Ujian dan Penantian; Jodoh

By Siska Dwyta - 00:12

Bismillaahirrahmaanirrahiim


Ini bukan hanya tentang penantian tapi juga ujian. Sepertinya hidup ini memang berlalu dari satu penantian ke penantian yang lain which is setiap penantian pasti dihiasi ujian. Sebut saja penantian seseorang terutama bagi wanita yang usianya telah mendekati atau melewati seperempat abad dan masih singlelillaah, pasti tidak jauh-jauh dari yang namanya menanti jodoh. Jangan dikira menanti jodoh itu bukan ujian lho.

Sepertinya menghadapi pertanyaan-pertanyaan di Ujian Nasional lebih ringan deh. Jawabannya jelas. Tinggal milih salah satu option yang dianggap benar, beres! Nah ini, kalau diuji dengan pertanyaan-pertanyaan yang nggak jelas, semisal; kapan nikah? udah ada calon? undangan nikahnya mana nih? dan bla bla bla. Duh, berat kan jawabnya. Boro-boro tahu tanggal nikah sendiri, calon saja belum punya. Jodoh yang dinanti-nanti pun masih tak ditahu dimana rimbanya. Atau okelah, ujian seputar masalah jodoh pasti tidak jauh-jauh dari yang namanya patah hati, kecewa, baperan, galauan dan sejenisnya. Ada yang udah menjalin kasih tak halal bertahun-tahun eh kekasihnya malah menuju halal bersama pasangan lain. Ada yang udah berbilang bulan menunggu dilamar sosok pujaan hati eh sosok yang diam-diam dipuja dalam hati itu malah malah melamar anak orang lain. Tidak sedikit pula calon pasangan halal yang undangan nikahnya udah tersebar tapi menjelang hari H, Qadarullaah pernikahannya gagal karena berbagai sebab. Belum lagi beban perasaan yang musti ditanggung para jomblofisabilillaah or singlelilillaah karena langganan ditodong pertanyaan-pertanyaan yang tak bertanggung jawab dari orang-orang di sekelilingnya plus merasa risih-resah sendiri kala menyadari teman-teman seumurannya rata-rata udah pada nikah.

Yap, itu beberapa bentuk ujian ketika sedang menanti jodoh yang bisa saya sebutkan. Bentuk lainnya mungkin masih banyak lagi. Tapi apa pun bentuk ujiannya, yakinlah jodoh kita pasti datang di waktu yang tepat sesuai dengan ketetapan Allah. Tidak lebih cepat dan tidak pula terlambat. Toh, kapan datangnya jodoh itu hanya masalah waktu. Iya nggak?

Nah, dalam rentang waktu penantian itu; ada ujian yang Allah kasih. Allah sengaja nggak langsung mempertemukan kita dengan jodoh yang dipinta. Allah juga nggak serta merta memperkenankan keinginan kita saat itu juga. Dia hendak membiarkan kita menempuh jalan berliku-liku dahulu. Dia ingin melatih kesabaran kita dengan memberi ujian yang mustahil melebihi kadar kemampuan hamba-Nya. Setidaknya dengan begitu, Allah akan membersamai kita. Ingat ayat ini, Innallaaha ma'ashshobirin. Allah selalu bersama orang-orang yang sabar.

Lagipula bukankah dengan adanya ujian, jawaban yang kita temukan bakal jauh berlipat-lipat lebih indah. Believe deh.

Well, setiap orang punya ujiannya masing-masing. Bentuknya mungkin tak sama, hasilnya pun boleh berbeda namun tidak peduli bagaimanapun bentuknya dan apa pun hasilnya yang terpenting adalah cara kita menyikapinya. Mau sabar ikut rulenya Allah atau nggak sabaran lalu lebih memilih lewat jalan pintas? Up to You Jawabannya, ya tergantung kita.

Kalau nggak sabaran ya mungkin kita bakal ngotot menanti jodoh dengan cara-cara yang nggak sesuai dengan syariat. Misal dengan pacaran, TTM-an, kakak-adek, dll. Alasannya; gimana mau ketemu jodoh kalau pacar aja nggak punya? Jalan sama cowok aja nggak?

Emang sih kalau dipikir-pikir nggak masuk logika banget, kalau kita bertahan dengan prinsip single yes pacaran no. Boro-boro punya calon, dekat sama lawan jenisnya aja nyaris nggak pernah. Trus tiba-tiba bisa nikah gitu?

Tapi emang ya, masalah jodoh nggak perlu logika. Saya sampai sekarang juga masih nggak habis mikir setiap mengingat kembali betapa perfect-nya Allah mengatur pertemuan saya dengan jodoh yang telah Dia tetapkan. Masih suka heran juga, kok bisa ya saya berjodoh dengan lelaki yang ketemu cuma sekali, lihat pun sekilas doang. Yang baru pertama kali mendengar suara saya lepas ijab kabul. Yang cuma butuh dua kali pertemuan lantas ketiga kalinya kami telah SAH jadi pasangan suami istri. Kalau dipikir-pikir emang nggak masuk akal banget tapi yah begitulah faktanya. Perkara jodoh adalah mutlak urusan Allah. Dia yang atur.  Dia yang tetapkan. Kurang lebih samalah dengan rejeki yang sering datang dari arah yang tak disangka-sangka. Begitu pun dengan jodoh. Datangnya pun bisa jadi dari arah yang tak pernah kita sangka sebelumnya.

