Terima Kasih Ibu Guruku Sayang

By Siska Dwyta - 06:25

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Sebulir air  jatuh di pelupuk mata diikuti bulir-bulir lain yang mengalir perlahan membentuk anak sungai di pipi. Rasa sakit telah  menjelajari seluruh tubuh, terutama pada tumpuanku. Andai saja aku mau berteriak, aku akan berteriak sekeras-kerasnya. Apa daya aku cuma bisa menahan  sakit itu dengan menggigit bibir. Kuat sekali. Sekalipun tak mampu kubendung air yang terlanjur tumpah bergelinang di pipiku.

Kamis, 15 Oktober 2009

Kini semua mata tertuju padaku,  sebab diantara keempat  siswi yang menjadi objek tontonan depan kelas, hanya ada seorang gadis kurus berkacamata yang terisak. Ya, hanya aku. Dasar cengeng. Aku mana peduli, terserah kata teman-teman sekelas, bahkan rombongan kecil dari kelas lain pun ikut mengintip diam-diam dari balik pintu dan jendela. Tapi aku sudah kehilangan malu menangis di hadapan mereka juga di depan sosok perempuan yang berdiri dengan berkacak pinggang sambil terus menjelaskan materi pelajaran sejarah hari itu di sela-sela isakku  yang mulai bertambah volume.

Aku yakin tak satu pun anak kelas XII fokus mendengar ceramah  perempuan itu yang pasti  ikut merasa  terusik dengan tangis bernada memilukan dari mulutku. Sayangnya  tangis memilukan itu tak mampu melulukan amarah perempuan yang kupanggil ibu guru. Tangisku yang membesar malah beliau balas dengan suara melengking. Tetap menjelaskan pelajaran meski beliau  tahu perhatian siswanya terfokus pada keempat siswi yang duduk tepat di samping meja beliau. Beliau berlagak seolah tak terjadi apa-apa di ruang kelas, seolah-olah tak ada ‘aku’ yang menangis di jam pelajaran beliau.

“Ya, terus kencangkan saja tangisnya” ujar  ibuguru  di sela-sela penjelasannya tanpa melirik  terdengar begitu menusuk.

Perlahan tangisku mereda meski masih terisak pedih. Tak menyangka seorang ibu yang sangat kuhormati sebagai guru mudah meluncurkan kata-kata yang sakitnya bagai sakit teriris pisau (mungkin).

“Bu, aku tak mungkin meneteskan airmata tanpa alasan. Jika bukan karena deraan sakit yang teramat mana mungkin airmata ini terbuang di hadapanmu, di hadapan teman-temanku, di hadapan kalian. Aku masih punya malu, bu api sungguh aku tak sanggup menahan sakit atas hukuman yang kuterima. Rasa sakit ini jauh lebih besar dari malu yang terpaksa aku luapkan dengan airmata. Bukan bu, tangisan ini bukan mengharap ibamu. Aku menangis karena aku benar-benar merasa sakit. Saking sakitnya kakiku seakan remuk. Andai kau tahu  ibuguruku sayang?” Jeritku histeris dalam hati

“Cha, sudah dong, jangan nangis”  bisik Dian mencoba menenangkan

Aku menoleh ke sebelah  kiri, memandang sahabat sekaligus teman sebangkuku itu. Dian tampak tenang. Dua siswi lainnya juga. Padahal kami mendapatkan hukuman yang sama. Namun dari raut wajah ketiganya tidak tergambar kesakitan, mereka malah terlihat menikmati hukuman yang kuanggap beratnya bukan main.

Hah, apa aku terlalu berlebihan? Dari ketiga siswi yang dihukum hanya satu siswi yang menumpahkan tangis, jadi bagaimana mungkin ibuguru percaya padaku Sedang yang lain baik-baik saja. Andai aku kuat seperti Dian,  aku juga bukan Dea dan Eva yang mungkin mampu menyembunyikan rasa sakit dengan bersikap tenang atau mungkin mereka memang tidak merasa sakit. Ah, tapi masa’ iya  mereka tidak merasa sakit, padahal tumpuanku sudah seperti mau runtuh.

