Ujian Penantian; Buah Hati

By Siska Dwyta - 20:16



Bismillaahirrahmaanirrahiim

"Selamat menempuh hidup baru" demikian ucapan yang kerap ditujukan kepada pasangan yang sedang atau baru melangsungkan pernikahan. Ucapan yang sebenarnya mengundang tanda tanya besar. Terutama bagi mereka yang belum menempuhnya. Entah bagaimana rasanya kehidupan yang baru itu? Apakah yang dimaksud dengan hidup baru itu seperti terlahir kembali ataukah seakan memasuki kehidupan yang belum pernah terjamah sebelumnya? Atau mungkinkah maksudnya serupa ungkapan yang biasa ditujukan kepada mereka yang baru lulus SMA dan atau lulus dari bangku kuliah. Bahwa kelulusan itu bukan akhir dari segalanya melainkan awal dari memasuki episode kehidupan yang baru.


EPISODE UJIAN

Tentu tidak sama episode yang kita jalani saat masih duduk di bangku sekolah dengan bangku kuliah. Begitu pula setelah meraih gelar sarjana, kita bakal dihadapkan dengan episode baru yang kata orang-orang sih lebih kejam. Episode yang kita jalani di kampus paling sebatas berkutat dengan tumpukan tugas perkuliahan atau sekaligus terlibat aktif dengan seabreg kegiatan organisasi mahasiswa. Belum terlalu dibebani dengan hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan, materi dan segala tetek bengeknya. Untuk urusan materi saja, kebanyakan mahasiswa masih bergantung pada beasiswa orang tuanya.

Nah, memasuki episode lepas kuliah baru deh kita dihadapkan dengan realitas kehidupan yang semakin pelik. Oh, ternyata cari pekerjaan itu nggak gampang ya? Cari uang itu susah! Dan memang sih jadi pengangguran itu berat. Tapi kalau sudah terjun ke dunia kerja, beratnya malah bertambah kali lipat. Tuntutan-tuntutan yang menghampiri semakin banyak. Masalah-masalah yang bermunculan pun bertambah rumit. Entah itu tuntutan ekonomi yang berkepanjangan, masalah kerjaan yang seolah nggak ada habis-habisnya atau konflik dengan atasan juga sesama rekan kerja yang seakan tak berujung.

Tak bisa dipungkiri, di tiap episode kehidupan yang kita lalui akan selalu ada ujian yang menghampiri. Keduanya berbanding lurus. Semakin bertambah episode yang dilalui, semakin sulit pula ujian yang bakal dihadapi. Tidak sama ujian yang diterima anak SD dengan anak SMA. Begitu pun ujian yang dihadapi oleh mereka yang telah melangkah ke gerbang episode kehidupan rumah tangga dan mereka yang masih berada dalam episode menanti menjemput jodoh, jelas amat berbeda.

Barangkali - kita yang masih melajang terutama kaum hawa yang umurnya telah melewati seperempat abad mengira perkara jodoh adalah ujian penantian terberat. Menanti datangnya sang jodoh yang namanya masih merahasia saja rasanya sudah berat, belum terhitung dengan teror pertanyaan "kapan" dari orang-orang sekeliling. Makin menjadi-jadilah beratnya. 

Lalu mungkin kita menyangka bahwa satu satunya cara menghilangkan beratnya penantian dan terlepas dari teror pertanyaan "kapan" adalah dengan segera melangsungkan akad nikah. Padahal realitasnya, di depan sana, orang-orang masih akan riuh menodong kita dengan pertanyaan menyangkut "waktu" yang kita sendiri tidak tahu "kapan" tepatnya. 

Baca juga Lima Pertanyaan yang Tidak Lepas dari Perjalanan Hidup Kamu

Belum menikah adalah ujian. Setelah menikah pun ujian. Jangan sampai kita beranggapan ujian penantian itu benar-benar telah berakhir persis ketika kita berhasil bersanding dengan sang jodoh di pelaminan. Oh, tidak. Ujian penantian itu masih tetap berlanjut. Bahkan penantian yang kelak kita hadapi setelah menikah sungguh jauh lebih berat. Percaya nggak?

Baiklah, kita mungkin baru akan percaya terhadap sesuatu setelah merasakan dan mengalaminya sendiri. Ketika masih lajang pun, gambaran pernikahan yang terbetik di benak saya demikian adanya. Hanya keindahan. Hanya yang enak-enaknya saja. Saya pernah membayangkan pernikahan itu ibarat istana yang di dalamnya berisikan semua kebahagiaan. Dengan melangsungkan pernikahan, saya seolah memasuki istana bersama sang pangeran yang dikirim Tuhan dan kami hidup berbahagia selamanya di sana. Tiada lagi luka, duka mau pun tangis yang menghiasi hari-hari saya selepas menikah. Yang ada hanyalah bahagia. Seolah kebahagiaan saya telah sempurna setelah digenapi.

SETELAH MENIKAH

Nyatanya? Ekspektasi saya terhadap pernikahanlah yang terlampau tinggi. Padahal realitas yang terjadi setelah menikah jauh dari yang dibayangkan. Pernikahan tidak selamanya seindah khayalan. Pernikahan tidak melulu menghadirkan senyum dan tawa. Lebih dari itu, pernikahan justru mengundang berbagai macam emosi. 

