Review Novel Critikal Eleven - Ika Natassa

By Siska Dwyta - Monday, May 06, 2019

   
Bismillaahirrahmaanirrahiim

JUDUL BUKU : CRITICAL ELEVEN

PENULIS : IKA NATASSA

PENERBIT : PT GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

CETAKAN PERTAMA : JULI 2015

TEBAL : 344 HALAMAN

Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing-karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu.
It’s when the aircraft is most vulnerable to any danger.
In a way, it’s kinda the same with meeting people.Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan 

Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney.  
Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.
Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.

Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, setiap babnya merupakan kepingan puzzleyang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya.

Hallo haaa, readers Kamar Kenangan. Kali ini saya mau share review salah satu novelnya Ika Natassa. Sebenarnya saya sudah nulis review ini dari tahun lalu sih, cuma waktu itu saya publishnya di blog saya yang satu tapi sudah lama nggak keurus. Ya daripada review ini tidak menemukan pembacanya di blog tersebut, mending saya pindahkan ke sini saja dengan sedikit tambahan.
Critical Eleven. Pertama kali bertemu dengan novel ini di rak buku suami. Agak kaget juga, ternyata doi punya segudang koleksi novel dibanding koleksi novel saya yang baru seberapa. Qadarullaah, karena berjodoh dengan doi yang rupa-rupanya juga penikmat novel akhirnya saya bisa baca novel best seller ini, hehe meski baru bacanya pas novelnya udah tayang di bioskop.
Oh ya, ini novel pertama Ika Natassa yang saya baca, sebelumnya Ika sudah meluncurkan beberapa novel yang juga laris manis di pasaran. Salah satunya Antologi Rasa yang sepertinya saya sudah lama familiar dengan judul novel tersebut termasuk penulisnya namun waktu itu belum tertarik membaca novel-novel Ika Natassa. Setelah baca novel Critical Eleven ini baru deh saya penasaran pengen baca karya-karyanya yang lain.
Ya, saya termasuk tipe pembeli novel yang cukup selektif. Ups. Kalau ke Gramedia nggak asal beli novel. Biasanya saya butuh waktu berjam-jam demi mendapatkan novel yang benar-benar isinya bagus, bukan cuma covernya saja yang menggoda. Makanya saya lebih suka beli novel milik penulis yang karya-karyanya nggak diragukan lagi.
Nah, untuk karya Ika Natassa yang satu ini masih terbilang baru buat saya jadi di ulasan ini saya nggak bisa membandingkan dengan novel-novel karya Ika sebelumnya. FYI, saya baca novel ini dari Juni tahun 2017 dan cuma sempat mereview dikit lewat postingan saya di instagram yang bisa kamu lihat di @siskadwytaso review saya kali ini mungkin kesannya nggak bakal sama kali ya dengan ngereview persis setelah menamatkannya.
Sejak menuntaskan Critical Eleven saya memang niat banget pengen mengulasnya panjang lebar di blog ketimbang hanya sedikit memberi komentar di Instagram yang karakternya terbatas dan finally niat tersebut baru kesampaiannya ya sekarang. Di Kamar Kenangan ini.
Well, pertama kali lihat cover Critical Eleven ditambah dengan pembatas bukunya yang didesain layaknya boarding pass plus membaca sinopsisnya saya langsung asal tebak saja. Pasti novel ini ceritanya nggak jauh-jauh dari kisah cinta sepasang kekasih yang terjalin di pesawat, mungkin antara pilot dan pramugarinya atau pilot dengan penumpang atau penumpang dengan pramugari, kira-kira seperti itulah.
Tebakan yang sempurna meleset. Nyatanya adegan di pesawat cuma terjadi sekali, saat pertemuan pertama kedua tokoh utama. Kisah yang terjalin malah lebih dari itu. Critical Eleven berkisah tentang pernikahan Aldebaran Risjad yang akrab disapa Ale, seorang pertoleum engineer yang bekerja di Teluk Meksiko dengan Anya yang nama lengkapnya Tanya Laetitia Baskoro, seorang consultant menager di Jakarta.
Dalam kehidupan nyata pun mungkin kita pernah atau malah mengalami sendiri berjodoh dengan orang yang tidak sengaja kita temui entah itu di jalan, di angkutan umum atau pesawat. Barangkali kita menganggap pertemuan yang tidak disangka-sangka itu adalah suatu kebetulan belaka. Nyatanya pertemuan tersebut ada yang mengaturnya. Sama dengan Critical Eleven. Ika Natassa sebagai penulis mengatur skenario pertemuan Ale dan Anya hingga berlanjut ke jenjang yang lebih serius. Selang setahun menjalin kasih, mereka kemudian memutuskan menikah.
