Pasca Melahirkan Ibu Rentan Mengalami Baby Blues, PPD maupun Psychosis, Kenali Perbedaan Ketiganya

by - Friday, January 18, 2019

Bagaimana rasanya menjadi seorang ibu yang baru dikarunia buah hati? Bahagia, tentu saja. Namun perasaan bahagia itu hanya hadir 'sesaat' setelah Bunay lahir. Selanjutnya apa yang saya rasakan? Kamu mungkin bisa menebaknya.

Yup, saya sempat mengalami baby blues bahkan mungkin juga sampai tahap depresi pasca melahirkan atau lebih dikenal dengan PPD (Post Partum depression). Sebenarnya saya baru tahu si baby blues ini waktu hamil trimester pertama. Tahunya pun setelah dapat kabar, salah seorang saudari yang baru sekitar dua bulan melahirkan mengalami gejala psikologi seperti baby blues malah sepertinya sudah sampai tahap PPD.

Tadinya sempat pula mengira baby blues dan PPD merupakan gangguan kondisi psikologis yang sama namun setelah cari referensi terkait keduanya baru ngeh. Ternyata si baby blues dan PPD ini berbeda. Saya pun baru tahu, selain si baby blues dan PPD ada juga yang namanya Post Partum Psychosis (PPP) Dimana letak perbedaan ketiganya? Yuk, kita bahas satu-satu.


Baby Blues Syndrome (BBS)

Baby Blues Syndrome (BBS) merupakan gejala psikologis paling ringan yang dialami ibu pasca melahirkan. Sebenarnya bukan hal yang aneh bila seorang ibu yang baru melahirkan mengalami BBS. Kondisi ini masih termasuk normal karena menurut penelitian, sekitar hampir 80% ibu yang baru pertama kali melahirkan mengalaminya.

Sempat merasa PD banget dan sok yakin kalau saya nggak bakal kena baby blues. Malah, ketika akhirnya kena pun saya masih diliputi ragu dan bimbang. Ini baby blues atau bukan ya? Padahal jelas-jelas gejala yang saya alami pasca melahirkan persis dengan gejala BBS yang saya ketahui.

Beberapa gejala BBS antara lain;
  • Sensitif atau mudah tersinggung
  • Sering menangis tanpa alasan yang jelas
  • Sering merasa khawatir
  • Mudah lelah
  • Mudah kesal
  • Tidak percaya diri
  • Sulit istirahat
Kenapa si baby blues bisa muncul?

Setidaknya ada dua faktor yang mempengaruhi kondisi psikologis ibu pasca melahirkan, yakni perubahan hormon dan tekanan sebagai ibu baru

Kalau penyebabnya karena perubahan hormon, saya akui, memang benar adanya. Karena sejak hamil pun saya sudah merasakan efek dari perubahan hormon. Yang tadinya nggak bisa makan pedes, tiba-tiba jadi doyan makan sambal. Yang sebelum hamil ngotot banget tinggal berdua bareng suami sekalinya hamil pengen kembali tinggal di rumah mertua, Yang sebelumnya semangat sekali ngeblog tapi pas tahu tengah berbadan dua langsung mogok lagi ngeblognya, malah lebih seneng menghabiskan waktu luang dengan nonton film ketimbang menulis dan masih banyaklah perubahan-perubahan lainnya yang saya alami semasa hamil dan saya curiga penyebabnya adalah karena hormon.

Tapi setidaknya mood swings yang melanda saya semasa hamil tidak separah yang saya rasakan pasca melahirkan. Beneran deh, setelah melahirkan suasana hati saya parah banget. Baru sejenak merasa senang eh sudah sedih lagi, tidak lama kemudian sebel bin jengkel setelah itu marah-marah dalam hati nggak jelas. Ujung-ujungnya jadi nangis tanpa sebab yang pasti.

Pulang-pulang suami keheranan, mendapati istrinya dengan mata sembab plus bengkak. Ditanya kenapa, saya cuma diam karena nggak tahu mau jawab apa. Belum lagi dengan perasaan yang super duper sensitif.

