Beginikah Rasanya Hamil (Trimester Kedua)

By Siska Dwyta - 07:30

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Denyut jantung itu menggema, mengharubirukan perasaan.

Dibanding pertama kali mendapat hasil test pack positif, momen yang satu ini jauh lebih mengharukan bagiku. Yakni, saat pertama kali mendengar denyut jantung janin yang kukandung. Maa syaa Allaah. Rasanya sampai di usia kehamilan yang hampir menginjak lima bulan kala itu saya masih tidak percaya. That's true, ada benih kehidupan yang sedang tumbuh dalam rahimku. Benih itu entah bagaimana menggambarkannya. 

Tadinya saya memang cemas berlebihan terhadap perkembangan si jabang bayi. Mengingat saya sempat terjatuh dan sering melakukan perjalanan jauh ke luar kota pada trimester pertama. Apalagi selama trimester itu saya hanya sekali pergi check up kehamilan. Itu pun hanya di dokter Obgyn dan hasil pemeriksaan yang nampak di layar USG baru kantung janin. Otomatis selama tidak melakukan pemeriksaan lagi saya  benar-benar buta dengan kondisi kehamilanku. Entah berjalan dengan baik atau tidak? janinnya berkembang atau sebaliknya? Denyut jantungnya berdetak atau nggak? Really, i don't know.


credit

Setelah mendengar sendiri dengan jelas denyut jantung bunay berdetak barulah saya bisa menghela napas lega. Menyadari suara denyut jantung kehidupan itu berasal dari dalam perutku sungguh mengundang takjub. Tak terkira betapa terharunya saya malam itu. Yup, malam tanggal 19 Maret 2018 itu saya ditemani suami melakukan check up kehamilan di dokter Obgyn untuk kedua kalinya. Namun dokter Obgyn yang kami kunjungi kali itu bukan dr. Yusry. Walau pribadi sudah merasa nyaman dengan sosok dokter Obgyn seperti beliau yang ramah dan hangat akan tetapi saya tidak berencana melahirkan di Barru sehingga suami usul untuk pemeriksaan selanjutnya sebaiknya mencari second opinion.

So, periksa kehamilan yang kedua ini kami lakukan di RSB Ananda Trifa Parepare, salah satu Rumah Sakit yang masuk dalam daftar my birth plan. Bukan kebetulan juga di usia kehamilan yang menginjak 19 weeks kami ke Parepare dalam rangka acara pernikahan adik ipar (adik suami). Tadinya kami malah berencana ke dokter Obgyn saat kehamilanku genap berusia 20 weeks tapi mumpung waktu itu saya dan suami agak lama tinggal di Parepare jadi sekaligus deh plan check up-nya yang dimajukan.

Actually i know that sejak usia kehamilan 9 weeks ke atas denyut jantung janin sudah dapat terdeteksi. Namun karena agenda jalan-jalannya saya dan suami di trimester pertama cukup menyita waktu, tinggal di rumah pun jarang akhirnya memasuki trimester kedua baru saya mulai rutin periksa kehamilan di bidan puskesmas tiap bulannya termasuk dengan periksa kehamilan di dokter Obgyn yang kami targetkan minimal sekali pertrimester.

Beidewei, karena periksa di dokter Obgyn pada usia kehamilan yang telah menginjak trimester dua, saya tidak perlu lagi menahan BAK sebelum di-USG. Tadinya sempat mengira setiap USG kudu isi full kandung kemih dulu. Ternyata tidak ding! Mengisi full kandung kemih hanya disyaratkan untuk bumil yang di-USG perut ketika usia kandungannya masih sangat dini. Jadi setelah registrasi, timbang BB dan periksa tekanan darah saya dipersilakan menunggu antrian tanpa disuruh minum banyak air seperti saat periksa kehamilan pertama kali. Lega deh rasanya, secara selama ini saya memang nggak kuat minum air putih. Lha bumil kan disarankan untuk banyak-banyak minum air putih. Hayoo🙊

Pengalaman Periksa Kehamilan di Puskesmas

Sebelum lanjut cerita mengenai check up kehamilanku di  RSB Ananda Trifa saya pengen berbagi sedikit cerita dulu terkait pengalaman periksa kehamilan di bidan puskesmas dekat tempat tinggal kami di Barru. Kalau ditanya enakan mana periksa kehamilan di dokter Obgyn atau bidan puskesmas, saya bakal jawab dua-duanya. Gimana nggak enak kalau saya yang excited banget setiap kali hendak pergi check up kehamilan. Saking excitednya saya sempat protes sendiri dalam hati, kenapa jadwal periksa kehamilannya cuma sekali sebulan, kenapa nggak sekali sepekan saja atau sekaligus everyday.

Iya, kalau periksa kehamilan di bidan puskemas, jadwalnya cuma sekali sebulan (kecuali di usia kehamilan 7-9 bulan) malah sudah ditentukan harinya. Petugas akan mengingatkan dengan mencatat pada kolom kapan harus kembali di lembar kontrol kehamilan yang tertera pada buku KIA. Sementara periksa kehamilan di dokter Obgyn yang buka praktik ya tergantung suka-sukanya kita dan isi dompet suami. Kalau isi dompet suami banyak tiap hari pun tak masalah. Bumil happy, pamil yang tekor😅

Memangnya kalau periksa kehamilan di bidan puskesmas gratis ya? Sebaliknya kalau periksa kehamilan di dokter Obgyn nggak gratis, gitu? Ah, tidak juga. Di dunia ini apa sih yang gratis wong pake BPJS juga tetap wajib setor iuran tiap bulan, kan? Jadi selama tiga kali periksa kehamilan di puskesmas saya cukup keluarin kartu BPJS, tidak perlu ngeluarin uang sereceh pun. Baru pada pemeriksaan keempat saya terpaksa keluarin duit lima puluh ribu untuk menebus biaya periksa dan resep obat yang dianjurkan. Lho BPJSnya kemana, kenapa nggak dipake?