Kaget? Tentu saja tidak. Aku tidak sedang melakoni peran dramatis di depan kelas sebagai orang yang paling tertindas. Air yang menetes pun bukan  bentuk kepalsuan untuk mengelabui seorang guru yang terlalu berwibawa menurutku. Kalaupun Dian, Dea dan Eva tak menetesken air walau setitik, wajar. Mereka bukan aku siswi terlemah di kelas yang selalu menempati posisi paling terakhir setiap kali ajang lari beberapa kali putaran penuh keliling sekolah di praktik mengedepankan otot. Dan aku bukan mereka yang semangatnya selalu menggebu-gebu setiap memasuki mata pelajaran paling kubenci sedunia. Apalagi kalau bukan olahraga. Jadi wajarlah jika timbul reaksi berbeda sekalipun hukuman yang diberikan sama.

Oh ibu, apakah kau mengerti aku tak sekuat mereka? Aku hanya siswimu yang berusaha mencoba tegar di atas kelemahanku?

Aku pernah dijahili beberapa teman sekolah yang terkenal usil hingga membuat air mataku berjatuhan tapi sebelumnya aku tak pernah menangis sambil menatap mereka. Jika aku menangis aku akan menyedekapkan tanganku lalu menunduk di atas meja dan menumpahkan sepuasnya. Aku tak pernah membiarkan mereka melihat air yang mengucur dari mata ini walau mereka tahu aku menangis. Dan wahai  ibu guruku, selamat  karena hukumanmu terlalu berharga sehingga untuk kali pertama tangisanku  menjadi tontonan. Kalian melihat air mataku dan hatiku sakit. Sakit sekali.

***

Kamis lalu ibu guru berhalangan hadir,  sebagai gantinya beliau tetap memberi kami tugas melalui ketua kelas untuk  mencatat materi  sejarah dari buku cetak beliau kemudian dituliskan oleh  sekertaris di papan tulis. Saat itu aku lupa membawa buku sejarah, sehingga ketika teman-teman yang lain berkutat dengan pulpen dan materi  yang dituliskan di papan aku tidak ikut mencatat, Dian juga, rencanannya sih mau nyalin dari buku teman. 

Dan kamis ini, karena bertumpuknya  tugas yang diberikan guru masing-masing bidang studi dari pekan lalu aku terfokus mengerjakan seabreg tugas-tugas tersebut sampai-sampai lupa pada catatan 'sejarah' yang belum aku salin.

Pagi tadi sebelum  berangkat ke sekolah aku sudah mencari 'buku catatan sejarah' namun entah penyakit pikunku kumat lagi, aku tidak ingat dimana buku itu  berada. Apalagi semalam aku sibuk mengetik soal-soal penjaskes, kemudian lanjut mengerjakan tugas english, membuat susunan kalimat S+V+O- jadi malamnya memang aku tidak sempat mencari catatan my history (hehehe terlalu banyak kambinghitam  ya)

Tidak terlintas dalam pikiranku  ibu akan memeriksa catatan kami dan akan menghukum kami seperti ini.
 

Sebagian besar dari siswa/siswi kelas XII IPA. Maju ke depan kelas. Catatan kami tidak ada dan ibu guru tidak mau tahu alasan apa pun yang kami ajukan. Sanksi tetap berlaku. Silakan tanggung resiko masing-masing Aku pasrah.

Teman-teman cowok diperintahkan  push-up berkali-kali.
 

“Ibu tidak akan membiarkan kalian duduk hingga semuanya menderita” tegas ibuguru dengan  lantang  membuat aku bergidik ngeri.

'Matilah aku'.

Sebuah kesalahan yang harus dibayar. Aku membayangkan  hukuman yang sama, mungkin lebih ringan. Semoga. Karena kami cewek dan kekuatan kami  tentu tak sejago mereka. Setelah hukuman ibu guru berhasil ditebus teman-teman cowok dengan santai sambil ketawa-ketiwi kini giliran ceweknya.

