Pengalaman Pertama ke Kondangan Bareng Suami

By Siska Dwyta - 22:41

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Selama ini saya paling anti ke kondangan sendiri, selain karena bawaannya suka nggak pede, saya juga susah SKSD (sok kenal sok dekat) yang jangankan sama orang baru, sama orang yang sudah lama kenal saja masih sering kaku dan terkesan dingin, hehe. Tahu kan type introvert aslinya kayak gimana?

So, dibanding memikirkan gaun yang bakal dikenakan, saya lebih sibuk mencari teman yang bisa diajak ke kondangan bareng. Kalau nggak dapet teman ya mending nggak usah ke kondangan daripada pergi tanpa gandengan, bahaya! Bisa bikin saya baper tingkat langit, hihi.

Syukurnya, ketika mulai kebanjiran dapet undangan nikah dari teman-teman seangkatan, saya emang nggak pernah pergi ke kondangan sendirian. Kadang ditemani sama papa kalau lagi dapet undangan yang sama (satu dialamatkan atas nama papa, yang satu dialamatkan atas nama saya) atau paling sering saya ngomporin teman sesama singlelillaah agar mau diajak ke kondangan bareng, soalnya teman yang langganan saya ajak sering ogah-ogahan karena masalah style ke kondangan. Doi suka dipusingkan dengan pertanyaan-pertanyaan macam gini. Mau pake gaun apa? kerudung model apa? Tas yang gimana? Pake wedges or high heels ? Make upnya gimana? dan bla... bla... bla..

Well, saya juga kadang suka dipusingkan dengan pertanyaan-pertanyaan macam gitu karena nggak punya banyak koleksi atribut yang biasa dipake kaum hawa ke kondangan, yang ada pun nggak lengkap. But whateverlah, yang penting sudah dapet teman yang bisa diajak pergi bareng dulu. Kalau belum dapet ngapain saya pusing-pusing mikirin masalah style ke kondangan toh saya juga nggak mungkin mau pergi sendiri, hehe.

Nah, semenjak menikah saya nggak perlu pusing-pusing lagi cari teman yang bisa diajak ke kondangan karena tanpa diajak pun sudah ada lelaki yang setia mengajak saya ke mana pun saya mau, termasuk ke kondangan nikah. Dan karena ini pengalaman pertama saya ke kondangan bareng pasangan halal pastinya berkesan pake banget jadi saya sengaja mengabadikannya di kamar kenangan ini, biar bisa dikenang sewaktu-waktu gitu, mhuahaha.

Jadi ceritanya waktu itu (kurang lebih sepekan lalu) ada keluarga dari pihak suami yang melangsungkan acara pernikahan. Akadnya berlangsung pada pagi hari sementara resepsinya diselenggarakan malam hari. Karena suami kerja di luar kota yang jarak tempuhnya sekitar se-jaman dari rumah mertua (tempat kami menetap sementara) dan biasa menjelang maghrib baru sampai di rumah sehingga kami berencana perginya di malam resepsi.

Pas hari H, saat hendak pulang tidak disangka-sangka hujan di kota tempat suami bekerja turun dengan derasnya akibatnya suami nggak bisa pulang tepat waktu. Padahal seharusnya kami berangkat ke resepsi ba'da Isya paling lambat pukul delapan malam, tapi jam segitu suami baru tiba di rumah. Aih, saya sudah pesimis duluan. Mengira rencana kami ke kondangan kemungkinan batal selain karena waktu telah menunjukkan lewat dari pukul delapan, saya dan suami ternyata nggak punya atribut yang cocok dipake ke kondangan.

Yap, karena kami cuma numpang di rumah mertua. Barang-barang saya dan suami kebanyakan masih tertinggal di kosan kami di kota Daeng. Mulai dari kemeja batiknya suami, sepatu pantofelnya, pakaian yang biasa saya kenakan ke kondangan, dll semua masih di sana. Dan alamaaaakk bahkan lipstik dan bedak foundation saja saya nggak punya. Waktu lebaran idul adha kemarin tercecer entah dimana dan saya belum sempat beli setelahnya. Dasar dari sononya saya emang nggak pintar make up jadi nggak pernah punya perlengkapan make up yang lengkap. Hihi

Kebayang nggak, gimana saya bisa pergi ke kondangan maksud saya kami (saya dan suami) dengan kondisi yang seperti itu. Tapi dengan pedenya suami meyakinkan saya untuk tetap pergi meski dengan atribut seadanya. Suami dengan setelan kemeja coklat bergaris yang dipadukan dengan celana kain hitam sementara saya dengan setelan gamis set berwarna hazelnut yang sudah sering saya pakai jalan-jalan. Sendal yang kami pakai juga cuma sendal jalan-jalan. Duh.

