Perasaan-Perasaan yang Tumbuh dalam Pernikahan

By Siska Dwyta - 19:23

Bismillaahirrahmaanirrahiim


Perasaan apa sih yang muncul di hati Anda setelah menjalani proses ijab kabul? Barangkali kebanyakan orang termasuk yang belum menjalani pernikahan sekali pun akan menjawab pertanyaan tersebut dengan satu kata. BAHAGIA.

Jawaban yang lumrah. Umumnya setiap orang memutuskan melangkah ke jenjang pernikahan, tujuannya memang untuk bahagia. Kalau nggak bahagia ngapain nikah. Walau pada kenyataannya tidak sedikit pasangan yang setelah bersanding di pelaminan justru merasa kebahagiaannya terengut. Kalau pun sempat merasai bahagia, paling hanya semasa mengecap masa pengantin baru atau ketika pernikahannya baru berumur sekitar satu-lima tahun. Selanjutnya kehidupan pernikahan yang ia jalani menjelma penderitaan. Kebahagiaan yang dirasakan di awal-awal pernikahan lenyap begitu saja. Tak ada lagi bahagia.

Mempertahankan rasa bahagia dalam pernikahan memang bukan suatu hal yang mudah. Dengan cinta saja tidak cukup. Butuh komitmen. Penerimaan yang lebih. Ketulusan. Keikhlasan. Saling percaya. Saling memahami dan tentu saja ketaatan. Sebab pernikahan bukan hanya tentang hubungan antara AKU dan KAU melainkan AKU, KAU dan TUHAN.

Sejatinya pernikahan adalah ibadah. Kita menikah untuk menjalani ibadah bersama. Kita menikah untuk menyempurnakan agama yang masih separuh. Kita menikah untuk mengikuti sunnah rasul. Kita menikah untuk mengharap berkah dari Ilahi.

Bukan hanya untuk bahagia atau menikah hanya karena cinta yang semu. Ini seperti yang dituturkan ustad Salim A. Fillaah dalam suatu cuplikan ceramahnya. Kata beliau "kebahagiaan hanyalah makmum di dalam kehidupan pernikahan kita. Hanyalah makmum bagi ibadah dan berkah yang kemudian kita tegakkan".

Artinya apa? Selama ibadah dan berkah yang menjadi imam dalam kehidupan pernikahan kita ditegakkan, bahagia akan senantiasa mengikuti. Ia akan setia menjadi makmum. Sebaliknya, jika ibadah ditinggalkan, rumah tangga bakal jauh dari berkah. Kalau udah gitu, jangan ngarep ada bahagia. Bahagia hanya akan menjadi makmum dalam pernikahan yang di dalamnya diwarnai ibadah dan dihiasi berkah.

Nah, terlepas dari bahagia yang dianalogikan sebagai makmum dalam pernikahan, ternyata selain rasa bahagia ada berupa-rupa perasaan lain yang bakal muncul di hati pasangan yang baru saja menyabet status sebagai pasangan suami istri. Eit. Jangan mengira ketika menikah kita hanya akan merasakan satu macam perasaan, yang ada malah sebaliknya. Ada banyak macam perasaan yang bakal menghiasai kehidupan pernikahan kita baik berupa perasaan positif maupun negatif dan ini dia di antaranya;

K E C E W A

Tidak sedikit lho pasangan pengantin baru yang telah merasakan perasaan yang satu ini. Bahkan sampai membuncah perasaan kecewanya terhadap sosok yang telah sah berstatus sebagai pasangan hidupnya. Padahal impiannya membangun mahligai rumah tangga bersama sang kekasih hati baru saja terwujud namun malangnya dia sudah harus dirundung rasa kecewa. 

Ibaratnya, kalau kata Dilan ke Milea; Rindu itu berat, kata dia ke pasangannya; Kecewa itu yang berat. Beratnya pake banget. Betapa tidak, sosok yang selama ini didam-idamkannya ternyata jauh dari ekspektasi. Yang terbetik dalam benaknya sebelum melangkah ke jenjang pernikahan, calon pasangan hidupnya adalah kriteria jodoh idaman yang ideal bahkan boleh dibilang sempurna namun  setelah menikah ekspektasi yang ia julangkan itu rupanya teramat jauh dari realita. Puncaknya bila rasa kecewa yang menyeruak di hatinya tak lagi terbendung, sungguh ia akan menyesal dengan pilihannya sendiri.

