Untukmu, Lelaki Terhebatku

By Siska Dwyta - 07:43

Untukmu,
Lelaki Terhebatku

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Bukan hal mudah ketika jemariku mulai merangkai untaian aksara tentangmu. Ada kenangan yang telah lama mengendap kupaksa mengalir. Menghadirkan kau dalam surat ini sama halnya memanggil rindu yang selama ini terlalu pandai kusembunyikan seorang diri. Bersikap seolah aku baik-baik saja, padahal tidak. Aku selalu dihantam gemuruh cemburu ketika melihat teman-temanku leluasa pulang kampung setiap liburan datang sementara aku tetap tinggal di kos. Mereka yang hanya sebentar saja menahan rindu, tidak pernah berbulan-bulan, tapi aku? untuk bertemu denganmu saja aku harus bersabar bertahun-tahun.

Jarak kita terlalu jauh papa. Bukan hanya terbentang ratusan kilo meter. Dari tanah Papua ke tanah Daeng, ada ratusan pulau yang berjejer. Sejauh itu, bagaimana bisa kita saling menjangkau dengan mudahnya? Aku jadi tak bisa pulang sesering teman-temanku yang cukup dengan menempuh lima atau enam jam naik kendaraan darat untuk sampai kerumah mereka. Apalagi kau juga tak pernah memintaku untuk pulang. Ah ya, anakmu ini sangat mengerti, ongkos kendaraan pulang-pergiku pasti akan menghabiskan banyak biaya. Mending uangnya ditabung saja untuk biaya kuliahku, ia kan, Pa? Karena itu aku juga enggan merengek minta pulang meski rinduku kian hari kian membuncah.
Apa papa tahu sudah berapa banyak rindu yang putrimu tumpuk sendiri? Jangan minta aku menghitungnya, sebab aku pun tak tahu bagaimana cara menghitung rindu. Yang aku tahu, rasa-rasanya serupa balon tiup yang hendak meletus. Sedikit lagi dan aku semakin pandai menahannya kuat-kuat. Papa tidak pernah tahu kan kalau putri papa yang satu ini terlalu lihai menyembunyikan perasaan?

Dulu aku tak pernah merasa serindu ini pada papa. Jauh dari papa aku anggap biasa. Tidak ada kesedihan, tidak pula air mata. Papa sakit pun reaksiku tidak sekhawatir ketika istrimu yang terbaring lemah. Dulu bagiku, istrimu adalah segala-galanya. Aku tidak bisa jauh darinya dan aku pikir aku akan mati tanpanya. Aku pernah mencintai istrimu dengan cinta yang teramat besar lantas hanya menyisakan secuil saja cinta untukmu.

Rasanya tidak adil yah, Pa? Hanya karena aku menghabiskan lebih banyak waktu bersama istrimu, aku jadi lebih mementingkan mama ketimbang papa. Maafkan putrimu, Pa. Maafkan aku yang telat menyadari bahwa seharusnya aku memberi rasa dengan porsi yang sama untuk kalian. Tapi semoga ini belum terlambat. Semoga lewat surat ini, papa tahu bahwa kini tak ada lagi bedanya rasaku. Aku mencintai kalian sama besarnya. Tidak ada lagi yang lebih penting sebab kalian sama-sama penting (berarti) dalam hidupku.

Apa papa masih ingat, kejadian beberapa tahun silam, ketika papa mengidap penyakit aneh. Entah apa? Dokter juga tidak bisa mendeteksi penyakit papa. Saat itu aku mendapati papa yang kukenal "cerewet" menjadi sangat pendiam. Kau jarang bicara. Wajahmu tetiba berubah murung. Tidak kujumpai lagi papaku yang periang dan selalu bersemangat. Ah, papa apa kiranya yang kau pikirkan saat itu? Kenapa tubuhmu yang kuat mendadak lemah? Penyakit itu seakan menggerogoti harapan hidupmu. Saat itu juga aku merasa seperti kehilangan papa. Aku takut. Aku takut sekali. Baru kali itu untuk pertama kalinya aku sangat mengkhawatirkanmu, Pa.

Dan hal yang paling menyakitkan adalah ketika putrimu ini terpaksa memboncengmu pergi berobat, sebab kau sudah tidak kuat lagi memboncengku. Duh, papa betapa sedihnya hatiku kala itu. Mataku sampai berkaca-kaca, menyaksikan tubuhmu yang melemah, untuk bawa motor saja kau sudah tak sanggup.

Andai kau punya anak laki-laki, kau tentu tidak akan membiarkan putrimu ini yang membonceng. Kenangan masa kecil, mendadak terputar kembali dalam ingatan. Aku bisa membayangkan betapa hebatnya kau, satu-satunya lelaki yang ada dalam rumah kita dengan istri dan keempat putrimu.

Papa, kau lah satu-satunya lelaki yang bersedia menjadi "ojek" kelima perempuanmu kemana pun dengan senang hati, tanpa bayaran dan tanpa keluhan. Kau yang selalu mengantar kami, putri-putrimu ke sekolah di pagi-pagi buta, lalu siangnya membonceng kami pergi mengaji. Keempat putrimu sangat suka jalan-jalan hingga kau langganan pula mengajak kami keliling kota dengan motor buntutmu hampir tiap sore. Setiap di antara kami jatuh sakit pun, kaulah yang selalu menemani pergi ke dokter.

Duhai papa, sungguh tak pernah terpikirkan olehku, suatu hari nanti aku yang akan memboncengmu? Kala itu aku merasa duniaku terbalik, Pa? Aku mulai menyadari bahwa kau tak selamanya kuat dan kau tak selamanya hidup? Akan tiba saatnya semua tak lagi sama seperti dulu. Kelak, aku yang akan mengurus segala keperluanmu, aku yang akan menjagamu dan aku yang akan merawatmu.

Aku kemudian menyadari, curahan kasih sayang yang kau berikan memang tak sama dengan perlakuan mama pada kami. Kalian punya cara berbeda menunjukkan rasa itu pada putri-putri kalian, tapi aku sangat yakin rasa kalian pun sama besarnya. Tidak seharusnya aku melebihkan satu di antara kalian.

Pa, melalui surat ini, akhirnya kuberanikan mengungkap rasa. Kata-kata ini pun sebenarnya tiada sebanding dengan rasa yang tertaut di hatiku. Ketahuilah, Pa. Putrimu sangat mencintaimu. Sangat-sangat mencintaimu. Kaulah lelaki pertama dalam hidupku. Lelaki yang tiada tergantikan sekalipun nanti akan ada lelaki lain yang memintaku darimu. Selamanya, kau akan menjadi lelaki terhebat dan aku begitu bangga memiliki papa sepertimu.

Papa baik-baik di sana ya, jaga kesehatan. Tunggu aku pulang. Aku akan segera pulang. Tidak lama lagi. Mohon restumu, semoga putrimu berhasil di kota Perantauan ini. Biar aku bisa pulang dan mempersembahkan bintang untukmu, juga untuk istrimu.

Salam Rindu penuh Cinta
Putri keduamu.
Makassar, 15 Juni 2014

posted from Bloggeroid

  • Share:

You Might Also Like

1 comments

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa menginspirasi.