Beginikah Rasanya Hamil (Part 1)

By Siska Dwyta - 00:27

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Melihat strip dua muncul pada hasil test packku kala itu rasanya seperti mimpi. Kaget bercampur haru. Walau sebenarnya sudah feeling duluan sih. Kayaknya saya hamil deh. Pasalnya, jadwal tamu bulananku biasa maju beberapa hari dan nyaris tidak pernah lewat dari HPH (Hari Pertama Haid) bulan sebelumnya, kecuali waktu sebulan pasca nikah, sempat maju sampai delapan hari lalu telat sehari di bulan berikutnya (mungkin karena pengaruh hormon 'pengantin baru' kali ya 😅siklus haidku dalam sebulan itu jadi berantakan).

Test Pack Oh Test Pack

Sebulan pasca nikah saya memang sempat telat haid, and you know-lah gimana reaksi perempuan yang baru menikah saat tahu dirinya telat. Langsung beli test pack di apotik, iya nggak? Hehe, itu juga yang saya lakukan. Tidak tanggung-tanggung, saya sampai beli dua merk test pack sekaligus. On*m*d dan S*ns*t*f. Tapi yang sempat kepake cuma test pack dengan merk yang harganya paling murah, test pack yang satunya lagi batal kepake malah tidak jadi kepake sama sekali karena tercecer entah dimana. Seingat saya sih simpannya di kamar, tapi pas dicari nggak ketemu ketemu. Yowes, mungkin saya memang tidak berjodoh dengan test pack tersebut.

Padahal rencananya test pack dengn merk yang harganya sampai lima kali lipat lebih mahal daripada merk yang satunya itu bakal saya pake selang beberapa hari setelah tes kehamilan pertama. Berhubung belum genap dua hari telat saat melakukan tes kehamilan sehingga saya nggak terlalu kecewa dengan hasilnya yang hanya menunjukkan satu strip merah. Malah tetap optimis, selagi si M tak muncul hasil tes kehamilan selanjutnya masih mungkin berubah bertanda positif. Ya, mungkin saja kan karena faktor terlalu dini melakukan tes kehamilan sehingga hasil yang muncul masih negatif. Biasalah, calon emak baru, suka nggak sabaran - pengen cepat-cepat test pack sekali pun telatnya baru sehari.

Sayangnya, tidak lama setelah melakukan test pack, si M tiba-tiba nongol begitu saja, menghempaskan segenap pengharapanku. Duh, rasanya gimana ya. Saya memang nggak sampai kecewa berat mendapati hasil negatif pada tes kehamilanku yang pertama, namun cukup terpukul dengan kehadiran tamu bulanan yang untuk pertamakalinya tidak saya harapkan. Pupus sudah optimis saya seketika itu, berganti rasa malu yang membuncah. Gimana nggak malu, baru sehari telat saja saya sudah heboh cerita ke suami dan mama lalu membiarkan mereka ikut menerka-nerka perihal ketelatanku yang ternyata nothing.

Lagipula kalau dipikir-pikir juga kemungkinan saya bisa hamil saat itu sangat tipis atau bahkan tidak mungkin sama sekali, mengingat masa subur saya telah lewat waktu kami melangsungkan pernikahan, ketika honeymoon di Kota Daeng eh si M malah datang, ketika si M baru saja pergi dan belum masuk masa subur eh saya-nya yang sudah harus balik ke Papua. Lalu LDM sebulan. So? Ya itu dia. Saya yang terlampau GR. Saking ngarepnya bisa langsung dapet tiket H sebulan pasca nikah. Dikira gampang kali ya dapet tiket H, wong yang sudah lama nikah saja masih banyak yang ngantri😯

Duh, kalau ingat-ingat kembali pengalaman pertama melakukan tes kehamilan sampai sekarang pun rasanya saya masih malu. Syukurnya waktu itu, ceritanya cuma ke suami dan mama, nggak sampai ke FB, IG, WA, Blog, dkk (lha ini kok malah cerita di sini🙊) Well, akibat insiden super memalukan itu, saya jadi parno dengan yang namanya test pack. Bagi yang sekali test pack langsung dapat hasil positif mah enak, setidaknya mereka tidak merasakan betapa memutuskan untuk melakukan tes kehamilan saja butuh perjuangan, iya nggak? Saya saja kalau mau melakukan test pack lagi kayaknya harus mengalami perang batin dulu deh😅 

