Inisiasi Menyusui Dini (IMD), Pengalaman Menakjubkan dan Luar Biasa Pasca Persalinan

By Siska Dwyta - Friday, April 12, 2019

gambar : @bukaan.moment

Bismilaahirrahmaanirrahiim

Jujur saja saya baru tahu istilah IMD saat usia kandungan saya sudah memasuki trimester tiga. Itu pun sebatas tahu bahwa sangat penting bagi bayi yang baru lahir untuk mendapatkan IMD. Persoalan pentingnya seperti apa atau manfaat IMD ini apa-apa saja saya tidak terlalu paham. So meski tidak begitu paham, tapi karena tahu IMD itu sangat penting sehingga sebelum menjalani persalinan saya sudah lebih dulu memastikan bahwa bayi saya harus mendapatkan IMD. Alhamdulillah saya begitu bersyukur karena Bunay bisa langsung mendapatkan IMD sesaat setelah ia lahir ke dunia.

Nah, mungkin muncul pertanyaan di benak kamu bagaimana caranya memastikan bayi kita bisa mendapatkan IMD? Mengingat proses memberikan IMD memang bukanlah hal yang mudah. Soalnya saya banyak baca dan dengar pengalaman ibuk-ibuk di luar sana yang sudah paham akan pentingnya IMD dan begitu menginginkan agar bayinya juga dapat melalui proses ini namun qadarullaah tidak kesampaian karena terhalang oleh berbagai sebab. Atau ada pula yang  karena masih awam sehingga tidak mengusahakan agar bayinya mendapatkan IMD. Padahal jika orang tua paham, pastinya dia tidak akan melewatkan proses IMD pasca melahirkan. Thats why, jauh-jauh hari sebelum persalinan saya sudah mempersiapkan diri pun memastikan bahwa saya dan bayi saya akan menjalani momen spesial ini.

Sumber gambar : ibupedia


Inisiasi Menyusui Dini (IMD)

Inisiasi Menyusui Dini atau biasa disingkat IMD merupakan langkah awal memulai proses menyusui yang dilakukan sesaat setelah bayi lahir. Prosesnya berapa lama? Kalau mengacu pada rekomendasi WHO, minimal proses IMD ini dijalankan dalam satu jam pertama sejak bayi lahir. Caranya adalah bayi dengan ditutupi selimut diletakkan di dada di ibu. Bayi kemudian akan secara alami, tanpa dibantu, mencari puting ibunya untuk menyusu.

Masih terngiang jelas dalam ingatan, momen pertamakali saya merasakan IMD. Setelah bayi saya keluar dari jalan lahir, Bidan dan perawat segera membersihkan seadanya lalu meletakkan si Bunay di dada saya dengan posisi tummy time. Itulah pertemuan pertama yang terjadi antara saya dan si Bunay, dimana kulit kami langsung saling melekat satu sama lain (skin to skin) dalam waktu yang cukup lama. Sentuhan tersebut tentu akan memberi rasa hangat dan nyaman serta membuat bayi merasa terlindungi.

Maa syaa Allaah, itu benar-benar momen pertemuan pertama ibu dan bayi yang luar biasa menakjubkan dan sungguh indah. Bahkan indahnya mengalahkan pertemuan dua sejoli di pelaminan, hehe. Mungkin saya terlalu lebay menggambarkan proses ini, tapi beneran deh setiap kali saya mengenang momen spesial antara saya dan Bunay lewat  proses IMD, saya jadinya suka senyam-senyum sendiri seperti orang yang tengah jatuh cinta.

Bahkan saya selalu antusias dan bahagia menceritakan momen tersebut pada suami, bukan cuma sekali dua kali tapi berulang-ulang sampai suami mungkin bosen dengarnya, hehe. Well, mengenang proses IMD juga bisa bikin ASI deras lho. Ya, iyalah, soalnya cukup dengan mengenang momen IMD saja hati saya bisa meletup bahagia. Saat stres melanda pun saya sering mengalihkan pikiran dengan mengenang kembali momen pertama saya bertemu Bunay dan ajaib itu bikin perasaan saya jadi lebih tenang. Kebahagiaan Ibu kan merupakan kunci lancar dan derasnya ASI.