Tidak kusangka, sungguh hukuman yang ibu berikan pada kami bagiku jauh lebih berat dibanding dengan hukuman yang beliau berikan pada teman-teman cowok. Bahkan jika disuruh memilih, aku mending milih push-up, dipukul dengan rotan pun tak masalah atau lari 5x putaran  lapangan sekolah atau sekaligus dijemur saja di lapangan dekat tiang bendera sekolah hingga pelajaran sejarah usai. Setidaknya hukuman-hukuman itu tidak sampai meluluhantakkanperasaanku.

Ibu menyuruh kami mengambil tiang bendera kelas yang terletak di ujung kelas depan samping lemari dekat meja guru. Tiang itu terbuat dari  kayu besi, dengan ujung bawah sebagai penumpu terbuat dari semen yang beratnya berton-ton

“Untuk apa tiang bendera ini?” bisikku pada Dian. Yang ditanya angkat bahu.

(Hmmm gimana yah menggambarkannya??)

Ibu memerintahkan kami untuk menelentangkan tiang tersebut di lantai kemudian kami disuruh jongkok  dan mengangkat tiangnya lalu memasukkan kaki dalam celah tiang ketika terangkat dan duduk tepat diatasnya. Tiang tersebut  tidak boleh menyentuh lantai, kami menjadi penopang. Ketiga temanku telah mengambil posisi seperti instruksi ibuguru. Parahnya aku mendapat posisi ujung kanan dekat bagian penumpu yang terbuat dari semen itu. Awalnya kukira ringan, tapi ketika kakiku baru sebagian masuk ke celah tiang, subhanallaah. Aku bahkan tidak bisa jongkok. Ibu memaksa. Katanya aku harus jongkok. Ya Allah kaki ku seperti nyaris patah. Dian, Dea dan Eva tertunduk  diam, mereka mampu bertahan tapi aku. Oh Tuhan. Aku lemah dibanding mereka. Hukuman yang ibu berikan bahkan jauh lebih berat daripada pelajaran militer yg mr. Sima , guru olahraga kami berikan. Payah, aku selalu terbelakang untuk pelajaran yang mengandalkan otot.

Ibu airmataku  keluar bukan karena cengeng, hanya saja aku belum pernah mengecap hukuman seberat ini, orangtuaku pun tak pernah menghukum anaknya ditindis dengan benda berat. Kaki ini seolah mau patah bu, aku sadar pada kelemahan fisikku, namun salahkah aku bila menangis karena rasa sakit yang tak kuat kutanggung?? Aku tak berharap iba,  adakah nalurimu ibuguruku?

Cuma karena tumpuanku terlalu berat ibu memindahkan posisiku di bagian ujung tiang bendera, memang beratnya agak  berkurang dan aku bisa berjongkok seperti yang lain  tapi  sama saja tetap sakit. Sementara kami menjalani hukuman ibu mulai menjelaskan catatan pekan kemarin. YA ALLAH kakiku sakit. Air yang keluar dari mataku pun tak kunjung mau berhenti. Sebisa kutahan agar cukup  menangis dalam diam. Namun justru malah menyesakkan dada. Akhirnya tangisku pecah. Sejenak penjelasan ibu terhenti.

 'Ya, terus. keluarkan semuanya' kata ibu tertuju padaku

Detik berikut aku berusaha mengontrol diri dan meredam tangis, tapi belum lama sesenggukan kembali, sesak napasku semakin menjadi-jadi. Kini bukan hanya kaki yang merintih , dadaku . .  

'Ibu, sudah bu', aku nggak kuat' ucapku  di puncak dimana  tak kuasa lagi aku menahan beban pada tumpuan

Sekian menit berlalu akhirnya ibu menyudahi hukumannya dan mempersilakan kami duduk

Meskipun hukuman telah berhenti namun sepanjang pelajaran tersisa, seorang siswi yang duduk di bangku paling depan berhadapan  dengan meja guru  tertunduk dengan tangan bersedekap, tersedu-sedu kecil. Si ibu guru membiarkan. Pemandangan yang aneh bukan? Seorang guru asyik mengajar sementara salah seorang siswinya menangis di hadapan beliau? Lalu apa yang dilakukan teman-teman kelasku? Mereka membisu di bangku masing-masing, mencoba menyimak penjelasan si ibu guru tapi aku yakin tidak satu pun ucapan si ibu nyangkut di otak mereka

“Icha, apa yang sakit?’' tanya  ibu menghampiriku di akhir pelajaran sejarah. Aku berpaling tak menjawab.

