Pasca Wisuda Ingin Jadi IRT, Lima Hal Ini Alasannya

By Siska Dwyta - 22:41

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Baca dulu Istri Rumah Tangga

Empatpuluhenam hari pasca akad nikah setelah sebelumnya sempat long distance married hampir sebulan penuh saya akhirnya beneran hijrah, ikut suami, beranjak dari dunia yang saya huni bersama orang tua menuju dunianya eh maksud saya dunia yang akan akan kami huni bersama di sepanjang hidup. Dunia yang bernama rumah tangga.

Dan di sinilah saya sekarang. Masih di pondok rumah mertua indah, hehe. Idealnya bagi sepasang insan yang telah menggenap, hidup berdua seatap tanpa numpang di rumah ortu atau mertua adalah pilihan yang terbaik. Rencana awal kami sih begitu. Namun, qadarullaah setelah proses pernikahan berlangsung, banyak hal-hal di luar rencana kami yang terjadi. Apalah daya manusia, cuma pandai berencana Allah jua yang menentukan. But no problem, sejauh ini saya betah dan adem-adem saja tinggal bareng mertua.

Nah, ngomong-ngomong soal hidup wanita yang yang semasa lajang eksis berkarir namun ketika berstatus sebagai Istri berubah drastis menjelma wanita rumahan, i know, bukan cuma saya seorang, di luar sana banyak wanita yang juga memilih pilihan yang sama. Melepaskan dunianya. Resign dari pekerjaan, pindah ikut suami lantas bergelut dengan pekerjaan rumah tangga yang mungkin bagi kebanyakan orang masih dipandang sebelah mata.

Hmm saya juga termasuk orang yang memandang sebelah mata wanita yang kerjanya cuma sebagai IRT. Tapi itu dulu. Dulu waktu saya belum tahu dan memahami betapa mulianya pekerjaannya seorang istri, lebih-lebih yang merangkap sebagai ibu. Sekarang nggak lagi, ding. Malah saya yang ngotot pengen jadi IRT. Serius!

Dulu mah kayaknya wajar-wajar saja sih, banyak wanita yang level tertingginya hanya bisa meraih gelar IRT sebab menemukan wanita yang kuliah sampai di perguruan tinggi masih langka. Syukur-syukur bila ada wanita yang bisa menyelesaikan pendidikannya hingga tamat SMA/SMK (jaman orang tua saya sebutannya masih SMU/SMEA). Kebanyakan pendidikannya berakhir sampai di jenjang SD atau SMP.

Now, rata-rata wanita di Indonesia menempuh pendidikan sampai di perguruan tinggi dan telah menyabet gelar sarjana sehingga tidak lazim alias tidak wajar di mata orang-orang melihat wanita yang sekolah tinggi-tinggi tapi ujung-ujungnya memilih kerja di rumah.

Kalau cuma mau jadi IRT ngapain kuliah? Tidak sedikit pula yang berceletuk demikian ketika mendapati wanita-wanita bergelar sarjana yang hari-harinya bergelut di dapur.

Eits, jangan salah kira lho. Pasca wisuda saya baru menemukan cita-cita saya yang sebenarnya. Berbeda dengan teman-teman seangkatan pada umumnya, yang setelah menerima ijazah ada yang langsung melamar pekerjaan di sekolah, ada yang daftar cpns, ada pula yang memilih mendaftar kuliah pascasarjana. Lha saya? Cari kerja, nggak. Daftar cpns, nggak. Lanjut S2 juga nggak minat. Pengennya jadi IRT. Hehe


Alhamdulillaah, cita-cita saya menjadi IRT akhirnya baru tercapai setelah dua tahun lebih saya menyandang gelar sarjana pendidikan. Jujur saja, saya memang nggak pernah bercita-cita menjadi guru. Takdirlah yang membawa saya menempuh pendidikan di fakultas yang mencetak calon-calon guru. Takdir pula yang menuntun saya sehingga menjadi guru sungguhan.