Setelah menikah, saya baru menyadari hal tersebut. Tawa dan tangis seperti sudah menjadi satu paket yang menghiasi hari-hari saya dalam mengarungi bahterah rumah tangga yang baru seumur jagung ini. Belum ditambah dengan emosi lain yang suka datang dan pergi seenaknya. Kadang tiba-tiba bawaannya pengen marah-marah sepanjang hari, besok-besok mendadak sebel bin jengkel, kadang-kadang juga suka cemburu dan ngambek yang nggak jelas.

Mungkin saya naif banget ya, mengira setelah menikah tidak ada lagi air mata, faktanya justru sebaliknya, saya menjelma jadi wanita yang sensitif banget. Paling banyak nangisnya. Ah, saya mah nggak peduli dibilang istri yang cengeng. Pokoknya semenjak menyabet gelar istri, hati saya gampang saja terenyuh. Dikit-dikit nangis. Dikit-dikit sesenggukan. Sampai masalah-masalah kecil dan sepele saja bisa bikin saya terisak-isak.

Intensitas tangisan saya setelah menikah memang tidak berkurang, malah makin sering tapi bukan berarti lho air mata yang mengucur itu pertanda pernikahan saya tak bahagia. Justru, setiap kali usai menangis -menumpahkan perasaan- saya merasakan kebahagiaan yang meluap-luap. Seperti pelangi yang muncul selepas hujan. Hujan itu menghadirkan warna yang indah di langit. Tangisan saya pun demikian. Mengundang warna yang indah di hati.

Sepertinya saya telat memahami makna keindahan itu. Lihatlah, bunga-bunga yang tumbuh di taman terlihat lebih indah bila berwarna-warni ketimbang hanya dihiasi satu warna. Pernikahan yang benar-benar indah juga seperti itu kan? Dihiasi oleh banyak warna. Lagipula mustahil ada pernikahan yang dihiasi dengan riak tawa saja. Pasti ada tangisan pula di sana. Ada senyuman. Ada kesedihan. Ada suka, ada pula duka. Semua rasa itu yang akan setia menyertai perjalanan kita mengarungi bahterah rumah tangga.

MENIKAH BUKAN UNTUK BAHAGIA

Lalu dimana kebahagiaan? Bukankah kita menikah untuk bahagia? Kita menikah agar bisa tertawa tanpa tangis, tersenyum tanpa sedih dan bersuka tanpa duka? 

Baca juga Menikah Karena Allah

Ah, siapa bilang kita menikah untuk bahagia. Hakikatnya pernikahan adalah ibadah. Kita menikah untuk beribadah. Menggenapkan dien kita yang masih separuh. Kita menikah untuk mencari berkah dalam hidup. Bukan semata-mata mencari bahagia sebab tanpa dicari pun bahagia tidak pergi kemana-mana. Ia ada di hati kita masing-masing. Bahagia itu kita sendiri yang cipta, kita sendiri yang rasa, bukan orang lain.

Toh, siapa yang bilang hanya tawa, senyuman dan suka yang dapat mengekspresikan rasa bahagia. Mungkin jika tak pernah menangis, kita tidak akan tahu betapa indahnya tertawa. Jika tidak pernah bersedih kita tidak akan tahu betapa manisnya tersenyum. Jika tidak pernah berduka pun kita tidak akan tahu betapa nikmatnya bersuka. Kebahagiaan itu hadir karena kita telah merasakan pahitnya hidup.

Adapun kehidupan pernikahan yang akan atau sedang kita tempuh adalah jalan penuh liku, terjal dan curam. Jadi jangan mengira, setelah menikah hidup kita akan mulus-mulus saja. Baik-baik saja. Terbebas dari segala beban hidup. Terlepas dari segala ujian dan rentetan pertanyaan "kapan".

Percayalah, setelah berhasil lolos dari pertanyaan kapan lulus, kapan nikah, orang-orang masih akan tetap mengusik kita dengan pertanyaan "kapan" yang lain. Dan menurut saya, ditodong pertanyaan "kapan" setelah menikah itu rasanya jauh lebih tajam dan menusuk ketimbang ditanya "kapan" sebelum menikah. Why? 

Nah, jika di postingan sebelumnya saya sempat bahas sedikit mengenai ujian penantian yang dirasakan sebelum bertemu dengan sang jodoh maka di postingan kali ini saya pengen sharing mengenai ujian penantian yang bakal dihadapi setelah prosesi ijab kabul dan bersanding di pelaminan dengan jodoh yang berhasil kita jemput usai.

Baca juga Ujian Penantian; Jodoh

Selain menerima ucapan selamat menempuh hidup baru, biasanya pengantin baru juga akan kebanjiran banyak doa. Dari sekian doa yang terkirim, ada satu doa yang cukup menarik perhatian saya selama ini. "Semoga cepat dapat momongan", begitu bunyi doanya. Dulu mah waktu masih jadi anak sekolahan, saya beneran nggak ngerti dengan maksud doa tersebut atau mungkin karena saya yang terlalu polos kali ya, hehe. Kadang suka heran gitu, lihat tetangga atau kerabat yang sepertinya baru-baru melangsungkan acara nikah eh tahu-tahu sudah punya anak, ada juga pasangan yang kayaknya sudah lama nikah tapi kok masih belum punya anak.

