Jangan Menyerah, Cha :)

By Siska Dwyta - 10:05

Ada bongkahan rasa yang tiba-tiba menyeruak. Hendak menjelma menjadi butiran-butiran es batu yang sebentar lagi mencair, kalau saja tidak kuat-kuat ditahan bisa saya pastikan cairan itu meleleh dan menggenang di mata.

Perlahan kakiku melangkah keluar dari ruangan seorang bapak paruh baya yang baru saja mengacuhkanku. Tanganku bergetar membawa setumpuk kertas yang saya pegang erat. Saat itu yang ada dalam pikiran saya hanya toilet. Yah, saya harus menemukan ruangan yang bisa ditempati melempiaskan cairan yang semakin mendesak keluar. Langkahku gegas menuju toilet yang berada tepat di samping tangga lantai dua tak jauh dari jurusan.
"Aissshhh toiletnya terkunci" desahku lalu buru-buru menuruni anak tangga dengan pandangan menunduk. Mataku sudah berkabut. Sebentar lagi rinai akan segera turun membasahi wajah ini dan tentu saya tak mau membuat orang-orang keheranan memandang. Seiring langkah menuruni anak tangga, perasaanku kian berkecamuk. Sikap si bapak yang baru saya temui tadi terus terngiang dan itu semakin membuat hati saya tertohok. Perih.

Tepat di lantai dasar. Setetes cairan berhasil lolos menembus mata namun refleks saya seka, semakin cepat pula saya melangkah. Kini, tujuan saya adalah toilet masjid yang berada sekitar 100 meter dari fakultas tarbiyah.

Ya Allah perasaanku tak terbendung lagi. Saya sungguh tak kuat. Jeritku dalam hati sambil menggigit bibir bawah.

Aih... sama saja. Toiletnya juga terkunci. Dengusku kesal. Terpaksa lekas saya menuju parkiran motor yang berada di samping fakultas. Mengambil helm, menurunkan kacanya hingga wajah saya tertutupi.

Cairan yang sedari tadi saya tahan akhirnya berhamburan sudah. Saya terisak sembari perlahan memasukkan tumpukan kertas yang masih tergenggam di tangan ke dalam ransel pinkku (seharusnya saya membuangnya saja), lalu meraih kunci motor yang terselip di sana.

Menit berikutnya saya melaju membelah jalan bersama my blue beep. Pulang dengan derai yang bertambah-tambah. (150714)

###

Huh Dasar, Cha cengeng. Gitu aja kok sampai bercucuran air matanya.

Ihiks... ia.. ia saya emang cengeng. Saya gak biasa dikasari. Sebenarnya gak dikasari sih, cuma caranya bapak itu lho. Saya baik-baik menghadap, menyerahkan berkas di hadapan beliau lalu menanyakan rumus yang saya gunakan kira-kira udah benar atau belum.

Beliau bahkan belum melihat berkas tersebut eh langsung menolak memeriksanya. Dan tahu gak, yang paling nyesek itu saat beliau bilang kayak gini "Barusan saya ketemu mahasiswa yang malas kayak kamu"

What? Saya dibilangin malas. Iya, saya memang malas. Dan karena kemalasan itu, empat kali mengahadap, empat kali pula berkas saya gak diterima, hanya gegara saya disuruh mencari rumus yang gak jelas dan selalu kembali tanpa hasil.

Gimana mau ada hasil coba? Wong si bapak nyuruh saya cari rumus yang katanya dulu pernah beliau tulis di buku catatannya semasa kuliah, tapi beliau juga gak tahu rumus itu sumbernya dari mana, dan lagi buku catatan beliau itu sudah gak ada alias hilang.

Lha trus saya musti cari kemana? dunia maya saya jelajahi, dunia nyata saya jejaki. Pagi, siang, malam, tak henti-henti saya bertanya pada eyang google, berharap eyang bisa ngasih sebuah jawaban. Nyatanya eyang pun gak mampu menjawab pertanyaanku. Saya juga udah bolak balik cari di bukunya Arif Tiro, Prof Sugiono, Iqbal hasan, de el el, tetap gak ketemu.

