Ramadhan Tak Musti Kelabu

By Siska Dwyta - 20:48

Sejak kecil aku selalu melewati ramadhan bersama papa dan mama serta kedua saudariku di Serui, salah satu kota lumayan terpencil yang berada di Ujung Timur Indonesia. Bertahun-tahun lamanya tak pernah ada satupun hari di bulan Ramadhan yang aku warnai tanpa kehadiran mereka. Mama yang selalu bangun lebih awal saat suami dan ketiga buah hatinya masih terbuai mimpi, demi menyiapkan santapan makan sahur untuk keluarga kecilnya, sekalipun mata beliau sendiri masih terasa berat. Kemudian membangunkan kami ketika makanan yang beliau suguhkan sudah tertata rapi di meja makan. Aku sangat hapal, menu makanan sahur kami di awal ramadhan yang di hidangkan mama pastilah ayam di samping sayur sup, menu yang mungkin dianggap biasa bagi keluarga lain, namun bagi keluarga kami yang kesehariannya sering makan ikan laut, ayam termasuk menu special yang wajib ada tiap menyambut datangnya bulan special.

Dan satu-satunya lelaki di keluarga kami adalah papa yang tak pernah bosan memanjakan ketiga putrinya, beliau selalu mengajak kami jalan-jalan tiap sore menjelang senja sambil menunggu waktu berbuka, kalau sekarang istilahnya 'ngabuburit', paling sering ke taman kota atau mencari menu berbuka di Pasar untuk dibawa pulang ke rumah, tentunya kami diajak secara bergiliran,  terkadang aku dan kak Vhie, kak Vhie dan Aya atau yang paling sering aku dan Aya, karena motor papa cuma satu dan cuma muat untuk 3 orang, papa dan kedua anaknya, jadi salah satu dari kami harus ada yang mengalah. Sebagai anak tersulung yang usianya terpaut agak jauh dari aku dan Aya, maka kak Vhie lah yang paling sering mengalah. Begitulah sepenggal moment ramadhanku di masa kanak-kanak.

Ramadhan bersama keluarga memang menjadi moment berharga yang menorehkan kesan tersendiri di hati masing-masing orang yang merasakannya. Sahur bareng, buka bareng,  tarawih bareng dengan orang-orang terdekat adalah rutinitas di bulan ramadhan yang sayang terabaikan begitu saja bila kesempatan itu masih ada.  Sebab kini kusadari kesempatan yang sama tak selalu hadir, tiga tahun silam ramadhanku masih bersama papa dan mama, ramadhan tahun lalu pun aku masih di beri kesempatan pulang kerumah setelah dua tahun menjejaki tanah yang sama dengan tempat study kak Vhie, walau sudah sekian tahun berlalu sejak kak Vhie lulus SMA dan merantau ke tanah Daeng guna meraih bintang di angkasa sana untuk ia persembahkan kepada papa dan mama. Bukankah begitu impian orang tua, mengirimkan anaknya sekolah tinggi-tinggi sekalipun itu berarti ia harus berpisah dengan sang buah hati, hanya untuk mewujudkan satu mimpi, menyaksikan anaknya sukses. Setahuku orang tua tak pernah memikir diri mereka sendiri, yang lebih mereka pikirkan  adalah kesejahteraan hidup anak-anaknya kelak setelah mereka tiada. Tahun kepergian kak Vhie merupakan tahun yang sama dengan kelahiran adik bungsuku, Auliya. Sejak itulah keluarga kami belum pernah utuh lagi merangkai hari-hari ramadhan bersama. Gimana tidak? hampir 4 tahun setelah kepergian kak Vhie menuntut ilmu ke pulau seberang, aku pun menyusul lalu dua tahun kemudian Aya, sehingga yang tersisa  di rumah hanya papa dan mama di temani si kecil Auliya yang 4 bulan lagi berumur tujuh tahun. Auliya sendiri pun belum pernah melihat ketiga kakaknya secara bersamaan, ah.. padahal aku sangat menanti Ramadhan, dimana semua anggota keluargaku berkumpul utuh.

Ramadhan 1434 H,  menjadi kali kedua aku melewati ramadhan tanpa papa, mama, kak Vhie, Aya, serta adik bungsuku. Padahal ada kesempatan libur panjang apalagi bertepatan dengan bulan ramadhan, siapa sih yang gak mau mudik? Teman-teman sekelasku di jurusan Pendidikan Matematika UIN Alauddin semua sudah pulang ke kampung masing-masing,  termasuk mereka aku yang kampungnya lumaya jauh, seperti si Lia dari dari Nusa Tenggara Barat (NTB), sedangkan yang lainnya berasal dari berbagai penjuru daerah di sekitaran Sulawesi Selatan. Mereka mudiknya gampang, setidaknya gak musti menempuh perjalanan laut yang memakan waktu 5 hari 5 malam dengan kapal untuk sampai ditujuan. Paling-paling hanya menempuh perjalanan darat tidak sampai seharian, sekitar 5-6 jam doang, sampai deh. Boleh di bilang di antara teman-teman seperjuanganku di kampus itu, aku yang asalnya paling jauh, yaitu di bumi Cendrawasih alias Papua. Sebenarnya dekat sih kalau naik pesawat hanya butuh waktu 1-2 jam, namun setelah aku pikir-pikir mending uangnya dipakai untuk pembayaran SPP aku yang sisa dua semester, toh setelah berhasil mengenakan toga dan menyandang gelar, aku akan kembali mengabdikan diri di kampung kelahiran, Insya Allah tahun depan. Jadi biarlah aku nikmati saja hari-hari ramadhan di kota yang terkenal dengan pantai Losarinya ini.

