Mengenang dengan Hati : Gayatri Wailissa

By Siska Dwyta - 09:38



Gayatri Wailissa. Siapa yang tak mengenal nama salah satu putri Ambon yang beberapa hari terakhir ini heboh diberitakan di medsos? Jika pertanyaan tersebut ditujukan pada saya sepekan lalu atau pas hari kamis kemarin, pasti saya akan mengerutkan kening menyipitkan mata lalu bertanya, "Siapa dia?"



Ah, saya memang sama sekali tidak mengenalnya. Dia bukan artis seperti Ayu Ting-Ting yang sempat naik daun karena "alamat palsu"nya atau Cita Citata yang kini terkenal dengan "Sakitnya tuh Di sini" atau seperti Hodijah si dijahyellow yang mendadak jadi seleb Instagram dengan kepedeennya yang selangit. Toh, kabar meninggalnya Gayatri memang heboh tapi tak tak seheboh pemberitaan wartawan yang kemarin-kemarin selepas pelantikan presiden dan Wapres sibuk kesana kemari mencari tahu nama-nama calon menteri yang akan duduk pada kabinet Jokowi-JK periode 2014-2019 terlebih tidak se-spektakuler berita pernikahan Raffi & Nagita yang ditayangkan live dan ekslusif di beberapa stasiun TV Swasta beberapa waktu lalu.

Adapun berita tentang Gayatri hanya sekilas saya lihat muncul di layar kaca, selebihnya kebanyakan muncul di beranda facebook dan itu cukup menarik perhatian saya untuk mencari tahu lebih jauh tentang gadis yang konon katanya menguasai belasan bahasa asing.

Duh, kemana saja saya selama ini. Saya justru baru mengenal Gayatri ketika si pemilik nama cantik itu telah tiada. Baru tahu bahwa ternyata Indonesia memiliki putri terbaik yang berasal dari ujung Timur Indonesia. Seorang gadis yang di usia belianya telah mengusai belasan bahasa asing yakni bahasa Inggris, Italia, Spanyol, Belanda, Mandarin, Arab, Jerman, Prancis, Jepang, Hindi Nipali, Thailand, Rusia, dan Korea serta menyabet seabreg prestasi hebat, dua diantaranya sebagai duta anak mewakili Indonesia ke tingkat ASEAN dan mengikuti pertemuan anak di Thailand dalam Convention onthe Right of the Child (CRC), bahkan dalam forum ASEAN itu Gayatri sempat mendapat julukan 'doktor' karena kemampuan bahasa asing yang dikuasainya itu. Selain itu Gayatri juga berhasil meraih gelar "Kick Andi Young Hore 2014". Sungguh prestasi luar biasa yang belum tentu bisa diraih oleh gadis-gadis belia seusianya.

Payah. Kenapa saya bisa sampai sebuta ini? Seolah menutup mata dari pemberitaan media terkait perempuan-perempuan yang seharusnya lebih pantas populer ketimbang mempopulerkan perempuan yang hanya pandai menjual suaranya dan lincah memamerkan lekuk tubuhnya di atas panggung sambil berlenggak-lenggok dengan busana "setengah jadi".

Gayatri, si mutiara dari Timur. Julukan yang sangat tepat. Saya memang baru mengenal (nama)nya dua hari lalu, dan seketika itu pula saya sangat tertarik ingin mengenal sosoknya lebih jauh. Untuk lebih mengenali gadis multitalentaitu tentu bukanlah hal yang rumit sebab saya cukup mengaktifkan radar lalu berubah menjadi si tukang kepo. Melacak "All About Gayatri" di medsos, berkujung di FB Gayatri Putri Agustus dan tak lupa mampir ke twitter @gayatriwishnu serta mengintip video saat Gayatri diwawancarai dalam acara Kick Andy di youtobe.

Alhamdulillah, berkat hasrat kekepoan saya yang terbilang tinggi, akhirnya saya bisa mengenal Gayatri tidak hanya sebatas nama walau perkenalan saya pun hanya sebatas apa yang saya temukan. Gadis kelahiran 31 agustus 1996 itu adalah anak tunggal dari bapak Deddy Darwis Wailissa dan Nurul Idawaty. Ia mulai mempelajari bahasa ketika berusia 10 tahun, berawal dari rasa penasaran yang kemudian mengantarnya sampai menjadi Gayatri seperti yang dikenal sekarang ini. Terlahir dari keluarga sederhana, ayahnya hanya seorang perajin kaligrafi sementara ibunya adalah ibu rumah tangga biasa sama sekali tak menghalangi Gayatri menggantungkan mimpinya setinggi mungkin. Tak hanya memiliki kemampuan linguistik yang boleh dibilang "sempurna", Gayatri juga menguasai berbagai kesenian, seperti teater, drama, dan baca puisi. Gadis manis itu pun lihai bermain biola dan menulis. Menjadi diplomat termuda RI adalah salah satu mimpi Gayatri. Sebuah mimpi yang bukan lagi mustahil ia wujudkan sebab sebelum lulus SMA pun tawaran dari dalam dan luar negeri sudah membanjirinya, tiket beasiswa melanjutkan pendidikan pun sudah ia kantongi namun sayang selamanya manusia hanya bisa merencanakan, Allah lah yang berhak menentukan nasib hamba-Nya. Mimpi itu menuai akhir ketika takdir Allah berkata lain.