Oya, sebelum melahirkan saya sempat bilang ke suami nanti kalau ketemu Bunay saya pasti malu, hihi. Menjelang HPL hati saya juga sudah deg deg degan banget, nggak bisa bayangin gimana ekspresi saya saat pertama kali ketemu bayi yang sembilan bulan ada dalam perut saya. Dan kenyataannya, saat proses IMD ini perasaan saya bukan cuma deg degan, tapi campur aduknya luar biasa. Antara bahagia, terharu, merasa masih seperti mimpi, ya pokoknya nano-nanolah. Sakitnya proses persalinan pun sekonyong-konyong sirna setelah mendekap makhluk kecil mungilku.

Eh tapi lucunya, saya kok nggak jadi malu ya, yang ada malah Bunay yang tampak malu-malu melihat Bundanya. Saat baru lahir salah satu mata Bunay memang masih tertutup sedikit jadi kesannya dia kayak malu-malu gitu, hihi. Saya juga excited banget lihat tingkahnya saat mencari puting, berusaha mengangkat kepala sambil menengok ke kiri dan kanan seolah sedang memperhatikan lingkungan barunya lalu kembali sandar lagi di dada. Sesekali tatapan mata kami juga saling beradu dan itu rasanya Maa syaa Allaah. Perasan saya seperti terbang ke awan-awan. Sungguh, rasa-rasanya saya ingin waktu berhenti saat itu juga.

dok.pribadi

Dan ini nih tingkah Bunay yang paling gemesin, saat dia tiba-tiba berhenti mencari dan malah lebih memilih bobok dan mengenyot tangannya sendiri, haha lucu banget. Syukur, adik saya Aya sempat mengabadikan momen ini jadi kalau mau mengenang momen gemesin itu saya tinggal putar videonya trus senyam-senyum sendiri.

Sayangnya, proses IMD pertama yang saya rasakan masih kurang maksimal gara-gara waktu itu saya belum terlalu paham dengan prosesnya. Perawat atau bidan juga tidak ada yang menerangkan secara jelas proses IMD ini ke saya. Jadi setelah Bunay ditengkurapkan di dada, kami langsung ditinggalkan begitu saja. Iya sih mereka cuma bilang nanti adek bayinya bakal berusaha meraih puting ibunya, biarkan saja, tidak perlu dibantu.

Lha saya kan jadi bingung, bagaimana caranya bayi saya bisa menemukan puting Bundanya? Apalagi setelah dirasa waktu sudah berlalu begitu lama namun si Bunay belum berhasil menggapai puting. Yang ada dia malah bobok dan asyik kenyot-konyot jarinya. Well, saya tidak tahu persis berapa lama IMD yang saya jalani waktu itu karena tidak sempat lihat jam tapi perkiraan saya kurang lebih ada sejamanlah.

Nah, sebenarnya Bunay sudah hampir berhasil mencapai puting Bundanya sendiri, tinggal sedikit lagi malah cuma karena orang tuanya (terutama saya) yang nggak sabaran alhasil si Ayah turun tangan dengan menggeser sedikit posisi Bunay tepat ke puting Bundanya. Langsung deh saat mulut Bunay menempel di payudara Bundanya dia refleks mulai menyusu dengan lincah. Saya sampai terheran-heran, hah ini bayi belajar nenen kayak gitu darimana, kok pinter banget kenyotnya, haha.