Ada kok, cuma nggak bisa dipake karena masa toleransi menerima BPJS dari faskes lain di puskesmas tempat saya periksa telah lewat. Padahal saya sudah dikasih kesempatan tiga bulan lamanya untuk segera urus pindah faskes 1 ke puskesmas tersebut tapi yah mau gimana, hidup saya dan suami saja masih nomaden alias tidak menetap sehingga kami belum berani ambil tindakan. Apalagi menurut artikel yang sempat saya baca, pindah faskes 1 cuma bisa dilakukan sekali, ada juga sih yang bilang bisa kok pindah-pindah faskes 1 asal tiap lewat tiga bulan. Entah mana yang benar, yang pasti keputusan kami untuk tidak terburu-buru pindah faskes 1 saat itu adalah keputusan yang tepat.

Berhubung sebelum datang ke puskesmas saya sudah terlebih dahulu periksa kehamilan di dokter Obgyn sehingga lumayan tahu lah perbedaan keduanya, yang jelas baik periksa di bidan puskesmas maupun dokter Obgyn praktik masing-masing ada plus minusnya. Nah, plusnya datang ke Puskesmas selain ditanggung BPJS, periksa kehamilannya cukup kompleks lho!

Waktu pertama datang periksa kehamilan di Puskesmas saya ditemani suami, tapi si suami sebatas menemani sampai di bagian registrasi saja, setelah daftar oleh petugasnya saya diarahkan menuju Poli KIA sementara suami lanjut pergi kerja. Hiks. Well, ini nih salah satu minesnya saya periksa kehamilan di puskesmas. Suami cuma bisa antar, tak bisa menemani. Syukurnya Puskesmas dekat dari rumah, jadi pulangnya saya tinggal jalan kaki doang.

Sesampai di depan Poli KIA saya masih harus mengantri bersama ibu-ibu hamil yang perutnya sudah pada membuncit. Rata-rata mereka datang dengan membawa buku bersampul warna pink yang belakangan setelah dikasih sama petugasnya baru saya tahu kalau itu toh yang namanya buku KIA aka buku Kesehatan Ibu dan Anak.

Ibu Siska Dian Wahyunita

Mendengar namaku akhirnya dipanggil, saya mendadak deg-degan. Menerka-nerka kira-kira pemeriksaannya seperti apa? Sama tidak dengan pemeriksaan kehamilanku sebelumnya di dokter Obgyn? Jawabannya silakan baca saja postingan ini sampai tuntas ya :)

Ketika masuk ke ruang Poli KIA saya langsung disambut oleh petugas yang masih muda-muda. Trus karena baru pertama kali datang periksa, salah satu petugas mengeluarkan buku bersampul warna pink yang baru kemudian mewawancarai saya terlebih dahulu. Hasil dari wawancara itulah yang kemudian dituliskan pada buku yang saya tebak bakal segera berpindah ke tanganku. Benar saja, sepulang dari periksa kehamilan pertama di puskesmas saya dapat oleh-oleh buku KIA.

Salah satu pertanyaan bidan yang menurutku cukup penting, mengingat setiap kali periksa di tempat lain pertanyaan itu juga yang diajukan. Saya sampai hapal di luar kepala jawabannya, hehe.

HPHT-nya kapan bu?

5 November 2017, jawab saya spontan.

Oke, bidannya kontan bisa memprediksi Hari Perkiraan Lahir (HPL)ku. Sebelum datang ke bidan pun saya sudah tahu HPLku jatuh tanggal 12 Agustus 2018. Sekarang kan banyak yak applikasi yang sangat membantu bumil dalam mengetahui umur kehamilan dan perkembangan janinnya. Saking rajinnya saya sampai pakai lebih dari satu applikasi bumil dan semua menunjukkan HPL yang sama dengan HPL bidan.

Selanjutnya silakan simak hasil catatan kesehatanku selama empat kali periksa di bidan puskesmas, yakni di usia kehamilan 13w3d, 17w4d, 21w3d dan 26w3d. (Oh ya khusus untuk catatan pada baris kelima di usia sekitar 29-30w skip saja)