Hubungan Ale dan Anya semenjak menjalin ikatan sebelum nikah memang kerap dihiasi dengan LDR. Setelah nikah pun begitu. Masih harus LDM. Pekerjaan Ale di Teluk Meksiko mengharuskan ia menghabiskan lima pekan stay di tempat kerja dan lima pekan break yang selalu ia habiskan di Jakarta sementara Anya juga sering mendapatkan tugas kantor yang mengharuskannya terbang ke berbagai daerah atau negara lain. Mungkin karena telah terbiasa dengan jarak, sehingga LDM tersebut nggak terlalu masalah bagi Ale dan Anya, justru yang jadi masalah besar menjelang empat tahun pernikahan badai seketika datang menghantam rumah tangga mereka dan hanya karena satu kalimat Ale, pernikahan mereka yang selama itu diwarnai kebahagiaan dan keharmonisan seketika berada di ujung jurang.
Mungkin kalau dulu kamu nggak terlalu sibuk, Aidan masih hidup , Nya – Ale (hal 81)
Meski rada telat, tapi setidaknya saya bersyukur baru membaca novel ini lewat sebulan pasca nikah. Coba kalau belum, nggak kebayang gimana bapernya saya. Really. Novel ini benar-benar sangat menguras emosi. Untung saya bacanya nggak terlalu menghayati, hehe. Kalau baca pake perasaan mungkin hati saya keburu banjir. Saking larutnya dengan penderitaan yang dialami Anya dan betapa sabarnya Ale menyikapi sikap Anya yang menurut saya keterlaluan banget. Terlalu mendramatisir keadaan.
Padahal konflik yang diciptakan Ika, simple saja. Seperti bahterah rumah tangga pada umumnya yang tak selamanya berlayar di lautan yang tenang. Pasti ada masanya bahterah itu diterjang ombak, ditiup angin kencang bahkan bertemu dengan badai yang mengganas. Tidak sedikit bahtera yang akhirnya goyah sampai hancur berkeping-keping oleh sebab nahkodah dan penumpangnya tidak kuat menghadapi amukan badai tersebut.
Bagaimana dengan bahterah rumah tangga Ale dan Anya? Apakah mereka kuat menghadapi terjangan badai yang datang setelah empat tahun pernikahan?
Gue teringat lagi yang pernah dikatakan Ayah. ”Hidup ini jangan dibiasakan menikmati yang instan-instan, Le, jangan mau gampangnya saja. Hal-hal terbaik dalam hidup justru seringnya harus melalui usaha yang lama dan menguji kesabaran dulu.
Karena itu aku tetap bersama kamu, Anya. Aku tahu apa yang sudah rusak di antara kita tidak bisa diselesaikan secara instan. Walau aku tidak ingat lagi kapan terakhir kali kita bisa mengobrol seperti dulu.Tidak ingat lagi kapan terakhir kali aku memeluk kamu dalam keadaan bahagia, bukan karena kamu menangis. Lupa kapan terakhir kali kita hidup sebagai suami-istri, bukan sekadar dua orang yang tidur di bawah atap yang sama.
Aku laki-laki yang sudah kamu pilih, Nya, dan sampai kapan pun aku tidak akan membiarkan kamu mengubah pilihan itu.
I’m here, Nya. I’m here. Until you realize that I’m here eventhough I am not here. – Ale (hal 34)
Ah, waktu baru pertengahan baca novel ini saya langsung dibuat jatuh hati dengan karakter Ale. Sosok suami penyayang, penuh pengertian, cinta banget sama istrinya, bertanggungjawab, setia dan yang paling penting Ale itu penyabar. Sabarnya bukan main.
Bayangkan, selama enam bulan Ale bertahan menghadapi sikap Anya yang mendadak berubah sangat dingin. Tak ada lagi canda tawa, pelukan hangat, kecupan mesra, panggilan sayang, dickhead dan kebo yang merupakan panggilan cinta Anya padanya. Mereka bahkan sampai pisah ranjang selama itu. Tinggal seatap namun seperti dua orang asing yang tak pernah menjalin kasih.
Prahara yang menimpa rumah tangga mereka bermula sejak Ale melontar kalimat yang seolah menyalahkan Anya atas kehilangan Aidan, bayi yang dikandung Anya selama sembilan bulan. Hanya karena sebuah kalimat yang tak sengaja terlontar itu, Anya merasa sangat terpuruk dalam kesedihan bahkan sampai mempertanyakan kembali pernikahannya dengan Ale.
Aku juga kangen, Le. Aku juga ingin pulang. Tapi aku kangen Ale yang dulu membuatku jatuh cinta mati-matian selama tujuh hari, bukan Ale yang membuatku benci hanya dengan satu kalimat. Aku ingin pulang ke
kamu yang dulu. Aku ingin pulang ke Aldebaran Risjad yang telah aku pilih jadi suamiku. Aku ingin pulang ke kita yang dulu. – Anya (hal 213)

