Drama Ketika Si Bunay Sakit Pertama Kali

By Siska Dwyta - Wednesday, January 09, 2019



بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


Ibu mana sih yang tidak panik ketika mendapati buah hatinya jatuh sakit? Apalagi bagi ibu baru dengan anak yang umurnya masih di bawah 6 bulan. Masih terngiang jelas reaksi saya waktu pertama kali Bunay didera rasa sakit pasca imunisasi DPT 1. Paniknya minta ampun. Saya sampai ikutan mewek juga karena nggak tega lihat keadaan si Bunay yang terbaring lemah tak berdaya.

Kali kedua Bunay kembali merasakan sakit pasca imunisasi DPT 2. Tentu saja, saya panik lagi tapi tidak seheboh panik saat bunay sakit setelah diimunisasi DPT 1. Kenapa? Karena saya sudah membekali diri dengan ilmu. Belajar dari pengalaman sebelumnya dan mencari tahu cara mengatasi bayi yang sakit setelah diimunisasi. Lagipula, kondisi anak yang demam dan 'rewel' pasca imunisasi itu NORMAL kok.

Lalu Bagaimana kalau anak tiba-tiba sakit bukan karena efek imunisasi?

Nah, ini lain lagi ceritanya. Alhamdulillaah, sejak lahir Bunay belum pernah terserang penyakit kecuali di malam H-1 menjelang lima bulannya yang baru beranjak beberapa hari lalu. Yup, malam itu Bunay tiba-tiba jatuh sakit. Agak kaget juga, kok bisa Bunay demam padahal belum diimunisasi. Malah sempat mengira, mungkin demamnya karena mau tumbuh gigi karena itu adalah demam pertamanya di luar efek imunisasi.

Sama sekali nggak kepikiran kalau Bunay bakal sakit, terinfeksi virus di usianya yang belum genap 6 bulan. Pasalnya, setahu saya bayi ASI eksklusif memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih kuat sehingga kecil kemungkinan bisa terserang penyakit. Lha ini?

Baiklah, setelah flashback sedikit ke belakang, mungkin tiga hal ini bisa jadi penyebab mengapa Bunay yang masih diberi ASI Eksklusif jatuh sakit?

Liburan
Di penghujung tahun 2018 kemarin Bunay dibawa ikut liburan ke luar daerah. Perjalanannya lumayan jauh juga sih. Udah gitu, cuaca di daerah yang kami kunjungi puanas banget, seperti masih musim kemarau. Padahal di daerah tempat tinggal kami udah masuk musim penghujan. Dua hari pasca pulang liburan Bunay jatuh sakit. So, mungkin saja sakitnya Bunay karena faktor kecapean dan perubahan cuaca yang drastis saat pergi berlibur.

Tertular
Sebenarnya bukan cuma Bunay lho yang drop sepulang liburan. Saya dan ayahnya juga. Ayahnya batuk-batuk, sayanya kena flu. Otomatis Bunay yang masih bayi rentan banget tertular, kan?

Antibodi Menurun
Kalau alasan yang satu ini murni hipotesis saya pribadi, entah ada hubungannya atau nggak. Soalnya bulan lalu, sebelum pergi liburan saya udah kedatangan si M. Padahal si Bunay belum lulus ASIX, tapi kok si M keburu datang ya? Apa mungkin kedatangan si M menurunkan kadar zat antibodi yang terkandung dalam ASInya bunay?😂 *alasan ngaco nih

Terlepas dari apapun yang menjadi penyebabnya, sakit Bunay kali ini benar-benar menguras airmata emosi saya. Bukan semata-mata karena panik. Tapi lagi-lagi karena saya sudah membekali diri dengan ilmu. Sayangnya, ilmu yang saya pahami kontra dengan orang-orang di rumah dan ini nih yang bikin drama buangeet.

Sebagai ibunya, saya tidak rela Bunay dikasih minum obat, baik itu dalam bentuk antibiotik maupun puyer, kecuali paracetamol syrup. Itu pun karena bunay udah terlanjur meminumnya ketika sakit dan rewel pasca imunisasi. Selain itu, paracetamol juga termasuk obat yang cukup aman untuk bayi ketimbang obat puyer dan antibiotik.

