ODOJ; Antara Bertahan dan Melepaskan

By Siska Dwyta - 21:10

Bismillaahirrahmaanirrahiim


Di awal bulan ini saya mantap memutuskan keluar dari komunitas yang selama dua tahun terakhir telah sangat membantu menjalin keakraban saya dengan Al-Qur'an. Tentu setelah melalui banyak pertimbangan yang tidak mudah. Saya sampai harus mempertimbangkannya berulang-ulang. Bahkan sejak awal tahun saya telah berkali-kali menyatakan niat keluar dari grup komunitas tersebut pada suami dan berkali-kali pula urung. Bukan karena tidak dapat persetujuan dari suami yang memang lebih menyarankan agar saya sebaiknya bertahan meski dia sendiri tidak terlalu memaksakan sarannya itu.

Well, barangkali karena telah bergabung di komunitas tersebut sebelum kami menikah sehingga suami merasa tidak berhak memengaruhi keputusan yang hendak saya ambil. Dia sebatas menyarankan, menyuruh agar saya tidak terburu-buru mengambil keputusan. Pikirkan baik-baik matang-matang, kalau memang masih sanggup ya lanjutkan, tapi kalau sudah nggak nyaman ya cukupkan saja. Begitu menurut dia yang bikin saya makin bimbang dan riweh sendiri.

Keluar dari grup komunitas yang satu ini sungguh tidak sama dengan keluar dari grup-grup yang lain. Grup-grup yang lain mah, biar tanpa ijin sama si admin saya bisa langsung nyosor tanpa merasa bersalah. Walau kesannya memang rada nggak sopan ya. Tapi bukan masalah sopan atau nggaknya. Justru biasanya saya yang langganan diinvite ke macam-macam grup, semacam grup ikatan, grup komunitas, grup alumni, dll dengan atau tanpa persetujuan. Jadi kalau mau keluar ya santai saja, tidak merasa harus terbebani. Nah, untuk grup komunitas ini - justru saya sendiri yang mengajukan permohonan ingin bergabung. So i think, karena saya masuk dan bergabung di komunitas tersebut baik-baik, jadi keluarnya pun harus dengan cara yang sama baiknya pula. Dan itu dia yang bikin saya agak terbebani. Why? skip dulu. 

Eniwei sedikit cerita, sebelum bergabung jauh-jauh bulan saya sudah familiar dengan nama komunitas ini. Saya malah telah mengikuti FP-nya di Facebook sejak masih menyabet gelar mahasiswi berbilang tahun silam. Otomatis info-info, kegiatan dan segala hal yang berwarna komunitas ini sering menghiasi layar beranda saya. Menurut saya, komunitas ini Maa syaa Allaah luar bisa berkahnya. Betapa tidak, semua anggota komunitas diajak berinteraksi dan berkomitmen dengan membaca satu juz Al-Qur'an setiap harinya. Nah, orang-orang yang dekat dengan Al-Qur'-an pasti hidupnya penuh berkah kan?

Sampai di sini pasti sudah pada tahu, komunitas yang saya maksud. Yup, Komunitas "One Day One Juz" disingkat ODOJ, sebuah komunitas yang memfasilitasi dan memotivasi anggotanya agar konsisten memenuhi target tilawah satu juz sehari dengan memanfaatkan instan messengger. 

Jika ditelusuri history-nya via eyang google, komunitas ini sudah ada sejak tahun 2009 silam dengan menggunakan metode pelaporan via sms atau pesan singkat, yang kemudian sempat beralih via Blackberry Messenger (ini waktu zamannya BBM masih naik daun, maybe masih berlanjut sampai sekarang) dan akhirnya sekarang lebih berpusat dengan metode pelaporan melalui aplikasi WhatsApp Messenger. (Sumber; baca di sini)

Yup, jika kalian bergabung di komunitas ini, kalian bakal diundang ke grup ODOJ dengan nomor urut tertentu yang sudah terdata di dewan pengurus pusat. Biasanya sih admin yang diamanahkan di salah satu grup ODOJ dengan nomor urut tertentu akan mengundang kita ke dua grup dengan nomor urut yang sama sekaligus. Satu grup khusus hanya untuk pelaporan sedangkan grup yang satunya boleh digunakan untuk chatting atau ngobrol, saling berkenalan , silaturahmi dan mendapatkan info-info seputar kegiatan ODOJ. Oh ya perlu dicatet yah, grup-grup yang ada di ODOJ terbagi menjadi dua jenis. Grup Ikhwan khusus laki-laki dan Grup Akhwat yang hanya beranggotakan perempuan.

