Maaf, Saya Salah

By Siska Dwyta - 09:32

Seseorang marah. Tidak sekedar marah mungkin juga benci. Parahnya saya baru menyadari itu ketika membaca status yang ia pasang siang tadi di BBM. Intinya saya disinggung dan tentu saya merasa. Lalu apa yang saya perbuat, bukannya segera meminta maaf, sampai detik saya menulis catatan ini saya masih terdiam.

Saya akui saya salah. Tapi, diam pun bukan berarti saya baik-baik saja, seolah tidak ada yang terjadi sementara di sana ada yang merasa tersakiti karena kekhilafan saya. Kenyataannya saya memang tidak merasa baik. Kemarahan orang itu justru menambah beban pikiran dan membuat
gelisah. Iya, hidup saya tidak tenang setiap kali ada orang yang sengaja atau tanpa sengaja telah saya lukai hatinya. Meskipun maksud saya tidak demikian tapi siapalah yang tahu seberapa sensitifnya hati seseorang.

MAAF. Kata itu, saya tetiba memikirkannya dan mencoba memahaminya lebih dari seperti yang sudah-sudah saya lontarkan. Saya sering sekali mengucap kata MAAF dengan mudahnya pada siapa saja, salah ataupun tak salah, saya tetap meminta maaf. Dan hari ini, mengapa satu kata itu terasa begitu berat saya lafalkan? Padahal jelas-jelas saya sendiri mengaku salah. Apa susahnya, saya tinggal merangkai kata-kata Maaf nan puitis yang menyentuh, menyelipkan sebersit penyesalan dan pengakuan atas kesalahan saya di sana lalu mengirimnya via sms atau BBM. Tinggal menunggu balasan. Urusan mau dibalas atau direspon, terserah dia. Masalah dimaafkan dan tidak dimaafkan juga terserah dia. Yang penting saya sudah minta maaf. Cukup.

Segampang itu kah? Dan lagi masalahnya apakah hatinya yang terluka akan segera sembuh hanya
dengan satu kata Maaf? Tidak. Saya pikir Maaf dan memaafkan adalah dua perkara yang sama-sama susahnya. Minta maaf susah, memaafkan pun demikian. Tidak segampang membalikkan telapak tangan. Okelah, kalau kesalahan kecil yang tidak sampai membuat orang "makan hati", mungkin sekali maaf, beres.

Tapi bagaimana caranya memaafkan orang yang terlanjur menyakiti? Saya belum mencoba dan saya keburu tidak berani meminta maaf. Saya katakan meminta maaf kali ini berat, selain karena kekhilafan, tidak ada alasan kenapa? Karena itu saya tak kunjung mengirim ucapan maaf. Bingung jika harus mencari alasan seperti apa? Demi sebuah penerimaan maaf, apakah saya harus mencari alasan yang mengada-ngada dan itu artinya saya akan berbohong?

Kejujuran tentu jauh, jauh lebih baik sekalipun itu menyakitkan. Tapi, saya orang yang kelewat peka. Terkadang lebih memikirkan perasaan orang lain ketimbang perasaan sendiri. Bahkan minta tolong sama orang yang biasa minta tolong berkali-kali sama saya tanpa sungkan pun saya musti berpikir berkali-kali. Saya selalu sungkan dan malu-malu, tidak enak minta tolong sama orang kalau bukan dalam keadaan sangat mendesak.

Seseorang itu untuk kesekian kali dia minta tolong dan untuk kesekian kali pula saya tidak enak bila menolak menolong. Perasaan seperti ini, saya tidak tahu apa cuma saya yang merasakan atau umumnya orang-orang akan merasakan hal serupa. Tidak enak bila menolak karena itu saya hampir selalu mengiyakan. Baru akhir-akhir ini saya menolak dengan alasan yang memang saya berada dalam kondisi tidak bisa menolong. Ironinya, saya merasa sangat tidak enak bila terus-terus menolak sementara ia terus-terus minta tolong.

Maaf saya tidak bermaksud mengungkit hal ini dan mencari pembenaran. Yah, tetap saya salah. Kalau tidak bisa menolong harusnya jujur. Bukan sengaja cuek (tidak segera merespon) akhirnya jadi lupa beneran membalas pesan yang sudah dilayangkan tiga kali ke saya. Suer, saya benar-benar khilaf.

Kamu, sesiapapun itu terima kasih sudah menyinggungku hari ini. Jadi teguran keras untuk saya, jangan terlalu pikir perasaan orang lain, kalau tidak bisa bilang saja tidak bisa, jangan didiemin dengan alasan tidak enak. Ujung-ujungnya akan ada yang illfeel. Lebih baik illfeel di awal kan daripada di akhir. Dan satu yang penting, Jangan pelit membalas sms. Jangan lagi. Jangan pernah lagi.

Baiklah, setelah menulis catatan ini, insya Allah saya akan memberanikan diri minta maaf dengan seseorang itu, semoga dimaafkan. Aaminn:)

Ps. Saya memang bukan orang penting dan tidak pernah mengaku diri penting. Saya (mungkin) hanya orang yang baru dianggap penting bila dibutuhkan saja.


posted from Bloggeroid

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa menginspirasi.