Pasca Melahirkan Ibu Rentan Mengalami Baby Blues, PPD maupun Psychosis, Kenali Perbedaan Ketiganya

By Siska Dwyta - Friday, January 18, 2019

Bagaimana rasanya menjadi seorang ibu yang baru dikarunia buah hati? Bahagia, tentu saja. Namun perasaan bahagia itu hanya hadir 'sesaat' setelah bunay lahir. Selanjutnya apa yang saya rasakan? Kamu mungkin bisa menebaknya.

Yup, saya sempat mengalami baby blues bahkan mungkin juga sampai tahap depresi pasca melahirkan atau lebih dikenal dengan PPD (Post Partum depression). Sebenarnya saya baru tahu si baby blues ini waktu hamil trimester pertama. Tahunya pun setelah dapat kabar, salah seorang saudari yang baru sekitar dua bulan melahirkan mengalami gejala PPD malah sepertinya sudah sampai tahap psychosis. Tadinya sempat pula mengira baby blues dan PPD merupakan gangguan kondisi psikologis yang sama namun setelah cari referensi terkait keduanya baru ngeh. Ternyata si baby blues dan PPD ini berbeda. Malah saya baru tahu, selain si baby blues dan PPD ada juga yang namanya Post Partum Psychosis (PPP) Dimana letak perbedaan ketiganya? Yuk, kita bahas satu-satu.


Baby Blues Syndrome (BBS)

Baby Blues Syndrome (BBS) merupakan gejala psikologis paling ringan yang dialami ibu pasca melahirkan. Sebenarnya bukan hal yang aneh bila seorang ibu yang baru melahirkan mengalami BBS. Kondisi ini masih termasuk normal karena menurut penelitian, sekitar hampir 80% ibu yang baru pertama kali melahirkan mengalaminya, termasuk saya.

Sempat merasa PD banget dan sok yakin kalau saya nggak bakal kena baby blues. Malah, ketika akhirnya kena pun saya masih diliputi ragu dan bimbang. Ini baby blues atau bukan ya? Padahal jelas-jelas gejala yang saya alami pasca melahirkan persis dengan gejala BBS yang saya ketahui.

Beberapa gejala BBS antara lain;
  • Sensitif atau mudah tersinggung
  • Sering menangis tanpa alasan yang jelas
  • Sering merasa khawatir
  • Mudah lelah
  • Mudah kesal
  • Tidak percaya diri
  • Sulit istirahat
Kenapa si baby blues bisa muncul?

Setidaknya ada dua faktor yang mempengaruhi kondisi psikologis ibu pasca melahirkan, yakni perubahan hormon dan tekanan sebagai ibu baru

Kalau penyebabnya karena perubahan hormon, saya akui, memang benar adanya. Karena sejak hamil pun saya sudah merasakan efek dari perubahan hormon. Yang tadinya nggak bisa makan pedes, tiba-tiba jadi doyan makan sambal, yang sebelum hamil ngotot banget tinggal berdua bareng suami tapi sekalinya hamil pengen tinggal lagi sama mertua, yang sebelumnya semangat sekali ngeblog tapi pas tahu tengah berbadan dua langsung mogok lagi ngeblognya, malah lebih seneng menghabiskan waktu luang dengan nonton film ketimbang menulis dan masih banyak lah perubahan-perubahan lainnya yang saya alami semasa hamil dan saya curiga penyebabnya adalah karena hormon.

Tapi setidaknya mood swings yang melanda saya semasa hamil tidak separah yang saya rasakan pasca melahirkan. Beneran deh, setelah melahirkan suasana hati saya parah banget. Baru sejenak merasa senang eh sudah sedih lagi, tidak lama kemudian sebel bin jengkel setelah itu marah-marah dalam hati nggak jelas. Ujung-ujungnya jadi nangis tanpa sebab yang pasti.

Pulang-pulang suami keheranan, mendapati istrinya dengan mata sembab plus bengkak. Ditanya kenapa, saya cuma diam karena nggak tahu mau jawab apa. Belum lagi dengan perasaan yang super duper sensitif.

Kalau penyebabnya karena tekanan sebagai seorang ibu, itu hal yang baru bagi saya. Dan memang benar juga. Buanyaak sekali tekanan yang saya dapatkan setelah melahirkan. Paling sering tertekannya bila si bunay mulai rewel. Masalahnya kalau bunay rewel, saya merasa saya yang disalahkan. Dibilang ASI kuranglah, nggak cukuplah, nggak adalah, apalah. Ya Allaah, hati saya sakit banget. Rasanya seperti jauh lebih sakit dikomentarin gitu daripada sakit saat mengalami kontraksi. So, gimana saya nggak merasa tertekan coba. Mana perhatian semua orang rumah lebih tercurah pada si bunay, padahal bundanya juga butuh diperhatikan lebih.