Setelah dimasukan oleh admin ke dalam grup, bakal ada sesi ta'arufan dengan anggota grup lainnya. Tentunya sebelumnya admin sudah meminta terlebih dahulu data diri kalian sekaligus memberitahu SOP yang berlaku di komunitas ODOJ. Acara ta'arufan selesai baru deh kalian dikenai kewajiban melapor progress tilawah se-juz dalam batas waktu yang telah ditentukan setiap harinya. Tiap hari juga bakal ada PJ yang diganti secara bergiliran untuk membantu admin merekap data laporan anggota yang sudah masuk. Apakah kholas semuanya atau belum, jika masih ada yang belum lapor tugas si PJ lagi yang membantu mengingatkan.

FYI, mengenai mekanisme tilawahnya sendiri saya kurang tahu, mungkin di tiap-tipa grup ada sedikit perbedaan, entah itu masalah waktu deadline yang disepakati atau terkait juz yang dibaca tiap harinya. Kalau dulu sih katanya juz yang dibaca tiap anggota sudah ditentukan. Misal hari ini si A dapat giliran baca juz 1, si B juz 2, dst. Otomatis di hari selanjutnya si A akan mendapat giliran juz 2, si B juz 3, dst. Oh ya maksimal anggota grup ODOJ ada 30 ya. Jadi dalam sehari satu grup itu diharapkan dapat khatam 30 juz. Kalau pun ada anggota yang berhalangan kholas se-juz pada satu hari maka bacaannya akan dilelang atau dibagikan kepada anggota peserta yang lain namun bukan berarti karena bacaannya sudah dilelang sehingga anggota yang berhalangan itu dinyatakan kholas.

Waktu saya gabung di ODOJ, mekanisme tilawahnya ternyata sudah berubah, tidak ada lagi pembagian juz yang harus di-kholaskan. Anggota grup bebas memilih mulai dari juz yang mana, kemudian dilanjutkan ke juz selanjutnya pada hari berikutnya hingga khatam. Boleh jadi dalam sehari bisa ada peserta yang membaca juz yang sama dan diharapkan dalam sebulan itu setiap peserta bisa khatam sekali. Tapi khusus untuk grup akhwat karena tiap bulan anggotanya pasti ada yang kedatangan tamu tak diundang sehingga diberikan pilihan, apabila sedang berhalang diperbolehkan untuk memilih tasmi' (mendengarkan murattal Al-Qur'an), tarjim (membaca terjemahan Al-Qur-an) atau tilawah lewat applikasi Al-Qur'an yang ada di Android maupun al-Qur'an terjemahan sebab perempuan ketika sedang masa haid terhalang menyentuh mushaf Al-Qur'an. Jadi bukan berarti, karena lagi halangan perempuan nggak bisa berinteraksi dengan Al-Qur'an. Bisa kok, kan yang dilarang cuma menyentuh mushaf. Mendengarkan, menghapalkan bahkan membaca ayat-ayat Al-Qur'an sah-sah saja asal tidak langsung dengan menyentuh kitab sucinya.