Namun keheranan saya kala itu sebatas muncul di pikiran dan hanya selintas, selebihnya sih saya nggak peduli. Ya, namanya juga masih anak sekolahan, pikirannya belum sampai ke dunia rumah tangga. Bahkan setelah dewasa dan menyentuh umur yang telah cukup untuk membina rumah tangga pun saya masih belum peduli dengan urusan yang menyangkut anak. Maklum, masih singlelillaah saat itu, jadi baru fokus dengan urusan menjemput jodoh, belum kepikiran soal anak, apalagi sampai ikut campur dengan asal bertanya ke teman yang sudah ketemu jodohnya namun belum jua dikarunia buah hati.

Setelah bertemu dengan jodoh pun demikian. Saya belum terlalu memikirkan soal anak, masih lebih fokus menikmati indahnya masa-masa pengantin baru. Ya, kalau langsung dikasih Alhamdulillaah, belum dikasih juga tetap Alhamdulillaah. Saya nggak mau terlalu ngotot minta segera dikasih momongan. Rasanya, saya malu saja minta sama Allah. Baru dipenuhi keinginan yang satu udah mau minta yang lain lagi. Ah, dimana rasa syukur saya?

Apalagi pasca menikah, saya sempat kena syndrome yang membuat diri sekonyong-konyong tidak bergairah dengan dunia ini. Merasa jodoh yang Allah kasih ke saya itu sudah cukup dan saya tidak ingin apa-apa lagi. Sungguh! Dengan perasaan yang seperti itu bukan berarti saya bermaksud menunda memiliki momongan, saya hanya tidak ingin menuntut yang lebih pada Tuhan. Walau pada akhirnya saya tetap memohon sih.

Baca juga Perasaan - perasaan yang Tumbuh dalam Pernikahan

Memang tak bisa dipungkiri, setiap pasangan suami istri pasti mendamba kehadiran anak dalam kehidupan rumah tangganya. Lebih-lebih jika menengok rumah tangga pasangan lain yang telah lengkap dengan hadirnya sang buah hati. Ah, jujur saja, saya pun mulai risih ketika mengetahui kabar baik nan bahagia datang dari teman, kerabat, dan tetangga yang jarak pernikahannya tidak jauh dari pernikahan saya. Bahkan tidak sedikit pasangan yang saya kenal yang nikahnya terpaut sekian bulan setelah pernikahan saya sudah lebih dulu mengumumkan kehamilannya dengan mengunggah gambar test pack bergaris dua atau hasil USG.

Baca juga ; Ketika Hasil Test Pack Positif

Entahlah, perasaan risih macam apa ini. Seharusnya saya ikut berbahagia dan turut mendoakan mereka yang telah diberi anugerah lebih dulu menjadi calon orang tua, bukannya malah merasa tidak suka dan menganggap seharusnya saya yang lebih dulu berhak mendapatkan anugerah itu.

Baiklah, jika memang kehamilan itu adalah semacam deretan antrian, maka semestinya yang duluan nikah yang lebih dulu hamil. Sayangnya, konsep kehamilan ini sama seperti pernikahan, tidak selamanya yang tua yang menikah duluan dan tidak harus yang mengenakan toga yang lebih dulu mengenakan baju pengantin. Toh, sampai saat ini masih banyak kan yang umurnya telah mendekati atau menyentuh kepala tiga belum nikah-nikah sebaliknya tidak sedikit pula yang umurnya masih kepala dua atau baru memasuki usia tujuhbelastahun telah menikah.

MENIKAH DAN HAMIL BUKAN HANYA TENTANG TAKDIR

Well, menikah itu bukan hanya tentang takdir, tapi juga tentang usaha. Bukan usaha, siapa cepat dia yang dapat. Tapi siapa yang siap dan bersedia, in syaa Allaah dia yang akan duluan menggenapkan separuh diennya. Memang benar, jodoh kita telah ditetapkan oleh Allah limapuluh ribu tahun sebelum langit dan bumi ini diciptakan, tapi ingat, meski Allah telah tetapkan semuanya - termasuk siapa, dimana dan kapan waktu yang tepat bertemu jodoh - Dia dengar doa-doa kita. Dia lihat kerja-kerja kita. Apa yang kita upayakan itulah yang kelak kita dapatkan. Jadi, jangan pernah sepelekan proses yang kita jalani dalam menjemput jodoh. Sebab jodoh pun mustahil datang kalau kerjanya kita hanya menunggu tanpa ada usaha menjemputnya.

Baca juga : Menuju Halal; Ikhtiar Menjemput Jodoh

Kehamilan juga bukan hanya tentang takdir, tapi tentang usaha. Bukan tentang siapa yang duluan nikah dia yang duluan hamil tapi siapa yang siap dan bersedia menjadi orang tua in syaa Allah Dia-lah yang diamanahkan. Sayangnya, meski konsep kehamilan ini sama dengan pernikahan namun aturannya jelas berbeda.

