Reminder ; Ketika Hasil Test Pack Positif

By Siska Dwyta - 06:06

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Jika ada yang bertanya perihal pekerjaan, saya kadang suka bingung jawabnya. Pasalnya, kurang lebih sebulan pasca akad nikah, saya memutuskan resign dari sekolah lalu memilih bekerja hanya di rumah; mengurus suami.

Nah, selama berbulan-bulan bekerja di rumah, status saya masihlah seorang istri yang belum dikaruniai buah hati, sehingga agaknya kurang pas bila menyebut pekerjaan saya sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT). Tapi karena sehari-hari aktivitas saya dominan di rumah ya saya nggak punya option lain dong selain menjawab IRT. Hanya saja kepanjangan dari IRT yang saya maksud bukan Ibu Rumah Tangga melainkan Istri Rumah Tangga.

Baca juga Istri Rumah Tangga

Ya, saya bingung saja bila terang-terangan menyebutkan pekerjaan sebagai Ibu Rumah Tangga kemudian ada yang tiba-tiba bertanya "anaknya udah berapa bu?" atau "anaknya mana bu? Lha piye iki, saya harus jawab apa setelah sebelumnya mengaku sebagai IBU rumah tangga sementara saya belum diamanahi buah hati. Lain hal bila saya mengartikan IRT sebagai Istri Rumah Tangga, setidaknya dengan begitu saya nggak perlu bingung menjawab bila ada yang bertanya soal anak.

Beidewei, saat menulis postingan ini, status saya masih seorang IRT. Cuma bedanya, kalau sebelumnya saya belum pantas mengaku sebagai IBU rumah tangga dan merasa lebih cocok menyebut diri sebagai seorang Istri Rumah Tangga karena tinggalnya masih berdua sama suami, maka saat ini, bukan lagi belum pantas sebab status seorang Ibu telah melekat pada diri saya sejak hadirnya anggota baru dalam keluarga kecil kami.

Alhamdulillaahilladzi bini'matihi tatimus shalihat, 'amanah' itu akhirnya Allah titip dan percayakan kepada saya dan suami ketika usia pernikahan kami menginjak bulan ke tujuh. Well, penantian kami memang nggak ada apa-apanya dibanding dengan pasangan lain yang telah menanti bertahun-tahun, bahkan ada yang masa penantiannya sampai belasan tahun. Maa syaa Allaah. Saya nggak bisa bayangkan bila diuji dengan penantian buah hati selama itu. Kira-kira saya kuat nggak? Suami sanggup nggak? Entahlah.

Baca juga Ujian Penantian Buah Hati

Setengah tahun menanti saja rasanya sudah risih banget. Nggak enak. Bawaannya baper mulu bila melihat teman-teman yang nikahnya setelah kami telah lebih dulu mengumumkan kabar baiknya masing-masing di medsos. Ada yang pajang foto hasil test packnya yang menunjukkan dua strip merah. Ada yang muncul dengan gambar hasil USG-nya. Ada pula yang rajin pasang status seputar kehamilannya. You know what, menyaksikan semua itu walau sebatas lewat layar smartphone bikin perasaan saya retak. Seketika dalam hati timbul sebersit tanda tanya "Ya Allaah, giliran saya kapan?"

Ketika akhirnya giliran itu tiba, wajar ketika saya pun tergoda ingin bereaksi serupa yang umumnya dilakukan para istri zaman sekarang ketika mendapati hasil test pack-nya bertanda positif. Malah semenjak mendapati dua strip merah muncul pada hasil test packku awal Desember tahun lalu, hasrat mengabadikan momen kehamilan pertama terutama di Kamar Kenangan ini sungguh nyaris tak terbendung namun urung saya lakukan.

Saya sengaja menunda mengumumkan kabar kehamilanku di media sosial dan hanya memberitahu keluarga serta orang-orang terdekat saja. Bahkan ketika muncul keinginan mengumbarnya, semakin gigih pula saya berusaha menahan jemari untuk tidak langsung memosting apa-apa terkait 'amanah' yang baru dititipkan Allah dalam rahim saya. 