Kalau penyebabnya karena tekanan sebagai seorang ibu, itu hal yang baru bagi saya. Dan memang benar juga. Buanyaak sekali tekanan yang saya dapatkan setelah melahirkan. Paling sering tertekannya bila si Bunay mulai rewel. Masalahnya kalau Bunay rewel, saya merasa saya yang disalahkan. Dibilang ASI kuranglah, nggak cukuplah, nggak adalah, apalah. Ya Allaah, hati saya sakit banget. Rasanya seperti jauh lebih sakit dikomentarin gitu daripada sakit saat mengalami kontraksi. So, gimana saya nggak merasa tertekan coba. Mana perhatian semua orang rumah lebih tercurah pada Bunay, padahal bundanya juga butuh diperhatikan lebih.

Oh ya, umumnya BBS muncul beberapa hari hingga 2 pekan pasca melahirkan dan bisa hilang dengan sendirinya. Selain itu baby blues juga masih tergolong depresi yang ringan. Meski syndrome yang dianggap normal terjadi pada ibu pasca melahirkan ini dianggap ringan namun tidak bisa juga dianggap sepele sebab bila tidak tertangani dengan baik akan berujung pada depresi yang lebih berat seperti PPD maupun PPP.

Post Partum Depression (PPD)

Post partum depression (PPD) merupakan gangguan psikologis yang juga dialami ibu pasca melahirkan namun gejalanya lebih berat dibanding BBS. Berbeda dengan baby blues, hanya sekitar 10% ibu yang baru melahirkan mengalami PPD. Umumnya gejala PPD hampir sama dengan BBS, yang membedakan adalah waktu terjadinya depresi. Jika BBS dapat hilang dalam jangka waktu paling lama dua pekan, PPD akan cenderung berlangsung lebih lama yakni hingga setahun pasca melahirkan.

Keduanya juga bisa dibedakan dengan melihat pola tidur si ibu. Jika ibu bisa tidur saat anggota keluarga lainnya menjaga bayi maka kemungkinan besar ibu hanya mengalami BBS. Akan tetapi jika si ibu kesulitan tidur sekalipun ada yang menjaga bayinya maka kemungkinan depresinya sudah sampai pada tingkat PPD

Beberapa gejala PPD antara lain;
  • Sering merasa sedih atau murung
  • Sering menangis tanpa sebab yang jelas
  • Selalu lemas dan lelah
  • Sulit tidur
  • Hilang nafsu makan
  • Mudah lupa
  • Kurang konsentrasi
  • Ada perasaan takut menyakiti bayi
  • Ada perasaan khawatir tidak bisa merawat bayinya dengan baik
  • Timbul perasaan bahwa ia tidak bisa menjadi ibu yang baik
Menurut alodokter, penyebab PPD belum diketahui secara pasti. Namun ada beberapa faktor yang bisa jadi pemicu munculnya depresi ini, diantaranya;
  • Penurunan kadar hormon yang drastis
  • Gangguan emosional
  • Pernah mengalami depresi
  • Stres akibat kesulitan finansial
  • Memiliki masalah dengan pasangan
  • Tidak ada dukungan dari keluarga
Nah, kenapa saya mengaku mungkin juga mengalami depresi sampai tahap PPD, karena pola tidur saya sejak si Bunay brojol mulai bermasalah. Bayangkan, tidur saya hanya sekitar 2-3 jam, karena hampir tiap malam saya harus begadang sementara sepanjang hari saya tidak bisa tidur sekalipun ngantuk berat dan itu berlangsung selama hampir 2 bulan lamanya. Selain sulit tidur, beberapa gejala PPD yang juga saya alami yaitu suka menangis tanpa sebab, kurang konsentrasi, daya ingatan saya sepertinya berkurang alias mudah lupa, sering merasa lelah bahkan sering pula muncul bayangan rasa takut kalau-kalau saya menyakiti si bunay.

