Mengenal Tujuh Jenis Persahabatan

By Siska Dwyta - 20:47



take picture in instagram

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Dulu saya menganggap sahabat lebih dari sebatas teman yang sering saya jadikan tempat curhat-curhatan gaje, yang kalau lagi bete', lagi baper, lagi galau, lagi jenuh, lagi ada masalah saya tumpahkan semuanya ke dia, yang kalau kemana-mana pasti ada dia yang kerap menemani langkah saya. Persahabatan kami ibaratnya kayak perangko dan amplop Lengketnya, nyaris tak terpisahkan.

Boleh dibilang sahabat juga menjadi orang terdekat selain keluarga. Bahkan tak jarang ada orang yang lebih terbuka dengan sahabatnya dibanding keluarga, lebih percaya dengan sahabatnya ketimbang orang tua dan saudara-saudaranya. Saking pentingnya sosok sahabat dalam kehidupan seseorang.

Tak heran bila Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah berkata ; “Tidaklah seorang hamba diberi kenikmatan yang lebih besar setelah keimanan dan keislaman, selain sahabat yang shalih. Maka apabila kalian mendapati sahabat yang shalih, peganglah ia erat-erat”

Etapi tunggu dulu. Yang dimaksud Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu adalah sahabat shalih bukan sahabat doang. Emangnya lo punya sahabat yang shalih(ah) atau paling tidak lo yang jadi sahabat shalih(ah) bagi sahabat lo. Eng ing eng. Kalau soal itu, entahlah. Pasalnya selama ini saya bersahabat ya bersahabat saja, tanpa mempertimbangkan shalih(ah) atau tidaknya sosok yang bakal jadi sahabat saya. Yang penting dia orangnya baik, akrab dengan saya, bisa memahami saya lebih 'dalem', asyik diajak curhat ngobrol, pendengar setia yang menyenangkan, bersedia berbagi suka dan duka together dan intinya harus ada kecocokan. Kalau saya udah merasa cocok ya saya bakal anggap dia sebagai orang yang layak jadi sahabat saya.


Meski dia nggak shalih(ah)?

Fyi, karena sahabat yang saya maksud adalah wanita, selanjutnya saya akan menggunakan kata shalihah.

Nah, itu dia saya juga bingung, emang indikator keshalihan seseorang bisa diukur ya? Well, daripada bingung mending kita analisis satu-satu mengenai jenis persahabatan yang pernah atau sedang kita jalin. Jadi beberapa waktu lalu saya menemukan artikel yang di-share di salah satu grup whatsApp (WA) yang sebenarnya lama sebelum beredar di grup WA saya pernah melihat artikel yang berjudul Tujuh Macam Persahabatan tersebut pertama kali ketika dijadikan caption di akun instagram @negeriakhirat.

Tujuh macam persahabatan yang dimaksud adalah ta'aruffan, taarrihan, ahammiyatan, faarihan, amalan, aduwwan dan hubban Iimaanan. Seperti apa saja ketujuh macam persahabatan tersebut, itulah topik yang hendak saya ulas namun dalam postingan ini kata macam akan saya ganti dengan penggunaan kata jenis. Maknanya sih sama saja. Yuk, kita simak bersama.

😊 Ta'arrufan

Persahabatan jenis ini adalah persahabatan yang terjalin karena pernah berkenalan secara (bukan) kebetulan. Jadi kalau kalian pernah bertemu dengan seseorang entah itu di halte, di ATM, rumah sakit, kantor pos, pasar, bioskop, bandara dll kemudian dari pertemuan tersebut kalian saling berkenalan, tukar nomor hape dan follow akun media sosial masing-masing, setelahnya berpisah namun komunikasi tetap lancar malah hubungan kalian makin erat terjalin maka itulah yang disebut ta'aruffan. Persahabatan yang berawal dari perkenalan yang tidak disengaja atau bukan kebetulan, sebab di dunia ini nggak ada namanya kebetulan, kan? Pertemuan yang nggak disangka-sangka itu Allah yang atur. Hmm, kalau saya sendiri nggak pernah mengalami persahabatan jenis ini. Soalnya saya bukan tipe orang yang gampang SKSD gitu. Paling kalau lagi berada di tempat publik saya kebanyakan diamnya, haha.

😄 Taarrihan

Ini adalah persahabatan yang terjalin karena faktor sejarah, misalnya karena satu kampung dan sama-sama merantau menempuh pendidikan di kota lain, atau satu sekolahan dari SD-SMA, satu almamater pula sehingga kalian menjadi begitu akrab atau karena pernah kost bersama, travelling bersama dan sebagainya. Pasti banyak yang menjalani persahabatan jenis ini. Termasuk saya, hehe. Iya, kayaknya jalinan persahabatan saya mulai dari SD hingga perguruan tinggi berawal dari basic history yang mendekatkan kami.

