Mengapa Tidak Mudik Lebaran Tahun Ini?

By Siska Dwyta - Thursday, May 23, 2019

gambar : ayocirebon.com

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Sedih deh lebaran ini saya masih belum bisa mudik ke kampung kelahiran. Itu artinya lebaran tahun ini merupakan lebaran ketiga saya jauh dari mama dan papa. Padahal tadinya sudah terbersit niat pengen mudik tapi qadarullaah karena beberapa alasan,  rencana mudik dan berkumpul bersama keluarga di Serui tahun ini terpaksa saya urungkan.

Nah, alasan mengapa tidak mudik itulah yang pengen saya share pada postingan kali ini. Namun sebelum itu saya pengen cerita sedikit dulu tentang kampung kelahiran saya. Sengaja saya sebutnya kampung kelahiran ya bukan kampung halaman, karena mungkin kamu bakal bingung kalau saya sebut kampung halaman saya di Papua sedangan dari penampilan jelas-jelas saya bukan orang Papua.

Jadi ceritanya, saya dari lahir hingga besar di Papua, tepatnya di Serui, Kepualauan Yapen. Rumah orang tua saya juga adanya di sana. Mereka tinggal dan bekerja di sana, bahkan ketemu dan nikahnya juga di sana. Putri-putrinya juga semua lahir di sana. Di Serui. Makanya wajar ya kalau Serui sudah saya anggap sebagai kampung halaman sendiri. Yup, jadi kampung halaman yang saya maksud adalah kampung dimana saya lahir dan dibesarkan. Kampung dimana orang tua saya berada.

Saya sendiri baru merantau lepas lulus SMA guna menuntut ilmu di pulau seberang dan baru kembali lagi menginjakkan kaki di Serui setelah menyabet gelar sarjana. Oya selama hampir 4 tahun menimba ilmu di bangku kuliah, saya hanya sekali mudik, waktu lebaran tahun 2012.  Ya, kalau teman kuliah saya bisa mudik lebaran setiap tahun, bahkan bisa dua kali atau lebih dalam setahun, saya mudiknya sekali doang semasa kuliah.

Alhamdulillaah, lepas kuliah akhir tahun 2014 saya bisa kembali tinggal di Serui dan menjalani dua kali ramadan plus lebaran bersama mama dan papa. Namun qadarullaah pasca menikah di bulan April 2017, saya harus hijrah ikut suami, meninggalkan papa dan mama juga si bungsu Auliya di Serui. Lantas, sampai saat ini saya belum dapat kesempatan yang tepat untuk mudik.

Sebenarnya keinginan untuk mudik kuat banget. Bahkan kalau bisa saya pengennya mudik lebaran tiap tahun apa boleh buat. Keadaan masih belum memungkinkan saya untuk mudik. Berikut beberapa alasan mengapa saya belum bisa mudik lebaran tahun ini :

Belum Dapat Ijin suami

Tentu saja saya harus minta ijin dulu pada suami. Jangankan untuk mudik, kalau mau keluar rumah atau kemana gitu pun harus dengan ijin suami. Kalau nggak diijinan ya saya nggak bisa mudik, karena sudah menjadi kewajiban seorang istri kan untuk meminta ijin pada suaminya sebelum keluar rumah. Keluar rumah baik ke pasar atau toko saja harus ada ijin dari suami apalagi kalau keluarnya sampai menyeberang pulau nun jauh di sana.

Nah, saya sudah beberapa kali mengutarakan niat untuk pulang kampung menemui kedua orang tua namun sampai saat ini suami masih berat mengijinkan istrinya ini mudik apalagi dengan membawa bayi dan dalam kondisi saya yang lagi hamil. Well, keberatan suami di sini bukan bermaksud hendak melarang saya bertemu orang tua melainkan karena tidak rela membiarkan saya mudik sendirian tanpa dirinya sementara dia sendiri belum bisa menemani saya untuk mudik.

Masalah Kerjaan

Nah, ini dia masalahnya, sementara ini suami masih belum bisa menemani saya untuk mudik karena urusan pekerjaan. I think, bukan suami saja banyak juga orang di luar sana yang terhalang mudik karena urusan yang satu ini.

Hamil  dan Menyusui

Seperti yang sudah saya singgung di atas, yang bikin suami semakin bertambah berat mengijinkan istrinya mudik tahun ini karena kondisi saya yang lagi hamil muda dan masih menyusui si Kecil. Ya, masa suami tega membiarkan kami mudik sendirian.

Budget Belum Cukup

Baiklah, harus saya akui untuk mudik ke Papua itu butuh budget yang tak sedikit. Thats why, waktu kuliah dulu saya mudik sekali doang karena untuk sekali perjalanan saja biayanya sampai berjeti-jeti. Beda hal ya kalau mudiknya lewat jalur darat dan tidak memakan waktu berhari-hari, paling cuma keluar duit ratusan ribu.

Sebenarnya ada sih tabungan yang bisa dipake untuk mudik, hanya saja karena beberapa alasan yang sudah saya sebutkan di atas ditambah lagi saya dan suami harus menabung kembali untuk persiapan melahirkan dan biaya-biaya tak terduga lainnya maka saya akhirnya menguringkan niat.

Tiket Pesawat Mahal

Dan alasan saya untuk batal mudik tahun ini makin kuat karena tiket pesawat mahal. Jadi memang keinginan untuk mudik tiap tahun adalah hal yang masih belum bisa saya realisasikan. Apalagi tahu sendiri kan, tiket pesawat menjelang lebaran ini lagi mahal. Jika keadaan normal atau beruntung dapet promo, saya masih bisa beli tiket pesawat dengan harga sekira satu jutaan, but now rata-rata tiket pesawat dari bandara Sultan Hasanuddin Makassar ke bandara Franskaisepo Biak di atas 2 juta. Itu belum termasuk biaya dari bandara Biak ke Serui. Duh, saya mau elus dada dulu ya, hehe.

Alternatif lain selain naik pesawat adalah dengan naik kapal. Harga tiketnya lumayan murah, perjalanannya yang memakan waktu lama. Bisa sampai 5 hari 4 malam di atas kapal. Namun tentu saja kondisi saya saat ini sangat tidak memungkinkan untuk mudik lewat jalur laut. Apalagi kalau mudiknya tanpa suami. Oke, saya nggak bisa bayangin.

So far, sekarang ini saya cukup berdamai dengan keadaan dulu dan kembali menahan rindu berlebaran bersama orang tua di Serui. Semoga Allah masih memberi kesempatan sehingga rindu itu bisa segera terobati di Lebaran tahun depan. Aamiin yaa Rabb.

Itulah sedikit cerita dari saya tentang mudik lebaran plus alasan mengapa saya tidak mudik tahun ini. Kalau kamu punya cerita apa tentang mudik nih, share yuk di kolom komentar.

Salam,

@siskadwyta




  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa bermanfaat dan menginspirasi kamu :)

Note :

Maaf komen yang brokenlink akan saya hapus jadi pastikan komentar kamu tidak meninggalkan brokenlink ya.