Ada sih yang memang kebal alias sudah terbiasa melihat hasil test pack-nya menunjukkan satu strip merah, tapi tetap semangat buat test pack di bulan-bulan berikutnya, bahkan ada yang karena saking semangatnya sebelum telat sudah berani test pack duluan. Ada juga tuh yang parnoan kayak saya, sekali dapat hasil tes kehamilan negatif langsung nggak berani coba lagi, atau mau coba tapi mikir dulu ratusan kali. Tes nggak ya? Tes nggak ya? Eh, ujung-ujungnya nggak jadi tes karena keburu kedatangan si M.

Sebenarnya, kalau cuma tes kehamilan saja saya cukup berani, mau hasil tesnya negatif or positif no problem. Toh, tidak semua hasil tes kehamilan yang dilakukan di rumah hasilnya akurat. Lagipula alat tes kehamilan yang dijual di apotik dan biasa digunakan secara mandiri keakuratannya cuma sampai 99%, nggak ada yang akuratnya sampai 100%. Berarti masih ada 1% kan yang memungkinkan hasil test pack menjadi tidak akurat. Boleh jadi ketidakakuratannya disebabkan terlalu dini melakukan tes sehingga HCG (hormon kehamilan) pada urine belum terdeteksi atau karena melakukan tes kehamilan di waktu yang kurang tepat.

Di HAWA saya sering nih nemuin curcolan calon emak yang katanya telatnya sudah belasan hari tapi ketika test pack hasilnya selalu negatif, ada juga yang ketika melakukan test pack sendiri hasilnya positif tapi pas di-USG malah sebaliknya. Jadi seharusnya jangan dulu puas dengan tes kehamilan yang hasilnya positif, jangan juga langsung down kalau dapat hasil test pack negatif. Percayalah, selagi si M belum datang, harapan itu masih ada.

Telat Haid Vs Siklus Haid

Nah, yang masalah itu kalau sudah terlanjur tes lalu si M muncul. Bahaya. Bisa bisa bikin hati patah. Itu yang saya alami di tes kehamilan pertama dan sungguh saya tidak ingin mengulangi insiden yang sama. Memang sih telat Menstruasi belum berarti hamil, bisa jadi telatnya karena faktor lain. Makanya ketika hendak melakukan tes kehamilan untuk kedua kalinya saya perlu pastikan dulu si M benar-benar nggak bakalan datang, bukan sekadar telat.

Ternyata waktu tes kehamilan pertama itu saya keliru, mengklaim diri telat hampir dua hari, padahal tidak! Karena yang sebenarnya adalah saat itu siklus haid saya kembali ke keadaan semula. Siklus haid saya selama ini memang nggak teratur tapi rentangnya hanya seputar 25-29 hari. Herannya siklus haid saya seketika berubah drastis pasca nikah.

Acara pernikahan saya kan berlangsung tanggal 15 April 2017. Sebelum hari H tiba si M datang mulai tanggal 31 Maret-6 April. Kemudian masih di bulan yang sama, hanya berselang satu pekan setelah hari pernikahan, si M datang lagi di tanggal 22 April-30 April. Nggak tahu nih kenapa pasca nikah si M cepat banget datangnya, betah juga bertamu lama-lama, sampai sembilan hari bo' padahal biasanya cuma sepekan.


Di situ saya curiga, mungkin karena perubahan hormon atau efek pengantin baru kali ya😅 sehingga siklus maupun lama haid saya jadi berubah, tidak seperti biasanya. Oh ya, mungkin masih ada yang bingung dengan yang namanya siklus haid. Saya jelasin dulu ya, siklus haid adalah rentang hari dari hari pertama haid hingga hari pertama haid berikutnya. Adapun siklus haid yang normal rentangnya adalah 21-35 hari.