Bukan tanpa alasan sih ketika akhirnya saya lebih memilih 'diam' dan tidak heboh dengan kehamilan pertama yang telah saya nantikan-nantikan. Toh, saya tidak bermaksud menyembunyikan kabar bahagia itu, hanya saja saya tidak ingin bersikap berlebihan mengeksposnya. Apalagi saat memastikan kehamilan di dokter obgyn, usia kandunganku masih satu bulan. Itu pun ketika di-USG yang tampak jelas baru kantung janin.

Well, saat itu dorongan memosting hasil test pack dan USG yang menunjukkan tanda positif hamil di medsos besar sekali namun perasaan was-was terhadap berbagai hal yang mungkin terjadi pada kehamilanku ke depannya jauh lebih besar. Walau oleh dokter sudah dinyatakan positif hamil tetap saja saya was-was setelah melihat hasil USG yang hanya menunjukkan kantung janin sementara kondisi janinnya belum bisa dipastikan. Dokter cuma menyarankan agar kembali periksa saat usia kandunganku masuk tiga bulan untuk mengetahui perkembangan janin.

Nah, yang bikin saya was-was bukan semata-mata karena hasil USG yang baru menunjukkan kantung janin tapi karena saya tahu benar tidak semua janin berkembang sesuai dengan yang diharapkan. Jadi setelah menyandang status sebagai Istri, saya doyan membaca segala hal terkait kehamilan. Sampai-sampai saya juga hobi nongkrong - menyimak curhatan para calon emak -pejuang dua garis merah- dengan berbagai macam kisahnya di HAWA. Calon emak yang saya maksud di sini bukan cuma mereka yang belum pernah mendapati dua strip merah pada hasil test pack-nya, melainkan juga mereka yang perasaannya sempat membuncah bahagia ketika mendapat hasil  test pack bertanda positif namun kemudian hancur berkeping-keping ketika hasil pemeriksaan dokter menunjukkan bahwa kehamilan yang dijalaninya merupakan kehamilan abnormal.

Tadinya pengetahuan saya tentang kehamilan benar-benar awam tapi setelah banyak membaca dan aktif di HAWA lumayanlah ilmu yang saya dapat. Saya juga baru tahu lho kalau di luar sana tidak sedikit perempuan yang sudah dinyatakan positif hamil, pun merasakan gejala-gejala seperti yang biasa dialami ibu hamil namun setelah diperiksa ternyata ada yang janinnya nggak berkembang alias gagal tumbuh menjadi seorang bayi, ada pula yang janinnya tumbuh tapi di luar rahim bahkan ada yang hamil tanpa janin di rahimnya.

Pernah dengar istilah hamil anggur, hamil ektopik (hamil di luar kandungan),  hamil kosong (Blighted Ovum), dll. Semua itu termasuk jenis kehamilan abnormal yang mengakibatkan calon Ibu kerap mengalami keguguran setelah dinyatakan hamil. Belum lagi keguguran yang terjadi karena sebab lainnya, entah karena terserang infeksi, kandungan lemah, ketidakseimbangan hormon dan lain sebagainya.

Dua strip merah yang muncul pada hasil test pack sama sekali belum menjamin normalnya kehamilan seseorang, kan? Apalagi bila yang tampak jelas di-USG baru kantung janin sementara perkembangan janinnya sendiri belum diketahui. Saya jadi mikir, gimana kalau misalnya saya sudah terlanjur happy duluan, sudah tebar kabar tentang kehamilan kemana-mana, sekalinya diperiksa kembali ternyata janin dalam rahim saya nggak berkembang, atau janinnya ada tapi tumbuhnya di luar rahim atau malah sama sekali nggak ada. Ya Allaah, pasti hati saya bakal hancur sehancur-hancurnya.