Uhfttt. Mau cari ke mana lagi?

Kalau saja saya benar-benar malas, dijamin berkas yang jadi penentu keberhasilanku di akhir masa kuliah itu ogah saya sentuh. Kalau saja saya gak ingat mama, papa dan perjuanganku selama kurang lebih tiga tahun ini, berkas tersebut bakal saya telantarin atau saya buang saja ke tong sampah. Kalau saja... ah... kalau saja.

Dan apalah yang bisa saya perbuat? Saya cuma seorang mahasiswi yang pandai menumpahkan unek-unek di kamar keabadian ini, saya cuma pintar berkoar-koar lewat rangkaian huruf. Entah, harus bagaimana menjelaskan pada si bapak yang statusnya masih menjadi pembimbingku itu. Bukankah tugas pembimbing seharusnya membimbing (membantu untuk memudahkan proses akhir yang sedang dijalani mahasiswanya) bukan malah menyulitkan. Rasanya juga gak adil jika ada sebagian mahasiswa yang jenis penelitiannya persis dengan punya saya, analisis datanya juga menggunakan rumus yang sama tapi kenapa kami malah mendapatkan perlakuan berbeda. Mahasiswa tersebut diloloskan sementara saya tidak. Padahal kita sedang berada di ruang lingkup yang sama, ruang lingkup formal terkait penulisan karya tulis ilmiah. Dan setahu saya jika kita bicara tentang ke-ilmiah-an maka salah satu indikator mendasarnya adalah kekonsistenan. Saya diajarkan untuk konsisten, tapi kok yang mengajari saya tidak konsisten? Kenapa?

Jujur, saat setelah menghadap si bapak saya langsung down. Semangat saya ikut luntur. Saya jadi gak punya minat berurusan lagi dengan si bapak plus gak bergairah memeriksa kembali berkas yang untuk mengerjakannya saya sampai tahan mata bermalam-malam. Walau pada akhirnya, sesampai di kos saya tetap ngotot melanjutkan pencarian, bertanya pada eyang google tapi jawabannya masih selalu sama. Sama sekali tidak seperti yang saya harapkan.

Sekarang, saya cuma berusaha berpikir positif. Saya tahu yang ngalamin hal kayak gini bukan saya seorang. Teman-teman seangkatan, pun mahasiswa-mahasiswa yang sudah menjalani proses akhir ini pasti pernah merasakan suka dukanya berkutat dengan lembaran-lembaran tugas akhir mahasiswa. Walau, tentu saja mereka punya cerita masing-masing,

Dan inilah sebagian kecil dari duka yang sempat saya goreskan. Jika sebelumnya saya sempat menceritakan tentang proses awal, mulai dari diterima judul hingga bimbingan draft alhamdulillah perjalanan saya dimudahkan, tidak seperti teman-teman saya yang lain, yang awal-awalnya sering berhadapan dengan kerikil-kerikil tajam penghambat perjalanan mereka.

Nah, sekarang mungkin giliran saya yang dihadapkan dengan kerikil-kerikil itu. Saya ambil positifnya saja deh. Yah, saya anggap ini adalah ujian. Dan yang namanya ujian itu kudu dijalani dengan sabar. Isbir, Cha... Isbir.

Yang penting saya harus tetap berjuang, harus tahan banting, gak boleh nyerah. Kalau kata kak Ipung (seseorang yang sempat saya temani ngobrol semalam) JANGAN MENYERAH, APAPUN YANG TERJADI MAJU SAJA, PANTANG MUNDUR. KALAU DI PIKIRAN KITA SUDAH TERTANAM TIDAK AKAN MENYERAH, MAKA TIDAK AKAN ADA YANG BISA HALAU. BIAR DILEMPAR, DIROBEK, DICORET SAMPAI PENUH. TETAP:)

Iya, saya tidak akan menyerah. Tidak akan, sampai saya berhasil mengenakan toga, insya Allah dua bulan kedepan.

