Pangeran Kunang-Kunang

by - Wednesday, April 30, 2014



"Kau sakit" Aku tersenyum getir menanggapi ucapan itu.

"Ayo, kita pergi saja" lanjutnya meraih tanganku

"Kemana?" tanyaku heran

"Kemana saja kau mau"

Sejenak aku terdiam. Keningku mengerut. Kutatap sepasang mata elang di hadapanku. Matanya tajam dan menusuk. Si pemilik mata elang ikut menatapku lekat. Kami bersitatap cukup lama tanpa kedip hingga akhirnya ia memejamkan mata, refleks aku mengikutinya dan tetiba semua menjadi gelap.

Perlahan ada cahaya menerobos masuk ke kedalaman mataku. Aku bisa melihat cahaya itu dengan jelas. Cahayanya berwarna jingga, tapi tak seperti jingganya senja. Cahaya yang kulihat dalam keadaan mata terpejam ini jauh lebih memukau, membentuk siluet berpendar bintang. Menakjubkan.

"Coba buka matamu" ucap si mata Elang terdengar lebih tajam, seolah ia berkata lantang tepat di gendang telingaku. Namun, aku enggan membuka mata dan sengaja mengindahkan ucapannya.

"Kau tahu apa yang aku lihat saat ini? Sesuatu yang menakjubkan. Ada cahaya yang sangat Elok. Eloknya mengalahkan jingga yang selama ini kukagumi.

"Jadi, kau ingin tetap begitu?"

Aku mengangguk sekaligus menggeleng.

"Yang kau lihat itu hanya fatamorgana. Bukalah matamu, dan kau akan lihat keindahan yang sebenarnya"

"Tapi...." sela ku terasa berat

"Ayolah... sudah ku bilang, aku akan membawamu ketempat manapun yang ingin kau jejaki. Dan sekarang kita sudah berada di tempat impianmu.

"Tempat impianku?" tanyaku penasaran.

Hening. Mungkin ia sengaja membisu. Ia juga melepaskan tangannya yang sedari tadi menggenggamku erat.

"Alam.. Lam... Alamm.., kau masih di situ kan?"

Hening kini bertemankan senyap. Sepi sekali. Lelaki pemilik mata elang yang aku panggil Alam seolah raib. Ia tak membalas panggilanku. Uhft. Apa ia sengaja bersembunyi. Padahal aku masih ingin berlama-lama tenggelam dalam indahnya jingga yang kusaksikan ini.

"Baiklah... aku turuti maumu" gumamku pelan, lalu terpantul keras. Aneh. Seiring mataku yang pelan-pelan terbuka, angin segera menyerbuku, membawa kesejukan. Jilbabku tertiup lembut, rok payungku mengembang juga tertiup angin.

Tepat ketika mataku terbuka sempurna, aku menangkap ribuan kunang-kunang berterbangan mengitari. Cahayanya yang membias ternyata jauh lebih indah memukau, sampai-sampai sedetik pun aku tak ingin berkedip. Aku takjub, menyaksikannya dengan mata berbinar-binar serta mulut yang sedikit menganga.

"Kita dimana Alam?" Gumamku dengan suara yang kembali memantul tanpa menyadari bahwa lelaki si pemilik mata elang tak berdiri di sampingku.

Kini aku berada di suatu tempat beralaskan hamparan pasir putih halus yang mengkilap dan bercahaya. Juga ada banyak bintang-bintang laut yang tergeletak manis di sepanjang hamparan pasir. Di hadapanku terbentang laut dengan ombak-ombak menggulung sambil berkejaran tanpa menimbulkan gemuruh keras.

Tak ada suara pekikan, tak terdengar hingar-bingar manusia, hanya ada kunang-kunang, pasir putih, laut, ombak, langit berbintang, rembulan yang diam-diam tersenyum malu juga aku dan...

"Alam, kau di mana?" Panggilku

Tiba-tiba ribuan kunang yang mengitariku terbang berbaris rapi menghadapku membentuk formasi semacam tirai.

"Alam" panggilku lagi

Ribuan kunang-kunang kemudian membagi dua formasi , mereka terbang dan saling berhadapan. Kemudian dari tengah muncul sosok lelaki dengan pakaian putih bercahaya. Mata Elang yang kini bersinar lah yang membuatku mudah menebak lelaki yang nyaris tak kukenali itu.

"Alam, kau kah itu"?

Perlahan sekali ia berjalan seakan memasuki lorong istana cahaya dan menjejaki karpet merah untuk sampai padaku, ribuan kunang-kunang yang berbaris sepanjang jarak aku dan Alam itu seolah menjadi pengawal lalu ada pula ribuan kunang-kunang lainnya yang entah datang darimana terbang bersejajar di belakang Alam dan membentuk formasi "LoVE"

Aku terheran-heran dibuatnya.

