Media Sosial; Before and After Married

By Siska Dwyta - 03:04

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Sosial media atau media sosial? Selama ini saya sering dibingungkan dengan dua istilah itu. Pasalnya saya biasa nulis pake istilah media sosial tapi kok orang-orang banyak yang nulisnya pake istilah sosial media ya? Eikee kan jadi bingung sampai-sampai sempat kepikiran jangan-jangan saya yang salah. Kemarin-kemarin nggak pernah juga berusaha cari tahu mana yang benar. Alhasil, dalam menulis pun saya jadi nggak konsisten. Kadang-kadang nulis pake istilah sosial media tapi lebih seringnya pake istilah media sosial.

Well, saya baru tergelitik mencari tahu keduanya saat hendak menulis postingan ini. Kenapa? Karena tantangan ngeblog hari ke-lima ini adalah "Tentang Media Sosial". Jadi, sebelum membahas tentang media sosial, ada baiknya saya telusuri dulu mana yang benar, media sosial atau sosial media?
Dan ternyata setelah menelusuri lewat pertanyaan yang saya ajukan pada eyang google jawaban benar yang saya temukan adalah MEDIA SOSIAL . 

Why? Pasti kalian juga menganggap media sosial dan sosial medial memiliki arti yang sama ya? Oke, artinya memang dianggap sama tapi apakah cara penulisannya sudah benar? Penjelasannya saya kutip langsung saja yak dari artikel yang sempat saya baca.

Kata sosial media yang sering digunakan saat ini, sebenarnya merupakan kata serapan secara informal dari kata social media yang ada di dalam bahasa Inggris. Hanya saja, saat menyerap kata itu, banyak orang tidak memperhatikan perbedaan struktur yang ada pada bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Bahasa Inggris memiliki struktur bahasa yang berbasis pada MD atau Menerangkan Diterangkan. Artinya, jika ada kata sifat dan kata benda yang berurutan dalam satu frasa atau kalimat, maka yang didahulukan adalah kata sifatnya yang menerangkan, baru setelah itu masuk kata benda yang diterangkan. Contohnya adalah red car, smart people, pretty girl, dan lain-lain.

Sedangkan bahasa Indonesia memiliki landasan struktur yang berbeda. Struktur bahasa Indonesia berbasis pada DM atau Diterangkan Menerangkan. Artinya, jika ada kata sifat dan kata benda yang berurutan dalam satu frasa atau kalimat, maka yang didahulukan adalah kata bendanya yang diterangkan, baru setelah itu masuk kata sifat yang menerangkan. Contohnya adalah red car tidak diartikan merah mobil di dalam bahasa Indonesia, melainkan mobil merah. Begitu pula dengan orang pintar dan gadis cantik. Perhatikan bahwa gadis (yang diterangkan) disebutkan terlebih dulu dibanding cantik (yang menerangkan). Kalau dalam bahasa Inggris, kata pretty (yang menerangkan) disebutkan lebih dulu dibanding girl (yang diterangkan).


Jadi setelah membaca artikel tersebut saya rasa saya nggak perlu bingung lagi mau pake istilah yang mana. Lagipula para pembaca juga nggak bakal protes, mau pake kata sosmed atau medsos sama saja bagi mereka, tapi sebagai warga negara Indonesia yang baik sebaiknya memang kita menuliskan kata serapan sesuai kaidahnya atau menulis sesuai dengan kata aslinya.

Seperti halnya menuliskan kata hoax. Nah, hoax ini merupakan kata asli dari bahasa Inggris yang ketika diserap dalam bahasa Indonesia menjadi hoaks. Baik menulis hoax maupun hoaks, keduanya sama-sama benar. Berbeda dengan social media yang memang penulisannya tidak bisa disamakan dengan sosial media. Karena social media yang merupakan kata asli dari bahasa Inggris ketika diserap dalam bahasa Indonesia menjadi media sosial. 

Beidewei, bila berbicara tentang media sosial berarti saya harus berbicara pula tentang dua keadaan ini. Before and after married. Mengingat pandangan saya terhadap media sosial sebelum dan setelah menikah jauh berbeda. Bahkan boleh dibilang mindset saya terhadap media sosial sekonyong-konyong berubah 180 derajat pasca nikah. 