Awalnya, suami pro dengan keinginan saya ini, apalagi sepertinya dia juga tahu mengenai kontroversi pemberian antibiotik pada anak-anak maupun orang dewasa yang terkena infeksi virus. Untuk lebih meyakinkan, saya sengaja memperlihatkan beberapa artikel terkait dan memang benar lho, rata-rata artikel kesehatan yang saya baca tidak menganjurkan pemberian antibiotik dan obat puyer pada anak-anak yang sakitnya masih masuk dalam kategori ringan; seperti batuk dan pilek.

Hal tersebut nyatanya bertolak belakang dengan kondisi real yang terjadi di lapangan. Faktanya, setiap anak yang demam dan terkena salesma atau common cold, saat dibawa periksa ke dokter/bidan, pasti diresepkan paracetamol, antibiotik dan obat puyer.

Itu juga resep yang didapatkan Bunay sepulang berobat dari puskesmas pembantu (Pustu) dekat rumah. Ups. Lebih tepatnya bukan berobat deh. Tadinya niat saya bawa bunay ke Pustu agar suhu tubuhnya dapat diperiksa (karena di rumah belum ada termometer pribadi), selain memenuhi perintah ayahnya yang pengen bunay harus dibawa berobat.

Alih-alih diperiksa pake termometer, disentuh pun tidak. Bidannya sebatas mengisi data, menanyakan keluhan dan memberikan obat. Itu doang. Tahu gitu, saya nggak perlu rempong-rempong bawa bunay. Cukup saya saja yang datang ke Pustu dengan membawa Kartu Identitas Anak (KIA) lalu memberitahu keluhan-keluhanan yang dialami bunay. Langsung dikasih obat. Selesai. 

Eh nggak ding, masalahnya justru saya yang ogah bunay mendapatkan obat dari bidan maupun dokter. Percuma. Kalau saya sendiri, saya nggak bakalan tega memberikan obat kimia ke bunay yang usianya baru masuk lima bulan. Toh, menurut saya kondisi sakit bunay saat ini masih tergolong sakit yang belum terlalu membutuhkan obat.

Mungkin 'kedengarannya' aneh ya, anak sakit kok ibunya ngotot nggak mau kasih obat? Gimana mau cepat sembuh kalau anaknya nggak dikasih obat?

Ya, ngapain juga dikasih obat bila obat tersebut hanya menimbulkan efek samping atau mungkin juga alergi, tidak menyembuhkan. Saya berani bilang gini, karena saya punya ilmunya. Walau ilmu "menjadi dokter bagi buah hati sendiri" yang saya miliki masih secuil dan baru sebatas didapatkan dari referensi online alias lewat googling, media sosial termasuk youtube, namun itu saja sudah sangat membantu. 

Setidaknya saya jadi melek akan kesehatan si kecil dan paham langkah-langkah apa saja yang harus saya ambil ketika anak sakit. Dengan ilmu itu juga, saya bisa menghadapi sakit Bunay dengan PANIK YANG SEWAJARNYA. Malah sebenarnya saya bisa lumayan santai menghadapi sakit bunay kali ini.

Udah deh Bunay nggak usah dikasih obat macem-macem ntar juga sembuh sendiri.

Tapi karena ujung-ujungnya Bunay dikasih minum obat puyer dan antibiotik TANPA PERSETUJUAN BUNDANYA, saya jadi nggak bisa santai dong, yang ada hati saya sakit banget. Padahal tadinya si ayah sudah setuju, it's ok, kita kasih bunay paracetamol saja. No antibiotik. No obat puyer.

Eh si ayah malah berubah pikiran waktu demam dan batuk pilek Bunay kambuh lagi. Malah makin parah, sepertinya. Di tambah rewel dan gelisahnya Bunay juga kian menjadi-jadi. Paniklah se-isi rumah, terutama ayahnya. Jadi tanpa pikir panjang, dia langsung ambil keputusan, si Bunay harus dikasih minum obat puyer dan antibiotik dari Pustu saat itu juga tanpa peduli bagaimana perasaan dan keberatan saya sebagai bundanya Bunay.