Pun yang menjadi penyebabnya mungkin karena orang-orang terdekat saya belum sadar akan gangguan psikologis yang saya alami pasca melahirkan, malah menganggap saya terlalu manja sampai bisa terkena si baby blues. Ditambah dengan tekanan-tekanan yang saya dapatkan sebagai ibu baru dan mungkin juga karena sebelumnya saya sudah pernah mengalami depresi.

Baca juga Gangguan Psikologis yang Saya Alami Setelah Menikah

Syukurnya gejala PPD yang mungkin saya alami masih masuk kategori ringan, karena pada kasus ibu yang mengalami PPD tingkat akut akan muncul keinginan untuk bunuh diri.

Nah, seperti halnya baby blues, PPD yang tidak ditangani dengan baik juga akan menyeret si ibu pada depresi lanjutan yang lebih parah yakni Post Partum Psychosis Depression (PPP)

Post Partum Psychosis (PPP)

Ternyata masih ada lho depresi pasca melahirkan yang lebih parah dibanding PPD. Mungkin kamu pernah nonton atau baca berita, ada seorang ibu membunuh anaknya dengan cara yang sadis. Konon si ibu melakukannya karena mengikuti bisikan-bisikan yang tidak bisa didengar oleh orang lain. Kira-kira apa yang terlintas dibenakmu?

Kok bisa-bisanya ada seorang ibu yang tega membunuh anak kandungnya sendiri? Apa bisikan tersebut muncul karena si ibu sedang mendalami "ilmu"?

Mungkin reaksi dengan kalimat seperti itu yang muncul di benakmu, lalu dengan mudahnya menghakimi tanpa tahu alasan di balik insiden mengenaskan tersebut. Padahal boleh jadi si ibu bukannya tega tapi ia hanya sedang berada dalam fase tidak sadar karena mengidap gangguan psikologis yang namanya Post Partum Psychosis.

Post Partum Psychosis (PPP) merupakan gangguan pasca melahirkan yang jauh lebih berat daripada BBS bahkan PPD. Gangguan ini bisa terjadi mulai dari hari ke 2 hingga 2-3 tahum pasca melahirkan.

Beberapa gejala PPP antara lain;
  • Mengalami halusinasi
  • Sering bingung
  • Susasana mood yang mudah berubah
  • Pikiran tak beraturan
  • Ingin menyakiti diri dan bayinya
Penyebab PPP pun belum diketahui pasti namun faktor-faktor seperti perubahan hormon, kelelahan mengurus bayi, tekanan-tekanan yang didapatkan atau persoalan hidup yang luar biasa sulitnya dan tidak mampu ditanggung ibu diduga dapat memicu munculnya gangguan psikologis ini.

gangguan psikologis, baby blues, ppd, pshycosis
Perbedaan BBS vs PPD vs PPP
Well, ketiga jenis gangguan psikologis yang dialami ibu pasca melahirkan di atas tidak bisa dianggap sepele lho, sekalipun gangguannya baru sebatas BBS yang belum sampai tahap depresi.

Di luar negeri, awarness terhadap BBS, PPD maupun PPP sudah mulai banyak, sayangnya di Indonesia ibu yang mengalami gejala di atas, terutama PPD dan PPP paling cuma dijadikan bahan perbincangan bahkan dianggap sebagai aib dan mendapatkan cemooh.

Padahal gangguan psikologis tersebut termasuk kondisi yang gawat darurat sebab dapat membahayakan nyawa sang ibu dan bayinya. Kalau mau diibaratkan dengan penyakit fisik, BBS masih dianggap penyakit ringan tapi kalau sudah sampai tahap PPD akut dan PPP itu penyakitnya sudah parah banget. Harus segera di rujuk ke rumah sakit dan dirawat secara intensif.

Jadi jika kamu mendapati ibu yang mengalami gejala-gejala di atas setelah melahirkan, terutama bila gejalanya terjadi lebih dari dua pekan, please jangan dibiarkan begitu saja. Beri perhatian lebih atau kalau perlu segera ajak dia menemui psikolog. Jangan tunggu sampai keadaannya makin parah.

