Jilbab : Tentang Kewajiban bukan Pilihan

By Siska Dwyta - 04:42

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Mengenakan hijab bagi muslimah bukanlah suatu pilihan melainkan kewajiban. Iya nggak? Iya dong. Dalilnya jelas kok. Coba buka lagi Al-Qur'annya. Cari surah Al-Ahzab ayat 59 dan surah An-Nur ayat 31. Di situ perintahnya jelas banget kan?

Ulurkan jilbab ke seluruh tubuhmu. Julurkan kerudungmu hingga ke dada. Jangan tampakkan perhiasan (aurat) kepada yang bukan mahrammu kecuali yang biasa terlihat. Rasulullah shallallaahu 'alaihi wassalam ikut menerangkan bahwa seluruh tubuh wanita adalah aurat kecuali aurat yang biasa nampak, ini dan ini. Beliau lalu menunjukkan wajah dan telapak tangan.

Titah menutup aurat ini udah menjadi harga mati yang nggak bisa ditawar-tawar oleh muslimah. Suka nggak suka. Mau nggak mau. Terpaksa atau tidak. Namanya titah dari yang Maha Kuasa ya harus dijalankan. Apalagi perintah yang satu ini hukumnya WAJIB. Serupa dengan kewajiban melaksanakan shalat lima waktu atau berpuasa di bulan Ramadhan. Dikerjakan dapet pahala, ditinggalkan ya dapet dosa.

Pasti kalau ditanya pengen dapet pahala atau dosa, semua jawabnya pahala dong! Tapi giliran disuruh mengerjakan amalan yang berbuah pahala, beratnya minta ampun. Alasan ngelesnya macam-macam pula. Inilah, itulah, apalah. Padahal ini yang nyuruh Bos yang Maha Besar lho.

Coba renungkan kalau kita kerja sebagai staff di perusahaan atau pegawai di bawah intansi pemerintahan kemudian dapet perintah dari atasan untuk menyelesaikan sebuah tugas yang deadlinenya hari ini juga. Tentu, sebagai staff/pegawai kita wajib tunduk dan patuh dengan atasan kita. Perintah tersebut sekali pun berat dan susah, tetap pasti kita kerjakan, kan?

Kenapa? Karena memang demikianlah kewajiban yang dibebankan kepada kita sebagai staff/pegawai. Karena kita yang memilih bekerja di perusahaan atau di kantor pemerintahan tersebut otomatis apa pun aturan yang ada di dalamnya harus kita jalankan. Misalkan kita nggak patuh, malas-malasan atau sampai lancang melanggar peraturan yang ada, ya siap-siap kena sanksi. Entah sanksinya berupa teguran keras, pemotongan gaji atau fatalnya bisa sampai dipecat. Karena ogah kena sanksi kita berusaha untuk jadi staf/pegawai yang rajin dan disiplin. Bahkan saking patuhnya, tidak sedikit dari kita yang kadang disergap rasa takut bila melanggar perintah dari atasan yang notobene derajatnya sama dengan kita, sama-sama manusia.

Tanpa disadari, ternyata kita jauh lebih takut dengan atasan kita di kantor (dunia, red) ketimbang Atasan kita di dunia akhirat. Kita takut terlambat datang ke kantor tapi tak takut terlambat datang ke mesjid. Kita begitu cemas bila dalam satu hari terpaksa harus tidak masuk kantor karena urusan lain yang mendadak namun sungguh merasa biasa-biasa aja meninggalkan kewajiban shalat. Kita bersedia berbusana seragam sesuai dengan aturan di perusahaan/tempat kita bekerja namun bersungut-sungut dengan busana yang disyariatkan kepada kita, muslimah.

Aih, kenapa rasa takut dan ketaatan kita pada perintah manusia melebihi ketakutan dan ketaatan kita pada Dia yang Maha menguasai hidup manusia?

Padahal kita beragama Islam. Kita adalah muslim(ah). Kita sendiri yang memilih memeluk agama ini, lalu?

Coba deh buka lagi Al-Qur'annya. Cari, baca dan pahami surah Al-Baqarah ayat 256. Kira-kira apa makna yang bisa kita petik?

See! Allah ta'ala terang-terangan berfirman di ayat tersebut Tidak ada paksaan dalam memeluk agama (Islam). Ini lho Allah kasih petunjuk yang benar-benar nyata tertera dalam kitab suci Al-Qur'an. Silakan mau menempuh jalan yang mana. Jalan yang benar atau jalan yang sesat. Keduanya jelas perbedaannya. Selanjutnya ya terserah kita. Toh, kita udah baligh, udah dewasa, udah bisa menentukan pilihan hidup masing-masing.