😕 Ahammiyatan

Jenis persahabatan yang satu ini didorong karena ada U dibalik B. Yup, ini adalah persahabatan yang terjalin karena faktor kepentingan tertentu, seperti bisnis, politik atau ada maunya. Wah, bahaya nih kalau kita punya sahabat model begini. Mending dibuang saja ke laut. Kalau kalian punya sahabat yang pas senang-senangnya saja dia ada, butuh-butuhnya saja baru dia datang, please, nggak usah berpikir seratus kali untuk melepaskan dia. Karena bersahabat dengan orang seperti itu hanya membangun hubungan simbiosis parasitisme. Bukannya untung kalian malah buntung gara-gara keseringan dimaanfatin sama dia. Setidaknya bila ingin menjalin persahabatan, carilah sahabat yang bisa membangun simbiosis mutualisme dengan kalian, contohnya kayak persahabatan burung jalak dan kerbau, hehe.

😉 Faarihan

Ini adalah persahabatan yang terjalin karena faktor hobi, semisal kalian hobinya sama-sama suka joging atau main badminton, sering olahraga bareng, diajak ngobrol tentang sports khususnya badminton juga nyambung sehingga kalian gampang akrab. Menemukan sahabat sejenis ini memang tidak begitu sulit sebab sejak awal telah ada kecocokan. Apalagi kecocokan itu menyangkut hobi dan passionnya kita. Macam persahabatan yang terjalin sesama blogger dalam suatu komunitas. Berawal dari kesamaan hobi menulis di blog jadi saling kenal, saling sharing satu sama lain hingga berlanjut dengan kopi darat. Lantas persahabatan jenis ini serta merta terjalin. Dan terbukti, banyak blogger yang menemukan sahabat baru karena hobi ngeblognya. Iya kan?

😁 Amalan

Kalau diantara kalian ada yang menjalin persahabatan karena sama-sama bekerja di suatu perusahaan, di kantor, sekolah atau di lapangan maka persahabatan kalian termasuk jenis ini. Yup, amalan adalah persahabatan yang terjalin karena satu profesi, misalnya sama-sama dokter, guru, dan sebagainya. Tidak sedikit pula yang membangun persahabatan sejenis ini, apalagi bagi mereka yang telah puluhan tahun bekerja di tempat yang sama. Selama dua tahun bekerja sebagai guru, saya baru menemukan satu orang yang akhirnya jadi sahabat saya karena profesi yang sama. Tapi sebenarnya saya agak susah dapat sahabat lewat amalan. Mengingat selama terjun di dunia kerja saya menjadi begitu pendiam, kaku dan nggak asyik diajak ngobrol. Soalnya yang jadi rekan kerja saya rata-rata umurnya terpaut belasan tahun lebih tua, malahan beberapa adalah guru saya sendiri yang pernah mengajar saya semasa sekolah. Masa' saya bersahabatnya dengan mereka? Eh, jangan salah. Persahabatan tidak mengenal umur. Sahabat-sahabat Nabi saja umurnya terpaut jauh lho? Hehe iya sih, tapi saya tipe orang yang lebih mudah bergaul dengan yang sebaya atau terpaut umur tidak sampai belasan tahun.

😠 Aduwwan

Ini adalah jenis persahabatan yang lebih berbahaya daripada ahammiyatan. Seolah sahabat tetapi musuh, di depan berlagak baik tetapi sebenarnya hatinya penuh benci, menunggu, mengincar kejatuhan sahabatnya.

“Bila engkau memperoleh nikmat, ia benci, bila engkau tertimpa musibah, ia senang” (QS 3:120)

Nau'dzubillaahi min dzalik waspadalah dengan jenis persahabatan ini. Sahabat yang demikian hatinya selalu disesaki iri dan dengki. Tidak suka melihat kebahagian kalian namun bahagia ketika kalian dalam keadaan berduka atau tertimpa musibah. Pura-pura baik di hadapan kalian tapi di belakang dia selalu menjelek-jelekkan dan membongkar aib kalian.

Agar terhindar dari jenis sahabat seperti ini Rasulullah shallallaahu 'alaihi wassalam mengajarkan doa, “Allahumma ya Allah selamatkanlah hamba dari sahabat yang bila melihat kebaikanku ia sembunyikan, tetapi bila melihat keburukanku ia sebarkan.”

😍 Hubbah Imaanan

Adalah sebuah ikatan persahabatan yang lahir batin, tulus saling cinta dan sayang karena Allah, saling menolong, menasehati, menutupi aib sahabatnya, memberi hadiah, bahkan diam-diam di penghujung malam, ia kerap mendoakan sahabatnya. Maa syaa Allah.

Ini adalah jenis persahabatan yang begitu didamba oleh setiap orang yang beriman. Menjalin persahabatan semata-mata karena Allah, bukan karena sebatas perkenalan dari pertemuan yang tak disengaja, bukan hanya karena sama-sama pernah satu sekolahan, karena ada maksud-maksud tertentu, bukan bersahabat hanya karena memiliki kesamaan hobi mau pun profesi, bukan pula bersahabat karena ingin tampak baik di depan saja namun di belakang begitu munafik. Ada niat yang harus kita luruskan dalam menjalin persahabatan. Bersahabatlah karena keimanan kita kepada Allah ta'ala.