Ramadhan sendiri itu rasanya nyesek lho, seperti ada yang kurang, terlebih saat menanti buka puasa atau bangun sahur dan makan tanpa ada yang menemani. Kalau sudah seperti itu pasti ingatanku akan melayang ke rumah,  dan mengenang kembali ramadhan-ramadhanku di kampung kelahiran yang sering juga di sebut kota ACIS. Jika ramadhan di Makassar, maka bisa kita lihat di sudut-sudut jalan terpajang baliho-baliho besar berterakan ucapan selamat menjalankan ibadah puasa, sorenya bisa kita temui di sepanjang jalan besar bahkan di jalan-jalan kecil, berjejer para penjual menu berbuka mulai dari pisang ijo, berbagai jenis kue hingga bermacam-macam es buah. Masjid di kota Makassar pun yang jumlahnya tak terhitung ada sekitar ratusan mungkin, selalu menggema keras di waktu-waktu shalat terlebih saat menjelang berbuka, serta saat ceramah tarwih maupun khutbah jumat. Lalu malamnya diramaikan dengan suara  petasan. Suasana yang sungguh tidak pernah aku jumpai di Serui yang penduduknya mayoritas nasrani. Disana hanya ada 5 masjid yang baru berbunyi ketika adzan tiba, lantunan ayat-ayat Allah juga hanya terdengar menjelang maghrib. Di Makassar kita masih bisa mendengar suara ustad ceramah  dari rumah, nah  kalau mau dengar ceramah di Serui harus ke mesjid dulu. Kalau malam tak ada bunyi-bunyi petasan. Tampak kontras memang tapi bagiku suasana ramadhan di Serui jauh lebih terasa nikmatnya meski tak seramai kota Makassar, mungkin karena di sana keluargaku tinggal. Jadi dimanapun aku melewati ramadhan, ramadhan bersama keluargalah yang selalu menorehkan kesan paling indah. Namun bukan berarti tak bisa melewati ramadhan bersama mereka, membuat ramadhanku kali ini berwarna kelabu. Harus tetap ceria dong, karena ramadhan hadir sebagai bulan istimewa bagi orang-orang beriman. Kata Allah semua amal yang kita lakukan di bulan ini akan dilipatgandakan lho. Lebih sayang lagi kan, kalau hanya karena gak bisa ketemu keluarga kita jadi galau bin dilema, yang akan berdampak turunnya minat beramal padahal yang lain pada berfastabiqulkhairat, berlomba-lomba pada kebaikan. Insya Allah masih ada tahun depan, atau ramadhan di tahun-tahun yang akan datang jika umur panjang.  Berharap semoga  Allah masih memberi aku kesempatan berkumpul dengan keluargaku tercinta:)

Makassar,
16 Ramadhan 1434H




  • Share:

You Might Also Like

11 comments

  1. Ramadhan bersama keluarga itu memang moment paling indah yang tak bisa tergantikan apapun ya :)

    ReplyDelete
  2. Wah, ikut giveaway ya? Moga menang ya. Tulisannya menginspirasi.:)

    ReplyDelete
  3. memang berkumpul sama keluarga itu adalah hal yang paling menyenangkan dalam hidup. tapi semua hal itu bisa berubah ketika kita jauh dari anggota keluarga dan mencoba hidup tanpa mereka. semua pasti ada jalannya mbak...!! semangat

    ReplyDelete
  4. ikutan lomba lagi ya? hebat. smoga menang ya.
    ayam sama soup mah itu bukan lauk yg biasa tapi luar biasa.

    ReplyDelete
  5. wah giveaway ya ini, moga ajah menang. . . . . gue udah lama enggak ramadhan ama orang rumah, pulang ke rumah udah lebaran

    ReplyDelete
  6. semngat yaa ikut lombanya...
    btw gaya tulisannya aku suka :D lugas dan tertata rapi

    ReplyDelete
  7. betah ya lama2 gak pulang :') tp gak papa. nanti pulang membawa kesuksesan kuliah hehe. btw selamat puasa dan ramadhan ya :)

    ReplyDelete
  8. Tulisannya rapi ya, semoga bisa segera berkumpul dengan keluarga, terima kasih atas partisipasinya :)

    ReplyDelete
  9. Zhie, menyentuh banget. Yg sabar yah, semoga cepet dapet toga nya!!

    Semoga menang GA nya juga ^_^
    semangat Zhie!!!!

    ReplyDelete
  10. Zhe, kebalikan sama aku. aku belum pernah puasa ato lebaran nggak sama keluarga, soalnya emang belum pernah merantau. jadi lagi lagi menurutku kamu keren Zhie. aku doain biar segera dapat toga dan bikin orang tua mu bahagiaaaaa...Aamiin

    ReplyDelete
  11. aduuuuk pukpuk kak zhie.. sini aku temenin ramadhannya kak. makassar - pinrang ga jauh2 amat. meheheheh

    semoga menang GAnya kakah ^o^)9

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa menginspirasi.