Manfaat Inisiasi Menyusui Dini (IMD)

Alhamdulillaah, saat menulis postingan ini usia Bunay sudah jalan 9 bulan. Dia tumbuh dengan sehat, ceria dan menggemaskan yah meskipun selama hampir sembilan bulan ini dia sudah beberapa kali jatuh sakit. Termasuk saat menulis postingan ini, keadaannya sementara masih demam, entah karena demam mau tumbuh gigi atau apa. Namun meski dalam kondisi sakit pun dia tetap kuat nenen dan GTMnya juga nggak parah banget. Padahal biasa anak-anak kalau sakit susah banget makan, nenen ogah-ogahan, rewel juga minta ampun. Syukur sakitnya Bunay nggak sampai bikin ortunya kewalahan tapi tetap saja bikin sedih soalnya ada yang hilang dari Bunay kalau dia lagi sakit. Senyumannya. Keceriannya.

Pasalnya selama ini Bunay paling murah tersenyum. Iya, Bunay suka sekali tersenyum. Biar orang tak dikenal juga dia senyumin. Makanya kalau saya ajak dia jalan-jalan pasti ada saja orang yang bilang dia murah senyum. Tapi kalau lagi dalam keadaan sakit gini, jangan tanya senyumannya kemana. Senyumannya tetap ada kok. Nah ni yang bikin saya rada spechless juga karena meski sakit Bunay masih bisa tersenyum cuma ya itu dia senyumannya jadi pelit dan irit, hehe. Syafakallaah ya Bunay sayang, Bunda rindu senyuman Bunay yang murah itu :)

Terlepas dari sakit yang dialami Bunay, saya percaya bahwa IMD memiliki manfaat yang luar biasa terutama untuk tumbuh kembang bayi. Salah satunya, bayi akan lebih kuat daya tahan tubuhnya terhadap serangan kuman dan bakteri. Terbukti, semenjak Bunay lahir daya tahan tubuhnya cukup kuat melawan penyakit (meski demikian bukan berarti terhindar sepenuhnya dari penyakit, orang dewasa saja tidak bisa terhindar dari yang namanya sakit apalagi bayi yang kondisinya masih sangat rentan atau rawan sakit), tapi setidaknya IMD ini dapat meningkatkan kesehatan bayi.

Apalagi ASI pertama yang keluar setelah Ibu melahirkan adalah kolostrum. Kolostrum ini kaya akan nutrisi dan sangt berperan sebagai antibodi yang dapat membantu bayi terhidar dari penyakit. Sudah tentu bayi di-IMD memiliki kesempatan lebih besar untuk memperoleh cairan pertama dari ASI yang biasanya berwarna kuning ini.

IMD juga memudahkan proses keluarnya ASI dan bisa mendukung keberhasilan pemberian ASI Eksklusif lho. Ini juga terbukti dari pengalaman saya MengASIhi Bunay selama enam bulan. Memberi ASIX memang bukan perkara yang mudah, butuh tekad dan perjuangan yang kuat. At least, IMD bisa jadi langkah awal yang baik untuk ibu memulai menyusui. Meski saya sama sekali tidak tahu apakah saat IMD itu ASI saya sudah keluar atau belum, pun saya sama sekali tidak peduli. Saya hanya tahu bahwa saya harus menyusui Bunay selama yang ia mau.

Baca juga Pengalaman Enam Bulan MengASIhi Bunay

Toh, kalau pun ASI belum keluar, kita harus tetap tenang dan sabar. Jangan terburu-buru memberikan bayi tambahan sufor, apalagi tanpa indikasi medis yang jelas. Terus saja susui bayi kita sesering mungkin, karena hisapannya itulah yang akan memancing keluarnya ASI. Dan lagipula bayi masih memiliki cadangan makanan dalam tubuhnya selama 3x24 jam. Artinya dalam jangka waktu itu bayi masih bisa bertahan tanpa ASI dan sama sekali tidak membutuhkan sufor.

