Cintaku Dibunuh Sang Waktu

By Siska Dwyta - 05:36



"Sayang"

Aku menatap pesan yang masuk lagi di inboxku pagi ini. Masih pesan yang sama seperti pagi-pagi yang lalu dari nomor yang sama dengan orang yang sama.

Menjijikkan. Ah ya, kalimat romantis itu seharusnya membuatku tersipu bukan malah bergidik dengan perut yang mendadak mual. Jijik. Buru-buru tanganku menekan tombol option lalu delete. Dalam sekejap pesan tersebut menghilang, serupa dengan perasaanku.

***

Dulu sekali, aku pernah teramat sangat mencintai seseorang. Cinta yang tak terlukis dengan bahasa, tak terukur dengan logika. Begitu besar, begitu tinggi, begitu dalam. Aduhai, cintaku terlalu membahana. Aku mencintai seseorang itu lebih dari sesiapapun. Sungguh dengan cinta yang luar biasa. Penuh dengan ketulusan.

Namanya Gilang Purnama. Cowok paling gagah di SMA Cakrawala, sekolahku. Pemilik mata elang, hidung mancung, dahi mencuat, dan tubuh semampai. Benar-benar tipikal cowok idealis. Gilang tidak hanya gagah, smart, jago main basket, anak band pula. Cewek mana yang tak tergila-gila padanya. Dari kelas X sampai kelas XII fans Gilang berjejer. Semua cewek Cakrawala mengidolakannya. Kecuali aku, Iya. Aku.

Aku yang tak pernah bereaksi seperti Rina dan Fani, kedua sahabatku yang selalu menjerit histeris ketika melihat Gilang melintas di depan kelas kami. Aku yang diam saja setiap kali teman-teman cewekku heboh membicarakan tentang cowok yang juga menjabat sebagai ketua osis itu. Aku sama sekali tak tertarik dengan sosok Gilang. Bagiku, cowok yang namanya tenar di seantero Cakrawala itu biasa-biasa saja, kecuali wajahnya yang memang kuakui lumayan handsome. Selain itu tak ada yang special.

Tapi semuanya berubah, ketika aku terpilih sebagai sekertaris OSIS di tahun kedua Gilang menempati posisinya sebagai ketua. Sejak saat itu, aku mulai banyak berinteraksi dengan cowok yang setingkat denganku namun beda kelas itu. Awalnya komunikasi kami sebatas membahas program-program kerja OSIS, pertemuan kami pun hanya pada saat rapat. Selebihnya, sebisa mungkin aku menjaga jarak dengan Gilang. Aku tak mau bernasib sama dengan Nanda, mantan sekertaris Gilang yang kabarnya sudah pindah sekolah hanya gara-gara Gilang menolak cintanya.


"Hati... hati lho Sya, berada di dekat Gilang bisa bikin jantung copot" Selorah Rina mewaspadaiku di suatu hari

"Pokoknya hati loe harus lebih kuat Sya, jangan lupa baca ayat kursi setiap kali ketemu Gilang" timpal Fani

"Hahaha.. emang Gilang setan apa? Liat saja, aku gak bakalan jatuh cinta dengan cowok kayak dia. Gak akan" ucapku yakin saat itu

Tapi apa yang terjadi denganku sepekan setelah percakapan dengan kedua sahabatku itu.

Gilang mulai menunjukkan sikap berbeda Mulanya ia menawari hendak mengantarku pulang setelah rapat kami yang kesekian kalinya. Jelas, aku menolak tapi karena terus-terusan dipaksa aku luluh juga. Akhirnya besok-besok Gilang terus menawariku pulang bersama dan aku tak punya alasan untuk menolak. Tidak hanya pas selesai rapat, setiap lonceng pulang berbunyi, Gilang selalu stand bye menungguku di parkiran motor. Lama kelamaan aku makin dekat dengan Gilang dan semakin banyak yang membenciku, mungkin termasuk Rina dan Fani yang tetiba menjaga jarak. Aku mahfum jika mereka bersikap seperti itu, mereka kan juga fansnya Gilang.

Dekat dengan Gilang, menumbuhkan rasa yang aneh, rasa yang tak pernah kusesapi sebelumnya. Pikiranku mulai terpenuhi dengan sosok Gilang, seolah bayangan cowok tampan itu mengikutiku sepanjang waktu, hingga tiap malam aku selalu memintal doa dalam-dalam agar pagi segera menjelang, agar aku bisa segera bertemu dengan Gilang. Oh Tuhan, apakah ini yang namanya cinta?