Aturan yang berbeda itu yang membuat saya berani berpendapat bahwa ujian pertanyaan "kapan" setelah menikah itu rasanya jauh lebih tajam dan menusuk ketimbang pertanyaan "kapan" sebelum menikah. Ketika masih lajang, kita pasti langganan ditodong pertanyaan "kapan nikah", setelah menikah pun, mereka tetap muncul dan meneror kita dengan pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya sensitif. Memang pertanyaan mereka bukan lagi menyangkut jodoh, tepatnya telah beralih ke persoalan anak. Sedihnya, masih banyak orang di luar sana yang tidak paham, kalau yang namanya jodoh dan anak adalah sepenuhnya rahasia Tuhan. Tuhan yang atur. Tuhan yang tentukan.

Sepertinya tidak layak saja sih jika pertanyaan yang jawabannya hanya Tuhan yang tahu diajukan ke hamba-Nya yang notabene belum tahu apa-apa. Mana dia tahu kapan perutnya berisi, kapan hasil test packnya bergaris dua, kapan dia bisa merasakan hamil, bahkan ketika hamil dan telah mengantongi tiket Hari Perkiraan Lahir atau biasa disebut HPL pun dia tetap tidak memiliki kemampuan menentukan kapan persisnya akan melahirkan. Yang si hamba tahu, dia hanya harus tetap memohon, tetap berusaha lalu tawakal; pasrah pada kehendak Allah ketika segenap doa dan ikhtiar telah ia kerahkan semaksimal mungkin.

You know what tentang perjuangan yang mereka lalui demi mendapatkan dua garis merah. Mendengar kabar kehamilan orang-orang di sekitarnya saja rasanya sudah seperti mengiris hati terlebih ditambah dengan todongan pertanyaan-pertanyaan serupa ini.

"Mbak, udah isi belum?"

"Udah punya anak ya?" 

"Anaknya berapa bu?" 

"Udah berapa tahun nikah? kok belum hamil-hamil. KB ya? Nggak baik lho nunda-nunda punya momongan" dan bla bla bla

Mungkin kita sekadar berbasa-basi mengajukan pertanyaan tersebut, asal kepo semaunya tanpa menyadari efek yang ditimbulkan. Padahal boleh jadi, ada yang hatinya terluka karena pertanyaan yang kita anggap sepele itu. Memang sih cuma pertanyaan sederhana tapi coba bayangkan bila kita yang berada dalam posisi mereka yang sedang diuji dengan penantian buah hati.

Saya saja yang belum genap setahun diuji dengan penantian buah hati sudah merasakan risih, resah gelisah dengan hal-hal yang menyangkut anak, lebih-lebih mereka yang penantiannya sampai berbilang tahun lamanya. Maa syaa Allaah. Sungguh, ujian penantian buah hati ini bukan ujian yang mudah, tidak semudah menanti jodoh.

JODOH HAK HAMBA VS ANAK HAK ALLAH

Menanti jodoh memang berat, namun beratnya tidak sebanding dengan menanti buah hati. Sekali pun keduanya memiliki konsep yang sama, aturannya tetap berbeda. Aturan yang saya maksud di sini bukan lagi masalah siapa yang lebih dulu, ia yang berhak. Bukan. Itu masalah konsep sedangkan aturannya berkaitan dengan HAK. Haknya Allah sebagai Rabb dan Haknya kita sebagai hamba.

Barangkali kita luput dengan aturan ini, karena jodoh dan anak memiliki konsep yang sama sehingga kita mengira aturan Allah dalam memberi jodoh mau pun anak juga sama. Sebab jodoh adalah haknya kita maka kita pun menyangka anak adalah haknya kita. Padahal aturannya tidak demikian.

Jodoh memang haknya kita. Dalilnya jelas. "wa khalaqnaakum azwaajan" - dan Kami menciptakan kamu berpasang-pasangan. Itu salah satu janji Allah yang tertera dalam QS An-Naba ayat 8. Artinya apa? Tidak ada satu pun makhluk di dunia ini yang diciptakan tanpa pasangan. Benda mati saja memiliki pasangannya apalagi manusia. Jadi, kalau sampai detik ini kita masih single, belum menemukan pasangan ya tetap dibawa happy. Santai. Tidak perlu kalut. Cukup yakin dengan janji Allah. Pasangan kita ada kok. Tidak kemana-mana. Namanya dan nama kita malah sudah lebih dulu tertaut di lauhul mahfuz beribu-ribu tahun sebelum terukir indah di secarik undangan pernikahan.

Nah,  karena jodoh adalah haknya kita - maka kita pasti menerimanya. Tinggal persoalan waktu saja. Ia akan muncul di waktu yang tepat. Beda halnya dengan anak. Anak itu bukan haknya kita melainkan murni haknya Allah. Dia memberi anak kepada siapa yang Dia kehendaki dan tidak memberi anak kepada siapa yang Dia kehendaki. Dalilnya juga jelas. Tertera dalam  QS As-syura'; 49-50.

