Begini Cara Menundukan Hawa Nafsu Ketika Berhadapan dengan Promo Belanja Online

By Siska Dwyta - Saturday, May 11, 2019

sumber gambar : finansialku.com

Bismillaahirrahmaaniirrahiim

Sejatinya di bulan ramadan ini kita tidak hanya diwajibkan menahan nafsu makan dan perut saja melainkan juga nafsu-nafsu yang lain. Saya jadi ingat dengan pertanyaan saya pada mbak Widi Astuti yang sempat mengisi Kajian Terasyik dengan tema Menundukkan Hawa Nafsu di WAG Katrik bulan Maret lalu.

Mengingat pembahasan hawa nafsu biasa lebih identik dengan urusan perut dan syahwat saja, sementara cakupan "hawa nafsu" itu luas. Apalagi di era digital sekarang ini, semakin banyak marketplace juga toko-toko online yang menjamur di Medsos. Manfaatnya memang memudahkan kita untuk berbelanja, tapi tak bisa dimungkiri baik kehadiran marketplace maupun toko-toko online itu kadang-kadang bikin kita "lapar mata" bahkan sampai kalap berbelanja, apalagi kalau lagi banyak promo atau pas harbolnas.

Perilaku seperti itu juga termasuk dalam menuruti hawa nafsu, kan? Jadi pertanyaan saya, bagaimana agar kita bisa menundukkan hawa nafsu dalam urusan berbelanja mengingat zaman sekarang ini banyak sekali godaannya?

Actually, pertanyaan tersebut saya ajukan karena saya ingat diri saya yang dulu sempat mengidap obesistuf - penyakit muslimah kekinian, dimana saya doyan sekali belanja online berbagai macam gamis, jilbab dan perintilannya. Padahal sejak kecil orang tua sudah membiasakan saya berbelanja barang-barang baru hanya pada momen-momen tertentu saja, seperti hari raya atau kenaikkan kelas.

Jadi dalam setahun itu, baju baru saya hanya bertambah 1 sampai 3 lembar saja. Begitu pun dengan sepatu yang saya pakai ke sekolah, hanya sekali atau bahkan bisa sampai 2 tahun baru saya ganti dengan yang baru. Tapi semenjak kerja dan punya penghasilan sendiri, terlebih lagi sejak berkenalan dengan sistem belanja online, naudzubillaah, dalam sebulan saya bisa belanja gamis dan jilbab baru lebih dari sekali dan itu saya lakukan hampir tiap bulan berturut-turut. Gamis set yang baru saya pesan belum kepake sama sekali eh saya sudah pesan yang baru lagi. Begitu seterusnya sampai lemari pakaian saya nggak muat lagi, ckckc.

Dulu kerjaan saya tiada hari tanpa bukan IG, follow akun-akun olshop muslimah dan rajin banget cari produk yang lagi promo atau minimal ada subsidi ongkirnya. Subsidi ongkir ini penting banget buat saya yang masih tinggal di Papua saat itu. Maklum, ongkir ke Papua itu mahal bingit, sekarang bahkan sudah nyampai lebih dari 100k/kilo padahal sekira tahun 2015 masih sekira 60k-70k/kilo.

So far, jika dalam sebulan saya belanja online di dua tempat yang berbeda plus ongkirnya, kira-kira itu sudah habisin duit berapa? Plus dikalkulasi dengan belanja online saya di bulan-bulan selanjutnya. Hiks, saya jadi rasa nyesal, kenapa sampai sebegitu borosnya saya belanja berbagai macam barang yang ujung-ujungnya jarang saya gunakan dan kini malah cuma jadi pajangan saja di lemari.

Syukurnya, kebiasaan unfaedah itu hanya saya lakukan saat masih lajang dan setelah menikah perlahan namun pasti saya berhasil terlepas dari penyakit obesistuff. Setidaknya sekarang saya sudah nggak kayak dulu lagi, yang suka laper mata saat lihat produk gamis set dengan berbagai model dan motif terbaru. Kamu pun boleh percaya atau tidak, saya terakhir beli baju baru itu kurang lebih dua tahun lalu sebelum menikah dengan suami.