Tidak hanya mengantarku pulang, belakangan Gilang juga rajin menjemputku tiap pagi, tidak jarang di akhir pekan ia mengajakku jalan-jalan kel mall, bahkan sesekali membawaku ke pantai dan menghabiskan senja di sana.

"Katanya ada yang gak bakalan jatuh cinta nih, Rin? Sindir Fani sebulan lebih setelah kedekatanku dengan Gilang

"Ngomong aja pintar, faktanya ngaku sahabat tapi menusuk"

"Jadi, ceritanya ada yang sudah jadian ni? Hebat banget. Cewek cupu kayak lho bisa menaklukkan hati pangeran tampan kayak Gilang. Lho pake baca-baca apa sih Sya?" Seloroh Rina, kali ini membuat mataku nyaris berkabut

Mulutku mendadak kelu. Sejenak, aku hanya membungkam dengan tangan mengeram kuat, menanggapi sindiran kedua cewek yang masih kuanggap sahabat.

"Iya.. aku tahu aku salah. Tak seharusnya aku menjilati ludah sendiri. Aku yang terlalu bodoh, tak tahu kalau ternyata cinta itu rasanya sedahsyat ini. Mampu mengalahkan naluri dan logikaku. Maafkan aku Rin, Fan. Bahkan jika kalian memintaku agar menjauhi cowok itu demi persahabatan kita yang sudah merangkak dua tahun, aku tetap akan memilih Gilang. Aku tetap akan mempertahankan perasaanku. Sebab.. aku terlanjur.. aku terlanjur mencintainya terlalu dalam. Maafkan aku" gumamku kecil diikuti bulir-bulir yang jatuh perlahan, membentuk anak sungai di pipi.

###

Naik kelas XII. Gilang berubah. Dia berusaha menjauh dariku tanpa alasan apapun. Membuatku panik dan kebingungan setengah mati.

"Kenapa kamu gak pernah nungguin aku lagi, Lang?"

"Kenapa? Terserah aku dong. Lagian kita juga gak punya hubungan apa-apa kan?"

"Tapi Lang, apa maksudnya semua ini. Apa maksud kamu ngedekatin aku?"

"Sama sekali gak ada maksud"

"Oh"

Detik itu aku kehilangan kata-kata. Aku berbalik dengan mata basah, meninggalkan Gilang dengan rasa sesak yang mengendap lalu pecah seketika. Buru-buru kubekap mulutku, menahan isak yang tak kuasa terbendung lagi. Perasaanku hancur sudah.

Kata Gilang aku berbeda dengan kebanyakan cewek. Aku tak sama dengan cewek-cewek yang menggilainya hanya karena paras tampannya. Perkataan yang pernah melambungkan anganku ke angkasa itu masih terngiang jelas dibenakku hingga hari ini.

"Dasar, bulshyiiit!!!"

Sejak pertemuan itu, aku seolah kehilangan semangat. Tak ada lagi gairahku menuntut ilmu. Kalaupun ke sekolah, wajahku selalu mendung. Bahkan aku sempat jatuh sakit selama dua pekan. Tak kusangka, besar cintaku pada Gilang bisa membuatku menjadi lemah tak berdaya.

"Gilang adalah segala-galanya bagiku" setidaknya hanya itu satu kalimat yang bisa kulontarkan mewakili perasaanku ketika Rina dan Fani datang dan menghujamiku dengan kata-kata hujatan yang kali ini mereka tujukan pada cowok yang telah mencampakkanku.

"Sadar, Sya. Gilang itu cowok bejat. Dia hanya mempermainkan loe saja. Buktinya sekarang dia malah jalan sama cewek lain sementara lho?... Ayolah, Sya. Buka mata loe. Sekalipun loe pernah ngejauhin gue dan Fani karena Gilang, tapi kita tetap sahabat loe, kita tetap sayang sama loe.. kita tetap care sama loe...kita gak mau liat loe terus-terusan sedih kayak gini"

Seketika tangisku memecah disambut dengan pelukan kedua sahabatku. Hari itu kami sama-sama menangis tersedu sedan.

"Terima kasih Rin, Terima kasih Fan. Kalian memang sahabatku yang terbaik".

###

Dulu.. dulu sekali, aku berpikir bahwa waktu tak kan mampu mengalahkan cintaku pada seorang Gilang. Sekalipun Gilang telah berubah menjadi orang asing. Ia kemudian berlagak seolah tak mengenalku padahal kita pernah sangat dekat.

Apa katanya? Mendekatiku tanpa ada maksud. Gilang memang tidak pernah menyatakan perasaannya tapi aku sangat yakin dan percaya tidak mungkin cowok brengsek itu mendekatiku tanpa ada perasaan? Atau aku saja yang tidak pandai menafsirkan sikapnya. Ah, tapi cewek mana yang hatinya tidak tersentuh bila diperlakukan seistimewa itu.

