Ketika Mood Swing Melanda

By Siska Dwyta - 00:55

Bismillaahirrahmaanirrahiim



Dear Kamar Kenangan,

Hi, apa kabar? Maafkan diriku baru nongol lagi, huhuhu. Sebulan belakangan ini saya mengalami perubahan mood yang parah banget, istilah kerennya mood swing ya? Jangankan buat nulis, makan saja sering nggak mood (eh, apa hubungannya). Padahal sejak kembali ngeblog setelah sekian lama hiatus, gairah menulis saya meningkat sangat drastis. Serasa tiap hari pengennya nulis melulu. Bahkan ativitas menulis di blog sekonyong-konyong menjelma menjadi kekuatan yang bikin hidup saya berasa lebih hidup. Dengan menulis saya sungguh merasa mendapat semangat hidup kembali.

Yap, jujur saja selepas nikah tepatnya semenjak hijrah ikut suami dari Papua ke Sulawesi, saya seperti mengalami kondisi psikologis yang entah bagaimana menjelaskannya. Semestinya setelah digenapi hidup saya jauh lebih bergairah. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Saya kehilangan gairah. Semangat saya pergi begitu saja. Meninggalkan saya seorang diri dengan rasa tak menentu. Seperti kehilangan arah. Hampa. Hambar.

Well, saya bukannya tak bahagia ketika akhirnya berhasil menanggalkan status lajang dan berganti menyandang status baru sebagai seorang istri. Malah, syukur saya melangit tak terhingga pada Tuhan yang telah menghadirkan jodoh yang saya impikan. Lelaki penyabar dengan hati yang meluas lapangnya. Menikah dengan lelaki itu membuat saya seolah menjadi wanita yang paling beruntung di dunia.

Entahlah, mimpi apa saya sebelumnya atau Allah kok baik banget sama saya -hamba-Nya yang ibadah aja masih pas-pasan malah masih sangat berkurangan- tapi dikasih pasangan yang luar biasa baiknya kayak dia.  Boleh saya bilang, kehadiran dia dalam hidup saya ibarat pangeran berkuda putih yang dengan gagah berani datang dari istana nun jauh di sana, menelusuri belantara hutan, menaklukkan aral melintang demi dapat menjemput permaisurinya yang tinggal di tengah hutan; seorang wanita miskin yang selama hidupnya hanya tinggal di gubuk tua. Bisa dibayangkan apa yang terjadi dengan kehidupan si wanita miskin itu di hari-hari selanjutnya semenjak hidup bersama pangeran?

Of course, hidupnya berubah. Perubahan yang amazing. Seperti mimpi. Sulit dipercaya. Mustahil rasanya. Oke, pengibaratan saya mungkin rada lebay but, it's true. Kondisi yang saya alami demikian nyatanya. Sejak dia datang menjemput saya ke dalam kehidupannya, hidup saya serta merta berubah. Perubahan yang penuh kejutan.

Jika flashback setahun ke belakang, di bulan yang sama dengan bulan ini; saya masih berlagak betah dengan status single walau hati mulai terusik dengan timpukan pertanyaan "kapan nikah?" ditambah teman-teman di sekeliling udah pada nikah, sementara saya belum. Padahal yang sebenarnya saya juga sering bertanya-tanya pada Tuhan dalam hati. 

Allah, giliran saya kapan ya? Saya juga pengen nikah. Tadinya target nikah saya umur dua tiga, tapi sampai umur menjelang dua lima yang tinggal hitungan bulan tanda-tanda jodoh saya bakal segera datang menjemput pun belum  jua nampak. Lalu saya masih ngarep aja sama Tuhan, bakal dipertemukan dengan jodoh saya sebelum memeluk usia seperempat abad, meski rasanya mustahil banget. 

Menuju pelaminan itu butuh proses yang tak sebentar, bukan hitungan hari. Minimal udah didiskusikan jauh-jauh bulan. Bukan hari ini baru diskusi dan besok udah langsung nikah. Calon aja belum punya dan ngarep hal yang mustahil. Helloo, mimpi kali yaa.

Hehe, iya ya. Saya mimpi apa sampai-sampai hal yang tadinya  saya anggap mustahil  beneran menjelma nyata. Namun itulah yang terjadi dalam hidup saya. Saya baru punya calon suami bulan Maret (semenjak di-khitbah) lalu menikah di bulan April dengan persiapan yang kurang lebih hanya sebulan. Sesingkat itu. Gila kan? Lebih gilanya, karena saya berani menerima pinangan lelaki yang jangankan tahu persis wajahnya, bicara empat mata dengan dia aja nggak pernah. Aksi dia jauh lebih gila lagi, lelaki itu nekat banget jauh-jauh terbang ke Papua hanya untuk menjemput wanita yang sebelum ijab kabul tak pernah berinteraksi langsung dengannya.