Sayangnya banyak ibu yang gugur memberikan ASI eksklusif di tiga hari pertama setelah kelahiran bayinya gara-gara masalah ASI yang tidak keluar. Pun langsung mengiyakan saran dari provider yang kontra ASI dengan memberikan sufor. Padahal masalah ASI tidak keluar selama tiga hari itu masih bisa diupayakan, tapi kalau bayi sudah bersentuhan dengan sufor, justru itu yang bisa menjadi penghambat keluarnya ASI. Terutama bila si Bayi sudah terlalu nyaman minum sufor di botol dot daripada minum ASI langsung di payudara ibunya.

Maaf saya tidak bermaksud menyinggung ibu yang sudah berjuang memberikan ASIX pada anaknya namun qadarullaah putus di tengah jalan karena terhalang suatu sebab. Apapun itu saya paham bahwa kondisi setiap ibu berbeda-beda. Dan setiap ibu pasti punya alasan tersendiri ketika memutuskan memberikan sufor untuk bayinya.

Namun saya cuma sedih saja kalau ada ibu yang dari sononya ogah mengASIhi atau langsung ambil keputusan ngasih bayinya sufor tanpa usaha atau berjuang lebih dulu, padahal tidak ada kondisi gawat apapun yang menghalangi mereka untuk menyusui. Sementara di luar sana ada banyak ibu yang berjuang bahkan sampai stres tidak bisa menyusui bayinya karena kondisi medis dari dianya atau bayinya yang memang tidak memungkinkan. Makanya ilmu tentang pentingnya ASI dan menyusui ini memang wajib banget diketahui oleh setiap perempuan baik yang belum, sedang menuju atau yang sudah menjadi ibu. Usahakan kita jangan sampai jadi ibu yang awam, terlebih jika itu menyangkut investasi berharga untuk tumbuh kembang anak kita di masa depan.

Oya, satu lagi manfaat IMD yang tak kalah penting, dapat membangun bonding yang kuat  antara ibu dan bayi. Bukti menunjukkan bahwa kulit bayi yang bersentuhan langsung dengan kulit ibunya (skin-to-skin contact) segera setelah lahir,  dapat menciptakan keintiman yang lebih dalam dengan sang ibu. Yes, saya juga merasakan hal demikan dan yang pasti IMD merupakan pengalaman yang menakjubkan dan sungguh luar biasa so sayang sekali bila dilewatkan begitu saja.

Nah, karena begitu banyak manfaat dari proses IMD ini maka saran saya buat kamu yang sedang merencanakan kehamilan, sedang hamil atau sudah menjadi ibu tapi belum pernah merasakan IMD dan masih ada rencana untuk nambah anak lagi atau bagi kamu para calon ayah maupun ayah yang ingin istri dan anaknya mengalami pengalaman yang luar biasa ini, segera pastikan kamu akan menjalani proses IMD jauh-jauh hari. Bagaimana caranya memastikan agar ibu dan bayi bisa mendapatkan IMD? Gampang! Caranya ikut saja saran saya berikut ini;

Pahami Dulu Proses Inisiasi Menyusui Dini (IMD)
Ternyata tahu bahwa IMD itu penting saja tidak cukup. Kamu harus pahami prosesnya. Setidaknya kamu tahu bahwa proses IMD ini membutuhkan kesabaran. Harus yakin juga bahwa bayi kamu yang baru lahir itu memiliki kemampuan untuk mencari puting ibunya sendiri tanpa perlu bantuan siapapun. Jangan kayak saya ya, gara-gara tidak terlalu paham dengan proses ini jadi bingung dan tidak sabaran. Alhasil prroses IMD saya juga jadi kurang maksimal, huhu. Pastikan juga proses IMD kamu dan sang bayi tidak kurang dari 60 menit ya. Lebih dari sejam malah lebih bagus lagi dan yang paling penting nikmati momen pertama bertemu dan bersentuhan langsung dengan bayimu senyaman mungkin.