Baiklah, ini dia layanan pemeriksaan yang saya dapatkan selama empat kali berkunjung ke puskesmas, antara lain;
  • Pengukuran Tinggi Badan, cuma sekali pada saat kunjungan pertama. Catatan dari buku KIA, bila TB kurang dari 145 cm beresiko panggul sempit dan bagi bumil yang panggulnya sempit bakal sulit melahirkan normal. Syukurnya TBku di atas 145 cm berarti masih aman ya. Karena TBku yang nyaris mencapai 160 cm (kurang 2 cm) itulah yang bikin suami yakin banget istrinya bisa lahiran normal walau pas H-1 itu kami tetap main drama lepas cincin😂 niatnya untuk 'jaga-jaga', persiapan SC bila persalinan pervaginam tak memungkinkan.
  • Penimbangan Berat Badan, salah satu faktor yang juga bikin saya excited periksa kehamilan karena pelayanan yang satu ini. Jadi setiap datang periksa baik di dokter praktik maupun bidan puskesmas bumil wajib timbang BB. Catatan di buku KIA; minimal BB bumil bertambah 1 kg tiap bulannya sejak masuk trimester kedua. Nah, speechlessnya karena tiap bulan selama hamil BB saya selalu naik 2 kg😍 Kalau lihat rekam medisku di buku KIA, BBku pada usia kehamilan 21w3d sama dengan BB bulan sebelumnya which means tidak ada penambahan berat badan sama sekali sementara bulan berikutnya malah naik sampai 3 kg. Saya jadi curiga dong dengan hasil timbangannya.  Kayaknya timbangan di puskesmas yang rusak deh. Pasalnya dua pekan sebelumnya pada usia kehamilan 19 weeks saya sempat periksa kehamilan di RSB Ananda Trifa dan hasil timbanganku saat itu sudah menyentuh angka 55 kg, berarti harusnya timbanganku saat itu 56 kg ya bukan 54 kg *ngotot😂
  • Pengukuran Tekanan Darah (Tensi), pengukuran ini juga dilakukan setiap datang periksa kehamilan. Di buku KIA tertera bahwa tekanan darah normal adalah 120/80 mmHg, sementara bila tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg berisiko hipertensi (tekanan darah tinggi) dalam kehamilan. Hipertensi ini sangat berbahaya bagi ibu hamil, salah satunya dapat menyebabkan preeklampsia atau pendarahan yang berujung pada kematian. Syukurnya sepanjang kehamilan hasil tes tekanan darahku masih dalam batasan normal.
  • Pengukuran LiLA (Lingkar Lengan Atas), pemeriksaan ini juga cuma sekali saat kunjungan pertama. Awalnya saya nggak mudeng dengan pengukuran LiLA. Suami yang tiba-tiba nyinggung. Kata dia saya menderita Kurang Energi Kronis. Eh, saya makin nggak mudeng. Selanjutnya saya diceramahin. "Makanya kalau disuruh makan ya makan, di suruh minum susu ya minum. Jangan malas-malas. Itu juga buku KIAnya dikasih bukan untuk jadi pajangan tapi dibaca" Ups! Detik itu juga saya ngacir ambil buku KIA. Buka satu persatu halamannya dan ketemu! Oalah ini toh maksudnya. Hasil pengukuran LiLAku 23 cm sementara di buku KIA tertulis, bumil yang LiLAnya kurang dari 23,5 menderita KEK (Kurang Energi Kronis) dan beresiko melahirkan Bayi Berat Lahir Rendah). Alamaaaak, LiLAku cuma kurang 0,5 cm lho. Masa' divonis menderita KEK. Oh No. I don't believe. Lagian di catatan kesehatanku pada buku KIA petugasnya juga nggak centang saya ini KEK or non KEK. Masih tanda tanya dong😅
  • Pengukuran Tinggi Rahim (Fundus), pengukuran ini dilakukan setiap kali datang kontrol, tujuannya untuk melihat pertumbuhan janin sudah sesuai dengan usia kehamilan atau belum. Well, kalau periksa di dokter kan bisa dilihat langsung lewat layar USG nah kalau di bidan, diperiksa dengan meraba dan menekan-nekan perut gitu kemudian diukur pake meteran, semacam meteran kain.
  • Penentuan Letak Janin, penentuan dan cara pemeriksaanya mirip dengan poin di atas, cuma tidak diukur pake meteran. Tujuannya untuk mengetahui letak janin. Jadi setelah meraba dan menekan-nekan perut, bidan sepertinya langsung tahu letak janin pasiennya lantas sengaja menyebut dengan keras istilah-istilah yang sama sekali tidak saya pahami seperti, ball, puka atau BAP agar dicatat oleh rekannya yang bertugas mengisi rekam medis pasien pada buku KIA. Di buku KIA sendiri tidak dijelaskan istilah-istilah tersebut, bidan yang memeriksa pun tidak menjelaskan dan sebagai pasien saya juga tidak bertanya. Ups! Yang ada di buku KIA hanya menerangkan bila di trimester tiga kepala janin belum masuk panggul berarti kemungkinan ada kelainan letak atau ada masalah lain.
  • Perhitungan Denyut Jantung, dua kali datang periksa dua kali pula denyut jantung janinku negatif alias masih belum terdengar, efeknya saya jadi worry dong. Padahal usia kandunganku sudah masuk trimester kedua tapi kok masih belum terdeteksi. Yowes, saya maklum mungkin karena alat untuk mendengar denyut jantung janin yang digunakan di puskesmas tidak secanggih alat yang digunakan oleh dokter Obgyn. Belakangan saya baru tahu kalau nama alat yang digunakan untuk dapat mendengar sekaligus menghitung denyut jantung janin adalah doppler. But saya nggak tahu doppler jenis apa yang digunakan di puskesmas tempat saya periksa kehamilan, apa memang hanya bisa didengar oleh bidan atau petugas yang memeriksa saja dan entah bisa digunakan untuk menghitung denyut jantung janin atau tidak. Pasalnya selama periksa di puskesmas tersebut tepatnya setelah denyut jantung janinku terdeteksi, denyutnya tidak diperdengarkan ke saya trus bidannya cuma menandai plus tanpa menyertai hasil hitungannya. Oh ya, di buku KIA hanya menjelaskan bila denyut jantung janin kurang dari 120 kali/menit atau lebih dari 160 kali/menit menunjukkan tanda gawat janin dan harus segera dirujuk ke RS.
  • Pemeriksaan Laboratorium, pemeriksaan lab ini dilakukan pada dua kali kunjungan awal saya ke puskesmas. Pada kunjungan pertama sample urine dan darah saya yang diambil. Sample urine diambil untuk memerika kadar gula dalam darah. Bila terdapat kandungan protein pemeriksaan ini maka ibu hamil berisiko mengalami preeklampsia. Syukurnya hasil tes urineku negatif. Sementara sample darah (yang diambil sedikit dari ujung jariku) diperiksa untuk mengecek kadar hemaglobin (hb). Bila diperiksa kadar hb bumil kurang dari 10 maka resikonya perkembangan janin akan terganggu dan menyebabkan pendarahan pada persalinan. Bersyukur pula tes hbku saat itu hasilnya tidak kurang dari 10. Oh ya, sample darahku juga di ambil pada kunjungan kedua. Bedanya kali kedua darahku diambil dari lengan kiri menggunakan alat semacam jarum suntik. Lihat jarumnya saja sempat bikin saya bergidik, tapi setelah disuntik dan diambil darahnya ternyata rasanya tidak sakit lho. Ketahuan banget deh, parno sama jarum suntik🙈Sample darah tersebut diambil untuk periksa hbsAg. Bila hasil pemeriksaannya positif berarti dalam tubuh bumil terjangkit virus hepatitis B. Syukurlah hasil tes hbsAgku negatif. Selain tiga tes lab tersebut masih ada lagi tes lain, seperti malaria, HIV, sifilis dll demikian yang tertera pada buku KIA. Mungkin kalau saya tetap lanjut mengunjungi puskemas tersebut tiap bulannya sesuai jadwal bakal dilakukan pemeriksaan lab yang belum kali ya.
  • Pemberian Tablet tambah darah dan suntik TT, sempat dikasih 30 tablet penambah darah yang semestinya habis dalam sebulan tapi dasar sayanya yang malas minum ditambah pula ada insiden muntah pasca minum tablet tersebut setelah sarapan, padahal di trimester dua ini saya sudah berhenti muntah-muntah. Alhasil, bukan cuma malas minumnya tapi saya juga trauma bo'. Pas dikasih obat penambah darah itu bidannya lupa mengingatkan kalau minum tablet penambah darah harus di malam hari menjelang mau tidur dan salah saya juga sih nggak baca di buku KIA. Jelas-jelas di buku KIA tertulis; tablet penambah darah ini diminum di malam hari untuk mengurangi rasa mual. Pun dianjurkan untuk minum satu tablet setiap hari minimal selama 90 hari tapi boro-boro minum 90 tablet, 30 tablet yang dikasih saja sampai lahiran nggak habis🙊 Adapun suntik tetanus toksoid (TT) tujuannya untuk mencegah penyakit tetanus pada ibu dan bayi. Mungkin karena sebelum nikah saya nggak suntik TT sehingga di kehamilan kemarin saya disuntik TT sampai dua kali.
Demikian sedikit cerita mengenai pemeriksaan kehamilan saya di puskesmas yang panjangnya ternyata menyerupai rel kereta api😂 Sekarang, mari balik lagi pada cerita kunjungan kedua saya dan suami ke dokter Obgyn di RSB Ananda Trifa. 