Nah, untuk lebih jelasnya tentang ODOJ silakan bergabung di komunitas ini. Apalagi makin ke sini komunitas ODOJ makin keren lho. Program tilawahnya nggak cuma ODOJ saja kok. Kalau ngerasa berat tilawah satu juz kalian bisa pilih program ODALF (One Day One Half) yang target bacaannya hanya setengah juz. Kalau masih merasa berat ada kok program yang lebih ringan lagi, ODOJ STAR namanya. ODOJ Setiap hari Tilawah Al-QuR'an. Di program ODOJ STAR ini kalian nggak diwajibkan kholas satu juz, yang penting tiap hari baca Al-Qur'an minimal sehari seayat dan target maksimalnya malah di bawah setengah juz. Ada juga ODOL for Kids, program ini untuk melatih anak-anak dengan target bacaan satu hari satu lembar. Gimana? Tertarik gabung ODOJ, yukk langsung saja kunjungi webnya http://www.onedayonejuz.org/. Di sana ada kok petunjuk cara gabungnya atau kalau masih bingung bisa minta bantuan teman-teman kalian yang sudah lebih dulu gabung di ODOJ.

In syaa Allah banyak kebaikan yang bakal kalian dapat dengan bergabung di komunitas ini. Bukan hanya ketagihan baca Al-Qur'an tapi kalian juga bakal dipertemukan dengan saudara/i se-ukhuwah dari berbagai penjuru tanah air yang bakal menularkan semangat menghiasi hari-hari kalian dengan Al-Qur'an. Apalagi adminnya, semangatnya itu lho, Maa syaa Allaah. 

Saya salut banget dengan admin saya waktu masih gabung di ODOJ. Beliau sosok yang luar biasa menurut saya. Di sela-sela kesibukannya dengan rutinitas sehari-hari, beliau tidak pernah lelah dan tetap sabar mengingatkan anggota-anggotanya untuk kholas dan melapor tepat waktu. Meski begitu masih saja ada anggota yang acuh tak acuh. Kayak saya ini. Ups. Anggota-anggota dalam grup juga banyak yang memotivasi dan menginspirasi saya. Mereka tak kalah luar biasa. Kebanyakan sudah berumur, kepala tiga-empat, anak bejibun, pekerjaan menumpuk tapi tilawahnya Maa syaa Allaah.  Selalu kholas dan tepat waktu. Ada pula anggota yang umurnya masih belasan. Masih sekolah tapi sudah rajin dan rutin baca Al-Qur'an setiap hari.

Lalu apalah saya ini, masih kepala dua, belum punya anak, cuma ngurus suami, kerjanya di rumah doang, banyakan leyeh-leyeh tapi giliran tilawah selalu keteteran. Astaghfirullaah. Entah kemana perginya komitmen awal saya saat pertama kali memutuskan gabung di komunitas ini.

Saya masih ingat sekali, bulan Maret 2016. Salah seorang teman di Ikatan yang rupanya baru-baru dilantik jadi pengurus DPA ODOJ Makassar tiba-tiba mengirim pesan via WhatsApp. Isi pesannya tidak muluk-muluk. Dia hanya mengajukan pertanyaan ini. Apakah saya tertarik gabung di ODOJ?

Eh, ditodong pernyataan demikian reaksi saya malah heran, kaget, bingung, nggak nyangka. Really. Saya kenal ODOJ boleh dibilang sudah cukup lama, bahkan sebelum ODOJ launching di Masjid Istiqlal Jakarta, Mei 2014 lalu. Tapi waktu itu sama sekali nggak ada niatan dan minat pengen gabung. Malah dulu saya sempat berpikiran; ngapain gabung ODOJ. Tanpa ikut ODOJ pun saya bisa kok kholas satu juz tiap hari. Lebih dari satu juz pun, easy. Nggak perlu ikut komunitas kayak gitu. Apalagi ini menyangkut amalan, sebaiknya nggak perlu dipamer-pamer. Khawatirnya malah riya' lagi.  Bisa-bisa amalan ngaji saya hangus semua. 

Nyatanya, saya sok banget yah sampai-sampai berpikiran kerdil dan merendahkan kayak gitu. Ada komunitas yang di dalamnya berkumpul orang-orang baik yang punya niatan dan tujuan yang sangat mulia - Mendekatkan umat Islam di negeri ini dengan Al-Qur'an - tapi saya malah tidak mengapresiasi. Harusnya kan saya ikut antusias.