Karena haid pertama saya sebelum nikah jatuh tanggal 31 Maret maka hitungannya dimulai dari hari tersebut hingga hari pertama haid saya di bulan berikutnya yang jatuh pada tanggal 22 April. So, siklus haid saya saat itu adalah 22 hari, meski normal tapi ini di luar dari rentang siklus haid saya selama ini.

Sekarang, mari kita lihat siklus haid saya selanjutnya. Haid pertama saya di bulan Mei jatuh pada tanggal 24. So, untuk menghitung siklus haidnya dimulai dari tangggal 22 April hingga 24 Mei, which is siklus haid saya selanjutnya adalah 32 hari, meski masih normal tapi ini juga di luar dari rentang siklus haid saya yang biasanya.



Walau siklus haid tidak teratur tapi sepanjang ingatan saya semenjak baligh tamu bulananku selalu datang dan tidak pernah telat. Telat haid yang saya maksud di sini ketika tanggal yang sama dengan HPH bulan sebelumnya telah lewat dan si M belum juga datang. Pasca nikah itu HPH saya jatuh tanggal 22 April otomatis bila sesuai dengan rentang siklus haid saya seperti biasa, harusnya si M datang sekitar tanggal 17-21 Mei. Well, karena sampai tanggal 23 Mei si M belum datang maka saya anggap itu telat padahal sebenarnya tidak lho.

Kenapa saya bilang nggak telat ya karena asumsi saya hanya berdasarkan 'telat haid' tanpa memperhatikan siklusnya. Seandainya siklus haid saya tidak mengalami gangguan aka sesuai dengan rentang biasanya antara 25-29 hari maka jadwal haid saya di bulan Mei jatuhnya memang sekitar tanggal 24-28 Mei.

Nah, di bulan Desember tahun lalu saya (kembali) telat. Seharusnya jadwal haid saya datangnya dalam rentang tanggal 31 November - 4 Desember, but sampai tanggal 6 Desember si M belum juga nongol. Saya jadi curiga dong. Tapi, kali itu saya yakin banget kecurigaan saya benar. Pasalnya siklus haid saya selepas bulan Mei sudah kembali normal sesuai dengan rentang semula. Artinya saya tidak akan keliru lagi ketika menganggap diri telat, mengingat selama ini saya memang nggak pernah telat haid.

Malamnya, saya suruhlah suami pergi ke apotik beli test pack yang biasa. Belajar dari pengalaman, beli alat test pack nggak perlu mahal-mahal yang penting bisa dipake untuk mendeteksi kehamilan. Finally, tanggal 7 Desember saya akhirnya berani melakukan tes kehamilan untuk kedua kalinya. Agar dapat hasil yang lebih akurat, harusnya sih saya nunggu sampai lewat sepekan telatnya tapi untuk hal yang satu ini saya tetap nggak sabaran. Lagipula saya sudah terlanjur feeling duluan hasilnya bakal positif. Itu pun yang bikin saya yakin banget karena baru kali itu terasa ada yang berbeda dengan kondisi payudaraku. And i know, perubahan pada payudara juga merupakan salah satu tanda kehamilan.

Alhamdulillaah, hasil test pack yang kedua kalinya menunjukkan bahwa saya positif hamil. Namun sekali pun sudah melakukan tes kehamilan sesuai dengan prosedur dan di waktu yang tepat, yakni di pagi hari saat baru bangun tidur, saya dan suami masih mempertanyakan keaakuratannya. So, tanggal 9 Desember saya kembali melakukan test pack ulang. Maa syaa Allaah, hasilnya tetap sama. Dua strip merah yang muncul. Tapi lagi-lagi kami masih belum puas dan merasa perlu memastikan hasil test pack tersebut pada dokter Obgyn atau bidan.

USG Bikin Galau

Awalnya sempat bingung memilih antara periksa langsung ke dokter Obgyn atau bidan, pada akhirnya pilihan kami jatuh pada dokter Obgyn. Namun sepulang dari periksa kehamilan saya langsung galau gaes dan sempat menyayangkan keputusan melakukan pemeriksaan di dokter. Bagaimana tidak?