Kasihan bayinya😒😒😒

Iya, bayi yang baru lahir kan masih sangat bergantung pada ibunya. Apalagi setiap bayi punya hak untuk mendapatkan "makanan terbaik" dari si ibu. Jangan sampai karena kita cuek dengan kondisi psikologis yang dialami pasangan, saudara atau anak kita sendiri setelah melahirkan, hak si kecil untuk mendapatkan ASI tidak terpenuhi.

Ketahuilah, ibu yang baru melahirkan rentan banget mengalami stress yang sangat mungkin berujung pada depresi maupun pshychosis. Jadi support system dari orang-orang terdekat terutama suami itu sangat-sangat penting dan ia butuhkan.  

Sekian dulu sharing saya terkait gangguan psikologis yang rentan dialami ibu pasca melahirkan, kalau kamu punya tanggapan sila share di kolom komentar ya :)

Salam,




You May Also Like

48 comments

  1. aih keren infonya,semoga lebih banyak perempuan yang terbuka mengenai gejala yang dirasakanya.Sehinga memudahkan suami,teman dan keluarga memberikan support yg diperlukan.

    ReplyDelete
  2. gejala bbs rupanya banyak juga yah, kudu waspada nih kalo ketemu mamah muda wkwkwk

    ReplyDelete
  3. Aku juga yang termasuk BBS mba awal melahirkan dulu, tiba tiba nangis aja dan kalo anakku jauh dariku aku nangis, padahal cuma digendong sama neneknya. Memang ibu melahirkan harus banyak diberi dorongan bantuan dan semangat mba, apalagi dari keluarga dekat baik suami, orang tua atau mertua, jadi belajarnya tidak akan semakin parah.

    ReplyDelete
  4. Kemarin di berita ada kasus lagi mbak ibu baru melahirkan gantung anaknya aku yakin pasti ada sesuatu hanya saja orang terdekat gak aware sampai akhirnya terjadi demikian. Harus banyak lagi edukasi ke masyarakat tentang ini ya. Sedih rasanya karena setelah terjadi si ibu malah kembali banyak di judge belum lagi hukuman. Sedih rasanya

    ReplyDelete
  5. Dulu waktu saya melahirkan, gak paham tuh hal-hal begini selain baby blues. Ternyata ada beberapa tingkatannya, ya. Dan pastinya orang terdekat juga harus peduli dengan hal ini. Biar cepat tertangani juga bila terjadi masalah

    ReplyDelete
  6. Ilmu baru lagiiii! Alhamdulillah hehehe
    Buat Ujame yang belum menikah jadi ngerasa info ini penting banget!
    Makasih ya bunda sharingnya :*

    ReplyDelete
  7. Dari ciri2nya waktu melahirkan anak pertama aku kena BabyBlues Syndrom. Nah, karena dampaknya enggak baik maka pas lahiran anak kedua aku berusaha menenangkan diri dan Puji Tuhan enggak kena syndrom apapun.

    ReplyDelete
  8. baby blues memang nggak bisa dan nggak boleh dibiarkan ya mba...akibatnya bisa fatal, baik ke ibunya sendiri maupun ke bayinya. semoga kita bisa terhindar dari gejala ini..