Al-Qur'an yang biasanya hanya dijadikan pajangan di almari, dibiarkan lusuh dan berdebu. Jarang bahkan nyaris tak pernah disentuh. Kalau pun disentuh paling hanya di waktu-waktu tertentu. Seperti di bulan Ramadhan atau ketika menghadiri pengajian. Orang tua-orang tua rajin menyuruh anaknya pergi ke surau, ke masjid, ke tempat-tempat belajar mengaji untuk belajar baca Al-Qur'an tapi mereka sendiri tak pernah melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur-an di rumahnya. Alhasil, anak-anak selepas khatam ikut-ikutan meninggalkan Al-Qur'an. Menurut mereka, Al-Qur'an hanya bacaan yang dikhatamkan sekali. Sekali khatam selesailah sudah. Asal sudah pandai membaca Al-Qur'an, cukuplah sudah. Al-Qur'an ditinggalkan, diabaikan, diacuhkan begitu saja. Astaghfirullaah.

Jika flashback ke masa silam, kedekatan saya dengan Al-Qur'an juga baru terjalin pada masa-masa saya masih belajar ngaji dari satu masjid ke masjid yang lain, dari satu guru ke guru yang lain hingga saya merasa sudah cukup pandai membaca Al-Qur'an. Tidak lagi terbata-bata. Khatam pun sudah lebih dari sekali. Jadi saya beranggapan tidak perlu lagi belajar mengaji padahal kalau dilihat perkembangan mengaji saya di umur seperempat abad ini, hiks menyedihkan sekali. Tajwid saya masih belum beres. Apalagi pengucapan makhraj, masih banyak salahnya. Parahnya, karena telah berhenti dari tempat belajar mengaji, saya merasa tidak berkewajiban melanjutkan bacaan Al-Qur'an saya di rumah. Orang tua yang waktu itu masih awam juga luput dari mengingatkan. Ditambah tidak seorang pun yang memberitahu, bahwa membaca Al-Qur'an itu tidak ada ujungnya. Kalau pun sudah khatam harus tetap diulang kembali. Jadilah saya kembali jauh dari Al-Qur'an

Nah, paling-paling saya mulai baca Al-Qur'an lagi ketika memasuki bulan suci Ramadhan, itu pun jarang sampai khatam :'( dan jujur saja - saya baru merasakan benar-benar dekat dan akrab dengan Al-Qur'an setelah bergabung di ODOJ, tepatnya setelah saya tanpa banyak pikir langsung mengiyakan tawaran teman yang mengajak saya gabung di ODOJ. 

Pertanyaan yang muncul kemudian; kenapa saya mau gabung di ODOJ padahal dulunya sama sekali nggak minat? Hihi mungkin jawabannya karena nggak ada yang ngajak kali ya atau sayanya yang ogah berinisiatif cari tahu sendiri. Saya kan cuma kenal ODOJ sebatas namanya saja. Cara gabungnya gimana, prosedurnya seperti apa, harus menghubungi siapa, dll - saya beneran nggak tahu dan ogah mencari tahu. Jadi, sekalinya ada yang ngajak, saya speechless dong. Itu pertama kalinya lho ada yang ngajakin saya gabung di ODOJ dan saya tidak punya alasan untuk menolak. Wong, saya diajak ke jalan menuju syurga masa' mau ditolak. Rugi bangeet saya mah kalau nolak.

Tapi tentu saja, bukan karena ajakan itu alasan utama saya bergabung di ODOJ. Ya, itu tadi, saya langsung flashback, mengenang kembali kebersamaan saya dengan Al-Qur'an selama ini seperti apa, merefleksi kembali bacaan Al-Qur'an saya sejauh ini sudah sampai di mana. Dan hasilnya; nihil. Saya malah pernah bikin target sendiri, minimal setiap hari harus ngaji, mau selembar atau seayat yang penting tidak boleh melewatkan satu hari pun tanpa membaca Al-Qur'an. Lagi-lagi outputnya nol besar. Bahwa kenyataannya selama ini sebelum gabung di ODOJ saya nggak pernah bisa konsisten mengaji tiap hari. Pasti ada saja hari-hari yang saya lewati tanpa Al-Qur'an. Terutama bila dihadapkan dengan seabreg rutinitas, jangankan se-juz, seayat saja ngga bisa. Belum lagi menghadapi kondisi iman yang naik turun. Kalau lagi ghirah-ghirahnya wuih, baca Al-Qur'annya semangat banget tapi kalau lagi futur-futurnya, duh jangan ditanya. Saya sendiri jadi kelabakan.