Before Married

Ibarat orang kampung dulu yang baru masuk kota. Udik. Atau seperti anak kecil yang dapat mainan baru. Girang. Begitupula kira-kira ekspresi saya waktu pertama kali bersentuhan dengan media sosial. Sampai-sampai saking udik dan girangnya, nyaris semua media sosial pengen saya coba. Akun media sosial mana sih yang saya belum punya?  (Halah, gaya lu😅)

Saya masih ingat sekali, mulai main medsos sekitar tahun 2008. Mulanya aktif di friendster yang tampilannya mirip-mirip dengan blog. Temanya bisa digonta-ganti gitu. Eh tapi belum lama main friendster teman-teman saya pada move ke facebook. Yowes, saya tetap bertahan di friendster dan sama sekali nggak minat ikutan pindah gegara lihat tampilan facebook yang tidak semenarik friendster, apalagi waktu itu saya juga belum ngeh bagaimana cara menggunakan facebook. Sempat sih bikin akun saja tapi mainnya tetap di friendster.

Singkat cerita, friendster makin sepi sementara facebook tambah populer. Mau nggak mau saya terpaksa ikutan move dan mempelajari facebook. Sekalinya tahu cara menggunakan eh ternyata main di facebook asyik juga. Saya jadi ketagihan dan akhirnya melupakan friendster yang sudah lama tinggal kenangan.

Setelah kenal platform lain selain facebook, seperti twitter, blog, instagram, dll ketagihan saya pada medsos semakin menjadi-jadi. Parahnya, saya pernah berpikir  hidup di dunia maya lebih asyik ketimbang di dunia nyata. Alhasil, waktu saya lebih banyak terbuang sia-sia, tersita oleh keeksisan di medsos dengan hal-hal yang nggak jelas. Saya bahkan lebih percaya dengan media sosial, ketimbang orang-orang terdekat di sekeliling saya. Jadi kalau saya lagi punya masalah, lagi galau, sedih, merana, baper, jengkel dan bla bla bla yang terlintas pertama kali buka pergi wudhu, shalat, mengadu pada Allah,  tapi cuss ambil smartphone, update status. 

Demikian pula kalau saya lagi jalan-jalan, lagi makan-makan, lagi kongkow-kongkow dengan teman-teman, lagi berada di suatu tempat yang indah, pasti deh kamera foto nggak ketinggalan. Jepretan untuk satu dua kali mode bisa sampai puluhan kali. Abis itu pilah pilih mana hasil foto yang paling bagus. Setelah dapat gambar yang paling sedap dipandang mata, step selanjutnya langsung di-edit sedemikian rupa trus upload deh ke semua akun media sosial yang saya punya sembari sesekali mengecek ada yang komentar nggak atau jumlah likesnya udah berapa. Kalau banyak yang respon, tentu saya senang tapi kalau sebaliknya atau sama sekali nggak ada yang respon so pasti saya kecewa🙈 

Kok bisa? Yap, karena ada yang salah dengan niat saya dalam bermedsos  kala itu. Sebelum menikah, bagi saya media sosial adalah tempat berbagi apa saja. Apa yang saya pikirkan, rasakan, dengarkan, alami, lihat, whatever, semua-semuanya ingin saya bagikan ke media sosial. Sampai hal-hal yang nggak penting dan nggak jelas sekali pun. Seolah lewat medsos saya ingin memberitahu segala hal tentang diri saya pada dunia. 

Di facebook saya doyan pasang status curcol. Di twitter saya suka berkicau. Di Instagram saya hobi upload foto selfie dengan quotes yang nggak nyambung. Lebih-lebih di blog yang dulunya saya anggap sebagai diary online. 

Jadi ingat, waktu masih sekolah hobi saya nulis diary. Diary saya bahkan punya gembok yang kuncinya sengaja saya simpan di tempat paling aman dan tersembunyi saking takutnya saya bila ada yang menemukan lalu membaca diary yang isinya adalah curahan hati saya itu. Karena bagi gadis yang umurnya masih belasan tahun kala itu, masalah perasaaan adalah sesuatu yang sifatnya sangat rahasia. Sayangnya, setelah mengenal media sosial, bagi saya perasaan bukan lagi sesuatu yang perlu disembunyikan. 

So far, bisa dibilang sebelum menikah saya termasuk tipe user medsos yang maniak. Alay dalam bermedsos pun pernah. Lebih-lebih narsis.