Oh ya, umumnya BBS muncul beberapa hari hingga 2 pekan pasca melahirkan dan bisa hilang dengan sendirinya. Selain itu baby blues juga masih tergolong depresi yang ringan. Meski syndrome yang dianggap normal terjadi pada ibu pasca melahirkan ini dianggap ringan namun tidak bisa juga dianggap sepele sebab bila tidak tertangani dengan baik akan berujung pada depresi yang lebih berat seperti PPD maupun PPP.

Post Partum Depression (PPD)

Post partum depression (PPD) merupakan gangguan psikologis yang juga dialami ibu pasca melahirkan namun gejalanya lebih berat dibanding BBS. Berbeda dengan baby blues, hanya sekitar 10% ibu yang baru melahirkan mengalami PPD. Umumnya gejala PPD hampir sama dengan BBS, yang membedakan adalah waktu terjadinya depresi. Jika BBS dapat hilang dalam jangka waktu paling lama dua pekan, PPD akan cenderung berlangsung lebih lama yakni hingga setahun pasca melahirkan.

Keduanya juga bisa dibedakan dengan melihat pola tidur si ibu. Jika ibu bisa tidur saat anggota keluarga lainnya menjaga bayi maka kemungkinan besar ibu hanya mengalami BBS. Akan tetapi jika si ibu kesulitan tidur sekalipun ada yang menjaga bayinya maka kemungkinan depresinya sudah sampai pada tingkat PPD

Beberapa gejala PPD antara lain;
  • Sering merasa sedih atau murung
  • Sering menangis tanpa sebab yang jelas
  • Selalu lemas dan lelah
  • Sulit tidur
  • Hilang nafsu makan
  • Mudah lupa
  • Kurang konsentrasi
  • Ada perasaan takut menyakiti bayi
  • Ada perasaan khawatir tidak bisa merawat bayinya dengan baik
  • Timbul perasaan bahwa ia tidak bisa menjadi ibu yang baik
Menurut alodokter, penyebab PPD belum diketahui secara pasti. Namun ada beberapa faktor yang bisa jadi pemicu munculnya depresi ini, diantaranya;
  • Penurunan kadar hormon yang drastis
  • Gangguan emosional
  • Pernah mengalami depresi
  • Stres akibat kesulitan finansial
  • Memiliki masalah dengan pasangan
  • Tidak ada dukungan dari keluarga
Nah, kenapa saya mengaku mungkin juga mengalami depresi sampai tahap PPD, karena pola tidur saya sejak si bunay brojol mulai bermasalah. Bayangkan, tidur saya hanya sekitar 2-3 jam, karena hampir tiap malam saya harus begadang sementara sepanjang hari saya tidak bisa tidur sekalipun ngantuk berat dan itu berlangsung selama hampir 2 bulan lamanya. Selain sulit tidur, beberapa gejala PPD yang juga saya alami yaitu suka menangis tanpa sebab, kurang konsentrasi, daya ingatan saya sepertinya berkurang alias mudah lupa, sering merasa lelah bahkan sering pula muncul bayangan rasa takut kalau-kalau saya menyakiti si bunay.

Pun yang menjadi penyebabnya mungkin karena orang-orang terdekat saya belum sadar akan gangguan psikologis yang saya alami pasca melahirkan, malah menganggap saya terlalu manja sampai bisa terkena si baby blues, ditambah dengan tekanan-tekanan yang saya dapatkan sebagai ibu baru dan mungkin juga karena sebelumnya saya sudah pernah mengalami depresi.

Baca juga Gangguan Psikologis yang Saya Alami Setelah Menikah

Syukurnya gejala PPD yang mungkin saya alami masih masuk kategori ringan, karena pada kasus ibu yang mengalami PPD tingkat akut akan muncul keinginan untuk bunuh diri.

Nah, seperti halnya baby blues, PPD yang tidak ditangani dengan baik juga akan menyeret si ibu pada depresi lanjutan yang lebih parah yakni Post Partum Psychosis Depression (PPP)

Post Partum Psychosis (PPP)

Ternyata masih ada lho depresi pasca melahirkan yang lebih parah dibanding PPD. Mungkin kamu pernah nonton atau baca berita, ada seorang ibu membunuh anaknya dengan cara yang sadis. Konon si ibu melakukannya karena mengikuti bisikan-bisikan yang tidak bisa didengar oleh orang lain. Kira-kira apa yang terlintas dibenakmu?