Jadi setelah menyelesaikan sarjana strata satu saya memutuskan balik ke kampung kelahiran dan sempat menjadi guru di sana, namun pilihan untuk menjadi tenaga pengajar di sekolah pun sebenarnya bukan prioritas. Jodoh yang menjemput belum menunjukkan tanda-tanda akan segera datang sementara orang tua menghendaki anaknya kerja yowes, saya dengan senang hati memenuhi kehendak ortu, lumayanlah bila kerja saya bisa nambah-nambah penghasilan buat tabungan nikah daripada nganggur, lagipula saya malu sudah punya ijazah sarjana tapi masih minta-minta uang sama ortu. Malah seharusnya giliran saya yang ngasih uang ke ortu.

Beda halnya dengan kondisi saya saat ini yang nggak perlu malu minta uang sama suami toh memang itu hak saya dan sudah menjadi kewajiban suami memberi uang kepada istrinya meski tanpa diminta. Uang suami kan uang istri juga. Hoho. Saya juga nggak bakal malu kalau-kalau dilabeli sebagai pengangguran hanya karena saya tidak memanfaatkan ijazah untuk cari kerja di luar sana. Hallowww, IRT juga termasuk pekerjaan lho. Pekerjaan yang sangat mulia malah. Digaji langsung sama Allah. Gajinya sering dititipkan ke suami tapi kadang suka datang juga dari arah yang tak disangka-sangka.

Well, karena sejak awal bekerja sebagai guru bukan prioritas so that saya nggak terlalu berat menanggalkan pekerjaan yang baru saya rintis selama kurang lebih dua tahun. Terpaksa meninggalkan murid-murid yang telah saya ajar dan didik itu yang sedikit lebih berat. Berasa masih belum maksimal dan berhasil membimbing mereka dengan sangat baik kemudian saya sudah harus pergi saja.

But it's my choice, sejauh ini saya cukup bahagia kok dengan pilihan sebagai Istri Rumah Tangga, meski dengan begitu banyak hal yang telah dan harus saya korbankan. Sama halnya dengan mereka yang memilih tetap berkarir setelah menikah, pasti banyak pula yang mereka korbankan. Demikianlah hidup, kita selalu dihadapkan dengan pilihan-pilihan dan setiap pilihan pasti punya konsekuensi. Namun seberat apa pun konsekuensinya, hadapi saja dengan senyum :)

take picture ini instagram

Tapi kan lo belum punya momongan, belum sibuk-sibuk amat, peluang untuk berkarir pun masih terbuka lebar, ketimbang waktu luang lo banyak terbuang sia-sia di rumah, apa salahnya cari kerja dulu?

Eits, siapa bilang waktu saya banyak terbuang sia-sia dengan pekerjaan sebagai a full wife time at home. Justru dengan tinggal di rumah saya merasa waktu saya lebih produktif. Kok bisa?

Nah di postingan kali saya bakal share tiga alasan saya yang tanpa pikir panjang lebih memilih menjadi IRT ketimbang wanita karir, barangkali bisa dijadikan alasan juga bagi kalian yang ingin jadi IRT.

😄 Alasan Pertama



Ini alasan utama, kenapa pasca wisuda saya lebih minat jadi IRT ketimbang daftar cpns, lanjut S2 atau melamar pekerjaan. Yup, karena saya pengen masuk surga lewat jalan yang simple, meski simple di sini bukan berarti mudah. Tapi setidaknya Rasulullaah shallaallaahu 'alaihi wassalam telah menjamin setiap wanita yang shalat lima waktunya tepat waktu, berpuasa di bulan ramadhan, menjaga dirinya dan menaati suaminya boleh masuk surga dari pintu mana pun yang dia inginkan. Maa syaa Allaah, cuma empat syarat. Simple, kan? Tapi syarat terakhirnya itu lho. Eng ing eng. Artinya saya harus jadi istri dulu baru bisa memenuhi syarat yang keempat.

Alhamdulillaah sekarang saya sudah jadi istri rumah tangga, meski belum diberi amanah menjadi seorang ibu dan tidak bekerja di luar rumah alias wanita karir, sebenarnya bukan masalah, toh kedua hal tersebut tidak masuk dalam syarat di atas. Oke, nggak jadi wanita karir bagi saya nggak masalah, prioritas saya kan memang pengennya jadi IRT, tapi kalau masalah baby, wanita mana sih yang setelah menikah tidak mendamba buah hati, hehe sabar yaak.