Berita duka merebak ketika Gayatri yang sedang berada di Jakarta mengurus proses masuk perkuliahannya di jurusan Hubungan Internasional Universitas Indonesia tiba-tiba dikabarkan mengalami pendarahan otak dan dinyatakan meninggal pada Kamis (23/10/2014) sekitar pukul 19.15 WIB, di Rumah Sakit Abdi Waluyo di kawasan Menteng, Jakarta Pusat setelah sempat dirawat selama empat hari di rumah sakit tersebut.

Siapa yang menyangka? Semua terjadi begitu cepat. Percayalah, bahwa kematian begitu dekat. Tidak mengenal umur, kapanpun dan dimanapun. Bahkan mungkin dengan cara yang tak disangka-sangka. Sehebat apapun seseorang itu atau semuda apapun ia, bila tiba ajalnya maka siapalah yang kuasa mengelak. Mimpi tinggal mimpi. Semua akan berakhir ketika nyawa terpisah dengan raganya. Tidak ada yang tertinggal kecuali satu; kenangan.

Jika gajah mati meninggalkan belang, maka manusia mati meninggalkan nama. Iya, hanya nama yang kan tetap dikenang oleh orang-orang yang ditinggalkan, meski seiring waktu berlalu boleh jadi nama itu pun menjadi sesuatu yang tak lagi dikenang, waktu telah meninggalkannya jauh sehingga perlahan orang-orang pun akan melupakan. Tapi saya percaya, bahwa sosok gadis luar biasa seperti Gayatri senantiasa hidup di hati orang-orang yang mencintainya, menyayanginya dan mengaguminya.

Iya, saya akui, saat menuliskan postingan ini saya memang baru tiga hari mengenalnya namun bisa saya katakan dengan lantang bahwa saya sangat mengagumi seorang Gayatri, dan cukup dengan mengenalnya saya bisa jujur mengatakan ini, bahwa saya tidak sekedar kagum tapi juga menyayangi perempuan hebat seperti dirinya.

Sosok Gayatri dengan kesederhanaanya itu telah menyadarkan saya akan satu hal. Sebagai gadis yang juga terlahir dari keluarga sederhana di salah satu daerah di ujung Timur Indonesia, saya tidak pernah sampai memiliki keberanian bermimpi tinggi-tinggi seperti Gayatri. Ketika masih seusianya, saya malah menyekat pikiran saya sendiri, beranggapan bahwa anak yang tinggal di Timur seperti saya tidak akan mampu bersaing dengan anak-anak yang tinggal di ibu kota atau kota-kota besar, apatahlagi mengalahkan mereka yang notabenenya berasal dari keluarga mapan.

Tapi Gayatri tidak, Gadis dara Ambon dari keluarga sederhana itu telah membuktikan bahwa anggapan saya dulu teramat keliru. Ia menyadari potensi yang Tuhan anugerahkan pada dirinya dan tidak menyia-nyiakan itu. Bagi Gayatri semua tempat ia jadikan untuk belajar, dan semua orang ia jadikan sebagai guru. Menariknya, belasan bahasa yang telah dikuasainya selama ini ternyata bukan ia dapatkan dari sekolah formal, ia justru menguasainya secara otodidak. Ya, Gayatri telah membuktikan bahwa untuk mempelajari bahasa yang dibutuhkan bukan cuma bakat melainkan keahlian. Dan tentu saja keahlian itu diperolehnya dengan usaha yang keras, tidak semata-mata duduk berpangku tangan.

"Saya tidak punya biaya. Keluarga saya sederhana. Saya hanya suka nonton film kartun dan dengar lagu bahasa asing. Rasa penasaran saya akan bahasa membuat saya mencari tahu arti dan bagaimana mengucapkannya. Dari buku, saya pelajari tata bahasanya. Dari film dan lagu, saya pelajari pengucapannya, dan dari kamus, saya hafalin kosakatanya. Begitulah cara saya
mempelajari bahasa asing"
Demikian pernyataan hebat dari seorang Gayatri. Ah, bagaimana saya tidak terkagum-kagum dibuatnya. Dan masih banyak lagi pernyataan-pernyataan cerdas dari Gayatri yang membuat saya semakin takjub.