Periksa Kehamilan di Dokter Obgyn #Parepare

Dokter Obgyn yang kami pilih kali itu atas rekomendasi dari tetangga kos di Barru yang katanya pernah berobat di dokter tersebut, sebut saja dokter S. Hanya berbekal dari rekomendasi itulah sehingga saya tidak banyak pilih. Asal dibilang bagus, saya langsung oke.

Kenyataannya, setelah keluar dari ruang praktik dokter S, rasa tidak puas yang menyeruak. Padahal belajar dari periksa kehamilan sebelumnya di dokter Yusry, saya sudah mempersiapkan terlebih dahulu beberapa pertanyaan penting yang hendak diajukan. Namun menghadapi sikap si dokter yang super dingin plus terkesan jutek, urung deh. Mana periksanya seperti terburu-buru, tidak memberi kami kesempatan untuk bertanya. Setelah di-USG, ngasih resep. Selesai. Tidak seperti di dokter Yusry yang setelah periksa kehamilan melalui USG masih mempersilakan kami duduk kembali untuk konsultasi.

Bukan bermaksud membanding-bandingkan sih, tapi memang seperti itulah yang saya alami saat periksa di dokter S. Pemeriksaannya berlangsung singkat, cepat dan nyaris tanpa komunikasi dua arah antara si dokter dan pasien. So, wajar kalau saya nggak sreg dan merasa telah salah memilih dokter Obgyn. Mungkin penilaian orang lain beda lagi. Toh, yang antri di dokter S juga banyak kok, cuma saya saja yang kayaknya harus berpikir ratusan kali kalau mau periksa kehamilan kembali di beliau. Ini hanya penilaian saya semata lho, nggak usah terpengaruh ya. Memilih dokter Obgyn memang cocok-cocokan, kan? Ada yang langsung cocok, ada pula yang nggak. Wajar!

hasil USG trimester kedua, uk 19 weeks jknya sudah keliatan lho😊

Terlepas dari sikap dokter S yang no friendly saya tetap speechless kok dengan hasil USG-nya. Mendengar denyut jantung si bunay saja sudah bikin saya terharu saking bahagianya. Lebih-lebih saat bunay memperlihatkan jenis kelamin (jk) yang sesuai dengan keinginan ayahnya, eh keinginan bunda juga.

Baby Boy or Baby Girl, Pengen yang Mana?

Dari awal kehamilan memang suami sudah bilang pengen punya anak laki-laki. Kalau saya mah jangan ditanya. Jauh, sebelum menikah pun sudah begitu mendamba pengen punya anak laki-laki. Alasannya cuma dua. Pertama, karena saya nggak punya saudara laki-laki. Kedua, karena di mata saya selama ini laki-laki yang lebih cocok jadi anak sulung. Namun baik setelah menikah maupun  ketika hamil, saya tidak pernah terang-terangan menunjukkan keinginanku itu. Cukup menyimpannya dalam hati, dalam doa-doaku di tengah kesunyian.

Lagipula sebagai hamba, saya merasa tidak pantas ngotot minta anak dengan jenis kelamin tertentu. Dikasih kesempatan hamil saja saya sudah sangat-sangat bersyukur, mau laki-laki or perempuan, whatever, terserah Allah. Maunya Allah. Toh, memang Allah yang berhak memberi anak laki-laki kepada siapa-siapa yang Dia kehendaki dan memberi anak perempuan kepada siapa-siapa pula yang Dia kehendaki.

Jadi waktu dokter S bilang "ini monasnya, sudah kelihatan" sambil nunjuk di layar, saya cuma tanggapi dengan senyum-senyum kecil. Toh, selama bunay belum lahir ke dunia, jknya masih mungkin berubah kan atau bisa saja hasil USGnya yang keliru. Pengalaman, banyak kok ibu-ibu hamil yang ketika USG dibilang jk janinnya L, sekalinya brojol ternyata P atau sebaliknya. Makanya saya nggak bisa langsung percaya 100% dengan hasil USG saat itu. Yah, namanya alat buatan manusia masih ada batasannya, tapi kalau sudah menyangkut takdir Allah, hingga ke ujung dunia pun tiada batasannya. So, saya cukup percaya dengan takdir Allah. Apapun jenis kelamin bunay kelak itulah malaikat terindah yang ditakdirkan-Nya untuk keluarga kecil kami, yang tetap harus kami syukuri. Makanya jauh-jauh hari, saya sudah riuh mencari dua jenis nama sekaligus untuk si bunay. Nama laki-laki dan nama perempuan. Urusan nama bunay memang suami menyerahkan sepenuhnya ke saya, dia cuma iya-iyain saja😀