    ReplyDelete
  9. Pasca melahirkan secara caesar di RS, saya dipisahkan dengan bayi. Kala suami bilang bayi baik-baik saja saya tak percaya. Sempat merasa depresi di ruang pemulihan sampai dokter mendiagnosis bahwa saya alami masalah namun tak terlalu berat. Yah, masalah ibu yang baru melahirkan untuk pertama kalinya serta khawatir dengan kondisi bayi.
    Yang terburuk adalah kala pemulihan, ibu kandung saya berulah menyeramkan, karena sifat toxic parent-nya keluar lagi dengan keinginan pinjam uang yang tak perlu ke bank dan bawa alasan persalinan sayalah penyebabnya padahal bohong besar karena pakai jamkesmas serta tak pakai biaya mahal selain berobat. ibu selalu saja jadikan anggota keluarganya sebagai kambing hitam bahkan sasaran fitnah demi ambisi sasat. Makanya saya sempat histeris usai bertengkar dengan ibu tengah malam, di hari milad saya yang ke 34 tahun. Saya tak tahan lagi dengan segala kelakuannnya sampai orang-orang di dalam dan di luar ruangan sebelah pada heran dengan tangisan histeris saya.
    Ibu pengen berutang ke BRI, malah tambah lagi dengan gadaikan KARIP pensiun dari almarhum bapak, lalu meneror dengan ucapan tak masuk akal serta selalu menyalahkan, lalu entah bagaimana kondisi bayi.
    Damai lagi meski saya benci ibu, pun ketika pulang memnutuskan pindah rumah ke rumah mertua dari rumnah saya yang dulunya ia bilang diberikan untuk saya berikut semua isinya kala menikah lagi (lalu cerai lagi) dan saya percaya saja serta tak membuat perjanjian tulisan agar kelak tak jadi persoalan dengan diusir-usir melulu oleh ibu yang sosiopat.
    Hal bodoh, di rumah mertua saya mudah lelah lalu disalahkan karena ASI tak subur, lagi pemulihan bekas operasi. Duh, beratnya. Kerap tertekan. Namun saya lebih jengkel pada suami bukan pada bayi, karena suami jarang dapat kerjaan bukan karena malas melainkan sedang seret rezeki. Syukurnya suami banyak membantu saya mengurus bayi termasuk mencuci semuanya meski saya harus makan hati dengan tanggapan mertua lalu hasutan keluarga adik mertua, ditambah dengan ibu sendiri yang susah tobat.
    Saya selamat dari baby blues, PPD, apalagi PPP. Berkat suami dan kesabarannya. Mungkin juga karena saya cuma alami gejala swing moody setelah ASI bisa ditunjang sufor dan hal lainnya, keadaan membaik. Berdamai lagi dengan ibu yang tak pernah meminta maaf.
    Lalu, meski saya selamat dari ketiga hal di atas, malah harus alami PTSD karena ibu kandung sendiri yang lagi-lagi bikin drama superparah. Iya, ada anak yang trauma pada kelakuan ibunya sendiri karena terlalu lama menyimpan nyeri jiwani, dari kecil sampai dewasa. Berpengaruh juga pada perkembangan kejiwaan Palung karena penghakiman orang lain kala saya tantrum usai pingsan setelah tanah tempat rumah dijual ibu karena utang piutang serta uangnya dihamburkan sendiri untuk hal tak berfaedah di usia rentanya sampai meninggal dalam kebinasaan.
    Saya sedih mengingatnya. Andai saya tetap serumah dengan ibu mungkin bisa alami ketiga hal di atas. Bagaimanapun dukungan pasangan adalah hal yang terbaik.
    Biarlah saya pernah PTSD setidaknya Palung tak alami hal buruk kala bayi. Ibu telah lewat, saya ingin hidup tenang dan sehat.
    Kita tak bisa lepas dari toxic people kala alami masalah, namun suami adalah pendamping yang wajib memperhatikan istri selain bayi demi kebaikan bersama. Semoga kuat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. subhanallah ceritanya, saya salut sama mba dan suami. semoga kuat terus mba

      Delete
  10. Baru tau PPP. Aku pun sama saat baru melahirkan mengalami BBS, tapi itu juga sadar BBS selang bbrp bln kemudian. Rasanya tuh sedih bgt, mana LDM, kebanjiran dan tinggal di rumah mertua :"

    ReplyDelete
  11. Tingkatan Baby Blues berbeda-beda ya tiap orang, mungkin aku mengalaminya tapi kecil kadarnya jadi gak terlalu ngeh. Cuma sempat sebel aja kalau bayinya nangis lgs diambil sama orang yg ada di rumah, memangnya aku gak bisa apa meredakan nangisnya, jadi sensi bawaannya

    ReplyDelete
  12. Jadi paham tentang berbagai permasalahan psikologis para ibu after melahirkan, kalo baby blues masih wajar ya.. akupun juga merasakan baby blues, tapi jika sudah PPD dan PPD serem juga ya.. seorang Ibu bisa khilaf terhadap anaknya.. semoga semakin banyak ibu yang paham tentang masalah psikologis after melahirkan ini.. supaya terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan ya..

