Doa dan Harapanku di Bulan Ramadan

By Siska Dwyta - Wednesday, June 05, 2019


Bismillaahirrahmaanirrahiim

Sungguh celaka dan amat merugilah; seorang hamba yang apabila Allah masih memberinya kesempatan menjumpai Ramadhan namun hingga bulan penuh nan maghfirah itu berlalu dosa-dosanya tak kunjung jua diampuni.

Mungkinkah Ramadhan-Ramadhan yang telah saya lewati selama ini berlalu demikian. Sia-sia saja. Saya puasa, shalat, mengaji, infak sedekah dan lain sebagainya namun ternyata tak satu pun amal ibadah saya yang diterima. Bahkan yang saya dapatkan dari menahan makan dan minum sepanjang hari selama Ramadhan hanyalah lapar dan dahaga sementara dosa-dosa saya kian waktu kian menjulang tak termaafkan.

Ah, barangkali demikian adanya mengingat ibadah saya di Ramadhan yang lalu-lalu masih setengah-setengah. Tidak sepenuhnya menghadirkan hati. Niat berpuasa pun kadang masih membelok. Shalat masih sering telat, tidak khusyuk. Tarawih masih bolong-bolong. Tahajud diabaikan. Dhuha apalagi. Mengaji sebatas mengejar target khatam, beramal tidak semata-mata karena Allah dan masih banyaklah ibadah-ibadah lain yang semestinya bisa saya optimalkan di bulan Ramadhan namun kenyataannya teramat jauh dari ekspektasi. Malah sepertinya  tiap tahun semangat saya menyambut bulan Mubarak ini sebatas tumbuh di sepuluh Ramadhan pertama saja dan dratis menurun di hari-hari terakhir.

Ah, saya merasa selama hidup di dunia -terhitung sejak memasuki masa baligh dan mulai menjalankan ibadah Puasa- Ramadhan yang saya temui tidak kunjung menjadikan saya keluar dalam keadaan fitrah. Tentu, bukan salah Ramadhan bila saya tak mendapati fitrah dan maghfirah-Nya, salah saya sendiri yang kerap lalai saat menemuinya.

Padahal Ramadhan adalah momentum terbaik untuk beribadah dan mensucikan diri dari dosa-dosa. Sebab ketika bulan nan suci itu tiba; ampunan Allah melangit luas, semua amal dilipatgandakan, pintu-pintu surga terbuka lebar, pintu-pintu neraka tertutup rapat dan syaitan-syaitan pun dibelenggu. Terlebih lagi ada satu malam di bulan Ramadhan yang kemuliaanya jauh lebih baik daripada seribu bulan. Maa syaa Allah.

Pantaslah bila Sang Rasul yang amat mengasihi umatnya sampai mengamini doa malaikat Jibril yang terkesan mengumpat umat Rasul yang abai dari  menghidupkan cahaya di bulan Ramadhan. Ini bukan berarti Rasul ikut mengumpat dan mengiyakan, tapi sebagai bentuk reminder terhadap umatnya agar jangan sampai termasuk ke dalam golongan orang-orang yang menyia-nyiakan Ramadhan. Sebab sungguh amat disayangkan jika Ramadhan dibiarkan berlalu begitu saja sementara di dalamnya terdapat banyak keutamaan yang bisa kita raih.

Maka bila ditanya apa doa dan harapanku di Ramadan tahun, ini jawabanku masih sama dengan Ramadan-Ramadan sebelumnya. Saya tidak ingin keluar dari Ramadan dalam keadaan fitrah bak bayi yang baru lahir. Saya tak beranjak dari Ramadan dan termasuk dalam golongan orang yang celaka seperti yang disabdaka Nabi. Saya ingin menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan saya berharap semoga ini bukan menjadi Ramadan yang terakhir untukku. Semoga Allaah masih memberi saya kesempatan menjumpai Ramadan di tahun-tahun selanjutnya agar saya bisa lebih memaksimalkan diri dalam beribadah kepadanya.

Demikianlah doa dan harapan saya di bulan Ramadan yang semoga diperkenankan Allah.

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa bermanfaat dan menginspirasi kamu :)