Kalau kalian yang mengalami kondisi kayak saya, kira-kira bakal memilih tetap nekat pergi ke kondangan atau mending di rumah saja daripada malu-maluin?

Lelaki mah style-nya simple. Nggak rempong kayak perempuan. Cukup sisiran. Beres. Kalau perempuan? Ke kondangan pake pakaian biasa, nggak make up pula, apa kata dunia?

Etapi saya nggak peduli apa kata dunia, yang penting apa kata suami. Suami bilang yes ya saya yes-yes saja. Suami bilang no ya saya no-no juga. Jadi sebelum memutuskan pergi atau tidaknya ke kondangan malam itu, saya minta pendapat suami dulu mengenai style saya yang alakadarnya. Wajah saya pun cuma bertabur bedak baby dan bibir yang cuma diolesi lipbalm tanpa lipstik. Masa' iya saya ke kondangan dengan penampilan seperti itu?

Lagi-lagi suami meyakinkan plus menenangkan hati saya yang diliputi kebimbangan. Kata suami yang penting pakaian yang kita kenakan rapi dan bersih. Riasan yang memoles wajahmu sudah oke kok. Nggak perlu dandan yang berlebihan nanti jadi pusat perhatian. Begitu kata suami. Saya cuma ngangguk-ngangguk mengiyakan.

Benar juga sih apa yang dibilang suami. Lalu saya jadi mikir, ngapain juga saya make up? Mau ditunjukkin ke siapa? Mau pamerin ke siapa? Mau tampil cantik di hadapan siapa?


Alhasil kami jadi pergi ke kondangan dengan style yang tak biasa. Iya, tak biasa dari style umum yang biasa dikenakan orang-orang ke kondangan. Pasangan yang lain tampak gagah dan anggun dengan pakaian couple-nya sementara saya dan suami? Haha skip saja. Nggak usah bayangin gimana penampilan kami ke kondangan dengan style yang kalau diingat-ingat bikin saya pengen ketawa geli bukan karena lucu atau memalukan tapi karena terasa begitu manis.

Eniwei ada beberapa point yang bisa saya petik dari pengalaman pertama ke kondangan bareng suami yang semoga bisa jadi reminder bagi saya pribadi dan bisa menginspirasi siapa saja.

1. Berhiaslah selalu untuk suamimu, jangan pernah ada niatan ingin berhias karena ingin cantik di hadapan orang lain sebab yang paling berhak atas kecantikan seorang istri hanya suaminya.
2. Be our self! Percaya diri. Berani tampil beda. Nggak usah membanding-bandingkan style kita dengan style orang lain atau style pasangan kita dengan style pasangan orang lain.
3. Abaikan pandangan orang lain karena yang terpenting adalah kita di mata Allah dan kita di mata suami.
4. Tempatkan malu pada tempatnya. Tetap jaga malu asal jangan malu-maluin. Lagian apa salahnya ke kondangan dengan style yang teramat sederhana. Yang penting rapi dan bersih kan?
5. Selalu jaga kehormatan suami. Bukan berarti nggak boleh berhias bila ke luar rumah, tapi kalau budaya istri berhias ke kondangan menjadi parameter yang mengangkat martabat seorang suami maka berhiaslah. Seperlunya saja. Jangan sampai mengundang fitnah.

Kalau ada tambahan poin yang bisa kalian petik dari postingan saya kali ini, silakan tinggalkan di kolom komentar. Sekian :)

#ODOPOKT12

  • Share:

You Might Also Like

1 comments

  1. Hihi...kalau suami saya ajaib lagi. Dia gak suka saya pakai make up. Jadi saya jarang banget berhias diri

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa menginspirasi.