So far, tanpa saya terangkan pun jelas banget kan perbedaan periksa di dokter Obgyn praktik dan bidan puskesmas. Yip, periksa di dokter Obgyn memang simple banget tidak se-kompleks periksa kehamilan di puskesmas. Selain itu, biaya periksanya juga lumayan mahal. Bahkan ada yang sekali periksa sampai menghabiskan uang sejeti lho. Mungkin karena didukung dengan alat yang canggih kali ya. Syukurnya, selama tiga kali periksa kehamilan di dokter Obgyn, tarif yang dikenakan ke kami masih terjangkau, sekitar duaratusan. Itu pun saat periksa di dokter Yusry dan dokter S masih berlaku reimburse dari perusahaan suami. Jadi meski bayar mahal-mahal uang kami tetap kembali, diganti sama perusahaan. Lumayan kan buat nambah-nambah biaya lahiran 😅

Nikmatnya Trimester Dua

Alhamdulillaah keluhan-keluhan yang ada pada trimester satu mulai beranjak pergi. Bukan berarti trimester dua ini saya lewati tanpa keluhan sama sekali. Kalau kata suami sih, setiap trimester pasti ada keluhannya masing-masing. That's right, keluhan yang satu hilang, muncul pula keluhan lain yang tak kalah serunya. Hanya saja menurutku trimester dua merupakan trimester yang keluhannya rada lumayan. Setidaknya di trimester ini saya nggak langganan muntah lagi tiap hari, kecuali mual (soalnya setiap selesai sikat gigi bawaannya selalu pengen muntah), nafsu makan juga sudah kembali seperti semula, eh meningkat malah😄

Nah, keluhan yang saya nikmati di trimester dua ini antara lain ;
  • Begah, Yup, memasuki pertengahan trimester dua ini lidah saya berhasil pulih kembali. Setelah kurang lebih dua bulan kehilangan selera makan, akhirnya bisa lagi menyantap makanan dengan lahap itu rasanya maa syaa Allaah. Nikmatnya luar biasa. Alhasil di trimester ini saya jadi doyan makan, bahkan sampai kalap kalau berhadapan dengan makanan. Mulut seolah tak ada remnya. Pengennya makan mulu. Lihat istrinya banyak makan suami senang dong, saya yang menderita, huhuhu. Gimana nggak menderita kalau tiap selesai makan, mau sedikit lebih-lebih banyak bawaannya pasti begah alias perut kembung atau terasa penuh, sampai-sampai bernafas pun sesak. Jadi merasa serba salah deh. Nggak makan, salah. Makan pun salah. Yowes, saya makan saja sesuka hati walau harus mengalami begah mumpung selera makan meningkat ketimbang nggak ada selera makan sama sekali. Toh, begahnya cuma berlangsung sesaat, tidak sampai sejam.
  • Over Buang Air Kecil (BAK), keluhan yang satu ini mengingatkan saya dengan salah satu suplemen kesuburan yang sempat saya minum saat promil (baca di sini). Akibatnya saya jadi keseringan BAK. Bedanya waktu itu saya over BAK karena tidak cocok atau karena efek samping dari suplemen tersebut, maybe. Sedangkan over BAK-nya saya di trimester dua barangkali disebabkan oleh janin yang tengah dikandung semakin besar sehingga menekan kandung kemih. Namun baik over BAK karena efek samping minum suplemen tertentu atau karena hamil, rasanya sama saja. Sama-sama capek. Jangan dikira bolak-balik kamar mandi sepanjang hari, terutama di malam hari itu nggak capek. Capek iya, tapi demi si jabang bayi, pulang balik ke kamar kecil sampai puluhan kali pun bakal saya nikmati *eaa
  • Badan pegel-pegel, waktu trimester awal mah enak. Suami yang ambil alih pekerjaan mencuci pakaian. Kadang-kadang dia pun ikut turun tangan kalau liat tumpukan piring yang belum dicuci. Ups! Sebenarnya saya rada nggak tega sih biarin suami kerja lagi di rumah setelah seharian kerja di lapangan. Apa boleh buat, suami juga nggak tega biarin istrinya yang masih hamil muda kerja berat. Trimester awal kan masih rawan ya? Masuk 'zona aman' alias trimester dua baru deh saya bisa kerja kembali seperti semula. Cuma ya itu dia, baru kerja sedikit saja rasanya tulang-tulang seakan mau remuk. Pegelnya minta ampun. Alhasil walau sudah nggak dapat jatah mencuci suami tetap kebagian job lain. Memijit. Yip, jadi tiap malam saya pasti minta dipijitin, padahal semestinya saya yang mijitin suami. Pekerjaannya di luar kan berat lha saya di rumah kerjanya kebanyakan leyeh-leyeh doang dan sudah kayak orang yang sepanjang hari kerjanya non stop😅 Tapi serius deh, biar seharian cuma leyeh-leyeh di rumah bawaannya pasti pegel. Namanya juga bumil, ada-ada saja  ya keluhannya, hehe.
  • Strech mark makin parah, dari trimester awal sudah muncul di bagian pahaku dengan guratan yang masih sedikit dan tipis. Menginjak trimester dua, guratan tersebut menjelma banyak dan nampak jelas dengan warna yang keungu-unguan kemudian berubah putih. Tadinya sempat mengira saya terkena varises (kelihatannya seperti varises sih), setelah googling baru saya tahu kalau guratan yang menodai bagian kanan dan kiri pahaku itu namanya strech mark. Menurut salah satu artikel hasil googling yang saya baca strech mark ini memang biasa muncul pada tubuh bumil, seperti di bagian paha, perut, bokong dan payudara. Hasil penelitian bahkan menunjukkan 90% bumil mempunyai strech mark  di tubuhnya. Strech mark ini muncul akibat pengaruh hormon, peregangan kulit dan penambahan berat badan yang terjadi pada bumil. Walau begitu keluhan yang satu ini sama sekali tidak sakit kok, tidak berbahaya pula cuma bikin risih saja, apalagi di hadapan suami, haha.
Selain empat keluhan di atas masih ada tiga keluhan lain yang mengundang rasa penasaranku; kaki kram, kegerahan dan gatal-gatal. Pasalnya ibuk-ibuk tetangga kos pernah heboh cerita terkait tiga keluhan tersebut. Ada yang cerita sampai nangis-nangis gegara kakinya sering nggak bisa digerakkan alias kram ketika baru bangun tidur, ada yang katanya sepanjang hari sepanjang malam tak bisa jauh-jauh dari kipas angin, sampai berkali-kali mandi dalam sehari saking gerahnya. Belum lagi dengan cerita perut yang gatalnya bukan main, garuknya tak henti-henti. Para suami sampai kebagian jatah ikut menggaruk perut istrinya😅