Saya percaya perjuangan ini bukan hanya menyoal tentang tekad dan usaha yang sudah saya lakukan, bukan juga sekedar tentang keberuntungan. Ada sesuatu di luar kemampuan saya yang tidak kuasa saya kontrol. Oleh karena itu, saya selalu butuhkan Allah. Allah permudahkanlah Allah lancarkanlah...Allah kuatkanlah... saya mohon.... semoga. Aamiin.

Lewat catatan ini sekaligus saya kembali menuliskan mimpi saya dalam waktu dekat ini Wisuda bulan September. Mimpi tersebut sementara saya gantung di langit-langit kamar, biar setiap malam ketika saya hendak terlelap, ia akan senantiasa kerlap kerlip memancarkan cahayanya, memberi isyarat seakan mengingatkan bahwa hari esok masih ada hal yang harus saya perjuangkan.

Terakhir, sekali lagi. JANGAN PERNAH MENYERAH, Cha :)

Makassar,
20 Ramadhan, di malam remang-remang

posted from Bloggeroid

  • Share:

You Might Also Like

7 comments

  1. Mahasiswa tingkat akhir sepertinya ngeri-ngeri sedap, ya? :D

    Jangan lupa tanamkan dalam hati sebuah 'keyakinan' kalau mbak bisa menakhlukkan rintangan yang ada. Semoga sukses. x))

    ReplyDelete
  2. Gimana cerita gue nanti ya? Yang semester 3, 4, 5 ini aja rasanya udah kejam banget. Hiks..

    ReplyDelete
  3. 'JANGAN MENYERAH, APAPUN YANG TERJADI MAJU SAJA, PANTANG MUNDUR. KALAU DI PIKIRAN KITA SUDAH TERTANAM TIDAK AKAN MENYERAH, MAKA TIDAK AKAN ADA YANG BISA HALAU. BIAR DILEMPAR, DIROBEK, DICORET SAMPAI PENUH. TETAP'. Quote nya kerren.. Gue pun kesurupan, eh.. Termotivasi :D

    ReplyDelete
  4. waahh postingan lama nih nampaknya, jadi september kemarin wisuda gak sih? *kepo*
    saya sudah melewatinya, yg jadi masalah malah bukan pembimbing saya, malah revisi dengan penguji yg agak ribet maah
    bapaknya juga aneh ya, rumus apa aja tidak tahu, bagaikan mencari orang tapi gak tau ciri2nya kan jleb bangetsss

    ReplyDelete
  5. Dosen itu selalu tanpa sadar sudah membuat mahasiswanya sakit hati, dosanya gede tuh hehehe

    Tapi emang nyesek sih kalau kita udah ngerjain sesuatu tapi malah di bilang pemalas, meskipun pada akhirnya tugas kita salah. Tapi apa salahnya sih untuk menghargai usahanya, bener gak? Huhuhu

    ReplyDelete
  6. ibarat kata si dosen ngasih pintu..tapi ga ngasih clue atau petunjuk gimana cara biar ketemu pintu itu..hedeh..egois ah si Bapak :) Alhamdulillah berarti sudah wisuda dong ya sekarang mah.. :) Selamat.

    ReplyDelete
  7. SEMANGAAAAATTTT, ZHIE! eh tapi tapi kamu tu cha apa zhie kok aku gamang manggil kamu ya..hehehehe...

    emang dunia perkuliahan tuh kadang biar seru harus dihiasi dengan keringat dan air mataaaa...biar pas udah dapet topi bertali itu rasanya luarrrr biasaaaaaa....:D tapi asekejam kejamnya dunia kuliah lebih kejam dunia kerja kok, jadi kamu harus setroooong!!

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa menginspirasi.