Waktu bacanya tahun lalu itu, saya menganggap sikap Anya terlalu berlebihan deh, terlalu mendramatisir keadaan. Kalau saya jadi Anya, paling mungkin marahnya cuma sebentar nggak sampai berlarut-larut apalagi sampai enam bulan gitu. Waduh. Bisa dicap sebagai istri durhaka yang tiap waktu dilaknat malaikat karena mengabaikan kewajiban terhadap suami. Kalau dalam agama nih, seberapa marahnya seorang istri ia tetap harus taat dan patuh sama suami. Apalagi kesalahan yang dilakukan si suami adalah kesalahan yang tak disengaja yang masih bisa dimaafkan.
Ya, memang sih Ale salah, seharusnya dalam kondisi “kehilangan” itu, ia bisa lebih tegar dan tampil sebagai sosok yang menguatkan istrinya. Bukan malah menyalahkan sehingga membuat Anya merasa kematian Aidan adalah karena kesalahnya. Seolah selama mengandung, Anya tidak menjaga Aidan dengan baik. Tapi kan, Ale juga sudah minta maaf mati-matian, sudah berjuang mempertahankan rumah tangga mereka agar tetap utuh walau diacuhkan oleh Anya. Nggak menyerah sedikit pun meski Anya menganggapnya seperti angin lalu.
Well, masalah yang ditimbulkan Ale mungkin terlihat sepele namun oleh Anya, justru sebaliknya. Itu masalah yang sangat besar. Sepertinya Ika Natassa pandai memunculkan konflik dari hal-hal yang kecil lalu mengolahnya menjadi sedemikian rumit, yang seharusnya bisa dengan mudah diselesaikan namun di tangan Ika Natasa konflik itu seperti tak terpecahkan. Entah bagaimana cara Ika mengakhiri konflik agar Anya dan Ale bisa baikan lagi?
Sudut pandang pertama yang digunakan Ika pada kedua tokoh, Anya dan Ale secara bergantian bagi saya sangat membantu menjiwai karakter masing-masing. Mungkin bagi yang tak terbiasa membaca dua tokoh “aku” dalam sebuah novel bakal sedikit bingung tapi kelebihannya ya itu kita bisa lebih memahami apa yang dipikirkan Ale dan apa yang dipikirkan Anya.
Dan bagi perempuan yang pernah kehilangan anak sendiri seperti aku, tidak ada yang bisa paham berkecamuknya perasaan di dalam sini, antara ingin ikut bahagia setiap mendengar dan melihat apa pun yang terkait kehamilan dan kelahiran anak orang lain, dan ingin menangis mengingat anakku sendiri yang sudah direnggut pergi. Antara ingin memeluk erat dan mengucapkan selamat, dan di saat bersamaan juga ingin memekik pedih.