Justru yang keliru bila kita memaksa mengatur jodoh sendiri, dengan cara-cara yang Allah nggak ridho. Tidak sabaran nunggu jodoh. Ngotot pengen nikahnya sama kekasih sebelum ijab kabul. Padahal sekali pun menjalin kasih tak halal sekian lama, kalau Allah tetapkan tak berjodoh pasti akan berpisah jua. Atau meski udah duduk di pelaminan bersama tapi karena bukan jodoh akhirnya pernikahannya retak juga. Udah banyak kan kasus yang kayak gitu, usia pacaran sampai tujuh tahunan eh rumah tangganya hanya bertahan tiga bulan. Na'udzu billaah min dzalik.

Of course, mungkin pernikahan yang saya jalani nggak bakal seindah yang saya rasakan saat ini jika di masa-masa penantian menanti jodoh itu saya nggak sabaran dan nggak komit sama diri sendiri. Harus nikah dengan proses yang Allah ridhai. Prosesnya gimana? Tentu, saya nggak cuma berdiam diri, yang kerjanya cuma menunggu seperti menunggu uang jatuh dari langit. Berharap tiba-tiba sang jodoh datang mengetuk pintu rumah saya. Mustahil banget kan, hehe.

Ada doa-doa yang saya langitkan. Ada ikhtiar yang saya kerahkan semaksimal mungkin. Ah, namun nyatanya doa dan ikhtiar yang telah saya lakukan sepanjang itu belum cukup. Saya diuji dengan "kegagalan" berkali-kali. Puncaknya, tak bisa saya gambarkan betapa berkecamuknya perasaan saya kala itu. Perasaan yang akhirnya membawa saya pada titik tawakal. Titik dimana saya memasrahkan semuanya pada yang Maha Kuasa. Menyerahkan segalanya hanya pada-Nya. Saat itu saya merasa jodoh saya semakin jauh. Bahkan seolah tak ada lagi harapan saya akan segera hidup menggenap. Menikah sebelum usia saya menyentuh seperempat abad menjadi hal yang sangat mustahil. Lalu apa lagi yang bisa saya lakukan.

Saya pasrah. Saya menyerah dengan diri saya sendiri. Bukan berarti saya berputus asa. Saya hanya merasa perkara jodoh bukanlah urusan saya. Saya tidak bisa memaksakan sesuatu yang bukan menjadi urusan saya. Sekali lagi, jodoh itu Allah yang atur. Saya tidak bisa memaksa Allah untuk mendatangkan jodoh saya sesegera mungkin, atau menjodohkan saya dengan seseorang yang saya ingini semata. 

Saya telah berulang-ulang meminta, pun telah berkali-kali berusaha tapi saya luput dengan satu hal ini. Tawakal. Saya lupa, tugas saya sebatas berdoa dan ikhtiar selebihnya biarkan Allah yang urus. Allah yang atur. Saya tinggal menerima hasil. Apa pun hasilnya, Allah tahu yang terbaik buat hamba-Nya. Dan karena penantian ini merupakan ujian maka cara mengatasinya kata Allah hanya ada dua. Shalat. Sabar. Shalat. Sabar. Shalat. Sabar.

Saat shalat kita dekat dengan Allah. Saat sabar, Allah bersama kita. Dan itu yang berusaha saya sikapi, semakin diuji semakin saya ingin dekat dengan-Nya, bersama-Nya.

Lalu setelahnya apa yang terjadi. You know? hanya dalam hitungan jam, tidak sampai berbilang hari, Allah sekonyong-konyong munculkan dia - sosok yang kini menjadi imam dalam rumah tangga saya. Itu seperti sebuah keajaiban. Saya sungguh tak menyangka. Bahkan di saat pertama kemunculannya, saya lebih dulu punya firasat. Perlahan namun pasti jodoh yang masih buram di mata saya itu mulai nampak samar-samar, kemudian hanya melalui proses kurang lebih tiga bulan jodoh itu menjelma nyata dalam hidup saya.

Setahun lalu saya telah menemukan jodoh saya, lalu apakah penantian saya berakhir? Apakah saya tidak sedang menanti apa-apa lagi? Apakah bertemunya saya dengan sang jodoh telah cukup bagi saya. Tentu tidak. Penantian saya masih berlanjut. Ini bukan hanya tentang penantian namun juga ujian. Ujian yang akan hadir di setiap episode kehidupan kita. Bagaimanapun bentuknya, apapun hasilnya, ujian tak seharusnya melemahkan, justru hadirnya semestinya menguatkan kita.

*Untukmu yang saat ini sedang diuji dengan penantian jodoh yang belum jua datang; bersabarlah. Masih ada ujian di depan sana yang lebih pelik. Kamu harus lebih kuat, sebab masih banyak todongan pertanyaan yang sangat tajam. Sungguh, ujian ini belum berakhir :')

  • Share:

You Might Also Like

1 comments

  1. Usiaku 2 tahun lagi genap seperempat abad nih mba. Tapi bukannya galau karena menunggu jodoh tapi justru takut kalau jodohnya datang. hhee syndrom nikah kali ya namanya? terlalu banyak ketakutan-ketakutan yang tidak penting yang membuat saya belum mau menikah.

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa menginspirasi.