Oh ya, sebelumnya Bunay sempat sehari sembuh setelah dua hari demam. Waktu bunay sembuh sehari itu, malah saya yang jatuh sakit. Demam, batuk, pilek, sakit kepala plus menggigil. Pokoknya badan saya lemas banget, saking nggak kuatnya saya terpaksa minum obat meski tahu konsekuensinya, obat yang saya minum bisa berpengaruh ke ASI.

Tapi ya mau gimana lagi, sakit kali itu bener-bener nggak bisa saya tahan. Itu pun minum obatnya cuma sehari saja sih, karena setelah minum empat jenis obat yang juga saya dapatkan dari bidan Pustu, muncul bercak-bercak merah pada kulit bunay, terutama di bagian perutnya. Sepertinya alergi obat yang saya minum deh. Jadi esok harinya, saya langsung stop minum obat sekali pun kondisi belum sepenuhnya pulih. Setelah berhenti minum obat, baru deh bercak-bercak merah di kulit bunay menghilang. Sayangnya, saat kondisi saya mulai membaik, kondisi bunay drop kembali ;(

Nah, di sini lah dimulai dramanya...

Tahu nggak, saya sampai dikira lagi kena syndrome baby blues, bahkan bisa dianggap gila juga kali ya hanya karena saya "keras kepala" tidak mau membiarkan bunay minum obat dan antibiotik yang didapatkan dari bidan Pustu.

Katanya lagi, saya lebih percaya google daripada dokter/bidan. Ya, jelas dong saya percaya dengan SUMBER TERPERCAYA yang saya dapatkan dari GOOGLE. Lagian nggak semua informasi yang ada di GOOGLE isinya HOAX, kan? Malahan selama ini GOOGLE telah banyak membantu saya melewati proses demi proses untuk menjadi seorang IBU.

Mulai dari hamil, melahirkan, menyusui hingga seterusnya. Saya banyak belajar dari GOOGLE, dari pengalaman berharga ibu-ibu yang doyan nulis dan suka membagikan pengalamannya itu di situs jejaring sosial dan saya temukan via GOOGLE. Dari artikel-artikel kesehatan yang narasumber bahkan penulisnya sendiri adalah DOKTER. Dari website-website kesehatan yang dikelola langsung oleh ahlinya, seperti ALODOKTER, KLIKDOKTER, DOKTERSEHAT, HALLOSEHAT dan lain sebagainya. Jadi apa yang salah bila saya berguru pada GOOGLE? Toh, yang saya pelajari di sana sama sekali TIDAK MENYESATKAN, justru MENCERAHKAN.

Lagipula, mana bisa saya percaya gitu saja dengan bidan yang memberikan bunay resep obat tanpa memeriksanya. Disentuh pun tidak. Eh si bunay langsung dikasih antibiotik. Dikasih pula obat puyer yang notabenenya termasuk obat tidak rasional.

Tidak sampai di situ, demi meyakinkan dan bikin saya percaya, suami ngajak periksa bunay sekali lagi. Jelas saya nolak, percuma! Sebab itu hanya akan menambah masalah baru. Yup, pergi periksa ke dokter atau bidan sama saja dengan pergi mengambil OBAT BARU yang sejenis. Nah, masalahnya kan, saya tidak mau buah hatiku yang umurnya masih hitungan bulan dikasih obat macem-macem, apalagi jika obat tersebut masuk kategori OBAT TIDAK RASIONAL.

Ternyata benar, kan? Sepulang dari periksa untuk kedua kalinya, bunay diresepkan lagi obat yang sejenis (kali kedua itu bunay dibawa periksa ke Puskesmas Kelurahan). Malah jenis obat yang dituliskan dokter (yang tampaknya bukan dokter specialis anak) buanyaak bangeet tapi yang keluar cuma dua jenis. Paracetamol syrup dan obat puyer yang pembungkus dan isinya sama persis dengan obat puyer yang dikasih bidan Pustu. Cuma dosisnya agak banyak, karena disesuaikan dengan BB bunay.

Padahal hasil timbangan bunay saat itu bermasalah, lho. Bulan lalu beratnya saja baru 7kg lewat dikit, masa sekarang' sudah menyentuh angka 11kg. Hah, yang benar saja. Pulangnya si ayah ngotot, ngasih bunay obat puyer yang baru didapatkan dari Puskesmas itu. Jelas-jelas dosisnya berlebihan sekali. Entahlah, saya tidak tahu bagaimana caranya agar pikiran saya dan pikiran suami sejalan dalam hal ini. Kalau saya angkat suara, SALAH, tapi kalau DIAM juga saya yang merasa bersalah.

