniak main facebook kayak istrinya ini, tak heran bila notif facebook dia selalu sepi. Pasang status selama tiga tahun terakhir ini saja nggak pernah. Sebatas suka membagikan postingan-postingan yang menurutnya bermanfaat. Jelasnya, bila menyangkut medsos berbanding seratus delapan puluh derajatlah saya dengan dia. Akun medsos saya bertebaran dimana-mana, mulai dari Facebook, Blog, Path, Twitter, Tumblr hingga IG. Sementara dia cuma punya satu akun medsos. Facebook, itu saja. Hmm.

Well, karena menghargai privacy suami meski akun facebooknya sudah diserahkan setengahnya ke saya (dalam artian saya boleh ikut pasang status, menyukai, meninggalkan komentar, menerima konfirmasi pertemanan, dll) artikel tersebut urung saya bagikan. Komentar yang hendak saya luapkan juga terpaksa dipendam sendiri. Saya masih hiatus kala itu jadi belum kepikiran menuangkannya di blog.


Saya malah sudah lupa dengan artikel yang hampir saya share via akun facebook suami, tapi gara-gara bingung mau posting tulisan apa hari ini, terlintaslah artikel tersebut yang judul dan isinya sudah buram dalam ingatan. Isenglah saya periksa histori operamini, eh link artikelnya masih ada.

Ini dia Nggak Peduli Pakai Jilbab atau Baju Seksi Semua Wanita Nyatanya Rawan Jadi Korban Pelecehan Seksual, artikel hipwee yang bikin saya greget pengen mengulasnya secara tuntas dan akurat *eh

Sekilas dari membaca judul artikel tersebut seolah mengundang kontroversi. Bakal ada yang pro dan kontra. Ini menurut saya lho. Tanpa menengok isinya saja saya sudah tergiur ingin menebak demikian.

Bagi yang kontra barangkali bakal nggak terima dengan judul yang kesannya ibarat menyamakan wanita berjilbab dan wanita berbusana seksi. Seakan-akan fungsi jilbab zaman sekarang sudah tidak mempan sebagai hijab yang mampu menjaga dan melindungi wanita muslimah dari pandangan lelaki asing. Jadi, meski lo berpakaian serba tertutup atau serba terbuka, sama saja. Apa pun jenis pakaian yang lo kenakan tetap berpeluang menggoda kaum adam sehingga beberapa diantara mereka nekat melakukan tindakan pelecehan seksual, bahkan tindakan tersebut berani mereka lakukan di tempat umum.

Kalau begitu mah bukan jilbabnya yang patut disamakan dengan bikini, dasar lelakinya yang otak bejat. Wanita yang jelas-jelas tertutup seluruh tubuhnya masih saja diganggu. " Mungkin ada pula yang geram berkomentar demikian.

Mengingat selama ini selain sebagai korban kasus pelecehan seksual, wanita juga kerap disalahkan. Pakaian menjadi alasan utama. Sikap menjadi alasan yang kedua. Pakaian yang terlalu seksi, seronok, mengundang perhatian banyak laki-laki dan atau ditambah dengan sikap wanita yang mendayu-dayu, berlemah lembut, centil plus menggoda, so, wajar sih bila wanita semacam itu menjelma mangsa di mata laki-laki.

Nah, ini kasusnya ada wanita paruh baya, berjilbab dan berpakaian tertutup yang sementara tertidur di angkot dan mengalami pelecehan seksual. Si ibu itu tidak sadar, ketika tertidur ada bapak-bapak yang mendekat, duduk di samping beliau dan berupaya meraba bagian dada wanita paruh baya itu. Ketika turun dari angkot barulah si saksi yang sempat melihat kejadian tersebut memberitahu. Reaksi si ibu langsung spontan periksa dompet dan isinya. Mungkin beliau mengira barangnya dicopet, syukurnya nggak ada yang hilang .

Etapii . . .

“Ya ampun, kok ada-ada aja sih, aku kan udah nenek-nenek.” respon ibu itu yang menurut hipwee kasusnya diposting oleh si saksi mata dan tersebar via aplikasi chat line.