    ReplyDelete
  13. Ternyata baby blues ada tingkatannya ya mbak. Dan sepertinya para ibu muda yang mengalaminya harus mendapat perhatian ekstra dari suami dan keluarganya agar kondisi semacam ini tidak berlarut2 terjadi. Karena bila kondisi ini dibiarkan bisa jadi akan membahayakan bahkan mengancam keselamatan ibu dan bayinya. Terimakasih mbak telah berbagi.

    ReplyDelete
  14. Saya lagi hamil nih, Mba. Makasih banget udah share tulisan ini, jadi saya bisa tahu perbedaan ketiga masalah yang biasa muncul pasca melahirkan dan bisa lebih mempersiapkan diri :)

    ReplyDelete
  15. Ibu yang habis lahiran memang butuh support dari orang-orang terdekatnya yaa, Mba. Suami dan keluarga juga harus diberitahu nih tentang masalah ini agar mereka bisa lebih mengerti dan memahami sang ibu yang baru melahirkan :)

    ReplyDelete
  16. Pantes aja ya kalau ada kasus ibu bunuh anak, si ibunya teh kayak linglung gitu lho. Ternyata mereka itu dalam kondisi tidak sadar saat membunuh bayinya. Eee... Abis itu dihujat netijen, gak kebayang gimana perasaannya ��

    ReplyDelete
  17. Aku baru tau tentang PPP, selama ini aku kita itu PPD dengan tingkat lebih berat, ternyata ada istilahnya sendiri yaa.. semoga makin banyak masyarakat dari segala lapisan yang melek tentang bahaya BBS, PPD, dan PPP ini, biar sama2 bisa menjaga ibu-ibu yang baru melahirkan.

    ReplyDelete
  18. Mbaa, dulu aku mengira mudah menangis, sering lelah itu ya karena biasa aja. Tapi bahaya juga jika tak tertangani xengan baik ya mba

    ReplyDelete
  19. Aku sempat tuh mbak ngalamin baby blues, justru setelah melahirkan anak ke 2. Waktu anak pertama malah aman dan penuh semangat karena baru belajar jadi ibu.

    Saat itu aku setiap hari bawaannya sedih dan nangis terus, sampai sama suami akhirnya dibuatkan blog, waktu itu sih di blogdetik. Akhirnya mulai nulis yang isinya curhat semua, dan alhamdulillah nulis terus sampai sekarang

    ReplyDelete
  20. Awalnya pengen memberikan yang terbaik buat bayi tapi pas di melakukan jadi urung iringan.

    So dibawa senang aja , proses belajar jadi mom baru

    ReplyDelete
  21. Waduh, kalo PPP udah bahaya ya, bisa sampai menyebabkan hilangnya nyawa. Saya dulu juga sempet kena baby blues Mba, tiba-tiba aja nangis pas lagi nyusuin. Untung cuma berlangsung sebentar. Kupikir karena perubahan waktu tidur aja sih :)

    ReplyDelete
  22. Aku baru tahu kalo ada tingkatan ibu yang ngalami baby blues gini. Benar sih bukan hanya pasangan yang peduli pada istrinya yang baru melahirkan. Keluarga seperti orang tua, ipar,saudara kandung, bahkan mungkin keluarga besar bisa memberikan support, bisa membantu jagain baby sebentar. Jadi ibu yang abis melahirkan ini bisa menikmati me time sejenak agar ASI nya pun lancar

    ReplyDelete
  23. Aku jadi paham perbedaan ketiganya deh, tadinya aku cuma tau baby blues aja sih kak, makasih share nya ya kak,