Sebenarnya bukan hal yang mengherankan jika rasa kecewa menyeruak di hati salah satu pasangan yang baru saja memasuki fase pernikahan. Alasannya cukup sederhana. Ekspektasi yang terlalu tinggi dan harapan yang melangit. Karena ia mencari pasangan yang sempurna padahal kesempurnaan hanya milik Tuhan. Karena ia hanya menerima kelebihan dan enggan menerima segala kekurangan yang ada pada diri pasangannya atau justru karena merasa dibohongi dengan sikap dan penampilan si pasangan yang tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat setelah akad.

Hubungan yang terjalin setelah akad memang tidak sama dengan hubungan yang dipaksakan terjalin sebelum akad. Setelah akad, sikap dan penampilan pasangan kita adalah realita. Kita hidup dengannya seatap bahkan tidur seranjang, bertemu setiap hari dari bangun tidur hingga tidur kembali, otomatis seiring waktu berlalu kita bakal kenal pasangan kita luar dalam, lebih dari siapa pun. Sebaliknya, jika menjalin hubungan sebelum akad, sikap dan penampilan si dia kemungkinan besar hanya pencitraan. Bukan realita. Sekali pun telah bertahun-tahun lamanya menjalin kasih toh kita tidak bertemu dia sepanjang waktu. Bisa jadi dia hanya memperlihatkan kebaikan-kebaikan dan menyembunyikan segala keburukan yang ada pada dirinya ketika berhadapan dengan kita.

Jangan heran, bila mendapati pasangan yang baru beberapa bulan nikah sudah memutuskan berpisah. Salah satu penyebabnya tidak lain dan tidak bukan karena muncul perasaan kecewa terhadap pasangannya.

D E P R E S I

Jika kita familiar dengan istilah baby blues yang kerap menyerang wanita yang baru melahirkan maka ada pula istilah post wedding blues,  gejala psikologis yang umumnya menyerang wanita yang baru menikah.

Menurut seorang psikolog, Nadya Pramesrani, M.Spi yang dikutip dari GLITZMEDIA.CO "Post wedding blues bukanlah ganguan atau kelainan melainkan sebuah ungkapan perasan. Orang yang terkena post wedding blues biasanya akan merasakan kesedihan, kehilangan selang beberapa minggu setelah pernikahan"

Bukan sebatas merasa kesedihan dan kehilangan, ia juga akan merasa kosong, bingung, hilang arah bahkan tidak tahu apa yang harus ia kerjakan ke depannya bersama pasangan hidupnya.

Wajar saja bila wanita sebagai makhluk sensitif rentan terserang syndrome tersebut. Kesibukannya dalam mempersiapkan prosesi penikahan bisa jadi pemicu munculnya post wedding blues. Karena terlalu sibuk dan fokus mempersiapkan prosesi pernikahannya ia sampai luput mempersiapkan diri menjalani hari-hari pasca nikah. Padahal hakikatnya pernikahan bukan sebatas menggelar resepsi semata namun sebuah proses panjang dalam biduk rumah tangga yang bakal ia tempuh bersama lelaki yang telah menjadi mahramnya. Alhasil, ia akan merasa hampa dan tidak tahu harus melakukan apa setelah prosesi pernikahannya berlalu.

Perubahan-perubahan yang dialami pasca acara pernikahan pun bisa jadi penyebab munculnya syndrome ini. Ia yang tadinya hanya sibuk mengurus diri sendiri harus membiasakan mengurus suami dan rumah tangganya. Atau ia yang dengan rela hati terpaksa pindah ikut suami dan meninggalkan keluarganya serta lingkaran pertemanan di tempat tinggal dahulu harus beradaptasi dengan lingkungan baru termasuk suami beserta keluarganya. Otomatis aktivitas kesehariannya juga mengalami perubahan dan tentu saja tidak semua wanita mudah menyesuaikan diri dengan perubahan yang baru ia rasakan setelah menikah.


T A K U T

Percaya tidak, takut yang dirasakan pasangan yang baru nikah bisa melonjak berkali lipat dibanding rasa takut yang muncul ketika masih melajang. Kalau tidak percaya, coba tanyakan pada seorang istri, apa yang ia rasakan ketika menanti suaminya telat pulang kerja dan tak berkabar?