Mulanya kita beragama sesuai dengan agama orang tua kita. Kita menganut agama Islam karena terlahir dari orang tua yang memeluk agama Islam. Mungkin kalau terlahir dari orang tua yang beragama lain kita pun bakal menganut agama selain Islam. Etapi, agama bukan warisan ya. Okelah, semasa kecil agama kita ikut agama orang tua, karena memang saat itu kita belum baligh, belum tahu banyak hal, belum bisa membedakan mana yang haq dan mana yang batil namun sebenarnya sejak masih dalam kandungan, sebelum terlahir ke dunia semua keturunan anak adam termasuk kita telah bersaksi (bertauhid) pada Tuhan.


"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengata-kan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”
QS Al-A'raf : 172

Menginjak aqil baligh, ketika diri menjelma dewasa, akal kita tentu udah mampu mencerna banyak hal. Kita udah bisa membaca petunjuk Ilahi (kalamullaah). Baik yang tersirat di alam mau pun tersurat di kitab suci. Kita pun udah sering membaca atau menyimak wahyu-wahyu Allah yang disabdakan oleh Rasul-Nya. Kita juga udah mampu membedakan dan memilah milih petunjuk mana yang hendak kita ikuti, mana yang tidak. Lalu keyakinan beragama itu serta merta merasuk dalam jiwa. Tidak lagi karena agama orang tua melainkan atas dasar pilihan kita sendiri. Entah kita memilih tetap bertahan dengan agama yang kita anut sejak lahir atau memilih berpindah ke agama lain, keputusan sepenuhnya ada di tangan kita.

Kita tidak pernah dipaksa dan dituntut memeluk agama Islam. Kita pun tidak boleh memaksa dan menuntut orang lain untuk memeluk agama yang kita yakini. Sungguh tidak ada paksaan dalam memeluk Islam. Mau menganut Islam atau tidak, terserah kita. Toh, kalau kita memilih memeluk agama lain, tak masalah, Allah dan Rasul-Nya juga nggak bakal rugi kok.

Namun satu hal yang perlu dicamkan. Ketika telah memasrahkan diri memeluk Islam, konsekuensinya kita yang wajib patuh dengan segala yang menjadi perintah Allah dan Rasul-Nya. Kita yang kudu mengikuti semua aturan yang berlaku dalam ajaran agama yang kita yakini ini. Suka tidak suka. Mau tidak mau. Tetap harus kita kerjakan sekali pun dalam keadaan terpaksa.

Sami'na wa Atho'na demikian jawaban sejatinya orang-orang mukmin ketika Allah dan Rasul-Nya memerintahkan sesuatu. Kami mendengar dan kami taat. Kami dengar kami patuhi. Kami dengar kami laksanakan. Bukan kami dengar kami abaikan. Kami dengar kami tak peduli. Kami dengar kami acuh.

Emang berani ya bersikap kayak gitu ke atasan kita di kantor. Atasan memberi perintah eh kitanya malah acuh, cuek bebek nggak peduli. Pasti nggak berani kan? Trus kenapa sama Allah kita berani banget bersikap demikian? Nggak takut ya sama adzab-Nya. Disuruh shalat, ogah-ogahan. Di suruh sedekah, pelit-pelitan. Disuruh ngaji, malas-malasan. Disuruh menutup aurat terutama bagi yang muslimah, segudang alasannya. Subhanallaah.

Ngomong-ngomong tentang perintah menutup aurat, saya jadi greget pengen ikut-ikutan mengemukankan sedikit pandangan saya terkait kabar yang sempat viral sejagad maya beberapa hari lalu mengenai seorang artis sekaligus presenter kondang yang memutuskan untuk melepas jilbab yang telah ia kenakan selama setahun ini. Kabar tersebut kontan mengundang kontroversi para netizen. Banyak yang menyayangkan, menyalahkan, menghakimi, bahkan sampai menghujat dan mencaci maki si artis dengan keputusannya melepas jilbab namun tidak sedikit pula yang ikut bersimpati, mendukung dan berpihak dengan keputusan tersebut meski diliputi rasa kecewa.

Kabar artis yang memutuskan lepas jilbab ini bukan baru pertama kali terjadi, sebelumnya udah ada beberapa artis yang nggak perlu saya sebut namanya lebih dulu mengambil tindakan demikian dan respon para netizen pun serupa. Wajar sih, artis kan publik figur, jadi semua tindak tanduknya di layar kaca mau pun di dunia kesehariannya bisa menjadi sorotan publik. Beda halnya dengan orang yang bukan dari kalangan artis. Mau lepas pasang jilbab pun tak masalah. Paling yang cemooh hanya segelintir orang di sekitarnya. Selebihnya bersikap apatis, masa bodoh.