Walau sekadar pasang telinga saat itu tapi sebenarnya saya cukup antusias menanggapi kehebohan cerita mereka. Makanya saya penasaran bahkan sudah siap menghadapi kalau-kalau kaki kram, perut gatal-gatal atau badan kegerahan juga menghampiriku namun hingga tiba di penghujung trimester ini yang saya alami ternyata tidak seheboh cerita ibuk-ibuk tetangga kos. Kaki sempat kram tapi nggak parah-parah amat, sempat kegerahan pula tapi cuma di malam hari dan tidak berlarut-larut, gatal-gatal di perut juga nehi. Biasa-biasa saja. So? Ya, faktanya memang tidak semua ibu hamil mengalami keluhan yang sama, toh kondisi kehamilan setiap wanita memang berbeda-beda.

Gerakan si Bunay dalam Perut

Selain mendengar detak jantung si bunay, momen yang satu ini pun tak kalah mengharukan. Saat saya mulai merasakan gerakan-gerakan menggeliatnya dalam perut. Maa syaa Allaah. Lagi-lagi saya merasa masih sulit percaya; ada kehidupan baru yang benar-benar nyata berkembang dalam rahimku. Kehidupan itu entahlah bagaimana mengungkapkannya. 

Tadinya saya sempat worry dapet pertanyaan dari bu bidan puskesmas saat periksa kehamilan di usia 17w3d. Bidannya nanya sudah mulai merasakan ada yang gerak-gerak dalam perut belum? Ditanya kayak gitu otomatis saya worry dong sekaligus bingung. Bingungnya karena waktu itu saya beneran nggak tahu gimana rasanya gerakan janin. Mau jawab sudah tapi nyatanya saya seperti nggak merasa ada gerakan apa-apa. Kalau jawab belum ini yang bikin saya worry banget, jangan-jangan janinku tak terasa gerakannya karena tidak berkembang di dalam. Pasalnya waktu itu denyut jantung si bunay belum terdeteksi oleh bidan yang memeriksa kehamilanku. Alhamdulillaah kekhawatiranku seketika lenyap berganti rasa syukur nan haru setelah melakukan USG untuk kedua kalinya. Meski di usia kandungan 19 weeks itu gerakan si bunay belum jelas terasa, namun setidaknya mendengar denyut jantungnya saja sudah membuncah rasa bahagiaku. Barangkali efek mendengar denyut jantung si bunay pula yang bikin saya akhirnya peka dengan gerakannya, karena selang beberapa hari lepas periksa di di RSB Ananda Trifa saya mulai merasakan adanya kedutan.

FYI, tanpa disadari bumil, janin dalam kandungan sebenarnya sudah mulai bergerak sejak akhir trimester pertama atau awal trimester kedua. Kalau menurut versi alo dokter  tanda pergerakan janin dalam rahim sudah dimulai kira-kira sejak usia kehamilan 12-15 weeks. Namun kala itu pergerakan janin masih sangat halus dan lembut pun hanya berlangsung sesaat. So, wajar bila di usia segitu bumil belum menyadari pergerakan janinnya. Sedangkan yang hamil anak kedua, ketiga, dst biasa baru merasakan gerakan janin pada usia kehamilan sekitar 16-20 weeks apalagi yang baru hamil anak pertama.

Menurut alo dokter bagi ibu dengan kehamilan anak pertama memang biasanya baru merasakan gerakan janin saat kehamilannya sudah masuk usia sekitar 20-22 weeks. Hal demikian wajar terjadi karena ibu dengan kehamilan anak pertama belum berpengalaman merasakan gerakan janin, beda dengan ibu yang telah berpengalaman hamil sebelumnya. Jadi kalau usia kandungan masih 17 weeks dan belum merasa ada pergerakan janin harusnya woles saja, nggak perlu worry, hehe. Namanya juga hamil anak pertama, maklum kalau bawaannya suka worry. Jangankan yang baru merasakan kehamilan pertama, Ibuk-ibuk yang ekornya sudah dua, tiga, empat pun kalau hamil lagi masih suka worry kok dengan kondisi janinnya.

Menginjak usia kehamilan 20 weeks ke atas gerakan si bunay kian jelas terasa. Mulanya memang terasa seperti kedutan, lama-lama gerakannya sungguh menjelma nyata dan semakin sering. Tapi jangan tanyakan pada saya bagaimana rasanya gerakan janin? Pasalnya pasca melahirkan saya seolah terkena amnesia. Dahsyatnya 'gelombang cinta' si bunay saja tidak saya ingat persis bagaimana rasanya apalagi gerakan-gerakannya selama dalam kandungan. Suer! Saya benar-benar lupa. Yang pasti rasanya tidak geli dan menggelitik tapi kayak enak gitu.

Ngomong-ngomong tentang gerakan si bunay dalam kandungan saya jadi kangen, hehe. Kalau bumil lain biasanya merasakan gerakan janin lebih sering pada saat istirahat di malam hari, sebaliknya saya lebih sering merasakan gerakan si bunay di siang hari. Tahu nggak kenapa? Hehe saya juga nggak tahu, tapi sepertinya si bunay tahu kalau siang hari itu bundanya sendirian di rumah, nggak ada teman, makanya dia suka banyak gerak di siang hari. Mungkin maksudnya buat nemenin bundanya yang ditinggal pergi kerja ayahnya. Benar saja, saya merasa tidak sendirian lagi di rumah sejak bisa merasakan gerakan si bunay yang lucu-lucu imut gitu. Haha. Kalau malam hari pas ayahnya datang si bunay malah jarang geraknya, mungkin dia lagi bobok nyenyak padahal awal-awal bunay menunjukkan pergerakannya saya excited banget pengen nunjukkin ke ayahnya. Tapi setiap mau nunjukkin bunaynya nggak bergerak giliran sama bundanya saja, gerakannya lincah banget. Suka nendang-nendang. Kadang-kadang cegukan. Lucu deh. Apalagi kalau saya sementara ikut suami shalat di masjid yang diimami dengan imam yang bacaan Al-Qur'annya merdu plus menyayat-nyayat. Maa syaa Allaah, si bunay langsung on di dalam perut bundanya. Beda kalau ayahnya yang baca Al-Qur'an, bukannya on dia lebih memilih ngorok alias nggak gerak sama sekali😂