After Married


Saya lumayan eksis di media sosial tapi lelaki yang telah setahun lebih hidup seatap dengan saya, boro-boro eksis, platform medsos yang dia gunakan selama ini saja cuma ada satu. Facebook. Kalau pun sekarang ini ada akun Instagramnya, itu karena istrinya yang iseng bikinin tapi nggak pernah disentuh-sentuh sama dia😂

FYI, saya dan suami termasuk pasangan yang menempuh proses ta'aruf jarak jauh sebelum memutuskan untuk menikah. Seharusnya dalam ta'aruf kami itu ada nadzar (bertemu langsung untuk melihat wajah calon istri/suami) namun karena sibuk dengan pekerjaan masing-masing plus jarak Sulawesi-Papua yang jauhnyasehingga tidak ada nadzar di proses ta'aruf kami. Padahal nadzar ini penting lho. Kalau menurut Ana (teman sekaligus sosok yang membantu proses ta'aruf kami kemarin) berdasarkan pengalamannya, 90% keputusan lanjut tidaknya ta’aruf ke tahap selanjutnya dipengaruhi oleh hasil dari nadzar.

Yup, karena proses ta'aruf tidak sama seperti dijodohkan atau ibarat membeli kucing dalam karung. Masing-masing pihak berhak mengetahui rupa atau sosok calon pasangannya agar tidak terjadi penyesalan di belakangan hari. Namun saya dan suami mungkin termasuk pasangan yang ketika ta'aruf nekat kali ya😅 Berani memutuskan lanjut ke tahap berikutnya tanpa nadzar hanya dengan mengandalkan tiga hal, ingatan tentang pertemuan kami yang terjadi tiga tahun sebelumnya dan itu pun cuma sekali, foto yang sebenarnya tidak cukup mewakili diri, mengingat foto-foto zaman sekarang begitu gampang dimanipulasi, dan stalking akun media sosial calon pasangan yang sangat mungkin isinya adalah pencitraan.

Diantara tiga hal tersebut, memang option ketiga yang menurut saya paling bisa diandalkan. Setidaknya  saya bisa dapat sedikit gambaran tentang calon pasangan lewat postingan-postingan di akun medsosnya. Namun alangkah terkejutnya saya ketika men-stalking akun facebook teman ta'aruf  yang sekarang sudah berstatus sebagai suami saya itu. Benar-benar mengecewakan. Kayak nggak fair saja sih. Pasalnya, kalau dia mau stalking tentang saya mah gampang banget. Akun medsos saya tersebar dimana-mana. Facebook ada, instagram ada, twitter juga. Atau simplenya kalau dia pengen lebih banyak tahu tentang saya bisa langsung meluncur ke blog ini. Sementara dia? Bayangkan, saya sampai scroll kronologinya hingga tahun pertama dia bikin facebook dan nyaris tidak menemukan apa-apa kecuali postingan-postingan hasil share dan foto-foto lama yang teman-temannya tag ke doi. Karena tidak puas dengan informasi yang saya dapatkan di akun facebooknya, isenglah saya memasukkan kata kunci nama calon pasangan di google. Hasilnya sama saja. Saya kesulitan menemukan informasi tentang calon pasangan saya itu karena ternyata dia bukan tipe orang yang maniak medsos macam saya.

Heran, kok bisa ya minatnya terhadap medsos tidak se-excited orang-orang kebanyakan. Hari gini, orang-orang lagi dimana, sedang apa, bersama siapa dan bla bla, pasti disiarkan ke media sosial. Setelah menikah pun, foto pernikahan kami nggak pernah dia unggah ke akunnya apalagi ngarep dia bakal update status romantis lalu men-tag istrinya ini.  Entahlah, gimana nasib hidup saya bila saat menikah dengan suami sifat saya dalam bermedia sosial masih sama seperti dulu. Mungkin bisa stress kali ya, nggak kuat hidup dengan tipe suami yang membatasi ruang gerak istrinya di media sosial. Karena sejak menikah, suami memang cukup ketat mendidik saya dalam bermedsos. Padahal sebenarnya geliat saya di medsos sudah berkurang alias nggak seeksis dulu tapi masih sering saja kena nasihat.

Ingat perasaan orang lain. Hati-hari riya. Awas 'Ain lho.  Begitu nasihat-nasihat kecil yang berkali-kali suami sampaikan ke saya.

Of course, bagi orang yang sudah terlanjur maniak, menahan diri untuk tidak memosting apa-apa ke media sosial sungguh bukan sesuatu yang mudah. Butuh perjuangan. Apalagi kalau itu menyangkut foto. Foto selfie kita yang tampak cantik, foto anak-anak kita yang lucu nan menggemaskan atau foto yang menunjukkan kemesraan  dengan suami, dll. Rasanya sampai sekarang pun tangan saya masih sering gatal kalau liat postingan foto-foto teman medsos yang muncul di beranda saya.