    ReplyDelete
  24. Nambah ilmu baru lagi. Kalau BBS dan PPD aku udah sering dengar dan tahu. Tapi kalau PPP, baru kali ini aku tahu. Tapi kalau dibaca2 ciri2nya, kok sama kayak PPD ya? Jadi yang selama ini kutahu itu PPD, ternyata udah termasuk PPP. Na'udzubillahi mindzaalik. Semoga kita semua diberi kesehatan dan kewarasan selalu yaaa. :)))

    ReplyDelete
  25. Kasian ya busui yang kena dampak dua Maslaah psikologi pasca melahirkan. Harus terus disupport sama orang terdekatnya ya mbak.

    ReplyDelete
  26. Support system dari orang-orang di sekitar memang obat mujarab untuk mengatasi permasalahan psikologis ibu yang baru melahirkan ini. Biasanya rasa semacam sendirian, tidak diperhatikan dan kurang diakui ini yang menyebabkan munculnya problema psikologis di atas.

    ReplyDelete
  27. Sepertinya dulu aku sempat kena babyblues deh mbak setelah baca ulasan di atas. Alhamdulillah, karena aku ikut ibuku sendiri, beliau ngerti banget. Pun suami, sabarnya minta ampun. Alhamdulillah, dulu dikelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayangiku. Nggak tahu deh kalau aku punya keluarga yang, aduh, amit2 lah.

    ReplyDelete
  28. Iya nih, perlu waspada ya mengantisipasi ketiganya. Bahkan sejak awal tingkatannya yaitu BBS. karena 80% ibu mengalaminya setelah melahirkan. Jadi org2 sekitar harus prepare dan siap support

    ReplyDelete
  29. Iya ya..jd ibu hamil memang harus bahagia dapat banyak perhagian dari orang2 terdekat kita karena memang hormonnya menuntut begitu....alhamdulillah sih belum pernah ngalamin babyblues..

    ReplyDelete
  30. Makanya kalau kata orang tua dulu kalau habis lahiran harus ditemenin setidaknya minimal 40 hari gitu. Semoga aja ya kalau kita melahirkan lagi jauh2 deh dari stres.

    ReplyDelete
  31. Wah bagus nih mbak artikelnya. Semoga ada banyak informasi yg seperti ini beredar di masyarakat kita

    ReplyDelete
  32. Ya Allah emang kasus2 kyk gini nyata ya mbak. Tingkatannya beda2. Merinding. Saya jg sempet sih krn susah menyusui karena bayiku waktu itu BBLR, tapi alhamdulillah support keluarga bikin waras dan waktu itu saya menjauhi medsos.

    ReplyDelete
  33. Ya Allah aku jadi mikir kalo hamil dan melahirkan nanti
    semoga didampingi suami yang pengertian, dan keluarga di dekatku
    apalagi butuh banget figur ibu sendiri, karena kita merasa lebih aman jika didampingi beliau

    ReplyDelete
  34. aku andaikata gak ada keluarga di sampingku , mungkin udah kena PPD karena lahiran anak 2 dengan jarak yang deket banget dan mereka hobby nya nangis tengah malam dan gak ngerti kenapanya. huhuh aku jadi ngebayangin gimana yang diperantauan ya :(

    ReplyDelete
  35. Beres lahiran kemaren temen suami malah nanya "how's ur wife doing?" πŸ˜‚. Ga semua sih kaya temennya suami yg care sama ibu pasca lahiran. Tp sistem disini kliatan bnget preventifnya. Docter visit pasca lahiran sampe bayi usia 2 bulan bener2 mrk pastiin kl ibu dan baik baik2 aja scara jiwa raga. Mudah2an di indonesia makin baik ya sistemnya dan perhatiannya thd ibu pasca lahiran

    ReplyDelete
  36. aku bersyukur sebelum menjadi ibu sudah kenal istilah baby blues. Saat beneran mengalaminya jadi lebih santai, enggak minta sempurna. Sempat down di awal ketika anak sakit tapi setelah itu santai aja karena dapat dukungan keluarga juga.