Saya bukannya bermaksud pesimis dengan usia kehamilan yang masih terlalu muda, nyatanya kehamilan di trimester awal memang rentan mengalami keguguran. Nah, itu yang berusaha saya hindari, dengan tidak terburu-buru mengabarkan pada semua orang. Bukan berarti saya sama sekali tidak  ingin berbagi cerita mengenai kehamilanku. Kalau itu mah jangan ditanya. Betapa sejak tahu diri tengah berbadan dua, pikiran saya langsung terusik hendak mengabadikannya di Kamar Kenangan ini, tapi entah kenapa selama hamil mood nulis saya menurun drastis. Padahal waktu itu saya baru dua bulan aktif ngeblog setelah sekian lama hiatus dan lagi semangat-semangatnya menulis tapi sekalinya hamil, semangat menulis saya redup seketika. Ups! Mungkin pengaruh hormon juga kali ya, hehe.

Baca juga Lama Hiatus, Ini Alasan Saya Kembali Ngeblog

Rencananya sih saya bakal share postingan khusus tentang pregnancy setelah masuk trimester dua namun pada akhirnya sampai malaikat kecilku lahir ke dunia rencana tersebut belum juga terealisasi. In syaa Allaah after postingan ini ya baru saya share cerita kehamilan kemarin. Keep stay in here :)

But sebelumnya silakan baca dulu Reminder di Tujuh Bulan Pernikahan. Postingan yang saya tulis di hari yang sama dengan hari saat pertama kali mendapati dua strip merah muncul pada hasil test pack, sebagai reminder atas 'kesempatan terbaik' yang akhirnya Allah anugerahkan di tujuh bulan pernikahanku. Namun rasa haru yang menyeruak saking bahagianya kala melihat hasil tes kehamilan yang bertanda positif sama sekali tidak membuat diri luput dari apa-apa yang telah saya alami dan rasakan sepanjang menanti datangnya anugerah itu.

Yang ada sesaat setelah mengetahui diri saya tengah berbadan dua (meski belum memastikan keakuratan hasilnya) saya malah lebih banyak merenung dan bertanya-tanya dalam hati. Benar, saya memang sangat mengharapkan hadirnya sang buah hati, tapi apakah benar saya sudah pantas mengemban amanah itu? Sudah layak-kah saya menerima kepercayaan-Nya? Sanggupkah saya menjaga titipan-Nya dengan sebaik-baiknya?

Ketika giliran itu tiba kenapa saya yang malah ragu dengan diri sendiri. Saya tahu menjaga amanah itu sungguh bukan perkara yang mudah. Bahkan saya pun sadar, ujian yang Allah berikan bagi pasangan suami istri bukan cuma soal penantian buah hati, kehadiran sang anak dalam rumah tangga pun adalah ujian bagi kedua orang tuanya. 

Barangkali bila belum merasakan sendiri, saya masih akan menganggap bahwa proses hamil, melahirkan, menyusui hingga merawat titipan yang Allah amanahkan kepada saya adalah semata-mata kenikmatan, qadarullaah setelah melewati perjuangan selama kurang lebih sembilan bulan  dan masih akan berlanjut seterusnya barulah saya pahami bahwa semua proses tersebut sejatinya juga merupakan bagian dari ujian. Hanya saja bagi kaum hawa ujian tersebut tentu terasa nikmat dijalani sekali pun harus melewati perjuangan yang berat, bahkan sampai mempertaruhkan nyawa demi dapat bertemu dengan si buah hati.

Bila belum pernah diuji dengan penantian buah hati pun mungkin saya akan bersikap berlebihan mengumbar kebahagiaan tanpa peduli dengan perasaan orang lain. Okelah, berbagi kebahagiaan bukanlah sesuatu yang terlarang, setiap orang berhak mengekspos kebahagiaannya, kapan pun di mana pun, sesuka hatinya - dan kita  tidak dituntut untuk menjaga perasaan orang lain. Niat kita kan sebatas berbagi kebahagiaan, apa yang salah?

Nah itu dia, agak pelik sih ngebahasnya tapi intinya semenjak menikah suami saya ketat banget mendidik istrinya ini untuk jangan terlalu berlebihan mengumbar apa-apa di media sosial. Sekali pun yang diumbar adalah kabar bahagia. Kita nggak tahu pandangan orang lain bagaimana? Kita juga nggak bisa menebak isi kepala mereka apa? Ini bukan bermaksud su'udzhon lho, tapi lebih pada sikap waspada saja. Dan karena memang saya orangnya suka was-was, lebih-lebih suami makanya selama menjalani kehamilan terutama di trimester awal bukan cuma kondisi tubuh dan asupan nutrisi saja yang kami perhatikan, sikap terhadap kehamilan pun kami jaga benar.