Emang ada-ada aja ya jaman sekarang. Banyak hal-hal edan terjadi. Jangankan wanita dewasa, anak-anak yang masih kecil pun tak luput dari korban seksual. Miris. Sungguh miris.

Lantas bila kejadiannya seperti itu, masihkah kita menyalahkan wanita ?

Terkait kasus tersebut, saya pernah menyatakan pandangan secara tegas di kamar kenangan ini lewat postingan Yuk, Foto Diri dengan Muhasabah

Dan kali ini saya sekadar pengen ikut berkomentar saja sih, menyatakan opini saya terkait judul artikel yang mengangkat kasus pelecehan tersebut dengan menyanding-nyandingkan jilbab dan baju seksi. Jujur saja, saya khawatir bila ada pembaca yang sempat membaca judul artikel tersebut tanpa membaca isinya atau asal membaca lalu asal pula mengambil kesimpulan berdasarkan pikiran yang sempit.

Berarti nggak papa dong ya, pake pakaian seksi wong yang pake jilbab juga rawan kena pelecehan seksual.

Atau yang parahnya, bila ada yang sampai meragukan fungsi jilbab itu sendiri. Ngapain pake jilbab kalau nggak bisa melindungi kita dari pandangan lelaki mesum. Sekarang mah pake jilbab atau nggak pake jilbab nggak ada bedanya mbak. Alih-alih menggunakan jilbab sebagai identitas ke-muslimah-an yang menjaga kita agar tak sampai menjadi fitnah bagi lelaki, jilbab sekarang lebih beralih fungsi sebagai tren, fashion, lifestyle. Dijadikan pajangan. Diumbar ke media social. Dibentuk-bentuk sedemikian rupa. Dihiasi secantik mungkin. Mengundang banyak mata yang bebas melihat, so that wajar bila fitnah di zaman ini mudah bertebaran dimana-mana.

Pernah nggak sih berpikir, sebenarnya tujuan Allah memerintahkan setiap wanita yang telah baligh menutup seluruh tubuhnya kecuali telapak tangan agar tidak menjadi fitnah bagi lelaki. Bahkan ada sebagian kalangan yang berpandangan wajah wanita juga harus ditutup sebab masih mengundang fitnah.

Jadi bila setelah mengenakan jilbab diri kita masih mengundang fitnah berarti ada yang salah dong dengan cara berjilbabnya kita. Tentu bukan jilbabnya yang salah sebab jilbab murni perintah Allah yang sangat sempurna, cara kita mengenakan jilbab itu yang patut dipertanyakan? Sudah benarkah niatnya, sudah selaraskah dengan perintah Allah dan Rasul-Nya? Sudah sejalankah dengan konsep An-Nur : 31 dan Al Ahzab : 59.  Duh, ini reminder buat saya.

Macam contoh kasus di atas. Ada beberapa poin yang perlu saya kritisi tanpa bermaksud menyalahkan individunya, sebab tanpa disalahkan pun menurut saya sikap keduanya memang salah.

Pertama, untuk si ibu, okelah beliau berjilbab, fungsi jilbab yang dikenakan sebenarnya telah menjaga dan melindungi wanita paruh baya itu sayangnya si ibu sendiri yang lalai, tidak bisa menjaga dan melindungi jilbabnya dengan baik. Membiarkan dirinya terlelap dalam angkutan umum yang notabene penumpangnya adalah orang-orang asing. Ditambah beliau naik angkutan umum tersebut tanpa disertai mahram. Soal keluarnya seorang wanita muslimah dari rumah tanpa disertai mahram itu saya nggak berani protes sebab ada keadaan-keadaan tertentu yang kadang bikin saya juga terpaksa keluar rumah seorang diri, tentu dengan ijin suami. Namun bila kita mantap berpergian tanpa mahram konsekuensinya ya kita yang harus mawas diri, waspada di mana pun. Naik angkot seorang diri kemudian tertidur itu adalah kesalahan yang sangat fatal lho. Ini juga bakal jadi catatan penting buat saya. Kemana-mana tanpa mahram harus tetap hati-hati.