    ReplyDelete
  37. Jaman aku dulu melahirkan anak pertama, masih sedikit sekali tulisan mengenai hal ini.

    Jadi akupun gak paham bahwa mengalami Baby blues.

    Semoga Allah melindungi semua Ibu di seluruh dunia. Karena Ibu adalah malaikat untuk anak-anak yang dilahirkan di dunia.

    ReplyDelete
  38. sAya dong, gejala PPD karena terlalu hebat wakakakak
    Merasa kuat, super woman, kurang ikhlas pula, jadinya kena PPD pun gak nyadar.
    Sampai2 anak sering kena pukulan, baru saya sadar ada yang salah dengan saya.

    Masa iya saya tega menyumpahi anak2 agar cepat mati, sedang apapun saya korbankan buat mereka, huhuhu

    PPD itu nyata, hanya kalau kita lebih ngeh dan hanya support orang terdekat yang luar biasa sabar yang bakal enyembuhkannya :'(

    ReplyDelete
  39. Jujur saya gak begitu tahu apa yang itu istilah di atas kecuali Baby Blues karena sering denger dari temen yang kerja di bidan. Katanya ibu yang kena BBS pasti sensitif parah. Kupikri sih mungkin itu karena datang bulan tapi ternyata ggak juga yah. Berarti kalau misal saya berumah tangga harus siap-siap nih nemanin istri. Makasih kak, akhirnya dapat pemahaman baru lagi.

    ReplyDelete
  40. Babyblues sih sudah pernah baca, tapi baru tau ini soal Post Partum depression (PPD) dan Post Partum Psychosis (PPP)

    ReplyDelete
  41. Saya juga mengalami baby blues waktu habis melahirkan anak pertama tahun 2001. Konyolnya, saya baru sadar pernah mengalaminya di tahun 2000-an hahaha. Untungnya selamat dari baby blues. Alhamdulillah.

    ReplyDelete
  42. Tak menyangka kalau ibu pasca melahirkan itu bs dijangkiti penyakit psikologis sperti baby blues, bahwa melahirkan itu ternyata tak sekedar melahirkan anak ke dunia, tp rentan jg terkena rasa kekhawatiran dan insecure akut, Nice share kak, sepertiny dlm keluarga mmg hrs kenal penyakit ini, untuk mengantisipasi kehadirannya.

    ReplyDelete
  43. saya belum paham sih, tapi saya harus pelajari untuk masa depan saya. karena infonya sangat membantu untuk orang-orang khususnya perempuan

    ReplyDelete
  44. Wah informatif sekali tulisan kakak. Perjuangan jadi seorang ibu memang berat ya kak. Beruntunglah para ibu yang punya support system yg baik di rumah, yang bisa mengerti kondisi psikologis si ibu pasca melahirkan dan kooperatif dalam mengasuh si baby.

    ReplyDelete
  45. Saya baru tahu klo ada gejala baby blues ini, masih muda soalnya belum sering berinteraksi dengan ibu Ibu hamil πŸ˜‚

    ReplyDelete
  46. Wah. .Bahaya juga nih yang triple P.. Ini yang cenderung sakiti diri sendiri dan bayinya harus diwaspadai..di sini peran bapaknya untuk menjaga istri dan si buah hati agar kedua-duanya aman. .

    ReplyDelete
  47. Tulisannya bagus sekali kak. Rapih, runut, dan jelas. Saya termasuk yang mengalami baby blues tapi tak parah karena dukungan suami. Lalu saat usia anak saya 1 tahunan, saya mengalami depresi karena merasa kerdil hanya menjadi ibu dan suami mulai sibuk di kantor. Perjuangan juga lepas dari hal itu dan merasakan kedamaian lagi 😊

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa bermanfaat dan menginspirasi kamu :)

Note :

Maaf komen yang brokenlink akan saya hapus jadi pastikan komentar kamu tidak meninggalkan brokenlink ya.