Terjatuh di Usia Kehamilan Delapan Weeks

Seperti halnya trimester pertama, trimester kedua juga tidak lepas dari insiden jatuh. Kali itu jatuhnya bukan cuma karena ceroboh tapi sayanya yang terlalu leyeh-leyeh. Ceritanya saya sudah janjian dengan suami hendak jenguk salah seorang saudari shalihahku dari Papua yang datang berobat ke daerah dimana saya dan suami menetap sementara yang bukan kebetulan merupakan kampung kelahirannya. Menjelang ashar suami WA, nyuruh saya siap-siap biar pas dia pulang kantor kita langsung go. Namun ba'da ashar itu saya masih leyeh-leyeh sementara pekerjaan rumah banyak yang belum beres, termasuk tumpukan cucian piring dari pagi🙊 Mendekati jam pulang kantor suami baru deh saya lekas buru-buru cuci piring akhirnya terjadilah insiden jatuh yang kedua kali di tempat yang sama. Syukurnya jatuh yang kedua itu saya sigap menahan diri dengan tangan menyentuh lantai sehingga bokongku tidak sampai mendarat duluan seperti jatuh pertama kali. Tapi tetap saja insiden tersebut bikin shock dan kalau bumil shock otomatis janin yang dikandung bisa shock juga, kan?

Oh ya, insiden tersebut terjadi sebelum saya periksa USG di RSB Ananda Trifa. Artinya dalam rentang waktu setelah USG pertama hingga sebelum USG kedua, saya telah terjatuh sebanyak dua kali. Duh, benar-bener teledor. Maafin bunda ya bunay. Bersyukur hasil periksa USG yang kedua, kondisi bunay di dalam rahim bundanya baik-baik saja. Denyut jantungnya normal. Perkembangannya bagus. Jknya pun sudah nampak. Oke, pantesan waktu itu saya terharunya pake banget. Sungguh-sungguh tidak menyangka, tidak lama lagi saya bakal jadi orang tua.

Reminder Trimester Dua

Di penghujung trimester ini saya dapat kejutan nan membahagiakan. Tiga saudari yang qadarullaah mengalami keguguran hampir bersamaan saat trimester pertama kemarin muncul kembali dengan kabar kehamilan masing-masing. Maa syaa Allaah, begitu cepat Allah mengganti apa yang telah diambilnya. Saya memang tidak mengalami hal serupa namun tahu persis yang namanya kehilangan pasti menyakitkan. Lebih-lebih bila yang hilang adalah buah hati yang didamba kehadirannya. Walau sebenarnya diri tidak perlu merasa kehilangan. Toh, yang hilang itu adalah kepunyaan Allah. Ya, sejatinya anak adalah titipan yang diamanahkan pada kita. Sewaktu-waktu Allah bisa saja mengambilnya kembali. Sekali pun si anak masih berupa janin dalam kandungan. 

Manakala diri menyadari bahwa di dunia ini sesungguhnya kita tak pernah kehilangan apa-apa, sebab hakikatnya kita memang tidak pernah memiliki apa-apa. Bahkan diri sendiri pun bukan milik kita. Raga ini, nyawa ini. Semua milik Allah. Maka kita akan dengan mudah ikhlas, membiarkan Allah mengambil kepunyaan-Nya kembali. Dan yah, saya selalu percaya, ketika kita Ikhlas kehilangan sesuatu (apa pun itu), Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. 

Trimester ini pun tidak lepas dari kabar nan menyedihkan. Sepertinya Allah benar-benar sedang menguji lingkaran kami. Lingkaran dimana saya pernah bernaung merajut ukhuwah paling manis bersama saudari-saudari shalihahku di Serui. Lingkaran yang kami beri nama LiSha (Lingkaran Shalihah). 


Dalam rentang waktu akhir tahun 2017 - awal tahun 2018 lalu, nyaris satu per satu dari kami diterjang ujian masing-masing. Selain ujian keguguran yang sempat dialami tiga personil LiSha, ada pula yang masih diuji dengan penantian buah hati. I know, ujian yang satu ini teramat berat. Jangan tanyakan bagaimana persis rasanya. Mudah-mudahan Allah semakin melapangkan hati, meluaskan kesabaran dan memperkenankan hadirnya malaikat kecil dalam rumah tanggamu, ukhtii. 

Ujian yang tak kalah beratnya pun tidak saya sangka-sangka bakal menimpa saudariku yang baru saya temui beberapa kali namun telah menumbuhkan rasa persaudaraan yang erat. Ketika saya hijrah ikut suami keluar kota Serui rupanya dia juga hijrah ikut suaminya menetap di Serui alhasil kebersamaan saya dengannya di LiSha tidak menoreh banyak kenangan tapi amat berkesan di hati. Betapa saat menulis catatan ini saya ingin sekali menemui dan memeluknya. Entah bagaimana kabarnya sekarang. Mudah-mudahan kondisimu kini membaik seperti semula, ukhtii. Seperti cinta yang telah tumbuh bermekaran di hatimu bahkan sebelum kau bertemu dengannya, malaikat kecilmu.  

Ujian yang dihadapi saudariku itu menurut saya cukup menyesakkan. Betapa tidak, belum lama merasakan bahagianya menjadi ibu dengan hadirnya malaikat kecil nan cantik, dia sudah harus berhadapan dengan tekanan demi tekanan new mom yang berujung pada depresi. Yap, belakangan saya baru tahu saudariku itu mengalami depresi pasca melahirkan tapi bukan baby blues. Depresinya terbilang parah karena sudah sampai tingkat pos partum.