Gilang adalah cowok pertama yang berhasil menyentuh sekaligus menghancurkan perasaanku. Bodohnya, bertahun-tahun aku tetap bertahan mencintainya. Mencintainya dalam diam. Dalam rapal doa-doaku. Dalam pintal harapanku. Aku pun tidak pernah berusaha belajar melupakan Gilang, sedetikpun. Bahkan setelah jarak membentang luas diantara kami. Gilang selalu ada di mataku juga hatiku.

###

Sudah tujuh tahun berlalu, dan dia hadir kembali. Mengusikku.

"Sayang"

"Tolong jangan ganggu aku lagi, Lang. Kumohon"

"Kamu kok jadi cuek sekarang?"

"Bukannya cuek, aku hanya gak mau aja berurusan dengan suaminya orang"

"Sasya, ada yang mau aku bilang ke kamu"

"Apa?"

"I love you"

"What?" Aku bergidik. Jijik.

Menjijikkan? Ah ya, kalimat romantis itu seharusnya membuatku tersipu bukan malah bergidik dengan perut yang mendadak mual. Bagaimana tak jijik, bila kalimat yang kuharapkan tujuh tahun lalu itu baru ia ucapkan setelah setahun lalu bersanding di pelaminan bersama wanita lain.

Buru-buru tanganku menekan tombol option lalu delete. Dalam sekejap pesan tersebut menghilang, serupa dengan perasaanku padanya yang telah dibunuh sang waktu.


posted from Bloggeroid

  • Share:

You Might Also Like

10 comments

  1. Tapi meski PHP, ceritanya seru juga. :D

    ReplyDelete
  2. what?? udah nikah masih aja bilang gitu , cowo apaan itu??
    klo di sebut php mungkin iya kali yaah, , mungkin inilah php yang sebenarnya,
    dan dengan membaca cerita kakak, , aku jadi keingetan lagi dewh, yang intiny hikmahnya itu klo sahabat akan tetap menjadi sahabat, bagaimanapun kita, seburuk apapun kita, sahabat akan slalu mencintai kita,

    so, tetap semangat nulisnya kak, ceritanya keren, di tunggu postingan selanjutnya, ^_^

    ReplyDelete
  3. aahhh, gue santet juga ni gilang. gue sbg cwok, nyesek baca ini. keren.

    ReplyDelete
  4. Beneran ada cowo kayak Gilang? Cabutin kukunya satu-satu, yuk. -_-

    ReplyDelete
  5. mana orangnya sini mana ? mana yang namanya disebut sebut itu ? mana yang namanya gilang ? Mana ?? mana ??!!!! *cumannanyadoangsih -_-

    ReplyDelete
  6. Kalau ada cowok kaya gitu beneran di dunia ini, jitakin aja, Zhie. Parah banget udah nyakitin masih berani balik lagi. Cowok macam apa itu. Hehe. Maaf. Emosi

    Semoga bisa menjaga apa yang seharusnya kita jaga ya^^

    ReplyDelete
  7. huahahahahaha.... keren ni gilang bisa membolak-balikan logikanya sasya.... andai saya jadi gilang :D .


    cewek itu gitu ya ? suka lulu kalau di kasih perhatian lebih.... sasya pun lulu padahal cuman diantar pulang tiap hari :D

    itu emang gak ada alasan sama sekali ya gilang langsung menjauhi sasya.... atau ada kelanjutannya yang njelasin alasannya ? . soalnya aneh kalau ndak ada alasan apapun :D .

    ReplyDelete
  8. yaah.... kok berasa jadi nnton ftv ya, ka zi?

    gue kadang, gemes juga sih sama orang yg lebih rela mengorbankan pertemanannya demi seseorang yg baru hadir dalam kehidupannya. ujung''nya lebih milih org baru itu, ketimbang temen lamanya. dan beruntung dua temennya sasya itu balik lagi. bahagia banget dah.

    trkadang cwe kyak gtu sih ya. langsung asal menafsirkan doang. klo gue malah mikir, knpa si gilang dketin gue? kan gue cwo. eeh salah yak.
    pokoknya klo kya gtu harus d teleiti sih klo gue pribadi. plingan yaah, skedar buat peliarian doang makanya ngedeketin sasya.

    bgus deh klo si sasyanya sadar, trus ttep ngejauhin si gilang. tapi gue baca chat kyak gtu geli juga yak. udah punya bini, sempet''nya nulis kyak gtu buat cwe laen. tabok aje, sasyaa... tabokk!!!

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa menginspirasi.