”Anakku harusnya udah enam bulan sekarang kalau masih hidup!” 
ketika setiap berita bahagia membuatku diam-diam mempertanyakan keadilan. Tidak ada yang bisa mengerti kecuali pernah mengalami rasanya saat kebahagiaan orang lain justru meng-
ingatkan kesedihan diri sendiri. – Anya (hal 93)

Ujian keimanan seorang laki-laki itu bukan waktu dia digoda oleh uang, perempuan, atau kekuasaan seperti banyak yang dikatakan orang-orang. Ujian keimanan itu sesungguhnya adalah ketika yang paling berharga dalam hidup laki-laki itu direnggut begitu saja, tanpa sebab apa-apa, tanpa penjelasan apa-apa, kecuali bahwa karena itu sudah takdirnya. Ale – (hal 121)
Nah, saat menuliskan review ini usia pernikahan saya dengan suami sudah menginjak sepuluh bulan, masih seumur jagung memang tapi setidaknya saya telah merasakan pahit manisnya menjalani pernikahan, pun tahu bagaimana rasanya menantikan kehadiran sang buah hati yang didamba-damba.
Menginjak usia pernikahan mereka yang ke tiga, Anya akhirnya positif hamil. Betapa bahagianya kedua pasangan itu menyambut sang buah hati yang telah lama dinanti. Bahkan di usia kehamilan Anya yang keempat bulan saat Ale break dari kerjanya dan pulang ke Jakarta, ia sibuk menyiapkan kamar khusus untuk si calon baby yang dikerjakannya sendiri mulai dari mengecat dinding, memasang wallstickers, merakit baby curb dan darwers, menyusun perabot, memaku bingkai foto, memasang mobile sampai memasang stiker gugusan bintang-bintang dan planet di langit-langit. Persiapan menyambut calon baby yang begitu perfect.
Namun sepekan sebelum HPL, badai sekonyong-konyong datang dan menghancurkan segalanya. Melahirkan baby yang tak bernyawa ke dunia itu bagaimana rasanya? Tahun lalu waktu baca novel ini saya nggak terlalu menjiwai bagaimana kehilangan yang dirasakan Anya, lebih menyagkan sikap keras kepala Anya yang terlalu mendramatisis keadaan.
Apa susahnya memaafkan Ale? Apa susahnya melapangkan rasa kehilangan itu? Toh, Aidan sudah pergi ke surga, nggak bisa hidup kembali sementara dia dan Ale masih tetap melanjutkan hidup. Masih bisa menyusun kembali serpihan kebahagiaan dalam rumah tangga mereka.
Tapi, ah sudahlah. Sebelumnya saya memang berpihak pada Ale, meski Ale yang lebih dulu berbuat kesalahan namun kali ini saya mengakui bahwa sikap yang diambil Anya tidak sepenuhnya salah. Tahu nggak? Perempuan itu makhluk yang amat sensitif. Sangat sensitif. Apalagi setelah hidup berumah tangga. Apalagi ketika hamil. Apalagi setelah melahirkan. Wanita yang anaknya lahir selamat saja rentan terkena syndrome baby blues atau paling parahnya depresi postpartum. Lalu bagaimana dengan wanita yang menjalani proses persalinan namun harus menerima kenyataan bahwa bayi yang ia lahirkan tidak selamat?