Masih banyak kan muslimah yang kayak gitu, ke sekolah pake kerudung, pergi les kerudungnya ditanggal atau ke kampus rapi dengan jilbabnya, jalan-jalan ke mall auratnya dibiarkan nampak atau ke kantor dengan seragam berjilbab tapi di rumah jilbabnya dilepas gitu aja. Seolah-olah jilbab ini seperti permainan bongkar pasang yang biasa dimainkan oleh anak perempuan. Sebentar dipasang, sebentar dibongkar lagi. Sedikit-sedikit pasang, sedikit-sedikit bongkar. Pasang, bongkar, pasang, bongkar. Begitu seterusnya. Atau ibarat kulkas. Dibuka tutup, buka tutup seenaknya. Padahal jilbab termasuk syariat bukan sebuah permainan, yang dipakai dan dilepas semaunya atau kulkas yang bebas dibuka tutup sesuka hati. Allah dan Rasul-Nya yang memerintahkan, so sebagai seorang hamba yang mengaku beriman dan telah memilih Islam sebagai agama kita ya harus konsekuen dong. Kita telah memilih Islam sebagai agama kita, berarti kita yang harus tunduk, patuh, taat dengan perintah yang ada dalam Islam.



Jilbab itu bukan sebuah pilihan yang ditawarkan oleh Allah dan Rasul-Nya melainkan termasuk perintah yang hukumnya wajib dikenakan oleh muslimah. Oh ya ada sih muslimah yang dibolehkan lepas jilbab bahkan dikasih pilihan mau menanggalkan jilbab atau tetap berjilbab. Tapi pilihan tersebut dikhususkan hanya bagi muslimah yang telah berusia lanjut dan monopouse.

وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَاء اللَّاتِي لَا يَرْجُونَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَن يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ وَأَن يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَّهُنَّ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Artinya : “dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan bersifat iffah (menjaga kesucian) adalah lebih baik bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Bijaksana.”
QS An-Nuur : 60

Emang kita udah tua, udah nenek-nenek, udah monopouse jadi boleh lepas jilbab gitu. Nggak kan? Kalau kita memilih lepas jilbab atau lepas pasang jilbab atau sama sekali nggak mau pake jilbab artinya kita udah melanggar aturan yang telah disyariatkan dalam ajaran Islam. Kita nggak "sami'na wa atho'na" dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. Kita udah tahu hukum berjilbab bagi muslimah yang udah baligh dan belum monopouse adalah wajib. Kita tahu bahwa ganjaran bagi orang-orang yang meninggalkan kewajibannya adalah dosa trus kita masih enggan patuh dengan kewajiban tersebut. Yowes, dosanya tanggung sendiri.  

Kita nggak akan menanggung dosa orang lain, begitu pun sebaliknya orang lain nggak bakal menanggung dosa yang kita perbuat. Setiap orang pasti menanggung dosanya sendiri-sendiri trus kenapa banyak orang yang sewot dengan kehidupan yang tidak mereka jalani. Kita mau pake jilbab kek, tidak kek, hidup-hidupnya kita, kenapa lo yang risih, kenapa lo yang ikut campur dengan urusan yang bukan privacy lo?

Nah, tulisan saya kali ini sama sekali nggak ada unsur mau ikut campur apalagi sampai menjudge, menghakimi dan menghujat saudari saya sesama muslimah (siapa pun dia) yang memutuskan melepas jilbabnya. Saya cuma pengen ikut menyatakan pandangan. Berjilbab adalah bukti ketaatan kita kepada Allah dan Rasul-Nya. Sederhananya bila kita enggan mengenakannya apa pun alasannya, ketaatan kita yang dipertanyakan. Well, tidak ada kebenaran di luar sana yang mampu menyaingi bahkan melampaui kebenaran yang termaktub dalam kitab suci. 

Bahkan saya berani jamin tidak sedikit muslimah di negeri ini yang tahu bahwa menutup aurat hukumnya wajib. Namun barangkali masih sedikit yang paham ilmunya dan benar-benar memaknai hakikat berjilbab. Wallaahi, kalau mereka paham dan benar-benar memahami hakikat berjilbab, mereka tidak akan berani mempertontonkan auratnya di hadapan lelaki yang bukan mahramnya walau hanya sehelai rambut pun.