Mungkin dari mulutnya hanya meluncur kata cemas atau khawatir namun dari lubuk hati yang paling dalam, apa yang ia rasakan bukan sebatas cemas bin khawatir, namun perasaan yang lebih dari itu; takut. Ketakutan yang berlipat ganda. 

Sedetik saja suaminya tidak pulang dari waktu biasanya, ia akan gelisah, tak tenang dengan pikiran yang berkecamuk hebat. Segala macam bayangan buruk ikut berkelebat menerornya. Keringatnya mengucur deras. Jantungnya berdetak kencang. Bahkan dadanya serasa sesak, sulit bernapas. Nyaris saja air mata tumpah di pipinya, kalau-kalau suaminya tak kunjung pulang. Namun ketakutan yang menghiasai hatinya seketika lenyap menjelma rembulan yang merekah di wajah ketika melihat lelakinya telah tiba di depan pintu rumah dengan kondisi baju basah kuyup. Ternyata si suami telat pulang karena terhalang hujan di jalan.

Mungkin ekspresi ketakutan si istri dianggap berlebihan namun perasaan tersebut adalah lumrah dan sering menyergap pasangan pengantin baru terutama wanita. Bukan berarti lelaki tidak pernah mengalami perasaan serupa. Mereka pun kerap merasakan takut dalam hal ini ketakutan yang dimaksud adalah ketika hal-hal yang buruk menimpa pasangannya. Misal; ketika si istri jatuh sakit atau mengalami kecelakaan maka suamilah orang yang paling takut dan panik menghadapi kejadian tersebut, hanya saja mereka tipe manusia yang paling pandai menyembunyikan perasaannya. Beda halnya dengan perempuan yang selalu menampakkan perasaan di hatinya dengan sangat jelas.

Tahu nggak kenapa pasangan yang  telah menggenap menjadi sangat penakut? Karena semenjak menikah ia tak lagi sendiri. Ia menjadi dua, bahkan akan bertambah menjadi tiga, empat dan seterusnya. Rasa kepemilikannya akan terus bertambah. Tadinya ketika masih lajang ia mungkin hanya peduli dengan diri nya sendiri, namun sejak dianugerahi pasangan, kepeduliannya beralih. Ia bahkan jauh lebih peduli dengan pasangan nya ketimbang diri sendiri. Begitupula ketika anak-anaknya lahir. Kepeduliannya tercurahkan sepenuhnya pada mereka. Pasangan. Anak-anak.

Mereka akan tumbuh menjadi ketakutan terbesar dalam hidupnya.

Barangkali jika ada yang mengajukan pertanyaan ; apa ketakutan terbesar dalam hidupmu? Ia akan menjawab KEHILANGAN. Hal yang paling ia takuti. Ketika akhirnya ia kehilangan orang-orang yang dianggap milik padahal mereka bukan milik sepenuhnya. Sejatinya mereka hanya titipan. Ya, mereka yang ia sebut keluarga.

R I N D U

Benar kata Dilan, Rindu itu berat. Namun rindu seorang anak remaja seperti Dilan kepada Milea; gadis pujaan hati yang bukan kekasih halalnya itu sungguh tidak ada apa-apanya dibanding rindu seorang suami terhadap istrinya atau rindu seorang istri terhadap suaminya.

Tidak percaya? Tanyakan saja kepada pasangan yang telah menautkan hati dan mengikrarkan janji suci. Terutama pada mereka yang terpaksa LDM (Long distance married) pasca nikah karena urusan pekerjaan, pendidikan dan lain sebagainya. Lebih-lebih pada sepasang pengantin baru yang berpisah sedetik saja rasanya sudah seperti setahun. Mereka nggak kuat pisah lama-lama. Maunya lengket trus kayak perangko.

Nah, di awal-awal pernikahan rasa rindu yang hadir memang menggebu-gebu. Sedikit berjarak dengan pasangan saja rasanya sudah rindu. Apalagi bila jaraknya sampai antar kota atau antar pulau. Duh. Beratnya pake banget. Teleponan sampai berjam-jam atau WhatsAppan sepanjang waktu pun nggak bakal mempan mengikis rasa rindu. Yang ada rindu makin meluap-luap tak terbendung dan satu-satunya cara mengobatinya hanya  dengan bertemu.

