Kenangan Manis Ramadan di Masa Kecil

By Siska Dwyta - Wednesday, May 22, 2019


Bismillaahirrahmaanirrahiim

Ramadan selalu meninggalkan momen yang indah dalam hidup saya. Salah satu momen ramadan yang tak hanya indah namun begitu manis adalah Ramadan yang saya lalui di masa kecil. Ah, saya selalu suka mengenang ramadan di masa itu. Meski waktu telah membawa saya ke usia yang tak lagi muda, ingatan saya terhadap kenangan manisnya Ramadan di masa kecil masih begitu lekat hingga saat ini.

So, di postinga, kali ini saya pengen bernostalgia mengenang ramadan yang saya lalui di masa kecil. Berikut beberapa kenangan ramadan masa kecil yang masih membekas kuat di ingatan saya ;


Cepat Makan Sahur

Salah satu kenangan manis Ramadan di masa kecil yang masih membekas di ingatan saya sampai saat ini adalah cepat makan sahur. Pokoknya sekira jam 3 teng mama sudah mulai membangunkan seisi rumah. Itupun proses membangukan suami dan anak-anaknya bisa memakan waktu  30-40 menit. You knowlah, bukan cuma anak-anak saja, bapak-bapak juga biasa susah dikasih bangun untuk makan sahur, haha.

Jadilah sekira setengah 4 atau paling lambat jam 4 keluarga saya sudah makan sahur. Itulah jam makan sahur keluarga yang saya ingat waktu masih kecil. Alhasil karena makan sahur terlalu cepat alias masih ada jeda waktu yang cukup lama setelah sahur hingga masuk waktu subuh saya biasa ketiduran lagi. Beneran deh dalam rentang waktu itu godaan setan kuat bangun. Sekali saja terbaring saya bisa langsung terlelap.

Jam makan di keluarga kami baru mulai berubah setelah mama dan papa tahu kalau ternyata waktu yang disunnahkan nabi untuk makan sahur adalah mendekati atau ketika sudah masuk waktu imsak. Lho bukannya waktu imsak kita sudah nggak boleh makan dan minum?

Ah, siapa bilang. Justru yang disunnahkan Rasul adalah mengakhirkan sahur bukan mempercepat.  Biasanya jarak waktu imsak berjarak 10 menit dari waktu subuh dan banyak orang yang keliru memaknai waktu tersebut. Dikiranya kalau sudah imsak berarti sudah mulai masuk waktu puasa padahal tidak demikian guys.

Di Indonesia sendiri yang dimaksud dengan Imsak adalah sebagai penanda atau alarm bahwa tidak lama lagi tiba waktu untuk mulai puasa. Ibaratnya seperti lampu kuninglah. Tentu, kalau lampu lalu lintas sudah berwarna kuning kita sudah mulai bersiap-siap untuk melaju kan? Begitupun ketika sudah masuk waktu imsak, yah kita sudah harus bersiap-siap untuk memasuki waktu puasa tapi bukan berarti sudah nggak boleh makan dan minum. Masih bisa kok asal kita tetap siaga, jangan sampai kebablasan karena jaraknya yang lumayan dekat dengan waktu subuh.

Waktu subuh inilah yang juga merupakan waktu dimulainya ibadah puasa. Jadi puasa itu baru dimulai pada saat fajar atau masuk azan subuh ya bukan pada saat imsak yang biasa ditandai dengan suara sirine atau pengeras suara dari mesjid.

Nah, sejak paham mengenai hal tersebut jadwal makan sahur di keluarga saya sekarang adalah di atas jam 4. Bahkan saya biasanya baru makan sahur ketika bunyi mesjid dan sudah masuk makan sahur. Apalagi bagi ibu hamil dan menyusui yang tetap ingin menjalankan ibadah puasa, memang sangat disarankan untuk mengakhirkan sahur. Selain menjalankan sunnah, keuntungan makan sahur di akhir juga bisa membebaskan kita dari godaan setan lhi. Yup, saya sejak makan sahur mendekati subuh tidak pernah lagi ketiduran. Seringnya baru tergoda untuk tidur setelah shalat shubuh. Ups!

Jalan-Jalan setelah Shalat Shubuh

Satu lagi kenangan Ramadan yang tak kalah manis menghiasi masa kecil saya. Jalan-jalan setelah shalat shubuh. Hayoo siapa yang masa kecilnya juga punya kebiasaan ini?

Ini juga salah satu alasan yang bikin saya jadi semangat shalat shubuh di masjid. Karena selepas shubuh saya bisa jalan-jalan bareng teman-teman dan baru pulang ke rumah saya langit sudah terang.

Sayangnya kebiasaan jalan-jalan selepas subuh mulai redup seiring bertambahnya usia. Padahal kebiasaan yang satu ini bagus sekali bila dipertahankan, selain manfaatnya untuk menghindari tidur selepas subuh kita juga bisa menghirup udara segar nan sejuk. Cuma ya itu, saya malas jalan-jalan kalau nggak ada teman. Panteslah waktu kecil saya semangat banget jalan-jalan selepas subuh, karena punya banyak teman yang bisa diajak jalan. Lha sekarang?