"Milik Allahlah kerajaan langit dan bumi; Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki atau dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan dan menjadikan mandul kepada siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui, Mah Kuasa"

Jadi jelas ya, tidak semua pasangan suami istri bakal dikarunia anak. Sebab Allah tidak pernah menjanjikan hal itu. Tidak serupa jodoh yang Allah janjikan. Masalah anak sepenuhnya bergantung pada kehendak Allah. So that, menanti jodoh tak sama dengan menanti buah hati. Penantian terhadap jodoh adalah penantian yang pasti sedangkan penantian terhadap anak adalah penantian yang diwarnai dengan berbagai macam kemungkinan.

Bersyukurlah pasangan suami istri yang tidak diuji dengan penantian yang satu ini, yang cepat dikasih kepercayaan sama Allah tanpa perlu menanti lama, yang langsung merasakan nikmatnya menjadi calon ayah dan bunda di awal-awal pernikahan. But, bukan berarti lho pasangan yang tidak merasakan betapa beratnya menanti sang buah hati terlepas dari ujian yang lain. Ujian setelah menikah itu banyak, berbagai macam bentuknya. Bukan cuma soal penantian saja, kehadiran si buah hati sendiri pun sebenarnya adalah ujian bagi kedua orang tuanya.

So, bagi yang telah lama menikah dan masih dengan sabarnya menanti momongan, tetap harus berbaik sangka sama Allah; jangan pula larut dalam kesedihan hanya karena melihat kehidupan rumah tangga pasangan lain. Mereka yang kehidupan rumah tangganya tampak sempurna belum tentu sesempurna yang kita bayangkan. Lagipula tidak ada kehidupan rumah tangga yang tidak pernah dihantam badai. Setiap pasangan suami istri pasti pernah menemui badai dalam rumah tangganya. Kita hanya tidak tahu, badai seperti apa yang menerpa rumah tangga mereka. Kita hanya tidak melihat betapa keras berjuangnya mereka menghadapi badai tersebut. Lalu mengapa kita merasa iri, cemburu, dengki dengan kehidupan rumah tangga orang lain? Astaghfirullaah.



Setiap orang memiliki ujiannya masing-masing. Begitupula dengan kehidupan rumah tangga, memiliki ujiannya sendiri-sendiri. Ujian yang kehadirannya tidak selalu dalam bentuk yang sama. Toh, tidak semua pasangan suami istri diuji dengan penantian buah hati. Percayalah, bukan kita sendiri yang menghadapi ujian ini. Di luar sana ada banyak pasangan yang juga sedang menghadapi ujian yang tak kalah beratnya. Dan memang, ujian setelah menikah itu berlipat-lipat lebih berat ketimbang ujian yang dihadapi sebelum menikah.

Alhamdulillaah, saya patut bersyukur menjadi salah satu dari sekian banyak pasangan yang oleh Allah diuji dengan penantian itu. Tidak langsung dikasih kepercayaan sehingga saya tahu rasanya penantian yang seolah tak berujung itu. Tak ada kepastian di dalamnya, yang ada hanya berbagai kemungkinan. Apakah saya dan suami masuk ke dalam golongan yang akan diberi anak perempuan sesuai kehendak Allah, ataukah berada dalam golongan yang diberi anak laki-laki sesuai kehendak Allah. Atau apakah kami terpilih dalam golongan yang dianugerahi anak laki-laki dan perempuan atau justru tidak dua-duanya. Wallaahu a'lam.

Ketika usia pernikahan kami baru menginjak setengah tahun, saya dan suami malah sempat berdiskusi dan mengantisipasi berbagai kemungkinan yang bakal terjadi bila buah hati yang dinanti tak kunjung hadir. Saking semangatnya, kami sampai menyusun berbagai plan. Plan A, plan B hingga plan E. Mulai dari rencana promil alami, periksa ke dokter hingga inisiatif untuk ikut program IFV. Bahkan hal-hal yang sebenarnya nggak pengen saya bahas ikut terlintas di pikiran kami. Semisal; bagaimana bila masalahnya ternyata ada di saya, atau bagaimana bila masalahnya justru ada di dia?

Bayangkan, masih penantian berbilang bulan saja kami sudah merasa was-was gitu bagaimana dengan mereka yang penantiannya telah berbilang tahun. Nggak kebayang deh gimana rasanya, tapi saya benar-benar salut dengan para pejuang dua garis merah di luar sana yang tetap setia berjuang mewujudkan impiannya menjadi orang tua. Mereka yang nggak kenal istilah putus asa. Tetap berbaik sangka pada Tuhan-Nya. Tetap merayu dan memohon agar Allah sudi memberi kepercayaan itu. Tetap yakin akan dianugerahi buah hati, sekali pun Allah tidak menjanjikan apa-apa pada mereka.

All right, anak memang haknya Allah. Bukan haknya kita, jadi untuk mendapatkannya kita tidak berhak menuntut. Karena bukan hak maka yang bisa kita lakukan hanyalah berupaya menunjukkan diri bahwa kita layak menerima amanah itu. Kita yang harus membuktikan di hadapan-Nya bahwa diri kita pantas mendapat kepercayaan itu. Toh, tidak mungkin Allah tidak kasih jika kita benar-benar telah siap dan bersedia.