Namun seiring waktu berlalu, rindu akan menjadi perasaan yang langka bagi pasangan suami istri. Bayangin saja kalau lo tinggal seatap dan bertemu dengan orang yang sama tiap harinya, lama-lama bakal bosan kan? Etapi kalau sama pasangan sendiri jangan pernah bosan ya. Karena itu, kadangkala jarak memang dibutuhkan dalam rumah tangga. For what? Agar rindu hadir. Ya, rindu hadir karena ada jarak kan? So, Perasaan yang satu ini jangan diabaikan, sebab mengobati rindu pada pasangan sama halnya dengan merajut (kembali) kemesraan dalam pernikahan. Seperti halnya tulisan butuh spasi. Rumah tangga juga butuh rindu. Percaya deh :)

C E M B U R U

Perasaan yang satu ini adalah perasaan yang wajib tumbuh dalam pernikahan. Ibarat kata sayur tanpa garam hambar rasanya begitupula dengan pernikahan tanpa cemburu sudah pasti hambar dijalani. Ya, cemburu adalah salah satu bumbu pernikahan. Kalau kata orang-orang nih, cemburu tanda cinta, tanda sayang, tanda perhatiannya pasangan pada kita. Jadi, kalau tidak ada cemburu dalam rumah tangga otomatis cinta, sayang dan perhatian pasangan kita dipertanyakan.

Bahkan ummul mukminin Aisyah radhiyallaahu 'anha pernah sampai melemparkan piring yang berisi makanan kiriman salah seorang istri Rasul yang lain di hadapan para sahabat yang sedang berkunjung ke rumah mereka hingga piring tersebut pecah dan terbelah menjadi dua. Apa reaksi Rasulullaah menanggapi sikap istrinya tersebut?

Beliau tersenyum lalu berkata pada para sahabatnya "Ibu kalian sedang cemburu". Maa syaa Allaah, betapa romantisnya akhlak beliau menyikapi rasa cemburu istrinya. Bukan dengan memarahi atau pun merasa malu karena mungkin dalam pandangan kita sikap istrinya itu telah mempermalukannya di hadapan para sahabat namun justru Rasul sendiri memaklumi rasa cemburu itu.

Nah, cemburu adalah perasaan yang lumrah bagi pasangan suami istri. Jadi biarkan pasangan kita cemburu, asal bukan cemburu buta atau cemburu yang melampaui batas. Toh, Rasul memaklumi rasa cemburu namun masih dalam batas yang sewajarnya dalam artian cemburu boleh-boleh saja asal jangan kelewat batas ya. Terlalu protektif juga nggak baik lho :)

S E N S I T I F

Pernah punya teman yang setelah nikah suka cerita kalau dia sering nangis karena hal-hal kecil yang terjadi dalam rumah tangganya? Yang dimaksud bukan hal-hal negatif ya, tapi hal-hal positif yang bikin hatinya mudah luluh. Contoh nih, suami telat pulang kerja karena harus lembur , dia nangis, suami ada tugas kerja ke luar kota, nangis lagi, ingat kebaikan-kebaikan suaminya yang selangit padahal baru tiga bulan nikah, tangisnya makin kencang, dll.

Mungkin mendengar cerita teman kita tersebut, kita bakal berpikiran cengeng banget sih, tapi setelah mengalami sendiri bagaimana rasanya menjadi seorang istri baru kita rasakan, oh, ternyata perasaan wanita ketika hidup berumah tangga menjadi sangat sensitif ya. Apalagi ketika tengah hamil muda, perasaannya bakal jauh-jauh lebih sensitif. Sampai-sampai hal-hal yang nggak jelas pun bisa dia tangisin.

Sang suami pun mengalami perubahan yang sama. Namun rasa sensitifnya tentu berbeda dengan sensitifnya wanita. Jika sensitifnya wanita lebih terkuras pada perasaan, sensitifnya lelaki lebih terkuras pada pikiran; bagaimana ia tumbuh menjadi sosok yang makin bertanggung jawab terhadap keluarganya, tampil sebagai pemimpin dan pelindung yang mengayomi serta setia menyediakan pundak yang menampung tangis istrinya, hehe. Ya, intinya lelaki yang telah melepas masa lajangnya bakal lebih peka terhadap pasangan dan anak-anaknya.