Kedua, 
untuk si bapak yang tak menundukkan pandangan, sampai berani membiarkan tangannya menjalar ke bagian tubuh wanita yang haram disentuh, jelas tindakan senonoh itu adalah perbuatan yang menyimpang. Saya nggak tahu ya apa motif dibalik kasus pelecehan yang dilakukan terhadap si ibu yang katanya sudah nenek-nenek dan seharusnya dengan penampilannya yang tertutup tidak mengundang hasrat lelaki. Tapi buktinya? Masih ada saja laki-laki macam si bapak yang berhasrat melakukan tindakan pelecehan, entah didasari karena memang dari sononya punya kelainan seksual atau boleh jadi ketika tertidur  jilbab si ibu tersingkap sehingga tampaklah tonjolan di bagian dadanya yang memicu birahi bapak itu. Ya, bisa jadi demikian. Ibarat kata tak mungkin ada api bila tak ada pemantik. Eh, saya kan tidak tahu persis kejadiannya, cuma pandai berkomentar saja, hehe. Bukannya berpihak pada si bapak, saya justru sangat mengutuk tindakan pelaku yang semena-mena melecehkan kaum wanita. Jadi mau dilihat dari sisi mana pun, perbuatan si bapak yang tangannya kegatelan itu jelas salah besar.

Khusus untuk si saksi mata yang menyebarkan kasus pelecehan tersebut, bila berada dalam posisi yang sama pun saya mungkin akan bereaksi hal yang sama. Kaget. Takut. Gemetar. Cuma bisa melototin biar si bapak tidak melakukan tindakan yang senonoh karena merasa diawasi. Namun, setelah dipelototin juga si bapak kegatelan itu tetap berhasil melakukan aksi bejatnya. I think, bila si saksi mata bisa lebih mengontrol emosinya dan berpikir jernih tindakan yang dia lakukan mustinya bukan cuma melototin, tapi berupaya membangunkan si ibu. Kalau si ibunya terbangun kan aksi pelecehan yang tidak disadari korban di atas angkot kemungkinan besar nggak bakal terjadi.

Dan kasus di atas hanya satu contoh yang menurut saya nggak bisa dijadikan sample atau satu kesimpulan sehingga jilbab dan pakaian seksi bisa disetarakan posisinya atau seolah-olah jilbab dan bikini di masa kini sekarang nggak ada bedanya. Sama-sama rawan terkena kasus pelecehan.

Ya iyalah jilbab jaman sekarang memang nggak ada bedanya dengan bikini atau dalam perumpamaan yang lebih sadis seperti yang disabdakan Rasul, mereka berpakaian tapi telanjang karena cara menutup auratnya yang memang nggak sesuai dengan hakikat jilbab yang sebenarnya. Lekukan tubuh masih nampak, tertutup kain tapi menerawang, kerudung dililit di atas dada, warna ngejreng menarik perhatian, pake parfum begitu menyengat. Jilbab yang dikenakan semacam itu bagaimana mungkin tak mengundang fitnah?

Beda halnya dengan jilbab yang benar-benar tertutup rapat. Sederhana. Tak nampak lekukan tubuh. Tidak tembus pandang. Jilbab yang sungguh digunakan sesuai fungsinya. Untuk melindungi dan menjaga pemakainya agar terhindar dari tatapan lelaki asing. Tanpa mengundang perhatian siapa pun. Sehingga dengan adanya ikhtiar membentengi diri dengan berjilbab yang sejalan dengan syariat, Allah pun turut menjaga dan melindungi pemakainya..


credit


Of course, saya nggak setuju bila jilbab yang demikian disamakan dengan pakaian terbuka tapi kalau yang dimaksud adalah jilbobs, jilbab trendy, jilbab yang dipake sekadar ikut-ikutan, gaya-gayaan, tren-tren-an, Okelah saya pro. Nggak peduli pake jilbab stylish atau pakaian seksi, setiap wanita nyatanya memang rawan terkena kasus pelecehan seksual.