So, i think, saya butuh teman, saya butuh lingkungan yang mendukung plus memotivasi saya agar dapat istiqomah dengan Al-Qur'an. Sepertinya niat dan komitmen saja tidak cukup. Saya perlu pengingat, perlu paksaan, perlu pembiasaan. Maka sampailah saya pada kesimpulan; bergabung di Komunitas seperti ODOJ inilah jawaban terbaiknya.

Dan memang benar, kebersamaan akan sangat membantu merealisasikan niat dan komitmen kita. Jika kita ingin belajar istiqomah dalam membaca Al-Qur'an, carilah teman, lingkungan atau kondisi yang setidaknya dapat memfasilitasi targetan kita itu. Mungkin jika sendiri, kita masih lemah, tapi saat bersama in syaa Allaah kelemahan kita bisa teratasi. Sebab ada yang mengingatkan, ada yang mendorong, ada yang memotivasi, ada yang mendoakan. Siapa?

Mereka; orang-orang yang tidak ingin masuk surga sendiri. Orang-orang yang senantiasa mengajak saudaranya sesama muslim/ah untuk menapak di jalan yang sama. Jalan menuju surga. 


take picture in here
Tidak sulit menemukan orang-orang seperti mereka di zaman secanggih ini. Asal punya gadget dan terhubung dengan jaringan internet, kita bisa dengan mudah bergabung dalam komunitas mereka. Yah, daripada gadgetnya digunakan untuk hal-hal yang nggak bermanfaat, online pun sekadar buka medsos, stalking sana sini yang gaje atau ikut-ikutan komunitas keduniawian mending manfaatkan fasilitas yang kita punya dengan ikut komunitas yang outputnya jelas. Untuk tabungan amal kita di akhirat. Kayak komunitas ODOJ ini.

Selain ODOJ masih ada juga komunitas semacamnya yang  sangat membantu kita untuk istiqomah beramal. Mau belajar istiqomah tahajud, bisa gabung di komunitas KUTUB. Mau belajar istiqomah menghapal Al-Qur'an bisa gabung di komunitas tahfidz semacam ODOL, mau belajar istiqomah sedekah atau berinfak bisa gabung di grup sedekah 5000, sedekah kurirlangit, dan lain sebagainya. 

Intinya, tidak sulit menemukan komunitas-komunitas untuk belajar sekaligus konsisten beramal, seperti beberapa komunitas yang sudah saya sebutkan di atas. Namun patut dicamkan, modal awal sebelum bergabung di komunitas tersebut adalah niat yang paling utama. Komitmen yang kedua. Niat kita memang harus diluruskan terlebih dahulu. Kudu Ikhlas lillaahi ta'ala. Nggak boleh niatnya lain-lain. Misal karena ikut-ikutan atau ingin dapat pujian. Awas. Bahaya! Niat yang semacam itu sama saja omong kosong. Percuma. Biar seratus kali khatam setelah gabung ODOJ tapi karena niatnya dari awal sudah keliru, bukan karena Allah, maka oleh Allah akan dinilai nol besar. Kalau niat sudah lurus baru deh kita pasang komitmen kuat-kuat. Komitmen buat apa?