Sungguh, saya tidak rela tubuh si bunay dimasuki obat-obat yang sebenarnya tidak dia butuhkan

Eniwei, postingan saya kali ini sama sekali tidak bermaksud, menyoroti, menyinggung atau menyalahkan siapa-siapa. Kalau pun ada yang patut disalahkan, itu adalah DIRI SAYA sendiri. Karena sebagai bundanya, saya tidak bisa berbuat apa-apa ketika akhirnya bunay diminumkan antibiotik dan obat puyer yang dicampur dengan sedikit air putih. Yang bisa saya lakukan hanyalah menangis di kamar. See! Betapa lemahnya saya. Betapa saya tidak mampu memahamkan orang rumah agar tidak terburu-buru memberikan obat pada bunay. 

Saya tahu, semua sayang bunay, semua pengen bunay cepat sembuh. Toh, yang mereka pahami, hanya dengan memberikan obat, bunay bisa segera pulih kembali. Tentu, tidak ada yang salah dengan itu. Justru saya pribadi yang merasa bersalah, karena tidak berusaha meluruskan pemahaman mereka.

Sejujurnya, yang bikin saya merasa sangat berat ketika bunay hendak diberi obat adalah karena dia masih ASIX. Bukibu pejuang ASI pasti tahu benar, memberikan ASI eksklusif pada anak bukan perkara yang mudah. Sedari lahir, saya memang berjuang agar 'makanan' yang masuk ke dalama tubuh bunay hanya ASI, ASI dan ASI.

Makanya, saya merasa berat memberikan bunay sesuatu selain ASI, sekalipun itu adalah obat yang dianggap tidak menggugurkan status ASI Eksklusif. Apalagi setelah tahu ilmunya, bahwa penyakit yang dialami bunay (demam dan bapil) sama sekali tidak membutuhkan OBAT JENIS APAPUN. Sayangnya, di kota tempat tinggal saya ini tidak ada dokter specialis anak seperti sosok dokter Apin yang terang-terangan tidak memberikan resep obat pada anak yang mengalami sakit ringan.

FYI, sebelum menutup postingan ini silakan kamu baca sepenggal artikel yang saya kutip di bawah ini. Lumayan, bisa nambah informasi juga buat kamu agar ketika si kecil(mu) sakit pertama kali, kamu nggak perlu ngalamin drama kayak saya ini.

Mengutip buku Intisari Seri Kesehatan Anak: Q & A Smart Parents For Healthy Children, karya Dr. Purnamawati S. Pujiarto SpAK,MMPed, disebutkan penyakit harian anak tidak butuh banyak obat.

Salesma cuma butuh parasetamol. Diare (kecuali yang berdarah) hanya memerlukan cairan (ASI, oralit). Sementara itu, sakit berat seperti ginjal, leukimia, kelainan jantung, dll memang butuh banyak obat. Tapi, anak yang menderita sakit berat sejauh ini persentasenya kecil. Meski begitu, masih banyak yang berpendapat bahwa puyer adalah obat terbaik buat anak Indonesia.

Sebab jika anak butuh banyak obat, puyer bisa menjadi alternatif karena harganya jadi lebih murah. Ada pula yang beragurmentasi puyer is the best karena bisa didesain individual. Akan tetapi, sebuah workshop yang disponsori WHO sama sekali tidak merekomendasikan penggunaan puyer.

Obat yang dibuka dari bungkusnya, digerus sendiri, lalu dibagikan ke masing-masing kertas pembungkus tanpa ditimbang tentu saja rentan menghadirkan kesalahan. Sebut saja bagaimana perhitungan farmakokinetiknya? Bagaimana interaksi obatnya? Bagaimana sterilitasnya? dll.