Kok bisa-bisanya ada seorang ibu yang tega membunuh anak kandungnya sendiri? Apa bisikan tersebut muncul karena si ibu sedang mendalami "ilmu"?

Mungkin reaksi dengan kalimat seperti itu yang muncul di benakmu, lalu dengan mudahnya menghakimi tanpa tahu alasan di balik insiden mengenaskan tersebut. Padahal boleh jadi si ibu bukannya tega tapi ia hanya sedang berada dalam fase tidak sadar karena mengidap gangguan psikologis yang namanya Post Partum Psychosis.

Post Partum Psychosis (PPP) merupakan gangguan pasca melahirkan yang jauh lebih berat daripada BBS bahkan PPD. Gangguan ini bisa terjadi mulai dari hari ke 2 hingga 2-3 tahum pasca melahirkan.

Beberapa gejala PPP antara lain;
  • Mengalami halusinasi
  • Sering bingung
  • Susasana mood yang mudah berubah
  • Pikiran tak beraturan
  • Ingin menyakiti diri dan bayinya
Penyebab PPP pun belum diketahui pasti namun faktor-faktor seperti perubahan hormon, kelelahan mengurus bayi, tekanan-tekanan yang didapatkan atau persoalan hidup yang luar biasa sulitnya dan tidak mampu ditanggung ibu diduga dapat memicu munculnya gangguan psikologis ini.


Well, ketiga jenis gangguan psikologis yang dialami ibu pasca melahirkan di atas tidak bisa dianggap sepele lho, sekalipun gangguannya baru sebatas BBS yang belum sampai tahap depresi.

Di luar negeri, awarness terhadap BBS, PPD maupun PPP sudah mulai banyak, sayangnya di Indonesia ibu yang mengalami gejala di atas, terutama PPD dan PPP paling cuma dijadikan bahan perbincangan bahkan dianggap sebagai aib dan mendapatkan cemooh.

Padahal gangguan psikologis tersebut termasuk kondisi yang gawat darurat sebab dapat membahayakan nyawa sang ibu dan bayinya. Kalau mau diibaratkan dengan penyakit fisik, BBS masih dianggap penyakit ringan tapi kalau sudah sampai tahap PPD akut dan PPP itu penyakitnya sudah parah banget. Harus segera di rujuk ke rumah sakit dan dirawat secara intensif.

Jadi jika kamu mendapati ibu yang mengalami gejala-gejala di atas setelah melahirkan, terutama bila gejalanya terjadi lebih dari dua pekan, please jangan dibiarkan begitu saja. Beri perhatian lebih atau kalau perlu segera ajak dia menemui psikolog. Jangan tunggu sampai keadaannya makin parah.

Kasihan bayinya😢😢😢

Iya, bayi yang baru lahir kan masih sangat bergantung pada ibunya. Apalagi setiap bayi punya hak untuk mendapatkan "makanan terbaik" dari si ibu. Jangan sampai karena kita cuek dengan kondisi psikologis yang dialami pasangan, saudara atau anak kita sendiri setelah melahirkan, hak si kecil untuk mendapatkan ASI tidak terpenuhi.

Ketahuilah, ibu yang baru melahirkan rentan banget mengalami stress yang sangat mungkin berujung pada depresi maupun pshychosis. Jadi dukungan orang-orang terdekat terutama suami itu sangat-sangat penting dan ia butuhkan.  

Sekian dulu sharing saya terkait gangguan psikologis yang rentan dialami ibu pasca melahirkan, kalau kamu punya tanggapan sila share di kolom komentar ya :) 

  • Share:

You Might Also Like

3 comments

  1. aih keren infonya,semoga lebih banyak perempuan yang terbuka mengenai gejala yang dirasakanya.Sehinga memudahkan suami,teman dan keluarga memberikan support yg diperlukan.

    ReplyDelete
  2. gejala bbs rupanya banyak juga yah, kudu waspada nih kalo ketemu mamah muda wkwkwk

    ReplyDelete
  3. Aku juga yang termasuk BBS mba awal melahirkan dulu, tiba tiba nangis aja dan kalo anakku jauh dariku aku nangis, padahal cuma digendong sama neneknya. Memang ibu melahirkan harus banyak diberi dorongan bantuan dan semangat mba, apalagi dari keluarga dekat baik suami, orang tua atau mertua, jadi belajarnya tidak akan semakin parah.

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa bermanfaat dan menginspirasi kamu :)