Cari Tempat Bersalin yang Pro IMD, Pro ASI dan Pro Room In
Perlu kamu ketahui bahwa tidak semua tempat bersalin atau rumah sakit mengakomodasi proses IMD. Oleh karena itu wajib banget buat kamu yang ingin menerapkan inisiasi menyusui dini untuk mencari tempat bersalin yang pro IMD, pro ASI, dan pro room in.

Kenapa harus demikian? Ya karena salah satu manfaat IMD adalah mendukung keberhasilan ASI Eksklusif. Tentunya bila kamu memilih tempat bersalin yang pro ASI otomatis kamu bakal terhindar dari tawaran atau saran dari pihak RS untuk memberikan sufor untuk bayi. Selain itu ASI kamu bisa lebih cepat keluar jika kamu dan bayi berada dalam satu ruangan atau room in pasca melahirkan. Karena kondisi tersebut akan lebih memudahkan kamu menyusui bayi selama dan sesering mungkin ketimbang bila kamu dan si bayi dipisahkan di ruangan berbeda. Masih ingat kan lancarnya proses produksi ASI sangat bergantung dari hisapan bayi?

Pastikan juga tempat bersalin yang kamu pilih adalah RS/Puskesmas/bidan praktik yang pro IMD. Karena ada lho tempat bersalin yang pro ASI, pro room in tapi tidak pro IMD. Ini dialami oleh kakak saya. Persalinan pertamanya alhamdulillaah dia ketemu tempat bersalin yang mendukung IMD. Cuma saat persalinan kedua dia memilih bersalin di tempat yang berbeda dan ternyata tempat bersalinnya kali kedua itu meski pro ASI tapi tidak pro IMD. Ini juga saya baru tahu dan amat disayangkan sekali karena persalinannya secara pervaginam dan tidak ada halangan sama sekali untuk melakukan proses IMD.

Pengalaman kakak saya tersebut bisa jadi pelajaran buat kita agar lebih selektif dalam memilih tempat bersalin. Atau paling tidak kita yang harus komunikasikan atau request sama providernya agar bisa melakukan proses IMD sesaat setelah melahirkan sekalipun tempat bersalin kita itu tidak pro IMD. Namun akan jauh lebih baik dan lebih aman jika kita memilih tempat bersalin yang mau memberikan waktu kepada ibu dan bayinya untuk melakukan IMD pasca persalinan dan membiarkan si Bayi menyusu selama yang ia butuhkan.

Pilih Dokter Obgyn yang Pro Normal
Sebenarnya saya sempat berencana melahirkan secara sectio gara-gara mata saya minus tinggi, ada silindernya pula dan setelah diperiksa selaput retina pada mata kiri dan kanan saya juga sudah mengalami penipisan. Karena hal tersebut saya memutuskan bersalin di RS tepatnya di RSIA Ananda dan memilih dokter yang pro normal. Alhamdulillaah, saya dipertemukan dengan dokter Tiwi Palma, beliau adalah salah satu dokter yang bertugas di RSIA Ananda dan benar-benar pro normal banget karena di saat saya sudah pesimis bahkan nyaris pasrah eh malah beliau yang optimis dan menyarankan agar saya dan suami ikhtiar normal.

Qadarullaah, saya berhasil melahirkan secara pervaginam dan prosesnya berjalan lancar tanpa induksi, hanya saja mengalami sedikit jahitan dan alhamdulillaah mata saya baik-baik saja setelah si Bunay brojol. Ya, saya nggak bisa bayangkan saja sih kalau tidak mendapatkan dokter yang pro normal, mungkin saja persalinan saya bakal berakhir di meja operasi dan kemungkinan besar proses untuk IMD bakal terhalang.

Yap, faktanya banyak ibu yang melahirkan secara sectio tidak bisa menjalani IMD karena kondisi yang tidak memungkinkan namun bukan berarti ibu yang melahirkan di meja operasi tidak bisa IMD lho. Proses IMD tetap bisa dilakukan pada ibu yang menjalani proses persalinan secara sectio namun dengan syarat kondisi si ibu dan bayi sama-sama memungkinkan.

