Tuhan Selalu Tahu yang Terbaik Buat Hamba-Nya

By Siska Dwyta - 23:22

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Ketika masih lajang saya punya satu keinginan besar yang saya ingin Allah segera perkenankan. Menikah pasca kuliah. Paling tidak di umur duapuluhtiga, sebab di umur duapuluhdua saya baru menanggalkan status sebagai mahasiswi, sementara proses menuju pernikahan tentu butuh waktu yang tidak sebentar, lagipula saat itu saya masih belum punya calon. Ya, minimal setahunlah untuk mempersiapkan segalanya.

Setahun kemudian berlalu, sahabat-sahabat di sekeliling saya udah pada nikah, udah ketemu jodohnya masing-masing. Malah yang lulus kuliahnya baru beberapa bulan setelah saya dengan gesit berhasil melambung kiri. Bersanding di pelaminan dengan jodohnya lebih dulu. Ah, padahal saya kan yang duluan wisuda, kenapa dia yang duluan nikah. Begitu celetuk saya dalam hati.

I know, jodoh bukan perkara siapa yang duluan dia yang dapat. Jodoh adalah perkara waktu. Seperti saya pernah menuliskannya di kamar kenangan ini bahwa Takdir Tuhan Pasti Datang di Waktu yang Tepat. Entah kapan waktu yang tepat itu? wallaahu a'lam.

Duapuluhtiga berlalu, sahabat saya yang menikah di umur yang saya targetkan atau di tahun yang saya rencanakan jumlahnya bertambah sedang saya masih sendiri. Masih belum punya calon. Masih belum ada tanda-tanda bakal segera nikah. Tapi saya tetap yakin, Allah pasti ulurkan jodoh yang tepat bagi saya di waktu yang tepat. Kalau di umur duapuluh tiga saya belum juga nikah ya berarti memang itu bukan waktu yang tepat bagi saya atau kalau pun saya ngotot menikah di umur segitu barangkali ketemunya jodoh yang nggak tepat. Bisa saja seperti itu.

Dan ternyata benar. Berulang kali saya ikhtiar menjemput jodoh berulang kali pula proses ikhtiar saya itu terhenti bahkan sebelum tiba di tengah jalan. Pasti ada-ada saja halangannya. Karena inilah, itulah, entahlah. Tapi lagi-lagi saya tetap menaruh keyakinan yang tinggi. Jika proses yang saya jalani selalu gagal berarti saya memang berproses dengan orang yang tidak tepat, orang yang tidak ditakdirkan menjadi jodoh saya. Boleh jadi seperti itu. Namanya manusia kan cuma sanggup mengerahkan ikhtiar semaksimal mungkin. Allah yang menentukan. Selebihnya kita cukup bertawakal. Memasrahkan diri secara totalitas kepada kehendak-Nya.

Saya sungguh telah berada di titik pasrah ketika Allah sekonyong-konyong menghadirkan lelaki yang mengutarakan niat baiknya lewat perantara teman kuliahnya yang kemudian disampaikan ke saya lewat istrinya yang ternyata adalah teman saya semasa kuliah. Maa syaa Allah. Begitu dekat lingkaran jodoh itu. Mana saya sangka bila jodoh saya kelak adalah seorang yang pernah saya temui hanya sekali saat menghadiri meet up komunitas tiga tahun silam di Kota Daeng. Tiga tahun kemudian kami bertemu untuk kedua kalinya dalam sebuah pertemuan keluarga yang berlangsung hanya sebentar di rumah saya di Bumi Cendrawasih. Lantas keesokkan harinya, setelah berhasil mengikrarkan perjanjian suci yang kuat (mitzaqon gholizoh) di depan penghulu, di hadapan kedua orang tua saya dan para saksi serta dikelingi oleh banyak tetamu kami bertemu untuk ketiga kalinya. Dan sejak detik itu, sejak kami SAH menyandang status sebagai pasangan suami istri, hari-hari yang kami lewati adalah tentang pertemuan.

Lantas ketika Allah akhirnya memperkenankan satu keinginan besar saya itu apakah  saya telah merasa puas, merasa cukup dan tidak menginginkan apa-apa lagi?

Ah, nyatanya tidak. Lepas satu keinginan besar saya menjelma nyata muncul satu keinginan besar lainnya yang saya ingin Allah pun segera memperkenankan. Selayaknya pengantin baru yang tinggal menghitung bulan menanti kehadiran sang buah hati, saya pun mendamba Allah menitipkan 'amanah' itu dalam rahim saya. Betapa saya juga berharap menjadi calon ibu di usia pernikahan saya yang masih berbilang bulan.