"Alam, siapa kau sebenarnya?" Tanyaku agak gugup ketika Alam sudah berada tepat di depan mataku.

Dengan jarak yang sedekat ini, ternyata bukan mata Alam saja yang bercahaya, wajahnya, rambutnya, tubuhnya dan semua-semua yang ada padanya.

Menyadari kini Alam telah berubah menjadi lelaki bercahaya, membuatku tak habis pikir. Bagaimana mungkin Si pemilik mata Elang itu... 

"Tuan Putri jangan takut"

"Tuan Putri?"

"Iya, Kau lah Tuan Putriku"

"Apa maksudmu Alam, jangan bercanda. Kau siapa sebenarnya? Tanyaku semakin gugup dengan bibir gemetaran

"Aku adalah pangeran kunang-kunang dan kau adalah putri kunang-kunang"

"A..aaa..paaa?"

"Kaulah Putri Kunang-Kunang yang selama ini kucari"

Alam yang mengaku sebagai pangeran Kunang-Kunang menjentikkan jarinya, mungkin itu semacam isyarat sebab detik kemudian muncul lagi ribuan kunang-kunang datang membawa cermin yang dihadapkan padaku.

"Tidak mungkin" Aku melihat sosokku di cermin telah berubah bercahaya seperti Alam.

"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi padaku, Alam. Aku manusia, aku lahir dari rahim seorang ibu, aku tinggal di Bumi, lantas kenapa bisa sekarang tubuhku bercahaya layaknya bukan manusia?"

"Kau sekarang bukan manusia lagi, Putri?"

"Hah. Apa kau bilang? Aku bukan manusia? Tidak. Alam. Tolong bawa aku pulang"

"Kita sekarang sudah berada di negeri impian tuan Putri. Negeri Kunang-kunang. Kau tidak usah kembali lagi ke duniamu. Tinggallah bersamaku di sini"

"Aku tidak mau, aku ingin pulang" jeritku panik.

"Aku tidak akan membawamu pulang ke duniamu. Tuan Putri sudah tidak pantas tinggal di sana"

"Kenapa"?

"Karena aku mencintai tuan Putri"

"Tapi Alam, ini bukan duniaku"

"Bukankah Tuan Putri sendiri yang ingin hilang dari bumi, bukankah Tuan Putri sendiri yang ingin lari dari kenyataan, meninggalkan semua luka dan rasa sakit hati yang tuan putri alami di sana. Sungguh, bila kau kembali. Kau takkan pernah menemukan kebahagiaan"

Aku menggigit bibir. Ada semacam rekaman yang mendadak terputar di otakku. Aku menyaksikan ibuku yang meninggal di saat usiaku baru menginjak sepuluh tahun, ayah yang kemudian menikah lagi dengan seorang janda beranak satu. Anaknya adalah seorang perempuan yang sebaya denganku. Sejak kehadiran ibu tiri aku memang tak pernah merasakan yang namanya bahagia, ayah selalu saja mendahulukan istri dan anak tirinya dalam segala hal.

Bertahun-tahun aku hidup bersama mereka bagai hidup dalam penjara sampai akhirnya aku mengenal Ray, cowok cakep yang terang-terangan mencintaiku sejak SMP. Diam-diam pun aku mencintainya. Ray, yang datang menghiasi hari-hariku menjadi penuh warna, membuatku dapat tersenyum bahagia dan hati yang merona-rona. Namun, saudara tiriku berhasil mengalihkan pandangan Ray. Meski bukan hatinya. Ray pernah bilang bahwa ia sengaja mendekati saudara tiriku agar bisa lebih dekat denganku dan mendapat restu dari ayah dan ibu tiriku. Nyatanya, ia malah terjebak sendiri. Orang tuaku merestui hubungan mereka dan hari ini tepat ketika Alam membawaku pergi, mereka akan melangsungkan pernikahan.

"Kau ingat, kunang-kunang yang pernah kau tolong di tengah hutan. Kalau tidak salah hari itu bertepatan dengan malam meninggalnya ibumu" Suara  Alam membuyarkan lamunannku.

"Kunang-kunang di malam meninggalnya ibu"selorohku sambil mengais-ngais memori di sepuluh tahun lalu

"Oh ya, kunang-kunang yang terperangkap dalam lubang cacing itu?"

"Benar, kunang-kunang yang kau tolong itu adalah aku. Sejak saat itu aku merasa berutang budi dan berjanji suatu hari nanti akan membahagiakanmu"

"Dan selama ini kau menjelma menjadi manusia, sengaja untuk bersahabat denganku"

Alam mengangguk.