Niat saya periksa ke dokter Obgyn kan cuma untuk memastikan kehamilan bukan melakukan USG. Eh, sama dokternya saya malah di-USG. Padahal rencana saya baru mau USG saat usia kandungan sudah masuk 11 atau 12 weeks. Katanya sih di usia segitu, bentuk janin dalam rahim sudah jelas terlihat, denyut jantungnya pun sudah bisa didengar. Lha ini, waktu melakukan USG untuk pertama kalinya usia kandungan saya baru 5 weeks, masih muda sekali. Alhasil, saat di-USG yang terlihat cuma kantung janinnya saja😢 Berarti untuk mengetahui perkembangan janinnya, saya harus melakukan pemeriksaan USG lagi. Dokternya juga saranin gitu, saya disuruh periksa kembali ketika usia kandungan menginjak tiga bulan.

Nah, ini yang bikin saya galau. Masalahnya otak saya sudah lebih dulu teracuni dengan omongan orang-orang yang menganggap bila keseringan melakukan USG dapat membahayakan kondisi janin dalam rahim. Jadi jauh-jauh bulan memang sudah terpikir dalam benakku, bila hamil kelak, saya hanya akan melakukan USG maksimal 3x dengan cukup sekali USG per-trimester. Payahnya, saya baru tahu kalau datang ke dokter Obgyn pasti pemeriksaannya lewat USG. Coba tahunya dari awal, saya akan lebih memilih datang ke bidan saja untuk memastikan kehamilan pertamaku dan melakukan pemeriksaan USG di dokter setelah usia kandunganku berada di akhir trimester awal.

Ah, salah saya dan suami juga, sebelum memutuskan periksa ke dokter harusnya kami cari banyak info dulu. Setidaknya kalau nggak dapat info langsung dari orang-orang sekitar, bisa bertanya langsung ke eyang google. Pertanyaan apa sih yang eyang google tak bisa jawab. Apalagi info seputar kehamilan, dsj.

Saya malah baru teringat dengan eyang google sepulang dari periksa kehamilan. Maka detik itu pula terlayang pertanyaan ke eyang google mengenai bahaya keseringan melakukan USG pada masa kehamilan. Dan jawabannya, you know what?

Dari sekian banyak option jawaban (artikel-artikel terkait) yang diberikan eyang google, tidak ada satu pun yang menyatakan bahwa terlalu sering melakukan USG dapat berdampak bahaya bagi janin justru sebaliknya, pemeriksaan USG penting untuk mengetahui perkembangan janin dalam kandungan sehingga sangat dianjurkan dilakukan minimal 3x selama masa kehamilan selebihnya ya terserah kita. Bahkan menurut WHO (ini berdasar artikel yang saya baca di sini) gelombang suara yang dipancarkan USG baru menimbulkan efek bahaya apabila dilakukan sebanyak 400 kali.

Yup, bagi yang menganggap berbahaya bila melakukan USG terlalu sering mungkin karena yang tergambar dalam pikiran mereka alat tersebut seperti CT Scan, X- Ray, MRI atau rontgen yang tinggi pancaran radiasinya padahal USG sendiri bekerja dengan gelombang suara frekuensi tinggi. Jadi dalam pemakaiannya sama sekali tidak melibatkan radiasi.

Jawaban yang sungguh melegakan. Pelajaran penting nih, bumil. Jangan langsung menelan mentah-mentah omongan orang. Sebab apa yang diasumsikan orang belum tentu benar. Cukup saya sajalah yang sempat galau karena USG😂 kalian jangan. Maksud saya, jangan ragu ketika hendak melakukan USG lebih dari 3x. Malah lebih bagus. Sebab dengan begitu kita dapat memantau perkembangan janin yang kita kandung.

Melakukan pemeriksaan USG sejak dini ternyata juga sangat dianjurkan lho, sebab selain dapat memastikan kehamilan secara akurat (ini bagi yang masih ragu dengan hasil test pack-nya) dapat pula menentukan HPL (Hari Perkiraan Lahir) secara lebih tepat dibanding menentukan HPL berdasar HPHT (Hari Pertama Haid Terakhir). Pantas ya, HPL bumil melalui pemeriksaan USG di dokter dengan pemeriksaan lewat bidan seringkali berbeda.