Di luar  aksi gila itu, sejujurnya saya merasakan bahwa pernikahan kami adalah sebuah keajaiban. Atau mungkin lebih tepatnya dia adalah wujud dari mimpi yang Allah kabulkan untuk saya. Betapa tidak? Masih jelas dalam ingatan, detik-detik ketika akhirnya saya harus meninggalkan kota Daeng di penghujung duaribuempatbelas silam. Detik yang diwarnai dengan derai air yang mengalir di pelupuk mata dan ritme air yang menderas di luar sana. Tangis saya  di kala hujan malam itu menjadi saksi. I'm not Alone. Ada Allah yang Maha mendengar apa yang saya lirihkan dalam hati. 

Suatu hari nanti saya akan kembali, sungguh saya akan kembali. Akan ada lelaki yang menjemput saya. Membawa saya kembali ke sini. Ke kota ini.

Siapa sangka, selang tiga tahun kemudian apa yang saya lirihkan dalam hati sungguh terwujud. Saya beneran kembali ke Kota Daeng, tidak sendiri, tapi dengan lelaki yang jauh-jauh datang ke Papua hanya untuk menjemput saya -jodohnya- lalu hidup saya serta merta berubah.

Menikah. Berstatus istri. Mengurus rumah. Ketiganya adalah hal yang tidak terbayangkan di benak saya setahun silam. Bahkan saya hanya bisa menerka-nerka; bagaimana rasanya menikah, bagaimana rasanya duduk di pelaminan, bagaimana rasanya memiliki suami, bagaimana rasanya hidup seatap dengan lelaki asing yang tiba-tiba menjadi mahram, bagaimana rasanya menjadi istri yang mengurus rumah tangga. Bertumpuk-tumpuk pertanyaan tentang "bagaimana rasanya" yang belum terkuak jawabannya itu saya sudahi dengan menjulangkan mimpi yang indah. In syaa Allaah suatu hari nanti. I believe.

Dan lihatlah, apa yang terjadi ketika mimpi saya menjelma nyata. Ketika akhirnya saya menemukan jawabannya, bukannya takjub, saya malah tergugu. Menangisi diri sendiri. Meratap tanpa isak. Kamu tahu apa yang saya rasakan saat menjalani hari-hari sebagai seorang istri yang mengurus suami dan rumah tangga yang kami bangun bersama?

Enough. Saya tidak menginginkan apa-apa lagi. Ini seperti saya merasa semua mimpi saya telah diwujudkan Allah dan apa yang saya dapatkan semua sudah lebih dari cukup. Seolah saya telah kehilangan stok mimpi yang lain atau persisnya merasa tak punya lagi mimpi yang tersisa. Seakan menikah, menjadi istri sekaligus mengurus rumah tangga adalah mimpi saya yang terakhir. Saya bahkan tidak bisa mengingat mimpi-mimpi saya yang belum Allah perkenankan hanya karena mimpi saya yang tiga itu telah terwujud lalu berlagak seperti tidak membutuhkan mimpi-mimpi yang lain.

Di sisi lain, saya merasa, betapa Allah baik banget sama saya. Dia peluk mimpi yang sering hanya terbetik di hati tanpa saya larutkan dalam doa yang panjang. Bahkan apa yang jarang saya pinta dengan sungguh-sungguh pun Dia perkenankan. Jadi ya, saya malu aja meminta yang lebih dari itu.

Menjadi seorang istri rumah tangga yang telah lama saya impi-impikan rasanya sudah cukup. Saya tidak ingin bermimpi apa-apa lagi. Sungguh?

Saya tidak tahu kapan persisnya, perasaan dan pemikiran seperti itu menyergap, namun sejak detik itulah saya mengalami kondisi psikologis yang entah bagaimana menjelaskannya. Bisa jadi kondisi yang saya alami sejenis syndrome yang entah apalah namanya. Jiwa saya hampa. Hidup saya hambar. Saya kehilangan gairah. Pun semangat.

Tiap pagi saya bangun tanpa semangat menjalani hari. Rutinitas keseharian saya mulai menjemukan. Kalau pun ada hal yang bikin saya lebih ekspresif adalah menyambut suami saat pulang bekerja dan berceloteh macam-macam padanya setiap menjelang tidur. Suamiku adalah pendengar yang baik dan saya selalu suka caranya menajamkan telinga ketika mendengar saya berceloteh panjang lebar. Saya menceritakan banyak hal padanya, mulai dari basa-basi, nostalgia tentang saya di masa lalu, apa saja, kecuali satu hal. Saya tidak pernah menceritakan tentang perasaan saya padanya. Tentang kondisi psikologis saya. Tentang derita yang sedang dialami istrinya.