Ternyata, negara-negara berkembang peserta workshop WHO itu hanya Indonesia yang masih mengaplikasikan puyer. Bahkan, di Tanzania, negara yang jauh lebih miskin dari Indonesia, puyer sudah tidak ada (*)

Nah, batuk pilek demam dan diare sampai tahap tertentu sesungguhnya adalah cara tubuh untuk bertahan ketika virus masuk ke dalam tubuh (infeksi virus). Batuk menjaga supaya jalan napas bersih dari lendir yang dihasilkan lebih banyak ketika ada infeksi virus dan batuk juga menjaga supaya kuman baru tidak masuk ke dalam tubuh melalui saluran pernapasan di saat tubuh sedang berusaha melawan virus yang sudah masuk. Begitu juga dengan pilek, tubuh berusaha mengeluarkan virus melalui lendir yang diproduksi hidung. Pilek yang mulai kehijauan sama sekali tidak berarti bahwa ada infeksi bakteri. Kehijauan semata-mata karena banyak sel darah putih yang terkandung dalam lendir yang bereaksi dengan oksigen yang terjadi justru di akhir masa sakit atau dalam proses penyembuhan. Bila hidung tersumbat, ASI dapat diteteskan pada lubang hidung untuk membantu mengurangi sumbatan karena ASI mengandung anti infeksi dan anti radang.

Bagaimana dengan demam? Demam adalah tanda bahwa pertahanan tubuh sedang bekerja. Setiap kali ada kuman masuk ke dalam tubuh, secara otomatis tubuh akan bereaksi dan reaksi ini menghasilkan zat yang menyebabkan suhu tubuh naik. Suhu tubuh yang naik ini juga membuat sel pertahanan tubuh dapat bekerja lebih optimal. Oleh karena itu kita tidak disarankan untuk mengobati demam yang ringan agar masa sakit dapat berlangsung lebih singkat karena tubuh diberi kesempatan untuk melawan si kuman.

Benar bahwa demam dapat menyebabkan dehidrasi dan kejang, oleh karena itu perlu dipantau, diberi cairan lebih banyak (ASI lebih baik), dikompres hangat dan diberi obat demam hanya bila suhu di atas 38,5 derajat celcius (pada anak usia 1 tahun atau lebih). Diare akut tanpa perdarahan umumnya disebabkan juga oleh virus. Diare membantu tubuh membuang virus yang masuk, sehingga pemberian anti diare pada anak tidaklah dianjurkan oleh WHO. Tata laksana diare yang utama adalah mengganti cairan yang keluar. ASI adalah pengganti cairan terbaik, oralit dapat diberikan jika diperlukan.

Pedoman tata laksana kasus bagi dokter maupun bidan dan perawat sebenarnya telah lama ada. WHO telah mengenalkan Manajemen Terpadu Balita Sakit untuk bidan dan perawat. Untuk dokter WHO telah mengenalkan Pedoman Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Sebetulnya dengan mematuhi pedoman yang ada, rasionalitas tata laksana yang dilakukan tenaga kesehatan dapat lebih terarah.

Namun, hal ini juga memerlukan kerjasama dari para ayah dan ibu. Tekanan kepada tenaga kesehatan untuk memberikan resep, terutama resep tertentu seperti antibiotik atau puyer atau vitamin botolan kerap terjadi (vitamin jauh lebih baik yang berasal dari ASI dan buah bukan?).

Tahukan ayah ibu, bahwa Indonesia adalah satu-satunya Negara yang masih meresepkan obat berbentuk puyer. Puyernya sendiri tidak terlalu masalah, yang berbahaya adalah praktik mencampur aneka obat menjadi satu yang belum tentu diperlukan bayi kita. Padahal berdasarkan pedoman untuk tata laksana kasus-kasus ringan di atas tidak memerlukan peresepan apapun, kecuali untuk obat anti demam bila ada indikasi. Setiap kunjungan ke tenaga kesehatan, pastikan buah hati kita mendapatkan hanya yang terbaik.

ASI adalah investasi yang luar biasa bagi kesehatan dan tumbuh kembang anak kita, jangan sampai penggunaan obat yang tidak rasional merusak investasi ini. Mari kita bersama mengusahakan agar setiap anak Indonesia mendapatkan semuanya serba Standard Emas, tidak saja soal feeding, tapi juga ketika sakit dia mendapatkan tata laksana yg berstandar emas: bedasarkan pedoman, berbasis bukti yang kuat. Hanya yang terbaik yang pantas kita berikan bagi anak-anak kita bukan ? (**)

Salam,


Sumber;
*   tribunnews.com

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa bermanfaat dan menginspirasi kamu :)