Alhamdulillaah, sejak jilbab merambah di dunia fashion, perkembangannya begitu pesat, pengaruhnya juga luar biasa. Banyak muslimah yang akhirnya tertarik dan berminat mengenakan jilbab. Muslimah berhijab bukan lagi menjadi pemandangan yang langka. Tidak seperti tiga belas tahun silam saat pertama kali menutup aurat, rasanya dengan jilbab yang saya kenakan, saya seperti dipandang sebagai makhluk asing, saking langkanya muslimah yang berjilbab pada masa itu. Sekarang, maa syaa Allah. Di jalan-jalan, di sekolahan, di kampus, di pasar, di rumah sakit, di kantoran, di pesta atau dimana saja pasti kita dapati muslimah-muslimah yang berjilbab dengan berbagai macam style.

Suatu kesyukuran karena di masa kini telah banyak muslimah yang berhijrah dengan menutup aurat walau kebanyakan masih menutup aurat dengan jilbab yang alakadarnya, belum sesuai syariat. Tak masalah. Berjilbab memang butuh proses. Nggak bisa langsung instan. Mulanya mungkin harus dipaksa dulu. 

Saya juga pertama kali hendak menutup aurat karena dipaksa kok bukan atas kemauan sendiri. Mama saya yang memaksa, ngotot banget anak perempuannya harus berjilbab. Beliau sampai memesan duluan seragam lengang panjang sekolah tanpa meminta persetujuan saya. Bisa dibayangkan gimana kesel dan sebelnya saat itu. Qadarullaah, sebelum benar-benar berhijrah mengenakan hijab saya sempat ikut pengkaderan IRM (sekarang telah berganti nama menjadi IPM, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, red) dan di sana untuk pertama kalinya saya dapet materi tentang jilbab. Sejak saat itulah saya mengetahui hukum berjilbab lalu perlahan namun pasti saya mulai memahami maksud mama yang menghendaki anak perempuannya berjilbab. Pada akhirnya saya menuruti kehendak mama untuk berjilbab bukan karena merasa terpaksa. Tapi karena Allah. Allah yang memerintahkan saya untuk berjilbab. Iya, karena saya muslimah sehingga saya wajib menutup aurat dengan jilbab.

Namun nyatanya, tahu ilmunya saja belum cukup. Kalau sebatas tahu, kemungkinan besar kita bakal asal-asalan mengenakan jilbab. Nah, kondisi demikian yang sempat saya alami di masa-masa awal berjilbab. Saat itu saya masih duduk di bangku SMP. Jilbab yang saya kenakan masih ketat. Celana jeans. Baju kaos ukuran pas-pasan dan kerudung mini di atas dada. No kaos kaki. Itu pun saya pake jilbabnya masih lepas pasang. 

Menginjak SMA saya cukup aktif bergabung di beberapa organisasi keagamaan, baik di IRM, ReMas mau pun RoHis. Keaktifan di organisasi keagamaan itu berhasil memengaruhi penampilan saya yang sebelumnya masih asal-asalan berhijab akhirnya bersungguh-sungguh. Jilbab kemudian menjadi teman setia kemana pun saya pergi. Perlahan saya mulai mengganti jilbab yang ketat dengan yang longgar. Kerudung saya panjangkan hingga ke dada. Celana jeans saya pensiunkan lalu menggantinya dengan rok. Kaki pun mulai saya tutupi dengan kaos kaki.

Lantas apakah dengan penampilan saya dengan jilbab (yang istilah jaman sekarang) syar'i akhlak saya udah baik dan sempurna?

Jawabannya tidak. Yang ada, akhlak saya tetap tak karuan. Malah kian menjadi-jadi. Saya pernah merasa diri saya begitu buruk. Saya pernah menganggap jilbab yang saya kenakan adalah beban yang tak sanggup untuk saya pikul. Menyadari akhlak saya yang jauh berbanding terbalik dengan penampilan saya yang berhijab. Saya bahkan pernah merasa sangat tertekan dengan image orang di sekitaran saya yang mengira dengan penampilan saya yang sedemikian tertutup saya pantas menyandang label alim mau pun shalihah. Astaghfirullaah.