Ngabuburit bareng Papa dan Aya

Waktu kecil mah saya belum kenal dengan istilah ngabuburit tapi kebiasaan papa yang suka ngajak saya dan adik saya Aya jalan-jalan hampir setiap sore selama bulan Ramadan entah sekadar untuk cari takjil atau main-main di taman sebelum tiba waktu berbuka termasuk ngabuburit, kan?

Ya, ramadan di masa kecil saya tidak lepas dari kenangan manis tersebut. Hanya diajak jalan-jalan saja itu sudah bikin hati saya dan Aya bahagia meletup-letup apalagi kalau dibawa ke taman dan bermain bermacam-macam permainan yang ada di sana. Duh, bahagianya tak terkira sampai lupa rasa lapar yang sempat mendera karena keasyikan main. Haha. Padahal kalau di rumah saya dan Aya sering benget mengeluh lemes dan kelaparan, tapi sekalinya diajak jalan dan main di taman, lemesnya langsung ilang bo.

Nah, papa baru mengingatkan kami untuk pulang setelah waktu berbuka hampir tiba. Yah, meski sering diajak ngabuburit tapi kami berbukanya tetap di rumah. Sejak kecil saya dan keluaga memang jarang berbuka di luar. Kami berbuka puasa di luar hanya sekali-kali saja itupun kalau ada undang berbuka (yang biasa pergi cuma papa) sementara saya biasa ikut mama buka puasa di luar kalau ada kegiatan pengajian yang dirangkaikan dengan buka puasa bersama (kegiatan pengajian sekaligus buka puasa yang mama ikuti ini juga biasa cuma satu-dua kali dalam bulan ramadan)

Buka Puasa Kolak Buatan Mama

Jadi ada satu menu yang sering mama buat untuk buka puasa. Boleh dibilang ini adalah menu buka puasa andalan keluarga kami, karena setiap ramadan beliau tidak pernah alpa membuatnya. Bahkan bukan cuma sehari, bisa sampai 3-4 hari kami berbuka dengan menu ini.

Nah, nama menu buka yang saya maksud adalah kolak, makanan berbahan dasar pisang atau ubi jalar yang direbus dengan santan dan gula. Mama paling sering buat kolak pisang dan sekali-kali saja menggunakan ubi jalar. Belakangan saya baru tahu kalau cara buat kolak ternyata simple sekali, mungkin karena itu kali ya mama doyan menyuguhkan menu ini untuk buka puasa kami. Tapi kalau buka puasanya dengan menu kolak melulu kan lama-lama bosen juga.

Iya saya sempat bosen dengan menu kolak buatan mama tapi meski bosen ini adalah menu buka puasa yang selalu saya rindukan tiap Ramadan.  Apalagi semenjak saya tidak tinggal lagi dengan mama. Well, ini sudah menginjak Ramadan ketigal saya tidak mencicipi kolak buatan mama. Rasanya kanget banget dengan menu mama yang satu ini. Yah, meski saya sudah pinter bikin kolak sendiri tetap saja rasa kolak buatan saya tidak bisa menyamai rasa khas kolak buatan mama.


Antri Minta Tanda Tangan Ustad  Selepas Shalat Tarawih di Mesjid Agung Serui


Selama ramadan ini saya baru satu kali ke masjid untuk shalat tarawih. Eh baru juga selesai shalat Isya si Bunay rewel, nggak bisa tenang. Terpaksa deh saya pulang dan gagal ikut tarawih berjamaah di masjid.

Nah, setelah shalat isya (sebelum memutuskan balik ke rumah) saya sempat liat ada anak yang pegang Buku Kegiatan Ramadan lantas ingatan saya langsung terbang ke masa lalu. Saya ingat, masa kecil saya di bulan Ramadan dulu juga diwarnai dengan kegiatan mengisi bulan Ramadan seperti mencatat nama, judul ceramah sekaligus catatan singkat atau kesimpulan ceramah yang dibawakan pak ustadz sebelum shalat tarawih. Kemudian bakal ada sesi minta tanda tangan sang ustadz selepas tarawih.

Kegiatan tersebut merupakan tugas dari sekolah, dan karena ada banyak siswa dari sekolah lain yang juga dapat tugas serupa sehingga selepas tarawih kami segera menyerbu pak ustadz untuk minta tanda tangan. Antriannya sampai mengular panjang. So lumayan lama juga nunggu giliran dapat tanda tangan tapi seru deh. Dan ternyata kegiataan seperti itu masih ada sampai sekarang ya.

Itulah beberapa kenangan ramadan saya di masa kecil, kalau kamu punya kenangan apa saja nih. Atau jangan-jangan kita punya kenangan yang sama di masa kecil. Boleh dong bagi ceritanya di kolom komentar..

Salam,

@siskadwyta




  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa bermanfaat dan menginspirasi kamu :)

Note :

Maaf komen yang brokenlink akan saya hapus jadi pastikan komentar kamu tidak meninggalkan brokenlink ya.