***
Jengkelkah aku? Marahkah aku? Bencikah aku? Sakit hatikah aku? Tangisku telah mereda ketika jam pelajaran sejarah usai, meski masih menyisakan mata sembab dan tarikan menepis air yang kini justru mengalir perlahan dan hendak keluar pelan-pelan dari lubang hidung. Tarikan-tarikan yang senada dengan sesak dada. Mendadak flu menyerang padahal nggak kehujanan membuat kepalaku ikut pening. Mungkin karena sepanjang pelajaran di jam kedua aku kebanyakan nangis. Menangis ternyata berkhasiat mendatangkan flu dan memeningkan kepala, lho?. Kondisiku yang sedari pagi sehat bugar drastis memburuk setelah ibuguru meninggalkan ruang kelas (tanpa rasa bersalah, mungkin)

Aku masih membisu di bangku dengan kepala menunduk di atas meja. Tak kusangka aku baru saja melewati momen pertama menangis di hadapan guru dan teman-temanku, menjadi tontonan mereka. Ah, sungguh sangat memalukan. Setelah ibu hilang dari balik pintu. sebagian teman berhamburan mampir mengerebungiku, sekedar numpang lewat, melihat-lihat lalu berlarian keluar kelas menyusul teman yang kabur lebih dulu menuju kelas lain untuk mengikuti pelajaran selanjutnya,  Matematika. 