Ah, maaf. Mungkin ini alasan mengapa saya tak antusias seperti istri kebanyakan yang pasti sumringah bila diajak jalan-jalan suaminya tiap weekend  atau mungkin inilah dalih mengapa saya seringkali menolak diajak kencan di luar rumah lantas lebih memilih mendekam dalam bilik kamar kami sepanjang hari, sepanjang waktu atau mengapa saya tak berminat melanjutkan kuliah di jenjang yang lebih tinggi sekali pun suami sudah berulang kali menawarkan, atau mengapa saya enggan kembali berkutat di dunia kerja?

Beginikah rasanya hidup tanpa menggenggam mimpi? Kau tidak punya sesuatu untuk kau perjuangkan. Pantas saja gairah itu hilang, semangatmu pun ikut menjauh. Karena kau merasa yang kau dapatkan saat ini sudah lebih dari cukup. Kau tak menginginkan apa-apa lagi. Kau bahkan enggan bermimpi dan efeknya. Lihatlah; hidupmu hampa, hambar, tak terarah. Kau berhenti di titik dimana seharusnya kau masih bisa memanjangkan mimpi. Tuhan tidak pernah membatasi hamba-Nya untuk bermimpi lalu mengapa kau berlagak seolah-olah dunia telah ada dalam genggamanmu?

Begitulah, cukup melelahkan juga terkungkung oleh perasaan sendiri. Maybe, harus saya akui. Betapa naifnya saya. Sampai luput; mengingat alasan mengapa saya pernah memendam keinginan begitu kuat untuk angkat kaki dari Kampung kelahiran, tempat saya dibesarkan. Papua. Lalu membayang hidup menetap di kota Daeng. Di Pulau Sulawesi. Yang luas dan besarnya tentu tidak sebanding dengan pulau tempat tinggal saya di ujung Timur Indonesia sana, yang nyaris tak terlihat di peta, saking kecilnya.

Seorang teman pernah berkata, kau tidak akan bisa berkembang tinggal di sini. Di kota sekecil ini. Potensimu bakal terpendam. Sayang sekali.

Hati kecilku turut mengiyakan perkataannya. Walau mungkin tidak sepenuhnya benar, sebab berkembang atau tidaknya seseorang, tergantung cara ia memaksimalkan potensi yang ada pada dirinya.

Dan itu terbukti, kan? Saya kini telah menetap di kota besar, fasilitas tersedia dimana-mana, jaringan serba 4G memudahkan saya mengakses internet dengan cepat di mana pun. Tidak seperti saat saya masih tinggal di kota tempat saya menetap di Papua, yang jaringannya minta ampun susahnya bukan main. Di sini, semua serba lengkap dan tentu sangat memungkinkan saya mengembangkan diri, dan melejitkan potensi yang ada.

Tapi, apa yang bisa saya lakukan? Berbulan-bulan. Hanya berdiam diri di rumah. Berkutat di kamar dan dapur. Menghitung jam. Menunggu suami pulang. Menjadikan gadget sebagai hiburan. Itu terus berulang-ulang.

Saya sangka, saya bisa menikmati rutinitas seperti itu tiap harinya tanpa bosan. Tidak peduli, berapa bulan terlewati atau bahkan hitungan tahun. Nyatanya, saya kalah di usia pernikahan kami yang nyaris menginjak setengah tahun. Saya mulai jenuh dan merasa harus membangkitkan gairah dan memulangkan kembali semangat saya. Ya, saya harus mulai bermimpi lagi. Harus ada hal yang perlu saya perjuangkan dalam hidup ini. Paling tidak untuk mengobati jiwa yang mungkin sedang sakit ini.

Maka, sebagai langkah awal yang bolehlah saya sebut terapi. Saya mulai menulis. Saya memutuskan kembali ngeblog. Saya melakukan banyak blogwalking, mencari inspirasi dari blog yang saya kunjungi. Menambah komunitas blogger. Berinteraksi dengan sesama blogger, dan semua hal yang berhubungan dengan blog mulai saya selami. Termasuk mem-full service blog ini yang saya sebut sebagai kamar kenangan.

Alhasil, dampak yang saya rasakan luar biasa. Saya menemukan kembali gairah yang sempat hilang dan semangat yang pernah pergi itu, hei, dia akhirnya pulang dan memberitahu arah yang seharusnya saya tempuh.