Ah, padahal saya dan suami kan yang duluan nikah, tapi kenapa pasangan yang nikahnya baru bulan kemarin itu yang udah dititipkan 'amanah' duluan. Kenapa kami belum? Celetuk senada itu kembali meresahkan hati. 

I know, anak bukan perkara siapa yang duluan nikah dia yang duluan hamil. Menanti anak juga bukan perkara pasti seperti halnya jodoh. Mendapatkan jodoh yang sesuai dengan ketetapan Allah memang sepenuhnya hak kita. Toh, Allah telah menggariskannya di lauhul mahfuz. Bahwa setiap anak adam yang terlahir ke dunia telah ditetapkan pasangan (jodohnya) masing-masing namun mendapatkan anak bukanlah hak kita. Anak sepenuhnya adalah hak Allah. Dia memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki atau menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan menjadikan mandul kepada siapa yang Dia kehendaki.(Baca QS Asy-syu'ara : 49-50)
Tiga bulan, lima bulan, enam bulan berlalu. Pertanyaan-pertanyaan yang senada dengan pertanyaan kapan nikah mulai datang silih berganti.  Udah isi belum? Gimana, udah ada kabar baik? Udah berapa bulan mbak? dan bla bla bla. Saya cuma bisa nyengir menanggapi lalu minta untuk didoakan. 

Sementara pasangan-pasangan lain di sekeliling kami yang nikahnya sepekan dua pekan atau yang selang sebulan, dua bulan setelah pernikahan saya dan suami, satu per satu telah muncul dengan update kabar terbaru di medsos. Ada yang mengunggah hasil tespacknya dengan garis dua merah yang terlihat jelas, ada yang mengupload gambar hasil USG janin dalam kandungannya, ada yang sekadar pasang status dengan hastag sekian weeks, dan lain sebagainya dan ah entah kenapa mengetahui kabar bahagia mereka bukannya bikin hati saya turut merasa bahagia namun malah menjelma duka di hati. Seharusnya saya turut memberi selamat bukan dengan menatap perih kebahagiaan mereka dari balik layar.

Kalau sudah demikian, saya berusaha kembali mengingat masa-masa ketika keinginan saya untuk segera menikah lepas wisuda belum terwujud atau melihat teman-teman seangkatan saya masih banyak yang belum menemukan jodohnya, atau menengok ke pernikahan saudari sekaligus sahabat saya yang telah berjalan setahun lebih namun belum juga dikaruniai momongan. Bahkan di luar sana masih banyak pasangan suami istri yang telah membina rumah tangga bertahun-tahun lamanya namun belum jua diamanahkan buah hati. Ada yang menanti sampai delapan tahun baru memiliki anak, ada yang telah memasuki usia pernikahan yang ke sepuluh tahun baru mengandung dan ada pula pasangan yang masih berharap dan menanti kehadiran sang buah hati meski usia pernikahannya telah lewat satu dekade.

Dengan begitu saya tak punya alasan untuk mengeluhkan keadaan saya yang belum ada apa-apanya dibanding mereka yang telah diuji sekian tahun lamanya. Saya tak punya alasan untuk tak bersyukur karena alhamdulillaah keinginan saya menggenapkan separuh dien sebelum menyentuh usia seperempat abad telah Allah perkenankan sementara di sekeliling saya masih banyak muslimah yang mulai resah dengan umur yang kian menua sementara jodoh untuknya belum jua diulurkan. Saya pun tak punya alasan untuk tak bersabar karena ujian yang baru saya hadapi bersama suami saat ini telah lama dialami oleh sekian banyak pasangan di luar sana. Bayangkan mereka telah menanti memiliki momongan berbilang tahun lamanya, apalah kami ini yang pernikahannya baru "kemarin sore", genap setahun saja belum udah ikut-ikutan nelangsa.

Well, tak perlu iri dan cemburu pada pasangan yang cepat dikasih amanah sama Allah. Haknya Allah memberi "amanah" itu kepada siapa-siapa yang Dia kehendaki. Kalau pun hingga di sekian bulan atau sekian tahun pernikahan, kita belum jua diberi kesempatan mengemban "amanah" itu bukan berarti Allah tak percaya pada kita.