Kok bisa? Itu pertanyaan yang muncul di benak saya kala mendengar kondisi tentang saudariku itu. Pertanyaan yang kemudian baru saya tahu sendiri jawabannya pasca melahirkan. Bila saat melahirkan kondisi saya persis sepertinya, barangkaali saya juga bakal mengalami depresi yang sama. Seriously! New mom memang sangat rentan mengalami depresi dan kalau terlanjur depresi, bukan cuma kondisi ibunya yang memprihatinkan, babynya juga :'(

Baiklah, ujian yang dialami oleh saudariku yang satu itu memang belum seberapa. Setidaknya depresinya masih bisa diobati. Setidaknya sampai saat ini Allah masih memberinya kesempatan untuk bisa merawat sang buah hati dengan penuh cinta dan kasih sayang. Namun bagaimana bila kesempatan tersebut hilang sama sekali. Bagaimana bila seorang istri yang baru-baru merasakan nikmatnya menjadi ibu sudah diuji dengan penyakit yang kian hari kian menggerogoti tubuh. Bagaimana bila penyakit itu yang lantas mengantarnya pulang dengan sebenar-benar pulang? Di usia yang bahkan belum menyentuh seperempat abad. Pada pernikahan yang bahkan baru menginjak tahun ketiga. Buah hatinya bahkan belum genap berumur setahun😢😢😢

Sampai sekarang pun saya masih sulit percaya, saudari shalihah yang saya jenguk Jumat 16 Maret lalu telah tiada di dunia ini. Hari itu ternyata merupakan hari terakhir saya bertemu dengannya. Hari terakhir saya mengobrol dengannya. Hari terakhir saya mendengar suaranya. Hari terakhir saya memeluk dan mencium pipi kanan kirinya.  

Kondisinya memang menurun dratis saat itu, tidak seperti kedatangan saya sebelumnya. Waktu pertama jenguk kami masih sempat ngobrol banyak dan saling melepas rindu. Dia juga masih bisa tersenyum manis bahkan menunjukkan ekspresi bahagia saat tahu kalau Zhahir (nama anaknya) bakal segera punya adik. Bahkan sempat berencana, kalau sembuh nanti dia dan suaminya pengen ngajak saya dan suami jalan-jalan bareng keliling kota yang notabenenya merupakan kampung halaman mereka berdua. Pun sempat bilang dia bakal lama menetap di Barru, belum mau pulang ke Serui jadi kalau sembuh nanti pengen ikut melingkar bersama kelompok ngajiku. But rencana tinggallah rencana, siapa yang bisa menebak takdir Allah.

Nah, waktu jenguk kali kedua itu dia sudah nggak bisa ngobrol banyak, kalau ngobrol pun suka nggak nyambung efek pendegarannya yang berkurang. Jadi kebanyakan saya yang ngomong. Saya trus motivasi dia untuk banyak makan, pokoknya dia harus kuat, dia harus sembuh demi Zhahir. Iya, demi buah hati yang telah dinantinya selama kurang lebih dua tahun. 

Masih lekat dalam ingatan rona bahagia yang terpancar di wajahnya saat ia resmi menjadi seorang ibu. Rona yang tidak lagi saya temukan ketika menjenguknya terakhir kali. Penyakit yang dideritanya telah merengutnya tanpa tanggung. Betapa tidak, penyakit tersebut telah menjauhkan ia dengan malaikat kecilnya.

Yup, saya ada saat itu. Saat dia baru saja melahirkan bayi laki-laki yang tampan nan lucu. Saya juga ada saat itu. Saat acara tasyquran aqiqah putranya berlangsung. Jadi saya tahu persis ketika takdir membalikkan keadannya. Baru delapan bulan berlalu kehadiran si malaikat kecil menggenapi kehidupan rumah tangganya dan kini Allah telah memanggilnya pulang. Namun dibanding penyakit yang dideritanya, kematianlah yang sesungguhnya mengundang pilu yang teramat sebab ia bukan sekadar menjauhkan melainkan memisahkan seorang ibu dengan anaknya di dunia ini. Menurut saya inilah ujian yang paling menyesakkan. Mudah-mudahan surga menjadi tempat peristirahatanmu, yang terakhir ukhtii. Usiamu memang masih begitu muda namun di usia semuda itu separuh dien telah kau genapkan. Qodratmu sebagai seorang wanita pun telah sempurna dengan kehadiran Zhahir walau kau tak memiliki kesempatan membesarkannya tapi In syaa Allaah amalmu masih akan mengalir lewat doa-doanya .

Qadarulllah, ajal memang tidak mengenal siapa-siapa dan apa pun. Tidak peduli kapan, dimana dan bagaimana. Semua telah ditetapkan. Jangankan ibu yang telah dipanggil Allah kala bayinya masih berusia sekian bulan, ibu yang dipanggil Allah kala baru melahirkan dan belum sempat melihat wajah anaknya pun banyak.

See! Nyaris di antara kami telah diuji dengan ujian masing-masing. Lantas bagaimana denganku? Saya nggak bilang lho, saya satu-satunya personil LiSha yang terlepas dari ujian yang berat atau bukan berarti saya tidak sedang menghadapi ujian sama sekali. Ujian yang berat itu juga pasti akan menghadangku kelak. Kalau bukan sekarang nanti atau kapan, entahlah. 


Berkaca dari ujian yang menimpa saudari-saudariku di Lingkaran Shalihah, seharusnya bisa menjadikan diri ini sebagai pribadi yang selalu bersyukur ('ala kulli haal). Rasanya sampai detik pun ini saya masih sering kufur nikmat. Padahal saat saya merasa nelangsa ternyata di luar sana masih banyak orang yang hidupnya lebih nelangsa. Saat saya merasa hidup begitu sempit di luar sana masih banyak orang yang hidupnya lebih sesak.  Lantas ketika diri merasa ujian yang tengah dihadapi begitu berat bukankah di luar sana banyak orang yang ujiannya jauh lebih berat. Mereka sanggup memikulnya lalu bagaimana denganku?

"Maka Nikmat Tuhanmu yang mana lagikah yang Kau dustakan"

Sampai ketemu di Beginikah Rasanya Hamil (Trimester Tiga)


 

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa menginspirasi.