Jika sebelumnya saya terbangun dan merasa tak ada hal yang sama sekali menggairahkan selain menjalani hari bersama suami, maka semenjak kembali ngeblog saya selalu terbangun dengan gairah yang berkali lipat. Bahkan malam sebelumnya saya sudah lebih dulu memikirkan, besok mau nulis apa lagi ya? Tema tulisan yang menarik apa ya? Kira-kira ada yang baca nggak tulisan saya? Atau ada nggak ya yang sudi ninggalin jejak di kamar kenangan saya?

Sensasi memikirkan apa yang akan dilakukan esok hari tentu tidak sama dibanding tidur dalam keadaan buta; tidak tahu apa yang akan dilakukan esok. Setidaknya semenjak tahu, saya telah menemukan aktivitas yang menggairahkan, hidup saya terasa jauh lebih hidup, lebih bermakna, lebih berwarna. Dan saya sangat, sangat, sangat bersyukur.

Menulis memang aktivitas yang membahagiakan. Tidak percaya? Cobalah untuk mulai menulis. Tidak bisa nulis? Cobalah untuk belajar menulis.  Apa? Malas menulis? Yowes, cobalah membiasakan diri untuk menulis. Minimal sebulan sekali, lumayan kan setahun bisa dapat duabelas tulisan.

Etapi, ya itu dia, maafkan diriku yang sebulan belakangan ini sengaja nggak menulis gegara mood swing yang melandaku tepat di penghujung tahun lalu. Alhamdullillaah, sekarang moodku lumayan baikan. Udah mau diajak kompromi. Jadilah postingan curcol ini.

FYI, selama kurang lebih sebulan nggak nulis di blog bukan berarti aktivitas menulis saya terhenti ya. Kabar baiknya, karena selama kurang lebih sebulan ini saya beralih dengan mengikuti aktivitas lain yang nggak jauh-jauh dari menulis yang efeknya luar biasa banget. Tadinya, saya sempat meredupkan mimpi yang sepertinya terlalu mengangkasa untuk digapai. Apalagi saya kan sempat mengalami syndrome apa gitu, karena merasa udah keburu puas dengan mimpi yang telah digenggam. Walau ujung-ujungnya saya sadar juga, ternyata hidup nggak bakal indah kalau kita nggak punya mimpi buat diperjuangkan.

So, tahun ini saya mulai merajut mimpi kembali. Dan ini dia salah satu mimpi saya dari zaman purbakala yang sampai zaman now ini tak kunjung terwujud; i  wanna be a writer of best seller books. Uhuk. Mengangkasa banget ya mimpinya, but whatever. Namanya juga mimpi, gratisss, ya suka-suka saya dong, hehe.

Jadi ini lho aktivitas yang saya lakukan sebulan belakangan ini. Ikut Kelas Menulis Online atau kerennya disingkat KMO. Oh ya, saya sampai ikut tiga kelas dalam jangka waktu sebulan ini. Ada kelas yang gratisan yang saya baru tahu pas udah daftar di kelas menulis pak Cahyadi Takariawan yang uang pendaftarannya lumayan bisa dipake buat hidup selama sebulan *ups, ada juga kelas lanjutan dari kelas gratisan yang namanya KJB aka Kelas Jadi Buku. Untuk kelas yang satu ini juga nggak gratis, soalnya narasumbernya nggak sembarangan tapi emang ahli di bidang kepenulisan. Itu lho, penulis buku 101 Dosa Penulis Pemula. Trus rencana bulan depan ada lagi kelas khusus fiksi yang pengen saya ikuti dan ini juga nggak gratis, tapi karena saya udah daftar ikut KJB jadi dapat potongan 50%.

Mungkin ada yang bertanya, ngapain saya ikut kelas yang bejibun gitu. Gratisan sih masih mending tapi kalau bayar? Eng ing eng. Paling saya cuma tersenyum kecil kalau ada yang bertanya demikian.

Gimana ya jelasinnya. Nulis itu juga butuh ilmu, dan hari gini mana ada ilmu berkelas yang gratisan. Masalahnya lagi, selama ini saya cuma mimpi aja pengen jadi penulis buku best seller tapi ibaratnya itu mimpi kayak di mulut doang. No action. Boro-boro mulai nulis buku, caranya untuk bikin buku saja, saya beneran nggak tahu. Pokoknya masih banyaklah ilmu kepenulisan yang belum saya selami. Alhamdulillaah, ada suami tercinta yang selalu siap sedia ngedukung mimpi istrinya ini.