Dulu mah saya kira USG digunakan hanya untuk melihat kemungkinan jenis kelamin (jk) calon bayi, perkiraan yang awam banget. Setelah menjalani sendiri pemeriksaan dengan USG baru deh saya tahu kalau alat tersebut ternyata punya segudang manfaat lainnya. Namun tetap saja, bagi saya memilih periksa ke dokter Obgyn dan di-USG saat usia kandungan terlalu dini (di bawah 6 weeks) adalah hal yang keliru. Sebaiknya memang kalau mau periksa ke dokter Obgyn, tunggu dulu sampai masuk usia kandungan dimana janin dan denyut jantungnya sudah dapat terdeteksi dengan jelas oleh USG. Sekitar kehamilan jalan 10-12 weeks-lah atau tepatnya saat kandungan berusia tiga bulan.

Pasalnya, kalau di-USG dan yang baru terlihat cuma kantung janin, sayang banget. Bisa bikin si bumil super duper was-was kayak yang sempat saya alami di kehamilan kemarin. Bukannya tak bersyukur, melihat ada kantung janin terbentuk dalam rahimku saja saya sudah alhamdulillaah banget. It means ada 'kehidupan' baru yang akan mengisi kantung janin tersebut. Cuma masalahnya ya itu dia, karena 'kehidupan baru' itu belum nampak saat saya di-USG sehingga berbagai hal baik yang diharap maupun tak diharapkan masih mungkin terjadi. Jadi gimana saya nggak was-was coba?

Baca ke-was-was-an saya di sini

Beda halnya bila pertama kali melakukan pemeriksaan USG dan langsung terlihat jelas ada 'kehidupan baru' yang sedang berkembang dalam rahim kita, bahkan denyut jantung 'kehidupan itu' pun sudah terdengar dengan jelas di pendengaran, rasanya pasti tak terlukiskan. Was-was mungkin masih meliputi tapi tidak sebanding-lah dengan perasaan takjub nan bahagia melihat calon buah hati kita sedang tumbuh di dalam sana.

Maklum, kehamilan anak pertama, belum berpengalaman jadi banyak tidak tahunya. Ya, saya sempat berdalih demikian tapi setelah menjalani sendiri yang namanya kehamilan baru saya pahami. Seharusnya yang pertama itu tidak boleh menjadi alasan kita bersikap masa bodoh dan cuek dengan kehamilan yang akan atau sedang kita jalani nantinya. Justru sebaliknya, karena belum berpengalaman sama sekali, kita yang harus gencar cari tahu, kumpul info sebanyak-banyaknya, sering mendengar dan rajin baca! Ini penting lho. Bukan ketika telah menjadi IBU baru kita dituntut untuk cerdas, saat masih berstatus CALON IBU atau BUMIL pun kita sudah harus cerdas. Dan 'kecerdasan' itu memang perlu sekali dipersiapkan jauh sebelum menghadapi kehamilan itu sendiri.

Sayangnya, saya telat sadar😢 jadi waktu hamil kemarin, berasa banget persiapan saya masih sangat kurang. Bahkan boleh dikata saya bukan termasuk BUMIL yang cerdas, syukurnya PAMIL yang setia mendampingi saya selama masa kehamilan adalah sosok cerdas yang jauh lebih siap menghadapi kehamilan istrinya ini dibanding istrinya sendiri🙊

Ah, saya jadi malu mengakuinya. Tapi  ada pepatah yang mengatakan "Pengalaman adalah guru terbaik" maka tak apalah mengaku malu daripada malu-maluin, hehe. In syaa Allaah, pengalaman kehamilan kemarin akan saya jadikan sebagai guru terbaik dalam menghadapi kehamilan selanjutnya. How about you? Ada yang punya pengalaman serupa?  Share di kolom komentar, yuk😉

*Postingan dengan tema yang sama 'mengenang kehamilan anak pertama' ini masih berlanjut lho. So, keep stay in my Memoar Room😊

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa menginspirasi.