Oh ya, mengenai kesiapan dan kesediaan itu jangan diukur dari kacamata (penilaian) manusia ya. Mungkin kita sendiri merasa sudah siap dan bersedia, orang lain juga berpikiran sama namun tentu Allah yang lebih tahu sejauh mana persiapan dan kesediaan kita. Kalau pun sampai saat ini belum dikasih juga berarti memang kita yang belum sepenuhnya siap dan bersedia. Pasti ada alasan di balik permohonan kita yang belum terpenuhi. Apa pun alasannya, yakin bahwa itulah yang terbaik untuk kita. Mungkin memang sekarang belum saatnya. Tapi nanti. Pasti. In syaa Allaah. Yang penting kita tetap  positif thinking sama Allah, jangan sekali-kali berprasangka buruk pada-Nya sebab Dia sesuai dengan persangkaan hamba-Nya.

Apalagi jika menyangkut masalah anak. Hati-hati. Anak itu ketika belum diberi ke kita adalah haknya Allah tapi ketika Allah sudah ngasih maka ia menjelma titipan, amanah yang harus kita jaga baik-baik. Jangan sampai lalai. Luput dengan kewajiban kita sebagai orang tua. Padahal dulunya kita yang mohon-mohon segera diberi momongan, sekalinya sudah dikasih momongan kita yang banyak mengeluhnya. Parahnya, jika kita sampai menjadi orang tua yang tidak mampu mendidik anak dengan baik. Membiarkan anak kita tumbuh tersesat. Jauh dari agama. Na'udzubillaahi min dzalik.

KETIKA UJIAN PENANTIAN ITU MENGHAMPIRI

Anak itu sungguh amanah yang berat. Maka pantas saja bila Allah tidak langsung memberi kepercayaan kepada setiap pasangan yang baru menikah. Pantas pula bila Rasulullaah pun pernah bersabda bahwa orang yang mandul itu bukan orang yang tidak memiliki anak melainkan orang yang punya banyak anak namun tidak seorang pun dari anaknya itu yang menjadi investasi akhirat baginya ketika meninggal.


Sabda Rasul tersebut tentu menjadi reminder keras bagi para orang tua maupun calon orang tua, termasuk bagi mereka yang belum dikarunia momongan. Ujian penantian buah hati memang berat akan tetapi ujian ketika akan atau telah memilih buah hati pun tak kalah beratnya. Serius deh.

Jangan disangka orang yang sedang hamil itu tidak sedang diuji lho. Malah kehamilan itu pun sebenarnya adalah ujian. Atau bolehlah kita sebut hamil adalah ujian yang nikmat sebab banyak perempuan yang mendamba hamil sekali pun mereka tahu resikonya sampai bertaruh nyawa. Iya, ketika seorang wanita dinyatakan hamil maka hakikatnya ia akan bertaruh nyawa untuk dua orang sekaligus. Ia dan janin yang dikandungnya.

Saya jadi teringat dengan salah seorang kenalan yang dari postingan-postingan di media sosialnya begitu mengundang decak kagum, sampai-sampai hati ini ikut bicara; betapa beruntungnya wanita itu. Di usia yang masih muda ia telah dipersunting dengan pangeran gagah yang kemudian membawanya hijrah ke negeri Kangguru untuk menyelesaikan study  di sana. Menikah dan bisa mencicipi kehidupan di luar negeri tentu adalah mimpi indah yang didamba-damba banyak wanita. Namun di usia segitu, boro-boro bisa melanglang buana ke luar negeri, mimpi dijemput pangeran saja bagi saya rasanya mustahil. Ah, saya jadi iri. Iri yang sangat tidak beralasan.

Selama ini saya hanya melihat betapa bahagia kehidupan pernikahan wanita itu, terekam jelas dari postingan-postingannya di dunia maya tanpa tahu benar ujian atau penderitaan yang tengah ia hadapi. Lalu betapa terkejutnya saya ketika suatu hari mendapati kabar "kepulangannya" yang terkesan begitu mendadak, mengingat saya tidak pernah mendengar ia menderita penyakit kronis.

Belakangan saya baru tahu penyebab "kepulangannya" yang sungguh menggetirkan hati. Ia dikenal sebagai wanita yang sangat mencintai anak-anak dan begitu mendamba memiliki anak. Kira-kira menginjak usia dua tahun pernikahan baru Allah memberi amanah itu padanya. Buah hati yang begitu ia nantikan. Sayangnya, sejak awal dokter telah memvonis bahwa kehamilannya sangat berisiko karena ia menderita kelainan jantung. Namun wanita itu sungguh tak peduli dengan perkataan dokter, ia tetap ngotot mempertahankan janinnya.

Kata dia; ini jihad saya urusan penyakit yang saya derita itu masalah belakangan.