Sebab dari ke 7 macam persahabatan di atas, 1 – 6 akan sirna di akhirat yang tersisa hanya ikatan persahabatan yang ke 7, yaitu persahabatan yang dilakukan karena Allah.

“Teman-teman akrab pada hari itu (kiamat) menjadi musuh bagi yang lain, kecuali persahabatan karena Ketaqwaan” (QS 43:67).

Catatan ini barangkali bisa menjadi reminder bagi kita khususnya bagi saya pribadi dalam menjalin persahabatan. Tentunya kita berharap, persahabatan yang kita jalin dengan sahabat-sahabat kita tidak berakhir di dunia namun berlanjut hingga ke surga-Nya. In syaa Allah.

So, sekarang bagi saya sahabat bukan sebatas tempat curhat atau tempat yang bisa menampung segala keluh kesah sahabatnya sebab i think, sebaik-baik tempat mencurahkan segenap perasaan dan seluruh keluh kesah kita hanya pada Ilahi. Selayaknya sahabat adalah seorang yang bersamanya kita menjadi dekat pada Allah, yang senantiasa menyemangati kita untuk tetap menapak di jalan kebenaran, yang selalu menularkan kebaikan kepada kita, yang tidak segan menegur bila kita melakukan kekhilafan, yang tak pernah lelah menasihati kita dalam kesabaran. Barangkali sahabat-sahabat yang seperti itulah yang tergolong sahabat shalih seperti yang dikatakan Umar radhiyallahu 'anhu.

Sahabat yang demikian, adakah kalian memilikinya? Kata Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu jika kalian memiliki sahabat yang shalih, jangan pernah lepaskan. Genggam mereka erat.

Sebab kenapa?

“Perbanyaklah sahabat-sahabat mu'min-mu, karena mereka memiliki syafa'at pada hari kiamat” demikian pesan Hasan Al Bashri

Dalam suatu riwayat diterangkan bahwa : Apabila penghuni Surga telah masuk ke dalam Surga, lalu mereka tidak menemukan sahabat-sahabat mereka yang selalu bersama mereka dahulu di dunia, mereka bertanya tentang sahabat mereka itu kepada Allah  ta'ala

“Yaa Rabb, kami tidak melihat sahabat-sahabat kami yang sewaktu di dunia, shalat bersama kami, puasa bersama kami dan berjuang bersama kami.”

Maka Allah ta'ala berfirman;

“Pergilah ke neraka, lalu keluarkan sahabatmu yang di hatinya ada Iman walaupun hanya sebesar dzarrah.” (HR. Ibnul Mubarak dalam kitab "Az-Zuhd")

Ibnul Jauzi pernah berpesan kepada Sahabat-sahabatnya sambil menangis:

“Jika kalian tidak menemukan aku nanti di surga bersama kalian, maka bertanyalah kepada Allah ta'ala tentang aku, “Wahai Rabb Kami. Hamba-Mu fulan, sewaktu di dunia selalu mengingatkan kami tentang Engkau. Maka masukkanlah dia bersama kami di Surga-Mu.”
😭😭😭 

Pantaslah Umar radiyallaahu 'anhu mengatakan tidak ada nikmat yang lebih besar dari nikmat iman dan iman selain sahabat shalih.

Allaahu, karuniakan kami sahabat-sahabat yang shalih(ah).

*Catatan ini saya tulis dengan penuh rindu teruntuk sahabat-sahabatku dalam Lingkaran Shalihah (LiSha) di Bumi Cendrawasih, Serui-Papua. Kak Nita, Mbak Dewi, Ukh Rizqie, Ukh Dian, ukh Ani, ukh Dea, Ukh Rina plus Mbak Wulan, Ukh Teta dan Ukh Marsya yang baru bergabung di LiSha. Tak lupa Ummu Moyza dan Ummu Zaky yang menjadi lentera dalam lingkaran kami. Sungguh saya teramat rindu ingin melingkar (lagi) bersama kalian. Jarak yang kini terpaut semoga tak menjadikan hati-hati kita juga ikut terpaut. Semoga Allah berkenan mempertemukan kita kembali.
Ukhuwah fill jannah. In syaa Allah.

Baarakallaahu fiikum ukhtifillaah💕

#ODOPOKT5



  • Share:

You Might Also Like

2 comments

  1. Komplit ulasannya, Mbak..Terima kasih jadi dapat info seputar sahabat.

    Tapi ternyata tambah tua, makin sedikit sahabat saya..apa memang begitu ya...:D

    ReplyDelete
  2. Naudzubillah dapat sahabat Ahammiyatan
    laknatullah, harus dirukyah itu

    semoga saya dapet sahabat2 yang baik biar ikutan baik juga seperti sahabat2 Rasulullah, amin

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa menginspirasi.