Nah, jelas kan? Baiklah, sebelum mengakhiri postingan perdana saya di tahun duaribudelapanbelas ini dan semoga ini belum termasuk telat ya meski sebenarnya udah telat sangat sih, hehe.

In syaa Allah, ini salah duanya resolusi saya tahun ini.

Pertama; Nulis buku dan mengirimkannya ke penerbit mayor (mudah-mudahan bisa tembus). Minimal tahun ini saya harus punya satu buku solo. Kalau pun nggak tembus di penerbit solo, harus bisa terbit lewat penerbit indie.

Kedua; sebagai penunjang resolusi di atas, tahun ini saya kudu meningkatkan kuantitas buku yang harus saya khatamkan tiap bulan. Minimal tiga buku dalam sebulan. 

Dua resolusi di atas saya anggap sebagai alarm. Sebenarnya masih ada daftar resolusi yang lain, tapi karena udah telat banget bikin postingan tentang resolusi, so saya merasa tidak perlu menjabarkannya di postingan ini. Satu hal yang pasti; tahun ini diri harus lebih baik dari tahun kemarin.

Keep Hamasah :)







  • Share:

You Might Also Like

5 comments

  1. Wah domisili mba, jauh dari saya yg di bandung ini. Membayangkan hutan dan pangeran juga sulit terimajinasikan oleh saya, eh bisa deng sebenarnya.. hehe. Btw,kisah pernikahannya sebenernya sweet bgt ya. Mestinya saat ini masih bahagia2 nya berumah tangga. Dan juga masa2 paling sensitif dalam membangun hubungan. Semoga semua lancar deh, aamiin.
    Saya jg pernah merasa jenuh dan seperti kehilangan semangat hidup akibat ga ada yg mau dituju di masa depan. Bingung mau ngapain. Dan sama seperti mba, akhirnya menulis adalah salah satu hal yg mengobati masa2 seperti itu. Good luck dgn mimpi menulis bukunya ya. Semoga berhasil. 😊

    ReplyDelete
  2. Kabar baik, dan alhamdulilah sehat :)
    Sekalipun nggak mood makan pasti tetap kalau laper pasti makan :D

    Ikut seneng ya, setidaknya saat ini sudah ada yang nemenin, bahkan kalau lagi nulis juga bisa ditemenin ya, Teh..hehe

    Bener juga sih, Teh. Kalau kita dalam hidup tidak punya mimpi, ibarat hidup nggak punya tujuan. Dengan adanya mimpi tentu kita akan jadi lebih semangat..

    Selain aktifitas menunggu suami, dan menulis, dengan mendoakan suami setiap hari juga bagus ya, Teh. Semoga terus dimudahkan dalam urusan rumah tangganya ya, Teh..

    Setuju, semuanya memang butuh pengorbanan, termasuk proses menerbitkan buku, awal-awal saya juga berniat pengen bisa satu buku, meskipun seumur hidup. Perlahan alhamdulilah bisa. Saya rasa teh Siska juga bisa. Semangat, Teh. Semoga dimudahkan, terlebih menjaga keistiqomahannya.. aamiin..

    ReplyDelete
  3. Kisahnya indah yaa Mba :)
    Insyaa Allah mimpinya terkabulkan di tahun ini.. Aamiin

    ReplyDelete
  4. wah... mba di sulawesi? makassar? klo makassar berarti samaan, saya juga domisili makassar hehe.
    .
    salfok saya mba. cerita yang kayak gini sih yang bikin saya terus berharap dan yakin buat say no to pacaran until akad :')...orang tua saya juga dulu pas nikah ceritanya mirip2 mba. doi yang dikirim langsung dari Allah emang terbaik dehh
    .
    barakallahu fiikum, semoga selalu diberi yang terbaik oleh Allah

    ReplyDelete
  5. MaasyaaAllah, sebelumnya saya ingin mengucapkan barakallahulakuma wa jamaa bainakuma fikhooir yaa

    anyway pas baca tulisan ini saya mersa lagi bercermin ke diri sendiri ya...? cz sbgian cerita mirip dengan apa yang saya alami. saya pun baru 2 bulan nikah, dan baru digerakkan oleh Allah untuk membersamai aksara dan memberi saya fasilitas menulis lewat hadiah leptop dr suami. ckkck... dan ini tulisan pertama saya baca ketika memulai satu postingan saya di blog :-D, semoga kedepan bisa istiqomah menulis lagi.. aaamiiin

    Salam kenal ya mba, semoga betah di Sulawesi :-)

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa menginspirasi.