Saya nggak heran sih baca kasus tersebut, malah sejak awal saya sudah pro dengan judul yang boleh jadi mengundang kontroversi itu. Setelah menikah, suami saya sering banget bilang. Laki-laki itu makhluk visual. Otaknya dari sononya memang sepertinya sudah dirancang Tuhan untuk selalu tergiur dengan hal-hal yang menarik di mata. Sementara wanita diciptakan sebagai makhluk yang penuh pesona, bahkan diibaratkan oleh Rasul sebagai perhiasan yang paling indah di dunia ini.

Sehingga tak bisa dipungkiri, satu-satunya fitnah terbesar bagi laki-laki adalah WANITA. Itu yang disabdakan Rasul empat belas abad silam dan benar terbukti.

Banyak kasus dimana wanita kerap menjadi korban pelecehan seksual disebabkan laki-laki yang tak mampu menahan godaan fitnah mereka (kaum hawa) yang semakin merajalela.

Apa yang ada di benakmu ketika melihat perempuan lain melintas? suatu kali suami pernah melontarkan pertanyaan senada itu

Riasan make-upnya, busana yang ia kenakan, jam tangannya, tas di gendongannya, sepatu yang melekat di kakinya. Jawab saya polos.

Nah, itu bedanya perempuan dan laki-laki.

Eh, maksudnya?

Tahu nggak, laki-laki kalau lihat perempuan apalagi yang menarik perhatian yang muncul dalam benak mereka bukan semua yang tampak seperti yang kamu sebutkan, wajah, tas, jam tangan, sepatu semua itu nggak ada dalam benak mereka. Otak mereka bakal refleks membayangkan apa yang ada di balik semua yang dikenakan perempuan itu.

What? Masa' ? Saya terkejut dengan jawaban suami seakan sulit percaya.

Iya, pandangan laki-laki memang begitu. Laki-laki juga kalau ngumpul dan lagi ngomongin perempuan, obrolan mereka bukan bahas fisik tapi hal-hal yang vulgar.

Makin terkejutlah saya.

Oh, pantesan laki-laki sangat dianjurkan sang Nabi untuk banyak-banyak menundukkan pandangan dan bila tidak kuasa menahan nafsu (belum mampu menikah) ya dianjurkan pula untuk sering-sering berpuasa. Tugas perempuan juga sih sebenarnya,menjaga diri dengan hijabnya, ikut menundukkan pandangan dan jangan sampai membiarkan apa yang tampak pada dirinya mengundang perhatian lawan jenisnya.



Nah, salah satu komentar di artikel hipwee yang judulnya menjadi topik pembahasan di postingan ini juga menarik perhatian saya untuk ikut mengomentari, meski jika di-kepo-in kalian bakal menemukan komentar-komentar lain di bawahnya yang datangnya dari pihak wanita yang kontra dengan komentar yang memuat pernyataan dimana wanita itu harusnya di rumah saja.

For me, nggak ada yang salah kok dengan pernyataan tersebut, memang benar sebaik-baik hijab bagi seorang wanita adalah di rumahnya sendiri. Sejengkal saja seorang wanita keluar dari rumah  maka peluang untuk mengundang fitnah dan menjadi korban pelecehan seksual pasti ada. Hal ini bukan berarti wanita dilarang keluar rumah. Ini sama dengan konteks hadis yang memperbolehkan wanita shalat di masjid meski anjuran Rasul tempat shalat wanita yang lebih baik adalah di rumah. 

Dalam aturan Islam wanita juga sebenarnya dilarang keluar rumah tanpa disertai mahram. Artinya, berhijab saja belum cukup melindungi wanita bila sedang berada di luar rumah. Wanita dianggap masih belum aman selama keluar seorang diri. Maa syaa Allah.  Allah dan Rasul-Nya  bahkan sudah mengatur sedetailnya perihal memuliakan wanita muslimah yang mungkin masih dianggap sepele oleh manusia.

Dan yes, i agree pelecehan seksual terjadi bukan hanya karena ada niat pelaku tetapi adanya kesempatan sehingga niatan jahat seseorang berhasil menjelma aksi. Tinggal di rumah atau bersama mahram adalah dua pilihan yang mampu menghindarkan seorang wanita dari tindak kejahatan seksual.