Jadi bila si ibu yang menjalani operasi tidak mengalami komplikasi dan bayi yang dilahirkan juga dalam keadaan sehat bugar maka dalam kondisi seperti ini seharusnya tidak menjadi penghalang untuk dilakukan IMD. Namun untuk merealisasikan hal tersebut tentu perlu ada kesepakatan dan kerjasama dengan pihak RS baik tim medis maupun paramedisnya termasuk juga dengan kebijakan RS agar setidaknya bisa mendukung dan peduli akan hak bayi yang baru lahir untuk mendapat ASI dengan melaksanakan IMD.

Pada akhirnya, proses IMD baru dapat berhasil jika jauh-jauh hari sebelum menjalani persalinan kamu sudah matang mempersiapkan diri secara fisik dan mental. Mempersiapkan kehamilan dengan banyak belajar juga penting. Pun percaya diri dengan memastikan bahwa keinginan kamu untuk melaksanakan IMD sudah didukung penuh oleh semua pihak yang terlibat, terutama dari pihak tempat bersalin, dokter yang menangani, bidan maupun perawatnya serta keluarga. Jangan lupa juga dukungan dari suami yang utama.

Yuk, jangan sampai melewatkan momen berharga yang satu ini. Yah, semoga proses melahirkan kamu nantinya berjalan lancar dan kamu juga bisa merasakan betapa nikmat dan luar biasanya menjalani IMD.

Salam,
@siskadwyta

  • Share:

You Might Also Like

22 comments

  1. alhmdllh bisa merasakan IMD dg si kecil y mb. bnar2 karunia yg luar biasa. ^^ smg sehat2 sll Bunay, Bunda dan Ayah sekeluarga .

    ReplyDelete
  2. alhmdllh bisa merasakan IMD dg si kecil y mb. bnar2 karunia yg luar biasa. ^^ smg sehat2 sll Bunay, Bunda dan Ayah sekeluarga .

    ReplyDelete
  3. betul sekali. aku pun berusaha sellau bisa IMD setiap habis melahirkan.

    ReplyDelete
  4. Wah seru ya cerita Mba lagi proses IMD bunay, sehat selalu bunay

    ReplyDelete
  5. Betul, IMD itu menyenangkan, ketiga2nya saat stlh melahirkan bidan memberi kesempatan mendekatkan bayi ke puting sy. Hilang rs sakit berubah jadi bahagia

    ReplyDelete
  6. Betul banget mbak IMD banyak sekali manfaatnya, membantu menyukseskan Asi ekslusif udah gitu bisa meningkatkan bonding ibu & anak juga ya.. masyaAllah

    ReplyDelete
  7. anak-anakku si kembar tidak menyusui karena ASI saya kurang. Perasaan sedih itu sesekali masih melintas walaupun mereka Alhamdulillah tumbuh besar dan sehat. Mereka bayi kembar prematur 7 bulan yang dilahirkan melalui operasi drama eklampsia, mungkin itu penyebab asi tidak terlalu banyak.

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah, dari 2 anak, anak bungsu yang sukses IMD dan ASI mbak. Dulu waktu yang sulung, aku nya yang kurang ilmu sehingga gak full ASI

    ReplyDelete
  9. biasanya IMD pada anak pertama agak sulit dibanding anak kedua ya bun. soalnya kakak saya dulu gitu, tapi pas anak kedua lebih mudah. Makasih ilmunya bun, bermanfaat banget untuk saya ketika nanti punya anak.

    ReplyDelete
  10. Masya Allah...pengalaman IMD yang menakjubkan ya Mbak Siska? Semoga Ananda sehat slalu. Salam kenal.