 “Cha, ayo!” Ajak Dian
“Sampai kapan mau diam di sini, Cha sebentar lagi jam pelajarannya pak Dar” seloroh Ida sambil memeluk bahuku.
Aku bisa merasakan betapa pedulinya kedua sahabatku itu. Selain aku dan Dian, hanya Ida yang yang lolos dari hukuman. Padahal diantara kami  bertiga bisa dibilang cewek keturunan Ambon itu yang kurang cerdas dalam masalah pelajaran  tapi aku ancungi jempol sekali pun kemampuannya kurang ia termasuk siswi yang paling rajin, rajin mencatat, rajin kerja, rajin ke sekolah. Yah pokoknya rajinlah.
Inilah arti betapa kita sebenarnya lebih membutuhkan seorang atau dua orang sahabat ketimbang seratus atau seribu teman. Sebab teman hanya akan tinggal sementara bersamamu lalu beranjak begitu saja, tapi sahabat ia akan tetap tinggal bersamamu baik dalam keadaan bahagia pun sedihmu.
Aku bersyukur memiliki sahabat seperti Dian dan Ida, di saat teman-teman kelas kami sudah pada beranjak  mereka berdua memilih setia menemani aku yang masih membenamkan wajah. Mencoba menghibur dengan lelucon tapi dalam kondisi seperti ini bagaimana bisa aku tertawa tersenyum pun rasanya sulit sekali.
“Ayolah, Cha.. kamu nggak mau ikut pelajaran favoritmu?” desak Dian setelah sekian menit kuacuhkan.
“Di, Da badanku lemes” akhirnya aku mengangkat kepala. Sepotong kalimat meluncur dari mulutku terdengar begitu lesuh.
“Ya ampun, Cha mukamu pucat banget” Histeris Ida
“Matamu juga bengkak” lanjut Dian tak kalah histeris
“Cha, kayaknya kondisi kamu nggak fit,  kamu istirahat aja gih di rumahnya Ida, nggak usah ikut pelajarannya pak Dar” saran Dian membuatku tersentak
“Apa?”
“Ia Cha, jangan dipaksakan, khawatirnya kondisi kamu malah tambah parah” tambah Ida meyakinkan
Aku termenung sejenak sebelum akhirnya mengangguk.
Terpaksa aku merelakan satu kesempatan emas untuk bertatap muka dengan pak Dar. Guru matematika paling terfavorit satu sekolahan, satu-satunya guru di sekolah kami yang mampu membuat setiap anak jatuh hati pada matematika. Pelajaran yang katanya paling sulit itu bahkan akan terasa mudah jika pak Dar yang mengajar. Bayangkan saja siswa terbelakang dalam pelajaran matematika, yang kali-kali dan bagi-baginya masih kurang, mampu mengerjakan soal semisal integral di papan tulis dengan benar. Wah. Jadi pantas saja kalau teman-teman di kelas kami pun selalu bersemangat mengikuti pelajaran beliau. Tak ada yang mau ketinggalan. Apalagi beliau termasuk guru yang paling banyak tugasnya di sekolah selain tugas mengajar di kelas sehingga jarang masuk di kelas. Hanya waktu-waktu tertentu dimana beliau memiliki waktu dan kesempatan untuk mengajar kami, pertemuan yang singkat namun efisien. Termasuk hari ini,  sayang banget kalau aku tidak ikut pelajaran beliau hanya karena insiden yang seharusnya tidak terjadi kalau saja....
***
Siapa yang salah? Haruskah aku menyalahkan keadaan? Menyalahkan ibuguru? Menyalahkan kepikunanku?
Andai ibu guru tidak memberiku  hukuman sekejam itu pastilah saat ini aku berada di kelas matematika, duduk di bangku paling depan bersama Dian lalu dengan mata berbinar-binar takjub memandang pak Dar dengan kehebatannya menjelaskan pelajaran yang paling kusuka. Tidak berada di kamar tidurnya Ida, sendiri pula. Berbaring dan membiarkan pikiranku terbang terlalu jauh. Jarak rumah Ida yang dekat dengan sekolah selalu menjadi tempat pelarianku bersama Dian. Sekaligus tempat paling nyaman menghilangkan kebetean. Lagipula aku nggak mungkin pulang kerumah karena belum waktunya pulang, terlebih dengan keadaanku yang cukup memprihatinkan. Aku bukan tipikal siswa yang suka ngadu ke orang tua. Jadi kalau ada masalah di sekolah, semisal dapat hukuman dari guru, dikibulin teman, dll, ya saya simpan sendiri, nggak berani lapor ke orang tua.
Memang bukan keinginanku ketika memutuskan untuk menerima saran Dian dan Ida. Tidak mengikuti pelajaran pak Dar, hah apa daya mataku terlanjur bengkak, badanku terlanjur lemes parahnya aku terlanjur down jadi dalam keadaan seburuk itu tak ada alasanku untuk tetap ngotot belajar matematika sekali pun aku enggan meninggalkannya.
Tentu. Harus aku akui ibu guru tak mungkin menghukumku jika aku tak berbuat salah, aku tak mungkin mengalami hal memalukan  jika aku mengerjakan tugas yang beliau berikan. Salahku jika aku menyalahkan beliau. Tapi salahkah jika aku mengekspresikan kesakitan dengan linangan airmata? Salahkah jika aku tidak terima atas hukuman itu?
Namun fakta  berbicara bahwa aku seorang siswa yang harus patuh pada guruku. Seorang siswa yang dicap baik pun tidak luput dari  khilaf. Meski beliau tahu aku bukan siswa bandel yang sering bolos dan suka buat onar. Kenyataannya hukuman  tetap berlaku bagi siswa yang tidak sengaja melupakan tugasnya.
***
Setiap kesulitan pasti ada kemudahan dan setiap kejadian pasti ada hikmah yang bisa dipetik. Aku nggak ingin memandang sesuatu dari satu sisi saja, karena demikian justru akan menyudutkan maka aku mencoba mencari sisi lain dari setiap hal yang kualami. Entah itu hal memilukan ataukah  menyayat hati.