Siapa sangka ketika memasuki masa kuliah penampilan saya kembali berubah drastis. Jilbab saya kembali ketat. Rok saya pensiunkan. Kerudung panjang dan kaos kaki ikut saya tinggalkan. Saya kembali menggunakan jeans dan kerudung yang mini. Akhlak saya pun makin keteteran. Bukannya menjadi lebih baik saya malah berubah haluan kembali ke titik semula dimana saya pertama kali mengenakan jilbab. Syukurnya, saya nggak sampai lepas jilbab. Syukurnya pula Allah masih sudi merengkuh dan menarik saya kembali. Padahal saya pernah pergi jauh dan tersesat dari jalan lurus-Nya. Berkali-kali. Namun lagi-lagi Allah setia menuntun saya untuk kembali menapak di jalan cinta-Nya. Entahlah bagaimana hidup saya ke depannya. Saya tidak bisa menjamin diri saya di masa depan akan sama atau lebih baik dari diri saya yang sekarang, yang bisa saya lakukan sampai detik ini hanyalah terus memperbaiki diri dan terus memohon agar Allah tetap meneguhkan hati saya di atas agama-Nya.

Dan memang demikianlah adanya. Tidak ada seorang pun bisa menjamin keadaan dirinya di masa depan. Iman yang bersemayam di hati kita senatiasa naik turun. Sifatnya fluktuatif. Kadang kita semangat untuk beribadah. Kadang pula kita menjadi sangat futur sehingga enggan untuk beribadah. Ada masa dimana kita semangat untuk berhijrah dan ada masa dimana kita terlena ingin kembali ke masa jahiliyah.

Betapa istiqomah itu sungguh tak mudah. Hari ini mungkin kita bisa menghakimi dan menghujat keputusan orang lain namun siapa yang bisa menjamin dirinya terlepas dari penghakiman dan hujatan yang sama di masa mendatang?

Jawabannya silakan tanya pada hati kecil kita masing-masing. Postingan ini hanyalah sebagai reminder khususnya bagi diri pribadi yang imannya masih kerap goyah.




  • Share:

You Might Also Like

5 comments

  1. Terima kasih sudah mengingatkan saya lewat tulisan ini, Mbak:)
    Memang kadar keimanan bisa saja naik dan turun..Dan begitu banyak hal memang bisa kita upayakan agar iman tetap pada jalannya, bahkan meningkat kadarnya dari waktu ke waktu.

    ReplyDelete
  2. Semoga kita semua diberikan hati yang kuat untuk selalu istiqomah di jalan-Nya ya mbak :)

    ReplyDelete
  3. ikut sedih juga waktu mendengar berita viral tersebut. Repotnya, zaman sekarang mengajak ke arah kebaikan malah dibilang nyinyir...

    ReplyDelete
  4. Semoga hati kita tidak terbolak-balik agar tetap bisa istiqomah. Terima kasih sudah diingatkan kembali mbak...

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah.....saya bersyukur sekali sudah ada pembiasaan mengenakan jilbab sejak kecil, lingkungan sekolah dari kecil juga Islami, kemudian alhamdulillah sekali lingkungan keluarga besar juga religius--maksudnya, orientasinya akhirat.

    Terkadang, saya juga menanyakan kepada diri sendiri. Mengapa berjilbab?
    Saya banyak melihat video di youtube mengenai ex-muslimah, salah satu alasannya adalah ttg Islam as bondage for their freedom. Saya coba kulik kepada diri sendiri, bagian darimananya yg Islam itu mengekang penganutnya? Saya cari negatif dari berjilbab. Saya tidak menemukan, justru banyak positifnya.

    Hal lain lagi, mereka berkata bahwa, ketika mereka Islam, mereka percaya bahwa Islam memuliakan perempuan dengan aturan2/prinsip2 yg dibedakan dengan laki2. Kemudian setelah keluar dr Islam, mereka merasa apa yg dipercayai dulu itu salah. Islam adalah agama gender yg membedakan laki2 dan perempuan.

    Padahal menurut saya itu wajar, karena Allah memang menciptakan laki2 dan perempuan memiliki kodrat yg berbeda. Contohnya, mengapa hukum waris memberatkan anak laki2 drpd perempuan? Ada hikmah di baliknya, bahwa kelak laki2 akan mjd kepala rumah tangga, tanggung jawabnya lebih besar. Berbeda dg perempuan (meski dlm bbrp kasus ada pula wanita yg mjd kepala rumah tangga).

    Hehehe, maaf jadi panjang komentarnya, terbawa suasana tadi sore banyak nonton bideo youtube yg seperti ini.

    Terkadang saya ingin ragu, saya ingin mencari celah dlm Islam, tapi alhamdulillah selalu dpt dipatahkan dg penjabaran org2 disekitar mengenai hikmah dibalik itu semua. Wallahua'lam bisshawab....

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa menginspirasi.