Pilih Berbuka Puasa dengan Teman atau Keluarga

By Siska Dwyta - Tuesday, May 28, 2019



Bismillaahirrahmaanirrahiim

Pilih berbuka puasa dengan teman atau keluarga? Jika diajukan pertanyaan seperti itu kamu pilih yang mana hayoo, kalau jawaban saya sih tergantung. Karena ada kalanya saya juga ikut berbuka puasa bersama teman tapi itu hanya sesekali saja sih, selebihnya saya kebanyakan buka puasa bareng keluarga.

Ramadan tahun ini malah saya full buka puasa di rumah bareng keluarga. Yaiyalah, mau buka puasa dengan teman yang mana coba. Teman saya di mana, sayanya dimana. Wong semua teman saya mulai dari teman alumni sekolah, alumni kuliah, teman organisasi, teman komunitas dan teman kerja waktu masih ngajar dulu dengan sayanya berjauhan. Ada yang di Serui, ada yang di Makassar, sementara saya sendiri lagi berada di daerah tempat tinggal suami beserta keluarganya, and you know what di sini saya nggak punya teman sama sekali. Eh ada sih, teman pengajian cuma gegara saya pernah pindah ke daerah lain jadi sekalinya kembali tinggal di rumah mertua malah loss contact sama mereka. Begini deh nasib hidup nomaden.

Namun sekalipun saya masih tinggal di daerah yang sama dengan teman-teman saya itu, paling buka puasa saya di luar bersama mereka (baik itu teman semasa sekolah, semasa kuliah, teman komunitas, dll) hanya 5 - 7 kali selama bulan Ramadan selebihnya ya bukanya sama keluarga.

Nah, beda halnya kalau saya dapat undangan atau ajakan buka puasa bersama nyaris tiap hari selama bulan ramadan sehingga waktu untuk berbuka puasa bersama keluarga jadi berkurang. Kalau kondisinya seperti itu ya jelas saya akan pertimbangkan lagi untuk buka di luar. Apalagi dengan kondisi saya yang sekarang telah menjadi orang tua.

Sebagai orang tua saya dan suami harus bisa memberi contoh dan teladan yang baik bagi anak-anak kami. Termasuk contoh yang bisa kami berikan adalah menanamkan nilai-nilai positif pada mereka. Waktu berbuka bersama keluarga bisa jadi momen yang tepat untuk menanamkan nilai-nilai tersebut. Selain itu, buka bersama keluarga juga bisa menambah kehangatan dalam keluarga serta menciptakan kenangan yang indah bagi anak-anak, terutama bagi anak-anak yang sudah bisa diajarkan untuk ikut menjalankan ibadah puasa.


Memang sih anak saya masih bayi, baru jalan 10 bulan. Di usianya yang segitu ia tentu belum paham banyak hal tapi otaknya bisa merekam apa yang ia lihat dan apa yang ia dengar.

Bagaimana si kecil bisa mendapatkan nilai-nilai yang positif, kehangatan keluarga sekaligus kenangan ramadan yang indah bila selama Ramadan orang tuanya lebih banyak buka puasa bersama teman-temannya di luar dibanding bersama keluarganya di rumah.

Kalau bukanya cuma sekali-kali sih nggak masalah, tapi kalau buka puasanya hampir setiap hari selama bulan Ramadsn itu yang jadi masalah. Biar bagaimanapun keluarga adalah prioritas. Jadi sebaiknya bila keadaannya seperti itu kita harus bijak memilih dan memilah mana undangan atau ajakan buka puasa yang bisa kita penuhi dan mana yang bisa kita tolak baik-baik.

Eniwei, selain tergantung kondisi, ijin dari orang tua atau suami juga harus diprioritaskan. Sekalipun kondisi untuk buka puasa bersama teman memungkinkan tapi bila orang tua atau suami tidak mengijinkan, entah karena dengan alasan apa maka sebagai seorang anak ataupun istri kita harus manut.  Jangan sekali-kali melanggar ijin dari keduanya karena itu sama saja kita menentang aturan dalam agama. Alih-alih menggapai pahala puasa, malah dosa yang kita dapat.

Nah, kalau kamu “Lebih pilih buka puasa bersama teman atau keluarga? Apa jawaban kamu sama dengan saya atau punya jawaban yang berbeda? Share yuk jawaban kamu di kolom komentar.

Salam,

@siskadwyta



  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa bermanfaat dan menginspirasi kamu :)

Note :

Maaf komen yang brokenlink akan saya hapus jadi pastikan komentar kamu tidak meninggalkan brokenlink ya.