Namun jika pilihan  yang terpaksa diambil adalah keluar rumah tanpa disertai mahram, berarti kita pun harus siap menerima konsekuensi apa pun. Sedikit saja lalai boleh jadi kasus serupa yang dialami si ibu juga akan menimpa kita. Sebab kenapa?

Jawabannya tersurat dalam sabda Rasulullaah shallallahu 'alaihi wa ssalam.;


"Wanita adalah aurat. Apabila ia keluar dari rumahnya maka setan akan menghiasinya dan sesungguhnya seorang wanita lebih dekat kepada Allah ta'ala ketika ia berada dalam rumahnya" (HR. At-Tirmidzi) 

Terlepas dari judul artikel hipwee yang menurut saya kontrovesial pun bisa menimbulkan propaganda, cukuplah saya akhiri postingan ini dengan sentilan dari komentar di atas.

Yang pake jilbab saja (bisa) dilecehkan apa lagi yang nggak?

#ODOPOKT2






  • Share:

You Might Also Like

21 comments

  1. Soal judul, memang bukan enggak mungkin mereka sengaja ingin kontroversial, agar di klik, di share, dan bisa menaikan page visit mereka. Serba salah sih soal judul-judul artikel sekarang ini.
    Aku sempat lihat judul artikel ini, tapi enggak tergoda untuk mengklik. Sekilas aku melihatnya mengingatkan diri bahwa meski pun berhijab kita tetap harus berhati-hati menjaga diri dalam bertindak dan bersosialisasi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sih mbak, soal judulnya memang sengaja dibikin kontroversial tp terlepas dari judulnya sebenarnya yg pengen sy komentari masalah jilbab yang disandingkan dengan pakaian seksi. Cuma mungkin maksud saya belum 'ngena' di postingan ini.

      Delete
  2. Wah iya isu ini emang sempet heboh kemarin-kemarin.
    Unfortunately aku ga kepikiran sampe sejauh ini sih. Kamu jago nih dalam beropini.

    btw dari peristiwa itu ternyata memang ga semua salah si bapak,
    tata cara berjilbab si Ibu juga harusnya jadi perhatian.
    Kita emang harus melihat dari berbagai sudut ya, tidak bisa mengambil kesimpulan dari satu pandangan saja.

    Makasih teh tulisanya.
    Semoga ga ada lagi pelecehan-pelecehan lainya.
    dan happy writing untuk one day one posting nya yaa,
    aku mah belum tentau mampu nulis serutin ini haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Btw ko situs hipweenya ko maintenance ya

      Delete
    2. Haha nggak jago juga cuma tangan saya gatal saja pengen ngomentari artikel tersebut. Iya, dalam menilai memang jangan cuma melihat satu sisi saja, ada banyak sisi kok. Link hipweenya sudah saya perbaiki. Silakan kalau mau dikunjungi webnya. Hehe

      Delete
  3. Logika ini yang bener, yang pake hijab aja bisa dilecehin apa lagi yang nggak pake, bukan malah logika yang yang hijab juga dilecehin jadi mending nggak pake hijab,loh ini kok malah jadi masrahin diri

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup bener banget. Jadi harus pintar2lah berlogika bila mendapati artikel yg kontroversial seperti artikel tsb.

      Delete
  4. jarang buka hipwee saya. Itu web yang hits banget ya Mbak kayaknya..entar deh kalau luang waktu, pengen nengokin isinya. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Boleh mbak. Sempat mau dibahas juga di blognya hehe

      Delete
  5. namanya juga website hitz mbak, judulnya harus bombastis dan kontraversial dong biar banyak yang share. orang indonesia kan gitu asal judulnya seru main share-share aja. entah apa isinya gak peduli.

    tapi yag paling seru dari artikel begituan itu mantau komentar komentar yang pro dan kontra, beuhh debatnya idah ngalah ngalahin depat capres cawapres.
    the power of netizen haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha ia sih, nggak masalah judulnya dibikin kontroversial gitu tapi klu sampai nyinggung masalah jilbab yg kemudian disanding2kan dengan pakaian seksi menurut saya nggak etis saja.

