Merekam Monumen Cinta Sejati Habibie Ainun

By Siska Dwyta - 21:06



latepost
Bismillaahirrahmaanirrahiim

"Aku bukan hendak mengeluh
Tapi rasanya terlalu sebentar kau di sisiku

Mereka mengira

Akulah kekasih yang baik bagimu sayang

Tanpa mereka sadari

Bahwa kaulah yang menjadikanku kekasih yang baik

Mana mungkin aku setia 

Padahal kecenderunganku adalah mendua

Tapi kau ajarkan aku kesetiaan hingga aku setia

Kau ajarkan aku arti cinta sehingga aku mampu mencintai seperti ini"


Kata suami saya boleh posting picture ini dengan catatan harus mengunggahnya beserta dengan tulisan sebanyak 100 kata. Aih, jangankan 100 kata. Lebih dari 1000 kata pun jadi. Sebab tak kan habis kata-kata yang mampu saya tuangkan bila menyangkut cinta apalagi tentang cintaku padanya yang tumbuh pertama kali tepat saat ia berhasil dengan lantang mengucapkan lafaz ijab kabul. Lalu setelahnya kian detik yang saya lalui bersamanya adalah cinta. *eaa

Kesetiaan lelaki yang telah sah menjadi pasangan hidup saya sejak April lalu memang belum seberapa dibanding kesetiaan seorang Habibie kepada Ainun. Pernikahan kami bahkan belum menggenap setengah tahun, tentang setia kami belum ada apa-apanya namun berbicara cinta, sungguh sudah selaksa cinta yang memenuhi relung hatiku semenjak hidup bersamanya.

Sampai di sini saja, tulisan saya sudah lebih dari seratus kata belum ditambah dengan puisi BJ Habibie yang ditulis saat mengenang 100 hari wafatnya sang istri yang sengaja saya kutip sebab postingan ini terinspirasi dari kisah cinta mereka yang menyejarah. Sampai-sampai diabadikan oleh Pemerintah Kota Parepare dengan membangun patung Habibie Ainun yang kemudian dikenal dengan Monumen Cinta Sejati Habibie Ainun.

Entah sudah berbilang kali suami membawa saya melewati monumen ini dan selalu mengulang pertanyaan yang sama.

"Mau ki singgah?" Tanya suami dengan logat Makassar, selalu saya tanggapi pula dengan dua kata. "Ndak ji".

Entah kenapa pula semenjak menikah kenarsisan saya perlahan mulai menurun hingga drastis. Tidak gifo seperti saat masih melajang dimana saya doyan banget berpose dengan kamera depan, sedikit-sedikit jepret-delet, jepret-delete, jepret-delet sampai dapat hasil yang terbaik, diedit sedemikian rupa baru di-upload ke semua akun media sosial. Ups!

Monumen Cinta Sejati Habibie Ainun yang terletak di tengah jantung kota Parepare, kota tempat hijrah saya ikut suami ini memang kerap ramai dikunjungi masyarakat setempat. Monumen ini dibangun sebagai kado di hari pernikahan Habibie dan Ainun  ke-53. Menurut wikipedia monumen ini dibangun untuk mengenang kisah cinta presiden ketiga Republik Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie kepada istrinya, Hasri Ainun Besari sekaligus untuk menginspirasi warga Parepare. Tak heran bila dalam jangka waktu singkat Monumen ini menjelma icon kota Parepare. Maka tidak sedikit pula masyarakat dari luar kota Parepare menyempatkan berkunjung ke Monumen ini untuk mengabadikan momen. 

Nah, baru ahad pagi itu saat pergi jogging dengan kostum macam ke mall, hihi - orang-orang larinya pake sepatu olahraga, saya dan suami santai berlari dengan sendal - mengelilingi lapangan Andi Makkassau hingga tiba di salah satu sudut lapangan yang merupakan tempat berdirinya Monumen Cinta Sejati Habibie Ainun barulah saya tergelitik untuk berfoto sebentar.

Saat berpose seperti itu sempat terlintas di benak saya seperti apa cinta sejati? Akankah cinta sejati itu layaknya kisah  cinta Habibie dan Ainun. Ketika salah satunya berpulang lebih dahulu maka pasangan lainnya akan tetap menyetia. Atau adakah cinta sejati di dunia ini?

Terlepas dari cinta sejatinya Habibie Ainun, i think sejatinya cinta adalah kepada Ilahi. Sebab semua cinta yang ada di dunia ini fana hakikatnya. Kecuali kecintaan kepada dan hanya karena Allah yang pastilah kekal hingga ke azali.

Akhirat yang kekal pun belum tentu menyatukan cinta yang tumbuh di dunia. Sebab di akhirat, masih ada surga dan neraka. Maka cinta yang tumbuh diantara sepasang insan dikarenakan kecintaan kepada Allah-lah yang menghantarkan keduanya sampai ke surga. Itulah hakikatnya cinta sejati. So, menurut saya cinta sejati bukan sebatas cinta dunia-akhirat. Melainkan cinta, sehidup-sesurga.

Sabda Rasul; kelak seseorang akan bersama dengan orang yang dicintaimya.

Dalam hadits riwayat Anas, Nabi bersabda: 

أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

Artinya: Engkau bersama orang (atau golongan) yang engkau cintai.

Dalam sebuah hadits sahih (menurut Al-Mundziri) riwayat Tabrani dari Ali, Nabi bersabda:

وَلَا يُحِبُّ رَجُلٌ قَوْمًا إِلَّا حُشِرَ مَعَهُمْ

Artinya: Seseorang tidak akan mencintai suatu kaum kecuali akan dikumpulkan bersama mereka.

Jadi, bila kita mencintai Allah, kita mencintai Rasul-Nya, mencintai pasangan kita karena Allah, orang tua kita karena Allah, anak-anak kita karena Allah, saudara-saudara kita karena Allah, sahabat-sahabat kita karena Allah, atau siapapun yang kita cintai karena Allah, pastilah Allah akan mengumpulkan kita dengan mereka oleh sebab Allah menjadi satu-satunya alasan kita mencintai. Itulah hakikatnya cinta sejati. Cinta yang menghantarkan kita ke keabadian, yakni di surga.

Sebab kesetiaan saja tidak menjamin seseorang dapat bertemu kembali dengan yang dicintainya di surga.

Maka bila mencinta, cukuplah Allah yang menjadi alasannya. *note to my self

Well, seperti apa cinta sejati menurut kalian? Share di kolom komentar, yuk :)

#ODOPOKT6

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa menginspirasi.