Dokter terpaksa membolehkan ia menjalani kehamilannya dengan syarat ketika memasuki usia tujuh bulan ia sudah harus melahirkan lewat operasi caesar. Ia menyanggupi syarat tersebut namun qadarullaah, di usia lima bulan, janinnya sudah minta untuk dilahirkan. Operasi segera dilakukan. Dia melahirkan seorang bayi nan mungil yang dikiranya masih hidup. Terlahir dengan organ tubuh yang belum sempurnalah yang membuat si bayi tidak dapat bertahan. Namun orang-orang terdekat sengaja menyembunyikan kematian bayinya. Selang beberapa hari kemudian, karena sakit jantung yang dideritanya bertambah parah ia pun akhirnya menyusul si bayi, pulang ke pangkuan Tuhan. Sampai hembusan nafas terakhir, wanita itu masih tidak tahu keadaan bayinya yang ternyata lebih dulu tiada. Saat itu, ia hanya tahu bahwa ia telah menjadi wanita yang sempurna. Menjadi seorang ibu. Maa syaa Allah, benar-benar perjuangan yang luar biasa. Demi buah hati yang dikandungnya, ia rela menanggung resiko. Sekali pun nyawa adalah taruhannya. (In syaa Allaah, surga tempatmu, ukhtii)

Nah, yang bikin saya agak shock karena usia ketika ia terpaksa melahirkan janinnya yang belum matang sama dengan usia kandungan saya kala itu. Lima bulan. Allaahu, saya langsung terbayang dengan diri dan kondisi janin saya. Bagaimana bila saya yang mengalami kondisi seperti itu, sanggupkah saya menerima resikonya demi buah hati yang saya kandung? Apakah saya seberani itu? Entahlah.

Satu hal yang pasti, Allah tidak pernah menguji di luar batas kemampuan hamba-Nya. Jadi seumpama saya dikasih ujian yang serupa itu berarti sudah sesuai dengan kadar kemampuan saya. Artinya saya bisa, saya sanggup, saya mampu. Saya hanya perlu menjalaninya, bukan? Begitu pun dengan kehamilan ini.

Semenjak menikah dan mulai merasa diuji dengan penantian buah hati, saya akhirnya jadi tertarik dengan hal-hal yang berkaitan dengan kehamilan. Bagaimana bisa hamil dan bagaimana rasanya hamil? Itu adalah dua pertanyaan yang pernah nyangkut di otak saya. Malah saya sempat iri dengan wanita yang mengalami keguguran. Lho kok?

Lha iya, setidaknya mereka yang mengalami keguguran pernah merasakan hamil. Ada janin yang telah tumbuh dalam rahim mereka. Janin yang meski gugur saat masih menjadi gumpalan darah tetap disebut sebagai anak yang kelak menanti orang tuanya di pintu surga. Sementara saya? Aih, jangan ditanya. Bikin saya makin penasaran saja untuk tahu bagaimana caranya agar saya bisa hamil dan merasakan kehamilan itu. Lagi-lagi iri saya tidak beralasan, kan? Ketika akhirnya bisa hamil dan merasakan kehamilan, baru saya sadari kekhilafan saya ini. Tidak sewajarnya saya iri dengan takdir hidup orang lain. Saya memiliki takdir sendiri dan itulah yang harus saya syukuri.

Alhamdulillaah, di saat Allah memberi saya kepercayaan itu, satu per satu saudari dalam lingkaran shalihah  saya sewaktu di Serui juga muncul dengan kabar baiknya masing-masing. Ini bukan janjian tapi qadarullaah, ternyata HPHT kami berdekatan yang artinya kehamilan kami bersamaan. Kabar tersebut begitu membahagiakan meski di sisi lain tetap ada kesedihan sebab salah satu dari kami masih berada dalam ujian menanti buah hatinya. Betapa kami tetap mendoakan dan berharap  agar saudari kami itu pun segera muncul dengan kabar baiknya.

Akan tetapi kabar baik yang saya terima serupa angin yang bertiup kencang lalu menghilang begitu saja. Menyisakan saya yang terpaku, membungkam. Ah, rasanya baru kemarin saya mengucapkan baarakallaah fiik pada mereka lalu hari ini saya sudah dipaksa untuk turut berbelasungkawa. Mereka yang sebelumnya muncul dengan kabar kehamilannya kini muncul dengan kabar kegugurannya. Kabar yang nggak cuma bikin saya sedih tapi juga was-was. Pasalnya di antara mereka, cuma saya yang bertahan dengan kehamilan yang baru melewati trimester pertama kala itu.

Saya jadi ikut membayangkan, bagaimana perasaan saya bila ujian tersebut juga menghampiri? Tak terbayangkan mungkin betapa hancurnya hati ini kehilangan janin yang telah tumbuh dalam rahim. Ibaratnya seperti diberi kejutan berupa kado yang terbungkus rapi dan indah. Betapa membuncahnya bahagia kami menerima itu. Meski belum sempat membuka bungkusannya, kami tahu isinya. Itu adalah hadiah yang saya dan suami sangat inginkan semenjak hidup bersama. Kami telah menantinya berbulan-bulan. Namun belum jua melihat isinya, Si pemberi seketika datang, mengambilnya kembali.