Usia Gayatri boleh empat tahun lebih muda dari saya tapi jangan salah bila harus saya akui pemikirannya jauh.. jauh lebih dewasa. Bahkan saya pun tak akan sungkan menjadikan ia sebagai guru walau ini cukup terlambat, sebab saya baru mengenalinya ketika ia telah pergi jauh meninggalkan dunia.

Gayatri mengapa secepat ini? Tentu Tuhan punya rencana yang lebih baik untuk gadis yang sukses menguasai belasan bahasa itu. Setidaknya, sebelum Tuhan menanggilnya, mimpi-mimpi Gayatri telah bercahaya dan bersinar indah. Setidaknya ia telah meraih sebagian dari mimpi itu sebelum masa hidup yang diberikan Tuhan padanya habis. Setidaknya, Kini bukan hanya orang Ambon yang mengenalnya, bukan hanya orang Indonesia yang mengenalnya tapi dunia. Dunia telah mengenal seorang Gayatri sebagai salah satu putri terbaik yang pernah dimiliki negeri ini. Pun dengan saya yang mengenal Gayatri sebagai perempuan yang tidak hanya cerdas tapi tangguh.

Mengenali gadis poliglot nan jenius itu walau hanya lewat maya telah membuka cakrawala berpikir saya yang selama ini seakan masih terkungkung. Saya dapat memetik banyak pelajaran dari perjalanan hidupnya yang singkat, dari rentetan kata-kata motivasi yang tersebar di timelinenya maupun kata-kata inspirasi yang sempat terucap saat ia diwawancarai.

Begitupula dengan kisah Gayatri yang memendam kekecewaan, dimana hal itu tergambar jelas dari pernyataan yang sengaja saya kutip dari sini.

"Secara nasional, orang mengenal saya sebagai Duta ASEAN untuk anak asal Maluku, dan saya bangga karena saya terlahir sebagai putri Maluku. Tapi, di tempat kelahiran sendiri, saya tidak dihargai. Semua upaya saya untuk mengharumkan nama Maluku sama sekali tidak berarti. Saya terus bertanya mengapa
saya diperlakukan seperti ini?"

"Ketika pemilihan Putri Indonesia, begitu banyak
baliho dan pengumuman yang dipasang di seantero Kota Ambon" lanjutnya. Namun, kekecewaan Gayatri menjadi semakin dalam ketika kepulangannya ke tanah kelahirannya dari Bangkok di Bandara Pattimura kala itu hanya dijemput oleh ayah dan ibunya. Tidak juga terlihat ada baliho di jalan-jalan.

"Mungkin menjadi Duta ASEAN untuk anak ini bukan sesuatu yang penting barangkali bagi pemerintah kita,"

Sangat disayangkan anak secerdas Gayatri yang telah membawa nama harum Indonesia itu ternyata sama sekali tidak mendapat perhatian khusus pemerintah daerah dimana ia tinggal. Bahkan Gayatri dan ibunya sempat menghadap gubernur setempat untuk meminta percepatan ujian dini namun ditolak, termasuk permintaan beasiswa yang juga tidak direspon baik. Si gubernur malah menyarankan Gayatri mencarinya di internet.

Lalu apa reaksi Gayatri? Jika mengalami hal serupa saya pasti akan merasakan kekecewaan yang sama, tapi mungkin reaksi saya tak kan sama. Gayatri yang memendam kekecewaan atas penolakan gubernur maupun pemerintah yang cuek akan prestasinya membesarkan nama Maluku itu tetap menunjukkan sikap optimis dan positif. Didukung maupun tanpa dukungan dari pemerintah pun tidak akan menghalangi tekadnya meraih mimpi yang selama ini ia idam-idamkan.

"Life must go on , hidup harus terus berjalan Saya sadari mungkin pemerintah kita punya banyak kesibukan selain memberi perhatian kepada anak-anak seperti saya. Saya tidak akan patah semangat karena hidup saya masih panjang ke depan"

Yah, semangat si gadis berdarah Maluku-Jawa itu tak kalah luar biasanya, namun sayang perjalanannya di dunia tak sepanjang yang ia bayangkan. Semangat itu akhirnya harus padam sebab hidupnya pun telah berhenti. Allah tentu lebih sayang pada Gayatri, oleh karena itu Dia memanggilnya begitu cepat.

###

Selamat tinggal Gayatri Weilissa
Namamu sengaja saya abadikan di kamar keabadian ini sebab saya begitu mengagumimu dan berharap melahirkan generasi yang kelak bisa mengikuti jejakmu setelah membaca tulisan ini.