Pengalaman adalah guru  terbaik dan aku ingin belajar  darinya agar tidak melupakan  hal yang pernah terjadi padaku  begitu saja tanpa menggenggam makna.
Lantas makna apa yang dapat aku resapi dari kejadian yang sebenarnya begitu memalukan, menangis di hadapan guru dan teman-temanku sambil menatap wajah mereka, namun saat kisah itu terekam aku benar-benar tidak peduli keadaan sekitar pikiranku lebih sibuk pada deraan sakit  dan kalau pun kini aku malu ketika mengenang kejadian itu maka tidak sepantasnya aku malu kepada mereka.
'Sadarku akan hadirMu mematahkan sendi-sendi yang biasa tegak berdiri'.
Ya, aku sangat malu pada-Mu, Rabbi. Betapa tidak? cengengnya diriku 'menangis karena sakit' , padahal di luar sana ada saudara-saudaraku seiman  dengan sakit teramat sangat ketika Engkau timpakan beban lebih berat ketimbang tertindis benda yang massanya terpaut jauh dengan beban hidup yang harus mereka pikul dalam kesusahan, kesengsaraan juga kemelaratan.
Seharusnya  aku tegar menghadapi hukuman sebagai konsekuensi dari kesalahanku sendiri. Semestinya pula aku kuat menahan rasa sakit yang berlangsung sekejap sementara di tempat lain ada saudara-saudaraku sekeyakinan telah mengalami sakit fisik berkepanjangan.
Tuhan, begitu lemahnyakah aku? begitu manjanyakah hidupku ini untuk sebuah kesalahan secuil aku harus menerima hukuman yang juga masih seujung kuku. Hukuman sekecil itu saja aku mengaku tak sanggup  apalagi jika dihadapkan dengan hukuman di pengadilan-Mu nanti yang tentu akan lebih dahsyat, sedang dosa hamba menjulang tinggi. Bagaimana aku dapat mempertanggungjawabkan semuanya  di hadapan-Mu Tuhanku?
Terbayang saudara-saudaraku yang Kau uji dengan menggoncang bumi lalu meluluhlantakkan bangunan-bangunan megah nan kokoh. Mereka ada yang selamat setelah berjam-jam lamanya terperangkap dalam reruntuhan bangunan-bangunan material itu, namun ada kekuatan dan ketegaran disana sehingga mereka mampu bertahan hidup hingga berhasil selamat meskipun tak jarang dari yang selamat itu mengalami cacat seumur hidup . Sementara aku belum  semenit menahan ujung tiang bendera pada tumpuan kakiku, langsung mengeluh dengan menumpahkan airmata.

Kesakitan yang kualami itu tidak sebanding  dengan sakit lahir batin yang mendera mereka. Jadi pantaskah aku berdalih.

Ya Allah, aku lemah tanpa-Mu, Kuatkanlah hamba dan tegarkan hati ini 

Allah menguji hambaNya dengan cara berbeda. Giiliran itu pasti. Tinggal menunggu waktu menghadapi kenyataan. Siap nggak siap harus siap. 'Mampukah aku menjadi insan yang selalu bersyukur ketika mengecup  nikmatMu atau malah ingkar, mampukah aku menjadi insan yang bersabar mengecap  ujianMu?

'Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya...." (Q.S 2:286)

Rabbi, kuatkan aku. Catatan ini aku tuturkan bukan sebagai bentuk menyalahkan guru yang telah menghukumku dengan hukuman berat (menurutku) , meski awalnya aku tidak terima atas perlakuan beliau namun hal tersebut hanya luapan emosi sesaat. Toh aku nggak mungkin  dikenai hukuman  kalau saja tugas dari beliau aku kerjakan

Kejadian itu sepenuhnya adalakesalahan diri pribadi yang tidak luput dari kelalaian, justru sanjungan terima kasih kuungkapkan pada beliau lewat catatan ini.  Tidak ada marah, benci maupun dendam di hati. Aku mungkin perlu banyak belajar menerima 'cara-cara keras' atas kesalahanku , sebab hidup ini juga keras. Saat ini memang aku masih bergantung pada orang tua, tapi kelak ketika aku lepas dari mereka, bisa nggak aku berdiri tegak sendiri di sini? 

Akhirnya Pada-Nya jua  ku kan kembali. Kekuatanku  milik-Nya. Ketegaranku dari-Nya. Semoga diri  menjadi pribadi kuat dan tegar menerjang cobaan hidup. Hari  ini aku belajar sebuah hukuman dari guru sejarahku.

'dan boleh jadi Allah pun akan menuntut kesempurnaan ibadah kita, sebab diri tidak sanggup menerima siksaan-Nya dan pengharapan menuju surga-Nya.




  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa menginspirasi.