Semisal dengan tidak berlebihan mengeskpresikan rasa bahagia agar tidak kecewa berat nantinya - tujuannya untuk antisipasi kalau-kalau ada masalah dengan kehamilan yang saya jalani. Kan nggak semua kehamilan berjalan normal, apalagi bila masih hamil muda rentan banget kan ya dengan yang namanya keguguran jadi setidaknya dengan bersikap demikian saya siap menerima kenyataan apa pun yang mungkin terjadi pada kehamilan pertama saya. 

Atau dengan tidak terlalu mengumbar kehamilan - karena pernah berada di posisi yang sama dengan mereka yang masih dalam penantiannya sehingga saya paham benar bagaimana rasanya penantian itu. Bukannya turut berbahagia mengetahui kabar baik, yang ada saya malah merasa sedih, iri dan cemburu atas kepercayaan yang begitu cepat dan mudahnya Allah berikan pada pasangan lain, sementara saya dan suami masih harus berusaha keras dan membujuk agar Allah sudi memberi kepercayaan itu juga pada kami. Kalau sudah begitu saya yang gundah gulana sebab dengan perasaan yang demikian seolah-olah saya menjelma sebagai teman yang jahat. Padahal saya pun enggan bersikap demikian, akan tetapi gejolak perasaan tersebut menyeruak begitu saja, tak terkira. Bahkan sekali pun telah mengucapkan selamat dan mendoakan yang terbaik pada mereka yang telah diamanahi (calon) buah hati, tetap saja hati ini tak bisa memungkiri sakitnya.

Ah, saya hanya tidak ingin menjadi penyebab mendung di hati orang lain.  Pun jangan sampai dengan terlalu mengumbar 'kenikmatan' yang Allah anugerahkan, saya menjadi penyebab orang lain menjadi kufur nikmat.

Memang iya, orang lain tidak bertanggung jawab atas 'perasaan' saya terhadap mereka sebaliknya, saya pun tidak bertanggung jawab atas 'perasaan' mereka terhadap saya. Tapi ini bukan masalah tanggung jawab atas 'perasaan' siapa terhadap siapa, masalahnya justru terletak pada bagaimana cara kita menjaga perasaan masing-masing. Sejujurnya, saya pun belum sepenuhnya mampu menjaga perasaan sendiri, lebih-lebih menjaga perasaan orang lain. Jadi baiklah, kita skip saja masalah perasaan toh pada akhirnya yang benar-benar tahu isi hati kita hanya diri dan Sang Pemilik Hati.

Ok, sekian dulu postingan kali ini. Semoga untaian nasihat indah yang sengaja saya kutip di bawah ini bisa menjadi renungan, terutama bagi diri pribadi.

"Tahu, mengapa kita tak boleh senang berlebihan saat dikaruniai kenikmatan

Agar kita menjaga yang lain untuk tetap bersyukur
Karena tak semestinya kita menjadi perantara orang untuk kufur nikmat

Yang hamil menjaga perasaan orang yang belum hamil
Yang sudah menikah menjaga perasaan orang yang belum menikah
Yang kaya menjaga perasaan orang yang miskin
Yang sempurna fisiknya menjaga perasaan orang yang memiliki kekurangan fisik

Kita menjaga diri bukan lantaran orang-orang di sekitar kita iri
Kita menjaga diri bukan berarti kita tidak berhak mengekspresikan rasa senang dan syukur kita
Kita menjaga diri karena kita ingin sama-sama bersyukur dengan mereka yang belum mendapati nikmat yang sudah kita dapati

Karena menjadi perantara syukur bagi orang lain adalah kenikmatan dan kebahagiaan yang sesungguhnya "

(sumber ; klik di sini)

  • Share:

You Might Also Like

1 comments

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa menginspirasi.