Oh ya, nilai plusnya seorang wanita yang bekerja di rumah. Bisa lebih optimal dalam beribadah. Shalat lima waktu tepat waktu. Ngajinya minimal sehari se-juz. Dhuha lancar dijalankan, dll. Dengan tinggal seharian di rumah saya sungguh ingin rutin meningkatkan kualitas ibadah saya meski sampai detik ini ibadah saya masih terseok-seok, hiks. Di dalam rumah saja, ibadah saya masih tersendat-sendat apalagi bila bekerja di luar rumah. Ah, semoga dunia tidak melalaikan diri.

😄 Alasan Kedua

take picture ini instagram

Ini alasannya mungkin klasik banget atau agamis banget kali yee. Whateverlah Saya hanya merasa hidup di jaman ini godaannya berat banget, kemana pun melangkah saya seolah seperti menebar fitnah dimana-mana. Atau mungkin ini perasaan saya saja. Entahlah. Apalagi setelah menikah dan hijrah ikut suami tinggal di kota yang sungguh asing. Sudah lima bulan dan saya sama sekali belum hapal seluk beluk jalan yang ada di kota tempat tinggal saya sekarang.

Walau tiap weekend suami kerap mengajak saya jalan-jalan keliling kota, tetap saja saya belum mengenali kota ini dengan baik. Bila suami siap mengantar jemput mungkin pilihan untuk bekerja di luar rumah masih bisa saya pertimbangkan namun karena suami juga bekerja di kota yang berbeda otomatis bila saya bekerja di luar rumah, pergi dan pulangnya nanti bakal naik angkot sendiri. Well, saya tidak ingin mengambil risiko keluar rumah tanpa disertai mahram. Nanti kalau saya tersesat gimana? saya kan belum tahu nama-nama jalan di kota ini, hehe


Gampang kan ada google maps. Iya sih, tapi untuk lebih amannya selama waktu yang tidak bisa saya tentukan mending saya cukup bekerja di rumah saja dan menjalani sunnah Nabi. Menjadi wanita rumahan sebab sebaik-baik hijab seorang wanita kan adalah rumahnya.

😄 Alasan Ketiga

credit
Sejujurnya dibanding menjadi guru saya lebih tertarik dengan pekerjaan yang berkaitan dengan dunia menulis. Sayangnya sampai detik ini, skill menulis saya masih gini-gini saja, masih sebagai penulis amatiran yang belum mampu menghasil karya apa-apa. Lalu semenjak menjadi guru, entah bagaimana mulanya aktivitas menulis saya mulai memudar. Alasannya sok sibuklah hadapi murid-murid ditambah sok sibuk berkutat dengan segudang tugas yang berkaitan dengan proses belajar mengajar di sekolah sehari-hari. Iya sih, sebenarnya ketika itu saya masih suka menulis. Di Facebook, di IG, di Line. Tapi di blog? Saya hiatus dalam rentang waktu yang cukup lama. Padahal sejauh ini, satu-satunya media sosial yang menunjang saya produktif dalam menulis hanya di blog.

Nah, sebelum berumah tangga sebenarnya saya sudah lebih dulu menargetkan bila cita-cita menjadi IRT kesampaian saya ingin fokus menulis. Bila tidak kesampaian menulis buku setidaknya saya bisa kembali aktif menulis di blog. Alhamdulillaah target saya itu akhirnya terwujud.

Selagi masih menjadi seorang istri yang belum dikaruniai momongan, banyaklah waktu luang yang bisa saya pergunakan untuk ngeblog. Temasuk dengan ikut program ODOP yang diadakan oleh komunitas Blogger Muslimah yang belum sebulan saya join di dalamnya.

Barangkali bila saat ini saya masih sibuk bekerja sebagai guru, jangankan ikut program ODOP, posting tulisan di blog sekali sebulan saja masih tanda tanya besar. Bersyukur dengan jadi IRT hati saya dapat panggilan untuk kembali ngeblog, saya merasa mendapat percikan semangat baru sehingga berani menerima tantangan menulis satu hari satu postingan selama sebulan.

Selain itu, aktivitas menulis di blog juga bikin waktu luang saya sebagai IRT jadi produktif, nggak terbuang sia-sia kok. Saya kan nulisnya postingan-postingan yang mudah-mudahan bermanfaat dan menginspirasi bagi orang lain khususnya jadi reminder bagi diri pribadi yaa walau tulisan-tulisan saya masih alakadarnya dan acak adut sih.