Well, selain ke enam perasaan di atas masih banyak perasaan-perasaan lain yang bakal tumbuh dan menyertai kehidupan perjalanan pernikahan. Entah itu perasaan positif maupun negatif. Rasakan sendiri dan pilah pilih perasaan mana yang sebaiknya dibiarkan tumbuh dengan awet dan perasaan mana yang tak boleh dirawat bahkan harus dicabut hingga akar-akarnya. Semua itu tergantung bagaimana cara kita mengelola hati karena hati adalah muara segala perasaan. Jika pernikahan ibarat taman hati,  biarkan perasaan-perasaan indah saja yang tumbuh menghiasi taman tersebut.

Semangat menumbuhkan perasaan-perasaan indah dalam pernikahan :)




  • Share:

You Might Also Like

15 comments

  1. Sesaat setelah ijab qobul tuh terasa sesak didada seperti mendapatkan beban berat bahkan saya rasakan sampai seharian. Entah yang lain merasakan atau tidak, saya juga kurang tau kenapa itu terjadi. Duhhh malah curhat 😀😁

    Keren tulisannya, setuju pisan lah

    ReplyDelete
  2. Cemburu penting banget untuk mengharmoniskan hubungan ya asal jangan berlebihan

    ReplyDelete
  3. tulisannya bagus. jadi ga sabar buat segera nikah dan ngerasain macem-macem perasaan :') tapi jadi mikir buat engga berekspetasi tinggi ke calon suami takutnya kejadian perasaan yang negatif itu. harus saling percaya + paham sama kekurangan satu sama lain yaa

    ReplyDelete
  4. Sebelum nikah udah berkhayal begini begitu, pokonya yg indah2 deh. Pas udah lama nikah, ngga taunya nguplek aja sama cucia dan setrikaan... hahahaa...

    Ayo, Mbloo... buruan pada nyusul biar tau gimana serunya perasaan2 di atas. :D

    ReplyDelete
  5. Hahahaha...iya, ya? Semua jadi terasa berlebihan. Tapi seru ya Mba.

    ReplyDelete
  6. tiba-tiba disatukan dengan orang yang akhirnya menjadi pendamping hidup itu, sesuattu... semua rasa yang ditulis itu, kalau di blend, nano-nano, tapi, its real. hehehe.

    seru lah yaa mbaa

    ReplyDelete
  7. Sudah ngerasain semua maklum tahun ini sudah 16 tahun nikah..Yang paling parah depresi di awal pernikahan. Harus resign tiba-tiba, jadi ibu RT, anak pertama meninggal pulak..wadah, kalau ingat..Alhamdulillah semua berlalu sudah

    ReplyDelete
  8. Habis ijab qobul...bahagia tapi gimana gitu ya...belum terlalu kenal, takut. Bismillah. Lebih menikmati, Alhamdulillah proses saling mengenal setelah pernikahan begitu nikmat, dan 1 tujuan yang harus diingat...Allah. Penyembuh segala perasaan, balik ke Allah kalau lagi kecewa, balik ke Allah kalau lagi cemburu, dan lagi - lagi balik ke Allah...Terima kasih mba.

    ReplyDelete
  9. Pernah merasakan semuanya. Alhamdulillah semua proses itu bagian dari rahmat

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah merasakan perasaan itu semua. Meski kami berdua berprinsip, perasaan kita harus seperti barang antik, semakin lama usianya maka perasaan di antara kami harus semakin berharga.

    ReplyDelete
  11. mbak tulisannya bagus banget. saya bisa relate banget walaupun saya nikah belum nyampe setahun lamanya. berusaha antisipasi semua hal yang jelek pake istigfar dan iman hehe. bismillah.

    ReplyDelete
  12. Perasaan setelah ijab qabul itu adalah lega dan penasaran. Mungkin karena prosesnya cepat. Apakah sesuai ekspektasi dengan yang diiinginkan

    ReplyDelete
  13. Masya Allah tulisannya menginspirasi banget, apalagi masih sendiri, belum pernah ngerasain perasaan2 itu... Hehe,,
    Jadi, ada gambaran buat kedepannya. Bahwa pasangan itu tak ada yg sempurna seperti khayalan atau yg tampak di medsos....

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa menginspirasi.