Tapi kira-kira kalian percaya nggak sih kalau Tuhan baru sudi mengulurkan jodoh yang telah lama Dia tetapkan dan persiapakan hanya bila keadaan kita sudah mendekati atau persis dengan keadaan sang jodoh. Atau pasti kalian sudah familiar dengan pesan ini. Jodoh adalah cerminan diri kita, benarkah?

Nah, sejujurnya dua tahun sebelum bertemu jodoh, hati saya mulai terusik dengan yang namanya riya, ujub dan sejenisnya. Pun merasa ada yang salah dengan keeksisan saya di media sosial. Akhirnya saya jadi sering galau dan banyak-banyak merenung. Siapa sangka hasil dari kegalauan saya itu melahirkan dua postingan yang yang saya jadikan reminder dalam bermedsos.


Perlahan saya mulai belajar untuk tidak memosting foto-foto yang menampakkan wajah saya ke media sosial dan menghapus semua foto selfie yang terlanjur saya upload ke medsos terutama di Instagram atas kesadaran diri saya sendiri. Jadi ketika saya ternyata berjodoh dengan tipe suami yang agak keras, tidak membolehkan istrinya mengunggah foto diri ke media sosial, media sosial, itu tidak lagi susah buat saya. Saya pun no problem dengan sikap suami yang terkesan jutek banget dengan istrinya di khalayak maya. Sekali pun dia sampai berulang kali minta maaf gara-gara nggak bisa bersikap seperti suami lainnya yang sering menampakkan sisi romantis mereka di medsos. Padahal saya nggak pernah protes atau nuntut dia harus pasang foto berdua kami di akun medsosnya atau bikin status romantis lalu men-tag istri tercintanya ini😅

Belakangan baru saya sadari ternyata memang benar ya, jodoh itu adalah cerminan diri kita, which is  Allah baru mempertemukan saya dengan suami ketika kami sudah berada dalam satu frekuensi yang sama atau setidaknya saya dan suami baru dipersatukan ketika mindset kami terhadap media sosial tidak jauh berbeda.

Lha memangnya posting kebersamaan dengan pasangan adalah perbuatan yang salah ya?

Ya nggak salah-lah, tapi kalau ada yang mengajukan pertanyaan tersebut, biarlah caption dari @sriekasutriyani, teman IG saya ini yang mewakili jawabannya.

"Tapi tidak semua yang halal boleh ditampakkan dan dipamerkan di hadapan banyak orang bukan? Eh tapi tidak ada yang melarang. Itu hanya pilihan kami saja"

Ngomong-ngomong tentang pamer atau istilah kerennya riya' sebenarnya saya pengen no comment saja karena riya itu masalah hati dan hanya Allah yang paling tahu hati-hati hamba-Nya. Tapi karena wabah riya ini paling mudah menjangkit masyarakat medsos jadi saya pengen komen dikit. Kalau kita anggap orang yang suka pamer di media sosial itu riya, sama saja kita su'udzon (berburuk sangka)  atau meski kita nggak suka pamer apa-apa di medsos tapi merasa lebih baik dari orang yang suka pamer, itu sama saja dengan sombong. 

Yap, semua tergantung niat yang muncul di hati kita ketika bermedsos. Pintar-pintarnya kita saja menjaga hati. Lagipula tidak semua orang yang menggunakan medsos niatnya cuma untuk pamer saja. Ada kok yang niatnya untuk mencari rejeki, ada yang niatnya murni berbagi ilmu, berbagi pengalaman, ada pula yang niatnya memang untuk menginspirasi.

Nah, sampai saat ini medsos masih menjadi tempat saya untuk berbagi. Hanya saja setelah menikah saya tidak lagi berpikir bahwa segala hal tentang diri dan kehidupan saya mesti saya umbar ke media sosial. Bahwa tidak semua foto yang menampakkan wajah saya dan keluarga saya bebas jadi konsumsi publik. Bahwa sama halnya dengan dunia nyata, di dunia maya pun ada yang namanya privacy.

Oke, sekian dulu postingan saya di tantangan kali ini. Kalau berbicara tentang media sosial memang nggak ada habis-habisnya jadi kalau ada yang pengen ikutan beri pandangan berbeda, langsung saja yuk tinggalkan jejak di kolom komentar


  • Share:

You Might Also Like

1 comments

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa menginspirasi.