Ya, karena gabung di ODOJ itu bukan perkara yang mudah lho. Sebelum masuk ODOJ kita memang sudah harus pasang komitmen duluan, harus yakin sama diri sendiri dulu. In syaa Allaah saya bisa kholas satu juz satu hari. Pasti bisa. Niat saja memang nggak cukup kan? Perlu ada action. Nah, dengan adanya komitmen, realisasi dari niatan kita nggak diragukan lagi. Admin atau anggota grup di ODOJ paling  cuma bisa membantu sebatas mengingatkan, memotivasi, mendorong, menularkan energinya, tapi yang membuat kita sampai bergerak, berupaya mencapai target bacaan ya diri kita sendiri bukan orang lain. Makanya, selain niat, komitmen juga penting.

Dengan modal awal niat dan komitmen, kita dituntut harus Istiqomah. Dan yah, yang namanya istiqomah itu butuh perjuangan. Prosesnya nggak instan. Rada sulit. Awalnya kudu dipaksa dulu, lama-lama jadi kebiasaan. Kalau sudah terbiasa in syaa Allaah bakal dinikmati. Tapi kalau berhadapan lagi dengan kondisi hati yang masih labil, itu yang sussaaah.

Selama dua tahun di ODOJ saja,  saya masih sering banget keteteran. Sering telat lapornya, bahkan masih suka alpa kholas dalam sehari. Paling berat bila lagi datang tamu bulanan, rasanya malas banget berinteraksi dengan Al-Qur'an. Belum ditambah dengan seabreg kegiatan saya yang lumayan padat ketika masih lajang, termasuk safar yang sering saya lakukan bersama suami setelah menikah yang kemudian berhasil menyita banyak waktu yang seharusnya bisa saya gunakan untuk tilawah. Ah, sampai di sini saya banyak ngelesnya ya. Padahal bagi Umat Islam, terlebih anggota ODOJ (Odojer, red) semestinya nggak ada alasan buat nggak baca Al-Qur'an dalam sehari. Apalagi jika sudah berkomitmen kholas sehari sejuz. Harus komit dong. Sesibuk apa pun kita. Jangan bilang nggak ada waktu buat kholas. Itu alasan yang menyesakkan sebenarnya. Justru yang harus kita tanamkan pada diri, in syaa Allaah tiap hari saya harus meluangkan waktu membaca Al-Qur'an. Minimal lima menit setiap shalat fardhu atau di sela-sela waktu luang. Lumayan kan kalau dua lembar dalam sekali duduk, lima kali duduk sudah bisa kholas.

Duh, ngomong doang gampang, buktinya mana? Lho saja sampe keluar dari ODOJ?

Ups. Secara spesifiknya saya nggak bisa membeberkan alasan keluarnya saya dari ODOJ di postingan ini. Bahkan saat pamitan hendak keluar dari grup ODOJ pun saya cuma bisa merangkai kata perpisahan tanpa alasan yang jelas. Cukuplah Allaah yang tahu alasan saya memilih hengkang dari komunitas yang telah mengakrabkan saya dengan Al-Qur'an. Sama sekali tidak ada masalah antara saya dengan admin maupun anggota grup. Masalahnya justru ada pada diri saya sendiri. Mungkin kalian bisa menganggap, sayanya yang sudah nggak sanggup, nggak bisa konsisten kholas se-juz tiap hari; mungkin saat keluar itu sayanya lagi dalam kondisi futur atau karena makin ke sini saya makin tidak bisa mengendalikan hati sehingga terjangkit penyakit yang paling mematikan. Riya'. Whatever lah. Memang sangat disayangkan tapi toh apa boleh buat. Keputusan saya sudah terlanjur membulat.


Kalian boleh beranggap apa saja, tapi percayalah masalah-masalah sulit konsisten, mengalami futur maupun dihinggapi riya' yang kalian anggap itu memang kerap menimpa para Odojer termasuk para anggota di komunitas amal lainnya. Bedanya, ada yang mampu mengatasi, memilih bertahan dan tidak sedikit pula yang membiarkan dirinya gugur. Saya? Ah, saya bukannya mencari pembenaran, saya sendiri yang memilih mundur.