Tetap positif thinking saja. Tetap husnudzhon pada Allah. Kalau saat ini keinginan kita belum diperkenankan, doa-doa kita belum jua dijawab, bukan berarti Allah acuh dan tak peduli. Justru karena Dia sangat peduli dan sayang dengan kita makanya keinginan kita nggak langsung dikabulkan. Dia ngasih kita ujian dulu. Biar kita bisa lebih dekat dengan-Nya. Mampu nggak bersabar? Allah kan dekat dengan orang-orang yang bersabar. Rajuk dan bujuk Dia dengan sabar dan shalat. Sabar, shalat. Sabar, shalat. Itu kuncinya. Yang penting jangan pernah putus asa deh.

Kalau kata mbak Dian Onasis dalam postingan di blognya yang berjudul Anak itu Hak Allah



"kita hanya butuh usaha bermain mata pada Allah. Memberitahu dan menunjukkan betapa kita sudah siap menjadi orang tua, mampu dititipi anak yang tidak saja jadi rejeki tapi juga ujian kehidupan".


Intinya sih jangan sampai berburuk sangka sama Allah ya.  Kalau saat ini apa yang kita mau belum dikasih, ya mungkin memang belum saatnya, belum waktunya. Tetap sabar. Tetap shalat. Tetap berbaik sangkalah selalu pada-Nya.


*selfreminder *notemyself

#ODOPOKT18

Tulisan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post Blogger Muslimah Indonesia


  • Share:

You Might Also Like

12 comments

  1. Masya Allah ending yang membahagiakan ya Mbak😊Allah Maha Baik pasti memberi kita yang terbaik😊

    ReplyDelete
  2. Massa Allah, kisahnya sungguh indah ya mbak
    semoga saya nanti seprti itu. tak perlu yang namanya pacaran
    cukup ta'aruf langsung menikah .. aamiin

    ReplyDelete
  3. Jodoh yang tak disangka-sangka...

    ReplyDelete
  4. Saya menikah di usia 19 tahun, dengan lelaki yang baru saya lihat dan langsung melamar. Ya memang seperti itulah jodoh ya, mbak..kadang mengagetkan dan menakjubkan... ^^

    ReplyDelete
  5. Benar banget Mbak, Allah pasti tahu jodoh yang terbaik untuk hambanya, karena perempuan yang baik itu untuk laki-laki yang baik pula, begitu pula sebaliknya. Aku dulu juga punya target nikahnya di tahun 2016, tapi Allah belum mengizinkannya, mungkin Allah sedang mempersiapkan segala sesuatu yang terbaik untukku. Mohon doanya ya mbak, semoga aku dipertemukan dengan jodoh yang terbaik.

    ReplyDelete
  6. Kisah yang inspiratif mbak.
    Selalu husnudzhon padanya, tetap sabar dan shalat. Semoga aku bisa seperti itu mbak, cukup ta'aruf saja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin
      Semoga saja ya
      cepet ketemu jodohnya

      Delete
  7. Lagi butuh banget artikel-artikel kayak gini mbak. Karena memang perkara jodoh itu Alloh yang nagtur. Saya sering banget buruk sangka sama Alloh karena masih belum juga dapat yang cocok :( makasih ya mbak sudah sharing..salam kenal :)

    ReplyDelete
  8. Turut mendoakan mbak, semoga segera diberikan kepercayaan oleh Allah untuk menimang bayi.

    *Kakak kedua saya sudah 20 tahun menikah, sementara kakak pertama sudah 18 tahun menikah, namun hingga sekarang belum diberi kepercayaan. Namun keduanya tak pernah berhenti berharap*

    ReplyDelete
  9. Kalau saya memandang ke belakang perjalanan hidup, rasa2nya apa yg saya minta tu udah dikabulkan sama Tuhan mbak.Meskipun ada yg cepet ada pula yang lambaaaatt banget. Tapi optimis pasti doa2 akan dikabulkan-Nya...

    ReplyDelete
  10. Masya Allah, jodoh ga kemana ya, mba Siska. bahkan datengnya dari orang yang baru sekali ketemuan dan prosesnya dimudahkan ya. Semoga samawa ya. aamiin. :)

    ReplyDelete
  11. Ah.. kata-kata Mbak ngena banget di hati... Saya pun sedang meyakinkan diri saya, bahwa takdir Allah itu pasti terbaik. Insyaallah buah hati akan hadir tak lama lagi. Rabbi hablii minasshoolihiin. Amiin.

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa menginspirasi.