"Hah.. apa aku sedang bermimpi, baiklah Alam jika kau memang merasa berutang budi, kumohon lupakan saja. Aku tidak pernah menuntut imbal dari siapapun yang pernah aku tolong"

"Tapi, kau mau kan hidup bersama denganku di sini"

"Aku tidak mencintaimu seperti aku mencintai Ray, jadi aku tidak punya alasan untuk tinggal di sini"

"Tapi aku mencintaimu"

"Maaf, Kumohon biarkan aku pulang, dunia kita berbeda dan kita tak akan bisa bersatu".

"Baiklah, kalau itu permintaan tuan putri. Mungkin memang kita tidak ditakdirkan di negeri kunang-kunang. Tapi percayalah, bahwa aku adalah jodoh yang Tuhan kirimkan untuk tuan putri. Pasti kita akan bertemu lagi di bumi, menantilah hingga saat itu tiba. Saat dimana aku akan menjemputmu dan membuatmu mencintaiku meski kau tak cinta. Sekarang, silahkan pejamkan mata tuan putri dan hitunglah sampai tiga, maka tuan putri akan terbangun dari mimpi tuan Putri"

Satu..

Dua...

Tiga...

Aku melihat puluhan ribu kunang-kunang pergi bersama Alam.Dalam sekejap cahaya yang berpendar indah itu menghilang. Gelap. Hitam. Pekat. Perlahan aku membuka mata dan mendapati diriku terbaring di pulau kapuk.

*dongeng sang putri tidur

Gambar di petik di sini

You May Also Like

8 comments

  1. Asek... wah aku lama ga bikin cerpen juga nih. Jadi tetiba pengen nulis cerpen baca postingan Zhie :)

    Imajinasinya keren Zhie, semacam flash fiction yg ceritanya suka nggantung. Love this!

    ReplyDelete
  2. wah kerenn..
    cerpennya bagus. semacam flash fiction gitu. atau ini yang namanya flash fiction -_- *bingung sendiri*

    ReplyDelete
  3. ini yang gue cari! cerita yang mengandung unsur action :v *ngomong apaseh*

    ini hampir mirip cerita putri salju apa gimana seh ? :o

    ReplyDelete
  4. bagus kak. kata-katanya juga enak dibaca. khayalan kakak tinggi.
    aku suka cerpennya :D

    ReplyDelete
  5. Kak Zhie udah berapa bulan aku gak main kesini. Kak Zhie kabarnya gimana? masih di pedalaman kah?

    Ini unsur ekstrinsiknya kentara banget, warna jingga, senja, kunang-kunang.. aih, kak Zhie suka kunang-kunang? Di sana masih banyak kunang-kunang kah? sayang sekali di tempatku terakhir aku lihat kunang-kunang itu waktu masih kelas 5 SD, udah 7 tahun yang lalu.. entahlah sekarang masih ada atau tidak. Oh, mungkin gara-gara pangeran kunang-kunang patah hati cintanya ditolak, mereka tak pernah kembali lagi ke bumi.. *disambung-sambungin

    ReplyDelete
  6. Gue kira juga... beneran.... tapi tetep keren laaah. Btw gue ga pernah ngeliat kunang-kunang dalam bentuk real, dimana sih nemunya?-_-

    Dan mungkin kalo cerpen ini dibaca sama pengarang lagu mungkin dia akan terinspirasi. JIKA ENGKAU PUTRI KUNANG-KUNANG, AKANKAH KUJADI PANGERANMU, KAN KUJAGA CINTA KITA BERDUA BLAHBLAH. wkwkw absurd abis.

    Btw ditunggu yaaa cerpen selanjutnya!!!:):)

    ReplyDelete
  7. cerita mengingatka cerpen radar surabaya beberapa waktu lalu....
    beda sih....cuman ada kemiripan setting....


    keren ding....kita dibuat sadar akan adanya timbal balik....
    salah satu syarat cerpen kata guru saya adalah amanat...
    dan ini sangat full amanat

    ReplyDelete
  8. yahhh, mimpi daaaah...hehehe..
    kamu sukanya cerpen fantasy ya Zhie??? tapi ini si Alam nggak suka nyanyi "Mbah Dukun" khan?? -.-
    baguuusss Zhie, diksinya sudah mulai berkembang dan it goes smoothly!!
    lagi dong lagi bikin yang kayak gini...hehehe...

    keep writiing Zhie, siapa tahu melalui tulisanmu Adam, pangeran kunang kunang menjelma menjadi nyata @.@

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa bermanfaat dan menginspirasi kamu :)

Note :

Maaf komen yang brokenlink akan saya hapus jadi pastikan komentar kamu tidak meninggalkan brokenlink ya.