Tantangan di setiap komunitas amal memang seperti itu kan? dan yang namanya iman sifatnya memang fluktuatif kan? Lebih-lebih karena ini komunitas yang mengajak anggotanya beramal terang-terangan. Tantangannya jauh lebih berat. Bukan sebatas mempertahankan konsistensi dan keimanan, tapi setiap anggotanya memang dituntut harus kuat menjaga hati. For what?

Mari kita lihat, ada satu kegiatan andalan ODOJ yakni NGAOS alias Ngaji On The Street, sebuah kegiatan yang mengumpulkan para Odojer untuk ngaji di tempat umum, di tempat yang terbuka dan bisa dilihat banyak orang. Apa ada yang salah dengan kegiatan tersebut?

Salah satu kegiatan NGAOS ODOJ (take picture in here)

Tentu tidak. Itu salah satu kegiatan yang positif banget. Selama ini kan kita jarang lihat orang ngaji di tempat umum. Kalau liat orang asyik online dengan gadgetnya di mana-mana, mah banyak dan dirasa lumrah. Tapi kalau liat orang bawa Al-Qur'an ke mana-mana, ke mall, ke jalan-jalan, ke tempat rekreasi  rasanya itu aneh. Seolah Al-Qur'an tempatnya cuma di rumah dan di masjid atau mushallah saja. Seakan Al-Qur'an cuma pantas dibaca di rumah-rumah ibadah saja. Padahal semestinya tidak demikian. Al-Qur'an bisa dibaca dimana pun selagi tempatnya suci. Termaksud di tempat yang berkhalayak ramai.

Nah, itu dia tantangan terberat yang menuntut kita harus kuat menjaga hati. Kalau kita beramal terang-terangan bakal rawan banget terkena penyakit yang namanya riya. Sekali amal kita ditunjukkan maka syaitan dengan gesitnya  akan mengeluarkan jurus mautnya; merayu-rayu kita dengan bisikan yang sangat halus. Kalau hati kita nggak kuat, termakanlah kita dengan rayuannya. Niat yang tadinya sudah lurus karena Allah akhirnya melenceng. Pantaslah bila kita sering diingatkan untuk terus memperbaharui niat; meluruskan niat kembali.

Jikalau begitu, biar aman seharusnya amalan kita tidak perlu ditunjukkan. Toh, amal yang paling baik kan amal yang disembunyikan tidak dinampak-nampakkan. Of course, tapi jika kalian menyembunyikan amal dengan bermaksud menghindari riya' bukan berarti kalian bisa dengan mudah terhindar dari rayuan syaitan. Syaitan itu banyak sekali tipu muslihatnya. Okelah, kalian beramal diam-diam, rajin ngaji, rajin puasa, rajin tahajud, sedekah dan bla bla lalu ketika melihat teman kalian meng-upload kegiatan amalnya di media sosial seketika muncul perasaan takjub atas diri kalian sendiri. Kalian merasa jauh lebih baik dari teman yang menunjukkan amalnya itu. Mungkin dalam hati sempat terbetik; saya telah beramal melakukan ini-itu, ikut banyak kegiatan sosial tapi nggak pernah tuh pamer-pamer kayak gitu di media sosial. Bahkan kalian sampai tega men-judge teman kalian itu telah bertindak riya. Padahal riya atau tidaknya seseorang itu tergantung niatnya. Niat itu adanya dalam hati dan hanya Sang Pemilik Hati-lah yang tahu Hati-Hati hamba-Nya.

So, terjebaklah kalian dengan rayuan syaitan. Okelah, kalian berusaha menghindari riya dengan menyembunyikan amal namun di saat yang sama muncul sekaligus tiga penyakit lain di hati kalian. Merasa kagum dengan diri sendiri sama dengan ujub; merasa lebih baik dan merendahkan orang lain mengundang takabur dan berprasangka yang buruk pada orang lain sama dengan su'udzhon. Astaghfirullaah. Jadi mau beramal terang-terangan atau sembunyi-sembunyi sebenarnya sama saja kan; sama-sama bakal dirayu syaitan. Oleh sebab itu, yang harus kita lakukan saat beramal baik sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan adalah MENJAGA HATI kuat-kuat. Jangan mudah membiarkan hati kita terkena rayuan syaitan.