Ale dan Anya sama-sama merasakan kehilangan. Kehilangan dengan porsi yang sama besar. Tidak ada yang lebih atau paling. Apa yang dirasakan Anya juga dirasakan Ale. Namun dalam kondisi kehilangan demikian, wanita lebih perlu mendapatkan perhatian khusus dari orang-orang terdekatnya terutama suami yang dapat menguatkannya menerima kenyataan itu. Di sinilah sosok suami harus bisa tampil lebih tegar dan kuat. Saya tidak menampikkan perasaan Ale lho, hanya saja wanita memang lebih lemah kan daripada lelaki?
Satu hal yang bikin saya langsung naksir dengan Critical Eleven karena ini adalah novel pertama bertemakan kisah rumah tangga yang saya baca ketika masih mengecap indahnya masa pengantin baru. Seperti manisnya Ale dan Anya mengisahkan rumah tangga mereka yang penuh kebahagiaan di awal-awal pernikahan.
Dengan menggunakan alur maju mundur, Ika membawa saya menyelami kisah rumah tangga Anya dan Ale mulai dari awal perkenalan, menjalin kasih hingga akhirnya mereka menikah, Anya hamil dan kemudian terjadilah prahara itu. Kisah yang secara runut dijabarkan dari tokoh Ale dan Anya secara bergantian hingga membentuk satu kesatuan yang utuh.
Ya, isi dari novel ini memang lebih fokus pada kisah keduanya, namun tidak mengurangi keterlibatan tokoh pendukung lainnya seperti Agnes dan Tara dua sahabat Anya yang selalu ada saat ia butuhkan, Haris dan Raisa yang begitu care pada Ale, saudaranya, sampai-sampai di ulang tahun yang ke 33 mereka ngasih supprise yang bikin Ale nyaris gila, haha. Ada juga si little Nino anaknya Raisa yang kehadirannya cukup menghibur Ale saat mengenang Aidan dan tak lupa ayahnya Ale yang meski hubungan keduanya agak renggang (karena Ale lebih memilih mengejar cita-citanya menjadi insyinyur ketimbang masuk di sekolah militer namun si Ayah ternyata lebih peka dan seolah tahu masalah yang sedang menimpa anak sulungnya itu.
”Istri itu seperti biji kopi sekelas Panama Geisha Ethiopian Yirgacheffe, Le. Kalau kita sebagai suami—yang membuat kopi—memperlakukannya tidak tepat, rasa terbaiknya tidak akan keluar. Aroma khasnya, rasa aslinya yang seharusnya tidak keluar, Le. Rasanya nggak pas. Butuh waktu lebih dari dua tahun dulu baru Aya merasa sudah memperlakukan ibu kamu sebagaimana seharusnya dia diperlakukan. Dari mana Ayah tahu sudah bisa? Dari perlakuan Ibu ke Ayah. Memang butuh belajar lama, butuh banyak salah dulu juga, tidak apa- apa. Yang penting kita tekun, sabar, penuh kesungguhan, seperti waktu kita membuat kopi, Le. Bedanya dengan kopi, kalau kita sudah bingung dan putus asa, bisa cari caranya di Internet. Tinggal google. Istri tidak bisa begitu, harus kita coba dan cari caranya sendiri.”
”Kalau kita sudah memilih yang terbaik, seperti Ayah memilih Ibu dan kamu memilih istri kamu, seperti kita
memilih biji kopi yang terbaik, bukan salah mereka kalau rasanya kurang enak. Salah kita yang belum bisa melakukan yang terbaik sehingga mereka juga menunjukkan yang terbaik buat kita.” – nasihat Ayah ke Ale – (hal 56)