    ReplyDelete
  11. Saya IMD gini saat anak kedua saja. Gak ngerti deh, waktu si sulung itu sayanya masuk ruang pemulihan selama 24jam. Sementara si kecil di ruang terpisah, karena dulu belum ngerti perah susu jadinya dia dikasih susu formula sama pihak rs :(

    Setelah saya keluar dari ruang pemulihan, baru deh saya susui. Hiks..

    ReplyDelete
  12. IMD mengemuka saat anak bungsu saya lahir. Sayangnya sikon tidak memungkinkan Saya harus dioperasi pasca melahirkan karena pecah pembuluh darah di dinding vagina.

    Alhamdulillah, seperti kakak²nya dia dapat ASI eksklusif dan lanjut ASI MPASI. Saya ikut senang kalo ada ibu² yang berhasil IMD-nya.

    ReplyDelete
  13. Ghaza dak IMD ki kodong waktu itu. Semua yang saya pelajari buyar seketika gara-gara capek sudah lengkap pembukaan bocah dak keluar-keluar dan akhirnya SC. Pas di SC ketahuan kalau dia terbalik pas ketuban pecah, tidur ma saya dak ada mi kuingat. Itu pun ketemu Ghaza besok sorenya pi.

    ReplyDelete
  14. ternyata menyusui pun ada istilah begini yah. saya kira begitu lahir bayi langsung menyusu dengan sendirinya.

    ReplyDelete
  15. Alhamdulillah yaa Siska bisa IMD.
    Sayangnya saya melahirkan 3 anak dan dokterku gak langsung kasi IMD ke saya dan bayiku. Hiks...

    ReplyDelete
  16. IMD memang proses yg paling indah setelah melahirkan, rasanya plooong dan sakit itu hilang seketika *ntar klo dijahit baru terasa lagi sakitnya, hihihih
    Alhamdulillah saya 3x lahiran merasakan IMD, walau Si Kakak kemarin sempat sufor setelah IMD karena mamaknya ini telat tahu ttg perASIan klo bayi yg baru lahir masih membawa cadangan makanan bahkan hingga 3hari kedepan dan kebutuhannya masih spt bauh ceri, makanya kehamilan berikutnya saya pantang menyerah meski ASI blm keluar, saya terus coba mengASIhi. :D

    ReplyDelete
  17. Alhamdulillah Rsia tempat Julio dilahirkan udah Pro melahirkan normal, pro IMD, pro ASI dan Pro room in. Cuma Julionya aja yg pilih jalan piñtas. Hehehe.... Walopun dia nggak dapat IMD karena perut masih bolong saat itu jdi bingung kan mau ditengkurapin dimana haha tapi dia lulus ASIX dan skrng jga masih suka kenyot kenyot ASI sembari MPASI. Semoga bunay dan Julio tumbuh sehat dan bahagia yaa

    ReplyDelete
  18. Saya zaman dlu ga paham IMD, belum ada sosialisasi juga seperti sekarang :)
    Selamat utk mba Siska ya berhasil lancar IMD dan ASI-nya. Semoga ananda sehat terus dan qurrota a'yun. Aamiin.

    ReplyDelete
  19. Saya gak IMD siy. Tapi sy resign 1.5 tahun utk bisa menyusui anak. Abis itu saya kembali bekerja hiks :(

    ReplyDelete
  20. Masya Allah...jadi ingat juga waktu proses IMD kedua anak saya..Alhamdulillah sejak awal sudah janjian sama dokternya..bersyukur juga bisa dapat dokter dan RS pro ASI... :)

    ReplyDelete
  21. ALhamdulillah aku sempat merasakan IMD setelah babyku di keluarkan dari perut setelahnya aku pingsan karena di morfin sama tim dokter hehehe

    ReplyDelete
  22. Subhanallah enak ya zaman sekarang pengetahuan itu begitu mudah nggak kaya zaman saya dulu

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa bermanfaat dan menginspirasi kamu :)