Well, kalau pun kalian tergolong orang yang anti gabung di ODOJ atau komunitas amal sejenisnya karena khawatir dengan penyakit riya atau apa pun itu maka sebelum mengakhiri postingan ini saya ingin sekali mengutip  sejumput kalimat meneduhkan yang berulang-ulang diingatkan oleh korminF30 pada laporan hasil Indeks Prestasi Admin - Fasil 30 yang rutin dilaporkan admin saya di grup chating ODOJ 1405 tiap pekannya.

Memang tilawah ini amalan pribadi. Tapi kita berada dalam satu wadah yang terorganisir, artinya semua aturan yang ada harus dijalankan. Laporan bukan berarti riya. Itu bentuk mutaba'ah (evaluasi) dan sebagai bentuk disiplin diri dalam organisasi.

Ingat pesan Ali bin Abi Thalib, kebaikan yang tak terorganiisir  akan kalah dengan kejelekan yang terorganisir.

Riya itu masalah hati, jangan lupa, tidak ikut ODOJ pun kalo merasa lebih hebat karena gak menampakkan amal itu juga riya namanya.

Dalam Islam, beramal itu mau terang-teranfan atau sembunyi-sembunyi sama aja, selama bisa menjaga hati

Al Quran Al Baqarah 274

: ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُم بِٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ سِرًّا وَعَلَانِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan,  maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan  tidak (pula) mereka bersedih hati (QS. 2:274)

Finally, ini dia yang bikin saya sangat berat plus terbebani ketika akhirnya harus memutuskan keluar dari grup ODOJ. Bukan karena saya tidak bisa berinteraksi lagi dengan Al-Qur'an seperti saat saya masih bergabung di ODOJ. Niat saya keluar dari ODOJ pun bukan karena tidak sanggup kholas se-juz atau tidak bisa menyentuh Al-Qur'an tiap hari. Saya sadar dengan keputusan saya ini dan  inilah konsukuensi terberat yang harus saya terima; kehilangan sahabat-sahabat terbaik, sahabat-sahabat penghuni surga, calon-calon keluarga Allah di surga. Mereka; saudari-saudari saya di ODOJ, yang hari-harinya selalu dihiasi dengan Al-Qur'an.

Dari Anas radhiallahu 'anhu ia berkata bahwa Rasulullaah shallallahu 'alaihi wassalam bersabda ; " Sesungguhnya Allah itu mempunyai keluarga yang terdiri dari manusia". Lalu Rasulullaah shallallahu 'alaihi wassalamditanya, "siapakah mereka itu wahai Rasulullaah?" Beliau menjawab ," yaitu Ahlul Qur'an (orang yang membaca atau menghafal Al-Qur'an dan mengamalkan isinya). Mereka adalah keluarga Allah dan orang orang-orang yang istimewa bagi Allah " (HR. Ahmad)

Ah, sampai di sini saya ingin sekali mengajak kalian gabung di ODOJ dan merasakan luar biasa berkahnya. Kalau kalian selama ini jarang sentuh Al-Qur'an in syaa Allaah dengan bergabung di ODOJ, kalian akan mulai terbiasa bertilawah. Bahkan bagi kalian yang seumur-umur tidak pernah menyelesaikan satu juz dalam sehari, di ODOJ kalian bakal mudah melakukannya. Nggak percaya? Buktikan saja sendiri.

Akhir kata; Mohon doakan saya, semoga bisa tetap istiqomah menjalin keakraban dengan Al-Qur'an setiap harinya sekali pun tidak lagi bergabung di ODOJ pun masih besar harapan saya; semoga suatu hari nanti hati saya terpanggil kembali untuk bergabung di komunitas penuh berkah ini dan bila hari itu tiba semoga saya masih bisa diperkenankan bergabung.


Salam ODOJ ❤❤❤


  • Share:

You Might Also Like

2 comments

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa menginspirasi.