Setelah menikah saya nggak pernah minta suami untuk belikan baju baru (kecuali daster untuk dipake di rumah) karena memang baju jalan-jalan yang saya koleksi sebelum nikah masih banyak yang baru alias jarang saya pake atau malah ada yang belum pernah saya pake sama sekali. Dua kali lebaran dua kali pula saya pake baju yang sudah lama saya beli. Sama sekali nggak ada niatan buat beli baju baru. Mau beli juga buat apa? Toh, baju lama saya yang masih tampak baru pun masih banyak.

Nah, begini jawaban mbak Widi Astuti dan dua poin tambahan dari saya terkait bagaimana cara menahan hawa nafsu ketika berhadapan dengan promo belanja online.


Prioritaskan Kebutuhan



Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah mengatakan,

الهوى ميل الطبع إلى ما يلائمه

“Hawa nafsu adalah kecondongan jiwa kepada sesuatu yang selaras dengan keinginannya”

Secara bahasa, hawa nafsu adalah kecondongan/keinginan hati yang kuat

Ibnu Qoyyim menambahkan, nafsu diciptakan ada pada diri manusia guna menjaga kelangsungan hidupnya. Sebab, kalaulah tidak ada nafsu makan, minum dan nikah, tentulah manusia akan mati dan punah, karena tidak makan, minum dan menikah.

Hawa nafsu mendorong manusia meraih perkara yang diinginkannya, sedangkan marah mencegahnya dari perkara yang mengganggunya dalam kehidupannya.

Nah, tinggal tugas kita sebagai manusia bagaimana agar hawa nafsu tidak mengendalikan pikiran, hati dan prilaku kita.

Allah istimewakan manusia dari pada makhluk lain yakni karena Allah karuniakan akal pada kita, Allah berikan kemampuan berfikir sebelum kita mengambil tindakan. Maka salah satu upaya untuk mengontrol keinginan belanja yakni dengan dipikir-pikir lagi sebelum pencet tombol “check out”

Temen-temen kan sering dengar istilah, kebutuhan dan keinginan? Baiknya, dipikir dan dicatat mana yang jadi kebutuhan dan keinginan. Prioritaskan kebutuhan dulu baru keinginan. Jangan sampai menyesal kemudian

Ingat juga prinsip “saving-saving dahulu, shopping-shopping kemudian”  Jangan sampai, kata “mumpung” mengalahkan prinsip kita di atas dalam menajemen keuangan. Mumpung diskon, mumpung gratis ongkir, mumpung murah, mumpung ini mumpung itu. Kalau sudah begitu, kembalikan lagi pada konsep “kebutuhan dan keinginan”

Itu tips dari Mbak Widi pemilik akun IG @widi_sobatbaca agar kita tidak gampang tergiur dengan promo online. Pikir baik-baik dulu sebelum memutuskan untuk belanja. Pastikan juga saat hendak belanja online, yang kita prioritaskan adalah KEBUTUHAN bukan sekadar keinginan.

Kalau kita sudah mampu memprioritaskan kebutuhan tentu kita tidak akan mudah kalap dengan promo belanja online sekalipun promonya besar-besaran. Kenapa? Yakin dan percaya saja deh, barang-barang yang dibeli atas keinginan semata hanya akan berujung jadi pajangan atau tidak digunakan sama sekali. Beda hal bila kita beli barang yang benar-benar menjadi kebutuhan

Lantas bagaimana bila kita sudah bisa memilah antara keinginan dan kebutuhan namun masih tetap saja kalap ketika berhadapan dengan promo online besar-besaran?


Terapkan Gaya Hidup Minimalis

gambar : tanah.com

Meski sudah mampu membedakan kebutuhan dan keinginan, tetap saja menundukkan hawa nafsu bukan perkara yang mudah. Butuh keimanan yang kuat sih soal ini. Nah, untuk itu menerapkan gaya hidup minimalis bisa menjadi solusi yang tepat. Setidaknya dengan menerapkan gaya hidup minimalis, ketergantungan kita terhadap segala sesuatu akan berkurang.


That's why sekarang saya sudah tidak tertarik shopping macam-macam karena sedang berusaha menerapkan gaya hidup nan sederhana ini. Percayalah, gaya hidup minimalis benar-benar bisa mengubah kita menjadi pribadi yang tidak boros lagi. Bukan hanya itu, kita bahkan bisa merasa jauh lebih lega dan bahagia menjalani hidup dengan hanya memiki sedikit barang namun benar-benar dibutuhkan ketimbang punya banyak barang namun tidak digunakan.