Doaku, semoga kau tenang di peristirahatan terakhirmu. Semoga damai di sisi-Nya, dan semoga nanti bila saatnya tiba kita dipertemukan di surga-Nya. (aamiin)

@SDW

Sumber :

http://regional.kompas.com/read/2014/10/24/10285481/Gayatri.dan.Mimpinya.Menjadi.Diplomat.Termuda.di.Indonesia.1.

http://regional.kompas.com/read/2014/10/24/10480081/Gayatri.Doktor.Bahasa.Belia.yang.Memendam.Kekecewaan.2.

  • Share:

You Might Also Like

10 comments

  1. Iya. Saya sudah tahu beritanya lama, Zhie. Memang dia luar biasa. Meski kecerdasannya harus dibayar mahal dengan pendarahan otak dan meninggal di usia dini. Intinya, jangan pernah malu menjadi siapa kamu. Berjuang terus membuktikan bahwa kamu bisa menjadi pribadi yang bermanfaat. Tak apa orang tak melihat, masih ada Allah yang akan selalu melihat dan menuntunmu di jalan kebaikan:')

    ReplyDelete
  2. Sedih juga melihat toko sekeren itu justru kematian yang menghentikan langkahnya. Semoga diterima disisi Tuhan. Aminn

    ReplyDelete
  3. Aku juga kaget denger berita Gayatri yang sudah tiada. Padahal dia masih muda, dan berbakat. Menguasai banyak bahasa. Sangat mengagumkan. Tapi Tuhan berkata lain. Mungkin raganya sudah tiada, tapi Gayatri msih tetap ada di hati kita.

    ReplyDelete
  4. aku taunya pas pemberitaan ketika dia meninggal dunia. selama ini bahkan tidak tau menau siapa Gayatri. bagaimana gemilangnya prestasinya. padahal benar. selayaknya yang harus menjadi pusat pemberitaan tak melulu artis yang naik daun atau naik apapunlah. anak-anak bangsa yang berprestasi seperti dia luput dari pemberitaan. memang, ada yang tau dia siapa. tapi tak semua orang tau. tak seperti artis ganteng-ganteng srigala yang baru tayang aja udah terkenal. atau seperti putra putri presiden yang baru sekali nongol langsung banyak peminatnya. miris. bahkan pemerintah setempat saja tidak memandang prestasinya sebagai sesuatu yang membanggakan.

    dia layak untuk dikenang. dia layak untuk diabadikan. sebab memberi banyak pengajaran. walau dia sudah tiada. dia tetap pernah mengharumkan nama bangsa. :)

    ReplyDelete
  5. Telatkah gue baru mengetahui siapa Gayatri sekarang -_- salut sama prestasinya... semoga diterima disisiNYA, aminn

    ReplyDelete
  6. Dan aku baru tau detik ini, setelah baca tulisan kak Zhie.

    Wahhh keren banget kak ada yang bisa menguasai bahasa sebanyak itu, aku iri sama sosoknya kak :) aku juga pengen kayagitu huhuhuhhu

    Iya bener banget kak, tokokh yg kayak gini yg wajid diagung-agungkan bukan orang-orang yg menjual suara dengan lekuk lekuk tubuh yang seperti itu. Semoga ia ditempatkan ditempat yg layak disisinya dan semua amal perbuatannya diterima disisinya. Amin :)

    ReplyDelete
  7. ini nih, orang yang menginspirasi malah jarang diterbitkan. salahnya media tuh begini :(

    ReplyDelete
  8. Tuhan sangat sayang mungkin ke gayatri sehingga dipanggil dalam usia yg masih sangat muda. Semoga allmarhumah tenang disana. :")

    Aku juga baru baca ttg gayatri ini, luar biasa ya.. sangat disayangkan dia malah gak dihargai di tanah krlahirannya sendiri. Ckck semoga akan muncul lagi gayatri-gayatri lainnya yg akan mengharumkan nama bangsa. Dan semoga kisah gayatri bisa menginspirasi setiap ora g yg membacanya. :)

    ReplyDelete
  9. Iya, Gayatri memang hebat. Aku dulu kalo nggak salah pernah liat dia di acara Hitam Putih dan beberapa kali browsing di youtube setelah santer pemberitaan meninggalnya Gayatri...dia juga sempat tampil di Kick Andy. Dia memang keren banget. Sayang ya, umurnya pendek...semoga ke depannya banyak Mutiara dari Timur, Barat, Tengah dan dari mana mana di antero Indonesia yaaa..

    ReplyDelete
  10. Wah, iya sama zhie aku juga baru tau prestasinya saat dia sudah tiada :(

    baru tau kalau dia ternyata kurang diperhatikan pemerintah. padahal kalau dimanfaatin nantinya bisa punya kontribusi buat Indonesia loh kedepannya. misalnya aja bisa jadi mentri..

    eh iya aku kemaren sempat bingung siapa itu siska dwita, sekalinya itu zhie ya? hahaha

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa menginspirasi.