Meski kisah pernikahan Anya dan Ale hanya cerita fiktif tapi kisah keduanya bisa jadi pelajaran lho buat kita, terutama dalam menghadapi konflik rumah tangga. Setidaknya kamu bisa belajar jadi suami yang begitu penyabar, penyayang dan setia seperti sosok Ale.
33, 28, 24, 17, 34.560, 116, 0. Ini angka yang berputar-putar di kepala gue pagi ini. Umur gue. Jumlah hari sejak terakhir kali gue dan Anya bercinta dan gue akhirnya bisa merasakan jadi laki-laki paling bahagia sedunia lagi. Jumlah hari sejak terakhir kali gue mencium Anya dan kami seharusnya baik-baik aja namun justru berakhir dengan dia marah dan gue memohon tapi sia-sia dan kami pisah lagi. Berapa kali gue ketemu dia dalam 24 hari terakhir sejak Anya bilang ”Aku belum bisa percaya kamu nggak akan membuatku sesakit ini lagi.” Jumlah detik gue merindukan dia sampai mau mati sejak malam dia mengucapkan itu. Berapa kali gue berdoa setelah salat sejak malam itu, memohon kepada Tuhan agar jalan gue dan Anya dimudahkan dan kami dipersatukan lagi.

Dan nol. Berapa kali doa gue terkabul.
All those numbers and the result is still zero. Nol besar. Seperti nilai gue sebagai suami. Nol besar. – Ale (hal 277)
Ika Natassa berhasil bikin saya baper di sepanjang membaca buku ini. Sumpeh, ini buku yang keren banget meski tidak lepas dari yang namanya kekurangan. Kekurangan buku ini apa? Pertama, saya hanya merasa ganjal saja sih dengan karakter Ale yang dibuat religius tapi sosok Anya malah sebaliknya. Kedua, terlalu banyak bahasa asingnya. Eh ini sebenarnya bukan kekurangan dari Critival Eleven  sih, tapi dari sayanya yang memang tidak pinter bahasa inggris, hehe. Ketiga  endingnya kurang greget. Ya? pokoknya saya kurang puas saja dengan cara Ika Natassa mengakhiri Critival Eleven-nya. Selebihnya no comment. Novel ini bisa jadi bacaan asyik mememani waktu luang kamu.

So,  4,5 bintang dari saya untuk Critical Eleven

Salam,
@siskadwyta

  • Share:

You Might Also Like

14 comments

  1. Saya nonton filmnya. Gak baca novelnya. Waktu itu saya malah sempat bingung dengan judulnya, gak ngerti maksudnya. Nanti setelah nonton baru tau arti Critical Eleven itu apa, dan sukses bikin saya selaly was-was setiap kali take off dan landing, wakwkak..

    Emang cerita percintaan Ale dan Anya karya Ika Natasha ini keren ya, mengaduk perasaan, bikin baper. Hihi...

    ReplyDelete
  2. hmm sepertinya menarik nih karena reviewnya bikin baper hehehe, aku coba cari ah novelnya :D

    ReplyDelete
  3. Buku yang menarik, banyak pelajaran dalam konteks keluarga yang tersaji dalam novel ini. Resensi yang disajikan dalam tulisan ini cukup banyak mewakili apa yang menjadi main point dalam novel. Resensi yang bagus, mantap Kak.

    ReplyDelete
  4. aku dah nonton filmnya mbak..suka banget ama alur ceritanya..kalo baca novelnya biasanya lebih seru deh dibanding nonton hehehe

    ReplyDelete
  5. Wuihhh, paksu so sweet banget ya mbaa hihi. Btw, jalan cerita novelnya kok romance banget ya mbaa, bikin pembaca jadi senyum-senyum sendiri pas baca. Kaya aku gini hehe

    ReplyDelete
  6. Ika Natassa ini keren ya, kalo ndak salah sudah beberapa novelnya yang jadi film

    ReplyDelete
  7. Aku belum baca bukunya, apalagi filmnya. Tapu dari beberapa review yang aku baca memang novel ini bagus banget.

    ReplyDelete
  8. Novel ini belum saya baca,Ika Natassa emang juara dalam menghanyutkan perasaan.

    ReplyDelete
  9. Belum baca, apalagi nonton film ini. Haduh betapa kudetnya saya. Tapi baca reviewnya Mbak, jadi pingin nyari novelnya :)

    ReplyDelete
  10. Saya belum pernah baca dan belum pernah liat novelnya yang diangkat ke layar lebar
    Hmmm

    ReplyDelete
  11. Ini nih salah satu wish read saya Mbak, blm nonton filmnya pula. Penasaran banget. Secara novel karya Ika Natassa itu selalu bisa mengacak2 perasaan saking bikin gemessnyaaa. Huhuhuh.

    ReplyDelete
  12. Menarik ceritanya.. Apalagi difilmkan lagi.. Ika Natassa memang keren.. Karena ngak kuat baca novel.. Paling ntar nonton filmnnya aja..

    ReplyDelete
  13. saya malah nda tahu ada novel ini dan ada filmnya hahaha
    maafkan, saya bukan penggemar novel. terlalu berat untuk saya yang lebih suka baca jurnal atau tulisan non fiksi.

    ReplyDelete
  14. Wah.. Saya malah belum pernah baca dan belum pernah nonton filmnya juga. Jadi penasaran, gimana akhir ceritanya? Cerai kah? Wah, ikutan gemes jadinya..

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa bermanfaat dan menginspirasi kamu :)

Note :

Maaf komen yang brokenlink akan saya hapus jadi pastikan komentar kamu tidak meninggalkan brokenlink ya.