Oya, ngomong-ngomong tentang gaya hidup minimalis sebenarnya bukan hal yang baru terutama bagi kita umat Islam. Kenapa? Karena gaya hidup seperti ini telah diajarkan Rasulullaah sekira 14 abad yang lalu. Ya, kita lebih mengenalnya dengan istilah zuhud. Namun hidup minimalis lebih megacu kepada mengurangi ketergantungan kita terhadap benda-benda atau apapun yang kita miliki sedangkan hidup zuhud lebih berkenaan dengan kecintaan kita terhadap akhirat.

Tentunya ketika kecintaan kita terhadap akhirat sudah lebih besar daripada dunia maka segala hal yang menyangkut urusan dunia termasuk kebiasaan boros dalam berbelanja akan lebih mudah kita tinggalkan. Ini pun ada kaitannya dengan hidup minimalis. Ketika kita tidak lagi tergantung pada suatu benda maka akan mudah bagi kita melepaskannya dan kita akan benar-benar akan berpikir dengan matang sebelum membeli (memiliki) benda yang baru. Intinya kedua gaya hidup ini, baik hidup minimalis maupun hidup zuhud sama-sama melatih kiga agar kuat menahan godaan hawa nafsu.


Hindari Segala Hal yang Menggoda



baca juga : moneysmart.co.id

Akan tetapi jangan mengira menerapkan hidup minimalis maupun hidup zuhud itu akan semudah membalikkan telapak tangan. Oh tidak semudah itu, Esmeralda. Masalahnya bagaimana kamu bisa meninggalkan kebiasaan boros berbelanja bila saban hari saban waktu kerjaan kamu tetap pantengin akun-akun olshop atau berselancar dari satu marketplace ke marketplace yang lain. Punya keinginan dan niat hijrah dengan menerapkan gaya hidup minimalis tapi tidak ikhtiar sama sekali itu sama saja bohong.

Jadi langkah selanjutnya yang tak kalah penting agar kamu maupun saya tidak kalap dengn promo belanja online adalah dengan menghindari segala hal yang bisa menguji keimanan kita dalam hal berbelanja, hehe. Saya sudah membuktikan hal ini sih, makanya saat ada promo besar-besaran tabungan saya juga tidak ikut terkuras banyak karena saya sudah jarang bahkan hampir tidak pernah pantengin akun olshop di IG lagi. Begitupula semua aplikasi e-commerce yang pernah saya instal sudah saya hapus. Saya hanya akan membuka akun olshop atau e-commerce via web hanya jika saya hendak membil barang yang benar-benar saya butuhkan.

Kehadiran banyak akun olshop maupun berbagai marketplace memang sangat memudahkan kita untuk berbelanja. Selain praktis, hemat waktu bahkan hemat biaya juga jika ada promonya. Meski demikian kita juga harus bijak dalam berbelanja. Jangan sampai karena lagi diskon atau promo besar-besaran kita sampai kalap dan membeli barang-barang baru yang nyatanya cuma jadi pajangan saja. Ingat, semua barang yang kita miliki pun akan kena hisab di akhirat kelak.

Dan lagi, ibadah puasa ini tidak hanya melatih kita untuk menahan hawa nafsu dalam perkara perut dan syahwat saja melainkan juga dalam perkara uang. Yah, daripada uang kita habis dipake hanya untuk berbelanja barang-barang baru yang sebenarnya tidak kita butuh, mending uangnya kita salurkan atau donasikan ke orang-orang yang lebih membutuhkan.

*Postingan ini juga jadi reminder bagi diri saya pribadi

Salam,
@siskadwyta

  • Share:

You Might Also Like

3 comments

  1. yang paling sulit itu kak hindari hal yang sangat menggoda memang seperti casback dan promo yang sangat menggiurka. Kadang barang yang tidak terlalu dibutuhkan dibeli juga karna harganya sangt murah dari yang biasanya

    ReplyDelete
  2. Bersyukurnya saya gaknl terlakunl suka belanja online.
    Sukanya lihat,pegang dan cobain langsung barangnya terutama kalo baju.

    ReplyDelete
  3. Salah satu keuntungan punya body besar adalah tidak bisa sembarangan beli pakaian, itu saya hahaha... Ukurannya tidak bisa diperidiksi cing. Makanya saya tak pernah mau beli pakaian jika belum saya pegang, raba, dan coba.
    Semoga itu juga jadi alat peredam nafsu belanja apalagi lewat online.

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa bermanfaat dan menginspirasi kamu :)