Rasanya sangat tidak rela bila kado yang telah diberikan pada kami diambil kembali. Apalagi diambil saat kadonya masih terbungkus dan belum waktunya untuk dibuka. Kenapa memberikan kami kado jika akhirnya diambil kembali sebelum kami melihat isinya?  Itu sama seperti memberi harapan lalu menghempasnya.

Tapi memang ya, kehamilan itu tidak lantas melepaskan kita dari yang namanya ujian. Malah ujian yang penuh drama dalam sebuah rumah tangga itu kadang baru muncul ketika mendapati hasil test pack yang bertanda positif. You know why? Karena tidak semua kehamilan berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Karena menjaga amanah itu sungguh tidaklah mudah.

Bayangkan, ketika Allah menitipkannya dalam rahim kita maka ketika itu pula kita sudah harus menjaganya. And you must know that menjaga "amanah" yang belum lahir itu bukan perkara yang ringan lho. Ia menjadi ujian yang berat bagi yang menjalaninya.

Namun umumnya bagi wanita yang begitu mendamba hadirnya sang buah hati, ujian itu akan terasa nikmat dijalani walau konsekuensinya ia harus berhadapan dengan berbagai macam perubahan tak mengenakkan. Mual dan muntah tiap hari, makan minum tak berselera, gatal-gatal, kegerahan, begah atau sulit bernapas,  sulit tidur, badan pegal-pegal, kaki bengkak, kram dan lain sebagainya. Pokoknya macam-macamlah keluhan yang dihadapi para ibu hamil.

Ada yang ketika hamil ngidamnya biasa-biasa saja, hanya berlangsung di trimester awal sebaliknya ada pula yang ngidamnya parah banget. Makan dan minum nggak bisa sampai harus diinfus berkali-kali. Tiap cium bau goreng bawang bawaannya langsung mual. Bahkan ada lho yang ketika hamil nggak bisa kena cahaya matahari, jadi seharian selama hampir sembilan bulan cuma mendekam dalam kamarnya yang gelap.  Rekan kerja saya waktu masih ngajar di sekolah, pengalaman kehamilannya kayak gitu. Dia sampai trauma, tidak mau hamil lagi. Satu anak saja cukup, kata dia. Saking parahnya kehamilan yang ia jalani.

That's right, umumnya memang para calon ibu menganggap hamil adalah ujian yang nikmat akan tetapi tidak sedikit pula yang menganggap kehamilannya hanya membawa kesengsaraan terutama bagi mereka yang hamil di luar nikah. Bahkan di luar sana, banyak para ibu yang setelah melahirkan bukannya bahagia tapi justru mengalami depresi berat seperti "baby blues" atau paling parahnya "pos partum"

Rasanya saya pun sulit percaya saat pertama kali mendapat kabar salah satu saudari saya mengalami depresi berat sekitar dua atau tiga bulan pasca melahirkan. Meski cuma mendapat kabar dari jauh dan tidak melihat kondisinya secara langsung, hati saya begitu sedih mengetahui gejala depresinya yang sudah menyentuh level "post partum". Ia sampai dikurung karena sering berusaha melakukan tindakan yang membahayakan diri dan anaknya. Bahkan anaknya sendiri tidak ia akui sebagai nasabnya. Konon, ada ibu yang sampai tega membunuh anaknya sendiri karena mengidap depresi tersebut. Allahu, sebegitu beratnya kah perjuangan menjadi seorang ibu?

KUATKAH KITA?

Rasa iri dan cemburu ini mungkin wajar, muncul di hati setiap wanita yang belum jua dikaruniai momongan, namun alangkah bijaknya jika kita tidak hanya melihat satu sisi saja dan mengabaikan sisi yang lain. Kita hanya tidak tahu perjuangan apa yang telah mereka hadapi sebelum akhirnya dikaruniai buah hati.

Di antara mereka, ada yang masa penantiannya sampai menginjak belasan tahun baru memiliki momongan. Ada yang sudah bahagia dengan hasil test packnya yang menunjukkan garis dua kemudian merasa terpukul ketika hasil pemeriksaannya di dokter menyatakan janin yang dikandungnya tidak berkembang. Ada yang baru dianugerahi anak setelah mengalami keguguran berkali-kali. Ada yang akhirnya dikaruniai anak namun si anak yang ia lahirkan ternyata berkebutuhan khusus. Ada yang telah menjalani kehamilannya selama sembilan bulan dengan kebahagiaan yang meluap namun harus menghadapi kenyataan pahit nan menyedihkan ketika bayi yang ia kandung terlahir dalam kondisi tak bernyawa. Ada yang telah melahirkan bayinya dalam keadaan selamat namun tidak lama berselang tanpa sebab yang pasti si bayi tiba-tiba meninggal.

Ya, semua orang berperang melawan ujiannya masing-masing. Ada yang kuat namun tak sedikit yang menyerah. Kita?

Semoga kita termasuk yang kuat menjalani ujian penantian itu -bagaimanapun bentuknya- percayalah Allah tidak pernah membebani hamba-Nya kecuali sesuai dengan kesanggupannya.

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa menginspirasi.