Eniwei banyak blogger yang statusnya emak-emak rumahan atau Ibu Rumah Tangga yang dengan aktivitas ngeblognya mereka mampu menghasilkan uang dengan nominal yang lumayan menggiurkan lho. Ada yang mendapat penghasilan dari tawaran kerjasama sebagai sponsored post, review product, dll ada pula yang menang lomba blog yang hadiahnya jutaan rupiah. Jadi siapa bilang IRT yang kerjanya di rumah nggak bisa menghasilkan uang? Buktinya coba deh intipin blog emak-emak blogger dan baca pengalaman mereka mengumpulkan pundi-pundi uang dari aktivitas blogging.

Duh, saya juga jadi tergiur pengen ikutin jejak mereka, dapet penghasilan dari ngeblog, tapi karena sekarang status saya kembali sebagai blogger newbie, saya masih perlu belajar lebih banyak lagi dan meningkatkan kualitas konten dari blog yang saya kelola ini. Yap, yang penting saya harus istiqomah dulu ngeblognya, jangan sampai hiatus lagi, hihi. Kan sudah ada suami yang ngedukung *eh

Sekian dulu postingan untuk hari ini. Bila berkenan, silakan tinggalkan jejak di kolom komentar.

#ODOPOKT4



  • Share:

You Might Also Like

6 comments

  1. Betul, Teh, kalau di rumah itu bisa lebih optimal beribadah, dan tentunya mendoakan sang suami agar selalu dimudahkan dalam segala urusannya..

    Betul juga asalan di atas, semoga bisa diambil pelajarannya bagi perempuan yang baca ini. Semoga istiqomah dengan apa yang dipilih ya, Teh, termasuk istiqomah dalam menulisnya..

    Dan, semoga segera dikasih momongan.. aamiin..

    ReplyDelete
  2. wah hebat ya mbak dari awal udah bercita-cita amat mulia. menjadi ibu rumah tangga. Apalagi kalau nanti sudah punya anak, waktu dan kasih sayang untuk buah hati lebih optimal. waktu mendidik dan membesarkan buah hati lebih full time.

    kata siapa di rumah aja itu gsk banyak kerjaan. malah capeknya sama aja dengan beraktifitas di luar. masak, bersih bersih, bikin-bikin makanan sehat dan higienis buat sumai tercinta, ya kan mbak hehe

    ReplyDelete
  3. Setuju banget kak, meskipun di rumah bukan berarti ga ada yang dikerjain tapi justru malah semakin prokduktif.

    Kalau saya juga pengennya kalau udah nikah nanti di rumah aja dan lebih produktif menulis. Eh tapi sekarang pekerjaan saya juga udah menyenangkan sih dan masih seputar dunia menulis cuma nulisnya di kantor, hehehe...

    ReplyDelete
  4. duh baper deh baca ginian. hahaha, soalnya lagi ngeber ngebetnya nich. wkwkw.

    masyaallah, wanita memang istimewa yah. cuma diem di rumah dan menaati suami aja bisa masuk surga dengan begitu gampangnya. memang, perempuan sangatnlah istimewa.

    coba ibu maksimalkan kemampuan menilis. bisa juga kerja dari rumah sebagai irt. itu pasti seru. atau memiliki bisnis yang bisa dijalanin dari rumah. :D

    ReplyDelete
  5. Sekarang emang banyak banget emak-emak Blogger yang eksis.
    Selai jadi IRT mereka juga bisa ngasilin duit dari ngeblog.
    Ayo ka ikuti jalan emak-emak itu haha.

    Btw, pilihan ka siska fulltime jadi IRT itu sudah sangat bagus loh.
    Jarang-jarang yang punya prinsip seperti itu.

    ReplyDelete
  6. Semangat ya mbak nulisnyaaa hehe, semoga bisa istiqomah. Sekarang sudah banyak pekerjaan yang bisa remote, aku juga masih prepare supaya bisa kerja remote meskipun belum berkeluarga. Pengen bisa dekat sama Ibu ehehe.. jd bisa sambil bantu2 di rumah.

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa menginspirasi.