Nasi yang Terlanjur Jadi Bubur Masih Bisa Kok Dibikin Bubur Ayam yang Lezat

By Siska Dwyta - Kamis, Desember 13, 2018



بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Nasi sudah menjadi bubur, tidak mungkin jadi nasi kembali. Ungkapan yang menggambarkan penyesalan ini pasti sudah tidak asing lagi di telinga kita. Eh tapi kata Aa Gym, kalau nasi sudah jadi bubur kita harus bikin bubur ayam yang special. Kita tinggal cari kecap, ayam dan bumbu-bumbu lain biar enak. 

Maksudnya apa? 

Yang lalu biarlah berlalu. Tidak perlu larut dalam penyesalan yang berkepanjangan. Life must go on atuh. Hidup tidak berakhir hanya karena kita membuat kesalahan. Toh, kita juga tidak mungkin bisa memperbaiki kesalahan yang sudah terlanjur terjadi karena waktu mustahil berputar kembali. Jadi yang bisa kita lakukan cukuplah dengan menyesal lalu ubah penyesalan kita menjadi sesuatu yang bermakna. Seperti halnya mengubah nasi yang terlanjur lembek jadi bubur ayam yang lezat.

Well, orang yang menyesal pasti akan merasa sangat bersalah. Tentu saja, karena penyesalan memang identik dengan kesalahan. Kalau menurut KBBI; menyesal adalah merasa tidak senang atau tidak bahagia (susah, kecewa, dan sebagainya) karena (telah melakukan) sesuatu yang kurang baik (dosa, kesalahan, dan sebagainya). Maka reaksi emosi yang ditimbulkan akibat penyesalan, seperti kecewa, marah, bersedih, susah dan lain sebagainya adalah wajar. Justru yang tidak wajar bila ada orang yang bahagia dan senang setelah melakukan suatu kesalahan.

Padahal menyesal itu penting lho. Saking pentingnya, sampai-sampai salah satu syarat diterimanya taubat seseorang yang melakukan dosa besar adalah MENYESAL. Kenapa? Karena hanya orang-orang menyesal lah yang tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. So, saya tidak sependapat dengan orang-orang yang beranggapan menyesal di dunia itu tiada gunanya.

Ah, siapa bilang. Ada atau tidaknya guna dari penyesalan ini tergantung dari sikap kita. Kalau kita menyikapinya dengan hal negatif maka yang kita dapatkan juga negatif sebaliknya bila kita sikapi penyesalan dengan hal positif, hasil positif pula yang kita terima. Ada banyak kok contohnya. Lihat saja kehidupan di sekitar kita.

Orang yang menyikapi penyesalan dengah hal negatif akan larut dalam penyesalan yang berkepanjangan. Hanya karena satu kesalahan besar yang dilakukannya, dia seolah kehilangan semangat hidup pun merasa hidupnya telah berakhir. Tak heran bila orang yang seperti ini rentan terkena penyakit psikis seperti stres, depresi, ganggan jiwa bahkan paling parahnya sampai melakukan tindakan bunuh diri.

Sebaliknya orang yang menyikapi penyesalan dengan hal positif, akan bermuhasabah, merefleksi diri dan memetik pelajaran dari kesalahan yang pernah ia perbuat lalu bangkit. Penyesalannya itu  dia jadikan batu loncatan untuk melejitkan diri. Tak heran pula bila orang yang seperti ini bisa sukses dan berhasil di kemudian hari, bahkan mensyukuri kesalahan yang pernah disesalinya itu.


Kalau pengalaman saya pribadi, pernah menyesal karena asal pilih jurusan saat hendak mendaftar kuliah. Ceritanya lumayan panjang kalau pengen kepo bisa baca di sini saja yaak😃 Nah, mulanya saya sikapi penyesalan itu dengan hal negatif yakni tidak bersemangat kuliah di jurusan yang tidak saya minati. Alhasil, IPK saya selama dua semester di tahun pertama kuliah rendah banget. Malah ada satu mata kuliah yang harus saya ulangi. Tapi masa bodoh dengan IPK rendah, toh saya sudah berniat mendaftar kuliah lagi di PTN yang sama dengan jurusan yang saya incar. Qadarullaah, setelah ikut UMPTN kembali di tahun kedua saya kembali dinyatakan tidak lulus di jurusan Farmasi.

Baiklah, sejak saat itu saya mulai ikhlas menjalani kuliah di jurusan Pendidikan Matematika. Jurusan yang tidak pernah ada dalam kamus impian saya. Menjadi guru pun tidak pernah menjadi cita-cita saya sebelumnya. Alhasil, IPK saya mulai membaik di semester-semester selanjutnya, bahkan saya bisa menyelesaikan study S1 dalam jangka waktu kurang dari empat tahun. Padahal selain kuliah saya juga aktif di beberapa organisasi dan komunitas. Siapa sangka, di belakangan hari saya malah sangat bersyukur bisa kuliah di jurusan pendidikan matematika dan mencintai profesi guru yang pernah saya jalani sebelum memutuskan resign pasca nikah.


Nah, terkait tema tantangan hari ini, hal yang saat ini adalah, hmm apa ya? Saya bingung juga jawabnya. Apalagi yang saya sesali saat ini, cita-cita saya sebagai ibu rumah tangga telah terwujud. Bahkan tak berbilang rasa syukur saya karena telah dianugerahi suami yang begitu sabar menghadapi istri dengan karakter yang tak karuan macam saya ini🙊 serta mertua yang sangat baik dan adik-adik ipar yang penyayang. Kehadiran bunay yang lucu nan menggemas pun seolah telah menggenapkan kebahagiaanku. 

Kalau pun ada yang saya sesali saat ini adalah diri saya sendiri. Saya yang masih sering mengeluh, saya yang masih suka menunda-nunda pekerjaan termasuk ibadah, saya yang masih sering kali berbuat khilaf pada suami, saya yang sering pula terbawa emosi ketika menghadapi kerewelan bunay, saya yang belum bisa membahagiakan ortu, saya yang belum bisa jadi istri, ibu dan anak yang baik, saya yang masih bergelimang dosa dan masih banyaklah hal yang saya sesali karena ulah diri sendiri.

😢😢😢

Ah, berbicara tentang apa-apa yang saya sesali saat ini memang tak ada habis-habisnya. Selagi masih ada kesalahan pasti ada penyesalan. Toh, yang namanya manusia tidak pernah lepas dari salah dan khilaf. Maka wajar bila manusia seringkali menyesal. Malah lebih baik menyesal di dunia daripada di akhirat, kan? Kalau menyesal di dunia penyesalan itu masih bisa diolah jadi kenikmatan, tapi kalau di akhirat? Yup, hanya di akhiratlah penyesalan benar-benar tiada berguna. 

Semoga tulisan ini bisa jadi reminder terutama bagi diri saya pribadi. Kalau penyesalan yang kalian rasakan saat ini terkait apa? Share yuk di kolom komentar😊





  • Share:

You Might Also Like

1 komentar

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa menginspirasi.