      Delete
  6. Hmm... aku sering baca opini teman tentang catcalling, pelecehan dll baik yang nggak pake dan yang paje jilbab.
    Di saat perempuan brusaha meminimalisir fitnah, laki2 masih belum bisa menghargai perempuan, digodain dll.
    Jika perempuan selalu dituntut untuk menutup aurat supaya laki2 nggak nakal, kenapa nggak ada edukasi laki2 menjaga pikirannya supaya nggakbl kotor?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, ia yah perlu ada edukasi ya mbak. Biar perempuan nggak selalu jd korban.

      Delete
  7. ini semua salah laki laki. udah pokoknya lalki laki yag salah haha.

    ya gue juga sama khawatirnya sama lo. perempuan berhijab masih aja rawan. mungkin hijabnya kurang syari. jadi masih menarik perhatian. lagian cewek pake hijab malah tambah cantik, harusnya justru hijab kan untuk penahan, pengaman. yah gue berdoa moga aja enggak ada lagi kasus mengerikan itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha saya nggak menyalahkan laki2 kok.

      Wah iya yah perempuan pake jilbab malah makin cantik , makin menarik perhatian , mustinya kan jilbab dipake sebagai pelindung gitu tapi yah... hijab jaman now udah jadi bagian dari tren fashion n hijabstyle jd susah klu nggk menarik perhatian

      Delete
  8. wah aku dah baca tuh tapi bukan di hipwee sih, di postingan orang d fb. well mba, jaman sekarang udah susah banget ketebaknya, parah sih. yang jilbaban aja bisa jadi sasaran, pandai2 menjaga diri mba. masalah yg saksi itu aku setuju sama mba, tapi mungkin dia shock kyknya, mbo dibangunin atau teriak kek,sempet2nya foto. well balik ke pribadi masing2, penjagaan maksimal mba, insya Allah aman, aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ia. Jadi musti lebih ekstra hati2 yaak. Setuju juga sama Naufal. Balik ke pribadi masing2 untuk bisa menjaga diri dari fitnah dan tdk menjadi bagian dari menebar fitnah biar aman.

      Delete
  9. Ya... kalau mau saling menyalahkan tentu akan terus lempar-lemparan kesalahan. Bagiku pribadi sih yang penting bagaimana kita sebagai diri sendiri baik laki-laki maupun perempuan bersikap agar tidak terjadi pelecehan seksual dan semacamnya. Cowok ya tahan diri, cewe ya jangan terlalu 'mengundang' :)

    Oh iya, soal pernyataan ini, "Macam contoh kasus di atas. Ada beberapa poin yang perlu saya kritisi tanpa bermaksud menyalahkan individunya, sebab tanpa disalahkan pun menurut saya sikap keduanya memang salah." mbak bilang tidak ada maksud menyalahkan tapi di akhir mengatakan tanpa disalahkan sikapnya memang salah. Berarti menurut saya mbak di sini juga menyalahkan mereka :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju sama Rifqi, cowok ya kudu bisa tahan diri, cewe' ya jangan sampai mengundang ...

      Ia saya memang nggak bermaksud menyalahkan individunya kok, baik si bapak, si ibu paruh bayah itu atau si saksi mata... yang sy kritisi adalah SIKAPnya, jadi meski tanpa disalahkan pun memang sdh jelas sikap ketiganya salah, sikap si ibu yg teledor tidur di angkutan umum, sikap si bapak dengan pikiran bejatnya yg nggak bisa mengontrol diri dan sikap si saksi mata yg nggak ada tindakan melindungi si ibu ..

      Delete
  10. Hipwee emang sering kasih judul kontroversial. Tapi terlepas dari itu emang kita perlu berhati2 kalau keluar rumah tanpa mahram.
    Btw bener sih logikanya harus dibalik, yang pakai jilbab aja bisa jadi korban. Apalagi yg enggak. Waduh

    ReplyDelete
  11. Thanks for such a great chance! I love it!! Great author! Photoshop Online Alternative is a perfect alternative to Photoshop (Photoshop Online). With photoshop alternative you can add filters, frames, text, layers and effects. Create an amazing photo collage, card, facebook cover, twitter cover, instagram images, youtube channel or design graphics.

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa menginspirasi.